Fiksi dan Fakta part 48

“Ada apa, Vin?!!” Tanya Mike panik.

Semuanya menatap Viny yang mulai menangis.

“Di..dia..” Viny terjatuh ke lantai.

Mike, Andela, dan Kelpo memegangi Viny.

“Dia siapa? Elaine?! Dia kenapa??!!!” Mike penasaran.

Genggaman pada ponselnya terlepas. Dengan cepat, Mike menangkap ponselnya. Lalu, Viny pun tak sadarkan diri.

“Viny!! Kamu kenapa?!” Teriak Andela panik.

“Nyii!!” Kelpo menggoyang-goyangkan tubuh Viny.

Mike memperhatikan sebuah pesan dari orangtua orang yang sudah tak asing di kesehariannya itu.

“VIN.. RAZ..!” Mike segera melepas ponselnya dan menangis terlungkup.

“Lah? Mike? Kenapa?” Kelpo memegangi Mike.

Saat Jaka hendak menangkap ponsel Viny, terlewat. Ponselnya pun jatuh dan mati.

“Lah.. kok pake mati sih?” Protes Jaka.

“RAZ.. BUNUH GUE RAZ!!” Seketika, suasana pun berubah jadi kepanikan.

“OY! NGOMONG APE LO JING!” Jaka membentak Mike yang terdengar begitu putus asa.

“LO APA-APAAN SIH?!” Tambah Kelpo juga.

“DIA MATI ANJING!!! ME-NING-GAL!! LO GA LIAT HAH???!!” Mike bangkit dan memegang kerah kemeja Jaka.

Mata Kelpo dan Jaka membulat. Mereka menatap satu sama lain.

“Mereka bener!! mpphhh..” Seru Shania yang ternyata juga langsung melihat di media sosial.

Jaka terduduk lemas di sofa rendah yang langsung bertembakan dengan tv. Sementara Kelpo jatuh terduduk di lantai. Michelle segera memeluk Andela dan semuanya mulai menangis sejadi-jadinya. Shania bahkan berteriak beberapa kali.

“Gu…gu…e..” Jaka terbata.

Jaka menggeleng masih tak percaya.

Mike terus menangis sambil memukul-mukul lantai. Darah mengucur dari jari manis tangan kanannya.

*Skip

Rumah tempat Jaka dan lainnya menginap pun ramai oleh teman-teman yang datang. Mike mengunci diri di kamar belakang.

“Raz..” Tony yang baru datang langsung memeluk Jaka.

Begitu pula dengan Sinka, Andra, Yoyok, Troy, dan lainnya yang pernah dekat dengan pasangan Mike-Elaine.

“Raz, gue ga nyangka..” Ucap Troy memeluk Jaka dan Kelpo bergantian.

Sinka tak kuasa menahan tangisnya.

“Gue dah dapet infonya. Kemungkinan besok pagi kita kerumahnya sama-sama. Dia fix di Jakarta..” Ucap Jaka memberitau.

Semuanya menyetujui ucapan Jaka.

“Dia bilang kemarin, dia ke Jogja?” Tanya Troy.

“Aku denger sih gitu. Aku nge-BBM gapernah dibales, kok ga cerita kamu Len..” Sinka menyeka matanya.

“Entah, tapi yang jelas dia di Jakarta. Gue gatau harus ngapain sekarang..” Jaka berlalu.

Sedikit lebih malam lagi, rombongan Fuuto datang menyusul.

Zoski dan lainnya terus menanyakan keberadaan Mike.

Takut terjadi apa-apa, Jaka dan Kelpo bergantian memantau Mike yang tidur memeluk guling dan parahnya terus menghadap dinding.

Jam 11.00, Jaka semakin resah.

“Mike?” Panggil Jaka pelan.

Mike tak bergeming. Ia terus mengucapkan bisikan-bisikan seperti komat-kamit tidak jelas.

“Mike, besok kita ke tempat Elaine ya?”

Mike menggeleng-geleng, masih di posisinya.

“Lo harus ketemu dia untuk yang terakhir kalinya..” Ucap Mike pelan.

“Dia meninggal, Raz! Apa yang harus gue temuin?!” Teriak Mike masih diposisi tidurnya.

“SETIDAKNYA LIAT JASADNYA! IKHLASIN DIA!!” Kegeraman Jaka terlepaskan.

Mike terdiam. Tak ada ucapan apapun, tak terdengar komat-kamit seperti tadi.

“Terserah lu, ga bijaksana kalo cuma mikirin kesedihan lu…”

“Lo gatau rasanya jadi gua. Lo temennya, gua hidupnya. HIDUP GUA ITU JUGA DIA!” Bentak Mike lagi.

“LO ITU SODARA GUE! BERARTI DIA JUGA! JANGAN SEMBARANGAN! LO KIRA GUE AMA DIA CUMA SEKEDAR TEMENAN! KEBANGSATAN KEHEBATAN LO, DIA CERITAIN PERTAMA KALI KE GUE!” Bentak Jaka balik.

‘Tok..Tok..Tok..’ Ketukan pintu dari Kelpo.

“Yo, Vin?”

“Raz, itu ada Ve. Biar gue yang sama Oscar..”

Jaka terdiam sejenak. Ia merasa tak yakin, sangat tak percaya diri untuk menemui Ve. Ia melangkahkan kakinya pelan menuju ruang tamu yang masih lumayan ramai oleh sahabat-sahabat yang menginap untuk semalam.

“Itu dia diluar, Raz..” Ucap Zoski memberitau.

Jaka mengangguk.

Seorang gadis dengan celana jins biru dan sweater pink berdiri membelakangi dinding.

“Yo?” Panggil Jaka.

“Eh…” Seolah keluar dari lamunannya, Ve nyaris hilang keseimbangan.

Jaka langsung melipat tangannya dan menyender.

“Raz, aku mau ngomong sesuatu..” Ve menggigit bibirnya.

“Sebaiknya jangan kelamaan. Kami kehilangan Elaine, to the point..” Pinta Jaka.

Ve mengangguk dan menarik nafas panjang. Kini, ia berdiri menghadap Jaka yang masih menyender pada dinding.

“Terserah kamu buat nerima aku ato engga. Keluarga aku dan Joey punya kesepakatan. Almarhum orangtua Joey sepakat untuk jodohin anaknya dengan aku.”

“Oh gitu, yau-“

“Ntar dulu Raz!!”

“Oke silahkan..”

“Orangtuaku bangkrut. Semua harta papa abis..”

“Eh?!” Jaka kaget, matanya membulat kaget.

Ve tertunduk.

“Kakek Joey udah ga kuat lagi buat dateng kesini. Cuma dengan bantuan Joey kami bisa bayar hutang-hutang perusahaan…”

Telinga Jaka kian memanas.

“What’s the point, Ve?”

“He wants to know my plan..”

“What?”

“Dia nanya pendapat aku..”

“Trus?”

“Kalo aku engga, dia engga. Kalo aku iya, dia mau..”

“Kenapa ga dia bantu pinjemin uang aja?”

Ve menggeleng-geleng.

“Too impossible, Raz. It’s not that simple..” Ve melenguh putus asa.

“Now?”

“Uh?”

“Kamu punya planning lain untuk sekarang?”

“Yup.”

“Okay, do it.” Jaka tersenyum.

“Gapapa?”

“Itu terserah kamu untuk ambil keputusan apa. Aku nyaranin kamu buat ga ngelawan arus..”

“Uh?”

“Ikuti arusnya, Ve. Inget gimana cara kita ketemu? Sangat cepat, sangat singkat, sangat mudah, sangat-sangat membingungkan..” Jaka tersenyum.

“Raz? Boleh aku meluk kamu?”

Jaka menggeleng.

“Aku gaakan ngasih ikatan apapun. Biar takdir yang jawab pertanyaan kamu..”

“So, this is goodbye?”

“Besok kan pesawatnya?”

“Yup, besok pagi..”

“Well, this is goodbye..” Jaka tersenyum santai seolah barusan tak terjadi apapun yang berarti.

“Mike ada?”

“Dia lagi ngunci diri, kamu pulang gih..”

Ve mengangguk.

“Taksinya bentar lagi nyampe..”

Jaka mengangguk-angguk paham.

Tanpa basa-basi, mereka berjalan berdampingan kearah luar halaman rumah. Teman-teman terus keluar masuk rumah. Troy, Yoyok, dan Tony mengobrol di teras depan.

“Ah, taksinya udah dateng..” Seru Jaka riang.

Ve menatap Jaka.

“Doa’in Elaine ya, Veranda-ku.. Take care..”

“Makasih banyak, Raz..” Ve membungkuk.

“Cepat ambil keputusan, aku juga bakal berusaha demi masa depanku. Jadi, kita sama-sama berusaha ya?” Jaka tersenyum lebar.

“Ve!!” Teriak seseorang dari dalam, tentu saja Michelle.

“Michelle!!” Mereka pun berpelukan.

Baik Ve dan Michelle menangis sejadi-jadinya.

“Aku bakal ke Semarang buat jenguk kamu. Sampai jumpa, Ve..” Singkatnya, Ve pun pergi dengan air mata yang masih mengalir pelan di pipinya.

Jaka tak menghiraukan panggilan atau lambaian tangan dari teman-temannya. Saat ini, dia hanya ingin duduk merenung disamping jendela kamarnya.

“Akhirnya, semua orang bakal pergi satu per satu. Semakin gue deketin, semakin jauh jarak mereka..” Jaka memeluk lututnya.

Sialnya, hujan perlahan turun. Beberapa menit kemudian, hujan besar benar-benar mengguyur malam tanpa ampun. Teriakan, tangisan, racauan, bahkan tawaan pun tak akan terdengar. Kalah dengan suara derasnya air hujan yang menghentak tanah.

“Raz, ada sesuatu..” Lapor Kelpo menghampiri Jaka.

“Sorry, Kelv. Gue bener-bener gamau denger apapun sekarang..”

“Ok, Bro. Kita bahas besok aja..”

Jaka masih terlentang lemas. Tangan kanannya memegang sebuah foto polaroid. Didalamnya, ada foto Jaka yang sedang tertawa bersama Ve. Tertulis ‘Michelle, Zaqa, Ve!’ dibagian atas. Dan ‘Taken by Michelle (Zaqa Jelek & Princess Ve^^)’.

“Shit! Lama-lama, idup gue 11/12 ma drama-drama Korea!” Jaka menendang meja belajar yang berada tepat disamping ranjang.

Malam semakin mengganas. Jaka dihantarkan pada kantuk yang mendalam. Matanya kian tertutup. Tubuhnya semakin lemas. Kesadarannya akan berganti dengan pekatnya alam mimpi. Tiba-tiba, ia merasakan tangan dingin seseorang menyentuhnya. Ia tak menggubris sentuhan itu. Pelukan dari orang yang baru datang itu dibalas dengan dengkuran pelan. Orang dibelakangnya sedikit terisak, meninggalkan jejak air mata di sprei. Pelukannya kian dalam. Jaka merasa takut untuk kehilangan pelukan itu juga. Dilelapkannya sang pendatang dengan ucapan selamat malam dengan kesadaran yang nyaris tak ada. Malam pun selesai, 2 dari anak muda lain yang penuh keraguan tertidur lelap. Diluar, sahabat-sahabat tidur bersama di ruang tamu dan ruang keluarga. Sekaligus berjaga. Entah apa yang harus dijaga. Setidaknya, jangan biarkan perampok masuk di hari yang penuh kesedihan ini.

~•~

Razaqa Nafan’s POV

Sedih merampas sinar pagi. Kudapati Michelle tertidur lelap memelukku. Ku tak sampai hati tuk membangunkannya. Sudah pasti ini hari yang panjang bagi siapapun. 07.20, dan sinar mentari pagi terhalangi jendela kamarku. Sialnya kau wahai cahaya suci.

“Jak, you have to see it..” ucap Kelpo menyerahkan sebuah map.

“No way! Kok gini?”

Kelpo hanya diam tak bergeming. Aku segera turun kebawah. Tampak sahabat-sahabat sudah duduk membuat lingkaran. Cukup lengkap. Mereka terdiam saat melihatku mendekat. Muncullah seseorang yang sudah lama ingin kutemui.

“Lu udah tau, Raz?” Tanya Ian.

“Kenapa lu disini?” Tanyaku ketus.

“Gue ada urusan disini..” Jawab Ian.

“Kenapa bisa gini?” Tanyaku.

“Dia yang pernah gue langgar..” Gilang tertunduk.

“Dia siapa?!” Tanyaku sedikit membentak.

“Dia yang ngehapus video dan bukti lainnya.” Gilang terduduk lemas.

Semuanya hanya terpaku memandangi aku dan Gilang bergantian.

“Pelanggaran keras yang waktu itu, Lang?” Tony menyela.

Gilang mengangguk.

“Jadi-” Aku terhenti.

“Yup, gue nendang kakinya karna dia salah satu orang Yanbo & Mabo..”

“Kok lu ga bilang?! lu terlalu sering boong di-“

“KALO GUE BILANG, LO GAAKAN PERCAYA! DAN UJUNG-UJUNGNYA LU BAKAL NGOMONG KE DIA KALO GUE FITNAH DAN JADIIN KEBANGSATAN DIA SEBAGAI ALASAN YANG DIBUAT-BUAT ATAS PELANGGARAN ITU!!!”

Semuanya terdiam.

“Gue sengaja bikin kalian benci gue. Gue sengaja diem-diem gini. Karna sakit hati gue lebih dalem dari apapun. Seorang Gilang Wijaya, apa yang istimewa dari gue?”

Aku masih berdiri mematung dan memandang kebawah.

“Yup, kita pasti punya seseorang dibalik alasan kita berusaha..” Aku menghela nafas.

“Jangan kalian kira Iman gapeduli sama kalian semua. Dia takut tentang banyak hal. Ok, forget him.”

“Iman yang nyiram Fosa?” Tanya Troy.

Semuanya menatap Gilang. Menunggu jawaban Gilang.

“Yup, itu dia. Tapi dia ga bermaksud nyiram Fosa.”

“Bukti?”

“Gue gapunya bukti apapun.”

“Lah?”

“Emang kalian punya bukti kalo Yanbo dan Mabo yang jatohin akuarium ke Iman?!” Tentang Gilang.

Semuanya terdiam.

“Maksud lu, kami pembunuhnya?!” Zoski bangkit.

Semuanya segera memegangi Zoski.

“Well, bukan itu maksud Gilang.” Kelpo menyela.

“Trus, gimana lu bisa percaya kalo Iman ga ngincer Fosa?”

“Pertama, dia bilang dia ngerasa bersalah atas kejadian waktu itu. Kedua, dia bilang dengan jelas kalo dia tau Yanbo & Mabo dalang semuanya. Ketiga, dia hampir ngincer Fuuto, tapi dia keburu sadar. Keempat, dia minta pendapat gue dan gue bilang jangan. Kelima, dia bilang Yanbo & Mabo pantes kena batunya. Dan keenam, Yanbo & Mabo sudah tau siapa yang harus mereka bunuh supaya konfliknya makin panas. Mereka tau blok kalian udah nyatu.”

“Lo yakin?” Tanya Kelpo lagi.

“Dari apa yang gue alami, 1000000% yakin..”

Aku menatap Kelpo.

“Jadi, mereka bebas? Terus siapa yang bakal jadi tumbal?”

Semuanya menggeleng bingung.

“No suspect. Gaada yang mati kan?” Gilang mengucapkannya dengan tenang.

“Oke, kita buru dia!” Ucapku.

“Gaakan bisa!” Potong Gilang.

“Kecuali kalo kita ngejer dia dari kota ke kota.” Sambung Ian.

“Maksud kalian?” Aku bingung.

“Dia kabur. Dan bakal selalu pindah-pindah. Kabar terakhir, dia di Jogja..” Tegas Ian lagi.

“So, there’s nothing i can ta-“

‘Drrrtttt…’ Panggilan masuk dari seseorang.

“Iya, tan. Kami kesana..” Panggilan itu kuakhiri.

“Kita lanjut nanti. Kalian ikut?” Tanyaku pada Ian dan Gilang.

“Boleh..” Jawab Gilang.

“Kalian mau kemana?” Tanya Ian.

“Jadi, pacarnya Mike meninggal. Hari-“

“Wait! pacarnya Mike?!” Tanya Ian dengan nada tinggi.

“Iya, emang kenapa?”

“Namanya?”

“Elaine-“

“Elaine Hartanto?!!!” Kaget Ian.

“Hah? Kok lu tau?” Tanyaku.

“Dia sepupu gue!” Ucap Ian.

Semuanya terkejut.

“Hah? serius?!”

“Yang anter dia waktu itu gue..” Wajah Ian memucat.

“Jangan sampe Mike tau! Bahaya!” Ucapku.

1 jam lagi menuju jam 9. Kami harus bersiap-siap.

“Yaudah. Po, bangunin Mike gih..”

“Tadi sih dia belom mau bangun, Zaq. Gue coba lagi deh..” Kelpo berlalu.

•Author’s POV

Tepat beberapa menit sebelum jam 9, Mike turun bersama Kelpo. Ia menggunakan setelan jas rapi. Jas yang Jaka dan Kelpo kenali. Mike menggunakan jam tangan pemberian Elaine. Ia juga membawa boneka bebek yang Elaine berikan padanya beberapa tahun silam, kala cinta mereka baru seumur jagung. Semuanya begitu cepat.

“Selamat pagi semua..” Kelpo yang berjalan dibelakang Mike terkejut akan sapaan Mike pada yang lainnya.

“Kami turut berduka cita, Car..” Fuuto membungkuk mewakili semuanya.

“Lu udah sembuh, Fuu? Btw thanks ya..” Mike memeluk mereka satu per satu.

Tak terkecuali Gilang yang mengucapkan kalimat maafnya.

“Terima kasih atas kehadiran kalian. Masalah lain kita lupain dulu ya? Biar Elaine tenang..” Mike tersenyum tulus. Senyuman yang bermakna kesedihan mendalam.

“Mike!” Ian yang tak terlalu mengenal Mike langsung memeluk Mike lagi.

Zoski segera memeluk Karel. Zoski tak kuasa menahan tangisnya.

“Come on, Zos!” Mike mendekati Zoski dan menjabat tangannya.

“Gue gapeduli tentang Yanbo & Mabo. Selama gue punya kalian, gue gaakan lupa buat bahagia..” Mike membungkuk.

“Iman dan Elaine juga pasti ikut bahagia kalo kita bisa kumpul. Kumpulnya harus lengkap tapi..” Mike terkekeh.

Jaka mendekati Mike. Ia memeluk temannya itu. Fuuto dan Yoyok juga memeluk Mike. Lalu, semuanya pun mendekat dan mereka berpelukan bersama untuk beberapa saat. Michelle, Andela dan Shania hanya berdiri menatap laki-laki dihadapan mereka yang sedang berpelukan hangat sambil bergandengan tangan dan menundukkan kepala.

“Pfuhh.. ayo kita pergi?” Ajak Mike riang namun tak bisa menutupi matanya yang berkaca-kaca.

“Gue yang jemput Sinka. Titip Shania dan Michelle ya Bob, Vin..” Jaka tersenyum sambil melirik kearah Michelle yang mengangguk mengerti.

“Hati-hati, Raz..!” Ucap Kelpo.

Jaka bergegas pergi terlebih dahulu. Ia sudah menghidupkan mobil yang ia pinjam milik Om Vino.

‘Drrtt’ sebuah pesan masuk.

‘Bentar lagi aku boarding.. thx ya Razaqa! Sampai jumpa di masa depan! ((:’ Pesan itu berakhir.

Ada sesuatu yang beranjak selesai, dan ada sesuatu yang menungu tuk dimulai.

“Pagi Sin..” Sapa Jaka kepada seorang gadis yang sudah menunggu di lobby sejak tadi.

“Sendirian, Raz?”

“Iya nih, kamu juga ya kan?” Jaka tersenyum ringan.

“Iya nih, kak Omi nanti mau nyusul kan?” Tanya Sinka.

“Bang Sony sih bilang mau nyusul. Mungkin mereka lagi dijalan..” Jaka menebak.

“Hmm.. Raz?”

“Yup?”

“Elaine sakit apa ya?” Tanya Sinka.

Jaka terdiam.

“Dia kok gapernah crita. Dia juga keliatan fresh-fresh aja perasaan..” Sinka dengan nada rendah.

“Yup.. dia terlalu kejem..” Jaka menghela nafasnya.

“Kejem?”

“Jangankan ke kamu, ke Mike pun gapernah cerita..” Ucap Jaka.

“Hah? Bukannya kalian tau?”

Jaka menatap Sinka, dia nyaris menginjak remnya tiba-tiba.

“Kami ke Jakarta bukan karna tau dia meninggal atau dia kritis. Kami disini buat liburan..” Jaka memperjelas.

“Aku mau ngomong dipemakaman dia. Boleh ga ya?” Tanya Sinka.

“Tentu. Bahkan wajib hukumnya, Sin. Hahaha..” Jaka tertawa pelan.

Tiba-tiba suasana kembali hening.

“Semoga Elaine tenang disana, dan gapernah lupa buat ngasih kita semangat dari sana. She’s our watcher now..” Sinka tersenyum tipis.

“Dia bakal selalu jadi Elaine yang kita kenal. Dia itu Elaine satu-satunya yang gue kagumi..” Jaka menghela nafasnya lagi. Namun kali ini terdengar kelegaan dari helaannya itu.

‘Drrttt..’ Panggilan masuk ke ponsel Jaka.

“Sin, tolong angkatin..”

“Halo?”

“Eh? Ini siapa?” Tanya orang diseberang.

“Ini Kelvin ya? Aku Sinka..” Ucap gadis itu.

“Oh, Sinka! Maaf rada lupa suara kamu. Bilangin ke Razaqa ya, kami udah on the way..”

“Siap, Kelv! Hati-hati dijalan ya kalian..” Panggilan pun diakhiri.

“Mereka udah jalan?” Tanya Jaka.

“Iya, kita langsung kan?” Tanya Sinka.

Jaka hanya membalas dengan anggukan.

~~•~~

Jaka menjadi yang pertama kali sampai. Tak lama berselang, datanglah rombongan Kelpo.

“Dah lama, Raz?”

“Baru ko, Vin..” Jaka menghampiri barisan mobil yang baru datang itu.

“Kayanya kita termasuk yang pertama..” Ucap Zoski sambil memandangi bahu jalan yang tak terlalu banyak mobil parkir.

“Tuh! orang-orang parkir didalem..” Ucap Wood.

Zoski menepuk jidatnya.

“Pfuhh… cuacanya cerah ya? Elaine pasti seneng..” Mike menatap keatas.

Semuanya hanya diam satu sama lain. Mike mengeluarkan boneka bebek kecil dari saku jasnya dan menggenggamnya erat di tangan kiri.

“Yaudah, ayo kita masuk!” Ajak Jaka diikuti yang lainnya.

Ayah Elaine keluar dan segera menyambut rombongan yang baru datang. Sampailah pada orang terakhir. Mereka saling tatap.

“Om..!” Mike segera sujud dan memeluk ayah Elaine.

“Nak Oscar… maafin Elaine ya..”

“Iya om, Elaine cepet banget om. Kenapa ga pernah crita ke Oscar?” Mike merangkul ayah Elaine dengan matanya yang berkaca-kaca.

Semuanya sudah masuk, menyisakan Jaka, Kelpo, Bobby dan Fuuto yang melihat momen barusan.

“Elaine gapernah mau jujur kalo sakitnya itu belum hilang. Terus dia selalu nolak buat izin sakit. Dia juga minta tolong buat ga ngasih tau penyakitnya ke siapapun termasuk-” Ayahnya terhenti.

“Oscar, om?” Mike menatap keatas.

Ayah Elaine mengangguk.

“Damn!” ucap Mike kesal.

“Ayo, nak Oscar. Elaine mau kamu temuin dia..”

“Tapi-” Mike terdiam. Dengkulnya seolah melemas.

Jaka, Bobby, dan Fuuto segera memegangi Mike yang hampir terjatuh.

“Yok, Mike! Kita temuin Elaine ya?” Ajak Jaka.

“Pasti dia seneng kalo lu nemuin dia, bener ga?” Kelpo merangkul Mike.

Dengan langkah pelan, Mereka sudah memasuki rumah duka. Langkah-langkah pelan itu semakin melepas pertahanan Mike akan linangan air matanya. Beberapa orang yang ia kenal tak henti-hentinya memeluk Mike dan tertunduk lemas. Ian berdiri disamping seseorang yang cukup Mike kenal.

“Nak Oscar..” Ibunda dari Elaine segera memeluk Mike erat.

Jaka dan lainnya tak kuasa menahan haru. Apalagi saat sebuah peti sudah terlihat didepan mata. Kerabat bergantian mendekat kearahnya. Tak terkecuali mereka.

“Ya tuhan!” Mike segera menutup mulutnya dengan tangan kanan.

Mike kembali terisak. Teringat kembali kenangan-kenangannya bersama Elaine. Ia semakin menyesal tentang apa yang terjadi diantara dirinya dan Viny beberapa waktu lalu. Jaka mundur beberapa langkah dan bersender pada dinding. Begitu pula dengan Kelpo, ia tak kuasa menahan tangis dan segera memeluk Mike dari belakang. Suasana menjadi seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Seorang gadis yang amat dicintai Mike itu sudah terbujur kaku dengan gaun indah yang Mike belikan. Sahabatnya mengenali gaun itu, sangat amat mengenali karna mereka bertiga pergi bersama menemani Mike waktu itu.

~Flashback On

Elaine mendekati Mike yang sedang menggerutu kesal pada Ica.

“Sayangku ini kenapa hayo?” goda Elaine.

“Idih, aku gamau ngeband lagi ah.”

“Kok gitu? katanya pengen banget jadi pemain drum terkenal. Labil huuu..” Elaine mengacungkan jempol terbaliknya.

“Ralat deh, gamau jadi drummer. Maunya jadi pangeran bebek aja..” Mike mencium pipi Elaine dengan cepat.

“Ihhh! Kok nyium sih!” Elaine memanyunkan bibirnya.

“Cieee ngambek nieee.. kalo diliat-liat-” Mike memegangi dagunya.

Elaine menoleh dan menatap Mike dengan tatapan berharap.

“Kamu mirip banget ya ama bebek wkwkwk..” Mike tertawa sejadi-jadinya.

“Oscar!! Aku gamau ngomong sama kamu!!!” Elaine melipat kedua tangannya.

“Jaahh.. puasa ngomong nih? hmm..” Mike tertunduk.

Elaine sedikit melirik kearah Mike.

“Aku kemaren ke toko mainan, liat figure bebek lucu banget..”

“Eh, dimana?” Elaine merespon.

“Jiahh!! Puasanya kok dibatalin sih?” Mike tertawa lagi.

“Ihh..” Elaine merengut.

“Yaudah, karna udah batal puasanya. Aku ajak bebekku makan ice cream!!!” Mike menarik tangan Elaine hangat.

“Ehh pelan-pelan..”

Mereka segera pergi ke sebuah kedai ice cream. Mereka memesan ice cream rasa favorit masing-masing. Ice cream pun datang dan mereka menyantapnya dengan khidmat.

“Eh Mike, kita bentar lagi anniv kan?”

“Monthversarry kali-_-” Mike menyipitkan matanya.

“Ihh, gapeduli. Aku mau kita foto gitu..”

“Ihh, gapeduli.” Ucap Mike menirukan gaya bicara Elaine sambil terus fokus menyantap ice cream coklat dihadapannya.

“Mikeeee!!! Kamu tuh ya!!” Elaine memukuli Mike.

Tiba-tiba Mike menoleh dan Elaine seketika menghentikan pukulannya.

“Kamu mau hadiah apa, sayangku?” Mike bertanya gemas.

Elaine tercekat.

“Aku akan penuhi seluruh permintaan tuan putri!” Mike menirukan suara pangeran.

“Ya, aku pengen kita foto.”

“Hah? Cuma itu?” Tanya Mike.

Elaine mengangguk.

“Foto yang gimana? Ayo boleh banget..” Mike tersenyum riang.

Elaine terkejut akan respon positif yang ditunjukkan kekasihnya itu.

“Resmi.” Satu kata keluar dari bibir Elaine.

“Hmm..” Mike menggeleng-geleng.

Elaine menatap Mike bingung.

“Aku mau kamu jadi tuan putri!” Girang Mike heboh.

“Aku mau kamu jadi pangeranku!” Balas Elaine tak mau kalah.

Mereka tertawa satu sama lain. Tak menghiraukan orang-orang yang memperhatikan kekonyolan mereka.

Keesokan harinya, Mike mengajak Jaka dan Kelpo untuk pergi memesankan gaun yang indah untuk Elaine. Dengan saran Jaka, dipilihlah tempat langganan keluarga Jaka. Gaun yang indah nan megah pun sudah jadi.

~°°~

Mike duduk termenung di bangku sekolah.

“Mickey sayangku! Kok ga pulang? Kita kan mau pergi nanti..”

Mike bangkit dan menepuk jidatnya.

“Ah, maaf Len. Aku diajak anak-anak ke warnet nih..” Mike meraih tasnya.

“Yah, gajadi dong?”

“Maaf banget, tapi aku gabisa. Bye..” Mike berlari sambil melambaikan tangannya. Meninggalkan Elaine sendirian.

Elaine pun pulang dan menangis sejadi-jadinya. Mamanya direpotkan dengan Elaine yang tak henti-hentinya menangis.

“Udah, yang sabar ya. Kamu juga harus ngertiin Oscar..” Tak lama, Elaine pun perlahan tenang.

Ia menolak untuk makan ataupun keluar kamar. Ia hanya duduk memeluk lutut sambil menatap keluar. Tiba-tiba, datanglah seorang petugas pos.

“Elaine, tolong ambilin paketnya!” Teriak sang ibu.

Elaine berdiri dan bergerak keluar.

“Dengan saudari Ilayne?”

“Bacanya Ilen, pak. Hehehe..” Elaine menerima paketnya.

“Ini atas nama siapa pak?” Tanya Elaine.

“Namanya ada didalam..” Ucap bapak tadi lalu berpamitan.

“Tumben ga banyak basa-basi..” Batin Elaine curiga.

“Idih, jangan-jangan paket nyasar isi bom!” Pikirnya lagi.

Dengan hati-hati, dibukanyalah paket itu. Elaine terkejut setengah mati. Paket itu berisi sebuah gaun yang sangat cantik. Elaine membuka surat yang terdapat di dalamnya.

‘Cieee udah dibuka. Kamu udah bisa jadi tuan putri beneran nih. Tinggal pangerannya aja. Masa pangeran gapake setelan juga *kode

Semoga kamu suka ya, Kwek-ku!’ Elaine tak kuasa menahan harunya.

Mamanya pun mendekat.

“Gimana? Seneng? Hahaha, ini ada surat lagi..”

Elaine membuka surat kedua tersebut.

‘Udah, simpen dulu bajunya. Sekarang udah siap pergi belom? Warnetnya tutup tau. Kali ini, papa ijinin aku bawa mobil. Ntap kan? Hahaha..

*Bilangin ke mama ya.. ‘Makasih’ dari aku.’

Elaine menoleh kesal pada mamanya.

“Mama!! Sekongkol ya!!” Elaine memanyunkan bibirnya.

‘TIN! TINN!’ Terdengar suara klakson mobil dari luar. Elaine segera membuka pintu depan.

“Haii!!” Sapa Mike sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Kamu tuh ya!!” Elaine menunjuk Mike yang sedang terbahak geli.

“Nak Oscar, hati-hati ya!” Pesan mama Elaine pada Mike.

Mike membalas dengan pose hormat.

“Tan, anaknya jangan dibiarin bengong dong. Suruh ganti baju hahaha…” Ejek Mike lagi.

Elaine menggerutu sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia bergegas mengganti pakaian, berpamitan lalu pergi. Kebohongan yang indah menurut Elaine.

•Flashback Off

Mike membutuhkan beberapa saat untuk menenangkan diri. Setelah meletakkan boneka bebek bersama Elaine dan keluar, Ia menolak masuk ke dalam lagi.

“Mike?” Ian menghampiri Mike yang sedang duduk menghisap rokoknya.

“Eh?” Mike menyembunyikan rokoknya.

“Gapapa, Mike. Santai aja, gue cuma mau ngomong.” Ian duduk disebelah Mike.

“Mau?” Tawar Mike.

Ian mengangguk. Mike juga menyerahkan pemantiknya.

“Elaine. Dia sepupu gue..” Ucap Ian membuka topik.

Mike kaget dan nyari tersedak asap.

“Serius?” Tanya Mike.

Ian mengangguk mantap.

“Pas gue bilang lagi nganterin seseorang. Itu Elaine.” Ian tertunduk.

“That time, Is she dying?” Tanya Mike penasaran.

“Belum. Dia kaya ga sakit. Hmmm..” Ian memejamkan matanya.

“Dia sakit apa?” Tanya Mike lagi.

“Gue bener-bener gatau. Itu terahasia dengan baik.” Ian menghela nafasnya.

“So, sebentar lagi kan?” Tanya Mike lalu bangkit berdiri.

“Yup.” Ian mematikan puntung rokoknya dan berdiri juga.

“Ayo beri penghormatan terakhir yang terbaik untuk Elaine..” Mike merangkul Ian.

•|•

Kerabat terdekat sudah memenuhi tempat. Mereka menyampaikan beberapa patah kata untuk mendiang Elaine. Dibuka oleh Ian, sepupu Elaine sendiri. Lalu, diakhiri oleh sang ayah. Jaka berdiri untuk kedua kalinya, ia memanggil paksa seseorang untuk maju ke depan. Mike berdiri dengan tenang. Ia meletakkan sapu tangan pemberian Elaine di dekat karangan bunga dan lainnya.

“Silahkan, nak Oscar..” Ayah Elaine mempersilahkan Mike.

Mike tersenyum ramah kepada semuanya, dan memulai pidato penutupnya itu.

“Dia itu pembohong kecil yang sangat saya sayangi. Dia berbohong atas perasaan cemburu, kesal, bahkan bosan terhadap saya di setiap saat. Dia berbohong atas beban yang ia pikul selama ini. Tak ada satupun dari teman sekolahnya yang pernah mendengar keluhannya. Dia tak pernah bosan mengatakan ‘Kamu jadi makin hebat’ di setiap keberhasilan yang saya raih. Dia-lah yang mengajarkan saya tentang pentingnya kesabaran, kebersamaan dan ketulusan. Namun saya baru menyadari bahwa ia mengajarkan lebih banyak lagi. Pantang menyerah, ikhlas, jangan banyak mengeluh, jangan lari dari tanggung jawab, jangan menyusahkan orang lain, dan masih banyak lagi. Sebuah kehormatan untuk berdiri disini dan menyampaikan beberapa patah kata terhadap sosok Elaine yang sesungguhnya tak akan pernah bisa berujung. Teman-teman disini tahu betul bagaimana kehidupan seorang Michael Oscar. Saya selalu urak-urakan. Saya tak tau cara memperlakukan seseorang. Sekali lagi, malaikat cantik bernama Elaine mengulurkan tangannya pada saya. Ia sudah mengatakan banyak hal penting kepada saya. Lihatlah, saya pun berubah secara perlahan. Saya begitu membenci diri saya karna telah membuatnya sakit hati karena suatu perasaan yang mengusik hubungan kami. Namun, ada sebuah komitmen di hubungan kami yang akan selalu jadi pedoman kami. Jika tadi saya katakan saya membenci diri saya, kini saatnya untuk alasan saya membenci Elaine. Ya, sekali lagi dia adalah pembohong kecil. Otomatis, dia sudah melanggar komitmen kami yaitu kebebasan. Dia benar karna dia bebas menyembunyikan sesuatu. Namun pengertian bebas disini bukan untuk menutupi sesuatu yang mengancam kami. Dia sangat menjengkelkan saya. Namun sayangnya, harus saya akui dan harus saya tekankan bahwa dia berhasil membuat saya jatuh cinta setiap kali bertemu dirinya, atau lebih parahnya setiap mendengar namanya. Dan harus juga saya katakan, saya sudah sering mendengar kebohongan yang terlontar dari bibirnya itu. Bibir yang ingin saya cumbu tiap hari hingga ajal menjemput saya. Namun, dia harus berlalu lebih dini dari perkiraan. Membuat frustasi ya? Dasar pembohong! Elaine-ku, aku mencintaimu. Dan terakhir, di kesempatan ini. Saya juga ingin menutup pidato ini dengan sesuatu yang benar-benar akan menjadikan Elaine sebagai pembohong terbaik dihidup saya. Yaitu, aku sudah tau segala kebohonganmu Len.. Aku terkadang muak, namun jujur saja-“

Mike terhenti, ia menutup matanya.
“Ju..ju-jur saja… Aku ingin mendengar kebohonganmu lagi.. Sekali aja… Please… Aku pengen banget dengernya, Kwek. Jadi jangan sungkan buat temuin aku. Penuhi lagi kepalaku dengan laporan-laporanmu yang begitu antusias terhadap setiap hal yang kau temui, Kwek. Aku akan selalu mencintaimu. Karna rasa cintaku selama ini terlalu egois dan penuh gengsi, aku pun lupa untuk mengatakan ‘Rasa sukaku terhadap gadis lain tak akan pernah bisa mengalahkan cinta tulus nan dalam ini’. Selamat jalan, Elaine Hartanto. Semoga kau tenang disana.” Mike turun dan segera disambut oleh pelukan dari ayah Elaine.

Jaka mendekat dan mengusap-usap punggung Mike yang mulai menangis lagi.

Hari pun selesai. Kedua orangtua Elaine mengucapkan terimakasih kepada semuanya. Mike tak bisa berkata-kata, bertanya, apalagi sekedar basa-basi untuk saat ini.

“Nak Oscar..” Panggil ibunda Elaine pada Mike.

“Iya tan?” Mike menoleh.

Mama Elaine menyodorkan sebuah diary yang tentu saja pasti milik Elaine. Mamanya kembali menangis.

“Elaine mungkin mau kamu simpen itu. Dia juga minta maaf, karena dia pake gaunnya buat pergi nemuin tuhan.” Papa Elaine memeluk Mike.

Jaka dan lainnya hanya bisa berdiri mematung sambil menahan air mata.

‘Dear, Oscar.
Apa kabar kamu? Pasti baik.
Maaf ya udah boongin kamu tentang banyak hal.
Aku bahagia punya cowok kaya kamu.
Aku juga lupa buat ngeluh karna lawakan dan motivasi dari kamu.

Jangan lagi sok hebat kalo ngedaki gunung. Jangan lagi ninggalin orang di parkiran. Jangan lagi ngajak polisi balapan. Jangan lagi berantem. Jangan lagi sembarangan sama Kelvin. Jangan lagi kabur dari pelajaran Pak Soyjoy. Jangan lagi asal-asalan kalo main drum. Jangan lagi mudah emosi.

Aku suka Mike yang apa adanya. Terlebih, aku suka Mike yang tenang, sabar, polos, lucu, garing, gaje, dan susah ditebak.

Panjang ya? wah.. ada banyak banget yang mau aku bilang ke kamu.
Mulai dari keseharian aku yang mulai sepi nih, hehehe..
Ternyata tanpa kamu itu ribet ya. Masa apapun yang aku mau, pasti dikasih. Hmm.. dulu kalo mau beli es krim, aku harus manggil kamu ‘Sayang’ seharian kan? Aku selalu berhasil tuh. Kamu? Payah! Masa manggil ‘Kwek’ mulu, kan ga romantis kalo kata ABG sekarang, hehehe..

Bacanya sambil senyum dong(?). Ya, kalo nyengir aku kasih dispensasi lah.. *eh

Lanjut nih. Diem-diem, Aku juga suka sama Viny loh..
Dia itu baik banget, care, dan tulus. Semua orang pasti seneng kalo ngabisin waktu sama dia. Keliatan sih dari selera musiknya, makanan, dan lain-lain. Aku pengen kamu dapetin orang kaya dia.

Mike udah capek belom? Kok kantung matanya item gitu, hahaha..
Kamu tuh kebiasaan ya. Aku bener-bener gatau harus ngapain.
Sekarang? Hmm.. aku liat dulu.
Jam 2 lewat 37 pagi.
Aku gabisa tidur tau. Pengen banget tidur, hehehe..
Tapi kwek-ku ketinggalan di Bandung. Mama sama papa janji, mereka bakal ngambilin Kwek.

Sekarang jam 2 siang, udah berapa hari nih disini? Ahh… kapan bisa liat senja sama Michael lagi? Huh.. Dokternya payah nih:|

Mike, tadi ada berita terbaru. Tapi mama sama papa gamau cerita gitu, payah banget kan? Haduh, pake rahasia-rahasiaan segala.
Ini karma gara-gara aku suka rahasia-rahasiaan sama kamu.
Eh, tapi kamu juga suka rahasia-rahasiaan! Aku masih ada foto yang diambil Kelvin, pas kamu jatohin es krim matcha aku! Huh, aku maafin deh.

|••|

Hi there, Mikey.
Kayanya tulisan aku jelek banget ya? Kepalaku gaenak banget. Aku gatau sih efek apa. Hmm..

Kamu masih dengerin aku kan? Aku mau bilang makasih sama kamu, hehe..
Aku bener-bener bahagia pernah jalan bareng kamu. Semoga kamu ga ngerasa terganggu sama aku ya? Amin..

MIKE I LOV-‘

Surat itupun selesai.

Mike menangis sejadi-jadinya, ia memeluk kertas itu erat di dadanya. Tulisan terakhir itu, benar-benar terlihat kacau. Berbeda jauh dengan Elaine yang Mike kenal. Elaine yang selalu membuat ulang laporan yang kurang rapi. Elaine yang selalu menghapus atau mengtipe-x tulisannya yang kurang rapi.
Dari situlah, Mike paham betapa kerasnya perjuangan Elaine. Betapa besar sakit yang dibebankan padanya. Mengapa Mike tak menyadari apapun selama ini. Parahnya, mengapa dirinya tak berada di samping Elaine di sisa-sisa hidupnya. Membiarkan Elaine meninggal dalam kesendirian. Membiarkan Elaine meninggal dengan tulisan ‘I Love You’ yang tidak selesai, namun inti kalimatnya akan terus dinyatakan ‘Selalu’ oleh Elaine sendiri.

Andai Mike bersama Elaine dinafas-nafasnya yang terakhir. Mungkin Elaine tak akan merasa sendirian. Ia tak akan merasa takut. Ia tak akan lupa tuk tersenyum. Ia tak akan lupa tuk menekankan cintanya pada Mike, sekali lagi.

~~

“Ketika kesedihan begitu membuat kita terpukul, satu-satunya cara untuk tersenyum kembali hanyalah dengan menjanjikan masa depan yang cerah kepada semua yang berada didekat kita sekarang.”
– Abdul Sony Gunawan

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

3 tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 48

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s