Silat Boy : Pertempuran Sebenarnya Part 41

Rusdi dan Boim turun ke medan pertempuran. Disana terjadi baku tembak
antara para pemberontak dan musuh, dan ada pula yang rusuh berkelahi
di tengah medan pertempuran.

Tiba-tiba salah seorang pemberontak ditendang dengan kuat oleh musuh
hingga terpental. Lalu Rusdi dan Boim menghampirinya. Setelah itu
membangunkannya perlahan.

“Dimana Yupi?” tanya Rusdi.
“Nona dibawa pergi.” jawabnya terbatuk-batuk.
“Dibawa pergi? Oleh siapa? Kemana?” Rusdi berkali-kali mengguncangkan tubuhnya.

“Entahlah, Nona pergi kearah sana bersama orang asing. Sepertinya Nona
Yupi akan melakukan sesuatu, kita tunggu saja.” orang itu menunjuk
kearah mana Yupi pergi, lalu Rusdi bergegas lari kearah itu diikuti
oleh Boim.

Mereka tiba di sebuah bangunan yang cukup besar, lalu mereka mendobrak
paksa pintu masuknya. Ternyata benar, di dalam sana Yupi sedang
bersama seorang laki-laki.

“Capu?” tebak Rusdi.
“Kau lagi, dasar sialan! Kenapa kau selalu mengganggu kami?” Capu
terlihat marah.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Boim, Yupi hanya mengangguk pelan.

“Tadinya aku akan menghabisi orang itu disini. Tapi karna kalian sudah
datang, apa boleh buat. Ayo habisi dia bersama-sama!” Yupi bersiap,
kuda-kudanya terlihat aneh.

Kaki kirinya diluruskan, dan ia sedikit berjongkok. Kaki kanannya
sedikit ditekuk. Kedua tangannya mengepul, satu di depan ada dan
satunya lagi disamping dada.

“Hentikan!” tiba-tiba Addyn muncul entah dari mana.
“Addyn kawanku, ayo bantu aku menghabisi mereka.” Capu menyeringai senang.

“Tidak, kali ini sudah cukup! Aku tidak mau lagi bekerja sama dengan
kalian. Ini rumahku! Tanah kelahiranku! Kalian jangan berbuat
seenaknya!” Addyn membentak.

“Kau sendiri yang memilih jalanmu, kau yang mengkhianati mereka.” Capu
menyeringai.
“Nona, maafkan aku. Aku salah, aku sadar selama ini aku salah!” Addyn
menangis seraya menatap Yupi.

“Jadi kau mau mengkhianati kami? Ah sudahlah, kau sudah tidak berguna
lagi. Terima kasih atas jasamu selama ini.” Capu masih menyeringai.
“Dasar kau tukang pengkhianat!” sambungnya.

“Rusdi, maafkan aku! Selama ini aku salah menilaimu, aku minta maaf.”
Addyn masih menangis.
“Aku sudah memaafkanmu, kawan.” Rusdi tersenyum, lalu Addyn kembali
menatap tajam Capu.

“Kalian semua benar-benar tidak bisa dimaafkan, aku akan membunuhmu
disini!” Addyn lalu berlari kearah Capu, tapi tiba-tiba Capu
menembaknya.
“Addyn!” teriak Yupi.

Tiba-tiba dari balik tembok muncul lima orang laki-laki membawa
senjata, lalu mulai menembaki mereka tanpa ada yang meembak Addyn
walaupun ia berada dekat dengan mereka berlima.

Addyn mengerang kesakitan, ia sekarat. Yupi mulai menembaki mereka
dengan TMP miliknya, sementara TMP yang satunya direbut Boim. Seketika
terjadilah baku tembak disana.

Bahkan suara erangan Addyn pun tak terdengar jelas karna kalah dengan
suara rentetan peluru. Rusdi menutup telinganya, ia hanya diam.
Kemudian Yupi dan Boim berhenti menembak.

Mereka berlima pun berhenti, lalu mengisi amunisi. Capu tertawa keras,
lalu pergi kebelakang lima orang itu. Dan ia duduk sambil menunggu
disana seraya menyeringai.

Sementara mereka mengisi amunisi, Boim berlari kearah lain. Dan ia
bersembunyi disana. Yupi lalu menembak mereka, satu tumbang. Tinggal
empat orang lagi.

Mereka kembali menembaki dengan brutal, kali ini mereka berpencar
menembaki Yupi dan Rusdi dari segala arah. Mereka masih belum sadar
bahwa Boim tidak ada disana.

Boim lalu menembak mereka dari arah lain, satu lagi tumbang. Sisanya
tiga orang, Yupi keluar lalu menembak. Kali ini tembakannya meleset.
Yupi lalu berkelahi melawan satu diantara tiga orang itu.

Boim kembali terlibat baku tembak dengan dua orang lainnya. Dengan
kehebatannya, Yupi berhasil menjatuhkan orang itu hanya dalam waktu
kurang dari satu menit.

Yupi lalu membelakanginya, tanpa diduga orang itu kembali berdiri dan
membekap Yupi dari belakang. Rusdi mengambil sebuah batu bata, lalu
melemparkannya kearah kepala orang itu.

Orang itu jatuh tersungkur memegangi kepalanya. Rusdi lalu memukulinya
dengan brutal. Tanpa diduga salah satu dari dua orang yang terlibat
baku tembak dengan Boim menembaknya.

Tembakan itu meleset, tapi cukup untuk membuat luka dibahu kirinya.
Rusdi meringis kesakitan memegangi bahunya. Boim berhasil menembak
sisa dua orang itu, lalu menghampiri Rusdi dan Yupi.

“Kalian hebat, luar biasa!” Capu bertepuk tangan.
“Jangan banyak bicara, ayo lawan aku! Kita duel satu lawan satu!”
Rusdi berdiri secara perlahan, ia memegangi bahunya.

“Baiklah, aku akan mengalahkanmu! Dua temanmu itu jangan ikut campur!”
ucap Capu.
“Mereka hanya menonton, ini urusan kita berdua. Aku akan mengalahkanmu
lagi!” Rusdi menyeringai.


BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s