“Directions The Love and It’s Rewards” Part 19

as

Satu kelas terdiam sejenak menatap ke arah pintu. Di sana, ada Shani yang baru saja datang. Rendy mentapnya dengan pandangan yang berbeda dari yang lainnya.

“Maaf bu, saya telat,” ucap Shani meminta maaf pada guru yang sedang mengajar saat itu.

“Kenapa kamu terlambat?”

“Tadi… Saya bangunnya kesiangan bu,” Shani hanya kenundukan kepalanya d hadapan guru itu.

“Hm… Ya sudah, kamu sekarang langsung duduk aja. Mumpung ibu hari ini lagi seneng.” Shani pun kemudian langsun duduk di sebelah Gre.

“Dari mana aja sih?” tanya Gre.

“Macet tadi Gre, aku bangunnya juga kesiangan,” ucap Shani langsung fokus menghadap ke depan.

Di depan kelas, Rendy berdiri memegang gitar diiringi tepuk tangan satu kelas lantaran lagunya yang memukau. Yuvia tersenyum menatap ke arah Rendy.

“Kayaknya, ada yang lagi jatuh cinta nih?” ucap Viny di sela-sela momen indah itu.

“Ish… Apaan sih, biasa aja kali mah. Aku terharu aja lagunya bagus,” ucap Yuvia tersenyum-senyum sambil malu.

“Shan? Kamu kah orang itu?”  Rendy menatap wajah Shani dari samping yang terkena sinar matahari. Membuatnya lebih cantik dan berseri-seri, ditambah lagi rambutnya yang diponytail.

“Sut… Ve, rencana kita berhasil nih.”

“Iya, coba liat deh. Dia senyam-senyum sendiri tuh daritadi.”

“Ide bagus tadi kita langsung bawa mic.”

“Berhasil! Hahaha…” ucap dua gadis itu bersamaan.

TOS!

 

—o0o—

 

Jam pelajaran tadi sudaah usai. Tiba saatnya istirahat, semua murid langsung saja menuju ke kantin dengan cepatnya. Seperti zombie yang sedang kelaparan. Beberapa dari mereka ada juga yang langsung ke toilet. Biasa, ditahan-tahan itu air seninya wkwk. Tiati ntae batu ginjal ya gais haha.

Rendy terdiam di kursinya. Menatap ke arah kanan. Terus memperhatikan gadis itu dari kejauhan.

“Woy! Ngelamun aja. Kesambet apaan lu?” Guntur menggebrak meja. Sontak membuat Rendy terkejut.

“Buset Tur. Pelan-pelan napa. Bisa jantungan nih gue,” Rendy membenarkan posisi duduknya yang sedari tadi menyamping.

“Mau ngikut ke kantin nggak Ren?” tanya Rio.

“Sorry, gue lagi mager nih. Lu berdua aja deh.”

“Lu mau nitip nggak? Gapapa kalo lu gak mau ke kantin, nitup ke gue aja,” tawar Rio pada Rendy.

“Nggak seh Yo. Nggak usah repot-repot. Lagian gue juga lagi nggak lape,” ucap Rendy beralasan.

“Yaudah, gue sama Guntur cabut dulu ya.” Rio dan Guntur menunggalkan Rendy di kelas. Di dalam kelas, sedikit murid yang sedang bernaung di sana. Ada beberapa yang membawa bekal dari rumah, membaca komik, mengobrol biasa, atau juga gosip pun ada. Realita kehidupan remaja memang seperti itu. Labil, tapi kreatif dan inovatif.

Yuvia, Viny, dan teman yang lain juga sedang ke kentin. Biasalah, lu tau sendiri. Anak dino makannya banyak, kalo nggak makan, ntar dia makan pipinya sendiri gimana hayo? Mau tanggung jawab lu pada? Ehhehe bercanda :v next.

Rendy berdiri dari kursinya. Menciba menghampjri gadis yang sedai tadi memikat oerhatiannya. Padahal, gadis itu hanya terdiam menyendiri dengan buku bertuliskan ‘Biologi” di tangannya.

“Hei, lagi apa?” Rendy tanpa dipersilahkan duduk, langsung saja menempati kursi kosong di sebelah gadi itu.

“Eh, hai. Lagi baca sistem sel pada makhluk hidup nih. Lagi coba bandingin aja yang hewan sama tumbuhan.” gadis itu menoleh sejenak. Wajah Rendy cukup dekat saat tadi ia menjawab pertanyaannya. Seperti tidak tahan berlama-lama dalam situasi sedekat itu.

“Cie, jadi anak biologi nih ceritanya. Padahal abis ini pelajarannya fisika, anaeh-aneh aja kamu,” Rendy mencoba menggoda gadis itu. Ya, gadis iti adalah Shani.

“Ih, apaan deh. Ya lagi suka aja sama Biologi,” ucap Shani sedikit tersenyum.

“Shan,” panggil Rendy lagi.

“Ya?” Shani masih fokus membaca bukunya yang cukup tebal itu.

“Kamu pengen punya pacar kayak gimana saat ini?”

DEG!

“Eh? Ma-maksudnya gi-gimana Ren?” Shani seperti berada dalam atmosfir film aksi. Berdebar-debar dan tidak tahu maksud dari pertanyaan Rendy.

“Ya saat ini kamu pengen punya pacar kayak gimana? Ganteng gitu? Pinter? Bisa main musik dan anak band? Atau… Gimana?” tanya Rendy sambil menatap ke pintu kelas. Seperti mengawasi.

“Em…” Shani terlihat berpikir.

“Pengennya sih, aku nggak mau pacaran dulu. Mau fokus belajar dulu aja gitu,” ucap Shani sekenanya. Ia bingung harus mengatakan apa lagi. Shani berharap Rendy tidak marah dengan jawaban pertanyaannya.

“Oh, gitu ya. Gini aja, seandainya nih ya. Kalo kamu punya pacar, pacar kamu utu irangnya pengen yang kayak gimana?” Rendy menatap Shani.

“Oh… Emm… Gimana ya?” Shani semakin bingung karena Rendy terus menatapnya.

“Yang pasti, dia baik, nggak perlu ganteng. Tapi dia orangnya humoris dan selalu bisa bikin aku tersenyum. Nggak perlu romantis, tapi selalu ada buat menghibur aku,” entah dari mana Shani mendapat jawaban itu.

“Oh gitu ya. Kalo lebih spesifik bisa nggak? Misal dia anak apa gitu? IPA, bahasa, OR, atau lainnya,” Rendy terus bertanya sambil melihat keluar.

“Anak biologi aja deh kali ya. Biar samaan kayak aku gitu,” Shani mengangkat telunjuknya ke kepalanya. Seperti orang berpikir.

Saat mereka sedang asik-asiknya bercakap, beberapa gadis baru saja dari kantin. Hendak menuju ke kelas, mereka masih berada di pintu. Sekedar ngobrol-ngibrol biasa.

“Eh, hari ini ada ekskul idol grup ya?” tanya Acha, anak kelas X-C.

“Wah, iya tuh. Untung lu ingetin Cha,” ucap Yona.

“Nanti kumpul di depan aula ya katanya?” tanya Hanna.

“Iya, jangan lupa sehabis pulang sekolah ya. Tapi nanti istirahat ada shuffle dulu. Biar nanti kalian tahu masuk ke tim apa.” Tiba-tiba sudah ada para senior-senior mereka yang sedang melintas. Siapa lagi kalo bukan… Wush!!! Badai~ Bleshhh! Tsunami~ dan satunya lagi ibu negara.

“Eh, ada kak Ve, kak Naomi, sama kak…” ucap Viny menggantung. Dia tidak mengenali gadis pendek dengan kulit putih merona tersebut.

“Melody.” Ucap gadis yang paling pendek itu.

“Iya, nanti jangan lupa loh,” ucap kak Naomi.

“Wah, selera kamu kurang bagus Shan. Mending kayak aku, anak fisika. Bakteri yang kecil aja diperhatiin, apalagi kamu,” ucap Guntur yang enaah datang dari mana.

“Eh? E….” Shani sedikit terkejut, lantas itu membuatnya grogi.

“Hahaha, mukanya nggak usah grogi hitu kali Shan. Guntur emang kebiasaan kayak gitu. Lagian lu kok bisa ada di sini sih Tur?” tanya Rendy heran akan keberadaan sahabatnya.

“Weh… Lupa julukan gue atau belum tau lu?” Rendy hanya menggeleng pelan.

“Kenalin, Guntur The Blue Lightning,” ucap Guntur dengan percaya diri.

“Eh-eh, liat deh Yuv,” tunjuk Yona ke arah dua insan yang sedangtertawa berdua.

“Ih, apaan deh. Gimbal baget sih hahaha,” setelah lama, akhirnya gadis itu tertawa.

“Loh? Iya kan? Dijamin nggaj nyesel deh,” pemuda itu terus menggodanya.

“Ke kantin lagi yuk, lagi nggak mood di kelas,” Yuvia tiba-tiba menarik tangan Viny.

“E-eh pelan-pelan napa Yuv. Putus nanti ini,” Viny hanya menurut pasrah pada nasibnya.

 

—o0o—

 

Bel istirahat berbunyi. Menandakan pelajaran akan dimulai lagi. Tidak ada yang menarik, tapi Rendy sedari tadi sesekali menoleh ke arah Shani. Sedangkan orang yang dipandang hanya fokus mendengarkan ocehan guru fisika di depan kelas. Entah hanya kebetulan, tapi pandangan mereka bertemu. Rendy hanya memberi senyum, sedangkan yang disenyumi malah terlihat kaku. Tapi pada akhirnya, dia juga tersenyum.

“Aneh banget lu hari ini,” Guntur mencoba menyelidiki.

“Aneh? Aneh apanya?”

“Tuh, ngeliatin ke situ mulu daritadi. Lu kagak liat apa yang di sebelah kanan pojok kayak ngambek gitu mukanya?” Guntur memasukkan tangannya ke dalam salah satu lubang hidungnya. Menikmati galian emas di tambang emas hijau tersebut.

“Yang mana?” Rendy mulai mencari-cari apa yang dimaksud Guntur.

“Tuh, arah jam 2,” Guntur seperti mendeteksi dengan kekuatan listriknya. Sangat akurat dan tepat.

“Lah? Emangnya ngambek kenapa?” Rendy juga mulai bingung.

“Tanya aja sendiri ama orangnya,” Guntur masih fokus dengan tambang emas galiannya.

WUSH!

JLEP!

“ADAWWW!” Tiba-tiba sebuah pensil mendarat tepat di lubang emas Guntur yang satunya.

“Guntur! Berani sekali kamu menggali emas saat saya sedang menerangkan!” Guru itu mulai menatap Guntur.

“Eh… E… Anu Bu… E… Ini bu, saya mau menambah hasil devisa negara. Jadi saya membantu dalam sektir primer pertambangan emas.” Guntur mencabut pensil itu dari lubang hidungnya.

“Huuu! Devisa apaan? Ada juga jorok kali!” Ucap Rio yang mengundang seruan satu kelas.

“Sssuut! Diam semua! Ini bukan hanya untuk Guntur, tapi ini juga peringatan untuk kalian semua. Mengerti?”

“Mengerti bu,” ucap seisi kelas.

“Baik, kita lanjutkan.”

“Eh buset, tuh guru akurat bener ngelemparnya. Pake ajian apa?” Guntur berbisik pada Rendy.

“Nggak tau juga Tur, tapi setahu gue itu guru lagi nerangin materi percepatan gravitasi dan massa dari torpedo.”

“Njir, pantes aja tepat sasaran,” Mereka berdua mulai folus dengan pelajaran.

 

—o0o—

 

Cukup membosankan, pelajaran hari ini pun berakhir. Para murid mulai berhamburan keluar kelas untuk pulang. Beberapa ada yang ke kantin. Dan sisanya menuju ke aula. Ya, ekskul yang baru-baru diminati terlaksana di sana.

“Eh, Sin ayo ke aula,” ajak 2 orang gadis yang sudah berada di samping mejanya. Sinka sedang sibuk merapikan bukunya lalu memasukkannya ke tas. Ia menoleh ke arah suara tersebut.

“Lah? Kalian belom pada balik?” Tanya gadis ber-tas panda itu heran.

“Ya ampun dudut… Kan kita ada ekskul. Emangnya kamu hari ini nggak ada kegiatan OSIS apa?” Gadis berambut sebahu itu mencubit pipi Sinka gemas.

“Ah? Emang ada? Ekskul apaan? Lah terus, kalo misal hari ini ada kumpul OSIS kok nggak ada pemberitahuan?” Tanya Sinka dengan pipi yang masih tercubit.

“Huh… Hari ini kan ada ekskul idol grup itu. Masalah kumpul OSIS, emang kamu dari tadi nggak liat di papan tulis?” Gadis berambut panjang dan tubuh agak besar itu menunujuk ke arah depan kelas.

Benar saja, di sana ada tulisan ‘Setelah pulskul, pengurus OSIS kumpul di ruang sekretariat’. Sinka membelalakan matanya.

“Em… Ehehe,” dia hanya tertawa sambil tersenyum kecil.

“Lago nggak fokus? Mikirin apa sih?” Tanya gadis berambut pendek itu.

“Ah, enggak. Cuma, emang lagi males pelajaran aja hari ini. Masalah kirang fokus, mungkin dehidrasi hehe,” Sinka berdiri sambil menggendong tasnya.

“Ah masa sih? Yang kemarin itu nggak dipermasalahin? Bukannya kamu kemarin ngambek ya gara-gara itu?” Tiba-tiba seorang gadis berdiri di depan kelas saat Sinka beranjak keluar bersama teman-temannya.

“Eh? Kak Naomi,” ucap gadis berambut pendek.

“Hai Yon, Lid,” gadis yang disapa Yona tersenyum sambil membalas sapaan.

“Apaan sih kak, nggak usah dibahas deh” Sinka terlihat mengelak dan mensengus. Memalingkan wajahnya, seperti tidak ingin membahas apa yang dikatakan kakaknya barusan.

“Nanti ada kumpul OSIS loh~ tapi sayang, orangnya nggak dateng.” Kak Naomi berjalan perlahan pergi meninggalkan tempat Sinka, Yona, dan Lidya berdiri.

“Eh? Kenapa kak?” Sinka dengan cepat melontarkan pertanyaan itu. Seperti ada rasa penasaran yang memicunya untuk bertanya.

“Ngapain nanya-nanya? Katanya tadi nggak mau dibahas,” Kak Naomi berhenti sejenak tanpa berbalik.

“E-eh ya… Apa salahnya cuman nanya kak,” Sinka mulai mencari alasan.

“Oh… Nggak khawatir gitu?” Kak Naomi menoleh ke arah Sinka.

“Ih, ngapain juga kayak gitu. Kenal aja baru kemaren,” Sinka memutar otaknya lagi.

“Masa? Kakak selama ini selalu ngawasin kamu loh Sin,” Kak Naomi melanjutkan langkahnya. Sinka terkejut, ternyata selama ini kakaknya bukan hanya perhatian di rumah saja. Namun, selalu mengawasinya daei jauh saat di sekolah.

“Lanjutin di rumah aja ya Sin. Kakak ke sekretariat dulu. Satu lagi…,”

“Kakak melihat seperti kupu-kupu,” Kak Naomi berjalan dan menghilang di belokan.

“Hah? Kupu-kupu? Maksudnya apa sih?” Tanya Lidya bingung.

“Kupu-kupu melihat dengan 12 ribu mata. Eh? Tapi masa mungkin kak Naomi ngeliat dengan 12 ribu mata,” Yona menjelaskan pada Lidya.

“Ah, udahlah. Yuk!” Sinka langsung menarik tangan kedua temannya.

 

—o0o—

 

Aula mulai dipadati dengan para gadis-gadis yang seminggu lalu sudah diumumkan bahwa akan ada sebuah ekskul terbaru. Berbeda dengan ekskul lainnya, ini lebih kompleks rasanya. Idol grup, sebuah grup idola.

“Cek-cek…” tiba-tiba seorang pria berumur dengan mengenakan topi dan sneakers mencuri perhatian di tengah kebisingan di ruangan itu.

Gomawo~ selamat siang!” ucapnya dari mic. Wajahnya terlihat seprti orang mancanegara. Rambutnya cukup berantakan berwarna coklat, namun masih terkesan rapi karena topi yang dikenakannya.

“Perkenalkan nama saya White. Panggil saja Mr. White. Saya di sini akan menjadi koreografer untuk ekskul ini. Salam kenal~” pria itu memang nampak seperti orang daei negara Korea. Mirip di tokoh-tokoh drama yang sedang karak dipertontonkan pada siswi-siswi penggemar cowok yang nampak seperti cewek itu.

“Ah! Sensei ganteng!”

“Duh… Jadi betah deh kayaknya.”

“Mau dong diajarin sama senseinya!”

Selera mereka buruk. Wajah om-om seprti itu masih mereka minati. Dasar penggila drakor.

“Sebelum itu, akan dibagi menjadi tiga tim terlebih dahulu. Masing-masing mengambil gulungan kertas di sebuah kotak yang sudab disediakan.” Mr. White memeberi arahan pada muris-murid.

Setelah masing-masing mengambil, mereka membuka kertas tersebut. Tertulis ada 3 huruf yang berbeda di setiap kertas yang berbeda pula.

“K3?” Viny melihat kertas itu. Tertulis sebuah hurud dengan warna kuning dan biru.

“Yuv, kamu dapet apa?” Tanya Viny yang verada di sevelah gadia berponi itu.

“K3 nih,” Yuvia menunukan kertas yang ia dapat pada Viny.

“Nah, setelah kalian dapat, sekarang kalian bergabung dengan teman se-tim kalian. Ada 3 tim di sini. J, K3, dan T. Masing-masing ada di posisinya. J di kanan, K3 di tengah, dan terakhir T di kiri.”

“Oh gitu… berarti…” Viny menatap ke arah Viny, begitu juga sebaliknya.

“Kita se-tim!!!” Viny dan Yuvia mengucapkan itu serempak dan langsung memeluk satu sama lain.

“Kamu dapet apa Sin?” Tanya Yona.

“K3 nih,” Si ka menunjukan kertas yang dibawanya.

“Eh, kalian dapet apa?” Tanya Lidnya menghampiri Yona dan Sinka.

“K3 juga nih,” ucap Yona.

“Lah? Kok sama?” Lidya ikut menunjukan kertasnya.

“Wah! Kita se-tim! Yes!” ucap Yo a dan Lidya senang. Berbeda dengan Sinka. Sebenaenya dia senang dengan bisa satu tim dengan Yo a dan Lidya. Tapi, hal yang dikatakan kakaknya tadi membuat pikiranya tertuju ke hal lain.

 

*****

 

“Mel, kamu J juga kan?” tanya Ve.

“Iya, kamu juga Ve?”

“Iya nih, wah bisa samaan gini yah,” ucap Ve senang.

“Lah, ngga tau juga Ve. Lagi beruntung nih kayaknya.”

“Kamu dapet apa Nal?” Tanya Ve pada gadia berambut sebahu dengan kesan tomboy di sebelahnya.

“K3 nih. Ah lu berdua enak se-tim. Kalo gue? Kayaknya gabung sama adek kelas deh.” Kinal memanyunkan bibirnya.

“Lah, santai aja Nal. Adek kelas juga nggak ada kok yang lebih galak dari pada kamu.” ucap Ve.

“Ah, bener juga yah. Artinya, bisa gue jadiin babu juga nih, hehe,” Kinal tersenyum kecut.

“Ya ampun, nggak gitu juga Nal.” Ve mengusap wajahnya, sedangkan Melody hanya menggeleng pelan.

 

*****

 

“Shan… Shan…” seorang gadis sedang melambaik-lambaikan tangannya di depan teman gadisnya. Pandangannya kosong ke depan, seperti orang kerasukan. Atau mungkin temannya sedang kerasukan (?)

“Eh, iya?” Gadis itu akhirnya tersadar.

“Ngapain bengong. Tuh, ati gabung ke sana sama yang lainnya. Bareng se-tim,” ucap gadis itu menarik tangan Shani.

“Eh, pelan-pelan Gre,” Shani mengikuti tarikan tangan temannya itu.

 

*****

 

Setelah berkumpul dengan tim yang sudah ditentukan, masing-masing saling mengakrabkan diri. Mungkin dari mereka yang nggak terlalu kenal, kini jadi kenal. Yang kenal, tambah kompak, yang lagi ngebaca mah diem aja. Oke, yang terakhir itu rasa kalian yang lagi baca kalimat tadi :v gue bercanda. Damai oke.

Pertama-tama, mereka semua memulai sesi pemanasan. Ada yang lari-lari nggak jelas, ada yang ngimpor alat lari yang di gym apa itu gue lupa namanya. Ada yang makan-makanan pedes samoe rambutnya keriting kayak cabe. Ada juga yang rela dibakar dengan cara digiling di atas api untuk makanan para suku dari Kuvukiland. Dan semua yang gue bilang tadi bercanda lagi.

Umumnya pemanasan biasa seperti sebelum olahraga. Di antaranya leher, tangan, pergelangab tangan, kaki, hingga pergelangan kaki. Biar nggak cedera otot.

Setelah itu, baru dimulai sesi gerakan dasar dance.

“Jadi gini, sebelumnya mau saya jelasin sedikit. Ekskul ini sangatlah kompleks. Bukan hanya menari, tapi kalian harus berakting dan menyanyi. Pada dasarnya, kita coba gerakan dasar dance dulu. Seorang dancer, ada baiknya bisa split,” White mengelap peluh yang menetes dari dahinya. Begitu  juga siswi lainnya yang mulai panas.

“Split apaan sih Yon?” Tanya Lidya.

“Itu loh, yang merek minuman. Iklannya 20 detik nggak penting. Percobaanya pake perasan jeruk lemon, air putih, sama gelembung,” ucap Sinka asal.

“Duh, tiba-tiba aku jadi haus,” Sinka memegang kerongkongannya.

“Itu mah Seprit Sin,” Yona menggeleng ke arah Sinka. Memang, Yona tahu benar temannya yang satu ini gemar sekali memikirkan makanan.

“Split itu kangkang spurna 180 drajat di tanah, kayak gini nih,” Yona mempraktekkan gerakan itu pada Lidya.

“Oh, gitu… Itu mah gam…

Arrggghhhh!” Lidya merintih kesakitan. Terasa baguan selangkangannya seperti kesemutan dan tak bisa dirasakan. Melihat hal itu, Yona dan Sinka langsung membatunya berdiri.

“Ck ck ck, makanya kalo belom bisa tuh jangan asal aja,” Yo a menggeleng sambil menopang tubuh Lidya, lalu mendudukannya.

“Tuh, dengerin,” timpal Sinka.

“Ah, diem kamu Sin. Coba, kamu bisa emangnya?” Lidya agak kesal.

“Hehe, nggak bisa juga sih,” Sinka hanya tertawa kecil.

“Udah-udah, malah berantem. Kayak anak kecil aja tau nggak,” Yona mencoba melerai teman-temannya.

White mulai mengajarkan gerakan dasar seperti melenturkan kepala, tangan, badan, dan kaki. Semuanya harus mensikron agar gerakannya terlihat meliuk dan mengikuti irama.

“Ayo kalian coba. One! Two! Trhee! Four! Five! Six! Seven, Eight,” White terus memberi aba-aba.

Yang lainnya terus mencoba. Memang agak susah, ini baru hanya dance. Belum lagi berakting dan bernyanyi? Hampir menyerah sudah.

latihan terus berlanjut hingga 1 jam. Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Cukup membuat matahari hampir turun seutuhnya.

“Oke girls cukup sampai di sini. Latihan terus ya, kalian harus buat persembahan untuk acara festival musim panas,” ucap White sambil mengambil dan menenggak air mineral yang ia bawa dari tasnya.

“Siap! Sensei!” Ucap semuanya serentak, meskipun dengan nada parau karena kehabisan tenaga.

“Baiklah, kita cukupi hari ini. Silahkan kalian bisa pulang,” ucap sensei itu pergi keluar aula.

“Abis ini langsung pulang?”

“Iya, kalau kamu?”

“Sama.”

“Sin? Kamu gimana?”

“Aku kumpul dulu sebentar. Kalau kalian mau oulang duluan nggak papa. Aku nanti bisa pulang bareng Kak Naomi kok,” Sinka menutup botol air minerla yang tadi sudah diminumnya sampai tetes terakhir.

“Oke, kalo gitu kita duluan aja ya. Aku ada les,” Lidya mengecek jam tangannya.

“Aku mungkin udah dicariin sama orang tua. Kalo gitu, duluan ya Sin,” Yona melambai diikuti Lidya yang di belakangnya.

“Iya, hatu-hati ya,” Sinka membalas lambaian tangan dua sahabatnya. Ia berjalan gontai menuju ruang sekretariat. Tak sadar, ia menabrak seseorang.

Sontak, Sinka mendongakkan kepalanya. Sinka sangat terkejut.

“Loh? Kamu?!”

 

—o0o—

 

“Duluan ya Shan, papah aku udah jemput tuh,” Gre meninggalkan Shani yang sedang berdiri di halte.

“Iya, hati-hati di jalan,” Shani tersenyum ke arah Gre.

“Aku kayaknya mau ke foto copyan deket sini dulu deh Shan. Maaf ya nggak bisa bareng.”

“Iya nggak papa, hati-hati ya Nin,” Shani melambai pada temannya yang bernama Anin itu.

Sekarang, di sinilah dia. Sendiri menunggu di halte. Menatap kosong ke jalanan, menunggu sebuah angkutan umum berlalu-lalang.

TIK!

TIK!

GRUDUG! GRUDUG! GRUDUG!

“Yah… Kok hujan sih?” Shani menatao ke arah langit. Tangannya ditadahkan ke arah tetesan hujan yang turun tepat di hadapannya. Suara rusuh tadi terdengar akibat benturan air hujan yang deras dengan atap halte tempat ia berteduh. Ia terhanyut sejenak dengan suasana dingin hujan kala itu.

Tiba-tiba, sebuah payung meneduhkan kepalanya yang tadi terkena embun hujan. Shani menoleh ke arah seseorang yang menengadahkan payung untuknya.

“Rendy?” Ia cukup terkejut. Untuk apa Rendy datang memayunginya? Terlihat juga sedikit baju Rendy yang agak basah kuyup. Menandakan hujan sangat deras menerpa.

“Kamu pikir apa?” Tanya Rendy menatap ke arah butiran-butiran hujan yang turun berdera.

“Eh? Em…,” Shani terdiam. Ia menatap ke aeah Rendy terus. Hingga Rendy menoleh dan pandangan mereka bertemu.

“Kedinginan?” Tanya Rendy dengan tatapan dingin.

“H’mm,” Shani hanya mengangguk. Tiba-tiba, Rendy menggenggam tangan kanan Shani dengab tangan kirinya yang bebas tidak memegang payung.

“Merasa lebih baik?” Tanya Rensy tanpa menoleh. Shanj terkejut melihat hal itu. Grogi, deg-degan, berdebar-debar sudah bercampir aduk. Saat ini, mungkin dia tidak kedinginan. Tapi ia kepanasan dengan atmosfir seperti ini. Terlibat dari wajahnya memerah seperti tomat rebus.

“Mau pulang bareng? Aku anterin. Soalnya aku daei tadi manggilin kamu daei mobil aku. Aku klaksonin, kamu nggak denger-denger. Ya udah, aku samperun aja kamu ke sini,” Rendy mengeratkan genggaman tangannya.

“Eh? Ta-tapi ke-kenapa?” Shani sudah tak bisa berkutat lagi. Bicaranya saja hingga terbata-bata.

“Kamu mengingatkanku pada seseorang. Lagipula, aku nggak suak ngelihat cewek kedinginan, sendirian lagi. Apalagi, kedinginan itu karena hujan,” Rendy menatao ke arah langit. Awan hitam masih setia menghujani mereka. Karena hujan yang cukup deras, Shani melihat di sela-sela baju Rendy. Terlihat seperti sebuah kalung. Ia melihat lebih jelas lagi. Kalung itu berbentuk huruf ‘R’.

“Pulang ya? Muka kamu mulai pucet. Ditambah lagi… Kamu sakit ya? Demam? Muka kamu kok merah gitu,” Rendy memeriksa dengan cara memegang kening Shani.

“Aaa… Rendy!!! Jangan deket-deket,” Shani hanya bisa menutup matanya.

“Udah ayo. Aku nggak tega, takut kamu kenapa-napa,” Rendy menarik tangan Shani menunju mobilnya. Shani melihat ke arah tangannya yang ditarik Rendy. Kemudian melihat punggung pemuda itu. Ia teringat akan sesuatu

 

*****

 

Di perjalanan, tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Shani hanya memandang lurus, sesekali melihat wajah Rendy dari samping. Sedangkan Rendy hanya menatap ke arah jalanan. Fokus akan kendali mengemudinya. Apalagi ditambah hujan seperti ini, pasti air membuat kaca mobilnya menjadi sedikit blur.

 

Cukup lama hinggan setengah jam, mereka akhirnya sampai di rumah Shani. Tentunya Shani tadi sempat membantu Rendy menunjukkan aeah rumahnya.

Shani turun perlahan dari mobil. Masih seperti tadi, Rendy memayunginya sampai ia masuk ke rumah.

“M-makasih. Ma-mau mampir dulu?” Tanya Shani grogi. Bahkan, ia tidak berani menatap Rendy. Sedari tadi, ia hanya menundukan kepalanya.

“Nggak usah, makasih. Mendingan kamu istirahat aja sekarang,” Rendy membelai puncak kepala Shani lembut.

“Duh Ren… aku sesak nafas kalo gini terus,” batin Shani.

“Muka kamu merah lagi. Istirahat sana gih,” Rendy kemudian berbalim menuju mobilnya. Shani melambaikan tangannya, dan Rendy membalas itu. Shanj terus menatap kepergian mobil itu sampai menghilang di ujung komplek rumahnya.

 

—o0o—

 

Seusai itu, Shani langsung mandi dan berganti baju. Makan, dan mengahangatkan tubuh drngan susu. Di kamarnya, ia mencoba belajar. Tapi yang ia ingat malah momen-momen bersam Rendy saat hujan tadi.

“Argghhh!!! Aku nggak bisa fokus nih!” Shani menutup wajahnya dengan buku. Teriakannya cukuo keras terdengar.

“Shani? Suara apa itu nak?” tanya ibunya dari luar.

“Ah, nggak papa bu. Bukan apa-apa, tadi ada tikus,” Shani mencoba mencari alasan.

“Hm? Aneh-aneh aja kamu Shan,” ibunya lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar anaknya itu.

“Fyuhhh… Untung aja,” Shani mengelus dadanya. Dia lega karena ibunya tidak tahu dan ia berhasil mencari alasan.

Shani menatap ke arah jendela kamarnya yang masih memperlihatkan butiran-butiran dari derasnya tetesan hujan.

“Apa… Rendy itu…

.

.

.

Reza ya?”

 

-To Be Continued-

Authorized by : @Rendyan_Aldo

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s