Hujan

image

Pagi hari pukul 07:00, di tengah ramainya carut-marut kumpulan orang di stasiun. Seorang anak laki-laki tampak sedang duduk menyemir sepatu di pojokan stasiun. Sendiri di peron kereta, tampak anak itu baru saja selesai menyemir sepatu seseorang. Ia selalu mengerjakan pekerjaanya itu tanpa lelah hanya demi sesuap nasi. Apalah dayanya yang tidak bisa apa-apa, bahkan dia tidak sanggup meneruskan sekolah dasar. Hanya sampai kelas tiga.

Namun cobaan hidup yang berat tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali menjalankan kehidupan yang normal. Kita selalu punya pilihan, tergantunng jawaban masing-masing. Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, menyemir sepatu hanya demi menyambung hidup. Itu semua dilakukannya dengan sukarela, tanpa sedikitpun mengutuk Tuhan karna membuatnya sengsara. Dia percaya Tuhan selalu adil, akan ada hal positif di setiap masalahnya.

 

Kereta baru saja tiba, si pemilik sepatu langsung mengambil sepatunya. Tak lupa memberi imbalan pada anak kecil itu, imbalan yang sedikit lebih banyak dari harga semir sepatu. Anak kecil itu tersenyum kecil, bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan padanya hari ini. Dia mengantongi rezekinya itu, tak sengaja dia menatap kakinya. Kaki kotor yang memakai sandal kusam.  Sandal yang tak layak pakai, sudah putus berkali-kali pun dia masih sempat memperbaikinya. Dia tak sanggup membeli sandal baru, uang hasil kerja kerasnya hanya cukup untuk makan sehari-hari.

 

Orang-orang berebut masuk ke dalam kereta. Saling dorong, mendahului, bahkan ironisnya orang-orang itu seperti tak peduli siapa pun yang mereka dahului. Entah itu orang lanjut usia, anak-anak, bahkan ibu yang sedang menggendong buah hatinya. Orang-orang itu tak peduli, yang penting dirinya sendiri sudah masuk ke dalam gerbong kereta. Hanya itu yang mereka pedulikan.

 

Seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun masuk paling terakhir ke dalam gerbong kereta bersama ayahnya. Tak sengaja sepatu kiri remaja itu terlepas. Mungkin  karna dia kurang kuat mengikat tali sepatunya. Pintu kereta kemudian tertutup otomatis. Remaja itu berlari kecil menuju jendela, lantas membukanya. Remaja itu berteriak-teriak agar seseorang berbaik hati mengambilkan sepatunya. Sang ayah kemudian duduk di dekat anaknya itu.

 

Anak kecil tukang semir sepatu berlari menuju kereta yang sudah mulai melaju. Anak itu kemudian mengambil sepatu si remaja yang terjatuh. Anak kecil tukang semir sepatu lantas berlari sekencang-kencangnya untuk mengejar si pemilik sepatu. Kereta itu hampir melaju sepenuhnya, anak kecil itu kemudian melemparkan sepatu yang dia pegang hingga menghantam jendela kereta dengan keras.

 

Sepatu itu terpental kembali padanya. Tanpa diduga, remaja si pemilik sepatu malah melemparkan sepatu satunya lagi yang dia miliki. Remaja itu hanya tersenyum riang sambil berteriak bahwa dia memberikan sepasang sepatu untuk anak kecil itu.

 

Anak kecil tukang semir sepatu balas tersenyum, lantas memakai kedua sepatu yang  baru saja dia dapatkan. Sangat cocok, tapi ukurannya sedikit longgar di kaki kecilnya. Tak apa, yang penting dia punya sepatu baru. Sandal kusam yang selama ini menemani hari-harinya itu dia buang ke tempat sampah. Akhirnya dia punya sepatu baru. Itu semua adalah hadiah dari Tuhan karna dia tidak pernah sedikit pun mengeluhkan masa-masa sulitnya. Anak kecil tukang semir sepatu itu kembali tersenyum menatap kereta yang sudah tak tampak lagi. Kini dia merasa sangat percaya diri untuk kembali melanjutkan pekerjaanya.

 

Tapi sayangnya fanfiction ini tidak menceritakan kilas balik tentang kehidupan anak kecil tukang semir sepatu. Tidak mau ikut ke dalam background kehidupannya. Sementara anak kecil itu sedang berbahagia, remaja si pemilik sepatu juga sedang berbahagia. Dia bahagia bukan karna baru saja berbuat baik. Melainkan karna hari ini untuk pertama kalinya dia bisa menyaksikan tirai kehidupannya sendiri yang sebelumnya tak pernah dia saksikan betapa indahnya Dunia Tuhan. Hari ini dia bahagia bukan main.

 

Dia masih mengeluarkan kepalanya keluar jendela. Remaja berwajah riang  itu belum pernah merasa sebahagia ini. Itu adalah pengalaman pertamanya melihat warna-warni dunia. Melihat panorama disepanjang jalan. Dia kembali tersenyum, masih mengeluarkan kepalanya keluar jendela. Remaja berwajah riang berseru senang saat menyaksikan pohon-pohon bergoyang diterpa angin.

 

“Ayah lihat! Pohon itu seperti sedang melambai padaku!” remaja berwajah riang menunjuk pohon-pohon yang diterpa angin sehingga terlihat sempoyongan.

 

Ayahnya hanya tersenyum melihat tingkah laku anaknya itu. Tak lama, remaja berwajah riang kembali berseru senang. Kali ini karna dia melihat sekumpulan domba yang sedang makan rumput di pedesaan. Sekumpulan domba itu terlihat seperti kapas-kapan yang beterbangan, putih bersih seperti salju.

 

“Ayah lihat! Awan itu warnanya hitam!” remaja berwajah riang kembali menunjuk-nunjuk keluar jendela, menunjuk awan hitam pekat yang semakin mendekat.

 

Ayahnya kembali tersenyum melihat tingkah polos remaja berwajah riang. Kali ini ada beberapa orang menatap aneh remaja berwajah riang. Orang-orang itu berpikir dia sangat kekanak-kanakan. Dia tidak menyandang disabilitas, dia juga tidak gila. Remaja itu seperti terlihat sangat senang. Entah apa penyebabnya, tapi itu sungguh mengganggu untuk tingkah remaja seumurannya. Seseorang yang duduk di sebelah ayah remaja berwajah riang tak tahan dengan sikap kekanak-kanakan remaja itu, lantas bertanya pada sang ayah.

 

“Kenapa bapak tidak membawa putra bapak ke dokter?” tanya orang itu dengan tatapan prihatin, sementara ayah remaja itu hanya tersenyum.

 

“Sudah saya bawa, kami baru saja pulang dari rumah sakit. Anak saya ini sebelumnya seorang tuna netra sejak lahir. Dan dia baru bisa melihat hari ini.” jawab ayah remaja berwajah riang.

 

DEG, seketika orang itu langsung tertegun dengan jawaban ayah dari remaja itu. Begitu pula dengan orang-orang yang ada di dalam gerbong kereta itu. Orang itu kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dia terlalu menilai buruk remaja itu. Padahal sebenarnya remaja itu melewatkan indahnya warna-warni dunia selama lima belas tahun, sangat disayangkan.

 

Tapi sayangnya fanfiction ini juga tidak menceritakan kisah pilu remaja berwajah riang. Sama sekali tidak mau ikut ke dalalam background kehidupannya. Tidak menceritakan penderitaannya selama lima belas tahun, dan tidak pula menceritakan kesuksesan operasinya. Tidak mau mengintip ke dalam tirai kehidupannya.

 

Remaja berwajah riang kemudian memasukkan kepalanya ke dalam, lantas kembali mengunci jendela kereta itu. Beberapa detik setelah remaja berwajah riang memasukkan kembali kepalanya, hujan turun dengan lebat. Remaja itu duduk disebelah ayahnya, dia tak lagi tersenyum. Tak banyak berbicara, apalagi bertanya. Hujan itu mengacaukan hari pertamanya melihat Dunia Tuhan, dia tidak suka hujan.

 

Remaja berwajah riang tak pernah sekalipun mengutuk Tuhan karna kondisinya yang tidak bisa melihat indahnya Dunia Tuhan. Dia menjalani kehidupannya selama lima belas tahun tanpa sedikit pun mengeluhkan matanya. Tapi entah kenapa dia selalu membenci hujan, bahkan dia masih membenci hujan sekalipun baru pertama kali melihatnya.

 

Tapi kejadian itu bagai dunia paralel, ada yang membenci dan ada pula yang menyukainya. Disetiap kejadian pasti ada hal unik yang tak mungkin ditemukan dalam kejadian lain. Disaat remaja berwajah riang menghardik hujan, di kursi pojok kereta itu tampak seorang laki-laki berusia dua puluh empat tahun sedang menuliskan sesuatu. Buku tebal dan sebuah bolpoin selalu menemaninya sepanjang hari. Dia sedang menuliskan sesuatu, entah apa yang dia tulis.

 

Orang itu tersenyum, kemudian menutup kembali buku tebalnya. Menghela napas lega karna baru saja mendapatkan sesuatu yang menarik. Dia baru saja menuliskan kisah inspiratif yang dialaminya tiga hari ini, itu semua berkat hujan. Orang itu kemudian menatap keluar jendela. Hujan, sama seperti waktu itu. Saat pertama kali dia datang ke rumah itu, tiga hari yang lalu.

 

Orang itu kemudian menghembuskan napasnya secara perlahan. Tampak jelas embun-embun menghalangi pandangannya. Itu karna hembusan napasnya yang mengenai kaca jendela kereta. Orang dia mengusap kaca jendela, kembali membersihkannya. Dia sangat suka hujan, tidak pernah sekali pun dia mengeluhkan hujan. Walaupun kadang kala hujan itu membuat hari-harinya terganggu. Sungguh ini adalah dunia paralel yang di dalamnya terdapat orang-orang yang memiliki kegemaran berbeda.

 

Hujan selalu membuatnya tenang, selalu membuat hatinya sejuk. Dia seperti medengarkan lantunan musik merdu dari gemericik hujan yang turun membasahi Dunia Tuhan. Dia kembali tersenyum menatap hujan lewat kaca jendela. Datang dan pulang selalu ditemani hujan. Sepatunya yang baru saja disemir tak tampak mengkilat lagi karna terkena percikan air hujan yang menembus lewat celah-celah gerbong kereta itu. Orang itu berkali-kali memotret suasana hujan dari dalam gerbong kereta dengan kamera SLR miliknya.

 

“Pagi ini hujan kembali turun.” untuk kesekian kalinya orang itu kembali tersenyum.

 

Orang itu sedang mengenang sesuatu. Hujan mengembalikan kenangan-kenangan yang dulu sempat hilang. Tapi orang itu tidak sedang mengenang masa kecilnya, melainkan mengenang sesuatu yang sangat menginspirasi hidupnya. Seorang perempuan yang tidak akan dia lupakan. Dia tidak bisa terlalu lama bersama perempuan itu, ada sesuatu yang harus dia selesaikan.

 

Tiga hari sebelum kejadian-kejadian menarik yang dialami oleh anak kecil tukang semir sepatu dan remaja berwajah riang, beberapa kejadian menarik telah terjadi sebelumnya. Kejadian-kejadian itu dialami oleh seseorang yang mengabdikan hidupnya pada pencitraan alam sekitar. Menuangkannya lewat tulisan yang dapat diresapi oleh pembacanya. Jurnal tentang indahnya Dunia Tuhan. Cerita tentang seorang perempuan yang amat menyukai hujan. Tersenyumlah saat membaca fanfiction ini walau hanya sedikit.

 

Ada begitu banyak makna dan motivasi yang dapat dipetik dari fanfiction ini. Semoga dengan dibuatkannya fanfiction ini dapat mengubah cara pandang seseorang tentang Dunia Tuhan. Tidak ada yang perlu disesali, disetiap kejadian pasti terdapat hikmah yang tersembunyi di dalamnya. Selalu ada hal positif bagi orang-orang yang optimis. Baiklah, mari kita masuk dan resapi apa yang diceritakan selanjutkan. Simak dan renungkanlah setiap kejadian menarik ini.

 

Hujan turun dengan lebat,  petir menyambar terang menyilaukan mata. Disusul oleh guntur yang menggelegar. Angin kencang menderu-deru membuat sederet pohon meliuk-liuk. Dari kejauhan tampak seorang laki-laki tengah berteduh di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu, mungkin rumah itu sedang kosong. Pria itu berteduh di teras rumah, memeluk sebuah buku tebal untuk menghangatkan suhu tubuhnya.

 

Setengah jam berlalu, akhirnya ada seseorang yang keluar dari rumah itu. Seorang perempuan cantik yang mungkin seumuran dengannya. Perempuan itu dengan sopan menyuruhnya masuk, tanpa peduli lantai rumahnya basah karna tetesan air hujan dari pakaian laki-laki itu. Perempuan itu menyuruh tamunya untuk segera mandi, lalu berganti baju di kamar tamu. Laki-laki itu hanya menurut, lalu meninggalkan tas dan buku tebalnya dekat perempuan pemilik rumah.

 

Setelah laki-laki itu mengambil baju keringnya di dalam tas dan pergi ke kamar mandi, perempuan pemilik rumah kemudian hendak pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk tamunya itu. Tapi saat dia beranjak dari duduknya, dia tak sengaja menjatuhkan sebuah buku tebal. Perempuan pemilik rumah kemudian memungutnya. Buku itu pasti milik laki-laki itu, milik siapa lagi kalau bukan milik dia?

 

Cover buku tebal itu cukup bagus. Cover depannya ada gambar seorang perempuan memakai pakaian serba hitam dan sedang memegang sebuah payung. Perempuan itu sedang berdiri di tengah hujan sambil menenggakkan kepalanya keatas. Cover belakangnya ada gambar sebuah pohon yang cukup besar di tengah rumput hijau. Terlihat seperti pemandangan taman yang sedang diguyur hujan.

 

Perempuan pemilik rumah kemudian membuka lembar pertama buku itu. Tidak ada daftar isi, juga tidak ada kata pengantar. Buku tebal itu hanya berisikan tulisan tangan pemiliknya. Ada sebuah catatan yang tulisannya cukup menggetarkan hati perempuan pemilik rumah. Catatan yang ada di halaman pertama buku itu.

 

“Nabilah, sekarang Bogor gerimis! Cepat sekali berubah, hujan akan segera turun di langit Kota Bogor. Entah apa penyebabnya langit Kota Bogor selalu menangis. Apa yang bisa kulakukan? Mungkin hanya bisa melihat sepotong kenangan indah yang tercermin dalam setiap genangan air hujan. Awan hitam pekat akan selalu mengungkung langit Kota Bogor. Bagai ada seseorang yang jahil menumpahkan tinta hitam di atas langit Kota Bogor. Disini hujannya abadi, semoga hati ini juga abadi.” itulah isi catatan pertama dalam buku tebal itu.

 

Belum selesai hati perempuan pemilik rumah bergetar, dia kembali membaca halaman berikutnya. Halaman kedua tidak kalah menggetarkan hatinya. Perempuan pemilik rumah semakin penasaran dengan buku tebal itu, dia membaca halaman-halaman berikutnya. Itu seperti sebuah cerita, rangkaian kata-kata yang digunakan begitu sederhana dan dapat dimengerti. Setiap kalimat dalam buku tebal itu mengandung arti dan makna yang dapat dipetik.

 

“Saat semua mata terpejam, bangunkan aku dengan sebuah kenangan yang mengingatkan aku untuk menari diatas genangan air hujan. Jadilah seperti hujan, menyimpan rindu di setiap tetesannya. Tak takut jatuh dan menghilang. Tak takut menguap dan kembali ke awan. Karena tahu dia akan kembali. Lebih hebat, lebih deras!” perempuan pemilik rumah membaca isi tulisan yang ada di dalam buku tebal itu.

 

Bukan main, setiap kata dalam buku tebal itu benar-benar menggetarkan hatinya. Perempuan pemilik rumah membaca buku tebal itu amat serius. Bahkan tak menyadari kalau pemiliknya sudah selesai ganti baju. Sekarang pemilik buku tebal itu menghampirinya. Perempuan pemilik rumah terperanjat kaget, lalu menutup buku tebal itu. Dia terbata-bata meminta maaf atas sikapnya yang sangat tidak sopan.

 

“Tidak apa-apa, tapi aku harap kau tidak membacanya lagi. Cerita dalam buku tebal itu belum selesai. Mungkin aku akan menunjukkannya pada semua orang jika cerita itu sudah kuselesaikan.” dia kemudian mengambil buku tebal itu, lalu membereskan barang-barangnya hendak pergi.

 

“Kau bisa tinggal disini selama beberapa hari. Tenang saja, di rumah ini hanya ada aku dan adikku. Kebetulan adikku sedang kerja, pulangnya malam. Jadi aku sendirian di rumah ini.” perempuan pemilik rumah menawarinya tempat tinggal.

 

Dia menolaknya, tapi perempuan pemilik rumah terus memaksanya tinggal di rumah itu selama beberapa hari. Katanya sebagai permintaan maaf karena tidak sopan membaca buku tebal itu tanpa seizinnya. Dia sempat berpikir untuk tinggal disana. Tapi bukankah selama ini dia tidak punya tempat tinggal? Dia ingin sekali tidur di kamar yang nyaman, tidak lagi tidur di selasar toko.

 

Baiklah, setelah di pikir-pikir dia juga butuh tempat tinggal sementara. Dia akan tinggal di rumah itu selama beberapa hari. Perempuan pemilik rumah girang, bahkan sempat melompat-lompat seperti anak kecil. Perempuan pemilik rumah kemudian mengajaknya ke kamar tamu. Tapi sebelum itu mereka berkenalan terlebih dahulu.

 

Ah, ternyata namanya cukup anggun dan cocok dengan wajahnya yang amat cantik. Ada tiga rangkaian kalimat indah menghiasi namanya. Namanya cukup panjang, tapi panggil saja dia dengan sebutan yang pendek. Ketika dia memperkenalkan diri, senyuman manisnya terukir amat jelas menggurat di wajahnya. Manis sekali perempuan itu, Naomi namanya.

 

“Rusdi…” laki-laki yang bernama Rusdi itu berjabat tangan dengan perempuan pemilik rumah yang bernama Naomi.

 

“Nah, ini dia kamarnya. Sebenarnya ini kamar kedua orang tua kami. Tapi sejak mereka meninggal, kamar ini kami jadikan kamar tamu. Disana ada kamar mandi, kasur, lemari dan meja untukmu melanjutkan cerita di buku tebal itu. Selamat menulis, semoga harimu berseri!” perempuan itu terlihat bersemangat, Rusdi kemudian masuk ke dalam kamar setelah Naomi meninggalkannya.

 

Rusdi membereskan barang-barangnya. Menata kamar itu agar terlihat nyaman. Dia sedikit takut karna kamar itu bekas seseorang yang telah meninggal. Tapi dengan cepat dia membuang pikiran negatif itu.Melupakan segalanya, sekarang ini yang ada di kepalanya hanyalah membereskan barang-barangnya.

 

Satu jam kemudian, kini mereka berada di taman. Setelah hujan reda, Naomi mengajaknya jalan-jalan sore di sebuah taman yang amat indah. Taman yang banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang. Di taman itu tidak terlalu ramai, mungkin karena habis hujan. Orang-orang enggan menghabiskan waktu sorenya di taman yang becek. Mereka kemudian duduk di kursi panjang yang ada di sebelah pohon beringin.

 

“Kalau saja tadi aku tidak membuang sampah keluar, mungkin sekarang kau masih di teras.” Naomi tertawa.

 

Belum selesai Naomi tertawa, entah kenapa Rusdi mengalihkan pembicaraan kearah lain. Dia bertanya sesuatu yang enggan diungkit lagi oleh Naomi. Sesuatu yang paling tidak mau dibicarakan lagi. Dia bertanya bagaimana kedua orang tua Naomi bisa meninggal? Naomi seketika berhenti tertawa. Wajah riangnya kini telah berubah menjadi wajah kusut tanpa ekspresi.

 

“Tidak apa-apa jika kau keberatan memberitahuku, maaf sudah membuatmu sedih.”

 

Rusdi kembali bertanya, tapi kali ini tentang adiknya. Naomi kembali seperti biasanya. Wajah riang dihiasi senyuman manis terukir menggurat di wajahnya. Naomi begitu bersemangat menceritakan tentang kehidupan adik kecilnya. Sesekali Rusdi ikut tertawa saat Naomi menceritakan betapa polos adik kecilnya itu, Sinka namanya.

 

“Hari ini Sinka sedang kerja, dia pulangnya malam. Kebetulan aku libur kerja tiga hari, ada sedikit masalah di tempat kerjaku. Biasanya Sinka kalau pulang kerja suka bawa makanan, tapi dia yang makan sendiri. Aku gak disisain, Sinka makannya banyak!” Naomi tertawa terbahak-bahak.

 

Sore itu Naomi menceritakan semuanya tentang Sinka. Hobi, makanan favorit, tingkah polosnya saat masih kecil, bahkan piyama panda yang selalu dipakai Sinka saat dia hendak tidur. Ternyata Sinka memiliki hobi yang sama dengannya, yaitu menulis. Sore itu Naomi benar-benar menceritakan semua tentang Sinka, sedikitpun tidak bercerita tentang dirinya.

 

Rusdi hanya mendengarkan, sesekali dia tersenyum saat Naomi tertawa terbahak-bahak menceritakan betapa polos adik kecilnya itu. Rusdi sedikit pun tidak bertanya tentang Sinka. Dia hanya menanggapi cerita Naomi dengan anggukan kecil, atau dengan beberapa pertanyaan retorik.

 

Malam hari pukul 08:00, Rusdi sedang duduk di teras rumah sambil menuliskan sesuatu. Sesekali dia menatap rembulan yang sinarnya menerpa setiap sudut permukaan Dunia Tuhan. Menatap rembulan sungguh mendamaikan hatinya. Beban hidupnya seakan hilang sesaat.

 

Saat Rusdi tengah serius menulis sesuatu di buku tebalnya, tiba-tiba seorang perempuan yang wajahnya sebelas dua belas dengan Naomi menegurnya dengan sopan. Sedang apa dia di teras rumahnya? Mungkin itulah pikir perempuan itu. Ah, apa perempuan itu Sinka? Benar apa kata Naomi, dia terlihat lucu dan polos.

 

“Hmm… maaf.” Sinka membuyarkan lamunan itu yang tengah serius memperhatikan wajah polosnya.

 

“Sinka?” tebak Rusdi, belum sempat dia berbicara Rusdi sudah memotongnya.

 

“Namaku Rusdi, aku kebetulan sore tadi kehujanan disini. Kakakmu menyuruhku untuk tinggal disini selama beberapa hari.”

 

“Hmm… boleh sih, tapi ada syaratnya. Kak Rusdi harus beliin aku makanan tiap malam, gimana?”

 

“Sinka gak boleh gitu!” tegur Naomi, tiba-tiba dia muncul.

 

Naomi memarahi adik kecilnya. Sinka hanya tertunduk, tidak berani menjawab semua kalimat kakaknya. Kalau saja dia tidak ingat betapa baik kakaknya selama ini, mungkin sudah sejak tadi dia membantah setiap perkataan kakaknya. Perutnya selalu lapar setiap dia pulang kerja. Sinka kemudian menatap Rusdi.

 

“Iya, mulai besok aku beli makanan buat Sinka. Sekarang aku mau masak makanan buat Sinka.” Rusdi mengajak Sinka ke dapur, sementara yang diajak jingkrak-jingkrak karena terlalu senang.

 

“Ini, kamu boleh membacanya. Tapi bacanya berurutan, jangan lompat-lompat.” Rusdi memberikan buku tebalnya pada Naomi.

 

“Apa sudah selesai?” tanya Naomi, Rusdi menggeleng mantap sambil tersenyum.

 

Setelah itu dia berlalu meninggalkan Naomi. Rusdi mengajak Sinka ke dapur untuk masak sesuatu. Sinka baru pulang kerja, dia pasti capek. Wajar kalau setiap malam dia selalu lapar, mungkin itu pikirnya. Naomi kemudian duduk di teras, membaca buku tebal itu dengan serius.

 

“Segala sesuatu yang baik pasti berasal dari sesuatu yang buruk, sama seperti hujan. Hujan berasal dari awan gelap yang saling membenturkan dirinya, dan menciptakan kilat yang terang benderang diikuti oleh petir yang menggelegar. Namun, jangan hanya lihat buruknya. Lihatlah setelahnya, kau bisa melihat rintik hujan dan mendengarkan bunyinya yang mendamaikan hati. Setelah itu bahkan ada pelangi yang menghiasi langit-langit.”

 

Beberapa jam kemudian, Sinka baru saja selesai makan. Rusdi memasak untuknya, dan rasa masakannya pun tidak terlalu buruk untuk seorang laki-laki yang tidak bisa masak. Rasa masakannya tidak terlalu buruk, mungkin karna Sinka juga ikut membantunya saat masak. Sinka sangat ahli memasak. Sinka kemudian berdiri dari kursinya, hendak pergi.

 

“Terima kasih.” Sinka tersenyum, menampakkan gigi-gigi gingsulnya.

 

“Kembali kasih.” Rusdi membereskan piring bekas Sinka.

 

Sinka kemudian berlalu meninggalkannya. Astaga, banyak sekali makannya. Naomi benar, Sinka memang banyak makan. Tidak apa, lagi pula dia seorang pekerja keras. Tidak hanya sekedar menghabiskan uang. Rusdi tersenyum memikirkan perkataannya itu.

 

Setelah membereskan piring-piring, Rusdi sejenak bersantai di sofa. Tadinya dia hendak menuliskan sesuatu di buku tebalnya, tapi Naomi sedang membacanya. Ya sudahlah, biarkan saja Naomi membacanya. Dia terlihat sangat menyukai buku tebal itu.

 

“Sinka, kamu ngapain?” tanya Rusdi.

 

“Aku mau ke kamar mandi, gosok gigi.” jawabnya.

 

Ah, ternyata soal ini Naomi juga benar. Dia benar-benar memahami adik kecilnya itu. Benar apa kata Naomi, ternyata sebelum tidur Sinka selalu memakai piyama panda. Terlihat lucu untuk seorang perempuan berusia dua puluh tahun. Seperti anak-anak, padahal dia sudah beranjak dewasa. Rusdi kembali tersenyum memikirkan perkataannya itu.

 

Esok pagi pukul 07:00, Naomi terlihat sangat bersemangat. Rusdi sedang duduk, mengikat tali sepatunya. Pagi itu mereka hendak pergi ke taman, hanya sekedar mencari udara segar di pagi hari. Sinka sudah sejak subuh tadi pergi bekerja. Sungguh hari-hari yang melelahkan baginya. Lima hari pergi pagi pulang malam, kecuali hari sabtu dan minggu. Jika sedang beruntung dia bisa pulang lebih cepat, mungkin petang.

 

Mereka berlari-lari kecil menuju taman. Seperti dugaan Naomi, pagi itu taman terlihat ramai. Pedagang kali lima bahkan turut serta meramaikan tempat itu. Mereka lari-lari kecil, duduk di kursi. Lari-lari lagi, duduk lagi. Lari-lari lagi, duduk kembali. Begitu seterusnya sampai matahari siang mulai terasa membakar kulit.

 

“Udah panas, pulang yuk?” Naomi menarik tangannya, sementara yang ditarik hanya tersenyum kecil.

 

Beberapa menit berlalu, kini mereka sudah sampai di rumah. Rusdi melepas sepatunya. Naomi sudah mendahuluinya masuk rumah. Rusdi berjalan santai menuju kamarnya. Disana sudah ada Naomi. Dia sedang berbaring di kasurnya. Lucu sekali, bahkan kasur itu bukan miliknya. Itu milik Naomi, Rusdi tertawa memikirkan itu.

 

“Kenapa ketawa?” Naomi terduduk.

 

“Aku butuh waktu sendiri buat lanjutin cerita, kamu tolong keluar dulu.”

 

“Kamu ngusir aku?” Naomi berdiri, Rusdi hanya diam meggigit bibir bawahnya.

 

“Oke baiklah.” Naomi keluar dari kamar itu.

 

Sebelum Naomi benar-benar keluar, dia sempat bertanya tentang cerita di buku tebal itu. Siapa sebenarnya Nabilah? Perempuan yang selalu menyukai hujan, selalu ada dibawahnya saat hujan turun. Rusdi menggeleng pelan, enggan menjawab pertanyaannya. Tapi Naomi sudah membaca hampir setengah cerita di buku tebal itu. Semalaman Naomi membacanya, jika tidak ngantuk mungkin dia akan membaca cerita itu sampai habis.

 

Lucu sekali, Naomi takkan bisa membaca cerita itu hingga habis. Rusdi bahkan belum menyelesaikannya. Dia tidak boleh diganggu, cerita itu harus segera selesai. Naomi penasaran dengan akhir cerita itu. Naomi perlahan keluar kamar, menutup pintunya rapat-rapat. Membiarkan Rusdi melanjutkan ceritanya.

 

Sore hari pukul 05:00, Rusdi baru bisa keluar dari kamar itu. Naomi menagih ceritanya, tapi Rusdi bilang ceritanya masih belum selesai. Cerita itu masih sangat panjang. Bahkan butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan ceritanya itu. Sebagai gantinya, Rusdi meminjamkan kamera SLR miliknya pada Naomi. Naomi sangat senang, dia langsung mencobanya diluar rumah.

 

Malam hari pukul 08:00, Sinka baru pulang kerja. Dengan tergesa-gesa dia berlari menuju dapur. Kali ini Rusdi membelikannya sate. Tanpa ganti baju terlebih dahulu, Sinka langsung menyantap makanannya. Belum selesai makan, Naomi meneriaki namanya.

 

“Sinka liat, kakak punya SLR!” seru Naomi.

 

“Paling punya Kak Rusdi, aku udah tahu Kak Rusdi punya SLR. Kemarin dia foto aku pas lagi masak.”

 

Mendengar reaksi Sinka, Naomi terlihat kesal. Kejutannya gagal, benar-benar gagal total. Sinka sudah tahu lebih dulu. Naomi melampiaskan kekesalannya dengan memotret Sinka saat sedang memasukkan nasi ke dalam mulutnya dengan tangan. Sinka kaget, lalu mengejar kakaknya.

 

Sinka menangkap kakaknya, lalu mengelapkan tangannya yang penuh dengan bumbu sate ke baju Naomi. Naomi berteriak, lalu balik mengejar adik kecilnya. Mereka sejenak melupakan masalah SLR. Kamera itu Naomi lempar saat Sinka mengelapkan tangannya, dan untungnya kamera itu mendarat di sofa.

 

Malam itu bahkan Sinka melupakan beban pekerjaannya di kantor. Dan polosnya lagi dia melupakan makanannya yang belum habis. Sementara si kembar saling mengejar, si pemilik kamera malah sejak tadi sedang menuliskan ceritanya. Di kamar itu, tidak ada yang mengganggunya.

 

Waktu berlalu bagai lesatan peluru. Tidak terasa sudah hari kedua dia tinggal di rumah itu. Dia mendapat banyak inspirasi disana, di kamar yang tenang dan sunyi. Si kembar sama sekali tidak terusik dengan kehadirannya, bagi mereka dia adalah tamu spesial. Baguslah kalau begitu, tapi dia tidak bisa tinggal lebih lama di rumah itu. Cepat atau lambat dia pasti akan pergi, dia harus segera melanjutkan perjalananya.

 

Sore hari pukul 05:00, mereka sedang jalan-jalan sore di taman. Mereka terlihat sangat akrab, mengobrol tanpa peduli status mereka. Hujan baru saja reda. Sejak pagi tadi hujan turun dengan deras, bahkan baru berhenti beberapa menit yang lalu. Di Kota Bogor hujannya awet, rasanya seperti tidak pernah berhenti.

 

“Seperti Deja Vu kita jalan-jalan sore gini. Sama seperti dua hari yang lalu, kita juga jalan-jalan sore seperti ini.” Naomi tertawa kecil.

 

Mereka kemudian duduk di kursi panjang yang ada di sebelah pohon beringin. Naomi benar, kejadian-kejadian itu seperti Deja Vu. Seperti sudah direncanakan oleh Tuhan. Kursi yang sama, pohon yang sama, taman yang sepi karna becek, sore yang sama, bahkan cuaca yang sama. Bukan main, Dunia Tuhan seperti merestui hubungan mereka.

 

“Dua hari yang lalu kau pernah bertanya bagaimana kedua orang tuaku bisa meninggal.”

 

Mendengar perkataan itu, Rusdi langsung terperanjat. Menatap tajam Naomi yang ada di sebelahnya. Sementara Naomi menatap genangan air yang ada di hadapannya. Naomi menghela napas panjang.

 

“Saat semua mata terpejam, bangunkan aku dengan sebuah kenangan yang mengingatkan aku untuk menari diatas genangan air hujan.” Naomi tersenyum, masih menatap genangan air yang ada di hadapannya.

 

“Kau benar tentang hujan. Semua yang ada dalam hujan menyimpan sebuah misteri tersendiri. Bahkan genangannya sekali pun menyimpan sebuah kenangan yang dulu sempat hilang. Kau membuatku sadar akan indahnya Dunia Tuhan, ada banyak warna dalam satu tetes air.”

 

“Kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil beberapa bulan lalu. Aku dan adikku sangat terpukul, bahkan hingga hari ini kami merasa sangat kesepian.”

 

“Tapi semenjak kau hadir dalam kehidupan kami, kini kami merasa ada kehidupan baru. Sebuah kehidupan dimana aku merasa kembali ceria. Bagai ada sebuah warna yang terlukis dalam kertas putih polos.” Naomi kemudian menatap Rusdi yang sejak tadi melihatnya prihatin.

 

“Terima kasih karna sudah menuntunku kearah yang lebih baik.” dia tersenyum.

 

Satu bulir air akhirnya merekah, menggelayut di pelupuk matanya. Perlahan air itu menggelinding, membentuk parit di pipi. Membentuk gurat kemilau di lesung pipitnya. Tetes air itu terdiam sejenak di dagu. Menumpuk, dan akhirnya membesar. Kemudian dalam gerakan lambat terlepaskan.

 

Dan sempurna saat bulir pertama air matanya jatuh, seketika petir menyambar. Disusul guntur yang menggelegar. Sempurna saat air mata itu tercecer dalam genangan air, langit kembali menangis. Burung-burung yang tadinya sedang bertengger di ranting pohon kembali meninggalkan taman itu. Bukan main, bahkan kali ini langit juga ikut merasakan kesedihannya.

 

Langit sore yang indah terusir sudah. Matahari senja terhalang awan hitam pekat, digantikan angin kencang menderu yang membuat deretan pohon beringin meliuk-liuk. Semuanya amat mendadak, datang begitu saja. Dan sekejap hujan turun dengan lebatnya, kembali membasuh Kota Bogor. Rusdi mendekapnya, Naomi menangis di pelukannya.

 

“Kau tahu, semua orang pasti pernah kehilangan sesuatu yang berharga. Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka, kehilangan pekerjaan, kehilangan anak, orang tua, benda-benda berharga, kekasih, kesempatan, kepercayaan, nama baik, dan lain-lain.”

 

“Semua kehilangan itu menyakitkan. Apapun bentuk kehilangan itu, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan. Perasaanmu amat rumit jika kau memaksakan diri untuk memahaminya dari sisi kau sendiri, yang ditinggalkan. Kau harus memahaminya dari sisi kedua orang tuamu, yang pergi.” Rusdi kemudian mengusap air mata Naomi.

 

Mereka berpelukan dibawah guyuran air hujan. Naomi masih menangis di pelukannya. Isak tangisnya tak terdengar jelas, kalah dengan suara rintik-rintik hujan. Rusdi semakin mendekapnya erat. Napas Naomi memburu, tersenggal tiga tarikan dalam satu detik.

 

“Jangan pernah takut menangis di bawah air hujan. Karna tidak akan ada yang tahu bahwa kau sedang menangis. Hujan membawa air matamu mengalir mengikuti kemana arahnya berlabu.”

 

“Aku tidak pernah membenci hujan.” balas Naomi.

 

Hari ketiga, Rusdi sedang menuliskan sesuatu di buku tebalnya. Duduk di teras rumah Naomi, tersenyum sambil mengguratkan sesuatu di buku tebalnya. Pagi itu hujan kembali membasuh Kota Bogor. Tapi kali ini hujan itu terasa amat menentramkan. Hujan yang damai tanpa adanya guntur yang menggelegar.

 

Suara dan aroma hujan kali ini terasa sangat berbeda. Rusdi memanfaatkannya dengan baik. Hujan memberinya inspirasi untuk melanjutkan ceritanya. Rintik-rintik hujan terdengar seperti sebuah melodi yang menyuruhnya untuk segera menyelesaikan cerita di buku tebal itu. Rusdi kembali tersenyum, kali ini Naomi mengganggunya. Senyuman itu seketika pudar, Naomi membuyarkan lamunannya. Saat Naomi menyapa, seketika inspirasinya buyar.

 

“Maaf mengganggu.” Naomi terkekeh.

 

“Maaf, bisa tinggalkan aku sebentar saja? Aku butuh waktu untuk menyendiri.” untuk kesekian kalinya Rusdi tersenyum.

 

Naomi berlalu, tanpa berkata apapun lagi. Naomi masuk ke dalam rumah. Akhirnya Rusdi kembali sendirian. Rusdi kemudian kembali menuliskan ceritanya. Dia sedikit mengubah ceritanya, itu karena Naomi membuyarkan inspirasi sebelumnya.

 

Sore hari pukul 05:00, hujan baru saja reda. Seperti biasa, setiap sore mereka selalu jalan-jalan di taman. Suasana taman sama seperti sebelumnya. Kursi yang sama, pohon yang sama, taman yang sepi karna becek, sore yang sama, bahkan cuaca yang sama. Kejadian-kejadian itu amat menarik. Tapi kali ini ada yang beda. Yang membedakan hanyalah kali ini Rusdi membawa kamera SLR miliknya.

 

Mereka sejenak mengobrol, hanya sekedar basa-basi. Tapi selanjutnya Naomi berbicara kearah lain. Naomi terlihat serius menatap matanya, Rusdi terlihat bingung karna Naomi menatapnya serius. Seperti ada sesuatu yang akan disampaikannya.

 

“Jujur saja, aku suka sama kamu. Selama ini kamu sudah baik banget sama aku. Bahkan kamu juga baik banget sama adik aku, Sinka. Aku cinta kamu, Rusdi. Kamu mau gak jadi pacar aku?”

 

Rusdi semakin menatapnya bingung. Rusdi kemudian tertawa kecil, lalu mengambil kamera SLR miliknya. Setelah itu memotret wajah Naomi dari dekat. Naomi berkedip karna kilauan blitz dari kamera itu.

 

“Maaf Naomi, hatiku tidak pernah berhenti di satu tempat. Aku seorang penulis yang berkelana untuk menyelesaikan setiap cerita yang kubuat. Itu artinya aku tidak akan lama tinggal disini. Bukankah kau sedang libur kerja tiga hari? Itu artinya besok kau sudah mulai kerja. Mungkin inilah hari terakhirku bersamamu.” Rusdi terkekeh.

 

“Apa kau akan pergi?” tanya Naomi, Rusdi mengangguk pelan.

 

Naomi menundukkan kepalanya, dia terlihat sangat sedih akan keputusannya untuk meninggalkan Naomi dan Sinka. Daun jatuh menimpa kepalanya, Rusdi kemudian mengambil daun yang ada diatas kepalanya. Dia lalu memperhatikan daun itu.

 

“Daun jatuh tak pernah membenci angin.” Rusdi kembali tersenyum, Naomi lalu menatapnya.

 

“Kau tahu apa maksudku?” tanyanya, Naomi menggeleng pelan.

 

“Maksudnya adalah daun ini tidak akan lama menempel pada pohon. Jika tiba saatnya, angin akan menerbangkan daun yang sudah tua. Daun itu hanya diam, pasrah dan membiarkan dirinya diterbangkan oleh angin dan mendarat di tempat antah-berantah. Kendati demikian, daun tak pernah sedikit pun membenci angin yang telah memisahkannya dari teman-teman dan keluarganya. Kau tahu apa maksudku?” Rusdi kembali bertanya, untuk kesekian kalinya Naomi kembali menggeleng.

 

“Daun yang kumaksud bagaikan kehidupan ini. Kehidupan ini juga tak akan bertahan lama. Ketahuilah, tidak ada yang abadi di Dunia Tuhan ini. Kita hanya sementara berada di Dunia Tuhan. Bagaikan sedang beristirahat untuk menempuh perjalanan jauh. Selanjutnya kita akan melanjutkan perjalanan, dan meninggalkan Dunia Tuhan yang indah ini. Kita harus menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya dalam peristirahatan kita di Dunia Tuhan ini.”

 

“Namun, jangan pernah sekali-kali membenci Tuhan. Apalagi mengutuknya karna bersikap tidak adil. Tuhan itu selalu adil, percayalah. Tuhan selalu menyimpan sebuah misteri dan mengungkapkannya jika saatnya tiba. Tergantung diri kita sendiri, kadang kita sendiri tidak menyadarinya. Jangan berpikir Tuhan tidak adil karna dia telah mengambil kedua orang tuamu. Diluar sana masih banyak anak yang kurang beruntung dan harus hidup di jalanan. Kau beruntung bisa merasakan masa kanak-kanakmu bersama adik dan kedua orang tuamu.”

 

“Kau mungkin akan segera merasakan keadilan Tuhan. Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan, maka kau harus melihat ke atas. Pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji masa depan. Sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan. Maka kau harus melihat ke bawah. Pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu, dengan begitu kau akan merasakan keadilan Tuhan.”

 

“Semoga langit berbaik hati memberitahumu. Kalau pun tidak, begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Mungkin Tuhan sengaja melindungi kita dari rasa tahu itu sendiri.” dia tersenyum simpul menatap Naomi.

 

“Kau tidak tahu apa yang kurasakan!”

 

“Tentu aku tahu, bahkan penderitaanku jauh lebih menyakitkan darimu Naomi. Kedua orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih kecil, dan beberapa bulan lalu adikku juga meninggal. Sama seperti kedua orang tuamu, adikku meninggal karna kecelakaan. Aku memahamimu Naomi, dan itulah tujuanku bertanya bagaimana kedua orang tuamu bisa meninggal. Agar aku bisa menceritakan padamu bahwa penderitaanmu bukan apa-apajika dibandingkan dengan penderitaanku. Aku sudah tidak memiliki rumah, apalagi pekerjaan. Aku lebih memilik untuk berkelana.”

 

“Kau pernah bertanya siapa sebenarnya Nabilah. Dia adalah adikku yang telah meninggal. Dan cerita itu sebenarnya diperuntukkan untuk Nabilah. Dia selalu menyukai hujan, bahkan saat kematiannya pun dia tersenyum di bawah guyuran air hujan.” Rusdi hanya tertawa kecil, tidak menunjukkan kesedihan dalam matanya.

 

“Kembali lagi ke awal, maaf aku tak bisa menerima perasaanmu. Aku harus melanjutkan perjalanan, seperti daun ini. Daun ini pun tak akan ku kekang lama. Dia juga harus melanjutkan perjalanannya.” Rusdi melepas daun itu, kemudian daun itu mendarat di genangan air yang ada di hadapan Naomi.

 

Naomi menatap daun itu. Sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh menatap daun, melainkan dia sedang bercermin dalam genangan air. Tercermin jelas kesedihan-kesedihan yang ada di matanya. Naomi sudah terlalu banyak tersakiti, sampai-sampai dia selalu menangis dalam tidurnya.

 

Esok pagi pukul 07:00, Naomi baru saja bangun tidur. Dia sejenak diam, lalu duduk-duduk di atas kasurnya. Dia memandang kosong keluar jendela. Pagi ini hujan tidak turun. Aneh sekali, padahal hari-hari sebelumnya hujan selalu turun di Kota Bogor saat pagi. Langit benar-benar ada di pihaknya. Disaat dia menangis, hujan selalu turun. Dan sekarang dia termenung, hujan tak membasuh Dunia Tuhan.

 

“Dia sudah pergi…”

 

Naomi kemudian pergi ke kamar mandi, hanya sekedar menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Lalu dia pergi ke ruang tengah. Disana sudah ada Sinka, dia sedang duduk di sofa. Tampaknya Sinka sedang memegang selembar kertas.

 

“Kak Naomi gak kerja?” tanya Sinka, Naomi hanya menggeleng pelan.

 

“Oh iya, hari ini aku libur kerja!” Sinka berdiri, lalu menghadap kakaknya yang sedang berdiri.

 

“Aku tahu kakak mencintainya. Dan yah sayang sekali dia harus pergi. Tapi itulah tujuan hidupnya, jalan terbaiknya. Dia harus menyelesaikan ceritanya. Ini dari Kak Rusdi.” Sinka memberikan selembar kertas itu pada kakaknya.

 

“Yaaahh, gak ada yang beliin makanan lagi deh pas aku pulang kerja.” Sinka terlihat lesu, lalu dia meninggalkan Naomi.

 

Naomi duduk di sofa, lalu membaca selembaran kertas itu. Dan benar saja, saat dia membaca tulisan kertas itu. Hatinya kembali bergetar oleh rangkaian kata-kata indahnya. Lima kalimat yang kembali menggetarkan hatinya.

 

“Kita akan selalu bersama. Kita sungguh akan selalu bersama. Tidak ada yang terpisahkan dalam hati. Tidak ada yang hilang dalam sebuah kenangan. Kau akan segera melihat keadilan Tuhan, percayalah.”

 

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di stasiun. Rusdi sedang duduk sambil kembali melanjutkan ceritanya. Dia hanya mengenakan sebelah sepatu, itu karna sepatu yang satunya sedang disemir oleh seorang anak. Tak lama, kereta pun tiba di stasiun itu. Rusdi langsung mengambil sepatunya yang baru saja selesai disemir. Lalu memberikan uang imbalan pada anak itu. Rusdi kemudian memakai sepatunya.

 

“Kak, uang nya lebih.” ucap anak itu.

 

“Buat kamu aja kembaliannya.” Rusdi berlalu meninggalkan anak kecil itu yang tersenyum simpul padanya.

 

Di tempat sebelumnya, tepatnya di rumah si kembar. Naomi sedang berdiri di luar rumah sambil memegang sebuah payung. Dia baru saja mandi dan berganti pakaian warna hitam. Entah kenapa saat ini dia ingin sekali memakai pakaian serba hitam.

 

Awan tiba-tiba mendung, tak lama hujan turun dengan sangat deras. Naomi membuka payungnya, tapi dia hanya memegangnya. Sia-sia saja, percuma dia membuka payung. Naomi tidak memakainya, dia ingin menikmati hujan. Naomi menenggakkan kepalanya keatas. Di teras Sinka menatapnya sendu, merasa kasihan. Kini posisi Naomi sama persis dengan perempuan yang ada di cover depan buku tebal milik Rusdi. Sama sekali tidak ada bedanya, apa itu yang dinamakan takdir?

 

Di dalam kereta, Rusdi sedang memotret pemandangan hujan dari balik jendela. Kamera SLR itu masih menemaninya. Rusdi sejenak diam, lalu tersenyum menatap keluar jendela. Hujan yang saat ini mengguyur Naomi, dia sudah tahu itu. Bahkan dia sudah tahu kejadian-kejadian itu. Rusdi berhasil mengubah cara pandang seseorang terhadap hujan. Kini Naomi sangat menyukai hujan. Tidak lagi berlindung di dalam rumah, tidak lagi takut basah.

 

Rusdi kemudian menghembuskan napasnya secara perlahan. Tampak jelas embun-embun menghalangi pandangannya. Itu karna hembusan napasnya yang mengenai kaca jendela kereta. Rusdi mengusap kaca jendela, kembali membersihkannya. Dia kembali tersenyum menatap hujan lewat kaca jendela. Datang dan pulang selalu ditemani hujan. Sepatunya yang baru saja disemir tak tampak mengkilat lagi karna terkena percikan air hujan yang menembus lewat celah-celah gerbong kereta itu. Rusdi berkali-kali memotret suasana hujan dari dalam gerbong kereta dengan kamera SLR miliknya.

 

“Pagi ini hujan kembali turun.”

 

TAMAT

 

Created by: @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s