Sorry, I Love You (Prolog)

“Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum – M.A.W Brouwer.”

Seorang gadis mengarahkan lensa kamera kepada tulisan yang berada ditembok di depannya. Beberapa kali ia menekan shutter kamera miliknya, menunjukan betapa tertariknya ia terhadap tulisan tersebut. Ungkapan dari seorang Budayawan Belanda mengenai indahnya Bumi Pasundan.

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi – Pidi Baiq.”

Gadis itu menengok ke samping. Disana seorang cowok telah berdiri sambil menenteng sepeda. Celana pendek, sepatu running, kaos sepak bola berwarna merah, layaknya orang yang berolahraga di Minggu pagi. Tiba-tiba pandangan mereka berdua bertemu, gadis itu pun hanya menatap heran ke arah cowok disampingnya.

“Kenapa?” tanya cowok itu. “Aku cuma baca tulisan yang ditembok sebelah sana.”

Gadis itu tak menjawab, ia hanya melihat ke arah yang ditunjukan cowok itu. Sebuah kalimat yang tak kalah mengagumkan dari seorang seniman asal Kota Bandung.

“Turis ya mba?” tanya si cowok melihat gadis itu membawa-bawa kamera, “kalau gitu, selamat datang di Bandung, Parisnya pulau Jawa, surganya pecinta kuliner dan juga penggila fashion.”

“Sa! Cepet!”

Terdengar teriakan dari sekelompok anak laki-laki, diikuti beberapa lambaian tangan. Ya, mereka memanggil cowok yang sedang bersama gadis itu. Tanpa pamit, cowok itu kembali menaiki sepedanya dan menghampiri teman-temannya. Sementara si gadis hanya menatap cowok itu pergi menjauhinya.

Perlahan-lahan mulai menjauh hingga akhirnya cowok itu menghilang ditengah kerumunan orang-orang. Gadis itu kini mengarahkan kameranya kepada kalimat yang barusan disebutkan oleh cowok itu.

Tiba-tiba seorang gadis lain yang berambut ponytail menghampiri si gadis yang sedang asik dengan kameranya. “Haduh, kamu ini dicariin taunya ada disini.”

“Maaf,” jawab si gadis yang sedang memegang kamera.

“Ya udah mau pulang kapan? Kita belum beresin kamar loh.”

Gadis yang memegang kamera itu melihat jam berwarna putih di lengan kirinya. Jam menunjukan pukul setengah delapan pagi. Suasana car free day makin ramai, jalan sudah hampir dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan kaki.

“Sejam lagi,” jawab si gadis yang asik dengan kameranya.

“Lama, besok kamu juga sekolah kan, lagian besok-besok kita masih bisa kesini.”

“Iya deh iya, ya udah yuk pulang sekarang, Ci”

“Nah gitu dong.” Mereka pun mulai melangkah meninggalkan tembok yang menjadi spot populer untuk mengambil foto disana.

“Ci Omi, tunggu!”

“Apa lagi Sinka?” gadis yang dipanggil Ci Omi itu membalikan badannya dan menatap ke arah Sinka.

“Aku lupa nyimpen sepedanya.” Sinka menggaruk-garuk rambutnya.

“Astaga, kan kita parkirnya bareng, udah yuk buruan pulang.”

“Hehehe lupa.”

 

 

 

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Sorry, I Love You (Prolog)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s