“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 12

“Kak?”

Yupi menoleh pada Robby, ia menghela nafasnya. Selalu saja kakaknya yang satu ini melamun, mungkin sudah hobinya melamun..

“Kakak!”

“Apa sih Yup? Gak usah teriak-teriak juga,” ucap Robby sebal.

“Kakak dari tadi aku manggil gak nyaut-nyaut, jadi aku teriak aja. Lagian hobi banget sih ngelamun,” cibir Yupi.

“Kalau ada masalah cerita aja kak, jangan dipendam sendiri. Nanti nyeseknya sendiri,” tambah Yupi.

Robby menoleh pada Yupi, adik kecilnya ini sudah tumbuh dewasa rupanya. Ia menghela nafasnya pelan.

“Shania balik lagi Yup.”

“Kak S-Shania?”

“Kak Shania pacar kakak?” tambah Yupi.

Robby mengangguk, “Iya, emang siapa lagi sih pacar kakak selain dia?”

“Ck, kan mastiin kak. Kenapa sih jadi sewot gitu? Udah ah, ayo cerita lagi.” Yupi menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Oke-oke maaf, mulai cerita dari mana nih?” tanya Robby.

“Semuanya kak, dari kapan kak Shania pulang, terus apa aja yang udah dibicarain, terus apa masalahnya kalau dia balik.”

“Kapan ya? Kata dia sih, sekitar dua mingguan deh Yup. Dibicarain ya? Hm, mungkin kayak orang biasa baru ketemu lah, sama sedikit-sedikit ngomongin yang lain. Kalau masalah, ini yang berat Yup..”

“Apa masalahnya kak?” tanya Yupi yang menatap Robby heran.

“Masalahnya Shani,” jawab Robby.

“Shani? Kak Shani yang sering sama kakak itu akhir-akhir ini ya?” tebak Yupi.

Robby mengangguk, “Iya, Shani yang itu.”

“Emang ada apa sama kak Shani?”

Robby menghela nafasnya, “Kakak udah mulai ada perasaan sama dia Yup.”

“A-apa?!!”

~

Sore hari, sehabis mengantarkan Yupi pulang ke rumah. Kini Robby menjalankan mobilnya menuju rumah Shania, ia akan pergi bersama Shania ke sesuatu tempat yang spesial untuk mereka. Dan di sinilah Robby sekarang, di depan rumah menunggu Shania yang belum keluar. Tapi tak berapa lama, gerbang rumah terbuka dan keluarlah Shania yang langsung berjalan menuju mobil Robby sehabis menutup kembali gerbang rumahnya.

Shania masuk ke dalam mobil Robby, “Hai, maaf ya lama. Tadi ngobrol sama Nabilah dulu.”

“Iya gakpapa kok, Nabilah itu siapa?”

“Temen aku, udah ah, ayo jalan.”

Robby mengangguk, kemudian ia menjalankan mobilnya ke sesuatu tempat. Cukup lama menempuh perjalan menuju sebuah tempat ini, karena rumah Shania yang baru terletak jauh dari rumah lamanya dulu. Ini adalah tempat spesial mereka yang dimana di sinilah mereka memulai hubungan ini, sebuah danau. Ya, danau yang menjadi saksi bisu kisah awal percintaan mereka.

“Wah, udah lama gak ke sini. Banyak yang berubah ya Rob,” ucap Shania.

Robby mengangguk, “Iya banyak yang berubah di sini.”

“Duduk di sana yuk? Biar enak ceritanya.” Shania menunjuk tepi danau yang tidak jauh dari mereka.

Robby mengganguk, dan berjalan bersama Shania. Kemudian mereka pun duduk di tepi danau tersebut, hening menyelimuti mereka. Mereka masih menikmati keadaan yang ada di danau ini. Robby memandang Shania, sudah lama sekali rasanya ia ingin mengajak Shania kembali lagi ke danau ini. Menceritakan semua keluh kesahnya selama ia tidak ada, dan ketika sekarang ada dihadapannya. Kenapa lidahnya sangat kelu untuk menceritakan semuanya?

“Jadi gimana Rob?”

Dahi Robby mengerut, “Gimana apanya?”

Shania menghela nafasnya, “Udah, lupain.”

“Haha, becanda kali. Ngambekkan banget sih? Oke cerita dari mana dulu?”

“Terserah,” ucap Shania sebal.

“Oke deh, dari awal semuanya aja ya? Habis itu baru kamu cerita semuanya,” ucap Robby.

“Et, tapi inget jangan disela kalau aku lagi cerita oke?” tambah Robby.

Shania mengangguk, dan menatap Robby yang menghela nafasnya. Kemudian Robby menatap lurus ke tengah danau. Ia bercerita dengan mulusnya tentang bagaimana selama ia tidak dihubungi. Banyak kejadian yang terjadi, dan salah satunya Shani yang dekat dengan dirinya. Tetapi ia tidak menceritakan bahwa Shani juga pernah menciumnya, karena itu akan berbahaya. Terlalu nekat..

“Sekarang giliran kamu Shan,” ucap Robby.

Shania menghela nafasnya pelan, kemudian ia pun menceritakan semuanya. Dari kenapa ia tidak bisa menghubunginya selama setahun, bagaimana ia disana, pokoknya semuanya…

“Ngg, Shan. Aku mau nanya boleh?”

Shania mengangguk, “Boleh, nanya apa?”

“Ngg, gimana kabar Ve?” tanya Robby hati-hati.

Tubuh Shania menegang, ia terdiam. Cepat atau lambat, pasti Robby akan menanyakan kabar kakaknya itu. Tapi harus gimana lagi? Ia harus kuat menghadapi kenyataan yang sebenarnya..

“Hh, k-kak Ve udah gak ada,” ucap Shania yang menundukkan kepalanya.

“M-maaf, aku gak tau.” Robby menarik Shania ke dalam pelukkannya.

Robby memeluk Shania erat dan dibalas oleh Shania tidak kalah eratnya. Setelah itu tumpahlah air mata Shania mengingat tentang kakaknya itu. Robby dengan lembutnya menenangkan Shania, dan mengelus puncak kepalanya dengan sayang.

“A-aku sayang kak V-Ve, tapi kenapa Tuhan gak adil sama a-aku? Dia ngambil kak Ve duluan, kenapa Rob? Kenapa?” Shania terisak di dalam pelukan Robby.

“Ssttt, udah Shania. Kamu jangan ngomong gitu, Tuhan itu pasti punya rencana yang terbaik untuk kamu. Dan soal Ve, mungkin dia sayang sama Ve. Dia ingin Ve bersamanya. Jadi udah ya?”

Tidak ada jawaban dari Shania, ia diam di dalam pelukan Robby. Dan Robby pun hanya mendiamkannya dan memberikan kehangatan untuk Shania.

Sudah dua puluh menit mereka dalam keadaaan seperti itu, Shania melepaskan pelukannya dan membersihkan sisa air mata yang keluar di wajahnya. Setelah selesai, ia menatap Robby dengan lembut. Ia merasa nyaman ketika menatap Robby begini, mata yang dimiliki Robby seperti menghipnotisnya untuk berlama-lama menatap matanya itu.

Kemudian entah dorongan dari mana dengan perlahan Shania memajukan wajahnya sambil menutup mata, Robby yang melihat itu tiba-tiba teringat kejadian bersama Shani tadi. Baru saja ia ingin mengelak, tetapi Shania sudah mendaratkan ciumannya di bibirnya. Mereka terdiam, tidak ada yang melakukan apa-apa.

Setelah lima menit dengan keadaan seperti itu, Shania pun memundurkan wajahnya dan membuka mata. Pipinya memerah, ia menundukkan kepalanya malu menatap Robby. Padahal kan ia pacarnya, tetapi kenapa ia malu begini? Mungkin karena pertama kalinya setelah sekian lama kali ya…

“Ngg, pulang yuk Shan?”

Shania mendongak menatap Robby, “Ayo. Tapi ke apartement kamu aja ya? Nabilah belum pulang soalnya.”

Robby mengangguk, “Yaudah, yuk.”

Mereka pun bangkit, dan berjalan menuju mobil. Setelah itu mereka pun menuju apartement Robby..

Di sebuah rumah, kini Shani tengah merebahkan tubuhnya sambil menghapus air matanya yang keluar sedari tadi. Matanya kini menjadi perih sehabis menangis, dan ia jua sedari tadi berada di rumah Viny.

“Hh, Shan udah dong. Jangan nangis terus,” ucap Viny.

Shani tidak menghiraukan ucapan Viny, ia malah kembali menjadi-jadi dalam tangisannya.

Viny menghela nafasnya, karena sedari Shani datang ia sudah menangis entah karena apa. Yang jelas ini pasti ada hubungannya dengan Robby..

“Shan udah, kalau ini masalahnya benar karena Robby. Udahlah Shan, kamu tau kan dia udah punya pacar? Kamu bisa kok dapat laki-laki sel-,”

“Enggak! Aku enggak mau cari yang lain! Robby itu sayang sama aku!” potong Shani.

Viny menghela nafasnya pelan, “Dari mana kamu tau dia sayang sama kamu? Hm?”

“Dia tadi bilang sendiri,” ucap Shani pelan.

“Maksud kamu?” tanya Viny heran.

“Waktu aku di depan rumah kamu, dia bilang kalau sayang sama aku.”

“Terus?”

“Dia juga punya perasaan yang sama kayak aku.”

“K-kamu yakin?”

Shani mengangguk, “Aku yakin, karena aku bisa ngerasain hal itu.”

“Tapi..”

“Tapi apa?” tanya Viny.

“Tapi aku gak tau harus gimana sekarang,” lirih Shani.

~

Kini hari telah berganti menjadi malam, Robby dan Shania pun telah berada di dalam apartement Robby. Shania duduk di ruang tengah dan Robby di dapur untuk membuatkan minum untuk Shania dan tentunya untuk dirinya sendiri. Shania menatap sekelilingnya, kemudian ia berjalan-jalan mengitari apartement sampai ia pada satu kamar. Ia pun membuka kamar tersebut dan masuk ke dalam.

Shania mengitari pandangannya, dan ia tidak sengaja melihat foto dirinya dan Robby yang terpajang di atas meja. Shania mengambil foto tersebut, ia tersenyum tipis melihat foto tersebut. Seolah-olah kejadian-kejadian di foto itu terulang kembali di otaknya.

Merasa ada yang menepuk pundaknya, Shania pun menoleh.

“Kenapa?”

Shania menggeleng, “Gakpapa, cuma ngeliatin foto aja kok.”

Shania menaruh kembali foto tersebut.

“Gak kerasa kayanya udah lama ya Rob, aku ngerasa baru kemarin deh kita kaya gini,” ucap Shania yang masih memandang foto tersebut.

Robby mengangguk, “Iya gak kerasa ya, jangan pergi lagi ya?”

Shania menatap Robby, kemudian ia tersenyum sambil merentangkan tangannya seolah-olah kode untuk dipeluk. Robby yang mengerti pun berjalan mendekat pada Shania, dan memeluk tubuh Shania.

“Janji jangan pergi lagi Shan,” bisik Robby.

Shania mengangguk dalam pelukan Robby, “Ya, aku janji.”

Mereka pun larut dalam keheningan, sambil terus memeluk satu sama lain. Shania merenggangkan pelukannya, dan ia menatap Robby. Shania mengelus pipi Robby lembut, sedangkan Robby memejamkan matanya merasakan kehangatan yang diberikan oleh Shania.

Shania mencium pipi Robby, dan Robby tersenyum saat Shania melakukan itu. Ia pun membuka matanya menatap Shania. Ia juga melakukan hal yang sama seperti Shania, ia mencium Shania di kenignnya.

Mereka tertawa bersama, entah kenapa mereka merasa hal itu lucu. Mungkin dulu mereka tidak pernah begini kali ya..

Saat mereka sedang tertawa, handphone Robby berbunyi. Mereka pun terdiam, Robby mengambil handphonennya dan Shania menatap Robby seolah bertanya ‘siapa yang nelpon?’.

“Kak Naomi,” ucap Robby.

“Yaudah, sana angkat gih.”

Robby mengangguk, kemudian ia pun mengangkat panggilan telpon tersebut.

“Halo kak?”

“Kamu dimana?”

“Di apartement, kenapa?”

“Bisa pulang ke rumah gak?”

“Emangnya kenapa?”

“Mamah mau ketemu kamu, Mamah kangen katanya.”

“Mamah pulang?”

“Iya, makanya kamu disuruh pulang. Ayo cepetan pulang.”

“Yaudah deh, bentar lagi aku ke rumah.”

“Oke, bye. Hati-hati nyetirnya nanti.”

“Iya.”

Panggilan tersebut pun terputus karena Naomi mematikannya, dan Robby pun menaruh handphonenya di atas meja.

“Mamah kamu pulang?” tanya Shania.

Robby mengangguk, “Iya, aku disuruh ke rumah buat nginep di rumah.”

“Yaudah, sekalian anterin aku pulang deh,” ucap Shania.

“Yaudah, ayo.”

Mereka pun keluar dari apartement setelah mengambil barang-barang Shania di ruang tengah, mereka berjalan ke parkiran apartement. Kemudian masuk ke dalam mobil Robby, dan Robby pun menjalankan mobilnya ke rumah Shania.

Setelah mengantarkan Shania pulang ke rumahnya, Robby pun menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya, ia memarkirkan mobilnya di garasi. Kemudian ia pun masuk ke dalam rumah..

“Astaga, anak Mamah tambah ganteng kayaknya ya. Udah lama gak ketemu,” ucap Andina yang memeluk Robby.

Ya, Andina adalah ibu dari Robby, Naomi dan Yupi.

“Gimana tinggal di apartement enak?” tanya Andina.

Robby mengangguk, “Lumayan Mah.”

“Cih, ganteng dari mana coba? Yang ada sih sok kegantengan, iya gak kak Naomi?” cibir Yupi.

Naomi mengangguk, “Bener tuh, sok kegantengan.”

“Sirik aja,” ucap Robby sebal.

“Udah ah, kok jadi pada ribut? Lebih baik kita makan malam, kamu belum makan kan?” tanya Andina pada Robby.

Robby cengengesan, sedangkan Andina menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak laki-lakinya ini. Mereka berempat pun makan malam bersama, dan di selingi pembicaraan ringan tentunya. Setelah selesai makan dan mencuci piring, Andina memerintahkan mereka untuk ke ruang tengah. Ada yang ingin ia bicarakan pada mereka.

Kini keadaan mendadak seperti menegangkan, entah apa yang ingin Andina bicarakan pada mereka. Tetapi Robby merasakan ada hal yang tidak enak untuknya.

“Jadi ada apa Mah?” tanya Naomi.

“Lusa kalian enggak pada sibuk kan?” Andina menatap mereka bertiga bergantian.

“Enggak kayaknya deh, tau deh kalau Robby,” ucap Naomi.

“Kamu ada ulangan gak nanti dek?” tanya Andina pada Yupi.

Yupi menggeleng, “Enggak ada Mah, udah kok kemarin. Jadi ya paling tugas doang sih Mah.”

“Kalau kamu?” Andina menatap Robby.

“Kayaknya sih enggak Mah,” ucap Robby.

“Yaudah, lusa kosongin jadwal kalian ya. Soalnya kita mau ada acara, jadi jangan buat janji apapun,” ucap Andina.

“Acara apa Mah?” tanya Robby.

“Ada lah pokoknya, udah jangan buat janji apapun. Inget ya!”

Mereka pun mengangguk menanggapi ucapan Andina, kemudian mereka mengobrol-ngobrol santai membahas berbagai macam hal. Tidak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 10, mereka bertiga pun pamit pada Andina untuk tidur. Dan setelah itu Andina pun masuk ke dalam kamarnya..

Di dalam kamar Robby, ia tengah memikirkan kejadian yang terjadi hari ini, dan ia tiba-tiba menjadi kepikiran tentang Shani. Ia tidak menghubunginya sama sekali hari ini, setelah mengantarkan ke rumah Viny. Shani pun tidak mengirimkan pesan, aneh pikir Robby.

Ting!

Robby pun mengambil handphonenya dan membuka pesan yang masuk di Line miliknya.

ShaniIndiraN : Udah tidur ya? Maaf ya gak ngehubungin, gak pegang hp soalnya hehe. Sleep tight then Rob:)

Robby : Belum kok, tapi ini mau siap-siap tidur sih. Kamu jangan begadang oke? Iya, gapapa kok. Iya Indira, kamu juga ya:)

Robby meletakkan kembali handphonenya, dan ia pun memejamkan matanya. Kemudian tak berapa lama, ia pun tertidur..

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s