Delinquents, Part1

Seorang wanita paruh baya berjalan menyusuri koridor. Matanya menatap tajam ke depan, langkahnya tegas seirama dengan gerak tangan yang penuh tenaga. Bahkan kilau sinar mentari yang menyisip dari jendela di sepanjang koridor tak mampu mengalihkan fokusnya. Hanya ada satu tujuan, Ruang Kepala Sekolah.

“Pak Kepala Sekolah!” Tanpa ragu wanita tersebut langsung mendorong daun pintu yang terbuat dari kayu jati setebal delapan centimeter di hadapannya.

“Ah, Bu Sukma, ada apa ya pagi-pagi udah mampir ke sini?” Sang Kepala Sekolah hanya tersenyum sambil menuangkan Teh hangat pada cangkir yang terletak di atas meja kerjanya, seolah sudah mengetahui bahwa pengajar favoritnya itu akan datang.

“Saya minta penjelasan tentang hal ini.” Bu Sukma melemparkan sebuah map berwarna biru ke meja kerja sang Kepala Sekolah.

Pria itu hanya menatap benda tersebut. Perlahan Kepala Sekolah itu menyesap teh buatannya lalu tersenyum.

“Memangnya kenapa? Bukankah itu daftar murid yang menerima beasiswa?” Pria itu duduk di kursi kulit yang ia banggakan sembari mempersilahkan wanita di hadapannya untuk melakukan hal yang sama. “Apa anda sudah mulai pikun Bu Sukma? Bukannya beasiswa ini memang program yang sering sekolah ini adakan setiap tahun?”

“B-b-bukan begitu Pak, Mana mungkin saya lupa dengan gagasan saya sendiri, bahkan tiap calon murid harus dilaporkan dulu pada saya sebelum masuk seleksi administrasi. Tapi mereka, ya, mereka kenapa bisa lulus begitu saja? Pasti Bapak ikut campur tangan dalam proses pembagian beasiswa tahun ini.” Suara Wanita itu bergetar. Bagaimana tidak? Saat ini dia sedang meluapkan kekesalan pada Sang atasan yang seharusnya dia hormati.

Lagi-lagi pria berusia 50 tahun itu tersenyum. Dia memahami apa yang memicu amarah dari Bu Sukma.

“Ya memang benar, mereka adalah orang yang saya pilih, lagipula mungkin mereka pantas untuk belajar di sini.”

Bu Sukma  mengepalkan tangannya. Sikap santai sang atasan kembali memicu emosinya.

“Bapak tau kan sekolah kita ini sekolah elit? Sekolah nomor satu dengan kualitas pendidikan yang setara dengan sekolah-sekolah internasional, bahkan banyak orang dari luar negeri yang rela untuk bersekolah di sini, dan sekolah ini juga selalu menghasilkan lulusan terbaik yang memiliki kontribusi besar di masyarakat, apakah Anda tidak merasa sia-sia memberikan bangku di sekolah terbaik ini pada mereka?”

Sang Kepala sekolah tertawa nyaring, membuat Bu Sukma heran melihat cara berpikir sang atasan.

“Memangnya ada apa dengan mereka? Toh mereka sama seperti anak SMA biasa.” Pria itu ngeluarkan satu file dari dalam map yang di bawa Bu Sukma. “Hmm yang satu ini juga kelihatan baik.”

“Ya baik, jika anak ini tidak sering melamun dan berkali-kali gagal hampir di setiap mata pelajaran.” Bu Sukma melipat kedua tangannya.

“Oke, bagaimana kalau yang ini? Pendiam dan seperti murid biasa.” Sang Kepala Sekolah mengeluarkan satu file lagi.

“Pendiam, itu yang ingin dia tunjukkan agar kasus penjualan properti milik sekolah yang ia lakukan tak terdeteksi.”

“Oke-oke, yang ini, dia selalu membawa kamera, mungkin dia orang yang kreatif,” ucap sang Kepala Sekolah.

“Dia menggunakan foto-foto tidak senonoh untuk mengancam guru dan teman-temannya.”

Sang Kepala Sekolah terdiam sejenak. Dia tidak menyangka jika informasi yang dimiliki Bu Sukma sangat detail. Pria itu melirik ke arah map yang hanya menyisakan satu file lagi, perlahan tangannya merogoh map tersebut lalu mulai membaca file yang tersisa.

“Nah mungkin ini yang paling normal, nilai rata-ratanya tidak jelek, walaupun tidak bisa dibilang baik, mungkin hanya ini yang terlihat seperti murid SMA biasa dibanding tiga kandidat sebelumnya.”

“Salah.” Bu Sukma memejamkan matanya. “Dia yang paling buruk.”

Sang Kepala Sekolah kembali terdiam. Dia mulai merapikan tumpukan file para siswa yang dia rekomendasikan tanpa sepengetahuan Bu Sukma.

“Dan yang paling penting, mereka itu adalah pembuat onar di sekolahnya masing-masing, Bahkan saya terkejut jika siswa seperti mereka dapat lulus SMP meskipun dengan nilai pas-pasan.”

Pria tersebut bangkit dari singgasananya. Dia berbalik menatap jendela yang menampilkan lapangan yang biasa digunakan oleh murid-muridnya saat jam pelajaran Olahraga.

“Sebenarnya apa yang anda rencanakan Pak?” tanya Bu Sukma sambil menatap punggung sang atasan.

Sebuah senyuman terukir saat sang Kepala Sekolah menoleh, membuat guru wanita itu terkejut. Dia tahu betul bagaimana sifat atasannya, sekolah ini dianggap sebagai kiblat pendidikan di negara ini juga tak luput dari hasil pemikiran cerdasnya. Bagaimana mungkin seseorang yang selalu punya gagasan brilian memutuskan untuk memberi beasiswa pada berandalan?

*****

Pagi pertama di tahun ajaran baru. Banyak wajah-wajah yang terlihat ceria,, bersiap untuk menjalani kehidupan SMA mereka, masa-masa sekolah yang dianggap paling indah.

Namun tetap ada yang terlihat tak menikmati. Dia adalah seorang pemuda yang berjalan sambil memperhatikan sebuah surat di tangannya. Surat tersebut sampai padanya kemarin, diletakkan begitu saja melalui celah pintu tempat tinggalnya.

Tidak ada nama pengirim, hanya tulisan ‘selamat anda lulus!’ beserta logo sebuah sekolah yang sangat ia kenal.

Bukannya senang, pemuda itu justru merasa aneh. Bagaimana tidak? Dirinya merasa tak pernah mendaftar ke sekolah manapun. Terlebih dia sadar jika dirinya tak memenuhi syarat untuk menjadi siswa di sana.

Sekarang di sinilah dia, bediri di depan gerbang setinggi dua meter yang terbuat dari besi kokoh. Rasa takjub mulai merasuk dalam diri pemuda itu, dirinya tak menyangka jika sekolah yang biasa hanya dia lihat melalui internet ternyata jauh lebih megah dari yang ia bayangkan.

Setelah puas merasa terkesan, pemuda itu melangkah melewati gerbang bersama dengan ratusan anak lain yang mengenakan seragam yang sama seperti miliknya.

Riuh suara para murid mewarnai hari pertamanya di sekolah baru. Banyak wajah-wajah yang tak dikenal, namun itu wajar mengingat sang pemuda memang tak mudah akrab dengan orang lain.

Akhirnya pemuda itu berhenti di papan pengumuman yang terletak tak jauh dari pintu masuk gedung utama. Banyak murid lain yang melakukan hal yang sama, kebanyakan adalah murid yang baru masuk, sama seperti dirinya.

Kerumunan para murid tersebut membuatnya kesulitan untuk mengetahui informasi yang tertera di sana, hingga akhirnya pemuda itu memutuskan untuk memperhatikan dari kejauhan.

“Kepada seluruh siswa dan siswi tahun ajaran baru harap berkumpul di aula.” Terdengar suara seseorang yang berbicara melalui pengeras suara.

Untuk sejenak suasana menjadi hening. Seluruh murid yang memenuhi papan pengumuman saling melempar tatapan heran. Ya, sebagian besar dari mereka tidak mengtahui dimana letak aula sekolah tersebut.

“Ah iya maaf, aulanya ada di selatan gedung utama, lebih tepatnya di sebelah gedung olahraga,”

Para murid baru mulai menjauhi papan pengumuman. Mereka berbondong-bondong pergi menuju tempat yang diinformasikan.

Bukannya mengikuti murid yang lain, sang pemuda melangkah maju dan dengan santai memperhatikan papan pengumuman yang tak lagi penuh sesak oleh teman-teman seperjuangannya.

Perlahan dia mulai membaca selebaran yang tertempel. Tidak ada yang terlalu penting, hanya ucapan selamat datang dan jadwal kegiatan para murid baru hari ini.

Untuk sekolah terbaik, segala kegiatan yang tercantum di jadwal tak jauh berbeda dari sekolah kebanyakan. Padahal pemuda itu mengira akan ada sesuatu yang luar biasa atau setidaknya sesuatu yang membuat sekolah ini berbeda dari yang lainnya.

“Hoiiiiii!”

Sebuah suara yang berasal dari belakang mencuri fokus pemuda itu. Perlahan dia menoleh dan mendapati seorang murid lain berlari menghampirinya dengan nafas tersengal-sengal.

“Oi, tau aulanya dimana gak?”

Pemuda itu memperhatikan seseorang yang kini tengah mencoba mengatur nafas. Rambutnya berantakan, sama seperti pakaiannya yang kusut, dasi yang dikenakan juga terlihat tak simetris.

“Bukannya tadi udah diumumin? Selatan gedung utama, di sebelah gedung olahraga,” ucap pemuda itu santai.

“Ah iya.”

Mereka berdua terdiam.

“Itu dia masalahnya, gue gak tau selatan itu dimana.”

“Oh.” jawab Si Pemuda lalu kembali memandangi papan pengumuman di hadapannya.

“Lah gitu doang? Ajak bareng kek atau apa kek, elu kan murid baru juga, kenapa masih di sini?” tanya murid berpenampilan acak-acakan itu pada Sang pemuda.

“Bentar lagi, di sini anginnya enak.”

“Alasan macem apa itu?! Ah iya, kita belom kenalan, nama gue Sigit, orang yang bakal diakuin sebagai cowok paling ganteng di sekolah ini.” pemuda itu megulurkan tangannya.

“Ciko.”

*****

Suasana aula dipenuhi dengan riuh suara obrolan para murid baru. Rasa penasaran menyelimuti mereka, mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi di tempat yang mampu menampung hingga ratusan orang itu.

Panggung yang masih kosong semakin menambah rasa penasaran para murid. Sudah hampir lima belas menit semenjak pengumuman itu, namun belum ada sesuatu yang terjadi.

“Wah gila, rame banget Cik,” ucap Sigit yang tampak sangat antusias memperhatikan kerumunan siswa baru di hadapannya.

“Wajarlah, kan tadi semua murid baru disuruh kumpul di sini.”

“Iya gue tau, tapi gue gak nyangka bakal serame ini. Eh! Bentar ya gue ke sana dulu.” Mendadak Sigit langsung menjauh kemudian hilang di tengah kerumunan.

Pemuda bernama Ciko itu tak beranjak. Dirinya tak memiliki keinginan untuk mengikuti Sigit. Baginya akan merepotkan jika terjebak di tengah lautan manusia seperti itu.

Tak lama kemudian Ciko melihat Sigit, berjalan mendekat dari balik kerumunan, sambil memegangi pipi.

“Kenapa? Kok lesu?” tanya Ciko.

“Barusan digampar.”

“Emangnya lu ngapain? Mesum ye?”

“Enak aja, gue mah kagak gitu orangnya, gue cuman bantuin benerin rok cewek yang miring, udah itu doang tapi emang dasar ceweknya aja  yang lebay.” Sigit memasang wajah kesal sambil berdri di sebelah Ciko.

Ciko hanya  menggeleng. Dia tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala kenalan barunya itu.

“Test…test…”

Mendadak seluruh perhatian tertuju pada pria tua yang sudah berdiri di atas panggung, lengkap dengan microphone di hadapannya.

“Maaf menunggu lama, kebetulan tadi ada sedikit urusan yang tidak bisa saya tinggalkan.” Pria tersebut membetulkan dasinya. “Baiklah untuk para siswa baru saya ucapkan selamat karena telah berhasil masuk ke sekolah.”

Deru tepuk tangan mulai terdengar memenuhi aula.

“Kalian mungkin sudah tahu bagaimana situasi dan kondisi di sekolah ini, untuk itu saya harap kalian semua melakukan yang terbaik dan semoga tahun ini akan menjadi tahun yang membawa perubahan bagi kalian. Dengan ini kegiatan penerimaan murid baru saya buka!”

Pria tersebut berjalan menjauhi pusat panggung dengan diiringi suara tepuk tangan yang lebih meriah dari sebelumnya.

“Hahaha, kayaknya masa SMA kita bakalan seru nih Cik, liat tuh, banyak cewek cakepnya.” Sigit menyikut seseorang di sebelahnya.

“Hmmm.”

“Oi, lu merhatiin ke mana sih?” Sigit memperhatikan Ciko yang tengah sibuk melihat ke sekitar, seperti sedang mencari sesuatu.

“Git,” celetuk Ciko yang seperti telah menemukan sesuatu yang ia cari.

“Apaan?”

“Mau uang jajan tambahan gak?” tawar Ciko sementara Sigit hanya menautkan kedua alisnya.

*****

“Permisi Pak,” ucap Seorang wanita setelah sebelumnya mengetuk pintu menuju ruangan Kepala Sekolah.

“Ah, Bu Sukma, silahkan masuk.” Sang Kepala Sekolah memutar kursinya sehingga dirinya berhadapan dengan pengajar favoritnya itu. “Lagi?”

Bu Sukma mengangguk pelan lalu berjalan mendekati meja kerja atasannya, bersama dengan dua orang siswa. “Dan mereka semua adalah murid yang mendapatkan beasiswa.”

Sang kepala sekolah menggeleng pelan. Dirinya tak menyangka jika keputusan yang ia buat akan berujung pada situasi seperti ini.

“Memangnya apa yang mereka lakukan?” tanya pria itu sambil bersandar di kursi kulit kesayangannya.

“Mereka mencoba menjual papan pengumuman yang ada di depan pintu masuk,” jelas Bu Sukma.

“Serius? Memang materialnya cukup mahal, tapi bukannya itu terlalu berat untuk dilakukan dua orang anak muda?”

“Yah, tapi sepertinya mereka sudah mengatasi itu, saya menangkap basah mereka berasama dengan mobil pick up yang siap untuk mengangkut papan pengumuman.”

Kedua pemuda itu hanya diam. Tak ada usaha pembelaan saat sang Kepala sekolah menatap mereka.

“Cik, gimana sih? Katanya gue bakal dapet tambahan jajan,” bisik Sigit pada pemuda di sebelahnya.

“Ya kalo berhasil uang jajan lu pasti nambah.”

“Tapi kenapa kita malah ada di sini?” lanjut Sigit.

“Ya karena kita gagal,” jawab Ciko santai.

“Duh, hari pertama malah kena sial, gue belom sempet kenalan sama satu cewek pun lagi, kira-kira kita bakal diapain yak?”

“Paling dikeluarin.”

Sigit terdiam. Dia shock mengingat dirinya baru saja diterima di sekolah terbaik namun dalam hitungan jam sudah dalam situasi dimana dirinya terancam di keluarkan.

“Seriusan dong! Emak gue udah bangga gue bisa sekolah di sini, masa harus dikeluarin!” Sigit menarik seragam Ciko.

“Jangan lebay deh, ini gak seburuk yang lo bayangin kok.”

“Maksudnya?” Sigit mengerutkan dahinya.

“Ya, karena gue juga bakal dikeluarin, jadi elu gak sendirian.”

“KAGAK NOLONG KAMPRET!” bentak Sigit

“DIAMMM!” perintah Bu Sukma diikuti dengan tatapan yang membuat nyali Sigit menciut. “Kalian udah salah malah bikin ribut!”

Sigit langsung tertunduk. Dia tidak menyangka jika hari pertama sekolahnya tak berjalan mulus seperti harapannya.

“Sudah-sudah, mari kita lupakan saja, toh ini juga hari pertama.” Sang Kepala Sekolah tersenyum.

“Tapi Pak mer….”

“Dan untuk kalian berdua,” potong Kepala Sekolah sebelum Bu Sukma menyelesaikan kalimatnya. “Ini buku tentang peraturan sekolah, di sana tertulis semuanya, mulai dari tata cara berpakaian, jadwal hingga apa-apa saja yang boleh dilakukan serta yang tidak boleh. Ah iya, di dalam juga ada selembar kertas, setelah jam istirahat pertama kalian pergi ke ruangan yang tertulis di sana.”

Sigit dan Ciko menerima buku pemberian Sang Kepala Sekolah sambil menatap sampulnya heran.

“Mengerti?” ucap Sang Kepala Sekolah dengan nada serta warna suara yang sangat mengintimidasi. Kedua murid barunya itu sampai menelan ludah dan tanpa sadar mengangguk.

“Baiklah, kalian boleh pergi, terima kasih Bu Sukma.” Kepala Sekolah kembali memutar kursi hingga membelakangi tiga orang tamunya itu.

Bu Sukma menunduk, lalu pergi meninggalkan ruang kerja atasannya sambil membawa dua murid yang bermasalah itu.

“Baiklah sekarang kalian kembali ke kelas masing-masing, Sigit kamu di kelas 1-4, dan Ciko 1-2, Ibu yakin karena masalah ini kalian tidak sempat memastikan dimana ruang kelas kalian.”

Setelah memberikan arahan terakhir Bu Sukma langsung pergi meninggalkan dua murid barunya.

Ciko dan Sigit hanya saling tatap, kedua buku di tangan mereka menjadi saksi bagaimana secara tiba-tiba suasana menjadi canggung.

“Oke, kalo gitu sampe ke temu nanti ya Cik.” Sigit melambaikan tangannya sembari mengulas senyum yang terlihat dipaksakan.

Ciko hanya mengangguk dan melepas kepergian kenalan barunya itu dengan lambaian tangan.

Setelah berpisah dengan Sigit, pemuda itu berjalan menyusuri lorong, mencari dimana letak kelas yang sudah diberitahukan oleh Bu Sukma.

Sepanjang perjalanan sikap Sang Kepala Sekolah sedikit mengganggunya. Tanda tanya besar menghantui tiap langkah pemuda tersebut. Bagaimana mungkin Kepala Sekolah yang awalnya terkesan santai dan ramah bisa menjadi sangat mengintimidasi seperti itu?

Tanpa disadari Ciko sudah berdiri di depan pintu dengan papan berukiran ‘1-2’ tepat di tengahnya. Pemuda itu menghela nafas, ya, ini baru hari pertama, bukan saatnya untuk membebani pikiran dengan hal yang tidak berguna.

Ciko menggeser pintu di hadapannya, bukan hal yang bagus berdiri di sana berlama-lama, terlebih dirinya sudah terlamabat untuk mengikuti jam pertama.

“Eh?” Pemuda itu terkejut ketika mendapati seluruh mata tertuju padanya.

“Cih, gimana bisa sekolah ini nerima orang yang gak tau cara menghargai waktu.” Gadis yang berdiri di podium menatap Ciko dengan tatapan merendahkan.

“Gurunya kemana?” tanya Ciko.

“Dih, gimana mau berkembang kalo dikit-dikit masih ngarepin guru?” ucap gadis itu diikuti dengan riuh tawa seluruh kelas.

Ciko hanya menggeleng. Dia mencoba mengabaikan gadis itu dan berjalan menuju salah satu bangku kosong di barisan belakang.

Gadis tersebut melanjutkan apa yang sempat tertunda, sesuatu seperti orasi, mencoba untuk membakar semangat teman-temannya. Kelas terbaik, jadi nomor satu dan semacamnya, hal-hal itu yang sedari tadi disuarakan oleh orang yang baru saja memandang rendah pemuda itu.

Ciko memalingkan wajahnya, mencoba menghibur diri, menghindar dari segala omong kosong sang gadis yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Baginya hal ini cukup klise, ya, wajar jika semangat mereka masih menggebu-gebu toh ini juga masih hari pertama. Seiring berjalannya waktu semua itu akan pudar dan menghilang, semangat yang tadinya berapi-api, segala tujuan yang disusun untuk setahun ke depan akan lenyap tanpa bekas, mungkin 2-3 hari ke depan.

Pemuda itu menghela nafas, berharap hari ini segera berakhir dan dirinya bisa menikmati empuknya kasur di rumah.

*****

Ciko berjalan menyusuri koridor sambil memandangi kertas yang terselip pada buku yang diberikan oleh Kepala Sekolah. Berbeda dengan kondisi tempat yang lain, tak ada siapapun di sini, bahkan derap langkah pemuda itu terdengar menggema. Aneh, terlebih pada jam istirahat seperti ini.

Dari kejauhan pemuda itu menatap salah seorang murid yang tengah berdiri di depan pintu sebuah ruangan.

“Oi.” Sapa Ciko sambil menepuk pundak pemuda tersebut.

“Eh elu Cik, ngapain di sini?”

Ciko menunjukkan selembar kertas yang sama persis dengan apa yang ada di tangan kenalannya itu.

“Ah iya, gue lupa, kan kita tadi bareng pas dimarahin sama Kepala Sekolah,” ucap pemuda yang ternyata adalah Sigit.

“Yakin ini tempatnya? Kok sepi bener?” Tanya Ciko sambil memperhatikan pintu di hadapannya.

“Gak tau juga sih, tapi kalo sesuai sama kertas yang dikasih Pak Kepsek emang beneran di sini.” Sigit memijit dagunya pelan. “Mau coba masuk?”

Ciko mengangguk. Sesaat keduanya terdiam, tak ada yang melakukan sesuatu hingga akhirnya kedua pemuda itu saling tatap.

“Elu dah yang buka, gue ngeri hehehe,” ucap Sigit sambil menggaruk kepalanya.

Ciko menggeleng melihat tingkah Sigit. Perlahan pemuda itu menyentuh daun pintu di hadapannya, sejauh ini tak ada yang aneh namun perlahan-lahan rasa ragu menyelimuti pemuda itu.

“Kok bengong Cik? Buka lah,” Sigit mulai tak sabar.

Mendengar hal itu Ciko hanya melempar tatapan sinis yang dibalas dengan senyum terpaksa dari Sigit.

Perlahan tapi pasti, pemuda itu menggeser daun pintu hingga memperlihatkan ruangan yang ada di baliknya. Sebuah ruangan kecil dengan berbagai macam barang di sana, mulai dari tumpukkan kardus, beberapa meja serta kursi yang terletak tak beraturan. Debu-debu yang menempel di berbagai sudut ikut menambah kesan terbengkalai dari ruangan tersebut.

“Wah kalian berdua di suruh ke sini juga,” Sapa seseorang yang tengah duduk di atas meja sambil mengutak-utik kamera di tangannya.

“Eh? Elu siapa?” tanya Sigit dengan nada menginterogasi.

Pemuda itu turun dan berjalan mendekati Sigit kemudian mengulurkan tangannya. “Arez, sama kayak kalian, murid baru juga.”

“Oh, berarti elu juga bikin masalah di hari pertama?” potong Ciko. Arez hanya mengangguk.

“Jadi, kalian berdua siapa?” tanya Arez.

“Gue Ciko, kalo si gembel ini Sigit.” Ciko melirik ke arah pemuda yang berdiri di sebelahnya.

“Enak aja gue dikata gembel!” celetuk Sigit.

“Santai-santai, jangan bawa-bawa urusan rumah tangga ke mari dong.” Tawa renyah keluar dari mulut pemuda bernama Arez itu. “Ngomong-ngomong apa yang ngebuat kalian dikirim ke sini?”

“Semua gara-gara dia!” Sigit menunjuk ke arah orang yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa dirinya. “Dia mau ngejual papan pengumuman di depan gedung utama, gue cuman bantuin.”

“Kalo elo kenapa ada di sini?” tanya Ciko yang seolah tak memperdulikan ucapan Sigit.

Arez mengeluarkan sesuatu dari sakunya, Sekumpulan foto-foto gadis yang mengenakan seragam sekolah persis seperti milik mereka. “Nih, baru dikit sih, tapi ke depannya bakal nambah kok.”

Sigit dengan antusias menerima kumpulan foto tersebut. Matanya nampak berbinar seperti sedang memandang masa depan yang cerah.

“Semua ini elu yang ngambil?” Arez mengangguk. “Ada lagi gak?”

“Ada dong, yang itu teaser doang, gratis, kalo mau lebih harus ada biayanya,” ucap Arez.

“Ternyata kudu beli.” Sigit langsung terlihat lesu.

“Masa iya gara-gara ini doang?” Ciko terlihat tak tertarik dengan foto gadis-gadis itu.

“Hahaha, yah itu sih emang gak masalah, tapi ini….” Arez mengeluarkan satu foto lagi dari saku belakangnya.

Ciko memperhatikan foto tersebut, foto seorang pria yang tengah duduk di kloset dengan ekspresi muka yang sangat tidak menarik untuk di lihat.

“Ini Kepala Sekolah kan?” tanya Ciko dengan dahi yang sudah berkerut.

“Yoi, awalnya gue pengen jadiin ini buat kartu as misalnya kena masalah, tapi ketangkep sama guru cewek sialan ntu, dan yang lebih apesnya si Kepala Sekolah woles aja.” Arez menggeleng.

“Ah iya, kata Bu Sukma sebelum kita berdua ada dua orang lagi yang bikin masalah di hari pertama, kalo elu salah satunya berarti satu lagi siapa dong?” Sigit memiringkan kepalanya.

“Errr…. Tadi dia sih ada di sini, orang ketemu Kepala Sekolahnya bareng gue.” Arez memandang ke setiap sudut ruangan.

“Masa iya orang bisa ngilang,” ucap Ciko sinis.

“Jangan-jangan dia….”

Belum sempat Sigit menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara dentuman tak jauh dar mereka, seperti sesuatu yang berat terjatuh ke lantai.

Sontak ketiga pemuda itu langsung melihat ke arah sumber suara. Letaknya tak jauh mereka, lebih tepatnya dari loker besi usang yang sudah dihiasi karat. Pintu loker tersebut terbuka dan tepat di depannya tergeletak satu orang pemuda lagi dengan seragam yang sama.

“MAYAAAAAAT!” jerit Sigit histeris.

Ciko dan Arez saling tatap, lebih tepatnya mereka mencoba untuk mengabaikan tingkah bodoh dari Sigit. Akhirnya kedua pemuda itu berjalan mendekati satu orang lagi yang menyebabkan Sigit histeris.

“Jangan-jangan ni orang beneran mati lagi.” Arez menatap Ciko.

“Gimana kalo lapor ke gur….”

“Ngroooooooook….” terdengar suara yang cukup familiar dari arah sosok misterius tersebut, membuat ketiga pemuda itu menatap sinis sosok di hadapan mereka.

*****

“Namae wa?” Sigit menatap pemuda di hadapannya.

Tak ada respon yang diharapkan, pemuda tersebut hanya balik menatap sambil menyipitkan matanya.

“Namae wa!?” Sigit mengulang pertanyaannya, dengan nada yang lebih tinggi.

“Nana…dewa?” pemuda itu memiringkan kepalanya.

“Nama! Nama elu siapa? Siapakah nama kamu? Kamu namanya siapa?” Sigit terlihat kesal.

“Ohhh, bilang dong dari tadi, jangan bawa-bawa dewa segala, gue pan bingung.” pemuda itu melipat kedua tangannya.

“Parah ni orang, masa gitu aja gak tau guys.” Sigit menatap ke arah Arez dan Ciko. Dua pemuda itu hanya menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah katapun. “Ah gak asik nih! Pada kagak suka nonton anime apa?”

Arez dan Ciko kembali menatap Sigit dengan tatapan sinis.

Saat ini mereka bertiga ditambah satu lagi pemuda yang belum diketahui namanya sedang berada di kantin. Mereka sengaja mengambil tempat yang agak terpencil agar riuh suara orang-orang tak mengganggu introgasi yang dipimpin oleh Sigit.

“Oke-oke abaikan, jadi nama lu siapa?” Sigit mencoba kembali ke pokok permasalahan.

“Guntra, Guntra Reinbach ke IV.” jawab sosok misterius itu.

Sigit beserta dua temannya hanya terdiam, mulutnya menganga, mereka tidak menyangka jika orang baru ini memiliki nama yang cukup…, aneh.

“Wah, nama apaan tuh, keturunan bangsawan kah?” Lanjut Sigit.

“Pengennya gitu, tapi sialnya ntu cuman inspirasi yang di dapet bokap gue dari game kesukaan dia.” Pemuda itu langsung terlihat lesu.

“Elu kenapa bisa ada di lemari?” Sigit memperdalam interogasinya.

“Ngantuk, pengen tidur.” jawab Guntra singkat. Sigit melempar tatapan pada dua temannya yang lain, namun sayang, Arez dan Ciko tengah sibuk dengan makanan yang baru saja tiba.

“Woi!” Bentak Sigit yang langsung menarik perhatian Arez dan Ciko. “Kalian ngapain sih? Katanya mau interogasi ni orang!?”

“Ya lanjut aja, ntar elu kasih tau kesimpulannya ke kita.” Ciko meraih segelas es teh manis di hadapannya.

“Hooh Git, gue laper banget, lom sarapan.” Arez mulai menyendokkan suapan pertama dari bubur ayam yang ia pesan.

“Terserah, jadi…. Naniiiiii!” Sigit terkejut saat melihat orang yang ia interogasi sedang menikmati sepiring mi goreng yang entah datang dari mana. “Kenapa cuman gue yang kagak ada makanannyaaaaa!”

Tak mau kalah, Sigit segera beranjak menuju salah satu kios yang ada di kantin sementara tiga pemuda di mejanya hanya menatap kepergian Sigit sambil menggeleng pelan.

“Oke kita lanjut!” ucap Sigit sambil meletakkan sepiring siomay yang masih hangat. “Masalah apa yang elu buat hari ini?”

Guntra meletakkan garpu yang penuh dengan mi goreng. Dia memijit dagunya, pandangannya mengarah ke langit-langit dan dagunya mulai berkerut.

“Hmmm, gue gak inget,” jawab pemuda itu santai kemudian melanjutkan urusannya yang tertunda dengan sepiring mi goreng yang ia pesan.

“Haaaah, susah emang kalo ngomong sama orang yang tingkat kecerdasannya setara undur-undur.” Sigit mulai menyerah, dia mencoba merefresh pikirannya dengan menyuapkan siomay yang ia pesan.

Tak ada lagi obrolan yang tercipta semenjak sang pemimpin interogasi lebih memilih memanjakan perutnya. Mereka berempat kini fokus dengan santapan masing-masing, sama seperti mayoritas penghuni kantin.

Suasana yang cukup khidmat tersebut tak berlangsung lama, sebuah gebrakan di meja keempat pemuda itu sontak memecah fokus mereka.

Ciko dan yang lainnya menatap ke arah sumber suara. Di sana berdiri seorang gadis berambut pendek yang diikuti oleh beberapa temannya. Tiga, empat, atau mungkin lebih, Ciko mencoba menghitung jumlah mereka namun karena  tinggi yang tidak sama rata membuat pemuda itu cukup kesulitan.

“Guntra Reinbach ke IV, gak nyangka biang masalah kayak elu bisa masuk ke sekolah ini,” ucap gadis tersebut diikuti senyuman yang terkesan merendahkan.

Ciko dan yang lainnya menatap ke arah pemuda yang menjadi perhatian gadis berambut pendek tersebut.

“Ah, halo, eumm, kalian siapa ya?” Guntra menggaruk kepalanya.

“Hah, dasar, apa orang gak berguna kayak lo emang punya daya ingat cetek?” ucap gadis itu sinis.

Gadis tak dikenal itu mulai menatap ke arah Ciko dan dua orang lainnya lalu kemudian tersenyum.

“Hahaha, sampah kayak elu emang cocok bergaul sama sampah yang lainnya.”

“APA LU BILAAAAAANG!” Sigit yang tersulut emosinya mulai berontak namun beruntung Arez langsung menahannya sehingga pemuda itu tidak bertindak lebih jauh.

“Yah kalo temenan mah gak usah milih-milih,” Jawab Guntra santai. “Bentar, kok elu tau nama lengkap gue?”

“Buat gue, informasi receh kayak gitu gak susah di dapet.” Entah kenapa pemuda berkacamata yang berdiri di sebelah gadis itu tersenyum.

“Sigit Prasetya, cowok yang gak punya keahlian, gagal hampir di setiap mata pelajaran dan maniak jejepangan.” gadis itu menatap ke arah Sigit yang berusaha keras menahan emosinya.

“Elu, eumm apa ya sebutannya, ah iya! Bocah kamera, Alvaro Rezki Pratama, apa otak mesum lu lagi nebak-nebak warna daleman dalem gue?” Kini gadis itu menyerang Arez.

“Hmm, reputasi lu emang gak seburuk yang lain tapi tetep aja, ngebisnisin segala hal tanpa terkecuali gak bisa dianggep prestasi, Tuan Ciko Brahmadi.”

Ciko hanya menatap gadis itu, beruntung dia bukan orang yang gampang tersulut emosinya. Wajah gadis itu cukup familiar, ya, dia pernah bertemu dengannya satu kali, gadis yang berlagak pemimpin dikelasnya.

“Dan yang terakhir, Guntra Reinbach IV, nama yang aneh, sama kayak orangnya, langganan dikeluarin dari sekolah, selalu ngelanggar peraturan, suka bertingkah seenaknya dan yang paling utama, Pemalas nomer satu.”

Keempat pemuda itu hanya terdiam. Mereka menatap ke arah gadis yang entah bagaimana bisa mengetahui informasi tentang mereka, kecuali Guntra yang nampak tak perduli.

“Ah, jadi ngehack pusat data sekolah ini bukan termasuk pelanggaran,” Ucap Guntra sambil berusaha menghabiskan makanan di piringnya. “Ya, itu semua benar, terus kenapa?”

“Huuh berlagak gak peduli, apa mungkin itu efek mi goreng yang sering elu makan? Makanan sampah kayak gitu emang ngerusak otak kayaknya…,” ucap sang gadis.

Tiba-tiba sesuatu melesat dengan cepat tepat di depan Ciko. Pemuda itu terdiam,  mencoba mencari tahu tentang objek tersebut. Dia melihat ke arah Arez dan Sigit yang memasang ekspresi terkejut seperti dirinya.

Perlahan dia menoleh, melihat ke arah sebuah garpu plastik yang menempel di dahi murid berkacamata di sebelah sang gadis. Garpu tersebut tertancap beberapa saat hingga akhirnya jatuh ke tanah dan meninggalkan bekas yang tak terlalu dalam tapi sangat jelas terlihat.

Sang gadis hanya terdiam, mulutnya menganga. Bukan karena garpu yang melesat dengan kecepatan tinggi melainkan karena melihat ekspresi wajah Guntra yang berubah drastis.

“Mulut sampah lo gak berhak buat ngehina mi goreng,” ucap pemuda itu dengan nada datar sambil menatap tajam gadis yang sedari tadi menghinanya.

Sigit Arez dan Ciko tak kalah kaget dengan gadis itu. Mereka tak menyangka jika pemuda yang baru mereka kenal bisa bersikap seperti itu.

“Ah maap-maap, kebiasaan, yaudah gue cabut dulu ya, kebetulan jam istirahat udah mau kelar.” Guntra bangkit dan berjalan menjauh diikuti dengan ketiga temannya.

“GUE GAK BAKAL BIARIN BERANDALAN KAYAK KALIAN BIKIN ONAR DI SEKOLAH INI,” gadis itu berteriak mengiringi kepergian Guntra dan yang lainnya.

Teriakan tersebut berhasil mencuri perhatian seluruh penghuni kantn. Kini seluruh mata tertuju pada keempat pemuda yang berjalan mendekati pintu keluar.

Ciko melirik kebelakang, dia melihat tatapan penuh dendam yang diarahkan sang gadis misterius diarahkan pada mereka. Pemuda itu tak mengert mengapa gadis berambut pendek itu membenci dirinya dan tiga orang lainnya, bukannya mereka tidak pernah merugikan murid yang lain?

“Duh. jangan berhenti mendadak dong!” pekik Ciko saat menabrak punggung Arez yang berjalan di depannya.

Pemuda itu melihat ke arah Sigit yang ada di sebelahnya. Wajahnya tak lagi menunjukkan kemarahan, lebih tepatnya berubah menjad ekspresi takut.

“Sudah saya bilang jangan bikin onar lagi, kalian berempat ikut saya ke ruangan Kepala Sekolah!” ucap Bu Sukma yang tengah menghadang mereka di pintu keluar.

******

Untuk kedua kalinya pada hari ini Ciko berkunjung ke ruangan pria dengan jabatan tertinggi di sekolahnya. Bahkan aroma ruangan ini belum hilang dari pikirannya. Dia juga masih bisa mengingat deretan buku yang tersusun rapi di baris pertama rak kayu yang terletak tak jauh dari jendela.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia ditemani oleh tiga orang lain dan tentu saja kali ini juga bukan dirinya yang menjadi biang masalah. Untuk sesaat dia bisa mengerti bagaimana perasaan Sigit pagi hari tadi.

“Duh, kalian ini memang benar-benar tidak bisa menahan diri ya?” sang Kepala Sekolah menggeleng sambil duduk di meja kerjanya. “Kalo begini terus kalian bisa dikeluarkan lho.”

“Tapi kita gak cari masalah Pak! Mereka yang mulai!” Sigit mencoba melakukan pembelaan.

“Tapi tetap saja kalian terlibat, lemparan garpu tadi untuk apa?”

Sigit langsung terdiam, tak tahu harus berbuat apa untuk mematahkan argumen sang Kepala Sekolah.

“Jangan hanya karena kalian mendapat beasiswa kalian jadi merasa spesial, kalian tetap akan diperlakukan sama, apabila melanggar peraturan tetap mendapat hukuman.

“Mungkin bagi kalian, dikeluarkan dari sekolah, berbuat onar, melakukan hal-hal yang tak pantas, adalah hal yang biasa, saat ini juga saya sudah memiliki cukup alasan untuk mendepak kalian dari sekolah ini,” Jelas sang Kepala Sekolah.

“Terus kenapa tidak anda lakukan?” celetuk Ciko.

“Kalau saya lakukan dimana menariknya?”

Pemuda itu terdiam, apa menurut kepala sekolah ini semua hanya permainan?

“Saat kalian dikeluarkan terus apa? Kalian akan sekolah di tempat yang lain, melakukan keahlian kalian yaitu membuat onar dan dikeluarkan lagi. Kalian hanya mengulang siklus yang sama hingga ada sekolah yang menyerah dan memaklumi sikap kalian.

“Bagaimana jika kita sedikit melakukan hal yang berebeda, saya penasaran seberapa lama kalian bisa bertahan di sini, yah mengingat track record yang kalian miliki saya yakin tidak akan terlalu lama, mungkin seminggu atau malah tiga hari dari sekarang?” pria berumur 50 tahun itu melemparkan tatapannya ke atas. “Yah tapi tetap saja saya penasaran.”

“Jadi kami hanya harus diam saat mereka mulai mencari masalah?” kini Arez mulai terpancing dengan provokasi sang Kepala Sekolah.

“Tidak ada yang mengatakan itu, hmmm, selama kalian tidak melanggar aturan, kalian bebas melakukan apa saja.”

Sang Kepala sekolah berjalan kembali menuju singgasananya yang terlihat nyaman.

“Oke, cukup untuk hari ini, kalian boleh keluar.” pria itu memutar kursinya hingga menghadap ke arah jendela. “Ah iya, satu lagi, Ruangan itu adalah Klub Mading, belakangan udah gak ada anggotanya karena gak terlalu populer, kalian bebas untuk melakukan apapun terhadap ruangan itu, dan mulai tahun ini Klub Itu akan saya buka kembali.”

Ciko dan lainnya hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan ruangan Kepala Sekolah.

“Haaaaah, sehari ini udah dua kali dapet masalah, kayaknya masa SMA gue bakalan berat deh,” Keluh Sigit sesaat setelah keluar dari ruangan Kepala Sekolah.

“Woles Bro, dijalanin aja, toh kita kagak bayar ini,” Arez mencoba menghibur.

Dalam hati Ciko setuju dengan perkataan Si Bocah Kamera. Ya, dirinya tidak mengorbankan apapun untuk masuk ke sekolah ini jadi semisal dikeluarkanpun dia tak akan rugi.

“HE HE HE.”

Ciko, Arez dan Sigit melihat ke arah pemuda di hadapan mereka yang tengah tertawa. Terdengar rendah dan mengerikan.

Mereka tak mengerti, bukannya barusan dia juga mendapat peringatan dari Kepala Sekolah? Harusnya dia tidak tertawa seperti itu bukan?

“Menarik.” tubuh Guntra mulai bergetar.

“Apanya yang menarik? Lu gila apa gimana?” tanya Sigit.

“Kalian nggak tahu? Barusan si tua itu nantang kita sekaligus ngebuka pintu untuk balas dendam.” Guntra tersenyum, kali ini dengan cara yang mengerikan.

“Maksudnya?” Arez masih tak mengerti.

“Dia udah ngeremehin kita, dia pikir kita gak bakal bisa bertahan di sekolah ini, memangnya dia siapa?” ucap Guntra. “Dan lagi untuk ngebales perbuatan cewek brengsek tadi kita cuman perlu ngelakuin sesuatu yang gak bertentangan dengan peraturan, artinya kita masih bisa bikin perhitungan.”

“Udah gila nih orang, tetep aja peraturan itu dibuat untuk ngebatasin kita biar gak ngelakuin sesuatu yang aneh-aneh.” Sigit melipat kedua tangannya.

“HE HE HE, batasan bikin kita jadi lebih kreatif.” Guntra melangkah mendekati jendela di depannya. “Gue terima tantangan lu Pak Tua sialan, Mulai hari ini gerakan untuk menaklukan sekolah ini kita mulai!”

Pemuda itu berpose sambil mengarahkan telunjuknya ke langit-langit.

“Kita?” tanya Arez.

“Yoi, gue dan kalian bertiga emangnya kenapa?” tanya Guntra.

“Kan gue gak bilang setuju,” Arez mencoba menolak.

“Tau tuh, lagian gue ngeri sama sifat lo yang suka berubah-berubah gak jelas.” Sigut tersenyum aneh.

“Ah, ayolah, itu cuman kebiasaan lama, Hmmm, sambil mikirin rencana kedepan temenin gue nyari rokok yuk, asem nih mulut.” Guntra merangkul dua teman barunya itu.

Melihat hal itu ada sesuatu yang menggelitik benar Ciko. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Entah kenapa dirinya menjadi bersemangat, tidak mengikuti arus saja seperti biasanya. Jiwa pemberotaknya kali ini bangkit hingga tanpa sadar dirinya tersenyum, tak sabar untuk mengetahui apa yang menanti di sepanjang masa SMA-nya.

“Woi Cik ngapain bengong di situ? Ayo buruan,” ucap Sigit.

“Yo.” Ciko tersadar dari lamunannya dan berjalan menyusul tiga teman barunya.

Tanpa mereka sadari Sang Kepala Sekolah yang mendengar seluruh pembicaraan mereka lalu tersenyum.

“Yah, beberapa orang hanya butuh sedikit dorongan,” ucap pria tersebut.

 

Maybe continue….

-Korek Api-

 

Iklan

13 tanggapan untuk “Delinquents, Part1

      1. menurut gw sih ini cerita lu, soalnya dialognya style lu banget, mirip ama yang zombi zombi ntu model dialognya
        well itu menurut gw doang sih, cuma ngira ngira aka 😂
        ato jangan jangan ini ceritanya arez?

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s