Sorry, I Love You, Part1

wp-1474367356021.jpg

Gadis itu sangat bersemangat setelah mendengar bel pulang telah berbunyi. Bagaimana tidak, hari ini ia akan pulang bersama kekasihnya. Hal yang begitu ia rindukan selama dua minggu terakhir ini.

“Keliatannya lagi seneng,” kata seorang gadis berambut pendek yang menghampiri meja Sinka.

“Semangat amat,” tambah si gadis berkacamata.

Sinka hanya senyum-senyum sambil memasukan buku-bukunya kedalam tas. Sampai pada akhirnya Hanna si gadis berambut pendek duduk didepannya.

“Hey, ada apa?”

“Rahasia dong,” kata Sinka.

“Sombong nih sekarang, kasih tau lah Sin,” kata Desy si gadis berkacamata.

“Kasih tau gak ya?” Sinka menutup mulutnya dengan sebuah buku. Ia melirik-lirik ke arah dua temannya yang sedari tadi memandangnya dengan wajah penasaran.

“Apaan?” tanya Desy.

“Ya udah deh aku kasih tau,” jawab Sinka.

“Jadi apa?” Hanna makin antusian mendengar jawaban Sinka.

“Hari ini aku mau pulang bareng Reza! Yeay!”

Mendadak raut muka kedua teman Sinka berubah. Mereka menatap heran ke arah gadis berjaket panda itu. Sinka pun balik menatap heran ke arah teman-temannya itu.

“Kenapa?”

“Kamu masih percaya Reza?” Tanya Desy.

“Aku kira kamu udah putus sama dia,” tambah Hanna.

“Engga kok, aku masih pacaran sama dia.” Sinka tersenyum kepada kedua temannya.

“Ayo lah Sinka, Reza itu playboy kamu tau kan kemarin dia jalan sama Natalia?” Tanya Desy.

“Dia itu udah selingkuh sama kamu Sinka,” kata Hanna.

Sinka tersenyum mendengar ucapan temannya itu. “Aku percaya sama Reza.”

Ia akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan teman-temannya. Hanna dan Desy hanya menggeleng mendengar ucapan Sinka.

Bagaimana tidak, mereka berdua merasa sahabatnya itu benar-benar dibohongi oleh cowok yang bernama Reza. Bahkan gosip Reza yang berpacaran dengan Natalia itu sudah menyebar di sekolah. Tapi tetap saja Sinka tidak mau percaya, ia lebih percaya dengan Reza.

Sinka beranggapan Reza masih menjadi pacarnya. Karna sampai detik ini pun Reza belum pernah menyatakan putus kepada Sinka.

Sampai pada akhirnya di kantin sekolah, Sinka melihat Reza berada disana. Duduk disebuah meja bersama seorang cewek. Sinka pun tau Reza saat itu sedang duduk bersama siapa, ya Natalia anak IPS.

Sinka berjalan ke arah Reza dengan menenteng-nenteng jaket panda miliknya. Saat di depan meja yang ditempati Reza, kedua orang yang duduk disana hanya menatap heran ke arah Sinka.

“Za, yuk pulang,” ajak Sinka.

Sorry, kita ga jadi pulang bareng,” jawab Reza ketus.

“Loh kenapa?” tanya Sinka.

“Ga jadi males.”

“Bukannya kemarin malem kamu bilang kalau hari ini kita pulang bareng?”

“Lupain aja.”

“Tapi Za…”

“Heh… lu ngapain ajak-ajak pacar orang buat pulang bareng?” Sinka hanya melihat ke arah Natalia.

“Pacar orang? Dia pacar aku kok,” jawab Sinka.

Natalia menarik kerah seragam Sinka, “Ngaku-ngaku lo! Dia pacar gue!”

“Cukup Nat, biar aku jelasin semuanya,” kata Reza.

Natalia pun melepaskan cengkraman tangannya, ia kembali duduk di kursinya. Sementara Sinka masih berdiri di dekat Reza. Ia sedikit membetulkan kerahnya, lalu ia pun kembali tersenyum.

“Jadi gimana? Jadi kan pulang bareng,” kata Sinka.

“Ok ok Sinka, biar aku jelasin sekarang.” Reza mengambil nafas sejenak sebelum ia mulai berbicara lagi, “Kita udah putus, aku udah pacaran sama Nat.”

“Tunggu, maksud kamu?”

“Ya, kita putus, udah dua minggu aku pacaran sama Nat, dan aku bosan sama cewek manja kekanak-kanakan kaya kamu.”

“Za, emangnya kenapa kalau….” belum selesai Sinka berbicara Nat sudah memotong omongan Sinka.

“Kalau dibilang putus ya putus! Masih ngeyel nih anak.”

Akhirnya Natalia tidak bisa menahan emosinya. Ia meraih segelas lemon tea yang ada dimeja dan langsung menyiramkan ke arah Sinka.

Seketika wajah dan seragam Sinka basah oleh lemon tea. Gadis penyuka panda itu hanya menunduk. Semua mata dikantin mengarah kepadanya.

Sinka mengangkat kepalanya perlahan melihat ke arah Reza. Dari tatapannya tak ada sedikitpun rasa kasihan terhadap Sinka. Sementara Sinka hanya tersenyum, dengan air mata yang perlahan mulai menetes.

“Jadi cuma karna bosan kamu putusin aku?” tanya Sinka.

“Ya, itu udah cukup buat jadi alasan aku putusin kamu.”

Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Reza. Sinka langsung membalikan badannya dan berlari menjauhi pria tersebut. Air mata makin membasahi pipinya. Beberapa kali ia mengusap pipinya tapi sayang air mata itu tak mau berhenti.

~oOo~

Hello!” lambaian tangan didepan wajah Sinka tiba-tiba menyadarkannya.

“Maaf.”

“Ada apa Sin?” tanya si gadis berkacamata.

“Ah engga kok, ya udah yuk lanjut ngerjain.”

Lagi-lagi ingatan itu kembali hadir. Setiap ia melihat anak SMA yang berpacaran di kantin, Sinka selalu teringat masa lalunya. Kenangan pahit yang sebenarnya tidak ingin ia ingat-ingat lagi. Tapi entah mengapa ingatan itu selalu hadir.

Sampai saat ini sebenarnya Sinka belum bisa melupakan mantan pacar disekolah lamanya itu. Padahal jelas-jelas matannya itu sudah menyakitinya. Meskipun begitu Sinka selalu berjanji pada dirinya agar bisa move on dari sang mantan. Terlebih sekarang ia sudah beda kota dengan mantan pacarnya itu.

“Ngomong-ngomong kamu ke sekolah naik apa Sin?”

“Perginya diantar Cici aku, kalau pulangnya naik bis.”

“Jauh ga?”

“Ya lumayan lah.”

“Hey… hey… belum pada pulang?!”

Tiba-tiba dua orang cewek berjalan ke arah meja Sinka, yang satu bertubuh tinggi tapi kurus sedangkan yang satunya bertubuh lebih pendek dengan rambut model poni rata.

“Ikha bagi dong,” kata cewek yang bertubuh mungil.

“Habisin aja Yup,” jawab Ikha si cewek yang memakai kacamata.

Anak yang bertubuh mungil itu langsung mengambil jus stroberi yang ada di atas meja. Tidak butuh waktu lama untuk cewek itu membuat gelas menjadi kosong.

“Haus Yup?” tanya Ikha, Yuvia hanya tertawa.

“Ngomong-ngomong, lagi ngapain nih?” tanya Viny si gadis kurus tinggi langsing.

“Tugas Bahasa Indonesia,” jawab Sinka.

“Oiya Sinka, kemaren aku liat kamu pulangnya naik bis kan? Entar bareng yuk,” kata Viny.

“Eh kamu juga naik bis?” Viny mengangguk, “ya udah boleh deh, lumayan ada temen pulang.”

“Oiya kalau kamu Kha, pulangnya naik apaan?” tanya Sinka.

“Aku bawa motor kok, santai jadinya.”

“Eh stss stss… liat tuh.”

Viny memainkan kedua alisnya, matanya melirik-lirik kearah pintu masuk kantin. Jarinya ia tempelkan di depan bibirnya, mengisyaratkan agar mereka semua diam.

Disana baru saja sekelompok cowok masuk melewati pintu kantin. Ketiga cewek itu hanya diam mengikuti instruksi Viny, Sinka yang sebenarnya tidak mengerti tapi memilih ikut diam. Terkecuali Yuvia, ia malah melambaikan tangannya pada salah seorang cowok disana. Salah seorang cowok disana juga membalas lambaian tangan Yuvia.

“Kamu ini!” kata Viny pelan tapi aga sedikit menekan gaya bicaranya.

“Biasa sama gebetan Vin,” kata Ikha.

“Gebetan terus jadian kaga,” jawab Viny.

“Paan sih, pada sirik ya?” Viny dan Ikha menggeleng mantap.

Sinka tidak mengerti arah pembicaraan ketiga temannya ini. Ia pun hanya diam menyimak obrolan mereka bertiga. Cewek-cewek SMA yang gemar sekali bergosip.

“Tapi masih gantengan kakak kelas kita ah,” kata Ikha.

“Ya mereka juga ga kalah lah, apalagi Reksa, duh….,” timpal Viny.

“Reksa?” tanya Sinka.

“Iya, tuh anak yang pake headphone itu, Reksa Rajakumara, keren ya, cocok banget sama aku, dia Raja aku Ratu, pas,” kata Viny.

“Ngarep dasar,” kata Ikha.

“Hehehe ga apa-apa ngarep dikit, tapi jujur aku bersyukur sekolah disini, cowoknya ganteng-ganteng,” kata Viny

“Iya ya, dan aku juga sama bersyukur bisa keterima di sekolah ini.” Yuvia menatap ke langit-langit sambil tersenyum.

“Tapi meskipun ganteng-ganteng kadar jomblo di sekolah ini banyak juga loh.” Wajah Ikha mendadak serius.

“Aku setuju!” Viny mengangguk mantap.

“Aku juga! Pada ga peka sih mereka!” tambah Yuvia.

“Jangan curhat!” ledek Ikha.

“Hey Sinka, liatin siapa?” tanya Yuvia yang melihat Sinka menatap ke arah sekelompok cowok-cowok yang baru datang tadi.

“Eh… engga kok,” jawab Sinka.

“Ah iya ngomong-ngomong, kamu udah punya pacar belum, Sin?” tanya Viny.

Pandangan Viny, Ikha dan Yuvia kini tertuju pada Sinka. Gadis itu kaget bukan kepalang, pertanyaan yang sangat pribadi dan juga terkesan begitu mendadak. Ia sampai tersendak setelah mendengar pertanyaan itu.

“Pasti punya ya?” tanya Yuvia.

“Yah, nasib kamu beruntung, ga kaya kita yang jomblo terus.”

Ketiga cewek itu kecuali Sinka tiba-tiba tertunduk. Aura disekitar mereka berubah menjadi gelap, mencekam, miris, penuh dengan kesialan. Seakan-akan mereka adalah wanita yang benar-benar tidak beruntung.

“Eh.. eh… aku juga jomblo kok.”

Viny, Ikha, dan Yuvia langsung mengangkat kepalanya. Mereka bertiga tiba-tiba tersenyum ke arah Sinka. Saat itu juga mereka bertiga seperti menemukan kebahagiaan setelah kesuraman beberapa saat yang lalu.

“Serius?” tanya Ikha, Sinka pun mengangguk.

“Syukur lah,” kata Yuvia.

“Bagus Sin.” Viny tiba-tiba merangkul pundak Sinka, “Meskipun kita jomblo tapi kita ga boleh keliatan suram! Kita harus jadi JoJoBa, Jomblo Jomblo Bahagia!”

Viny mengepalkan tangannya dengan penuh semangat sambil menatap langit-langit kantin. Seperti ada gambaran masa depannya disana.

“Bukan jomblo jomblo baper?” tanya Yuvia.

“Itu kamu!” ledek Ikha.

“Intinya meskipun jomblo harus bahagia,” kata Viny

“Eh.. eh… Iya.”

“Nah gitu dong, geng kita sekarang nambah anggota baru,” kata Ikha.

“Ishhh kalau aja dia peka dikit, status aku udah ga jomblo lagi!” Yuvia meraih tisu yang ada didepannya dan merobek-robeknya.

“Eh jangan nyampah!” kata Viny.

“Kesel sih Vin, dari jaman kelas sepuluh tau gak?” tanya Yuvia, “Sampai sekarang aku belum ditembak-tembak!”

“Kenapa ga kamu yang bilang duluan aja?” tanya Sinka.

“Sialnya aku ga berani Sinka.” Yuvia menempelkan wajahnya diatas meja.

“Ngomong-ngomong udah sore nih, tugas kalian udah beres belum?” tanya Viny.

“Dikit lagi sih, lanjut besok aja gimana Sin?” tanya Ikha.

“Boleh deh, aku juga mau pulang,” kata Sinka.

“Ya udah yuk pulang,” kata Yuvia.

Mereka berempat pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kantin. Di gerbang sekolah mereka berpisah, Ikha bersama Yuvia pergi ke parkiran sementara Viny dan Sinka berjalan ke halte dekat sekolah.

Langit sudah berwarna keorenan, Sinka Viny bersama murid lain menunggu bis di halte dekat sekolah mereka. Hal baru bagi Sinka setelah seminggu pindah ke sekolah ini, pulang bersama teman sekelasnya.

Sebuah bis terlihat dari kejauhan, Sinka dan Viny pun bersiap menaiki bis itu. Saat bis berhenti tepat di depan halte, pintu bis itu terbuka. Keadaan didalam Bis sudah penuh sesak, khas suasana jam-jam pulang kantor. Dengan terpaksa Sinka dan Viny pun memilih untuk berdiri sambil berpegangan pada pegangan yang ada didalam bis.

“Semoga ga macet,” kata Viny.

“Bakalan pegel berdiri kayanya,” bisik Sinka.

Mereka berdua pun tertawa dan menikmati perjalanan yang melelahkan ini.

~oOo~

Sesampainya di rumah Sinka langsung pergi ke kamarnya. Beberapa kardus masih tertumpuk disudut kamar.

“Hah… akhirnya ketemu kasur,” gumam Sinka.

“Sinka makan dulu!” teriak seseorang dari luar kamar.

“Iya Mih, Sinka kesana.”

Setelah berganti pakaian Sinka pun langsung pergi ke ruang makan. Disana sudah ada Ibunya berserta kakak perempuannya.

“Makan Sin,” kata Naomi yang sedang memilih-milih ayam goreng yang ada di atas piring.

“Ambil yang mana aja sama, ga ada bedanya,” kata Ibunya.

“Iya Mih.”

Sinka pun ikut duduk disebelah Naomi. Ia mengambil nasi dan juga ayam goreng serta sayuran yang sudah dimasak oleh Ibunya.

“Disekolah gimana Sin?” tanya Ibunya.

“Ya gitu deh, banyak tugas, ribet,” kata Sinka.

“Udah punya temen kamu?”

“Udah lah Mih, emangnya Sinka anak kaya apaan ga punya temen sama sekali.”

“Kalau pacar gimana?” Sinka menatap kearah Naomi yang sedang menggigit ayam goreng sambil memainkan alisnya.

“Apaan sih Ci, bilangin aku ga mau pacaran,” kata Sinka.

“Iya-iya percaya.”

“Naomi, jangan gangguin adek kamu terus,” kata Ibu mereka.

“Iya Mih.”

“Wleee….” Sinka menjulurkan lidahnya ke arah Naomi.

Selesai makan malam seperti hari-hari kemarin Sinka langsung duduk didepan televisi ditemani setoples kue kering yang dibuat Ibunya. Sudah menjadi ritual tersendiri bagi Sinka untuk ngemil sebelum tidur.

Sedang asik-asiknya ia menonton televisi, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Ia melihat ke arah jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Sangat jarang sekali ada tamu yang berkunjung jam segini. Sinka berfikir jika ayahnya tidak mungkin juga akan menekan bel rumah beberapa kali.

“Sin… bukain sana,” kata Naomi.

“Aku?”

“Emang nyuruh siapa lagi?”

“Kenapa ga Cici aja?” tanya Sinka.

“Udah buruan sana!”

“Iya-iya.”

Dengan malas Sinka pun beranjak dari sofa. Ia melangkah pergi ke pintu depan. Pintu pun dibuka dan disana sudah ada seorang cowok dengan headphone yang menggantung di lehernya.

“Reksa?” gumam Sinka.

*to be continued

 

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Sorry, I Love You, Part1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s