Silat Boy : Petualangan Klasik Part 44

“Jadi begitulah ceritanya…” Rusdi baru saja menceritakan kisah
petualangannya dengan Boim.
“Kak Melody sampe marah-marah gara-gara bahu aku kayak gini.” Rusdi
menunjukkan luka dibahunya yang sudah diperban oleh Kak Melody.

Seperti biasa, saat jam istirahat mereka berkumpul di kantin. Rusdi
dengan senang hati menceritakan petualangannya dengan Boim untuk
membawa pulang Reza.

“Kau beruntung Boim ikut denganmu, jika ia tidak ikut mungkin sekarang
kau sudah mati.” Epul tertawa.
“Ya, mungkin saja.” balas Rusdi tersenyum simpul.

“Kami hampir mati saat itu.” Boim tiba-tiba menghampiri mereka.
“Boim!” seru Epul.
“Waktu itu kami harus melawan para pemberontak, dan juga kami harus
berperang antara hidup dan mati.” sambungnya.

“Sungguh petualangan klasik yang akan kami ingat.” Boim tersenyum kecil.
“Aku juga harus melawan kembali dua bodyguard Mister Liem, kami
berperang melawan pasukan Taipan itu.” ujar Rusdi.

“Dan kami ada di pihak para pemberontak. Rusdi hampir mati dalam
perang itu. Jika aku tidak menyelamatkannya, mungkin dia sudah mati.”
Boim lalu duduk.

Mereka tertawa lepas saat itu. Sungguh waktu bersama sahabat sangat
mengasyikan. Tidak ada lagi rasa canggung diantara mereka. Bahkan kini
Boim dan Epul terlihat sangat dekat.

Rusdi dan Naomi jauh lebih dekat. Seminggu ini Naomi merasa kesepian
tanpa kehadiran Rusdi. Ia merasa jenuh belajar tanpa Rusdi di kelas.
Walaupun Epul berusaha menghiburnya ia selalu murung.

Yona sesekali menggodanya apakah ia merindukan Rusdi. Dan jawabannya
selalu mengangguk, ia sama sekali tidak mau bicara apapun tentang
Rusdi. Yona tertawa geli melihat sahabatnya itu.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya setelah mereka selesai ujian
kenaikan kelas. Mereka sudah mulai libur sekolah. Kini mereka bukan
lagi kelas sebelas, melainkan senior kelas dua belas.

Hari ini mereka berkumpul di lapangan basket dekat rumah Rusdi. Epul,
Naomi dan Rusdi sudah siap latihan basket. Mereka hendak bermain
basket untuk yang terakhir kalinya.

Terakhir? Yap, itu memang yang terakhir kali sebelum Rusdi pergi ke
Jepang. Ia akan melanjutkan sekolahnya di Jepang. Ia mendapatkan
kesempatan emas itu dari Reza.

Orang tua Anin sepakat untuk membiayai sekolah Rusdi ke Jepang bersama
Reza. Itu adalah hadiah untuknya sebagai tanda terima kasih karna
telah membawa pulang Reza.

Dan Reza meminta kedua orang tuanya untuk sekolah di Jepang bersama
Rusdi. Sebenarnya itu pilihan sulit bagi Rusdi karna harus
meninggalkan kakak dan sahabat-sahabatnya.

Tapi kakaknya terus mendesak agar ia memikirkan itu terlebih dahulu.
Sesungguhnya Kak Melody tidak keberatan jika Rusdi pergi ke Jepang dan
meninggalkannya.

Kak Melody malah mendukungnya, jangan sia-siakan kesempatan emas itu.
Dan sejujurnya pergi ke Jepang memang impian Rusdi sejak lama. Ia
ingin sekali menginjakkan kaki di negeri matahari terbit.

Dan sahabat-sahabatnya pun tidak keberatan. Rusdi pasti akan kembali
tahun depan. Tepatnya saat lulus nanti. Mereka pasti akan berkumpul
kembali. Satu tahun itu tidak terlalu lama.

Naomi? Ya, dia pasti akan sangat merindukannya. Dia harus membuat hari
terakhir yang begitu berkesan bersama Naomi. Naomi akan sangat
terpukul akan kepergiannya.

“Jadi ini hari terakhirmu, ya?” tanya Epul.
“Sebenarnya lusa aku akan berangkat ke Jepang.” jawab Rusdi.
“Baiklah, ayo kita bermain untuk yang terakhir kalinya!” seru Naomi bersemangat.

Mereka lalu mulai bermain basket. Naomi sangat gesit, ia jauh lebih
hebat jika dibandingkan dengan tahun lalu. Tepatnya saat pertama kali
mereka bertemu di lapangan itu.

Sore hari, tidak terasa mereka bermain basket selama dua jam. Setelah
selesai latihan, mereka lalu duduk-duduk sejenak. Tak lama Epul
kembali bermain basket.

“Naomi, besok mau gak temenin aku liburan? Aku mau nikmatin hari
terakhir aku di tanah kelahiranku.” ucap Rusdi.
“Di Kampung Tengsaw maksudnya?” tanya Naomi, Rusdi hanya mengangguk.

“Baiklah, itu pasti seru. Aku panggil Epul dulu!” Naomi hendak
menghampiri Epul, tapi Rusdi menahan lengannya.
“Aku mau liburan itu hanya kita berdua, kau dan aku.” Rusdi kemudian
melepaskan lengannya.

Naomi perlahan kembali duduk setelah Rusdi melepaskan lengannya. Lalu
ia menatap jauh ke angkasa. Cahaya langit sore sudah mulai berubah
warnanya menjadi jingga.

“Kau ingat tidak pertemuan pertama kita?” tanya Naomi.
“Aku sangat ingat kenangan-kenangan indah itu.” jawabnya.
“Tidak terasa, setahun telah berlalu.” Naomi tersenyum.

“Aku amat mengenalmu! Kau itu ceroboh, kurang pintar di kelas, dan
juga sedikit idiot.” Naomi tertawa, Rusdi kemudian menatap wajahnya.
“Tapi kau itu baik, rajin, pemberani, dan juga tampan.” sambungnya
disertai senyuman Rusdi.

“Kau dulu tidak bisa apa-apa. Bahkan kau sangat takut pada Boim
setelah ia menghajarmu habis-habisan. Tapi kau belajar dengan
sungguh-sungguh beladiri yang sebenarnya bersama Kak Ve.” Naomi
kembali tersenyum seraya menatap langit sore.

“Kak Ve? Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumahnya.” gumam Rusdi.
“Kau mengalahkan Boim dalam tantangannya sendiri. Lalu Boim memutuskan
untuk berteman dengan kita.” sambung Naomi.

“Setelah itu petualangan kalian pun di mulai. Pertama saat kau
mengalahkan dua bodyguard Mister Liem. Lalu misimu untuk membawa
pulang Reza, kakak klienmu yang bernama Anin.” ucap Naomi.

“Ahh… sungguh masa-masa yang indah. Kedatanganmu membuat hari-hari
kami semakin berwarna, terutama bagi Epul. Dulu ia sangat kesepian
karna kakaknya sangat sibuk, tapi setelah berteman denganmu ia jadi
lebih aktif.” ujar Naomi.

Mereka lalu terdiam beberapa saat. Menatap langat yang masih berwarna
jingga. Kini warna itu amat pekat. Sore yang indah untuk melihat
pemandangan itu di taman kota

“Sunset yang indah, jadi bagaimana jawabnmu?” tanya Rusdi.
“Iya, aku mau ikut liburan sama kamu. Cuma kita berdua, kau dan aku.”
balasnya disertai senyum manisnya.

“Aku tidak akan melupakan kalian yang selalu menemaniku selama setahun
ini dalam suka maupun duka.” ucap Rusdi.
“Selamat menempuh pendidikan baru.” Naomi kemudian memeluk Rusdi.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s