Pengagum Rahasia 2, Part19 (Malam Panjang Veranda)

Greek!

            Suara per kasur yang berbunyi.

“Huh, padahal aku pengen bisa tidur bareng sama kamu dev,”

“Biar aku bisa peluk kamu semalaman,”

Ve berbaring di bantal itu.

*Hesp! Hesp!

“Bau ini…,”

“Bau Deva…,” Ve bangun kemudian mencium semua bau di kasur itu

“Baunya menyengat, tapi…,” wajah Ve tiba-tiba memerah. “Ini bau Deva,”

“umm…,”

“Kalau kayak gini, aku jadi gak bisa tidur…,”

Ve memejamkan matanya. Dan langsung menarik selimut itu

“Tenang Ve, ini hanya bau,”

Ia memaksakan diri untuk tidur dengan hanya memejamkan mata.

“AHH! Percuma! Aku gak akan bisa tidur!”

“Ve…Kenapa kamu bisa terangsang cuma karena bau…,”

“Apa aku semesum itu,” batin Ve

*

*

Dak!

“Bwah!” Seseorang yang tidur di sofa itu terkejut karena pintu yang di banting

“Dev…,”

“EH! V-Ve…Kenapa?”

“Aku gak bisa tidur dev,”

“Ek..Kalau gitu ya jangan tidur dulu kalau belum ngantuk,”

“Ini kan masih jam setengah 10 Ve,” lanjut Deva

“umm,” Ve menghampiri Deva dan duduk di sampingnya

Kemudian Ve menyandarkan kepalanya di bahu Deva.

“Sayang…,”

“Eh…Ya?”

“Ke kamar yuk,”

“Enggak!” balasnya singkat dan tegas

“Aku cuma butuh temen, aku janji gak bakal ngapa-ngapain,” ucap Ve

“Meskipun kamu bilang gitu, aku tetep gak mau Ve,”

“Tapi kenapa dev!”

“Kamu gak liat yah, kasurnya kan kecil dan gak muat kalau di pake buat berdua,”

“Terus…kalau kak Melody tau, bisa gawat…,” lanjutnya berbisik

“umm,” Ve terdiam

“Kalau kita dempetan pasti muat kok!” ucap Ve

“Ek! Lupakan…,” Deva membuang muka dari Ve

“Ayo lah sayang! Aku bakal buat kasurnya jadi cukup untuk berdua, dan aku juga janji gak bakal ngapa-ngapain,”

“Aduh ve, jangan minta yang aneh-aneh deh,”

“Please…,” ucap Ve lagi

Deva memandang wajah Ve sejenak.

Lalu Deva beranjak dari sofa.

“Apa gak ada pilihan lain…?” Deva sedikit menoleh ke belakang

Ve menggelengkan kepala

“yaudah lah, tapi cuma untuk malam ini yah Ve,”

“AH! M-Makasih sayang!”

~oOo~

Di dalam kamar…

“Ayo sayang!” ucap Ve yang telah naik ke kasur

“Eh…,” Deva menggaruk kepalanya

“Bukannya sempit yah,” Pikir Deva

“Enggak kok! Liat, ini cukup…,” Ve sedikit bergeser

Deva pun mulai naik ke kasur.

“Cukup ternyata,” ucap Deva

“Kalau kamu masih bilang gak muat, kamu boleh peluk aku dev,”

“Eh!? A-Apa hubungannya!?”

“Tadi kan aku bilang, kalau kita dempetan ya pasti muat dev,” ucap Ve lagi

“gak perlu ve, lagian udah muat kok,”

“Hem,” Ve hanya tersenyum sambil menghadap Deva

Namun setelah itu Deva malah berbalik dan membelakangi Ve.

“Ish!” Ve terlihat kesal

“Sayang, balik kesini dong,”

“Enggak,” balas Deva singkat

“yah…,”

“Duuh! Dingin lagi!” Deva langsung menarik selimut itu

“Ah! Jangan di tarik semuanya dev!” Ve balas menariknya

“Hey-hey! Jatah selimut aku mana ve!” Deva membalasnya lagi

“IH!” Ve tidak mau kalah

“Duh Ve! Gak bisa diem apa!”

“Stop!” bentak Ve

Deva pun berhenti menariknya.

“Daripada kita berebut kayak gini, lebih baik kita saling menghangatkan Dev,”

“Eh?”

“Iya saling menghanagatkan, kamu ini pura-pura gak ngerti atau emang gak ngerti sih?” ucap Ve lagi

Deva menggelengkan kepala.

“Huft…,” Ve menghadap ke arah Deva

“Peluk aku dev,”

“Weh!”

“Ayo Dev, kamu gak mau kedinginan terus kan?”

“I-Iya, tapi kenapa harus meluk segala sih Ve,”

“kamu masih belum paham juga ya,”

“Ek…,” Deva tampak ragu-ragu untuk memeluk Ve

“Kalau gitu…S-Sorry ya Ve,” Deva langsung memeluk tubuh Ve

Deg! Deg! Deg!

Jantung Ve berdebar-debar.

“Badan kamu…anget ve,” ucap Deva pelan

“Nah, apa aku bilang, bener kan jadi gak dingin lagi?”

“Iya, hehe…,”

“Hihi, dev-dev…kamu ini bener-bener polos yah,” ucap Ve dalam hati

“Aku gak tau kalau pasangan tuh bisa kayak gini,” ucap Deva

“Ini cuma hal kecil doang dev, masih banyak yang belum kamu tau soal pasangan,”

“Wah! Jadi masih banyak lagi yah,”

“Iya, kalau gitu kamu mau aku ajarin gak?”

“emm, boleh,”

“Mumpung sekarang lagi gak ngantuk sama gak ada kerjaan,” lanjut Deva

“Oke! Karena sekarang kita berdua lagi ada di kasur, jadi aku cuma kasih tau dasarnya aja ya,”

“Ada dasarnya juga ternyata,” ucap Deva

“Nah Dev, biasanya pasangan tuh kalau lagi posisi kayak gini, si cowok bakal ngusap-ngusap rambut ceweknya,” Jelas Ve

“Oh, di usap-usap yah…,” Deva langsung mempraktekannya

“umm,” Ve terdiam

“Kenapa Ve?” tanya Deva

“Ek, G-Gak kenapa-kenapa kok, hehe…,” Jawab Ve

“Apa masih bisa lebih dari ini,” ucap Ve dalam hati

“Y-yah, yang selanjutnya…,” lanjut Ve

“Biasanya si cowok bisik-bisik ke telinga ceweknya dan bilang, aku cinta kamu…,”

“Ah…,” Deva berhenti memainkan rambut Ve

“Aku cinta kamu, Ve…,”

DEG! Jantung Ve berdebar dan tiba-tiba birahinya mulai bertambah.

“Kamu…gak kenapa-kenapa kan Ve?” tanya Deva lagi

“Eh, enggak dev, aku baik-baik aja kok,”

*Glek!

Ve menelan ludahnya.

“Cuma gini doang ya Ve?”

“Eh, M-Masih ada lagi Dev,” balas Ve tampak gugup

Wajahnya pun mulai memerah.

“Eng…Selanjutnya…,”

“Biasanya, si cowok kasih ciuman selamat malam buat ceweknya,”

“EH! C-Ciuman!?”

“Iya dev,”

“Kalau yang itu aku gak bisa Ve!”

“Ehehe, yaudah gak usah deh,”

“Tapi…,” ucap Deva menggantung

“Kalau di pipi sih, G-Gak apa-apa…,” Wajah Deva terlihat memerah

Ve juga terlihat malu-malu sambil menatap wajah Deva.

“Bukan di pipi…Dev…,”

“Eh?”

“Mungkin lebih ke arah sini…,” Ve menunjukan lehernya

“umm, apa aku boleh?” Deva sedikit mendekat pada Ve

Ve hanya mengangguk diam.

“Kalau gitu…,” *CUPS!

“GAAHH!” Ve berteriak

“W-Whoa!” Deva langsung terkejut karena Ve menjerit

Perlakuan Deva sukses membuat Ve lepas kendali dan menjadi sedikit liar, ya meskipun dia masih menjaga imagenya yang lembut dengan berpura-pura di hadapan Deva.

“Maaf Ve! Kayaknya aku salah ciumnya tadi!” Deva langsung meminta maaf

“Hah! ah…Hah…,” Nafas Ve begitu berat dan langsung membelakangi Deva

“A-Apa itu tadi!? Aku gak pernah menyangka dia bakal ngelakuin itu!” ucap Ve dalam hati

“Y-yah, kalau gitu aku tidur di luar ya Ve,” Deva turun dari kasur

“Jangan!”

“EH!” Deva kaget

“Jangan tidur di luar dev, aku gak mau kamu tidur di luar…,”

“umm,” Deva terdiam

“Tapi…,”

“udah tidur disini aja Dev,” Ve menarik tangan Deva

Deva pun kembali berbaring di kasurnya namun membelakangi Ve.

“umm dev,”

“I-Iya ve?” balas Deva yang tergagap

“Kamu masih mau lanjutin yang tadi gak?”

“Eh, lain kali aja ve, ehehe…,”

“hemm…Iya deh, kalau gitu selamat malam sayang,”

“Malam, Ve…,”

~oOo~

Treet! Treetetet! Treetetet!

“apa sih berisik banget!”

Ve bangun dan mencari-cari sumber suara itu.

“Huh, ternyata alarm yah,” Ve mengambil Handphone deva yang ada di bawah bantal

Tet!

Alarm itu berhenti berbunyi.

Setelah mematikan alarm, tampaknya Handphone yang di peganngnya itu telah membuatnya tertarik dan ingin mengotak-atiknya, selagi Deva masih tertidur pulas di sampingnya.

“Hmm, passwordnya apa yah,” pikir Ve

“Apa mungkin…,”

Ve hanya mencoba-coba, Namun akhirnya kode sandi di handphone itu…

“Kebuka!”

Wajah yang tadinya mengantuk menjadi bersemangat dan langsung mengotak-atik handphone itu.

“Aku gak nyangka, ternyata kode pola di Hpnya huruf V,” Ve terlihat sangat senang

“Oke, yang pertama kontak BBMnya…aman,”

“Kontak linenya…,”

“Loh, baru aku doang ternyata,”

Ve bersandar di tembok sambil terus mengotak-atik.

“Ah! Biasanya Hp cowok tuh galerinya suka banyak yang aneh-aneh, oke!”

Jarinya yang lihai itu mulai memainkan Handphone Deva.

“Fyuh, ternyata gak ada apa-apanya. Pacarku ternyata masih suci,” Ve tersenyum

“Eh?” tampaknya ia terfokus pada sebuah foto di Hp deva

“Siapa ini!?” raut wajah Ve tiba-tiba berubah

“Kenapa Deva pegangan tangan sama cewek ini!?”

Wajahnya merah padam seperti akan meledak.

“Foto ini di ambil setahun yang lalu, itu berarti dia masih kelas 9 SMP,”

“Tapi dia pernah bilang terakhir kali punya pacar tuh pas kelas 7 kan!”

“Eng…,” Deva terbangun dari tidurnya

“Ve, kok ribut-ribut sih, hoamm!”

“AH! D-Dev…,” srontak Ve langsung menyembunyikan Hp itu di belakang punggungnya

“Loh, Hp aku mana?”

Deva meraba-raba di bawah bantalnya dengan mata tertutup.

“Ah-eh…ini dev,” Ve sengaja menyimpannya di samping Deva

“Oh, disini ya,”

“Hem, baru jam 5, kamu kalau mau bangun duluan jangan ganggu aku ya Ve,”

Deva kembali berbaring di kasurnya.

“um, guling mana guling…,” Deva meraba-raba ke sampingnya

Namun ia malah memeluk Ve.

“Ek! Deva!”

Ve terlihat pasrah namun ia tampak malu-malu.

“Ssstt! Jangan berisik Ve…,”

“Kamu ini ngomong apa sih!? Aku baru tau kalau kamu tidur kayak gini Dev,”

*Hesp!

Deva mencium leher Ve.

“Ghaaahhh!”

“Harum…,” ucap Deva

“Ah! Ehk!”

“Diem…Nanti tetangga pada bangun…,”

Lalu tangan kanan Deva tiba-tiba saling menyatukan jari dengan Ve.

“AH! Devh…Kamu kasar…,” Wajah Ve memerah

“Main di pagi-pagi kayak gini kurang enak Devh…Ahhh!”

“Sssttt…,”

“Kamu terlalu kenceng, Ve…,” bisik Deva

“EH! A-Apa dia udah sadar!?” batin Ve

Grab!

Deva langsung bangun dan menindih tubuh Ve.

“Emh!” dengan liarnya Deva menciumi leher Ve

“Esshh! AH! DEVAAA!” Ve semakin keras menjerit

“Devh! AHH!”

CUPS!

            Deva melumat bibir Ve.

(………………………………………..)

“Kenapa Ve!”

“GAAH!”

“D-Dimana ini!?”

“Di kamar, kenapa kamu teriak-teriak sih! ini kan masih malem, udah jam 1 malem malah teriak-teriak,”

“Eng…,” keringat dingin bercucuran di dahi Ve

“Minum dulu…,” ucap Deva

Ve mulai menenangkan dirinya dengan minum segelas air.

“Mimpi buruk ya? Kamu terlalu banyak aktivitas mungkin, jadi mimpi buruk,”

“umm, mimpi-buruk…,” ucap Ve pelan

Kemudian Ve sedikit menggeserkan pahanya dari Deva.

“Ah!” wajah Ve tampak memerah

“Kenapa lagi!?” Deva mulai khawatir dengan Ve

“Gak mungkin sampai sebasah ini!” ucap Ve dalam hati

“Tapi itu kan cuma mimpi!”

“Hey, Hallo? Malah bengong lagi,” ucap Deva

“Duuh, kalau dia sampai tau gimana nih,” Ve menggigit bibir bagian bawahnya

Tlek!

            Deva menjentrikan jarinya di depan Ve.

“Kamu keliatan cemas Ve, kenapa sih? Jangan bikin aku khawatir,”

Lalu Deva mendekatkan wajahnya ke arah Ve dan dahi mereka saling bersentuhan.

“Gak panas juga,” ucap Deva

“Ek…,” Wajah Ve mulai memerah

“Aku gak apa-apa dev,”

“Fyuh, sukur deh kalau gitu,”

“yaudah kamu tidur lagi gih, masih malem ini,” ujar Deva

“em,” Ve terdiam

“udah tidur aja, kamu gak usah takut Ve,”

Ve berbaring di kasur itu.

“Eh, Hp Deva kok ada di tangan aku!?”  batin Ve

“A-Apa mungkin yang tadi itu beneran!”

“Ah! Gak, gak mungkin! Aku pasti cuma mimpi tadi,”

“Ve, kalau udah malem jangan main Hp,” Deva mengambil handphone itu dari tangan Ve

“Dev, kamu…gak tidur ya?”

“Eh? Maksud kamu apa Ve?” tanya Deva balik

“Sebenarnya kamu itu daritadi bangun kan?”

“Bahaha! Tadi kamu keliatan takut, sekarang malah keliatan aneh,”

“Aku itu kebangun gara-gara kamu teriak Ve, haduh…,” Deva tertawa menanggapinya

“Jadi itu cuma mimpi…,” ucap Ve dalam hati

Grook! Grook!

“Huft, dia udah tidur lagi,”

“Deva…,” wajah Ve memerah dan langsung memeluk Deva

“Mungkin di bawah sini bakalan kering pagi nanti,”

“Mungkin…,”

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

12 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part19 (Malam Panjang Veranda)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s