Aku dan Akhir Hidupku

“Tidaaaaaakkkk….!!!” jerit feni

Teriakan feni pada malam itu membangunkan semua orang yang berada dirumah. Semua orang dengan sigap menghampiri dan mencari tahu apa yang menyebabkan feni bisa berteriak histeris.

“Ada apa fen? Mimpi lagi?” tanya Mama heran.

“Mimpi itu muncul lagi mah,” tangis feni pecah ketika bertemu dengan mama. Ia memeluk mamanya erat dan berharap mimpi hitam itu segera hilang dari fikirannya.

“Aku ingin tidur dengan mamah ya,” lanjut feni. Mama hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Dan semua kembali ke keadaan semula. Kakak feni dan papah, kembali tertidur setelah dibuat heran dengan keributan kecil tersebut. Malam itu menjadi malam paling menakutkan untuk feni. Entah apa yang menganggu fikirannya. Seluruh keluarganya hanya berfikir ia sangat kelelahan setelah seharian beraktivitas sebagai pengajar di Sekolah Luar  Biasa (SLB). Ia memang sering mengigau ketika tidur, feni juga sering menyebut beberapa nama yang sebelumnya tidak pernah ia temui dikehidupannya bahkan kakak feni, Albert, menganggap ia mempunyai kelainan atau imajinasi tingkat tinggi karena tempat ia bekerja bertemu dengan siswa-siswa yang mempunyai daya khayal yang tinggi. Pendapat ini ditolak feni dengan tegas. Ia tidak sedang mempunyai kelainan atau apapun dan ia mampu meyakinkan semua orang bahwa ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Tetapi, ia sendiri pun tidak tahu atas apa yang sedang menimpanya.

-aku dan akhir hidupku-

Keseharian feni menjadi pengajar di Sekolah Luar Biasa didaerah kampusnya. Ia menerima tawaran  mengajar disana karena didasari oleh rasa iba dan haru luar biasa melihat keadaan siswa disana. Siswa yang sangat luar biasa yang sedikit banyak membuka mata hati feni tentang makna kehidupan dan rasa bersyukur serta menceritakan dan mengajarkan  feni bagaimana cara tersenyum ketika masalah melanda kehidupannya. Inilah yang membuat feni semakin cinta dengan profesi sekarang meski tidak menghasilkan gaji yang seharusnya didapat oleh Sarjana Psikologi ini. Namun, niat baik feni ternyata tidak dilihat baik juga oleh keluarganya. Keluarganya berharap dengan gelar feni tersebut ia berhak mendapat penghasilan yang lebih layak dan pekerjaan yang sepadan dengan apa yang ia telah korbankan selama ini. Inilah tantangan besar bagi feni untuk menunjukkan apa yang menjadi pilihannya memang pilihan yang terbaik.

-aku dan akhir hidupku-

Seiring berjalannya waktu, keluarga feni banyak menemukan kejanggalan dengan diri feni. Sejak ia mengajar disekolah itu, feni sering sekali bermimpi aneh dan berfikir diluar nalar manusia pada umumnya. Kakak feni yang merasakan hal ini terlebih dahulu sejak ia makan siang di salah satu restaurant dan menyebut salah satu nama aneh yang tidak pernah ia temui dalam kehidupannya juga kakaknya.

“Kau itu berbicara apa sih fen? Aku tak mengerti dengan ucapanmu, lalu siapa itu Tom? Rekan kerjamu disekolah apa salah satu murid barumu? Jelaskan padaku, dan apa yang kau maksud dengan kau harus bertemu dia di Taman Leovard, itu dimana feni?” tanya Albert.

Tanpa sadar feni menceritakan secara runtut tentang apa yang dipertanyakan oleh kakaknya, dan hal ini membuat kakaknya semakin bingung dan sedih sebenarnya apa yang terjadi dengan adiknya itu. Semakin hari semakin aneh tetapi feni tidak merasakan keanehan yang dirasakan oleh kakaknya.

“Kau menceritakan itu lagi??” tanya Albert

“Cerita apa ka? Ka kok aku merasa sangat lelah ya hari ini, haus sekali ka (sambil menyeruput segelas kopi), aku seperti baru berbicara banyak pada orang dan seperti selesai berlari sejauh 5 km ka, kita pulang yuk ka, aku ingin istirahat,” lanjut feni. Entah apa yang mengganggunya. Selama diperjalanan sang kakak tidak henti-hentinya menatap tajam wajah adiknya yang mengkhawatirkan itu, ia sedang berfikir apa yang terjadi pada feni.

-aku dan akhir hidupku-

Sesampainya dirumah feni langsung beristirahat dikamarnya yang nyaman dan tidak memperdulikan apa yang sedang diributkan oleh seluruh keluarganya. Kakak feni menceritakan apa yang terjadi pada adiknya kepada seluruh keluarganya.

“feni melakukan hal itu lagi ma, pa,” jelas Albert.

“Ia terus berbicara tentang Tom, Taman itu dan darah. Aku takut mah ini ada hubungannya dengan tempat kerjanya tetapi dia bercerita ini tanpa dia sadari mah soalnya waktu Albert mengagetkan dia, dia kaget dan langsung berkeringat hebat dan dia juga mengaku bahwa dia baru saja berlari sejauh 5 km, ini aneh,” lanjut Albert.

Semua terdiam. Bingung harus melakukan reaksi apa. Apakah benar ini berhubungan dengan profesi feni, tetapi nampaknya guru-guru lain tidak ada yang seperti feni.

“Apakah kita harus menyelidiki apa yang ia lakukan disekolah itu ya mah?,” tanya papah.

“Papah khawatir apa yang dikatakan Albert itu benar, kita lihat saja keseharian feni berkomunikasi dengan anak luar biasa itu yang imajinasinya sangat tinggi dan berlaku aneh, feni juga mengakui kan kalau dia menemukan banyak keanehan pada murid-muridnya dan ia harus ekstra sabar mengartikan maksud dari perilaku murid-muridnya itu, ini bisa menjadi suatu indikasi mah,” tambah papah.

“Tapi pah, kan feni pernah bilang kalau disekolah tidak terjadi apa-apa dan mamah lihat guru-guru lain disana baik-baik saja, mungkin feni terlalu lelah hingga ia mengigau seperti itu, mamah tidak mau kalian curiga kepada feni terlebih lagi kekhawatiran kalian tidak masuk akal,” tegas mamah.

“Tapi mah, feni…” tambah Albert

“Cukup Albert, mau sampai kapan kau mencurigai adikmu itu, mau sampai kapan kau menganggap adikmu aneh, dia adikmu dan sampai kapanpun dia tidak aneh, dia normal!!” tegas mamah, dan mamah langsung pergi meninggalkan semua orang diruang keluarga.

Sepanjang malam mamah tidak bisa tertidur. Tidak bisa dipungkiri ia memikirkan kata-kata suami dan anaknya tentang feni yang aneh dan menghubung-hubungkan dengan profesi feni sekarang. Mamah mulai berfikir ingin membawa feni ke Psikiater kenalannya di Surabaya, bukan bermaksud setuju bahwa feni “sakit”, hanya ingin membuktikan bahwa pernyataan suami dan anaknya itu salah tentang feni, ya hanya itu. Dengan mantap mamah ingin berdiskusi dengan feni tentang rencananya membawanya ke psikiater. Ia menghampiri kamar feni.

Sesampainya di kamar feni, mamah melihat feni belum tertidur karena lampu masih menyala dan mamah mendengar ada pembicaraan serius, akhirnya mamah mengintip keadaan didalam dari luar kamar karena takut mengganggu anaknya yang sedang ada tamu.

“Kenapa aku harus kesana Tom? Ada apa disana, aku tidak mau menyerahkan mereka kepada “tangan dingin” itu, jangan memaksaku Tom. Aku tahu kau tidak ingin ada yang terluka tapi dengan cara ini sama saja kau membunuh aku dua kali, kau mengerti!!” jerit feni.

“Tapi kau tahu feni, hanya kau yang dapat menyelamatkan mereka dan hanya ditaman itu kau dapat menolongnya tidak ditempat lain, entah harus bagaimana aku memohon padamu, tapi sudah tidak ada waktu lagi kita harus cepat karena jika terlambat, bukan saja mereka yang mati tapi aku, kau bahkan keluargamu juga akan mati feni, fikirkan itu,”gumam feni. Mamah mendengarkan pembicaraan dengan keadaan buluk kuduk berdiri. Bagaimana tidak ia mendengar dan melihat dari balik pintu feni berbicara sendiri tetapi menggunakan dua dialog dan dua warna suara. Bagaimana  bisa? Seorang diri berbicara pada dirinya sendiri tetapi seolah-seolah menjadi orang lain. Mamah mulai merasakan tenggorokannya mengering. Mamah tidak bisa merasakan lututnya dan getaran hebat mendorong pintu kamarnya dan terbukalah kamar feni dan feni kaget melihat mamahnya pingsan didepan kamarnya.

“Mamah, mamah kenapa mah, papah, Albert!! Teriak feni. Seketika datang papah dan Albert dan kaget melihat mamahnya pingsan,

“Mamah kenapa feni, kenapa bisa pingsan disini,?” tanya papah. Sambil membopong tubuh mamah ke dalam kamar feni.

“feni juga bingung pah, tiba-tiba saja mamah membuka kamar aku dan langsung pingsan, aku juga kaget pah,” jelas feni

Saat ayah dan feni sibuk membangunkan mamah, Albert melihat-lihat sekitar kamar feni dengan kecurigaan yang teramat dalam. Ia ingin menemukan bukti yang valid atas kecurigaannya. Dan ia menemukan sebuah foto aneh. Ketika ia ingin mengambilnya, tiba-tiba…

“Jangan sentuh itu, aku tak mengizinkan kau menyentuhnya, minggir.” Foto itu berhasil direbut oleh feni tanpa berhasil dilihat oleh Albert. Tersentak kaget tak percaya bagaimana bisa ia sangat cepat mengetahui kalau Albert sedang mencari bukti. Kekhawatiran baru muncul dibenak Albert.  Ketika itu mamah sadar.

“feni, feni, kemari sayang, mamah ingin bertanya sesuatu hal padamu,” panggil lirih mamah.

“Iya mah, ada apa? Mamah baik-baik saja kan?”jawab feni.

“Mamah mau kamu jawab dengan jujur, sebenarnya siapa yang mau mati? Siapa itu Tom dan kenapa kau berbicara sendiri menggunakan dua warna suara seperti berbicara pada dua orang,?” tanya mamah. Semua orang kaget tak percaya mendengar pertanyaan mamah termasuk feni.

“Mamah ngomong apa, feni gak mengerti mah, mamah mungkin kecapean sudah larut malam juga, mamah tidur ya, feni juga lelah mah ingin istirahat apalagi besok feni harus ngajar mah,” jawab feni.

“Gak feni, kakak mau kamu jawab pertanyaan mamah, jawab jujur fen, kamu juga menceritakan ini sewaktu di restaurant, sebenarnya ada apa, dan tadi foto apa kenapa kakak gak boleh lihat, jawab feni, jawab!!,” lanjut Albert.

“Kalian ini kenapa? feni gak kenapa-kenapa, feni juga gak paham dengan kalian, berbicara apa sebenarnya kalian, dan kau Albert, mau sampai kapan menganggapku aneh, aku tidak aneh, aku tidak gila, dan aku tidak berbicara dengan siapa-siapa mah, percaya sama feni. Dan foto? Ya aku tidak suka saja kamarku diacak-acak orang lain karena aku juga punya privacy ka, dan kakak harus menghargai itu!!,” lanjut feni.

“Tapi kau aneh..,” lanjut Albert.

“Sudah feni benar, mungkin mamah terlalu lelah memikirkan masalah ini, sehingga mamah juga berimajinasi sangat tinggi dan seperti mendengar dua orang berbicara dikamar feni, mana mungkin ada tamu selarut ini, dan mana mungkin di Indonesia ada taman yang bernama loevard dan aneh seperti itu, iya kan fen,” tambah mamah.

feni hanya menggangguk tanda setuju dan semua kembali ke kamar masing-masing. Sebuah misteri besar telah terjadi di keluarga itu.

-aku dan akhir hidupku-

Melihat situasi yang tidak bersahabat ini, Albert mulai menyusun strategi bagaimana mencari bukti valid tentang  misteri ini. Mengingat apa yang diceritakan feni ia juga tidak mau ada apa-apa dengan keluarganya terlebih lagi dengan adiknya, feni. Berbagai cara ia tempuh, dari mengumpulkan data dari teman-teman feni selama ia kuliah, teman-teman disekolah itu, bahkan tak jarang ia mengunjungi sekolah tersebut tanpa diketahui oleh feni. Semua ia lakukan demi kebaikan keluarganya. Ia berharap feni tidak mengetahui rencananya ini dan ia dapat menemukan bukti-bukti yang memang memberikan kejelasan sejelas-jelasnya.

“Tidak mungkin tidak ada apa-apa, pasti ada sesuatu, tapi apa?”Albert terus berfikir keras. Ia juga menghubungkan dengan foto yang sempat ia temukan dikamar feni, karena dianggapnya kalau itu hanya sebuah foto mengapa ia harus sentak kaget dan tak boleh dilihat, sungguh aneh.

Sesampainya dirumah, ia langsung masuk ke kamar feni mencari bukti lain sebelum adiknya itu pulang, dan WUUUUSHHH!!! Ia menemukan secercah cahaya….

“Apa ini!!!,” Albert menemukan print out email dari yang bernama Michael si tangan dingin bertuliskan menggunakan tinta merah dan tidak rapih dalam mengetiknya dan berisi,

Untukmu feni, sudah kuperingatkan kau berkali-kali, jika kau mau semuanya baik-baik saja, ikuti aturan main aku dan ikuti perintah Tom, jangan mengelak lagi dari permainan ini, kau sudah terlalu jauh melangkah dan kau tak bisa mundur feni!! Semua keputusan ada ditangan mu, aku tak mau semua tak berjalan sesuai rencana, aku butuh darah itu, aku ingin tetap hidup di tubuh ini, aku tidak ingin kembali menjadi seonggok daging yang tak berguna. Kau paham feni!!

Dari yang selalu menunggumu,

Michael si tangan dingin

Sontak kaget tak percaya Albert membaca pesan itu, darimana sebenarnya asal semua ini. feni tak pernah punya musuh, tempat ia bekerja dan berkumpul dengan teman-temannya pun seluruh keluarganya sudah tahu. Namun, darimana mereka? bergetar tangan Albert setelah membacanya, ia foto terlebih dahulu kertasnya dan ia berniat untuk memfotokopinya namun belum dijalankan ia takut feni segera pulang. Albert mencari informasi lain disekeliling kamar feni. Ia semakin bersemangat menggali informasi tentang adiknya itu. dan jika semua sudah terkumpul ia akan membicarakannya dengan semua anggota keluarganya dan menyembuhkan penyakit feni. Dalam pencariannya, Albert teringat pada foto yang belum sempat ia lihat tempo hari. Ia langsung mencari ketempat dimana dahulu ia temukan, tapi nihil, feni telah memindahkannya. Mungkin feni sadar bahwa kakaknya akan kembali mencari foto itu.

Dibukanya lemari pakaian feni sebagai target selanjutnya. Sepanjang mata memandang hanya kumpulan pakaian fashionable dari feni tidak ada yang aneh, kumpulan assesoris pun terlihat disana. Albert mulai merasakan putus asa disana. Sudah tidak ada tanda-tanda kecurigaan lagi. Pada saat ia menutup pintu lemarinya, ia melihat potongan sisa kain yang aneh, menggantung disela-sela pakaian feni. Dengan cepat ia mengambil kain itu dan Albert langsung jatuh terkapar. Ia melihat sisa kain itu dengan bercak darah yang masih segar dan berbau amis. Bagaimana bisa feni si wanita super bersih menyimpan sisa kain seperti itu, apakah itu bekas ia menstruasi? Tapi tak mungkin ia simpan didalam lemari pakaiannya. Sungguh aneh. Albert langsung menghentikan pencariannya dan membawa sisa kain itu sebagai barang bukti. Ia akhiri masa pencariannnya hari ini.

-aku dan akhir hidupku-

Berjalannya waktu, belum ada kejadian aneh lainnya. feni pun belum menyadari apapun dari pencarian Albert. Ia juga tidak lagi menunjukkan sikap ketakutan atau hal aneh lainnya. Hanya saja akhir-akhir ini feni selalu pulang larut malam tidak seperti kebiasaan feni. Biasanya usai feni mengajar, ia langsung pulang dan paling larut ia pulang yaitu jam 20.45 malam lebih malam dari itu feni pasti menelefon orang rumah atau izin menginap. Tetapi tidak kali ini. Ia selalu pulang larut malam tanpa pemberitahuan. Kadang jam 02.00 ia baru sampai rumah, jam 03.00 masih dijalan. Entah apa yang dilakukan feni diluar sana. Handphone nya pun semakin sulit dihubungi. Setiap ditanya kenapa pulang selarut itu, feni selalu mengelak bahkan membalikkan pembicaraan orang rumah dan selalu mengkait-kaitkan dengan masalah yang lain. Hingga pada akhirnya, orang rumah seakan tak peduli dengan aktivitas feni saat ini. Mereka mencoba acuh tak acuh dengan kondisi feni. Membiarkan feni melakukan semua hal sesuka hatinya.

Keadaan seperti ini berlangsung cukup lama. Albert berfikir harus sampai kapan keluarganya seperti ini. Tidak peduli dengan anggota keluarga yang lain terlebih lagi keadaan adiknya yang aneh seperti itu. akhirnya saat feni tidak dirumah, Albert mulai memberanikan diri membuka pembicaraan dengan kedua orang tuanya. Dengan membawa semua hasil penemuannya didalam kamar feni.

“mah, pah, ada yang mau Albert tunjukkin sama kalian,” jelas Albert.

Tanpa jawaban dari kedua orang tuanya, mereka semua berkumpul diruang keluarga dan Albert mengeluarkan semua yang telah ia dapatkan dari hasil pencariannya tempo hari.

“apa itu? kamu mendapatkannya dari mana? Bau busuk apa itu?” histeris mama ketika melihat sisa kain yang berlumur darah.

“ini mah yang Albert temuin di kamar feni. pertama surat ini. Pertanyaan besar yang muncul di benak Albert, sejak kapan feni punya musuh mah? Dan isi surat ini juga mengancam keselamatan keluarga kita, berarti ada indikasi mereka mengenal atau memang kenal lama dengan feni kan? Tapi feni gak pernah cerita kan kalau dia mempunyai beberapa kenalan laki-laki seperti ini? Dan yang kedua potongan kain ini. Bekas apa coba mah. Mamah tau aku dapet dimana? Dalam lemari pakaian feni mah. Mah feni gak jorok kan mah. Masa iya ia menyimpan potongan kain bau dan masih ada darahnya. Dan anehnya lagi darahnya masih seger mah. Sebenarnya feni kenapa mah, pah,” lanjut Albert.

“ini gak bisa dibiarin. Harus segera diselidiki. Kita lapor polisi bagaimana? Kita buat laporan keluarga kita diteror melalui si feni ini. Kita bawa bukti-bukti ini. Bagaimana?” usul papah.

“gak pah gak bisa. Ini masih misteri pah. Kan kita juga gak pernah mendapat cerita feni sedang ada masalah kan. Selama ini semuanya baik-baik saja pah. Kalau kita melapor, tidak ada bukti yang kuat siapa orangnya dan bagaimana rupa dari semua nama-nama ini pah,” jelas Albert.

“gini aja pah, kita selidiki diam-diam kejadian ini tapi jangan sampai feni curiga. Papah dan mamah awasi gerak gerik feni dirumah, aku terus mencari bukti-bukti lain, gimana?” tambah Albert.

Selama diskusi ini berjalan, mamah hanya menangis, mungkin ia yang paling merasakan kekhawatiran pada diri anaknya. Ikatan batin seorang ibu yang mampu mengalahkan logika nalar berfikir. Tetapi ini bukan waktunya untuk menangisi semuanya. Albert dan papah mencoba menenangkan mamah dan meyakinkan mamah bahwa ini untuk kebaikan semuanya. Keputusan final telah diambil oleh semua anggota keluarga. Kini semua bekerja pada posisinya. Mamah dan papah mengawasi dirumah, Albert mencari data baru. Penyelidikan dimulai….

-aku dan akhir hidupku-

Hari-hari berlalu begitu saja, penyelidikan yang dilakukan oleh anggota keluarga ini berjalan mulus. Tidak ada kecurigaan dari feni terhadap sikap keluarganya. Albert pun terus mendapat data valid, tapi agak sedikit aneh. Ya memang semua yang terkait masalah ini memang aneh. Dirumah, seperti biasa feni pulang jam 02.00 tapi kali ini dia pulang dengan muka sembab seperti habis menangis hebat. Mamah yang telah menunggunya dirumah tetapi tidak menunjukkan dirinya tetap mengawasi gerak gerik feni. Mamah membuntuti feni hingga sampai ke kamarnya dan mengintip apa yang dilakukan anaknya itu. mamah melihat feni menangis hebat hingga terisak-isak. Tak kuasa mamah langsung masuk ke kamar feni.

“fen,” panggil mamah

“mamah,”  jawab feni sambil mengusap air matanya.

“ada apa sayang, ada masalah apa, apa yang menggagumu hingga kamu seperti ini, cerita sama mamah sayangku,” tambah mamah.

feni memeluk mamah sangat erat dan enggan melepaskan. Dibahu mamah feni melanjutkan tangisan hebatnya dan enggan untuk menghentikan air matanya. Mamah semakin bingung harus berbuat apa. Mamah yang berusaha melepaskan pelukan feni segera ingin mengetahui keadaan anak bungsunya itu. namun, feni tidak mengizinkan mamah melihat muka feni yang sudah penuh dengan air mata. Terus berusaha, akhirnya feni ingin bicara.

“kamu kenapa sayang, kalau begini mamah gak tau harus berbuat apa, ayo cerita sama mamah, kita selesaikan ini sama-sama. kamu tidak sendiri sayang, ingat kami selalu ada buat kamu,” hibur mamah sambil mengusap air mata feni.

“aku sayang mamah, aku sayang papah, aku sayang ka albert, aku sayang keluarga ini mah, aku gak mau kalian kenapa-kenapa. Aku gak mau nurut apa kata Tom, aku gak mau nyerahin semua ini sama mereka. aku gak mau memberikan darah itu. aku gak mau mah,, aku gak mau.. aku….,” jelas feni.

“ ada apa sebenarnya? Apa kata Tom? Dia menyuruhmu apa? Maksud kamu darah itu apa? Kita juga sayang sama kamu, kita juga gak mau kamu kenapa-kenapa. Coba ceritakan dari awal soal semua ini. Mamah belum mengerti,” tambah mamah.

“aku gak bisa mah, aku gak bisa. Sudah terlanjur semua mah, ini salah aku, ini salah aku mah. Kalian gak seharusnya terlibat disini. feni juga gak tau harus memulai darimana, feni takut mah, feni takut,” tambah feni. feni memeluk erat tubuh mamah hingga mamah kesulitan bernafas. Menangis hanya itu cara Jane bisa menenangkan diri. Mamah yang semakin bingung dan melihat keadaan anaknya yang tidak memungkinkan itu, ia berhenti untuk mengintrogasi anaknya.

“yasudah feni lebih baik kamu istirahat ya, kamu sangat lelah. Besok kamu istirahat saja tidak usah mengajar dahulu. Sehatkan tubuh dan fikiranmu jangan memaksa dirimu, ya sayang ya,”jelas mamah sambil mencium kening anaknya dan keluar dari kamarnya.

Setelah mamah keluar dari kamar, feni tidak langsung tertidur, ia terus menangis dan menangis tanpa henti. Ia lelah sebenarnya tetapi air matanya tak bisa berhenti. Tiba-tiba…

“ pergi!! Pergi kamu!! Pergi!! Kenapa gak mau pergi dari hidup aku? kenapa kamu terus muncul difikiran aku bahkan menjadi kenyataan layaknya kehidupan nyata!! Pergi kau yang bernama Tom, pergi kau bayangan si tangan dingin, aku tak mau mati karena fikiranku!! Aku tak mau masuk dalam dunia khayal yang jahat ini!! Pergi!!!!!,” teriak histeris feni sambil melemparkan semua yang ada disekitarnya. Kamar feni kini tak berbentuk segalanya hancur dan berantakan. Sementara didalam kacau, ternyata diluar kamar mamah, albert, dan papah telah mendengar semua itu. mereka pun diam seribu bahasa. Mereka telah mendapat satu kesimpulan yang sangat aneh. Hingga mamah kembali jatuh pingsan.

“mamah…,” teriak papah dan albert.

feni mendengar teriakan itu tetapi tidak ingin keluar dan mengabaikan jeritan di luar kamarnya dan ia kembali menangis. Sungguh malam yang dramatis…

-aku dan akhir hidupku-

25 agustus 2014, pukul 08.00

“ pagi mah, pagi pah,” sambut Albert ketika sampai di meja makan untuk sarapan pagi.

“pagi sayang, ayo sini makan dulu baru kamu berangkat kerja, nih pah kopinya,” lanjut mamah sambil menyodorkan kopi ke papah yang sedang asik dengan koran paginya. Sungguh pemandangan keluarga yang bahagia.

“ mah, pah, feni belum turun? Tumben sekali sudah siang begini belum turun, biasanya dia yang paling pagi sampai meja makan, aku panggil ya mah, pah,” lanjut Albert sambil berjalan menuju  kamar feni.

“ jangan membuat dia sedih atau apa ya Bet. Kasian dia kejadian semalam sudah membuat dia sangat terguncang, mamah juga,” tambah mamah. Albert hanya mengangguk meyakinkan. Ia melangkahkan kakinya ke kamar feni dengan perasaan yang campur aduk. Ia ragu sebenarnya saat langkah terakhir hingga di depan pintu kamar feni. Dengan tangan gemetar ia mencoba membuka gagang pintu kamar feni.

“feni, adikku sayang, kita sarapan bareng yuk dek, (tiba-tiba). fen… feni.. kamu kenapa sayang, feni… mamah, papah, feni bangun dek feni!!!,” histeris Albert ketika melihat feni sedang kesulitan bernafas dan seperti sedang mengalami sakratul maut. Mamah dan papah memndengar jeritan Albert langsung lari menuju kamar feni. Dan sontak kaget melihat putri bungsunya tidak bisa bernafas dan terus menarik dada sambil mengeluarkan air mata (mata terbelalak ke atas, suara ringkih, memegangi dada seperti asma).

“astaghfirullah nak, kamu kenapa nak, papah telfon ambulan pah cepat, feni bangun sayang, feni..!!!,” tambah mamah. Tidak lama kemudian ambulan datang, serentak semuanya membawa feni menuju rumah sakit. Saat papah dan mamah membawa turun feni menuju ambulan, Albert sempat melihat sepucuk surat dimeja belajar feni dengan warna dan bentuk kertas yang sama seperti yang ia temukan dahulu. Ia menghentikan langkahnya dan mengambil surat itu dan sempat membaca isi suratnya yang berisi,

feni, feni, feni, ternyata kamu keras kepala feni, kamu tidak sayang dengan keluargamu, kamu tidak perduli dengan Tom, kamu egois feni!! Kamu egois. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. sekarang waktumu sudah habis, kamu tidak mengikuti aturanku feni, mana darah itu feni mana!! Mana janjimu yang mau memberikanku kehidupan baru!! Apa artinya daging busuk ini tanpa darah dan tubuh yang pas feni, Tom telah mati, sebentar lagi kau atau salah satu keluargamu juga akan mati, nantikan saja feni, namun jika kau berubah fikiran, telfon aku 032187457638 atau semuanya akan berakhir.. hahahaha…

            “ shit.. apa ini, nomor macam apa ini, Tom mati? Berarti keadaan feni sekarang karena….,” belum sempat ia melanjutkan pikirannya, mamah sudah teriak memanggilnya.

“iya mah, aku turun,” jawab Albert.

Selama di ambulan, mamah tak henti-hentinya menangis. Papah hanya terdiam seribu bahasa dan Albert terus memandangi isi tulisan itu dan berfikir keras tak mengerti. Sambil terus menghafal nomor aneh itu, kadang kala membuka handphonenya untuk menyimpan nomor itu. Tetapi hal itu belum dilakukannya karena begitu hebat keraguan yang ada pada dirinya. Sesampainya di rumah sakit, feni langsung dibawa ke UGD. Mamah dan papah mengikuti langkah para dokter yang siap memeriksa feni. Tetapi tidak dengan Albert. Ia mengasingkan diri. Ia berfikir bahwa ia harus mencoba menguhubungi nomor aneh itu dan memastikan semuanya. Ditekannya nomor itu di handphonenya dan ia siap mendengar seseorang yang selama ini menghantui keluarganya. Sambil menunggu..

akhirnya kau menelfonku juga feni. Aku yakin kamu itu wanita yang baik, pasti kamu mau menyerahkan darah itu kan, feni feni. Kau memang bisa diandalkan,” si tangan dingin.

“hei kau siapa? Kau apakan adikku, hah!! Siapa kau, muncul kau ke hadapanku, pengecut kau beraninya dengan perempuan,” tegas Albert. Setelah Albert berbicara dengan si tangan dingin itu, tak ada suara lagi dan tak ada percakapan lagi diantara mereka.

“shit, siapa dia? Apa maksud semua ini.. aaaaaaarrrrggghghh!!!!,” geram Albert sambil menendang apa saja yang ada didepannya.  Albert putus asa, dia mengepalkan kertas itu dan kembali ke dalam untuk melihat keadaan feni.

“mah, pah, gimana keadaan feni,” tanya Albert.

“ kau bisa lihat sendiri, dia masih tak bisa bernafas, dokter belum bilang apa-apa. feni belum berhenti dari tarik menarik nafas seperti itu. mamah sudah ikhlas bet jika tuhan mengambilnya hari ini. Tetapi, yang mamah tidak ikhlas cara feni meninggal yang tiba-tiba ini. feni tidak mempunyai penyakit serius, feni selama ini sehat-sehat saja bagaimana bisa tiba-tiba ia mengalami hal seperti ini,” jelas mamah.

“ albert sudah paham mah sama semua ini. Memang diluar nalar manusia. Tapi feni telah terbunuh mah, ia terbunuh dengan pikirannya yang memiliki skenario yang rumit. Didalam pikirannya telah ada kehidupan lain mah dan kehidupan itu memaksa feni untuk menyerahkan seluruh kehidupannya dan tidak ada seseorang pun yang tahu dan mengerti ini. Banyak bukti yang sudah albert temuin mah, termasuk suara asli dari orang itu, tadi Albert menelfon si tangan dingin itu. dan memang benar ia yang telah membunuh feni mah,“ jelas Albert. Selagi mereka berdiskusi, dokter keluar dari ruangan.

“ feni kehabisan banyak darah, dan sampai saat ini jantungnya belum juga stabil. Saya heran jantungnya tidak stabil tetapi saya tidak menemukan kesalahan di jantungnya, jantungnya sehat, paru-parunya sehat tapi kenapa feni tidak bisa bernafas dan banyak kehilangan darah, apa dia mempunyai riwayat penyakit dalam yang lain?” tanya dokter keheranan.

“ dokter, lakukan saja yang terbaik buat anak saya, jika memang tak bisa diselamatkan kami sudah ikhlas dok, tetapi dokter tetap harus melakukan yang terbaik untuk anak saya, ambil darah saya dok,” tambah mamah.

“ baik, saya akan mengusahakan kesembuhan untuk anak ibu. Perawat saya sedang mengambil stok darah di rumah sakit ini, harusnya sih cukup untuk anak ibu. Mari bu saya masuk dulu permisi,” lanjut dokter. Semua anggota keluarga feni hanya bisa pasrah melihat anaknya lemah tak berdaya. Tak ada penyakit apapun tetapi harus tersiksa seperti itu. air mata mamah hampir sudah tak bisa menetes lagi. Seperti sudah terkuras habis hari itu. sungguh aneh semua yang dialami oleh keluarga feni.

-aku dan akhir hidupku-

Akhirnya feni meninggal dengan segala misteri di hidupnya. Tak ada satupun yang mengerti tentang akhir kisah hidup feni. Yang mereka tahu, feni sakit karena kekurangan darah secara tiba-tiba walaupun sebenarnya feni telah terbunuh didalam fikirannya. Si tangan dingin telah mengambil darah dan jiwa feni. Dan ternyata daging dan darah yang diinginkan oleh si tangan dingin itu ialah feni, walau si tangan dingin itu tetap tidak ada bentuk dan rupanya. Hanya feni yang mengerti tentang semua ini. Begitu hebatnya pikiran feni yang mampu membunuh jiwa dan raganya. Misteri yang belum selesai dituntaskan.

-TAMAT-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s