Silat Boy : Kematian Lagi Part 42

Satu orang yang masih hidup itu perlahan hendak mengambil senjatanya.
Lalu Boim menembak sisa satu orang yang masih hidup itu hingga mati.
Tembakan itu adalah tanda perkelahian segera dimulai.

Rusdi menyeringai, lalu mulai menyerang Capu. Capu menghindari
serangan-serangan itu dengan gesit. Lalu menendang Rusdi, tapi
tendangannya ditahan oleh Rusdi.

Rusdi lalu memukul Capu dengan keras, hingga Capu mundur beberapa
langkah. Rusdi menatapnya tajam, sementata yang ditatap hanya
menyeringai seraya tertawa.

“Tatapan yang bagus, ini akan menjadi semakin menarik.” Capu masih menyeringai.
“Kau akan kukalahkan, sialan!” Rusdi sedikit berteriak.

“Kita akan bertarung sampai salah satu dari kita mati!” balas Capu
sedikit berteriak.
“Aku tidak akan membunuhmu, aku hanya akan melukaimu!” Rusdi kemudian
menendang Capu.

Capu terjengkang karna ia masih belum siap menerima serangan. Rusdi
membangunkannya, lalu memukul wajahnya berkali-kali. Setelah itu
kembali menjatuhkannya.

Capu berusaha bertahan, ia melindungi kepalanya. Rusdi berteriak, lalu
mengepalkan tangannya dengan kuat. Setelah itu meninju wajah Capu
dengan keras.

Capu mengaduh, ia kemudian menendang Rusdi. Lalu ia kembali berdiri
seraya memegangi pelipismya yang terluka. Ia sejenak diam, lalu
menyeringai sebelum akhirnya kembali menyerang Rusdi.

Rusdi telak terkena serangan-serangan itu. Capu berkali-kali memukul
dan menendang Rusdi. Rusdi berusaha bertahan, tapi Capu menendangnya
dengan kuat hingga Rusdi tersungkur.

“Sial, kau kuat juga!” Rusdi tertawa.
“Jack terlalu menganggapmu kuat.” Capu menatap Rusdi dengan ekspresi datar.
“Begitu ya…” Rusdi kemudian berdiri, lalu menghampiri Capu.

Capu gentar, kali ini ia takut melihat tatapan Rusdi. Capu mundur
beberapa langkah. Rusdi dengan wajah penuh luka berusaha menahan
pukulan-pukulan Capu.

Capu memukul wajahnya berkali-kali. Rusdi hanya diam dan tidak
melawan. Lalu saat Capu hendak memukulnya lagi, Rusdi menahan
tangannya. Ia menggenggam tangan Capu amat kuat.

“Petarung jalanan dan beladiri itu beda.” Rusdi kemudian memukul wajah
Capu dengan tangan lainnya, Capu kembali mundur beberapa langkah.
“Kali ini kau sudah tamat.” Rusdi menatapnya datar.

Rusdi kemudian menggunakan Blue Power, setelah itu ia kembali berdiri.
Lalu menendang kepala Capu. Capu berguling, lalu kembali berdiri dan
menyerang Rusdi.

Kali ini Rusdi tidak menahan serangan-serangan itu, tapi ia balik
menyerang dengan lebih kuat hingga berkali-kali Capu mengaduh. Teknik
Pukulan Kuat, itulah nama jurus ciptaannya.

Rusdi melompat, lalu menendang wajah Capu. Capu terkesiap, Rusdi salto
berputar lalu menendang kakinya. Capu terjatuh, ia meringis kesakitan
seraya berteriak.

“KAU MEMATAHKAN KAKIKU!!!” teriaknya.
“Bukankah sudah kubilang? Aku hanya akan melukaimu, tapi tidak akan
membunuhmu! Kenapa kau menyalahkanku?” Rusdi tertawa kecil.

“Ayo, kita tinggalkan dia!” Rusdi hendak pergi, diikuti oleh Boim dan Yupi.
“Tunggu! Aku masih belum selesai, ayo kita bertarung sampai mati!”
ucapnya, tiba-tiba Boim menembaknya.

“Boim… kau?” Yupi terkesiap.
“Boim, kenapa kau menembak orang lagi?” tanya Rusdi.
“Dia banyak bicara!” jawabnya, Rusdi hanya menatapnya heran.

“Dia lemah tidak seperti omongannya, baru patah kaki saja sudah hampir
nangis. Gimana kalau mati, dia pasti nangis.” ucap Boim.
“Orang mati mana bisa nangis.” Boim tertawa kecil.

“Dia mau bertarung sampai mati, bukan? Kau tidak mau bunuh orang,
bukan? Makanya aku menembak dia agar dia mati, dia banyak bicara!”
Boim berlalu meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam.


BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s