Zombie…., Part6

SMA Harapan Bangsa, Jakarta. 10.00 WIB.

Pintu perpustakaan lantai tiga kembali terbuka, sudah keempat kalinya Santo pergi ke kantin sekolah untuk mengambil beberapa makanan yang tersisa. Tapi kali ini ia hanya kembali dengan tangan kosong.

“Serius?” tanya Gracia.

“Cuma itu yang ada.” Santo kembali ke kursinya yang ada disudut ruangan. Ia melihat ke arah lapangan masih banyak zombie yang berkeliaran disana.

“Bukannya ini cukup?” Edho angkat bicara.

“Harusnya cukup, buat dua hari atau tiga hari kedepan,” jawab Shani.

“Tapi aku bosen kalau makan roti terus,” kata Gracia.

Meskipun ia bosan tetap saja ia mengambil salah satu roti dan merobek pelastiknya. Gadis penyuka warna itu langsung menggigit roti tersebut dengan wajah cemberut.

“Jangan manja lah Gre.” Edho ikut mengambil roti yang dibawakan Santo tadi.

“Nah bener tuh, lagian baru juga dua hari ke kurung disini.” Santo beranjak dari tempatnya dan ikut sarapan bersama mereka.

“Jadi kepikiran orang rumah nasibnya gimana.” Edho, Santo, dan Gracia melirik ke arah Shani, “ah cuma kepikiran aja, mereka ngungsi dimana.”

“Iya juga ya, bisa selamat atau engga,” tambah Gracia.

“Atau malah jadi korban?” tanya Edho.

Mereka semua terdiam, hanya menikmati roti tawar yang tadi bawakan oleh Santo. Sudah dua hari mereka terkurung disini, di sekolah yang dipenuhi zombie. Dilapangan ratusan zombie terlihat berkeliaran, jumlahnya lebih banyak daripada yang ada didalam gedung.

“Ah iya dho, ikut gue bentar,” kata Santo.

“Kemana?”

“Udah ikut aja.”

Santo dan Edho pergi meninggalkan perpustakaan itu. Dari lorong lantai tiga saja masih terdengar teriakan-teriakan para zombie dibawah sana. Dua pemuda itu berjalan menuju sebuah tangga yang mengarah ke sebuah pintu di depan mereka.

Hanya hitam yang terlihat saat pintu dibuka, tak ada sedikitpun cahaya disana. Santo yang masuk duluan berjalan menyisir tembok didalam ruangan tersebut. Mencari sebuah saklar yang biasanya tertempel di dinding dekat pintu.

Saat lampu dinyalakan barulah terlihat apa yang ada didalam ruangan tersebut. Sebuah ruang penyimpanan, tepatnya ruangan penyimpanan yang lama, karna ruang penyimpanan yang baru terletak di belakang gedung sekolah yang baru.

Sesuai dari namanya ruang penyimpanan lama, disini berisi benda-benda yang sudah layak berada di gudang. Meja lama, kursi yang kaki-kakinya patah, beberapa sapu serta alat-alat untuk pelajaran olahraga.

“Lu mau cari apa disini?” Tanya Edho.

“Nih.” Santo mengambil sebuah tongkat baseball dan melemparkannya kepada Edho.

“Buat apa?” Edho mengangkat sebelah alisnya.

“Gue punya rencana buat pergi dari tempat ini.”

~oOo~

Masing-masing dari Shania, Gracia, Santo dan Edho sudah memegang tongkat baseball. Mereka berempat berjalan menuju tangga ke lantai dua yang berada di gedung lama. Sesuai rencana Santo, hari ini mereka berniat pergi meninggalkan sekolah. Jalur paling aman adalah lewat gedung lama, karna tak ada satupun zombie yang masuk kedalam gedung.

“Yakin aman?” tanya Shani.

“Harusnya, kemarin aku udah ngecek, tapi ada satu masalah,” kata Santo.

“Apa masalahnya?” tanya Gracia.

“Entar aku jelasin.”

Saat tiba dilantai satu, Santo tiba-tiba menghentikan langkahnya didepan pintu keluar gedung. Ia mengintip dari celah jendela, tidak ada zombie disana.

“Ok jadi rencananya kita bakalan pergi lewat pintu belakang sekolah, inget kan yang biasa dipakai murid-murid kabur?” tanya Santo.

“Ah iya, gue sering lewat sana,” tambah Edho.

“Nah terus apa masalahnya?” tanya Gracia.

“Pintu itu dikunci,” jawab Santo.

“Ya udah tinggal buka kuncinya,” jawab Shani.

“Ga semudah itu Shan, seinget aku kuncinya tuh ditaro di pos satpam, tau kan tempat pos satpam kita dimana? Di deket gerbang masuk, berarti harus lewat lapangan dulu yang isinya banyak zombie,” jawab Santo.

“Jadi?” tanya Edho.

“Kita harus ambil kuncinya, tapi harus ada yang pancing zombie-zombie ngejauh dari pos juga,” jawab Santo.

“Ya udah gue yang ambil kuncinya aja, kalian yang pancing zombienya gimana?” tanya Edho.

“Gue sih terserah, nih yang cewek-cewek gimana? Kalian juga mesti lari-lari biar ga ketangkep zombie.” Shani dan Gracia saling tatap.

Mau tidak mau mereka juga harus ikut berlari memancing para zombie menjauh dari pos. Dengan terpaksa mereka berdua pun menyetujuinya.

Pintu masuk gedung baru pun dibuka, sesuai rencana Edho langsung pergi ke arah pos satpam. Ia berlari mengelilingi gedung baru. Sementara Shani, Gracia, dan Santo berjalan ke arah lapangan. Baru saja beberapa langkah keluar dari gedung, beberapa zombie sudah melihat Shani, Gracia dan Santo.

Zombie yang ada dilapangan juga sudah bergerak mendekati mereka. Bahkan zombie yang ikut berteduh dari sinar matahari juga mulai bergerak mendekati mereka bertiga. Dengan menyeret kakinya serta mulut yang menganga lebar, zombie-zombie itu berteriak dan terus bergerak mendekati Shani, Gracia, dan Santo.

“Gimana nih?” tanya Shani.

“Tahan dulu, masih jauh ini,” kata Santo.

“A… aku kabur duluan ah.” Saat Gracia ingin berbalik badan, tangan ia ditahan oleh Santo.

“Jangan dulu, liat gerak mereka lambat, kalau gini bakalan susah ngejar juga,” jawab Santo.

“Kecuali kita ke kepung, itu yang jadi masalah,” kata Shani.

“Dan dibelakang juga ada beberapa zombie,” kata Gracia.

Santo menengok kebelakang, ternyata benar ada beberapa zombie yang mendekat ke arah mereka. Zombie-zombie itu mulai keluar dari persembunyian.

“Ya udah lari,” kata Santo.

“Kemana?” tanya Shani.

“Pancing mereka masuk ke gedung lagi.” Shani dan Gracia mengangguk.

Saat zombie makin mendekat, mereka bertiga perlahan melangkah mundur masuk kedalam gedung lama itu. Zombie yang berjalan ke arah mereka pun makin banyak. Saat Santo sudah didalam gedung, ia memancing zombie-zombie itu kedekat tangga.

Sesuai perkiraannya, zombie-zombie itu tak dapat menaiki tangga. Mereka malah terjatuh dan mencoba merangkak menaiki tanggal. Santo, Shani dan Gracia pun langsung berlari kembali menaiki tangga menuju lantai tiga. Mereka berlari melewati lorong yang menyambungkan ke gedung baru.

Dibelakang gedung baru Edho mengendap-ngendap melihat keadaan dekat pos. Ada beberapa zombie yang masih berkeliaran disana. Dengan membawa tongkat baseball ia berlari menuju pos itu.

Beberapa zombie menengok ke arah Edho, mereka pun berusaha menangkap pemuda yang membawa-bawa tongkat baseball itu. Sayangnya sebelum tangan-tangan penuh nanah itu menyentuh kulit siswa SMA kelas 3 itu, wajah mereka sudah dipukul oleh tongkat baseball. Darah hitampun keluar dari kulit kepala mereka.

Entah apa yang merasuki Edho saat itu, tapi ia tak merasa jijik setelah memukul beberapa kepala zombie. Bahkan saking lunaknya, ada satu kepala yang sampai terlepas saat terpukul.

Di gedung baru Shani, Gracia dan Santo sudah sampai dilantai dua. Mereka tinggal turun ke lantai satu dan menghadapi beberapa zombie yang berkeliaran.

“Seinget aku ada zombie deket UKS,” kata Shani.

“Ah iya-iya, aku juga inget,” tambah Gracia.

“Kalian siap kan kalau harus mukul zombie-zombie itu?” Shani dan Gracia menelan ludah, dengan terpaksa mereka pun mengangguk, “Bagus, kalau gitu cepet lari, ga bisa lama-lama banget kita ninggalin si Edho.”

Benar saja saat mereka menuruni tangga ke lantai satu, belasan zombie ada disana. Santo yang berada paling depan mencoba memukul kepala zombie-zombie itu. Shani dan Graciapun ikut mengayunkan tongkat baseball mereka. Meskipun tak begitu kuat, paling tidak bisa menjauhkan jarak mereka dengan si zombie.

Sial bagi Shani, salah satu zombie berhasil meraih bahunya. Zombie itu sudah membuka mulutnya bersiap menggigit bahu milik Shani. Gadis berkulit putih itu bukannya melepaskan cengkraman tangan zombie, ia malah berteriak dan membuat para zombie terfokus kepadanya.

Gracia yang berada didekatnya langsung mengayunkan tongkat baseballnya kepada kepala zombie itu hingga pecah dan mengeluarkan isinya. Darah hitam langsung menyemprot mengotori seragam kedua gadis itu. Bahkan pipi Graciapun sudah banyak noda hitam dengan bau tak mengenakan.

“Ayo buruan!” Kata Santo, dengan mata berkaca-kaca Shani pun mengangguk.

“Fokus Shan,” kata Gre.

“Iya Gre,” jawab Shani.

Entah sudah berapa zombie yang coba mereka hajar hingga pintu keluar gedung. Meskipun begitu, tapi hanya sedikit dari zombie-zombie itu yang berhasil dilumpuhkan, sisanya hanya terjatuh atau terdorong saja, nampaknya tongkat baseball mereka tak cukup untuk membunuh para zombie.

Saat sedang melawan zombie dekat ruang UKS, tiba-tiba seseorang datang dari pintu masuk gedung baru. Orang itu sama seperti mereka bertiga, membawa-bawa tongkat baseball.

“Gawat!!!” teriak orang itu.

“Edho tuh!” kata Gracia.

Shani dan Santo pun menengok ke arah pintu masuk gedung. Disana Edho sedang berlari menghampiri mereka.

“Ada apa Dho?” tanya Shani.

“Hah… gawat, kunci pintunya ga ada,” kata Edho.

“Serius lu?!” tanya Santo.

“Sumpah, gua udah cari kaga ada dipos satpam,” jawab Edho.

“Jadi gimana ini?” tanya Gracia.

Mereka semua terlihat bingung, rencana yang sudah tersusun rapi tiba-tiba berantakan. Ketiga orang itu semuanya melihat ke arah Santo si empunya yang punya rencana.

Beberapa zombie makin mendekat ke arah mereka. Raut wajah keempat orang itu memperlihatkan keputus asaan. Santo mencoba memutar otak mencari rencana lain disaat genting seperti ini.

“Gimana To?” tanya Gracia.

“Makin deket tuh zombie-zombie,” kata Shani.

“Gimana kalau kita….”

“AAAAA…..”

Tiba-tiba kaca yang terhubung dengan ruang UKS yang dipakai Santo bersandar pecah. Bukan karna Santo bersandar, tapi ada sesosok zombie yang menhancurkan kaca itu dari dalam UKS. Zombie itu langsung mencengkram bahu Santo dan mengigit leher pemuda kelas 3 SMA itu.

Shani dan Gracia langsung menjerit, melihat kejadian yang tak diduga-duga itu. Edho juga sempat terdiam tak berkutik melihat temannya digigit zombie, sebelum akhirnya ia tersadar dan memukul kepala si zombie itu dan melepaskan gigitannya.

Santo hanya meringis kesakitan sambil memegang lehernya yang sudah berlumuran darah. Matanya terpejam menahan nyeri. Ia langsung lemas hingga terduduk.

“Hey kalian berdua pegangin ini,” kata Edho menyerahkan tongkat baseball milik Santo.

Shani masih menutup mulutnya, air matanya mulai menetes. Sementara Gracia ia mengambil tongkat milik Santo. Sama seperti Shani, air mata Gracia juga mulai menetes.

“Kita lari cepet kalian duluan,” kata Edho.

“Tapi kemana?” tanya Gracia.

“Gerbang depan, kita panjat sekalian, aku udah siapin kursi buat bantu kalian manjat pagar,” kata Edho.

Edho langsung meraih lengan Santo dan mencoba membantunya berdiri. Sedangkan Gracia dan Shani berlari duluan di depan mereka.

Saat mereka semua sudah keluar gedung, beberapa zombie kembali mengejar mereka. Sekarang Shani berlari didepan sedangkan Gracia pindah kebelakang, mencoba melindungi Edho yang sedang membopong Santo.

“Udah Dho tinggalin gue aja,” kata Santo.

“Gue ga akan ninggalin lo, entar kita cari obatnya kalau ada,” kata Edho.

Shani yang tiba duluan digerbang langsung menaiki kursi itu. Ia meraih ujung gerbang dan mencoba mengangkat tubuhnya lalu kakinya. Rok panjang yang ia gunakan membuatnya sedikit kesulitan untuk memanjat gerbang itu.

“Gre bantuin Shani, buruan!” teriak Edho.

Gracia pun menaiki kursi itu dan mengangkat kaki Shani. Dengan susah payah akhirnya Shani bisa menaiki pagar itu, tapi sialnya Gracia terlalu kuat mendorong Shani hingga gadis tinggi langsing itu terjatuh ke sisi gerbang lainnya. Shani hanya meringis sambil memegangi pinggangnya.

“Sakit!!” jerit Shani.

“Buruan giliran kamu Gre,” kata Edho.

Bukannya langsung memanjat pagar, Gracia malah berhenti sejenak dan mencoba melepaskan roknya. Edho dan Shani hanya menatap ke arah Gracia.

“Apa?! Aku pake celana olahraga dalemnya, biar gampang manjat pagernya,” kata Gracia.

“Ya udah buruan,” kata Edho.

Tidak seperti Shani, Gracia terlihat mudah memanjat pagar sekolah. Wajar ia sudah berpengalaman, karna beberapa kali sempat terlambat dan terpaksa memanjat pagar jikalau pintu belakang sekolah dikunci juga. Dengan waktu singkat gadis itu telah sampai di sisi lain gerbang.

“Nah sekarang giliran lu To,” kata Edho.

“Gua ga bisa manjat Dho, kaki gua mendadak ikut lemes,” kata Santo.

“Ah lu kenapa jadi lemah gini! Udah pegangan yang erat,” kata Edho.

Edho pun menggendong Santo dipunggungnya. Zombie-zombie itu terlihat makin mendekat, mungkin jaraknya hanya tinggal tiga atau empat meter dari tempat Edho berdiri. Dengan segera Edho menaiki kursi itu dan meraih atas gerbang. Sementara Santo mengalungkan tangannya dileher Edho.

Dengan sekuat tenaga Edho mencoba mengangkat tubuhnya. Beratnya sekarang menjadi dua kali lipat karna ditambah menggendong Santo. Beberapa kali ia mencoba tapi tidak berhasil juga.

“Ayo buruan Dho!” kata Shani.

“Itu zombienya makin deket!” kata Gracia.

“Iya ini susah!!!” jawab Edho.

Saat hampir berhasil, beberapa zombie sudah meraih kaki Santo. Zombie-zombie itu menarik-narik kaki tapi Santo mencoba menendang-nendangkan kakinya.

“Tahan dikit To!” kata Edho.

Sial bagi mereka, makin banyak zombie yang meraih kaki Santo, bahkan ada zombie yang sudah mengigit kaki Santo. Saat Edho berhasil menaiki pagar itu, disaat yang bersamaan juga Santo terjatuh dan tertangkap oleh zombie-zombie itu.

“SANTO!” Jerit Gracia dan Shani yang melihat temannya tertangkap.

“Lari Dho!!!” teriak Santo. “Buruan lari!!!!”

Zombie-zombie itu makin berkumpul mengelilingi Santo, mereka sudah menancapkan gigi yang berlumuran liur ke leher, kaki juga tangan Santo. Kini pemuda itu menjadi santapan para zombie. Dengan terpaksa Edho pun meloncat  menyusul Shani dan Gracia. Ia langsung meraih lengan kedua gadis itu.

“Kita harus cepet pergi dari sini,” kata Edho dengan wajah tertunduk.

Iklan

2 tanggapan untuk “Zombie…., Part6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s