Janjiku Untuk Desy Part 7

desy

Wajahku babak belur, banyak luka lebam disertai darah dibagian mulut dan hidung yang menghiasi wajahku. Belum lagi seluruh tubuhku terasa sakit, terutama dibagian dada dan perut. Semua hal itu membuatku sukses tidak bisa bangkit berdiri dan hanya bisa berbaring saja.

Itu terjadi karena tadi saat aku dan Rona akan pulang, ada dua orang tak dikenal berlari kearah kami. Salah satu dari mereka langsung menghajarku habis-habisan. Aku tidak mengenal siapa mereka, tapi Rona nampaknya kenal dengan mereka dan saat ini dia tengah dibawa pergi oleh mereka.

Di parkiran cafe ini suasananya sangat sepi. Jangankan orang atau kendaraan, kucing saja tidak ada yang lewat. Aku butuh seseorang untuk membantuku berdiri, untungnya aku sudah menelepon Desy untuk datang kemari. Tinggal menunggunya datang.

 

Sambil menunggu dia datang, aku mencoba menggerakkan seluruh badanku, mencoba untuk duduk tapi tetap tidak bisa. Tubuhku masih terasa lemah untuk digerakkan. Sial. Aku harus terus berbaring sampai Desy datang. Sampai akhirnya aku mendengar suara langkah kaki mendekat kearahku. Suara langkah kakinya mendadak berhenti. Kemudian suara langkah kaki itu terdengar semakin cepat mendekat kearahku. Kemudian..

 

“Aryo!! Kamu kenapa?!” ucap seseorang yang kini sudah berlutut disampingku.

 

Akhirnya ada seseorang yang menolongku juga. Samar-samar aku seperti melihat sesosok malaikat yang menolongku, apakah dia malaikat kematian? Aku harap bukan, karena aku belum siap mati. Aku belum menepati janjiku ke Desy.

 

Kucoba menoleh kearah orang itu walau leherku terasa sakit. Aku angkat sebelah tanganku dan menyentuh pipinya. Terasa lembut.

 

“Apa kamu seorang malaikat?” kataku lemah.

 

Kemudian orang itu menepis tanganku, lalu menampar pipiku secara perlahan.

 

“Aryo, sadarlah! Ini aku, Naomi, bukan malaikat!”

 

Seketika akupun tersadar. Pandanganku kembali normal. Aku bisa melihat dengan jelas siapa sosok dihadapanku. Ternyata dia adalah Naomi. Aku berharap yang datang adalah Desy, tapi kenapa Naomi yang datang? Tak apalah, berkat dia aku jadi tertolong.

 

“Mi, bantu aku berdiri.”

 

Naomi mencoba mengangkat tubuhku, namun saat dia mencobanya, aku langsung merasakan sakit disekujur tubuhku. Naomi kaget melihat reaksiku sehingga dia mengurungkan niatnya.

 

“Eh, maaf. Pasti sakit banget ya?” ucap Naomi.

 

“Sakit, Mi. Pake nanya lagi,” timpalku.

 

Ada-ada saja Naomi. Sudah tahu temannya ini kesakitan gara-gara dihajar orang tak dikenal, masih nanya aja sakit atau nggak. Lama-lama aku nikahin juga ini anak. Oke, bercanda.

 

“Hehehe.” Dia malah ketawa. Kemudian Naomi mengangkat kepalaku secara perlahan dan menopangnya di pahanya. Aku mulai merasakan aliran darah dalam tubuhku mengalir lancar. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa menggerakkan badanku, walaupun masih terasa sakit.

 

“Gimana udah enakan?” tanya Naomi.

 

“Iya. Makasih ya.”

 

Naomi tersenyum melihatku, lalu dia mengelus rambutku dengan lembut. “Kamu kenapa bisa babak belur gini?”

 

“Ada orang yang nggak dikenal tiba-tiba ngehajar aku. Tapi aku nggak bisa ngelawan balik, soalnya orang itu langsung menindihku dan menghajarku habis-habisan,” jawabku sambil terus menatap kearah jalan.

 

“Oh ya, aku kan minta tolongnya ke Desy kenapa jadi kamu yang datang?” lanjutku.

 

Naomi menggelengkan kepalanya. “Mana aku tahu. Aku kebetulan lewat sini terus liat kamu lagi terkapar, jadinya aku langsung tolongin deh.”

 

“Ohh. Padahal aku pinginnya Desy yang nolongin aku.”

 

“Dasar. Udah syukur aku tolongin. Coba kalau nggak ada aku, sampe pagi kamu terkapar disini terus.” Naomi memukul pelan pipiku yang memar itu. Aku sedikit merasa sakit karena pukulannya.

 

“Hehehe.”

 

Memang dengan adanya Naomi aku jadi tertolong. Coba kalau nggak ada dia, bisa-bisa aku terkapar disini terus sambil terus kesakitan. Aku berharap Desy datang kesini, tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Mungkin saja dia masih dalam perjalanan kesini.

 

“Mi, aku masih penasaran sama kerjaan kamu itu. Sebenarnya kamu kerja apa sih?” tanyaku menatap wajah cantik sahabatku itu.

 

Naomi memalingkan wajahnya kearah samping saat mendengar pertanyaanku. Dia nampak terlihat kebingungan. Ada apa sih sebenarnya dengan dia? Mencurigakan sekali.

 

“Maaf, aku nggak bisa ngasih tahu kerjaan aku,” jawab Naomi.

 

Aku mengangkat sebelah alisku. “Kenapa?”

 

“Suatu saat nanti juga kamu bakal tahu kerjaan aku.”

 

Tiba-tiba dari arah jalanan, datang sebuah mobil menghampiri aku dan Naomi. Mobil itu berhenti tepat di depan kami. Kemudian pintu depan sebelah kiri mobil terbuka, terlihat seorang wanita turun dari mobilnya. Lalu wanita itu langsung berlari kearahku dan Naomi.

 

“Aryo!! Kamu kenapa?!!” teriak wanita itu.

 

Dia sangat terkejut saat melihat wajahku yang babak belur. Aku bisa melihatnya, tetesan air jatuh dari matanya. Dia menangis.

 

“Mi, Aryo kenapa bisa jadi kayak gini?” isak tangisnya mulai pecah saat melihat keadaanku.

 

“Aku nggak apa-apa, Des,” kataku tersenyum, sedikit mengurangi kekhawatiran dalam dirinya.

 

“Nggak apa-apa gimana?!!” bentak Desy, disusul isak tangisnya semakin kencang. Oke, sepertinya aku semakin memperburuk keadaan. Aku sudah benar-benar membuat Desy sangat khawatir.

 

“Aku khawatir sama kamu, Yo. Aku takut kamu kenapa-napa.” Desy memukul pelan bafanku sambil terus menangis. Badanku terasa sedikit sakit akibat pukulannya, walau pukulannya pelan.

 

“Udah, Des. Mending kita bawa Aryo ke kosannya. Kita obati dulu luka-lukanya. Kasihan dia,” ucap Naomi sambil mencegah Desy memukulku lagi.

 

Aku jadi tidak tega melihat Dest menangis. Baru kali ini aku melihat dia menangis sejadi-jadinya. Memang ini hal yang wajar, Desy sangat mengkhawatirkan kondisiku sekarang. Dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa aku. Sekarang dia sudah melihat kondisiku, secara manusiawi otomatis dia akan langsung menangis melihat hal itu.

 

Sekarang Desy dan Naomi membantuku untuk berdiri. Kemudian mereka menuntunku mrnuju mobil yang tadi Desy tumpangi. Kami bertiga pun masuk kedalam mobil dan mobil langsung melaju ke kosanku.

 

****

 

Sekarang disinilah aku, disebuah kamar kos tempat aku tinggal. Aku tengah terbaring diatas kasur, ditemani Desy dan Naomi yang tengah mengobati luka-lukaku, serta satu orang lagi yang tidak aku tahu namanya. Mungkin dia teman satu kos Desy.

 

Berbaring diatas kasur memang terasa nyaman dibanding berbaring diatas tanah parkiran. Apalagi ditemani pacar dan sahabatku sendiri. Aku berterima kasih pada mereka, kalau tidak ada mereka mungkin aku akan terus terbaring disana sampai fajar nanti.

 

“Gimana lukanya mendingan?” tanya Desy sambil mengompres luka diwajahku dengan air hangat.

 

“Udah mendingan kok,” ucapku tersenyum.

 

“Kamu lagi sakit-sakitan gini masih bisa senyum, heran deh.”

 

Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. “Aku kan nggak mau bikin kamu khawatir.”

 

Desy menoyor kepalaku dengan tangannya. “Dasar. Kamu udah jelad-jelas bikin aku khawatir.”

 

“Hehehe. Maaf.” Desy mengembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya dariku. Naomi yang sedari tadi mengganti air kompresan hanya tertawa melihat kami.

 

“Des, udah jam 2 subuh nih. Pulang, yuk,” ajak seseorang yang sedari tadi menunggu di depan pintu kamar kosku.

 

Desy menoleh kearah orang itu, lalu berpikir sejenak. Setelah itu dia kembali menoleh kearahku dan mengelus rambutku yang acak-acakan.

 

“Hmmm, aku disini saja. Aku mau nemenin Aryo, lukanya belum sembuh total.”

 

Desy kini menoleh kearah Naomi, lalu kembali menoleh kearah orang itu. “Lebih baik kamu antar Naomi pulang dulu, setelah itu baru balik ke kosan. Oke, Shani?”

 

Orang yang bernama Shani itu terlihat berpikir sejenak. “Hmm, oke deh. Ayo Naomi, aku antar kamu pulang.”

 

Naomi beranjak dari kasurku, dia mengambil barang-barangnya dan berpamitan padaku dan Desy.

 

“Aryo, Desy, aku pulang dulu ya. Awas loh kalau nanti tidur jangan sampai khilaf, hehe,” kata Naomi cengengesan.

 

“Ishhh.. Apaan sih?” ucap Desy sambil melempar kain lap kompresan kearah Naomi. Aku hanya tertawa melihatnya.

 

“Hahaha. Udah ah, ayo Shani kita pulang. ” Naomi berjalan keluar kamar kosku.

 

“Eh, iya. Desy, Aryo, kita pamit ya,” pamit Shani seraya meninggalkan kamar kosku.

 

****

 

Sekarang hanya tinggal kami berdua didalam kamar ini. Aku cukup senang dengan adanya Desy yang mau menemaniku. Aku sih tidak masalah kalau Desy mau menemaniku tidur disini. Yang aku permasalahkan adalah bagaimana kalau tiba-tiba salah satu dari kami khilaf dan hal itu terjadi. Mungkin akan terasa lebih enak. Oke, bercanda. Mana mungkin itu terjadi, aku juga tahu diri kok.

 

Desy menatapku dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Aku yang melihat itu membalas tatapannya, juga tersenyum padanya. Entah kenapa Desy terlihat cantik walaupun dia tadi sempat menangis. Senyum yang ditunjukkan Desy juga terlihat lebih manis dari biasanya, membuatku terasa lebih nyaman didekatnya.

 

“Des, aku minta maaf udah buat kamu khawatir,” kataku menatap mata indah Desy.

 

“Jangan kayak gitu lagi,” ucap Desy menoyor kepalaku. “Aku tuh khawatir banget sama kamu tadi. Disepanjang jalan waktu aku jemput kamu, aku tuh nangis terus takut kamu kenapa-napa.”

 

Aku tersenyum mendengar penjelasan Desy. Aku tidak menyangka Desy bisa srkhawatir ini. Itu tandanya dia benar-benar sayang padaku.

 

“Hehehe. Iya, aku nggak akan kayak gitu lagi,” kataku.

 

“Huh, dasar.”

 

Desy naik keatas kasurku dan berbaring disebelahku. Melihat itu, seketika aku menjadi gugup. Apalagi dia langsung merangkulku dan tersenyum kearahku. Aku jadi gugup dibuatnya.

 

“Kenapa senyum-senyum? Awas nanti aku khilaf loh,” kataku menaikkan sebelah alis.

 

“Awas aja kalau sampai kayak gitu, aku tonjok kamu biar lukanya makin parah,” timpal Desy sambil mencubit hidungku.

 

“Adaw! Sakit, Des…” Aku melepas cubitannya dan mengelus pelan hidungku. Duh, sakit banget rasanya.

 

“Hehehe.” Dia malah cengengesan. Oke, nanti aku balez kamu, Des.

 

“Kamu kenapa bisa babak belur gini?” tanya Desy sambil memposisikan badannya miring ke kearahku.

 

Aku yang masih merasakan sakit di badanku hanya mampu menoleh saja. Kemudian aku menjawab, “Aku dihajar sama orang yang nggak dikenal waktu mau pulang dari cafe.”

 

“Kok bisa?” Desy memasang wajah herannya.

 

Aku menghela nafas. “Entahlah. Tiba-tiba saja orang itu langsung menyerangku begitu saja, tanpa memberitahu apa tujuannya.”

 

“Oh gitu. Kasihan banget sih kamu.”

 

Sebenarnya aku ingin menceritakan yang sebenarnya. Saat dimana aku dan Rona akan pulang dari cafe, lalu tiba-tiba ada dua orang tak dikenal menghajarku dan salah satu dari mereka membawa Rona pergi. Tapi aku urungkan niat untuk menceritakan yang sebenarnya, karena belum saatnya Desy mengetahui tentang Rona.

 

Desy mendekatkan posisinya kearahku, sehingga posisi kami saling berdempetan. Kemudian Desy menopang kepalanya keatas dadaku. Melihat itu jantungku berdegup kencang. Spontan tanganku meraih puncak kepalanya dan mengelus lembut rambutnya.

 

“Aku nggak mau melihat kamu babak belur kayak gini lagi. Cukup waktu itu dan hari ini saja aku lihatnya,” ucap Desy tiba-tiba.

 

Aku yang mendengarnya hanya terdiam. Tidak tahu harus bilang apa, mulutku serasa dikunci.

 

“Waktu itu aku lihat kamu berantem dengan dia. Kalian terlihat sangat brutal saat itu, sampai-sampai kalian jadi sekarat. Aku yang melihat itu hanya bisa menangis, hingga akhirnya Naomi dan teman-teman datang melerai kalian,” lanjut Desy.

 

Aku ingat betul saat waktu itu dimana aku pernah terlibat baku hantam dengan salah seorang teman saat SMA dulu. Aku tidak bisa memberi tahu kalian siapa teman dan alasan kenapa aku bisa berkelahi dengannya. Nanti juga kalian akan mengetahuinya sendiri, hehe.

 

“Aku tahu kalau dulu kamu suka kelahi. Aku udah cukup melihat kamu babak belur kayak gini, aku takut hal itu terjadi lagi suatu hari nanti,” kata Desy, kini isak tangis kembali terdengar dari dirinya.

 

Aku tertegun melihatnya. Sebesar inikah rasa kekhawatiran yang dialami dirinya? Aku jadi merasa tidak enak telah membuatnya terlalu khawatir. Dia pasti tidak mau kalau sampai harus kehilanganku.

 

Aku terdiam sejenak. Kemudian aku mendekap tubuh Desy dalam posisi tidur. Desy yang merasakan itu langsung semakin mendekatkan dirinya pada dekapanku, hingga posisi kepalanya berada disamping kepalaku. Lalu, aku menoleh kearahnya dan menatap mata indahnya.

 

“Aku janji hal itu nggak akan terjadi lagi. Kamu jangan khawatir lagi,” ucapku tersenyum, disusul dengan menyeka air mata yang keluar dari mata Desy.

 

Desy pun ikut tersenyum mendengarnya. Kemudian dia mendekatkan wajahnya sehingga dahiku dan dahinya berbenturan. Perlahan aku dan Desy semakin mendekatkan wajah kami, sampai pada akhirnya bibir kami saling bertemu dan kamipun hanyut dalam sebuah ciuman.

 

****

 

Suara jam weker terdengar berbunyi sangat nyaring. Perlahan aku membuka mata dan kurasakan wangi dari rambut Desy. Rupanya saat ini aku tengah memeluk Desy dari belakang dalam posisi tidur menyamping. Aku bisa merasakan Desy masih tertidur karena deru nafasnya masih bisa kudengar. Nyenyak sekali dia tidurnya.

 

Kalian jangan langsung berpikiran negatif ya. Selama tadi aku dan Desy tertidur, kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh kok.

 

Aku mencoba bangkit untuk mematikan jam weker yang ada di meja. Namun, saat aku hendak mematikannya, sebuah tangan lain langsung mengarah ke jam weker dan mematikannya. Rupanya itu tangan Desy. Dia sudah bangun ternyata. Setelah mematikannya, Desy berbalik kearahku.

 

“Hai,” sapa Desy tersenyum.

 

“Hai juga. Kamu ternyata udah bangun,” balasku tersenyum.

 

“Sekarang udah jam berapa, yang?”

 

Aku melihat kearah jam weker. “Jam 7, yang.”

 

“Aku masih ngantuk nih, tidur lagi ya.” Desy kembali menutup matanya.

 

“Dih, malah tidur lagi. Dasar kebo.” Aku kembali rebahan di kasur menghadap ke Desy, lalu kucubit hidungnya dan menggoyangkannya.

 

“Ishhh… Jangan cubit-cubit! Ganggu orang tidur aja,” ucap Desy sambil menepis tanganku.

 

“Hehehe.” Aku hanya tertawa melihat ekspresinya yang lucu. Desy kalau tidur kelihatan lucu, aku jadi gemas melihatnya.

 

“Gimana tadi tidurnya nyenyak?”

 

“Hmmm.. Nyenyak nggak ya?” Desy menggerakkan bola matanya kesana-kemari. “Nyenyak sih, apalagi dipeluk sama kamu, hehe.”

 

“Huh… Maunya ya dipeluk terus,” timpalku.

 

“Kamu tuh yang kesempatan peluk-peluk aku segala.” Desy menjulurkan lidahnya.

 

“Dih, dasar.” Aku mencubit kedua pipi Desy. Lalu disusul dengan menggelitiki perutnya. Desy juga membalas gelitikanku, alhasil kami jadi tertawa karena sangking gelinya.

 

“Oh ya, gimana sama kondisi badan kamu, masih sakit nggak?” Desy menghentikan aktivitas menggelitiknya.

 

“Udah nggak kerasa sakit kok, cuma sekarang badanku jadi pada pegal,” jawabku.

 

“Bagus deh kalau gitu.”

 

Tok.. Tok.. Tok..

 

Aku dan Desy mendengar suara ketukan pintu kamar kosku. Siapa ya pagi-pagi begini yang mengetuk pintu kamar? Ganggu orang lain lagi asik aja. Aku mencoba beranjak dari kasur untuk membukakan pintu kamar, namun ditahan oleh Desy.

 

“Biar aku aja yang bukain. Kamu disini aja ya sayang,” ujar Desy. Aku tidak bisa menolak, karena saat ini badanku masih terasa pegal. Jadinya Desy yang membukakan pintu.

 

Desy pun beranjak dari kasur dan hendak membukakan pintu kamar kosku. Tapi sebelum itu, dia mengecup bibirku dengan lembut. Kemudian, Desy membukakan pintu kamar kosku. Namun saat dia membukanya…

 

HUWA!!

 

Desy yang kaget langsung menutup pintunya. Aku yang melihatnya juga otomatis merasa kaget. Memangnya Desy melihat apa dibalik pintu itu? Aku jadi penasaran. Akupun beranjak dari kasur dan membuka pintu kamar.

 

“Ah elu, ngagetin aja.” Aku melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri sambil mengurut hidungnya. Nampaknya hidungnya terkena hantaman pintu tadi.

 

“Yaelah, Bang. Gara-gara ini pintu hidung gue jadi sakit nih,” ujar orang itu.

 

Aku yang melihatnya hanya tertawa. Sedangkan Desy meminta maaf pada orang itu karena dia yang membuat hidung orang itu jadi sakit.

 

“Aku minta maaf ya, aku nggak sengaja,” ucap Desy.

 

“Nggak apa-apa kok,” balas orang itu.

 

“Bang, cewek ini siapa kok bisa sama lu, sekamar lagi?” bisik orang itu.

 

“Hehehe. Dia ini pacar gue, namanya Desy.”

 

“Ohh…” ucap orang itu manggut-manggut. “Kenalin gue Willy Debiean, panggil aja Willy, teman satu kos Bang Ar.” orang bernama Willy itu mulai berjabat tangan dengan Desy.

 

“Aku Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan, panggil aja Desy.” Desy mulai memperkenalkan diri.

 

Willy yang baru saja mengetahui nama panjang Desy, hanya tercengang. Nampaknya dia sedikit shock dengan nama panjang Desy.

 

“Bang, kok dia namanya panjang amat?” tanya Willy.

 

“Hahaha. Gimana keren kan nama lengkap pacar gue?” Aku menaikkan kedua alisku sebanyak 3 kali.

 

“Ajib…” Willy menunjukkan kedua jempolnya kearahku. Dia terlihat terpukau akan hal itu.

 

Ya, Willy ini adalah teman satu kos denganku. Dia orangnya terbilang gokil kalau di kosan. Pernah suatu hari di kosan, dia menantang semua penghuni kos untuk memakan sambal kecap yang dicampur cuka yang sudah ia buat. Alhasil semua penghuni kos sukses sakit perut selama 2 hari karenanya, termasuk aku dan Willy. Kalau semisalnya aku ditantang makan sambal maut itu lagi, aku mikir dua kali deh.

 

“Bang, tadi diluar ada orang yang nganterin paket buat lu. Nih, paketnya,” ucap Willy seraya memberikan padaku sebuah paket berbentuk kotak berukuran sedang.

 

“Paket dari siapa, Wil?” tanyaku padanya.

 

“Wah kalau itu gue nggak tahu, Bang.”

 

“Ohh. Oke deh, makasih ya.”

 

“Sama-sama, Bang. Kalau gitu gue masuk ke kamar dulu ye, mau sarapan dulu, laper.” Willy beranjak dari tempatnya dan masuk ke kamarnya.

 

“Oke, Wil.”

 

Aku memperhatikan paket yang sedang kupegang. Aku mengira-ngira apa isi paket ini. Apakah sesuatu yang mengejutkan? Semacam duit miliaran misalnya? Oke, daripada penasaran, lebih baik segera membukanya karena dari tadi Desy menusuk-nusuk punggungku dengan jarinya. Dia juga penasaran dengan isi paket itu. Tanpa menunggu lama lagi, akupun membuka paket itu.

 

Ternyata paket itu berisi sebuah boneka kelinci dan juga ada sebuah surat didalamnya. Aku jadi heran siapa yang mengirimku boneka kelinci ini. Desy juga heran mengira-ngira siapa yang mengirimkan paket ini.

 

“Yang, ada suratnya, coba baca gih,” kata Desy seraya mengambil boneka kelinci itu dan memeluknya. Kelihatannya Desy menyukai bonekanya. Akupun mengambil surat itu dan membacanya.

 

Hai Kakak ^^

Kakak gimana kabarnya disana? Baik-baik aja kan? Kakak disana nggak berantem lagi kan kayak dulu? Aku harap kakak nggak ngelakuin itu lagi. Keadaan aku di Bandung baik-baik aja, Kak. Mamah sama Papah juga dalam keadaan baik sekarang, hehe.

Β 

Kakak kapan pulang ke Bandung? Aku kangen banget sama Kakak, kangen main bareng sama Kakak, kangen jalan-jalan ke gunung-gunung yang indah di Bandung. Papah sama Mamah juga kangen sama Kakak. Mereka selalu nanyain kerjaan Kakak disana, terus apa Kakak disana sudah punya pacar? Soalnya Mamah udah nggak sabar pingin nimang cucu, hahaha.

Β 

Oh ya Kak, aku ngirim boneka kelinci ini supaya Kakak bisa inget aku dan keluarga terus. Kami disini selalu nungguin Kakak pulang, kalau perlu bawa pacarnya juga kesini biar bisa nemenin aku main juga, hehehe.

Β 

Hmm, mungkin segitu dulu aja ya. Aku bingung mau nulis apa lagi, haha. Aku tunggu kedatangan Kakak ke Bandung ya. Dadah kakak… πŸ™‚

Β 

Salam sayang,

Β 

Si kelinci lucu, Nabilah.

 

Aku terharu saat membaca surat itu. Ternyata paket ini pemberian dari adikku satu-satunya, Nabilah. Aku jadi teringat akan kampung halamanku, Bandung. Memang Bandung selalu membuat rindu siapa saja. Aku mengira-ngira kota tempatku lahir kini seperti apa ya? Apakah masih sejuk seperti dulu? Ah, sungguh aku merindukannya.

 

Tanpa sadar air mataku langsung keluar setelah membaca surat dari Nabilah. Akupun mulai menyekanya dengan tanganku agar air mata yang keluar tidak terlalu banyak. Kemudian kurasakan seseorang mendekap pundakku. Dia adalah Desy. Nampaknya dia sedikit khawatir dengan sikapku yang tiba-tiba menangis.

 

“Surat dari siapa, sayang?” tanya Desy.

 

Aku kembali menyeka mataku. “Ini surat dari adikku.”

 

“Aku jadi kangen dengan suasana rumah di Bandung,” lanjutku.

 

Desy semakin mempererat dekapannya padaku, kemudian dia mengelus lembut pipiku.

 

“Kamu tenang aja, nanti kan nggak lama lagi kamu ke Bandung. Kamu juga udah ngajak aku kan. Nanti disana kita main bareng-bareng sama adik kamu,” ucap Desy.

 

Aku yang mendengarnya tersenyum. Benar juga, aku kan nggak lama lagi akan pergi ke Bandung, belum lagi Desy ikut bersamaku. Momen itu akan aku gunakan sebaik-baiknya untuk mengenalkan Desy pada orang tuaku. Dan juga, Nabilah tidak akan sendirian lagi saat bermain karena Desy juga akan menemaninya bermain.

 

“Terimakasih ya, Des.”

 

~To be continued~

 

Created by Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

Iklan

9 tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy Part 7

  1. Sumpah.. ini ff gokil banget :v
    Agak geli-geli gimana gituh pass baca :v
    Tapi ini menghibur banget!!!
    Feel nya dapet om :v semangatttt

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s