Silat Boy : Perang Penentuan Part 43

“Sial, Addyn sudah tidak bisa diselamatkan lagi!” Rusdi mengepalkan
lengannya saat ia melihat kondisi Addyn.
“Dia sudah mati, tidak ada yang perlu disesali.” jawab Boim, Yupi
hanya mengangguk pelan.

Mereka kemudian keluar dari ruangan itu. Rusdi memegangi bahunya yang
terluka karna terseret peluru. Tiba-tiba mereka ditembaki dari atas
rumah. Lalu mereka berpencar dan bersembunyi.

Rusdi meringis kesakitan karna lukanya. Dan ia sangat panik karna
musuh terus menembakinya. Bahkan dinding tempatnya berlindung hampir
hancur karna rentetan peluru itu.

“Boim!” panggil Rusdi.
“Bertahanlah!” Boim hanya diam tidak membantu Rusdi.
“BOIM!!!” teriak Rusdi, Boim kemudian menutup matanya.

“Ayo, tunjukkan insting membunuhmu!” bisik Yupi dari tempat lain, Boim
kemudian membuka matanya.
“Kalahkan mereka, jagoan!” ucap Yupi, lalu Boim keluar dari tempat
persembunyiannya.

Boim memutar-mutarkan senjatanya, lalu menembaki mereka semua dari
bawah. Senjata itu adalah TMP milik Yupi, sementara satunya lagi masih
dipegang oleh Yupi.

Boim terus maju tanpa ada rasa takut akan terbunuh. Musuh berkali-kali
menembakinya, tapi tidak ada yang kena. Tembakan Boim malah selalu
mengenai musuh.

Setelah dirasa sudah aman, Rusdi perlahan berdiri. Lalu melihat Boim
menyerbu belasan musuh seorang diri. Hanya bermodalkan nyali dan
sebuah senjata.

Rusdi kagum melihat Boim dengan mudahnya menembaki orang-orang itu.
Disisi lain ia juga merasa ngeri melihat Boim membunuh orang-orang itu
dengan keji.

Dari kejauhan, seseorang mendekat padanya. Boim kehabisan peluru, ia
lalu membuang senjatanya. Tiba-tiba Yupi memanggilnya, lalu
melemparkan TMP itu pada Boim.

Boim menangkapnya, lalu berguling di lantai untuk menghindari tembakan
musuh. Boim kembali berdiri, lalu menembaki sisa musuhnya. Salah
seorang pria menodongnya dari belakang.

Boim berbalik, lalu menembak lengan pria itu. Pria itu tertunduk, ia
meringis kesakitan. Pistolnya jatuh ke tanah. Boim lalu mundur
beberapa langkah, mendekat pada Yupi.

“Kau?” Boim menatap tajam pria itu, yang tak lain adalah Mister Liem.
“Mister Liem!” Rusdi tiba-tiba menghampiri Boim, Mister Liem tertawa kecil.

“Kenapa kau selalu menggangguku?” Mister Liem memegangi lengannya,
darah mengalir dari lengannya.
“Kau sudah mengusirku dari Kampung Tengsaw, sekarang saat aku sudah
pergi kau malah mengikutiku kesini!” bentaknya.

“Jadi dia orang yang berbuat kacau di kampungmu?” tanya Yupi, Rusdi
hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.
“Bersiaplah untuk mati!” Yupi lalu mengisyaratkan sebuah kode.

Seketika semua anak buahnya yang  selamat mendekat pada Mister Liem,
termasuk Reza. Lalu mereka menembaki Mister Liem berkali-kali hingga
Mister Liem mati saat itu juga.

Mereka kemudian diam sejenak. Dari arah belakang, Rusdi membanting
Reza. Lalu menyeretnya mendekat pada Boim. Para pemberontak terkejut,
lalu Boim menodong mereka.

Yupi yang berada di sebelahnya ditodong dengan pistol milik Rusdi,
sementara para pemberontak yang membunuh Mister Liem ditodong dengan
TMP milik Yupi. Boim menodong mereka dengan kedua tangan.

“Boim… kenapa?” Yupi heran.
“Maafkan aku, tapi inilah tujuan kami datang kesini. Sejak awal terget
utama kami adalah membawa Reza pulang ke rumah.” Boim masih menodong
mereka.

Kedua tangan Reza kemudian diikat oleh Rusdi. Reza tertunduk seraya
tersenyum kecil. Mereka tidak melihat senyuman itu. Para pemberontak
marah, kemudian mereka memompa senjatanya hendak menembak Rusdi dan
Boim.

“Sudah cukup, hentikan! Kalian tidak akan bisa mengalahkannya, dia
ahli menggunakan senjata. Kalian yang akan mati jika menembaknya.
Sementara Rusdi sangat gesit, dia tidak akan mati semudah itu!” ucap
Yupi.

“Tapi nona, mereka…” ucap salah satu pemberontak.
“Sudahlah! Aku memang ingin pulang.” Reza menatap mereka seraya
tersenyum simpul.

“Reza? Kau?” Yupi menatapnya heran, Yupi lalu diam sejenak.
“Baiklah jika itu maumu, para pemberontak sudah berhasil memenangkan
peperangan ini. Selamat tinggal Reza, dan terima kasih atas jasamu.”
sambungnya.

“Terima kasih juga atas bantuan kalian berdua. Tanpa kalian kami tidak
akan bisa menang.” ucap Yupi, Rusdi dan Boim hanya mengangguk kecil.
“Selamat tinggal, nona.” gumam Boim.

Mereka kemudian membawa Reza keluar dari hutan. Setelah sampai di
terminal, mereka bingung ingin berbuat apa lagi. Mereka meninggalkan
tas nya di markas. Baju mereka juga sudah kusut dan penuh darah.

“Sekarang apa? Kak Melody masih besok sore menjemput kita disini.”
ucap Rusdi seraya memegangi Reza.
“Kita tidak punya waktu untuk menunggu sampai besok sore, kita naik
bis!” balas Boim.

“Tapi para penumpang pasti menatap kita aneh, lihat baju kita! Kita
penuh darah dan luka, selain itu mereka pasti menatap aneh karna kita
mengikat Reza!” Rusdi kemudian melepaskan jas nya.

“Hiraukan saja mereka!” ujar Boim, lalu mereka naik ke bis.
“Baiklah.” Rusdi membuang jas nya ke tempat sampah, jas itu penuh
dengan darah dan juga sudah sobek di bagian bahunya karna terseret
peluru dan pisau saat melawan Jack.

Bis perlahan melaju, Reza kembali tersenyum. Setelah lima hari penuh
perjuangan, mereka akhirnya berhasil membawa pulang Reza ke Jakarta.
Mereka hampir saja mati di Sukabumi.

Para pemberontak yang dipipimpin oleh seorang wanita, peperangan itu,
saling menembak dengan rentetan peluru, pertemuannya kembali dengan
Mister Liem dan kedua bodyguard nya.

Rusdi akan menceritakan kisah klasik petualangannya itu pada
teman-temannya di  kelas, dan juga pada Kak Melody. Maka kisah
berikutnya adalah di Jakarta.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s