Iridescent Part 22

qqa

“Tanggung jawab! Lo udah rebut ciuman pertama gue!” ujar Viny.

“Eh?”

Gue langsung terdiam setelah mendengar ucapan Viny barusan, apa yang dia katakan itu serius atau hanya candaan aja? Masa iya gue orang pertama yang lakukan itu ke dia. Otak gue mendadak tak bisa berpikir dengan jernih, apa yang Viny katakan itu sekarang terus berputar-putar di dalam pikiran gue.

Kemudian gue memejamkan mata, dan coba untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Apa gue dan Viny benar-benar berciuman atau hanya bayang-bayang aneh yang gue pernah rasakan sebelumnya.

Lama gue memikirkan hal itu, terkadang semua yang di bayangkan itu nggak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya.

 

“Hei, Wil sadar dong!” ada sebuah suara yang terdengar jelas sekali di telinga gue.

“Wil!!!”

Suara itu jadi lebih keras dari sebelumnya, gue pun langsung membuka mata. Ternyata wajah gue udah berada sangat dekat dengan Viny. Sontak gue yang tersadar akan hal itu, langsung menjauhkan diri dari Viny.

“Maaf Vin, gue beneran gak bermaksud untuk berbuat itu. Gue minta maaf yah….” ucap gue memohon.

“Gue beneran masih gak percaya elo hampir aja lakuin hal itu ke gue…” ujar Viny masih shock.

“Gue belum apa-apain elo kan Vin? Jawab gue!!! Kalau emang elo kenapa-napa, gue akan tanggung jawab.” balas gue memegang kedua bahu Viny.

Dia hanya menggeleng saja, gue langsung bernafas lega mendengar itu tak terjadi.

Kami berdua sama-sama terdiam, saat ini tak ada yang bisa gue lakukan untuk sedikit mencairkan suasana canggung yang terjadi di antara kami. Gue merasa bersalah sekali soal kejadian ini, tapi untunglah belum terjadi hal yang tidak di inginkan. Lega rasanya, hal itu nggak sampai terjadi. Bahaya juga kalau gue gak langsung sadar, bisa-bisa tadi keterusan dan Viny mungkin tekdung lalala.

 

“Fiuh, untung aja gue cepat sadar…. kalau enggak itu mungkin terjadi sungguhan dan gue bisa kena hajar Mama.” gumam gue pelan.

“Lo juga sih! Tadi aja gue kaget, tiba-tiba lo deketin gue. Gue udah sempat pasrah kalau itu sampai terjadi, untung elo sadar sendiri akhirnya. Jangan sampai gue MBA….” ucap Viny.

“Apaan tuh?” tanya gue dengan muka bego.

Married By Accident, Wil!” jawab Viny dengan galaknya.

“Jadi Accident nya itu kalau elo hamil karena gue gitu?” tanya gue makin ngaco.

“Bodo amat lah, buruan jalan lagi….! Jangan lupa mampir ke pom,” Viny marah-marah karena pertanyaan gue itu, dia lalu mengalihkan pandangannya dari gue.

“I iya, Vin.” balas gue takut.

 

Setelah itu, gue pun kembali melajukan mobil untuk melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti. Untung aja Viny mengingatkan gue untuk segera mencari pom bensin. Tak lama setelah menempuh perjalanan beberapa saat, dari jauh gue melihat pom bensin yang terletak di lajur sebelah kanan. Tanpa basa-basi lagi, gue pun langsung mengarahkan mobil Viny menuju ke pom bensin tersebut.

Sesampainya di pom, mobil yang gue dan Viny tumpangi ini mengantre tepat dibelakang dua buah mobil lain. Tak sengaja pandangan gue beralih mobil terdepan yang sudah dapat giliran mengisi, gue merasa tak asing dengan mobil itu. Belum lama mengantre, mobil itu sudah selesai lebih dulu dan berjalan maju.

“Perasaan gue kok aneh ya, mobil itu juga seperti kenal. Kayanya itu punya si Dani deh.” batin gue.

Tiba-tiba …..

 

“Hey, elo kok malah bengong sih? Buruan maju, dodol!” ucap Viny mengagetkan gue.

“Eh iya, kelupaan….” jawab gue sambil memajukan mobil, karna gue yang pegang kemudinya.

“Ada apaan sih, sampai bengong gitu. Perasaan, lo hobi banget deh kayanya.” ujar Viny terheran.

Gue tidak menjawab pertanyaan dari Viny barusan, karena gue masih mengamati mobil yang gue curigai milik Dani. Beruntungnya kendaraan yang mirip kotak sereal itu tidak langsung pergi, melainkan berhenti di sebuah mini market yang berada didalam pom ini juga.

Lebih baik gue bilang ke Viny aja lah, siapa tau dia juga mengenali mobil itu….

“Vin. Coba lihat ke mobil yang paling depan tadi, lo merasa kenal sama kendaraan itu gak?” tanya gue sambil menunjuk kearah mobil itu. Viny kemudian mengalihkan pandangnya kearah yang gue tunjuk.

“Loh, itu bukannya mobilnya si Dani kan.” jawab Viny.

“Nah, betul kan Vin? Daritadi gue juga udah curiga dan yakin banget kalau itu mobil punya Dani, waktu berangkat ke Resto tadi kan gue juga sempat naik mobil kotak sereal itu.” balas gue.

 

Gak lama kemudian ada dua orang terlihat keluar dari mobil itu, gue coba mengamati mereka dengan seksama, mereka tampak masih berdiri di samping mobil itu. Pandangan gue masih sedikit terhalang oleh kendaraan yang ada didepan kami, jadi agak sulit untuk mengenali dua orang itu.

Lalu Viny menarik-narik tangan gue dengan paksa. Gue menatapnya dengan serius.

“Eh Wil, lihat…. itu Shani sama Dani kan yang berdiri di samping mobil tadi?!” gue kembali melihat ke dua orang itu lebih seksama lagi.

Ternyata benar, dua orang itu adalah Shani dan Dani…. Mereka berdua jalan berdua memasuki mini market tersebut, gue hanya bisa melihatnya dari sini saja.

“Iya Vin, itu memang benar Shani dan Dani,” jawab gue yakin.

“Ya ampun, lihat itu Wil! Dani gandeng tangan Shani.” Viny menutup mulutnya dan kemudian menatap gue dengan ekspresi tak percaya.

“Apa-apaan yang dia lakukan…..” ucap gue geram.

 

Tiba-tiba saja kaca mobil Viny diketuk oleh seseorang yang tak di kenal. Dan saat gue lihat, ternyata dia adalah seorang pegawai Perta Aminah. Dia memberi gue kode untuk segera memajukan kendaraan. Kemudian gue hanya mengikuti instruksi nya saja, karena memang udah giliran mobil ini untuk isi bahan bakar.

Gue sempat berpikir untuk mengintai Shani dan juga Dani, beberapa saat termenung untuk menimbang keputusan ini. Oke, ini saatnya….

 

“Vin, elo pegang dompet gue. Isi full tank sekalian, gue mau ke mini market itu sebentar aja.” ucap gue memberikan dompet gue ke dia. Saat membuka pintu mobil dan hendak keluar, tangan gue tertahan.

“Wil….” panggil Viny dengan suara lirih sekali. Dia lah yang menahan gue, mungkin Viny berusaha mencegah gue agar tidak pergi ke mini market itu. Gue menghela nafas sejenak dan menatap matanya ….

“Udah Vin, gue Cuma mau lihat mereka aja kok. Gue gak akan buat keributan kok.” ujar gue coba meyakinkan Viny.

 

Dia lalu hanya mengangguk, kemudian gue pun bergegas keluar dari mobil Viny. Baru saja gue mau melangkahkan kaki menuju ke mini market itu, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan gue. Awalnya sih gue mengira kalau orangnya adalah Viny yang berusaha mencegah gue lagi, tetapi saat gue menoleh ke belakang, ternyata dia adalah….

“Mau isi bensin berapa, Mas?” tanya orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah pegawai Perta Aminah yang tadi mengetuk kaca mobil.

“Hadeh, mas… situ kan bisa tanya ke teman saya yang di dalam mobil,” balas gue malas.

Menyebalkan banget nih orang satu ini. Gaya nya sok kecentilan kaya anak perawan aja.

“Lah, emang mas mau kemana?” tanya dia. Karena dia pakai nada agak menggoda, gue jadi makin aneh dan jijik dengan cara dia berbicara.

“Udah ah, kepo amat sih Mas. Saya ini mau ke mini market itu, jadi intinya situ tanya aja deh sama teman saya itu….” jawab gue menunjuk Viny yang berada di dalam mobil.

Gue yang udah jengkel langsung meninggalkan pegawai yang aneh itu.

“Tega!” gue menoleh ke belakang lagi, pegawai itu belagak seperti cewek yang di tinggalin sama pacarnya. Aneh banget itu orang.

“Hiii, jijik gue.” ucap gue bergidik ngeri. Kemudian gue langsung berjalan lebih cepat menuju ke mini market.

 

Sekarang gue sudah berada didepan mini market yang di kunjungi oleh Shani dan Dani, gue mengawasi mereka berdua yang terlihat sedang membeli sesuatu. Mereka kelihatan sangat dekat sekali, sampai-sampai Dani sesekali merangkul Shani dari samping dan mencium keningnya.

Entah kenapa, sakit lagi rasanya melihat cewek yang gue sayang dekat dengan laki-laki lain. Tapi, apa yang Dani lakukan itu udah sangat membuat gue emosi. Kemudian gue ingin langsung melabrak mereka berdua, tapi gue rasa hal ini tak ada gunanya jika melakukan hal itu. Akhirnya gue mengurungkan niat itu, tanpa memikirkannya lagi.

Gue lalu berbalik badan, Viny dengan mobilnya ternyata udah ada didepan mata gue sekarang. Dia menatap kearah gue, kemudian Viny melambaikan tangannya.

 

“Buruan masuk ke mobil,” ucap Viny. Gue hanya berusaha tersenyum, lalu gue masuk ke dalam mobil.

Viny pun langsung menjalankan mobilnya meninggalkan pom bensin. Sekarang gue hanya bisa duduk termenung di samping Viny yang sedang fokus mengemudi.

“Sabar yaa….” Viny menatap ke gue.

“Iya, Vin….” balas gue.

“Gue tau kok, gimana perasaan lo sekarang.”

Kami berdua terdiam saja setelah itu, gue sendiri masih memikirkan apa yang gue lihat tadi. Shani dan Dani, gue rasa mereka berdua punya hubungan lebih, bukan sekedar rekayasa untuk menolong gue seperti yang mereka katakan sebelumnya.

Selama di perjalanan menuju rumah, gue lebih sering diam. Sedangkan Viny sendiri gak jauh berbeda, dia fokus mengemudikan mobil.

 

“Sebentar lagi sampai nih, Wil. Nanti buruan ambil barang-barang lo….” ucap Viny memberitahu.

“Iya, Vin.” balas gue.

“Oh ya, terus gimana sama rencana lo pindah ke Jepang? Jadi….” tanya dia dengan muka serius.

“Setelah lihat kejadian di mini market pom tadi, gue jadi bingung nih Vin. Mau berangkat, tapi rasanya….” jawab gue yang kemudian terhenti.

“Tapi rasanya apa?” Viny bertanya lagi, gue tak menjawabnya karna ada sesuatu yang janggal.

Dari kaca tengah gue melihat sebuah mobil membuntuti kami di belakang, anehnya orang itu sama sekali tak kunjung mendahului. Karna memang kecepatan yang di pacu oleh Viny juga tak terlalu cepat, gue merasa curiga dengan mobil itu.

“Vin, gue minta lo jaga kecepatan diatas 70 Km… Kayanya kita di buntuti sama mobil di belakang!” perintah gue.

“Apa?! Terus gue harus gimana nih?” tanya Viny mulai panik.

“Bisa tukar tempat?” gue menatap matanya, dia sama sekali tak bisa menyembunyikan wajah panik dan ketakutan nya.

“Gue takut Wil!” teriak Viny.

“Oke, tarik nafas lalu tahan sebentar begitu lo turunin kecepatan. Nanti elo siap-siap aja ya…..” jelas gue sambil berusaha membuatnya tenang. Viny hanya mengangguk lemah…

 

Gue menoleh ke belakang, lalu melihat mobil yang terus mengikuti kami itu, memastikan bahwa jaraknya aman untuk ganti posisi. Kemudian gue melepas seatbelt yang gue pakai, setelah itu milik Viny. Lalu mengatur kursi kemudi agar lebih mundur sedikit. Mungkin ini membuat Viny sedikit terganggu, setelah itu gue bersiap memberi Viny aba-aba….

 

“Oke Vin, lo udah siapkan? Maaf kalau posisi awalnya sama sekali buat lo nggak  akan nyaman.” ucap gue.

“I iya, gapapa Wil…” balas Viny.

“Oke, aku hitung sampai tiga lo kurangi kecepatan dan tahan berat badan!” balas gue sambil menjelaskan. Viny mengangguk tanda mengerti.

Dan saat akan menjalankan rencana gue, tiba-tiba saja….

 

BRAK

“Aaaaaaa!!!!”

“Sial!”

Mobil itu sudah gue duga memang membuntuti kami dari awal, karena pergerakannya memang mencurigakan. Viny sudah tak dapat diam lagi, dia sudah menangis dengan keras. Melihat itu, gue juga takut terjadi apa-apa dengannya….

 

“Sial, apa orang suruhan Verro?!” batin gue.

“Wil…. apa ada rencana lain?! Gue takut kalau kita kenapa-napa,” Viny menangis sejadi-jadinya.

“Tenang, Vin. Fokus jaga kecepatan mobil dan lo coba jangan panik….” ujar gue berteriak.

“Iya iya….” jawabnya mengerti.

“Kita nggak ada waktu lagi,  gue akan kasih aba-aba tahan habis ini, gue akan angkat badan lo biar gue bisa masuk.” ucap gue bersiap mengganti posisi.

“1….. 2….. 3….. tahan Vin!!!” gue menahan badan Viny dan  langsung masuk lewat celah yang ada, Viny sekarang ada di pangkuan gue. Dia masih pegang kemudi, sedangkan gue sudah bisa mengambil alih pedal gas, rem dan lainnya.

“Biar gue yang ambil alih, elo bisa kan pindah ke samping?!” tanya gue memastikan.

“Iya, gue bisa Wil….” jawabnya. Kemudian Viny pindah ke samping, gue sendiri sudah fokus menyetir mobil.

“Gue pasangin seatbelt nya!” ucap Viny membantu memasangnya.

Thanks Vin…. elo juga jangan lupa pakai.” balas gue. Dia hanya mengangguk saja.

“Tolong awasi mobil belakang Vin, gue nggak bisa fokus ke jalan ntar…” pinta gue.

“Iya….” jawab Viny.

 

BRAK

“Aaaaakk” Viny berteriak lagi.

Sekali lagi mobil ini di tabrak dari belakang, gue terus berusaha memacu mobil Viny dengan kencang. Sial, siapa sebenarnya orang gila ini! Gue menoleh ke samping, Viny terlihat sangat ketakutan sekali. Seharusnya dia tak terlibat dengan masalah ini….

Di depan sana gue melihat jalan utama menuju ke rumah gue, sebentar lagi sampai. Di jalan itu sepertinya kesempatan untuk kabur dari kejaran mobil yang membuntuti kami. Tiba-tiba, saat melewati persimpangan jalan…. gue melihat ada mobil lain yang datang dari arah lain.

 

BRAKKK

Tiba-tiba semua jadi gelap gulita, segalanya berjalan dengan cepat sekali.

 

…..

Perlahan gue membuka mata, kondisi yang terjadi memang parah sekali. Mobil yang gue dan Viny sekarang dalam kondisi terbalik, gue tak lagi begitu ingat dengan kejadian sebelumnya. Semua kaca mobil pecah dan berserakan dimana-mana.

“Ah, sakit…..” rintih gue.

Gue menoleh ke samping, Viny masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Banyak darah yang berceceran …. lalu gue berusaha melepaskan seatbelt.

 

“Ahkk” gue berhasil melepaskan seatbelt, kemudian perlahan keluar dari mobil. Lalu gue berusaha bangkit dan berjalan ke sebelah untuk segera membantu Viny.

Pintu mobil sebelah kiri sudah hampir tak berbentuk, karena yang tertabrak tepat di bagian itu. Gue sedikit kesulitan membuka pintunya, dengan sedikit gue paksa akhirnya bisa terbuka.

Kemudian gue melihat kondisi Viny, tangannya gue coba raba nadinya, sama sekali tak ada denyut nadi. Sial… jangan sampai ini terjadi di hidup gue!

 

“Vin, sadar ….. ayolah!!” gue tak bisa menahan air mata yang keluar. Seatbelt nya gue lepaskan, lalu tubuh Viny gue bawa keluar dari mobil.

Kondisinya jauh lebih parah dari gue, banyak darah keluar dari kepalanya. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan darinya, jangan sampai gue kehilangan seorang teman. Dengan cepat, gue segera memberinya nafas buatan….

Come On!!!” gue menekan dadanya dan terus memberi nafas buatan agar nyawa Viny bisa tertolong.

“Vin, gue butuh elo!!! Tolong balik lagi….” ucap gue lirih.

Jalanan disini sangat sepi sekali, tak ada seorang pun melintas disini.

Tak ada hasil apapun dari semua usaha gue menolongnya, Viny sama sekali tak bernafas lagi. Gue gagal melindungi orang-orang yang gue sayangi, hanya rasa bersalah yang gue rasakan saat ini. Gue genggam tangannya dan memeluk tubuh Viny dengan erat, semua air mata jatuh tak terbendung lagi….

Tiba-tiba tangannya yang gue genggam bergerak, gue langsung menatap wajah Viny. Matanya perlahan terbuka, dia tersenyum kecil memandang gue.

 

“Vin, gue khawatir banget sama lo,” ucap gue.

“Kepala gue sakit banget Wil…” rintihnya.

“Tahan sebentar ya, Vin. Gue coba telpon teman-teman dulu.” ujar gue.

Gue merogoh handphone yang ada di kantong jaket, tapi dari kejauhan gue melihat ada sebuah mobil melintasi jalan ini. Tak lama mobil itu berhenti di dekat gue dan Viny, lalu ada seseorang keluar dari sana.

“Willy!!!”

“Shani…”

Ternyata dia adalah Shani, sebenarnya gue berharap bukan dia yang datang. Tapi mau bagaimana lagi, dia satu-satunya yang ada sekarang. Gue harus kesampingkan masalah antara kami berdua, yang lebih penting saat ini adalah kondisi Viny.

“Ya ampun, kamu habis kecelakaan!” ucapnya kaget setelah melihat kondisi gue dan Viny.

“Gak ada waktu buat jelasin, kita harus buru-buru bawa Viny ke rumah sakit sekarang!” ujar gue.

“Iya, sini aku bantu angkat Viny….” kemudian gue dan Shani mengangkat tubuh Viny untuk di bawa ke dalam mobil.

“Sayang!!! Tolong buka pintu mobilnya….” teriak Shani. Reflek gue menatap Shani, dia langsung terdiam.

“Aku tau semuanya Shan, tadi kita ketemu di pom bensin…. dia beneran pacar kamu kan?!” tanya gue dengan serius.

“A aku….” Shani lalu hanya diam dan tak bisa menjawab apapun.

“Gak perlu kamu jelasin aku udah lihat semuanya tadi. Kita bicarakan nanti aja, sekarang yang terpenting Viny harus di bawa ke rumah sakit.” ujar gue.

 

Dani keluar dari dalam mobil, dia terlihat kaget dengan keberadaan gue dan Viny.

“Loh Wil, elo kok bisa ada disini?” tanya Dani. Gue tersenyum sinis kearah nya.

“Bisa di lihat kan, gue sama Viny habis kecelakaan. Gak usah kaget kaya gitu…. kalau nggak berniat bantu, mending gue gendong Viny ke rumah sakit sendiri.” jawab gue.

“Jangan egois gitu kamu Wil! Katanya kita harus bawa Viny ke rumah sakit?!” Shani tiba-tiba mengatakan itu.

“Maaf aku lupa…..” balas gue singkat. Kemudian Dani membukakan pintu belakang mobilnya.

Kemudian kami segera membawa Viny ke rumah sakit. Shani dan gue duduk di belakang menemani Viny. Tidak ada pembicaraan sama sekali antara kami.

 

“Shan, tolong beritahu yang lain buat susul ke rumah sakit.” pinta gue.

“Iya, udah aku kabari kok….” balas Shani.

“Makasih, Shan.” ucap gue menatapnya. Dia hanya tersenyum….

“Maaf, aku selingkuh dari kamu….” gumam Shani.

“Hmm…. kalau kamu mau lanjut ya silahkan aja, aku nggak larang kamu. Toh aku Cuma tunangan kamu doang,” ucap gue.

“Jangan bilang gitu, aku beneran minta maaf…..” tangan gue dipegang oleh Shani. Dia menggenggamnya dengan erat.

“Kalau kamu benar-benar lanjut, aku bakal lepas kamu seutuhnya, dan kita berdua nggak ada ikatan pertunangan lagi….” ujar gue.

“Terus kamu mau balikan sama Kak Ve gitu?” Shani menatap gue dengan curiga.

“Iya mungkin….” balas gue cuek.

“Heh, mulai berantem deh kalian….!” gue dan Shani menatap Viny yang mengatakan itu.

 

 

To Be Continued ….

 

 

Created By : @wilco_92

 

 

Note :

Sorry ya part ini sungguh pendek, tadinya sih udah dapat 38 pages tapi malah ada yang nyamain…. terpaksa buat dari awal deh 😂

 

 

Iklan

13 tanggapan untuk “Iridescent Part 22

  1. (buat part ini) buat pertama kalinya gw ngidol. wokwok. kalo gw jadi Willy, gw dah sinis’in Shani :v tega kamu shan…
    tapi mungkin balasan juga sih buat Willy karna dulu dia si “Willy Will You Marry Me” *(abaikan)* kan juga pernah selingkuhin Shani pas sama Verandarrggghhh :v

    lu ingkar janji sama gw wil, gw rasa ini bukan 20page dah :v tapi lanjutkan…

    Suka

    1. Kasih tau nggak ya?? 😂😆

      Sebelumnya sih udah nongol bang, tapi ya karna 38 pages sebelumnya gak bisa diharapkan (karna ada kesamaan dengan yg lain) …. jadi di part ini gagal nongol deh bang ar 😂😆

      Suka

  2. wkwk anjir shani jadi labil kemarin bilang cuma rekayasa doang ternyata beneran pacaran :v udah njirr lepasin aja si shani biar cepet kelar kaga usah bertele tele

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s