KISAH CINTA SEORANG ATLET LARI MARATHON

KISAH CINTA SEORANG ATLET LARI MARATHON

Genre              : Romantic – Comedy – Sport – Friendship

Inspired By     : Sinka Juliani Prasetya & Yokoyama Yui-han

 

Minggu pagi, saat yang tepat untuk olahraga pagi. Banyak orang yang sedang berolahraga pagi ini bersama dengan seseorang yang dekat dengan mereka. Ada yang berolahraga bersama pasangan, bersama keluarga, ataupun bersama teman-teman mereka. Namun, tidak bagi seorang laki-laki yang tinggal bersama sepupu dan adiknya di salah satu rumah di kawasan perumahan ini. Dia lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya pagi ini karena dia merasa benar-benar malas pagi ini, sehingga sepupu dan adiknya terus berusaha untuk membangunkannya.

“Eh, setan! Bangun lu! Mentang-mentang ini hari minggu, ngebo terus lu ye?” ujar seseorang perempuan pada sepupunya.

“Enggak, ah. Males gue! Mending gue tidur aja kali! Udahlah! Jangan gangguin tidur gue!” balas pria tersebut dengan nada malas sambil kembali menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.

“Ish! Kakak kan udah janji mau ngajak adek jogging keliling komplek?” paksa perempuan yang satunya yang telah bersiap-siap untuk berolahraga pagi alias jogging.

“Udah deh, Ilham! Kalo lu sayang sama adek lu, cepet bangun! Adek lu, si Anin bakal nangis nih kalo lu nggak nepatin janji lu ke dia! Kasihan lho dia udah niat banget buat temenin elu jogging?” perempuan pertama tadi terus memaksanya untuk bangun.

“Huh! Iya deh, Ay. Demi adek gue yang paling gue sayang ini, gue bakal jogging ikut kalian.” ujar laki-laki berusia 17 tahun bernama Ilham itu kepada sepupunya yang bernama Ayana itu.

“Adek sekarang senyum dong!” sambungnya sambil membelai rambut adik kecilnya yang bernama Anin itu.

Gadis bernama lengkap Aninditha Rahma Cahyadi itu pun tersenyum pada sang kakak karena sang kakak akhirnya mau menepati janjinya untuk menemaninya berolahraga pagi ini.

Ilham kemudian menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka, bersiap-siap dengan setelan jersey timnas Jepang dan celana pendek warna, serta sepatu sneakers berwarna merah yang merupakan sneakers kesayangannya. Kemudian mereka bertiga pergi berolahraga pagi bersama-sama mengelilingi komplek sebanyak tiga kali putaran seperti yang biasa dilakukan oleh Ilham dan Ayana pada minggu-minggu atau liburan sebelumnya.

“Hoshh! Hoshh! Hoshh! Capek banget! Ini kita larinya berapa kali sih, kak?” Anin mengeluh kelelahan pada setengah putaran pertama.

“Eh? Sudah capek? Padahal baru aja setengah putaran? Kita kan larinya seperti biasa, tiga kali keliling komplek? Itulah kalau kamu nggak pernah mau ikut kakak jogging pagi. Jadi nggak terbiasa, kan?” ujar Ilham menghentikan joggingnya sejenak.

“Tiga kali? Baru setengah putaran aja udah capek kayak gini, apalagi tiga kali?” balas Anin terkejut.

Ilham menghela nafas sejenak lalu mengeluarkan senyumnya dan berkata “Hmm… Ya udah kalo capek, sini kakak gendong! Tapi nanti kalo udah nggak capek lagi, kamu lanjut lari ya!” sambil mengambil jongkok untuk bersiap menggendong adik kesayangannya itu.

“Eh? Tapi kan aku berat, kak?” ucap Anin ingin menolak.

“Sudahlah! Nggak apa-apa kok. Daripada kamu nanti kami tinggal, kan?” balas Ilham tersenyum.

“Tapi, kak? Aku takut kakak capek nantinya? Jadi aku lanjut lari aja deh, kak.” Anin kembali menolak.

Ilham kemudian berdiri dan tersenyum ke arah adiknya, lalu berkata “Okay lah kalau begitu. Ayo lanjut! Tapi jangan dipaksain ya, dek! Kalau capek, bilang! Nanti kita bertiga istirahat sebentar. Okay?” yang dibalas oleh anggukan oleh Anin yang mulai semangat untuk melanjutkan olahraga paginya.

Semangat Anin membuat Ilham juga Ayana tersenyum dan kembali melanjutkan olahraga mereka berkeliling komplek tiga kali lagi sambil mengobrol. Karena terlalu asyik mengobrol, pada putaran kedua Ilham tak sengaja tersandung oleh gadis yang sedang membetulkan tali sepatunya di jalan dan akhirnya mereka berdua terjatuh dan lutut gadis itu berdarah karena terbentur aspal.

“Aduh! Bisakah lu fokus kalau lagi jogging di sini? Apa lu gak lihat kalau gue yang sebesar ini lagi berhenti? Kan jadi lutut gue berdarah?” Gadis itu marah-marah sambil memlihat lututnya.

“Sorry sorry. Tadi gue keasyikan ngobrol sama adek gue. Jadi akhirnya gue nggak sengaja nabrak elu, deh. Sorry ya! Sorry banget!” kata Ilham sambil mendekati gadis itu dan mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.

Gadis itu seketika mendongak ke atas dan terkejut karena yang menabraknya adalah seseorang yang tidak asing lagi baginya, yakni teman lamanya yang dia tinggalkan dua tahun lalu karena gadis itu harus pindah ke suatu kota yang sangat jauh.

“Ilham Budi Cahyadi?” ucap gadis itu terkejut melihat Ilham yang ada di depannya.

“Sinka Juliani Prasetya? Kamu kapan balik ke sini?” Ilham terkejut saat ia mengetahui bahwa yang ia tabrak ialah teman lamanya waktu SMP dulu yang bernama Sinka Juliani Prasetya.

“Eh? Maaf ya! Tadi aku nggak sengaja.” ucap Ilham sambil membantu Sinka untuk berdiri.

“Iya. Nggak papa kok, kalo yang nabrak kamu. Aku kira tadi orang lain?” Sinka tersenyum kepada Ilham sambil berusaha berdiri dengan bantuan Ilham.

“C.L.B.K.” sahut Anin dengan nada seenaknya.

“Eh? Memangnya kalian berdua berdua punya hubungan apa?” Ayana yang sedari tadi melihat itu juga ikut menyahut.

“Oh iya, Ay. Kenalin! Ini teman lama gue waktu SMP. Namanya Sinka. Kamu juga bisa panggil dia dengan sebutan Dudut. Dut, ini sepupu aku. Namanya Ayana. Bisa dipanggil A-chan juga. Dia sejak SMA kelas 1 tinggal di rumah aku sama Anin.” Ilham memperkenalkan Sinka pada Ayana.

“Aku Sinka. Salam kenal.” ujar Sinka sambil tersenyum.

“Ayana.” balas Ayana singkat.

“Kamu masih aja mengingat julukan “Dudut” itu, Ilham?” Sinka tersenyum ke arah Ilham karena masih mengingat nama yang diberikan Ilham padanya dulu.

“Masihlah, Dut. Orang yang ngasih nama itu ke kamu itu kan aku, Dudut Panda?” Ilham menjawabnya dengan sedikit tertawa.

“Ya udah! Ayo mampir ke rumah! Nanti aku obati luka di lutut kamu sebagai tanda maaf atas barusan. Sekalian ketemu sama Bunda kalau Bunda udah pulang dari supermarket (?)” Ilham mengajak Sinka ke rumahnya untuk mengobati luka di lututnya.

“Eh? Tapi cici aku gimana? Dia masih jauh di belakang, Ilham!” ujar Sinka bingung.

“Udah nggak papa kok, Dut. Nanti juga Cici Naomi bakal pulang sendiri, kan? Sekarang kamu sini! Aku gendong kamu sampai rumah! Kebetulan rumah kami udah deket.” ucap Ilham memaksa.

Sinka akhirnya menuruti kemauan teman lamanya itu untuk mampir ke rumah Ilham dengan cara digendong di punggung Ilham. Rasanya sudah lama sekali Sinka tidak pernah digendong seperti ini oleh teman lamanya yang ternyata masih mengingatnya sampai sekarang. Dan tepat saat bertemu kembali seperti tadi, dia melihat ke arah sepatu yang dipakai oleh Ilham adalah sepatu yang dulu pernah diberinya sebagai kado ulang tahun Ilham sekitar dua tahun yang lalu, tepat seminggu sebelum dia pindah ke kota lain. Yang membuatnya senang juga, sepatu yang ia berikan masih awet meskipun sering dipakai.

“Sepatu itu… ternyata masih awet saja ya, Ilham?” ucap Sinka melihat sepatu yang dipakai Ilham.

“Tentu saja! Ini menjadi sepatu kesayanganku setelah kamu pindah ke luar kota. Jadi aku pasti menjaga dan merawat sepatu ini dengan sepenuh hati, agar kamu merasa senang saat melihatnya lagi.” balas Ilham sambil tersenyum.

“Makasih ya, Ilham. Kamu sudah menjaga sepatu itu buat aku.” Sinka menyandarkan kepalanya pada punggung Ilham yang sedang menggendong dirinya.

“Hehehm. Karena kamu adalah nakama-ku, Sinka.” kata Ilham tersenyum saat Sinka bersandar di punggungnya. *nakama memiliki arti yang lebih kuat daripada tomodachi. Tomodachi berarti teman dalam Bahasa Jepang.

“Aku sayang kamu, Ilham.” ucap Sinka dengan suara yang pelan sehingga Ilham tak begitu mendengarnya.

“Hah? Barusan kamu bilang sesuatu, Dut?” Ilham mendengar ucapan Sinka yang tak begitu jelas terdengar.

“Eh? Aku bilang kalau lutut aku sakit, Ilham.” Sinka terkejut dan mengalihkan pembicaraan ke lututnya yang luka.

“Ya udah. Aku gendong kamu sambil lari deh?” ucap Ilham sambil berlari menggendong Sinka.

Ilham langsung menggendong Sinka menuju rumahnya yang berjarak kira-kira 100 meter dari situ. Saking semangatnya, sampai-sampai hampir saja rumahnya terlewat dan akhirnya mereka terperosok ke rerumputan dekat rumahnya. Beruntung saja mereka tidak merasa sakit karena terjatuhnya di rerumputan. Jika mereka terjatuh di aspal, luka di tubuh Sinka akan bertambah parah lagi.

“Hahahah. Dasar pangeran! Kamu ini nggak pernah berubah dari dulu ya, Ilham? Selalu saja terlalu bersemangat.” ucap Sinka tertawa karena kelakuan Ilham yang tak pernah berubah sama sekali.

“Yeah!!! Aku tak pernah se-semangat ini sebelumnya. Terakhir kali aku se-semangat seperti ini adalah waktu sebelum kamu pindah, Dut. Ini seperti kembali ke masa-masa dulu ya, Sinka?” balas Ilham sambil tersenyum.

“Tapi sepertinya dadamu sama bokongmu juga udah membesar ya, Dudutku? haha” canda Ilham sembari tertawa.

“Eh? Kenapa kamu jadi mengarah ke Bokong dan Dadaku?” Sinka terkejut mendengar candaan Ilham dan menutupi bagian dadanya karena malu.

“Hahahah. Enggak kok, Dut. Bercanda doang.” ujar Ilham tertawa.

“Dasar hentai!” ucap Sinka sambil mencubit bahu Ilham.

“Yosh! Sekarang masuk yuk! Aku obatin lutut kamu yang luka. Sini aku bantu!” Ilham membantu Sinka berdiri dan menentengnya masuk ke dalam rumah.

Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan Ilham meletakkan Sinka di sofa ruang tamu lalu pergi mengambil peralatan “First Aid Kit” untuk mengobati lutut Sinka. Dengan penuh rasa kehati-hatian, Ilham mengobati lutut Sinka sehingga membuat Sinka terus tersenyum ke arahnya yang sedang sibuk mengobati lututnya. Sampai…

“Ehemm! Sweet banget sih, kak? Mentang-mentang pacarnya udah balik lagi ke sini?” sahut Anin yang baru saja pulang karena tadi ditinggal Ilham saat menggendong Sinka sambil berlari kencang menuju sini.

“Jadi ngiri nih gue. Bisa-bisa gue nggak ada yang nemenin jogging nih mulai minggu depan?” Ayana ikut menyahut.

“Apa sih, Ay? Kan masih bisa jogging berempat? Lagian, Sinka bukan pacar gue kali. Dia itu… apa ya??? Dia itu… cuma temen istimewa buat gue. Soalnya… dia ini temen gue yang dulu selalu ada buat gue. Jadi nggak papa lah kalo gue baik-baikin dia dari dalem hati gue sendiri?” Ilham menatap Sinka dengan senyuman yang tulus.

“Eh? Teman istimewa katanya? Dasar gombal!” Sinka melebarkan matanya sambil tersenyum ke arah Ilham karena tercengang sekaligus senang terhadap perkataan Ilham barusan kemudian kembali mencubit bahu Ilham dengan raut wajah yang agak malu-malu kucing.

“Itu emang bener kan, Dudut? Kamu itu temen teristimewa yang aku sayang.” ujar Ilham tanpa sadar berkata demikian pada Sinka di depan sepupu dan adiknya.

Mendengar Ilham berkata demikian, Sinka terkejut namun masih menyembunyikan wajah senangnya di depan Ayana dan Anin karena ia masih malu untuk mengungkapkan perasaannya pada Ilham, seseorang yang juga istimewa di hatinya selama ini. Jadi, dia hanya merespon dengan diam sehingga membuat semuanya bingung, tak terkecuali Ilham yang juga memiliki perasaan yang sama padanya.

“Loh? Kok diem, Sin? Aku bener, kan?” Ilham mengejutkan Sinka dengan kembali menanyakan hal yang sama.

“Eh? Iya, Ilham. Kamu bener. Kamu juga teman teristimewa bagi aku. Makasih ya?” balas Sinka setelah dikejutkan oleh Ilham kemudian langsung menyandarkan kepalanya pada Ilham.

“Ilham to Sinka no saishou ni itoshisa hanashi wa mo hajimeru desu… you nee? (Kisah cinta pertama Ilham dan Sinka dimulai lagi nih?)” Anin menggoda Sinka yang sedang asyik bersandar pada bahu Ilham sambil bersyair dalam Bahasa Jepang.

“Sore ga baka da, Imotto!” Ilham menanggapi pernyataan Anin dengan tertawa. *Baka = Bodoh, Sinting, Konyol. Namun, dalam hal ini mengacu pada kata Konyol. Jadi arti kalimat Ilham barusan adalah “Itu konyol lah, Adik Perempuan!”

“Atashi nee? (Aku benar kan?)” ujar Anin memojokkan Ilham sehingga Ilham pasrah atas ucapan adik kesayangannya itu.

Kemudian suasana hening sejenak dan Sinka berpikir untuk menantang Ilham lomba lari keliling komplek seperti waktu mereka belum terpisah dulu. Sehingga ia mengembangkan senyum manisnya dan mulai membuka tantangannya pada teman istimewanya itu.

“Ilham, bagaimana kalau kita berdua lomba lari?” tantang Sinka sambil mengembangkan senyum manisnya.

“Hah? Lomba lari?” Ilham terkejut mendengar tantangan Sinka.

“Iya! Lomba lari seperti yang sering kita lakukan dulu. Kali ini, kita akan berlomba di Kejuaraan Lari Marathon yang diadakan bulan depan. Sebagai taruhan, yang kalah harus mau menuruti kemauan yang menang! Setuju?” tantang Sinka kembali. *Marathon = Lomba lari dengan jarak tempuh sejauh 42 kilometer.

Ilham kemudian tersenyum penuh percaya diri dan menjawab tantangan dari Sinka dengan pernyataan “Setuju” pada Sinka sehingga membuat Sinka merasa senang sekaligus bersemangat, meskipun dulu Sinka sering dikalahkan oleh Ilham dalam hal kecepatan lari. Benar-benar pasangan yang atletis.

Lalu setelah selesai diobati, Sinka diajak sarapan bersama oleh Bunda karena Sinka sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Bunda. Baru setelah makan, Sinka diperbolehkan untuk pulang.

Setelah Sinka pulang, Sinka menceritakan pertemuannya dengan Ilham hari ini pada sang cici (kakak), Shinta Naomi dengan perasaan yang sangat bahagia karena sudah bertemu kembali dengan teman lama sekaligus orang yang ia pendam perasaannya selama ini di dalam hati.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Hari ini adalah hari Senin pagi, tepat sehari setelah Ilham bertemu kembali dengan Sinka sekaligus sehari setelah ia menerima tantangan Sinka untuk lomba lari pada Lomba Lari Marathon yang akan dilaksanakan sebulan yang akan datang.

Mulai hari ini, pagi-pagi sekali Sinka dan Ilham memulai latihan mereka dengan berlari menuju sekolah (sekolah baru bagi Sinka) yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah mereka berdua. Latihan mereka bertujuan untuk memperkuat sistem organ pernafasan mereka selama berlari sehingga pada hari-H Lomba Marathon nanti, mereka berdua tidak ngos-ngosan hingga mencapai garis Finish nanti.

Sesampainya di sekolah, mereka langsung mengganti pakaian olahraga mereka dengan seragam sekolah mereka dan menuju ke kelasnya, sedangkan Sinka masih di luar karena masih belum mendapatkan kelas baru di sekolah barunya ini.

“Lumayan juga. Lari ke sekolah dalam waktu 30 menit. Besok, aku harus bisa lebih cepat dari ini biar aku bisa ngalahin Ilham karena pasti dia masih bisa berlari lebih cepat daripada aku!” ujar Sinka yang berhenti di depan gerbang sekolah sambil berkomitmen.

Saat Sinka melihat ke arah dalam sekolahnya, dia melihat sosok Ilham yang sedang duduk di depan kelasnya sambil membaca buku dengan serius. Lalu dia menghampiri Ilham dan menyapanya dengan ramah sambil menepuk bahunya.

“Pagi, Ilham!” Sinka menyapa Ilham lalu duduk di sampingnya.

“Hey! Pagi juga, Dudut! Kamu sekolah di sini juga?” ucap Ilham balik menyapa dengan senyuman.

“Iya. Nggak nyangka ya, kita bisa satu sekolah lagi?” balas Sinka sambil melemparkan senyumannya pada Ilham.

“Kamu lagi ngapain nih?” tanyanya.

“Lagi mandi, Dut.” jawab Ilham bercanda.

“Aku serius, pe’ak!” Sinka cemberut mendengar jawaban Ilham.

“Udah tau lagi baca buku, masih nanya aja?” ujar Ilham sambil tersenyum.

“Nggak pernah berubah ya ini cowok? Masih aja ngeselin. Tapi ngomong-ngomong, kamu lagi baca buku apa sih?” tanya Sinka lagi.

“Nih!” Ilham menunjukkan buku berjudul “Percepat Larimu dengan 8 Cara Ini!” kemudian berkata “Biar aku bisa lebih cepat lagi, sehingga aku akan menang melawan kamu, Dudut!” sambil tersenyum.

“Jadi kamu tetap nggak mau kalah dengan aku ya, Ilham? Hahahah. Tapi lihat saja nanti! Aku pasti nggak akan kalah sama kamu karena aku yang sekarang, akan jadi lebih cepat dari kamu!” ucap Sinka dengan penuh percaya diri.

“Hahahah. Ambisimu terlihat dari dadamu yang berkeringat seperti itu, Sinka Juliani! Pasti kamu akan mengalahkanku nanti? Hahahah.” ujar Ilham sambil melihat ke arah dada Sinka yang terlihat karena berkeringat.

“Jadi cepatlah ganti baju seragam kamu dengan seragam baru di kamar mandi sebelum para cowok brengsek yang ada di sini melihat lekuk badanmu yang seperti itu, Sinka!” suruh Ilham.

“Tapi kan aku hanya bawa satu ini, Ilham? Aku juga nggak bawa uang buat beli yang baru.” kata Sinka kebingungan.

“Ya sudah nggak usah bingung gitu, Dut. Ikut aku ke koperasi! Aku beliin kamu seragam lagi. nanti kalo mau diganti, nggak papa. Kalo enggak diganti pun juga nggak papa kok.” Ilham langsung menarik lengan Sinka menuju koperasi sekolah sampai untuk membeli seragam baru.

Ilham pun langsung membelikan Sinka seragam baru yang bersih dari keringatnya. Sinka yang merasa sungkan menerimanya berusaha menolak, namun Ilham tetap memaksanya dengan alasan “Anggap saja ini hadiah dari teman lama!” sehingga Sinka terpaksa menerimanya dan langsung menuju ke toilet siswi untuk mengganti seragamnya, lalu kembali menghampiri Ilham di kelasnya.

“Thanks buat seragamnya ya, Ilham?” ujar Sinka menghampiri Ilham bersama teman-temannya.

“Iya sama-sama, Sin. Yang penting kamu pakai baju yang bersih, kan? Besok-besok, kalo mau latihan lari ke sekolah, kamu pake baju olahraga aja ya!” balas Ilham sambil tersenyum.

“I-iya, Ilham.” ucap Sinka dengan pipi yang memerah.

Melihat ekspresi Sinka, teman-teman Ilham langsung bertanya tentang anak baru yang akrab dengannya itu secara langsung pada Ilham.

“Ciyee. Dia siapa, bro? Kok akrab banget sama elu?” sahut teman Ilham yang bernama Fitroh alias Huda.

“Dia temen lama sekaligus tetangga se-komplek sama gue. Jadi wajar aja kalo kami akrab. Dia baru aja pindah ke sekolah ini, Troh. Kenalin! Namanya Sinka Juliani. Panggil aja dia Sinka atau Chika.” jelas Ilham memperkenalkan Sinka pada Fitroh dan yang lain.

“Salam kenal!” Sinka tersenyum pada Fitroh dan yang lainnya sambil menundukkan kepala.

“Gue Fitroh, lu juga bisa panggil gue dengan sebutan Huda.” ujar Fitroh memperkenalkan diri.

“Gue Farid.” Farid juga ikut memperkenalkan dirinya.

“Gue Nuno. Yang di pojok depan sana pacarku, namanya Kinal.” ucap Nuno sambil memperkenalkan Kinal juga.

“Gue Dandi Bagus Prasetyo. Cowok paling ganteng di tongkrongan ini. Heheheh.” Dandi memperkanlan dirinya dengan penuh kege-eran :v

“I think so. Tapi… tipeku bukan orang kayak kamu, melainkan atlet lari seperti Ilham.” ujar Sinka yang merasa jijik dengan Dandi yang sok kegantengan. :v

Mendengar pernyataan Sinka, seketika Ilham, Farid, Nuno dan Fitroh langsung tertawa puas karena ditolak mentah-mentah oleh seorang Sinka yang lebih tertarik dengan Ilham daripada Dandi. Sinka pun juga ikut menertawakan Dandi dengan puas melihat wajah Dandi yang menyedihkan itu. :v

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Setelah Saishou Bell Ga Naru (bel pertama berbunyi), Sinka diantar oleh guru wali kelas untuk masuk ke kelas barunya. Alangkah terkejutnya Ilham bahwa teman lamanya itu dimasukkan ke dalam kelasnya.

“Selamat pagi! Perkenalkan saya-?” Saat Sinka hendak memperkenalkan diri, ucapannya terpotong oleh Ilham yang tiba-tiba menyahut.

“Sinka Juliani Prasetya!” Ilham menyahut perkenalan Sinka dengan lantang sambil bangkit dari bangkunya.

“Ilham, jadi… kalian saling kenal?” ujar bu guru.

“Lebih tepatnya dia teman lamaku waktu SMP sekaligus…” Ilham ragu untuk menjawabnya. Kemudian ia menatap ke arah gadis keturunan Jepang yang ada di bangku sebelahnya dan tersenyum, lalu melanjutkan kalimatnya kembali.

“Rivalku dalam Marathon sebulan lagi, Bu Stella.” sambungnya sambil tersenyum ke arah Bu Stella.

“Wah, jadi ada sepasang pelari di kelas ini. Apalagi mereka adalah rival. Jadi moment-nya pas sekali. Dia akan mudah berbaur dengan kelas kita. Sinka jangan malu untuk berteman dengan yang lainnya ya! Sekarang kamu boleh duduk di sebelah Yokoyama Yui di sana!” ucap Bu Stella menunjuk ke arah gadis keturunan Jepang di sebelah Ilham tadi.

Sinka langsung menghampiri bangku sebelah Ilham dan duduk di kosong di sebelah gadis keturunan Jepang yang memang telah duduk sendirian sejak awal.

Dengan ramah, Sinka menyapa gadis keturunan Jepang bernama lengkap Yokoyama Yui itu sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah teman sebangkunya yang terlihat sedikit pendiam itu.

“Hey! Perkenalkan, namaku Sinka Juliani. Panggil saja aku Sinka atau Chika, bisa juga dipanggil Dudut.” ujar Sinka sambil tersenyum.

“Eh? Aku Yokoyama Yui. Panggil saja aku Yuihan. Aku-?” ucapan Yuihan terpotong oleh sahutan Ilham.

“Dudut, Yuihan itu-” Ilham ragu untuk menjelaskan tentang Yuihan yang sebenarnya pada Sinka.

Kemudian Ilham menghela nafas dan menjawab dengan jawaban lainnya, yakni masa lalu Yuihan bahwa dia dulu adalah seorang pelari seperti Ilham dan Sinka.

“Yuihan itu sebenarnya juga pelari lho. Tapi dia berhenti jadi atlet lari karena jatuh waktu Marathon tahun lalu dan kakinya cidera. Jadi saat ini dia cuma berlari buat jaga kesehatannya saja.” jawab Ilham menjelaskan bahwa Yuihan adalah seorang mantan pelari.

Sinka yang mendengarnya seketika terkejut dan langsung bertanya pada Yuihan “Apakah benar kamu juga pelari sepertiku?” dan Yuihan menjawabnya dengan senyuman.

“Pas sekali. Kita bisa lari sama-sama saat berangkat ke sekolah besok.” ajak Sinka bersemangat.

“Atau bagaimana kalau kita berdua lomba lari 100 meter di lapangan nanti sore?” tantang Sinka yang dibalas dengan penolakan dari Yuihan sehingga membuat Sinka cemberut.

“Kok Yui-chan juga kamu tantang lomba lari sih, Dut?” gumamnya sambil menggelengkan kepala.

Kemudian mereka menghentikan obrolan mereka dan mulai fokus ke materi pelajaran yang diberikan oleh guru sampai bel istirahat pertama berbunyi dengan keras.

Setelah jam menunjukkan jam 10 tepat, bel istirahat berbunyi dengan sangat keras dan seisi kelas mulai berhamburan menuju luar kelas. Ada yang ke kantin untuk makan sambil bergosip, bermain futsal, basket, volleyball, bulutangkis seperti Farid dan Dandi, juga ada yang berpacaran di taman belakang sekolah termasuk Fitroh dengan siswi kelas lain bernama Yona yang sangat suka berpacaran di sana.

“Ilham, Yuihan, ke Kantin yuk!” ajak Sinka.

“Eh? Tidak, terima kasih. Kalian berdua saja yang ke Kantin! Aku lagi males keluar. Lagipula aku juga bawa bekal kok.” ujar Yuihan menolak.

“Ya sudah, kami duluan ya! Bye, Yuihan!” Sinka seketika menarik lengan Ilham menuju kantin.

Menyisakan Yuihan sendiri di dalam kelas yang sudah mengeluarkan bekal yang dibawanya lalu menyantapnya dengan lahap. Kemudian saat hendak menyantap bekalnya, ponsel Yuihan berbunyi menandakan ada pesan masuk. Lalu Yuihan memeriksanya dan ternyata pesan yang masuk itu adalah WhatsApp dari seseorang yang membuat Yui menganggukkan kepalanya dan kemudian tersenyum melihat isi pesan itu.

Di kantin, Ilham dan Sinka memesan siomay dan es jeruk kemudian memakannya di meja pojok Kantin sambil sedikit berbicara tentang Yuihan yang lebih memilih tetap di kelas daripada ikut mereka berdua makan di Kantin sekolah. Tentu saja alasannya karena “Sinka Penasaran” dengan sikap Yuihan yang sedikit dingin terhadapnya.

“Yuihan itu kenapa sih nggak mau ke Kantin sama kita? Terus kenapa juga dia sikapnya agak sedikit cuek gitu ke aku?” tanya Sinka dengan wajah yang penasaran.

“Kamu mau tau alasannya kenapa dia cuek?” Ilham bertanya balik pada Sinka sehingga membuat Sinka semakin penasaran.

“Iya, Ilham. Aku pengen tau banget.” balas Sinka semakin penasaran.

“Okay. Aku akan kasih tau kamu tentang Yuihan dan alasan kenapa dia berhenti jadi pelari.” ucap Ilham.

“Sebenarnya sejak Marathon tahun lalu, Yuihan jatuh ke jurang saat berlari di tikungan jalan menurun karena dia berlari terlalu cepat dan membuat kaki kanannya cacat.” sambungnya dengan nada yang serius.

“Itu sebabnya dia menolak tantangan kamu tadi. Itu karena dia malu sama kamu, Sinka. Dia tidak ingin kamu seperti teman-temannya yang dulu ninggalin dia gitu aja karena dia cacat.” tambahnya sambil memainkan makanannya.

“Benarkah?” tanya Sinka tak percaya.

“Coba saja nanti kamu lihat cara dia berjalan! Pasti dia akan berjalan seperti itu?” balas Ilham sambil melihat ke arah Yuihan yang sedang berjalan menuju perpustakaan dan sedang jadi perhatian siswi lain yang jijik melihat Yuihan berjalan dengan menyeret kaki kanannya.

Sinka akhirnya mengetahui masalah yang dialami Yuihan lalu dia segera mendekati Yuihan dan membantunya berjalan ke perpustakaan dengan senyuman yang ia berikan pada Yuihan sehingga membuat Yuihan terkejut dengan sikap Sinka padanya.

“Sini! Aku bantu kamu berjalan. Mau ke perpustakaan, kan?” ucap Sinka sambil menaruh lengan Yuihan ke bahunya.

“Sinka?” Yuihan terkejut dengan Sinka yang tiba-tiba datang membantunya berjalan menuju perpustakaan.

“Maaf udah nantang kamu lomba lari, Yuihan! Aku nggak tau kalo cidera yang dimaksud Ilham tadi adalah… maaf sebelumnya ya? Cacat seperti ini.” ucap Sinka memohon maaf.

“Sinka, seharusnya kamu nggak bantuin aku kayak gini! Aku malu jika kamu membantuku berjalan seperti ini.” ujar Yuihan sedih.

“Nggak papa kok, Yuihan. Kita nakama, kan? Jadi aku bakal selalu ada buat kamu sebagai nakama. Aku janji.” Sinka mengembangkan senyumannya pada Yui sebagai janji persahabatannya pada sahabat barunya itu.

Nakama wa arigatou gozaimasu.” Yuihan berterima kasih pada Sinka yang rela menjadi sahabatnya selain orang yang mengirimi Yuihan pesan melalui WhatsApp tadi.

Sinka sudah mendapatkan sahabat baru di sekolahnya, yakni Yuihan. Meskipun Yuihan memiliki kaki yang cacat, namun Sinka mau menerima Yuihan apa adanya karena Yuihan juga sangat baik terhadapnya sehingga fisik Yuihan sudah tidak dia hiraukan lagi. Begitupun dengan Yuihan, dia juga senang karena Sinka mau menerimanya sebagai sahabatnya tanpa menghiraukan fisiknya yang cacat sehingga kini, ia tidak pernah malu dengan fisiknya lagi karena setiap dicemooh, Sinka akan selalu melindunginya karena hanya Sinka, dan juga sosok pengirim pesan WhatsApp pada Yuihan lah yang mengerti bagaimana perasaan yang Yuihan rasakan sampai sekarang.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Selama seminggu ini, persahabatan Sinka dan Yuihan semakin dekat saja. Bahkan, Sinka selalu ada di sebelah Yuihan setiap saat (kecuali saat tidur). Ia selalu membantu Yuihan berjalan sehingga Yuihan merasa bersyukur dengan adanya Sinka di sisinya. Sampai pada suatu ketika, Yuihan melihat perbedaan sikapnya terhadap Ilham yang membuat dia menjadi sedikit bingung dan menanyakannya saat di kelas.

“Sinka, tatapanmu pada Ilham itu… sepertinya sedang ada yang kamu sembunyiin dari dia? Apa kamu ada perasaan ke dia?” tanya Yuihan penasaran.

“Sejujurnya, Yuihan. Aku sayang sama dia melebihi sayang seorang nakama. Tapi aku takut ngungkapin perasaan ini padanya. Menurut kamu, aku harus gimana sekarang?” Sinka menceritakan perasaan bimbangnya sambil meletakkan tangan di dada (hati).

Mendengar curhatan Sinka, Yui menghela nafas sejenak dan memegang bahu Sinka sambil tersenyum dan merespon curhatan Sinka dengan memberikan solusi atas masalah yang dialami Sinka.

“Hmmm… Dudut, punya perasaan pada seseorang itu wajar. Tapi kalau kamu hanya memendamnya di dalam hati, maka rasanya pasti sangat sesak, kan di sini (menunjuk dada Sinka)? Jadi lebih baik kamu ungkapkan perasaan kamu ke Ilham. Tapi, jangan sakit hati jika nanti dia bilang sesuatu yang nggak enak di telinga kamu!” Yuihan memberikan solusi pada Sinka sambil memberikan senyuman tulus padanya.

“Maksud kamu, Yuihan? Bilang sesuatu yang nggak enak yang kayak gimana?” balas Sinka kebingungan.

“Lihat saja nanti, Sinka! Yang pasti, kamu harus siapkan mental dan hatimu sebelum kamu mengungkapkan perasaanmu kepada Ilham, sehingga nanti kamu akan siap menerima jawaban apapun yang diberikan oleh Ilham padamu. Yang penting, kamu semangat ya, nakama-ku!” jawab Yuihan tersenyum sambil menempelkan dahinya pada dahi Sinka seperti halnya ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Arigatou, Yuihan. Kamu memang nakama terbaik aku. Aku akan siapkan mentalku selama tiga minggu ini. Aku akan mengungkapkannya setelah Marathon selesai dilaksanakan nanti.” ucap Yuihan membalas pelukan Yuihan.

“Seandainya saja Ilham memperbolehkanku mengatakan padamu tentang rahasia di balik cowok yang mengirim pesan WhatsApp-ku yang sempat aku ceritakan padamu waktu itu, Sinka.” ucap Yuihan dalam hati sambil tetap memeluk Sinka dengan erat.

Setelah lama berpelukan, Sinka dan Yuihan tiba-tiba dikejutkan oleh Anin yang datang dari arah lapangan dengan raut wajah yang khawatir diikuti oleh Ayana dengan ekspresi wajah yang sama seperti raut wajah Anin.

“Sinka!” kejut Ayana dengan cemas sehingga membuat Yuihan dan Sinka terkejut.

“Kak Ilham…! Kak Ilham sekarang lagi ada di UKS!” sambung Anin dengan nada yang lebih cemas daripada Ayana.

“Hah? Kok bisa?” kejut Sinka dan Yuihan bersamaan.

“Semalam dia tidak tidur sama sekali. Jadi dia pingsan dan sekarang lagi ada di UKS. Lebih baik kita ke sana sekarang!” ujar Anin.

“Ya sudah. Kita ke sana sekarang! Ayo Yuihan! Aku bantu!” ucap Sinka hendak membopong Yuihan menuju UKS.

“Tidak usah! Aku akan jalan sendiri. Kalian bertiga duluan saja! Aku nanti nyusul.” balas Yuihan menolak sambil memberikan senyuman.

“Yuihan?” Sinka menghela nafas sejenak.

“Sudah cepetan! Kasihan Ilham sendirian lho!” balas Yuihan sambil tersenyum.

Sinka mengangguk dan menuruti perintah Yuihan untuk pergi meninggalkannya menuju UKS untuk menjaga Ilham yang sedang pingsan sendirian di UKS.

“Ilham-kun, anta wa ahou ka? Kenapa kamu bisa pingsan seperti ini? Membuat kami khawatir saja.” ujar Yui sambil berjalan menuju UKS yang terletak di gedung seberang lapangan sekolah.

Setibanya Yuihan di UKS, dia mendapati Sinka sedang menangis di samping ranjang Ilham karena Ilham tidak juga siuman dari pingsannya sehingga membuat Yuihan juga ikut merasa khawatir terhadap Ilham. Kemudian, Yuihan pun duduk di samping Sinka dan ikut menjaga Ilham sampai Ilham siuman.

“Jangan menangis, Sinka! Ilham hanya pingsan saja. Mungkin saja insomnianya kambuh tadi malam. Jadi dia tidak tidur semalaman. Sekarang kamu kembalilah ke kelas ya! Aku akan jaga dia untuk kamu.” ujar Yuihan berusaha menenangkan Sinka.

“Walaupun sebenarnya aku ingin berbicara empat mata dengan dia.” gumamnya.

Sinka membalas perintah Yuihan dengan anggukan dan kembali menuju kelasnya sehingga menyisakan Yuihan dan Ilham yang sedang terbaring di atas ranjang UKS.

Selama menjaganya, Yuihan tetap berusaha membangunkan Ilham dengan cara meneteskan air alkohol pada kapas dan menciumkan aromanya yang menyengat di dekat hidung Ilham sehingga ia berhasil membangunkan Ilham yang sedang pingsan. *Tips Palang Merah Remaja (PMR) : Jika ada yang pingsan, cobalah cara yang dilakukan Yuihan barusan karena cara ini terbukti ampuh untuk membangunkan pasien yang pingsan tersebut.

“Eh? Syukurlah. Kamu sudah siuman, Ilham-kun.” ucap Yui mulai tersenyum tenang.

“Yui-chan? Koko wa… Jyogakuen no Kenkou heya ka? (Di sini kan… UKS?)” ujar Ilham lemas.

“Sekarang aku tanya sama kamu. Anta wa ahou ka? Kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini? Sejak seminggu terakhir ini, kamu tidak tidur seharian kan? Hanya untuk membagi waktu antara aku dengan Sinka?” Yuihan langsung menghujaninya dengan pertanyaan.

“Apa kamu lupa rencana kita sejak awal Sinka bersekolah di sini, kah? Aku sudah tau perasaannya padaku. Hanya saja dia nggak mau ungkapin itu ke aku. Aku tau sifatnya sejak dulu sebelum aku mengenalmu. Karena perasaan sayangnya yang terlalu besar terhadapku, jadi aku terpaksa menyembunyikan hubungan ini padanya karena aku takut dia akan sakit hati jika aku memberitahukan hubungan kita padanya sekarang.” jelas Ilham.

“Tapi sampai kapan kamu akan sembunyikan hubungan ini?” tanya Yuihan protes.

“Aku yakin pasti tiga minggu lagi dia akan menembakku setelah Marathon nanti. Itulah sebabnya dia menantangku lomba lari pada Marathon nanti, karena dia yakin bahwa dia akan menang melawanku. Jadi saat itu pula, aku juga akan memberitahukan rahasia ini padanya.” ujar Ilham.

“Kenapa kamu mau menjadikanku sebagai pacar, Ilham-kun? Padahal seperti yang kamu lihat, kaki kananku ini pincang. Sedangkan Sinka? Dia sempurna.” ucap Yuihan sambil menangis tersedu-sedu.

“Jawabannya cukup simple, karena kamu… punya tekad yang kuat meskipun fisikmu tidak sempurna. Itulah yang membuat aku tertarik padamu. Bagiku, Sinka akan tetap jadi nakama-ku. Aishiteiru you, Yokoyama Yui-chan. (Aku sayang sama kamu, Yokoyama Yui-chan)” Ilham memegang telapak tangan Yuihan dengan penuh kasih sayang.

Pernyataan Ilham barusan membuat Yuihan tercengang sekaligus bahagia karena Ilham mau menerimanya dengan sepenuh hati meskipun Yuihan mempunyai kaki yang cacat akibat kecelakaan pada Marathon yang dia alami tahun lalu.

“Ilham-kun?” Yui memanggil nama Ilham dengan pelan.

“Iya?” balas Ilham merespon.

“Ilham-kun no te wa… attakai. (Tanganmu… hangat)” ucap Yui sambil tersenyum lebar ke arah Ilham. *Attakai = Atatakai = Hangat

“Nukumori wa kanjirou ya na? (kamu bisa merasakan kehangatan, kan?)” Ilham ikut tersenyum sambil membelai tangan Yuihan.

“Aha. (iya.)” balas Yuihan kembali tersenyum lebar.

Setelah mengobrol empat mata di UKS, Yuihan memutuskan kembali ke kelasnya untuk ikut pelajaran selanjutnya.

“Yosh! Ima, atashi wa kyoushitsu wo kaerun da you. Naoru hayaku kudasai! (aku harus kembali ke kelas sekarang. cepat sembuh ya!)” ucapnya bangkit dan pamit untuk kembali menuju kelas.

Ilham mengangguk lemas.

Yuihan kembali ke kelas untuk mengikuti jam pelajaran yang segera dimulai dengan terpincang-pincang, sehingga dia kembali diganggu oleh sepasang gadis yang mengklaim bahwa mereka adalah anak penyalur saham terbesar di sekolah ini.

“Hey, pincang! Tumben sendirian? Ilham sama Anak baru itu mana?” tanya Manda dengan nada yang menghina.

“Pasti mereka mulai jijik bergaul dengan cewek pincang kayak dia ini (?)” ucap Acha ikut menghina.

“Benar sekali! Lagian, siapa juga yang mau bergaul sama cewek cacat kayak dia ini?” Manda menginjak-injak kaki kanan Yuihan dengan keras.

Yuihan yang merasa kesakitan menangis dengan keras sambil berteriak kesakitan “Arghhh! Ittai!” karena terus diperlakukan seperti Doubutsu oleh Manda dan Acha yang selalu saja mengganggunya setiap Ilham dan Sinka sedang tidak ada bersamanya. Anehnya, tak ada yang mau membantu Yuihan sama sekali dan hanya melihat. Tiba-tiba…

“Manda, Acha, kalau kalian berdua nggak berhenti gangguin Yui-san, aku nggak akan segan-segan untuk habisin kalian meskipun kalian berdua adalah anak dari pemilik saham terbesar di sekolah ini!” Anin menjambak rambut Manda dan Acha secara bersamaan.

“A-Anin?” ucap Manda terkejut.

“Kenapa loe belain cewek pincang kayak dia?” ujar Acha.

“Kenapa? Tanya aja ke kakakku sendiri!” ucap Anin langsung mendorong Manda dan Acha sampai terjatuh.

“Shiakusho! (Sialan!)” Acha hendak membalas perbuatan Anin.

Namun, Sinka yang datang secara tiba-tiba dengan sigap langsung memegang tangan Acha dan menghalanginya untuk menyerang Anin.

“Jangan ganggu Yuihan dan Anin! Pergi!” Sinka berkata demikian pada Acha dan Manda.

“Hahahah. Sinka, gimana kalau kita lomba lari saja! Kalau kamu menang, kami berdua nggak akan gangguin Yuihan lagi. Tapi kalau kami yang menang, jauhin Yuihan dan kamu harus gabung sama kita-kita untuk injak dia lebih rendah lagi!” tantang Acha.

Sinka menghela nafas sejenak lalu terdiam.

“Jangan bilang kalau kamu takut ya, Sinka!” ucap Acha.

“Hmm… Okay. Aku setuju. Nanti sepulang sekolah, kita lomba lari dari sini sampai gerbang komplek rumahku.” balas Sinka.

“Setuju!” jawab Acha kemudian mereka berdua pergi meninggalkan Anin, Yuihan, dan Sinka di tempat itu dan Sinka langsung menghampiri Yuihan untuk membantunya berdiri.

“Kenapa kamu balik ke kelas sindirian? Harusnya kamu tungguin Ilham siuman, baru bisa balik ke kelas! Kamu tau kan, apa yang terjadi kalau kamu berkeliling sekolah sendirian? Sekarang kamu aku antar ke UKS! Kaki kamu pasti sakit habis dibully sama mereka berdua?” ucap Sinka membantu Yuihan berdiri.

“Lain kali jangan pernah sendirian lagi ya, Yui-san! Kami pasti akan lindungin Yui-san.” Anin menambahkan.

“Arigatou, Sinka. Kamu memang nakama yang baik sekali.” ujar Yui sambil tersenyum.

“Kamu juga, Anin-chan.” sambungnya melihat ke arah Anin.

“Sama-sama. Yui-san kan-” Anin tiba-tiba ragu untuk menjawab bahwa Yuihan adalah pacar Ilham di depan Sinka.

Seketika Anin tertunduk dan melanjutkan kalimatnya dengan nada lesu.

“Anii-chan no nakama da you. (Temannya kakakku.)” sambungnya dengan nada lesu. *Anii-chan = Kakak laki-laki, Aneeki atau Anee-chan = Kakak perempuan.

“Sepertinya dia juga tidak ingin membuat Sinka sakit hati?” gumam Yuihan sambil tersenyum.

Anin dan Sinka pun mengantar Yuihan kembali ke ruang UKS sehingga membuat Ilham terkejut kenapa Anin dan Sinka mengantarnya kembali kemari (UKS). Sampai Ilham langsung mengambil posisi duduk di atas ranjang dan menanyakannya pada Sinka dan Anin.

“Apa yang terjadi sama Yuihan?” tanya Ilham terkejut melihat Yuihan yang datang kembali kemari.

“Seperti biasa, dia dibully lagi sama si Acha sama Manda. Dan kaki kanannya sempat diinjak sama si Acha sampai-sampai dia kesakitan kayak gini.” balas Anin.

“Lain kali jangan pernah biarin Yui-san sendirian kayak tadi ya, Kak! Selama masih ada Acha sama Manda, Yui-san nggak akan aman.” sambungnya.

“Kenapa sih mereka nggak pernah berhenti gangguin kamu?” Ilham mulai geram dengan kelakuan dua gadis pengganggu itu.

“Tapi tenang saja! Aku pasti akan menang nanti sore, Ilham.” sahut Sinka tersenyum.

Ilham yang mendengar ucapan Sinka barusan langsung terkejut dengan apa yang dikatakannya sehingga dia langsung bangkit dari ranjang dan berjalan menuju Sinka.

“Maksudmu? Kamu nantang Acha lomba lari?” Ilham terkejut dan duduk di dekat Sinka.

“Ini demi harga diri nakama-ku, Ilham. Aku nggak bisa biarin mereka terus menginjak harga diri Yuihan. Jadi percayalah! Aku akan kalahkan dia.” balas Sinka.

“Tapi kan… Acha itu pasti akan bisa kalahin kamu dengan mudah?” ujar Ilham.

“Tak peduli dia curang atau nggak, yang pasti aku akan kalahin dia.” Sinka tersenyum penuh percaya diri.

“Acha itu adiknya Ronaq. Mereka berdua pelari yang hebat. Aku saja nggak bisa ngalahin speed Ronaq sama Kai, apalagi kamu yang memiliki speed yang sama denganku? Jadi sudah pasti kamu akan kalah, Dut.” ucap Ilham.

Sinka seketika memegang pipi Ilham dan mengusapnya perlahan dengan penuh perasaan dan mencoba membujuk agar Ilham percaya padanya, karena Sinka percaya akan bisa mengalahkan Acha nanti sore.

“Ilham, diriku yang dulu bukan diriku yang sekarang. Speed dalam berlari nggak mempengaruhi. Yang penting adalah daya tahan tubuh, kekuatan nafas, dan juga kekuatan hati yang bisa bikin speed kita menjadi lebih cepat. Jadi aku mohon, percayalah padaku!” ucap Sinka dengan nada pelan.

Ilham menghela nafas sejenak mendengar kata-kata dari Sinka.

“Hmm… Okay. Aku percaya sama kamu. Kasih tau Acha kalo aku juga akan tantang Ronaq. Aku juga ingin membalas kekalahan yang dulu aku alami atas dia.” ujar Ilham.

Tiba-tiba Acha datang dan meremehkan ucapan Ilham.

“Apa? Kamu mau tantang kakakku lagi? Hahahahah. Hello!!! Apa aku nggak salah denger? Kamu lupa sama kekalahan kamu waktu lawan kakakku dulu?” sahut Acha dengan nada meremehkan.

“Tapi Ronaq tidak bisa dikatakan menang sampai lawannya benar-benar tunduk, kan?” balas Ilham tersenyum penuh percaya diri.

“Glekk!” Acha menelan ludahnya dan menghela nafas sejenak.

“Okay. Ini menarik sekali. Kalo gitu aku akan kasih tau kakakku juga. Kalau kalah, sebaiknya kamu berhenti jadi atlet saja ya, Anak dari Melody!” ujar Acha sambil tertawa lalu kembali ke kelasnya.

Sudah diputuskan bahwa Acha akan berlomba dengan Sinka, dan Ilham akan kembali berlomba dengan kakak Acha, yaitu Ronaq sore ini. Tujuan mereka lomba lari semata-mata hanya untuk mengangkat kembali harga diri Yuihan dan juga membalas kekalahan Ilham atas Ronaq di masa lalu. Dalam perlombaan ini, Yuihan, Anin, dan Ayana memberikan kepercayaan penuh pada Sinka dan Ilham karena mereka yakin bahwa Ilham dan Sinka pasti bisa mengalahkan dua bersaudara itu dengan tidak mengandalkan speed saja, melainkan juga menggunakan kekuatan hati mereka.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Pertandingan antara Ilham-Sinka melawan Ronaq-Acha siap dimulai. Semuanya bersiap berlari dengan rute start di depan gerbang sekolah dan finish di depan gerbang komplek perumahan tempat tinggal Sinka dan Ilham. Sebelum melakukan perlombaan, Ilham dan Sinka melakukan beregangan dan pemanasan. Sedangkan, Ronaq dan Acha hanya memandang remeh lawan mereka masing-masing.

“Lebih baik nyerah sebelum kalah, Keluarga Cahyadi dan Prasetya! Nggak ada gunanya juga kalian melakukan pemanasan!” ujar Ronaq yang diikuti oleh Acha.

“Kalo kalian berdua nggak pemanasan, nanti bisa kram di tengah jalan lho!” balas Sinka seenaknya.

“Lagipula, lu kagak bisa dibilang benar-benar menang kalo gue belum benar-benar tunduk di hadapan lu.” Ilham mengulangi ucapannya sewaktu di UKS tadi.

“Terserah!” Ronaq mengambil posisi jongkok dan diikuti oleh Acha.

“Hitung mundur dari Three… Two… One!!! And..?” ucap Ilham mengambil posisi jongkok yang diikuti oleh Sinka.

“GO!!!” Mereka berempat langsung berlari dengan cepat sehingga terlihat jelas persaingan antara mereka berempat dan ketika di tengah perjalanan, Ronaq dan Acha sengaja melakukan kecurangan dengan cara menjegal Sinka sehingga Ilham yang seharusnya terus berlari, harus berbalik dan membantu Sinka berdiri agar Sinka bisa berlari kembali.

“Kamu nggak papa kan, Sinka? Masih sanggup berlari?” ucap Ilham sambil membantu Sinka bangkit.

“Iya. Sepertinya mereka berniat main kotor. Aku akan tunjukkan hasil latihan kerasku selama dua tahun ini!” balas Sinka tersenyum.

“Bukan cuma kamu saja yang latihan lho, Sinka! Aku juga berlatih keras selama ini.” ujar Ilham

“Jangan banyak bicara! Mereka sudah jauh lho!” sahut Sinka sambil mengambil posisi jongkok untuk memulai larinya kembali.

“Yeah! Semangatku sedang top gear sekarang!” Ilham juga ikut berjongkok untuk memulai berlari.

“Three… Two… One!!!” Ilham dan Sinka mulai bersiap.

“And… GO!!!” Mereka berdua pun mulai berlari dengan sangat cepat sehingga setelah 10 menit berselang, Acha dan Ronaq yang meremehkan mereka mulai mempercepat lajunya karena mereka telah didahului oleh Ilham dan Sinka.

Persaingan yang sengit terjadi. Ronaq dan Acha berusaha melakukan kecurangan lagi, namun bisa ditebak oleh Ilham dan Sinka sehingga mereka berdua langsung menghindari sliding tackle Ronaq dan Acha dengan cara mempercepat lari mereka.

Sampai mereka sampai di 1 kilometer menjelang finish, Ronaq dan Acha dengan cepat kembali mendahului Ilham dan Sinka. Dengan santainya mereka berdua meninggalkan Ilham dan Sinka jauh di belakang. Karena tertinggal, Ilham dan Sinka mulai berpegangan tangan dan menambah kecepatan bersama-sama sehingga saat mereka hampir sampai di depan gerbang komplek perumahan Sinka dan Ilham (hanya berjarak sekitar berjarak 100 meter dari finish), mereka hampir saja menyalim Ronaq dan Acha. Namun, saat hampir sampai di Finish yang berjarak tinggal 5 meter lagi, Ronaq dan Acha tiba-tiba jatuh karena kaki mereka terkilir sehingga Ilham dan Sinka berhasil mendahului mereka dan sampai di finish dan memenangkan lomba mereka.

Setelah menang, Ilham dan Sinka langsung berbalik ke Acha dan Ronaq untuk membantu meregangkan otot-otot kaki Ronaq dan Acha yang kram sehingga membuat Ronaq dan Acha terjatuh.

“Makanya, Naq. Sebelum lomba, jangan lupa stretching sama pemanasan dulu biar nggak kram kayak gini.” ucap Ilham sambil meregangkan otot kaki Ronaq.

“Kamu juga, Acha! Jangan suka menganggap remeh lawanmu meskipun mereka terlihat lebih lemah darimu, mentang-mentang kalian adalah anak dari pemilik saham terbesar di sekolah. Ingat! Yang penyalur saham terbesar di sekolah itu orang tua kalian, bukan kalian sendiri! Jadi jangan sombong!” Sinka membantu Acha sambil menasihati Acha.

“Sorry, Sinka. Sorry juga, Ilham. Aku janji nggak akan injak harga diri kalian lagi.” ucap Acha menyesal.

“Hey, bro! Kalah nggak terlalu buruk, kan?” ucap Ilham sambil tersenyum ke arah Ronaq.

“Gue tumbuh dan belajar kekalahan dari loe sekali. Jadi, gue cuma perlu untuk membalasnya saja.” sambungnya.

“Jadi itu alasannya kenapa lu tantang gue lomba lari lagi? Pasti lu udah melewati latihan yang keras ya? Maaf kalo gue udah ngeremehin kalian berdua. Kalian berdua emang pemenang sejati.” balas Ronaq.

“Sekarang pulanglah kalian berdua!” ujar Ilham dan Sinka lalu pergi meninggalkan Ronaq dan Acha pulang.

Ronaq dan Acha pun pulang menuju rumah mereka di komplek sebelah. Mereka berdua mendapat pelajaran yang berharga sore ini bahwa “meremehkan lawan mereka merupakan suatu awal dari kekalahan yang mereka alami” sehingga mereka berdua tidak akan pernah meremehkan lawan mereka lagi.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Laptime di masa remajaku ini… Bagai sedang berlomba,,, kehabisan nafas,,, dan basah bermandikan keringat… sedetik pun harus bisa lebih cepat!!!” (bacanya jangan sambil nyanyi! :v) suara nada alarm dengan dering lagu Seishun no Laptime yang membangunkan tidur seorang Sinka membuat Sinka terbangun di Selasa pagi yang diguyur oleh hujan yang sangat deras itu. Hujan deras yang turun di awal bulan September seperti sekarang ini membuat Sinka bingung harus melakukan apa.

“Hujan di awal September? Tak biasanya terjadi terjadi seperti ini.” Sinka bergumam melihat rintik hujan yang mengguyur di luar.

“Sepertinya musim hujan datang lebih awal? Jadi nggak bisa latihan lari buat Marathon tiga minggu lagi, deh?” ucap Sinka mengeluh karena hujan turun.

Tunggu sebentar! Alur ceritanya tidak seperti ini! Jadi scene barusan dilupakan saja ya! Hahahahah. :v

Sinka      : “Ilham, kalau bikin cerita itu yang bener kenapa sih!”

Author   : “Maaf, Dudut! Efek kurang tidur mungkin, dut?

Yuihan   : “Dasar bodoh kamu, Ilham-kun! Awas saja kalau ceritanya salah lagi! Jatah malem kamu bakal aku kurangi!” *sambil mukul perut Author :3

Author   : “Sejak kapan kamu bisa Bahasa Indonesia?” *takut.

Yuihan   : “Sejak kamu jadiin aku cast di cerita fanfict kamu.”

Author   : “Iya iya. Boku wa maji da you!”

Tuh kan? Sinka sama Yuihan-nya juga ikut protes. Maafkan Author, Reader! :v Kalo kata Tano Yuka pas Majisuka Gakuen Stage – Kyoto Chifu Shugakuryokou sih gini : “TEHE PERO DE GATSU” :v *tehe pero artinya menirukan suara aneh atau menjulurkan lidah, dilakukan pada saat seseorang melakukan kesalahan (seperti Author :v)

  1. Yuka : “Kenapa kamu juga bawa-bawa aku sih?” *protes

Author   : “Tehe pero de utchy! :3”

Dan Tano Yuka juga ikutan marah ternyata. Karena namanya dibawa-bawa ke dalam percakapan tidak penting ini. Hahahah. Okay! Kembali ke topik cerita utama!

Suara alarm ponsel yang berbunyi tepat jam 5 tersebut membangunkan Sinka. Namun seperti biasa, Sinka pasti sudah bangun 30 menit sebelum alarm berbunyi. Sehingga membuat Sinka yang baru saja keluar dari kamar mandi segera mengambil ponselnya yang berbunyi dan mematikan alarm di ponselnya tersebut.

“Sepertinya sudah nggak ada gunanya lagi aku memasang alarm dengan keras, sedangkan aku sekarang sudah bisa bangun pagi sendiri bahkan mendahului dering alarm Seishun no Laptime ini.” Sinka bersiap-siap memakai pakaian olahraga yang akan dia pakai untuk berlari ke sekolah pagi ini.

Setelah berganti pakaian, Sinka menata buku pelajaran hari ini dan segera menuju ke dapur untuk berpamitan dengan orang-orang rumah seperti biasa.

“Papi, Mami, Ci Shinta! Chika berangkat dulu ya!” Sinka melakukan pemanasan sejenak lalu berlari menuju sekolah.

Begitupun dengan Ilham. Dia bahkan sudah berlari ke sekolah lima menit sebelum Sinka dan sengaja menunggu Sinka di depan rumahnya agar mereka berdua bisa berlari bersama-sama.

“Maaf sudah menunggu, teman!” ujar Sinka.

“Doushite kimi wa anai da you, Dudut? Hashirete koi! (Kamu lama sekali, Sinka? Ayo berlari!)” ucap Ilham yang sudah menunggu Sinka sejak tadi.

Kemudian mereka berdua berlari menuju sekolah bersama-sama dan sampai di sekolah lebih cepat dari hari-hari kemarin. Yang biasanya mereka berlari ke sekolah (5 kilometer) memerlukan waktu 30 menit, sekarang mereka mampu berlari selama 2 menit lebih cepat dibandingkan dengan hari pertama.

Sesampainya di sekolah, mereka berdua langsung mengganti pakaian olahraga mereka menjadi seragam sekolah seperti biasanya dan keluar sekolah sebentar untuk sarapan bersama sambil menunggu kedatangan Yuihan karena pada jam 6 pagi seperti ini, kantin pasti belum dibuka apalagi koperasi sekolah. Di tengah sarapan, mereka melihat kedatangan Yuihan dari arah kanan sekolah (arah rumah Ilham dan Sinka berlawanan dengan arah rumah Yuihan). Seketika Sinka langsung memanggil Yuihan sambil melambaikan tangan ke arahnya sambil berteriak “Yuihan, sini!”. Yuihan melambaikan tangan dan menghampiri mereka berdua dengan berjalan terpincang-pincang.

“Ohayou, Ilham, Sinka!” Yuihan ikut duduk di sebelah Ilham sambil tersenyum.

“Gimana kemarin sore? Kalian menang, kan?” tanyanya.

“Tenang saja, Yuihan! Kali ini Acha sama Manda nggak akan gangguin kamu lagi karena aku sudah kalahkan dia. Ilham juga sudah membalas kekalahannya pada Ronaq.” Sinka menjawab pertanyaan Yuihan dengan perasaan senang.

“Syukurlah. Akhirnya mereka berhenti menindasku.” ucap Yuihan bersyukur.

Semuanya hening sejenak dan Ilham-Sinka mulai melanjutkan sarapan mereka kembali. Setelah beberapa saat suasana menjadi hening, Ilham dan Sinka mengajak Yuihan untuk masuk ke dalam lingkungan sekolah dan kembali meletakkan tas mereka masing-masing di bangku kelas mereka. Setelah itu, Ilham duduk di meja bangku Yuihan dan Sinka lalu mulai lanjut bincang pagi mereka karena suasana kelas masih dalam keadaan sepi.

“Nggak kerasa tinggal 18 hari lagi Lomba Lari Marathon akan dilaksanakan. Pendaftarannya juga bakal dibuka sekitar seminggu lagi. Jadi kita harus persiapin semuanya mulai dari sekarang.” ujar Ilham.

“Sou da you! (Benar sekali) Itu artinya persaingan antara kalian berdua akan segera dimulai juga. Jadi kalian harus tunjukan maji-nani da kalian masing-masing sebagai seorang rival! Tapi siapapun yang akan menang antara kalian berdua, aku akan tetap dukung kalian berdua dari bangku penonton di garis start-finish. Nggak peduli jika orang lain yang menang. Andai saja aku bisa ikut lagi.” ucap Yuihan dengan tatapan yang beralih dari senang ke sedih. *maji-nani = serius + apa, jadi maji nani berarti keseriusan atau prinsip yang dipegang teguh oleh seseorang.

“Jangan sedih, Yuihan! Aku pasti akan lanjutkan impianmu menjadi atlet pelari professional. Itu semua demi kamu, Yuihan. Sore wa nakama da!” balas Ilham sambil memegang dagu Yuihan.

“Il…ham?” ucap Yuihan gugup.

Seketika perasaan Sinka menjadi terbakar api cemburu karena melihat Ilham memperlakukan Yuihan seperti itu tepat di depan matanya sendiri sehingga Sinka mengejutkan mereka berdua.

“Kenapa kamu memperlakukan Yuihan seperti itu, sedangkan kamu tidak pernah memperlakukanku seromantis Yuihan barusan?” Sinka sewot sehingga mengejutkan Ilham dan Yuihan.

“Eh? Kamu juga ngapain gombalin aku, Ilham? Sinka cemburu tuh lho! Hahahah.” Yuihan beralasan agar Sinka tidak curiga.

“Eh? Aku?” ucap Ilham tak merasa bersalah.

“Jangan suka gombalin cewek ya, Ilham! Atau apa kamu mau ini?” sahut Sinka sambil mengacungkan kepalan tangannya.

“Kenapa kamu jadi nakutin kayak gitu?” ucap Ilham dengan nada sedikit takut.

“Habisnya kamu sih suka gombalin cewek.” balas Sinka seenaknya.

Mendengar itu, Ilham langsung mengeluarkan senyuman jahilnya dan berniat untuk sedikit menggoda Sinka.

“Ehem ehem! Kamu jealous sama aku sama Yuihan ya, Sin?” goda Ilham dengan tatapan jahil.

“Ih! Apaan sih? Nggak lucu tau!” balas Sinka ketus.

“Ngaku aja kali, Prasetya Juniorku!” Ilham kembali menggoda Sinka dengan tatapan jahil pada teman lamanya itu.

“Kalo nggak cemburu, senyum dong, sayang!” sambung Ilham sambil mencubit hidung Sinka sehingga membuat Sinka tersenyum malu.

“Ih!!! Ilham apaan sih? Malu di depan Yuihan.” balas Sinka sambil memeluk Ilham.

“Hahahah. Kenapa malu lagi, Dut?” ucap Ilham sambil membelai rambut Sinka yang terkuncir.

“Tiga minggu lagi itu lama sekali lho? Hatiku sudah hampir tidak bisa menahannya lagi, Ilham-kun.” gumam Yuihan galau melihat Sinka yang memeluk Ilham.

Karena merasa hampir putus harapan, Yuihan memutuskan untuk pergi meninggalkan Ilham dan Sinka sebentar dengan alasan ingin pergi ke toilet.

“Anoo??? Dudut, Ilham, aku mau ke toilet dulu ya?” ucap Yuihan.

“Aku antar ya?” balas Sinka.

“Tidak usah! Aku sama Lidya aja.” tolak Yuihan yang melihat Lidya baru datang.

“Lidya, bisa antar aku ke Toilet sekarang?” panggil Yuihan sambil melambaikan tangan ke arah Lidya yang baru saja datang.

Lidya yang terkejut langsung melihat ke arah Yuihan dan mengerti maksud kenapa Yuihan tidak meminta antar pada Sinka, melainkan malah mengajak dirinya.

“Ya udah ayo! Sekalian aku juga mau ke toilet!” ucap Lidya sambil mendekati Yuihan dan membantunya berjalan menuju toilet.

Melihat sikap Yuihan yang demikian, Ilham menjadi gelisah memikirkan perasaan Yuihan sekarang.

“Gomennasai, Yui-chan. Boku wa anta no kokoro wakatteiru. Tahan hatimu sedikit lagi ya!” gumam Ilham sambil melihat ke arah Yuihan yang sedang dituntun oleh Lidya.

Lidya yang tau perasaan Yuihan saat ini terus menuntuk Yuihan ke toilet dan mulai mengajak Yuihan mengobrol dengan serius di depan toilet siswi.

“Kamu harus bisa menahannya sedikit lagi ya, Yuihan!” Lidya menatap wajah Yuihan dengan tatapan yang serius.

“Eh? Siapa juga yang cemburu dengan Ilham?” Yuihan mengelak.

“Jangan bohong sama aku, Yuihan! Aku tau betul perasaanmu seperti apa. Jadi nggak ada gunanya lagi kamu tutupin itu di depanku!” ujar Lidya memojokkan Yuihan.

“Ilham sudah bisa menebak perasaan Sinka padanya dilihat dari sikap dan cara bicara Sinka padanya. Hanya saja, dia nggak mau melukai hati Sinka yang merupakan sahabatnya itu. Jadi kamu tahan sedikit lagi ya! Karena pasti dia akan setia sama kamu. Buktinya, dia mau terima kamu sebagai pacarnya mekipun kamu… maaf sebelumnya! Cacat.” jelasnya.

Yuihan kemudian menatap tajam mata Lidya beberapa saat dan menjawabnya dengan nada sedikit keras.

“WAKATTEIRU YO!” ucapnya lantang sambil kembali tersenyum.

Lidya yang mendengarnya ikut merasa senang.

“Itulah Yuihan yang ku kenal. Sekarang kita kembali ke kelas ya!” balasnya sambil memegang bahu Yuihan lalu membantu Yuihan berjalan kembali ke kelas.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

18 hari kemudian.

“Selamat datang, para peserta Lomba Lari Marathon XII! Semua peserta yang telah terdaftar silahkan stand by di belakang garis start yang berada di bagian Barat Gedung Balai Kota!” ucap Ketua Panitia melalui speaker.

Hari minggu ini tepat merupakan hari di mana Lomba Lari Marathon dilaksanakan dengan Start/Finish Line di balai kota. Semua peserta yang sudah terdaftar bersiap di belakang garis start termasuk Sinka dan Ilham yang ada di barisan paling depan bersama Acha, Ronaq, dan Ayana yang juga menjadi peserta Lomba Lari Marathon itu sejak tahun-tahun sebelumnya. Terlihat Yuihan yang sedang duduk di sebelah Anin dan Bunda Melody berteriak sambil melambai-lambaikan tangan ke arah Sinka dan Ilham sambil memberikan dukungan pada mereka berdua.

“Ilham-kun! Ganbatte nee! Sinka-chan mo!” teriak Yuihan dari arah bangku penonton.

“Itu Yuihan habis makan apaan sih? Semangat banget?” Sinka menyenggol bahu Ilham sambil tertawa.

“Entahlah, Dut?” balas Ilham cuek.

“Loe yang semangat ya, sepupu! Meskipun kalian nggak juara dalam marathon ini, yang penting loe lebih cepat dari dia (Sinka)! Loe nggak mau kalah sama cewek, kan?” bisik Ayana saat melakukan pemanasan.

“Jangan harap kamu akan menang, Ilham! Aku pasti akan tunjukkan hasil latihanku selama ini.” ucap Sinka penuh kepercayaan diri.

“Jangan bercanda! Aku juga berlatih dengan keras, tau? Kore wa… ore no… SHOWTAIMU da! (Ini adalah waktunya pertunjukanku)” balas Ilham dengan gaya Souma Haruto (Kamen Rider Wizard).

Kemudian suara panitia yang hendak memulai Lomba Lari Marathon membuat >100 (dibaca lebih dari 100) peserta mulai mengambil posisi masing-masing lalu dalam “Three… Two… One!!!” dan suara tempakan pistol ke arah atas, semua peserta langsung berlari dengan sekuat tenaga, termasuk Ilham dan Sinka yang dengan enjoy (tapi serius) berlari sambil mendengarkan musik melalui MP3 Player.

Menjelang pos 6 (Setelah 34 kilometer berlari), Sinka yang hampir kelelahan sengaja berhenti sejenak dengan nafas terengah-engah karena kehabisan nafas, sedangkan minuman yang dia ambil dari pos 5 telah habis 6 kilometer sebelumnya. Sehingga membuat Ilham berbalik dan menghampirinya karena khawatir.

“Kamu kecapekan? Pos 6 masih 2 kilometer lagi lho!” ucap Ilham.

“2 kilo? Masih jauh dong? Kamu duluan deh!” balas Sinka.

“Sinka, Ilham, kami duluan ya! Sampai jumpa di garis Finish!” sahut Acha pergi melewati mereka berdua.

“Kalo nggak kuat, pelan-pelan aja!” ucap Ayana menyusul.

Melihat Ayana dan Acha yang sudah melewati mereka, Ilham akhirnya pergi meninggalkan Sinka di belakang menuju pos 6 dan mengambil minuman yang ada di sana, lalu kembali menuju Sinka untuk memberikan minuman itu.

“Ini! Kamu minum air ini! Nggak adil kalo aku tinggalin kamu di sini.” Ilham memberikan sebotol air mineral yang ia ambil di pos depan pada Sinka.

“Thanks!” Sinka langsung mengambil botol air minum tersebut dari tangan Ilham kemudian meminumnya.

Kemudian Ilham duduk di sebelah Sinka sehingga membuat Sinka terkejut dan bertanya…

“Eh? Kok kamu malah duduk di sini?” Sinka terkejut saat Ilham duduk di sebelahnya.

“Kan aku sudah bilang kalau nggak adil jika aku pergi duluan?” balas Ilham sambil tersenyum.

“Tapi kan… kamu tertinggal jauh?” ucap Sinka bingung.

“Okay! Kalau begitu, kita berangkat sekarang!” Ilham mulai berdiri kembali dan segera bersiap.

“Ikuze, Beruto-san! (Ayo Belt-san)” ucap Ilham menghidupkan sabuknya.

“Start Your Engine!” Sound effect sabuk Ilham.

Kemudian Ilham meletakkan sebuah alat berbentuk seperti mobil mainan ke dalam slot di tangannya dan mengaktifkannya. Setelah itu, muncullah effect perubahan dengan sound “Drive – Type Speed!”. Kemudian berubahlah Ilham menjadi sosok Kamen Rider Drive.

Yuihan   : “Kore wa Kamen Raida Doraibu no hanashi ja nai, ahou o kareshi! (Ini bukan cerita tentang Kamen Rider Drive, dasar pacarku yang bodoh!)”

Sinka      : “Aku mohon, jangan kayak Gera Riski kenapa sih, Ilham!”

Anin       : “Ini si kakak lama-lama ngeselin juga ya?”

Yona      : “Iya nih. Kakakmu ini agak gila kayaknya, Ndut?”

Lidya     : “Author Ilham mulai sableng :v”

Author   : “Iya iya. Maaf deh.”

Kembali diprotes oleh Yuihan dan Sinka yang diikuti oleh Boku no Imotto, Aninditha Rahma Cahyadi yang juga ikut marah. Kalau si Cahyadi kecil yang marah, bisa-bisa Author tidak dapat jatah malam nih. :v Yosh! Sekarang lebih baik kita lupakan saja Kamen Rider Drive yang tidak penting ini dan kembali ke cerita utama! :v

Kemudian Ilham mulai berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Sinka bangkit.

“Ayo, Sinka! Kamu pasti bisa!” Ilham mulai menarik tangan Sinka agar Sinka bangkit lalu dia berlari meninggalkan Sinka. Tapi…

“Tunggu, Ilham!” Sinka menahan Ilham yang hendak berlari dengan memegang erat tangannya.

“Kenapa?” balas Ilham sambil berbalik.

“Sebenarnya… aku cinta sama kamu.” Sinka mulai memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya.

“Eh?” Ilham terkejut mendengar perkataan Sinka.

“Aku bilang kalau aku cinta sama kamu, Ilham.” ujar Sinka sambil memegang tangan Ilham.

“Eh? Anta wa majisuka? (Apa kamu serius?)” balas Ilham terkejut.

“Watashi wa… maji da you! (Aku serius!)” jawab Sinka.

Mendengar perkataan Sinka, Ilham terdiam sejenak.

“Emm… Sinka,,, thanks. Tapi maaf kalau aku hanya membuat perasaanmu Kataomoi. Soalnya, yang dihatiku sekarang bukan kamu.” Ilham memegang bahu Sinka sambil memohon maaf. *Kataomoi berarti cinta searah, atau bisa juga disebut cinta bertepuk sebelah tangan atau cinta tak terbalas.

“Eh? Terus siapa?” tanya Sinka dengan nada terkejut.

“Seseorang yang jadi nakama­ barumu, yang selama ini kamu lindungi.” jawab Ilham sambil tersenyum.

Nakama-ku? Maksudmu…?” ucapan Sinka terkejut.

“Tepat sekali. Yokoyama Yui. Dia bukan nakama-ku, tapi dia koibito-ku selama ini.” balas Ilham. *nakama = sahabat, koibito = kekasih.

Sinka terkejut bahwa selama sebulan ini, Ilham telah menyembunyikan sesuatu darinya bahwa Ilham merupakan “Yuihan no koibito” sehingga perkataan Ilham itu membuat Sinka menjadi patah hati karena perasaannya pada Ilham bertepuk sebelah tangan karena sahabat barunya sendiri, yakni Yuihan.

“Ke-kenapa kalian sembunyikan ini dari aku?” ucap Sinka mulai menangis.

“Karena aku sudah lama mengetahui perasaanmu. Tapi bagiku, selamanya nakama akan tetap jadi nakama. Jadi aku menyembunyikan ini agar kamu tidak sakit hati. Jadi maaf ya, Sinka.” ucap Ilham memohon maaf.

“Jadi ini alasannya Yuihan memberitahuku agar aku menguatkan mentalku sebelum menyatakan perasaanku kepadamu ini?” balas Sinka tertunduk.

“Mou ichido, subete wa… sumimasen deshita. (Sekali lagi, maaf buat semuanya.)” ucap Ilham.

“Tidak akan! Selamanya aku nggak akan maafin kamu yang telah sembunyikan semua ini dariku. Tapi… aku juga nggak akan bisa membenci kalian berdua.” kata Sinka.

“Satu hal lagi. Aku nggak akan maafin kalian semua yang udah menyembunyikan fakta bahwa kamu adalah koibiko-nya si cewek pincang itu!” sambungnya merasa kecewa kemudian berlari meninggalkan Ilham.

Kemudian mereka berlari sampai finish dan saat tiba di garis finish, Yuihan langsung menghampiri Sinka karena ia mengira bahwa Sinka telah mengalahkan Ilham.

“Sinka, selamat ya! Kamu menang da-” ucapan Yuihan terpotong oleh Sinka. *sebenarnya Yuihan akan berkata “ Kamu menang dari Ilham.”

“Kenapa kamu rebut Ilham dari aku, pincang!” Sinka langsung memaki-maki sambil mendorong Yuihan sampai jatuh.

“Eh? Sinka?” Yuihan terkejut dengan perubahan sikap Sinka.

Anin yang di samping Yuihan ikut bingung dan menanyakan masalah yang terjadi pada Sinka barusan sehingga Sinka marah-marah dan memaki Yuihan seperti itu.

“Ci Sinka kenapa sih? Dateng-dateng kok dorong Yui-san gitu?” tanya Anin.

“Hahahah. Jangan pura-pura nggak tau ya, setan kecilnya Ilham! Kamu pasti juga tau ” Sinka juga memaki Anin sehingga membuat Anin menangis karena merasa sakit hati dengan perkataan Sinka.

“Sinka, kamu kok tega banget sama adiknya Ilham?” bentak Bunda Melody.

“Tega? Bunda Imel bilang aku tega? Justru yang tega kalian karena kalian sudah sembunyiin kalau Yuihan sama Ilham itu punya hubungan khusus.” Sinka menangis lalu berlari masuk ke mobilnya dan memerintahkan supirnya untuk membawanya pulang.

Ucapan dan perubahan Sinka barusan membuat semuanya menjadi sakit hati dan membuat masalah mereka menjadi bertambah rumit. Hal itu menambah kekhawatiran Ilham terhadap Sinka kedepannya. “Apakah Sinka akan berubah 180 derajat, atau tidak?” Karena Ilham sudah mengenal bagaimana sifat Sinka yang bisa saja berubah hanya karena hal sepele. Tapi ini bukanlah hal yang bisa di anggap sepele. Ini merupakan masalah besar bagi Sinka dan Ilham karena akan berdampak pada hubungan persahabatan mereka berdua.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Hari itu, hubungan Ilham-Yuihan dan Sinka menjadi mulai renggang sebab Sinka merasa kecewa karena perasaannya terhadap Ilham bertepuk sebelah tangan dan Ilham sudah menutupi hubungan mereka darinya sehingga saat di sekolah pun, Sinka hanya memilih menatap ke papan tulis daripada menoleh ke arah Yuihan dan Ilham yang duduk di sampingnya.

Suatu hari, Naomi memberitahu Ilham, Yuihan dan semuanya tentang perubahan sikap yang terjadi pada Sinka. Sinka berubah dari gadis yang baik, menjadi gadis yang kacau dan bahkan sering keluar malam (ke bar) sehingga membuat Ilham dan Yuihan semakin khawatir dengan sifat Sinka yang akhir-akhir ini berubah menjadi seperti itu. Untuk itu, Naomi memohon dengan sangat kepada Ilham agar membantunya mengembalikan Sinka, kembali menjadi Sinka yang dulu.

“Aku mohon! Kembalikan Sinka jadi kayak dulu lagi!” Naomi berlutut di depan Ilham dan Yuihan.

“Dia berubah… hanya karena… cinta?” Yuihan tak menyangka bahwa Sinka bisa berubah menjadi seperti ini karena mereka berdua.

“Sepertinya dia berpikir bahwa itu bisa membuatnya melupakan perasaannya padaku. Maafkan aku, cici.” ucap Ilham sehingga membuat Naomi bangkit dan menamparnya.

“Ilham, adikku jadi kayak gini karena kamu. Karena kalian semua. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas berubahnya sikap Sinka.” Naomi hendak menamparnya kembali, namun ditahan oleh Ilham.

“Tapi… aku pasti akan membuatnya kembali seperti dulu lagi. Aku janji.” balas Ilham.

“Sekarang dia ada di mana?” sambungnya memberi pertanyaan.

“Dia di bar sekitar komplek sini.” jawab Naomi.

Ilham menghela nafas dan segera bergerak menuju bar tempat Sinka biasanya untuk menjemput Sinka di sana.

“Cici, aku akan jemput dia sekarang dan mengembalikan Sinka jadi kayak dulu lagi. Sinka yang semangat dan baik.” ucap Ilham lalu pergi menuju tempat Sinka dugem.

Ilham pun berlari menuju bar tempat Sinka dan mendapati Sinka sedang mabuk di bar tersebut. Badannya semakin kurus dan lemas karena terlalu banyak minum. Ilham lalu mendekati Sinka dan membuang minuman Sinka jauh-jauh.

“Sinka, kenapa kamu jadi seperti ini?” ucap Ilham cemas.

“Apa yang kamu bicarakan, Ilham? Seperti yang kamu lihat, aku suka tempat ini. Minuman ini juga bisa membantuku melupakan masalah yang aku alami. Mau coba?” balas Sinka dalam keadaan mabuk sambil hendak meminum kembali minumannya.

Ilham yang melihatnya hendak meminum minuman itu langsung merebutnya dan menumpahkannya.

“Sinka, ini nggak seperti dirimu yang dulu. Di mana dirimu yang atletis? Aku lebih suka kamu yang dulu dibandingkan yang sekarang.” ucap Ilham semakin cemas dengan keadaan Sinka yang sekarang.

“Hah? Apa katamu? Kamu lebih suka aku yang dulu? Kamu bohong sama aku! Kalau kamu lebih suka aku yang dulu, kenapa kamu lebih memilih gadis pincang itu ketimbang aku?” hardik Sinka sambil terus minum.

“Sinka, kenapa… kamu jadi kayak gini?” Ilham kembali mengulangi pertanyaan yang sama.

“Aku… jadi seperti ini… karena kamu, Ilham. Karena aku terlalu berharap sama pengkhianat kayak kamu. Hahahah.” ucap Sinka tertawa.

“Hiks! Hiks! Kenapa harus si gadis pincang itu yang bisa dapetin kamu? Padahal jelas, kan kalau aku yang lebih mencintai kamu daripada dia?” Sinka tiba-tiba menangis. *efek banyak minum beer.

Setelah menghabiskan minumannya, Sinka langsung beranjak dan segera pulang. Belum sempat Sinka beranjak, ia tiba-tiba jatud dipelukan Ilham karena masih dalam keadaan mabuk akibat terlalu banyak minum di bar tersebut. Akibatnya, Ilham terpaksa menggendong Sinka yang sedang pingsan pulang ke rumahnya dan menggeletakkannya di kamar tamu.

“Sinka, anta wa… nani ni sonna? (Sinka, kenapa… kamu seperti ini?)” ujar Yuihan sambil membelai rambut Sinka dengan perasaan cemas.

“Boku dakara da!” Ilham menyalahkan dirinya sendiri.

“Kalau saja aku kasih tau dia sejak awal, pasti nggak akan terjadi seperti ini pada Sinka.” sambungnya.

Yuihan yang mendengarnya hanya mengusap bahu Ilham karena juga ikut khawatir dengan keadaan Sinka yang berubah drastis seperti ini.

“Jangan salahkan dirimu sendiri, Ilham-kun! Kamu melakukan itu karena ada alasannya, kan?” ucap Yuihan menenangkan hati Ilham.

“Sekarang yang harus kita lakukan… adalah buat Sinka kembali jadi Sinka yang dulu lagi!” sambungnya.

“Iya. Kamu benar, sayang. Aku pasti bisa buat dia kembali jadi Sinka yang dulu lagi. Sinka yang ku kenal.” balas Ilham sambil memeluk Yuihan.

“Ya sudah. Sekarang biarkan aku tidur di sini! Aku ingin menjaga dia. Karena bagaimanapun juga, dia adalah nakama-ku. Lagipula, aku juga sudah bilang ke Haruka-san dan Chikano-san untuk menginap di sini, kan?” ucap Yuihan.

“Okay. Sekarang aku kembali ke kamar.” Ilham mencium kening Yuihan dan pergi menuju ke kamarnya untuk tidur dan menutup hari ini dengan rasa khawatir di dalam hati setiap orang yang dekat dengan Sinka akibat perubahan yang terjadi pada Sinka.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Uhukk! Uhukk! Huekkkk! Uhukk! Uhukk!” Sinka memuntahkan sisa-sisa minuman yang membuatnya mabuk tadi malam.

“Aduh! Pasti aku terlalu banyak minum tadi malam?” ucap Sinka sambil memegangi kepalanya yang pusing.

Kemudian tanpa sengaja, tangan Sinka menyenggol tangan Yuihan yang tertidur di sebelahnya.

“Ngapain si pincang tidur di sebelahku?” gumam Sinka dengan wajah ketus.

Lalu Sinka melihat sekeliling kamar dan menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah Ilham.

“Ini kan… di rumahnya Ilham? Jadi Ilham bawa aku ke sini pas aku pingsan?” ucap Sinka.

“Hey, pincang! Bangunlah!” Sinka membangunkan Yuihan dengan kasar.

Setelah beberapa saat, Sinka berhasil membangunkan Yuihan dan akhirnya Yuihan terbangun dan menyapa Sinka.

“Eh? Sinka? Sudah bangun?” sapa Yuihan dalam keadaan masih setengah sadar.

“Kenapa kamu tidur di sampingku seperti itu? Aku bahkan nggak sudi kalau tidur sama orang sepertimu, pincang.”

“Terserah kamu mau sebut aku pincang kek, apa kek. Yang penting, kamu masih tetap jadi nakama-ku.” balas Yuihan dengan nada keras kepala.

“Dasar gadis pincang yang keras kepala!” ujar Sinka ketus.

Kemudian Sinka mendengar ketukan pintu diikuti dengan suara orang yang sedang membukakan pintu yang ternyata adalah Ilham.

“Hey, Sinka! Kalian sudah bangun?” Ilham tersenyum saat membawakan sarapan lengkap dengan susu padanya.

“Ohayou, Ilham-kun. Aku baru saja dibangunkan oleh Sinka. Kamu nggak jogging?” ucap Yuihan.

“Tidak. Kita kan harus jagain Sinka? Karena dia tadi malam terlalu banyak minum beer sehingga mabuk kayak gitu.” balas Ilham sambil tersenyum

Sinka hanya diam memperhatikan sikap mereka berdua padanya.

“Nih! Bunda Imel udah buatin sarapan buat kamu. Dimakan ya, Dudut!” ucap Ilham sambil meletakkan makanan di sebelah tempat tidur Sinka.

Sinka tetap terdiam.

“Tadi malam, kamu pingsan di bar. Jadi, Ilham bawa kamu ke sini.” ucap Yuihan.

“Ilham?” panggil Sinka yang mulai memberanikan diri untuk menyapa Ilham sehingga Ilham menoleh ke arahnya.

“Kenapa kalian masih peduli sama aku? Padahal kan aku sudah bilang? Jangan pernah peduli sama aku lagi karena kamu lebih memilih si gadis pincang ini daripada aku!” ucapnya sambil menunjuk ke arah Yuihan.

“Kenapa aku nggak boleh peduli sama nakama-ku sendiri? Biar kamu bisa bebas ke bar dan terus mabuk-mabukan seperti tadi malam? Apa itu caramu menyelesaikan masalah?” bentak Ilham sehingga membuat Sinka mematung.

“Aku mengenalmu lebih dari siapapun, Sinka. Kamu mudah sekali berubah jika suasana hatimu sedang kacau. Apa lagi kalau sedang terbakar dengan api cemburu seperti sekarang.” sambungnya.

“Itu benar, Sinka. Kami semua menyayangimu sebagai seorang nakama. Jadi apapun yang terjadi sama kamu, kamu tanggung jawab kami.” sahut Yuihan.

“Karena itu, aku akan tetap di sisimu sebagai nakama karena jika aku jadi kareshi kamu, permasalahan kita akan lebih besar daripada ini dan akhirnya akan… BANG!!! Kita berdua bisa putus dan nggak berhubungan lagi.” tambahnya. *Kareshi = pacar ; BANG! = suara efek ledakan dalam Bahasa Jepang.

“Tapi kenapa kamu menjadikan si pincang ini sebagai pacar?” tanya Sinka dengan nada kecewa.

“Meskipun dia cacat, dia masih punya tekad yang kuat untuk melanjutkan mimpinya untuk menjadi atlet lari professional. Jadi, aku tertarik untuk melanjutkan mimpinya itu. Maka dari itu, aku jadikan dia sebagai pacar. Dan satu alasan lagi, dia adalah gadis yang aku cintai.” jawab Ilham.

“Dan bagiku, sahabat akan tetap menjadi sahabat selamanya. Kalau kamu cinta sama aku, kamu harus merelakan aku bahagia dengan Yuihan! Karena kebahagiaan cinta sejati ialah dengan mampu bahagia jika melihat orang yang dicintainya bahagia meskipun dia bersama orang lain.” sambungnya sehingga membuat Sinka mulai mengerti.

“Ilham, Yuihan, Aku benar-benar minta maaf sama kalian. Aku sadar, kalian berdua memang cocok. Selama ini aku terlalu mementingkan perasaanku sendiri tanpa memikirkan perasaan nakama-ku, tanpa memikirkan perasaan orang lain yang dekat denganku. Aku memang egois! Aku memang bodoh! Bodoh! Bodoh!” Sinka langsung memeluk Yuihan dengan perasaan menyesal yang mendalam di hatinya.

Akhirnya, persahabatan antara Couple Ilham-Yui dan Sinka kembali seperti semula. Tak ada rasa cemburu lagi dan Ilham telah berhasil membuat Sinka kembali menjadi diri Sinka yang dulu lagi. Menjadi Sinka yang tidak pernah pergi ke bar untuk mabuk-mabukan, menjadi Sinka yang atletis, dan menjadi diri Sinka yang baik.

-=-=-=-=-= THE END =-=-=-=-=-

Twitter : https://twitter.com/IBCahyadi98

Iklan

2 tanggapan untuk “KISAH CINTA SEORANG ATLET LARI MARATHON

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s