Lo Jual? Gue Beli!!

“janganlah hidup dari limpahan pujian, tetapi hiduplah dari banyaknya celaan maka disaat kita bangkit disana terdapat kenikmatan yang abadi”

Sesungguhnya aku bingung bagaimana harus memulai hariku. Hari dimana semua teman – temanku berfikir keras menyiapkan segala macam persiapan ujian terbesar, SNMPTN. Banyaknya pilihan seharusnya memudahkanku memilih tujuanku tetapi justru kebingungan lah yang kini melanda jiwaku.

Entah apa yang sedang berputar dikepalaku semua terasa keras dan panas. Semua orang, dari orang tuaku hingga guru – guru dan para kakak kelasku memberikanku pilihan. Ini saja ini saja jangan ini saja, bla bla bla… kata – kata ini yang membuatku geram dan ingin menghentikan semuanya. Akhirnya aku memutuskan menerima semua masukan mereka yang kutulis di beberapa lembar kertas. Kebingunganku terus membayangiku hingga mendekati waktu ujian.

Hari – hariku kuwarnai dengan banjirnya soal – soal dihadapanku. Soal yang berasal dari manapun tiba – tiba hinggap diatas meja ku dan terus bermanja – manja denganku seolah hari – hariku adalah milik mereka. Aku sangat berambisi untuk masuk Universitas Negeri dan jurusan yang aku inginkan. Dahulu, aku tidak mengerti mengapa harus memilih kampus ternama, aku terus bertanya dalam hati, mengapa harus masuk sini, mengapa harus masuk situ apa istimewa dari mereka toh aku yang akan menjalani. Tetapi tidak dengan pemikiran semua orang dilingkunganku. Sebenarnya aku sedikit mendapat dukungan dari keluarga. Lebih kepada pemberian tekanan kepadaku. Harus masuk UI, UGM, sampai aku bertanya pada mereka “apa sih yang dicari di kampus – kampus itu?” tetapi jawaban mereka begitu mengecewakanku yang mereka fikirkan hanya kata orang – kata orang tanpa berfikir apakah diriku mampu dan menaruh hati disana. Tetapi bagiku PTN lah tujuan utama. Entah dimana tergantung perjalanan panjang hidupku kelak sebagai mahasiswa. Untuk apa aku kuliah ditempat yang penuh dengan “gengsi” dan pujian banyak orang tetapi hatiku tidak disana. Mulai dari itu aku membulatkan tekadku dan menjatuhkan hatiku pada kampus yang dipilihkan oleh Allah SWT.

***

Semakin hari atmosfer ujian semakin terasa. Setiap hari dada ini selalu bergetar takut dengan situasi nanti terlebih lagi begitu berada dirumah hanya tekanan yang didapat, celaan yang aku terima. Bahkan Abi ku sendiri pun tak elak ikut memberiku tekanan.

“ kamu harus masuk PTN nak, inget Abi tak bisa membiayai mu kuliah jika kamu di PTS, di PTN pun belum tentu kita bisa membayar biaya kuliah tetapi seenggaknya disana banyak beasiswa, kalau kamu tidak masuk PTN kamu kerja sajalah atau langsung menikah saja,”  perkataan Abi ketika aku meminta masukan tentang dunia perkuliahan.

“ yaah lo, kalo gw liat nilai – nilai lo standart banget masa nilai segini bisa masuk PTN, inget woy PTN butuh nilai – nilai yang wow gak standar kayak nilai lo, yaah siap – siap nganggur deh” tambah kakakku menambah panas situasi.

“lo emang punya duit buat kuliah? Jajan sekolah aja lebih sering puasa atau dapet traktiran, kuliah mahal loh, bokap gw aja sampe lembur biar dapet bonus buat nabung biaya kuliah gw nanti, gimana lo, mending kerja aja deh”. Ejekan teman sekelasku ketika kita berdiskusi tentang perkuliahan.

Masya Allah batinku serasa dihunus dengan pedang seperti tengah berada di barisan paling depan peperangan. Lebih banyak air mata yang jatuh ke kedua pipi ini hampir di tiap malam. Hanya dengan curhat kepada Allah lah aku kuat. Sempat terlintas di fikiran pengecutku sebagai seorang manusia “apakah orang miskin dan gak istimewa sepertiku pantas kuliah dan apakah biaya kuliah benar – benar mahal?” kalimat ini selalu hinggap tiap kali celaan mereka kembali menghujani hari – hariku. Ingin hati ini memberontak dan berbicara tegas kepada mereka bahwa aku bisa dan aku bisa. Tetapi hatiku tak kuasa melakukannya. Entah apa yang menahanku. Hanya terdapat satu penguatanku untuk menyemangati jiwaku, “ ayo, banyaknya celaan yang datang di diri lo harusnya lo tunjukkan pada mereka lo bukan seperti yang mereka bicarakan, lo bisa dan lo pasti bisa, inget ada Allah yang maha mendengar, Dia gak pernah tidur dan mengabulkan doa hambaNYA yang bersungguh – sungguh” inilah penguatanku, yang selalu kuucapkan ketika mereka kembali menghinaku dan ketika aku hendak tidur.

Sejak banjirnya celaan yang datang kepadaku, sebenarnya agak sedikit mengganggu fikiranku, tiap kali aku mengerjakan soal – soal kalimat mereka selalu terngiang di telingaku hingga tiap butir soal dibumbui dengan air mata. Betapa lemahnya jiwa ini yang tak dapat mengondisikan emosi dan menetralkan jiwa. Beruntungnya diriku, ternyata aku masih memiliki sosok yang benar – benar mendukungku apapun rencanaku, mereka ialah Umi dan Bu Rita, Guru BK ku disekolah. Dirumah, Umi terus menyemangatiku dan menghapus air mataku dan memberikan wejangan – wejangan khasnya yang membuat semangatku kembali berkobar. Disekolah, Bu Rita lah yang terus mengontrol keadaan ku baik fisik maupun batin. Bahkan beliau tahu keadaan batinku yang terlihat dari raut wajahku dan cara berbicaraku. Aku sangat nyaman bercerita kepadanya dan setidaknya masih ada penolongku disaat semua orang memojokkanku. Hari demi hari, detik demi detik, kulewati dengan sedikit melupakan sejenak segala perang batin tersebut. Kini, ku mulai menata rencanaku kembali dan membulatkan tekadku hingga menanamkan api semangat di dadaku, “LO JUAL, GW BELI!!” ya, aku harus menunjukkan pada mereka bahwa aku bukan manusia lemah yang tak mampu melawan keadaan. Sedikit demi sedikit keluargaku mulai mengurangi tekanan yang menurutku tekanan dari tindakan lah yang terasa lebih sakit tapi kujadikan bumbu – bumbu perjuanganku. Semua celaan kujadikan sebagai tantangan bagi diriku untuk bersiap – siap sukses di masa depan. Karena orang sukses tidak lahir dari hidup tanpa masalah tetapi sebaliknya. Aku yakin mereka tidak benar – benar menjatuhkanku tetapi mencoba membangun mental pemberani dan pantang menyerah.

***

H – 1!! Seketika celaan itu berhenti. Semua orang berbalik mendukungku. Senyuman terindah terpancar di kedua pipi Umi, Abi dan Kakakku. Hari itu adalah hari terindah dan aku sangat bersemangat. Satu hari sebelum ujian, aku pergi untuk menuntut ilmu agama bertemu dengan murabbi yang begitu sayang kepadaku, teman – teman yang selalu tersenyum untukku, aku tidak takut jika masih beraktivitas di hari sebelum peperangan dimulai. Banyak teman – teman yang izin karena ingin beristirahat, tetapi tidak denganku, karena aku yakin jika aku mengkaji ilmu Allah maka cahaya Allah akan turun kepadaku. Sehari sebelum ujian ini aku tidak lagi mengkaji soal – soal yang selama ini menjadi makanan sehari – hari tetapi lebih kepada membina diri dan selalu curhat kepada Allah, karena ku tahu tempat bergantung dan memohon apapun hanya kepadaNYA. Meminta doa kedua orang tua dengan tulus meminta maaf kepada kakak dan adik – adik agar ujian besok diberi kelancaran. Itu saja yang kulakukan dimalam menegangkan itu.

***

Waktu ujian pun tiba…

Aku pergi diantar oleh abi hingga mencapai sekolah tempat ujian berlangsung. Sebelum abi pamit untuk pulang, lagi lagi kalimat itu kembali terlontar sembari doa yang menghantarkan

“ hati – hati dalam menjawab nak, teliti. Oiya, inget ya kamu harus berjuang agar masuk PTN kalau tidak Abi tak tahu bisa membiayai kuliahmu atau tidak, ya menganggur saja tak apalah ya, “

Selepas Abi mengucapkan kalimat itu, aku melenggangkan kaki masuk ke dalam kelas dengan segenggam perasaan khawatir. Khawatir akan bisa atau tidaknya menjawab semua soal dan khawatir akan bisa lulus atau tidak. Karena aku tidak ingin menghentikan langkah kaki ini untuk terus belajar dan bersekolah. Aku tak pernah bisa membayangkan jika diri ini harus menganggur bahkan menikah seperti pesan abi di usiaku yang masih sangat belia. Hanya memohon pada Allah lah aku kuat hingga akhir ujian ini.

Hari ujian pun berakhir, perasaanku semakin tak karuan. Tidaklah lega bahkan semakin menjadi. Setiap hari hanya menunggu dan menuggu hasil ujianku. Tentu saja tidak tinggal diam, aku menyibukkan diri agar tidak terlalu tegang menunggu hari bersejarah itu. Melakukan segala aktivitas dirumah maupun diluar rumah. Tetapi, lagi lagi hari – hari ku tidak lepas dari celaan yang terus menghujaniku. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.

“ kemarin milih apa saat mengisi form? Gak milih yang tinggi – tinggi kan? “ kata kakakku

“ aku milih Pendidikan Sosiologi UNJ ka, karena aku mau jadi Sosiolog dan Abi mau aku jadi guru jadi aku seimbangkan keduanya”, jawabku.

“ sok bijak lo!! Bilang aja gak berani milih UI UGM iya kan? Yaiyalah lo aja gini nilai lo, kemampuan lo,, ya pantes deh milih itu, jadi rasional ya,, bagus bagus” tambahnya.

Masya Allah, tidak ada kata – kata positif yang datang, sebenarnya aku heran, mengapa mereka begitu gigih untuk menghinaku, untuk mencelaku, untuk menjatuhkan mentalku. Aku khawatir jika aku tenggelam dalam celaan itu aku akan kalah dengan mereka. Aku tak ingin kalah, aku akan tunjukkan pada semua orang apa yang aku pilih dan dimana tempatku berpijak disitulah aku akan sukses. Sekarang aku mulai tak memperdulikan apa kata mereka terus berdoa dan berbuat baiklah yang akan mengantarkanku untuk membantuku mematahkan semua persepsi mereka. Tetapi satu hal yang ku yakini untuk menetralkan hati ini, aku yakin mereka tidak benar – benar menjatuhkanku hanya menunggu pembuktian dariku, ya itu saja. Mereka ingin aku sukses walaupun tak terungkapkan  dengan jelas. Aku harus yakini itu.

***

Hari pengumuman tiba…

Hati tegang dan penuh harap ketika berada di depan komputer menunggu hasil ujian yang tersebar via online. Berdua dengan Kakakku, kami menunggu dengan sabar, kadang harus mengalami “lola” loading lama yang membuatku makin kikuk. Bahkan untuk pergi Sholat Isya pun kaki seperti mati rasa, gemetar tak karuan. Sementara aku Sholat Isya, kakakku masih menunggu hasil dengan sangat sabar dan ekstra teliti. Aku tinggalkan kakakku sendiri di dalam kamar. Aku terus berdoa dan tidak berhenti berharap. Aku tidak meninggalkan tempat sholatku hingga kakakku memanggilku. Akhirnya kakakku memanggilku.

Ketika aku sampai depan kamar, kakakku menghampiriku dengan tangisan, aku bingung ada apa, aku bertanya penuh harap,

“ ka aku gagal ya ka, ya aku tahu harusnya dari awal aku akan gagal”, kataku lemas.

“ apa sih anak bocah pintar, lo lulus tau!! Gw bangga sama lo!! Adek gw pintar.. “ jawab kakakku sambil menangis.

Seketika itu aku langsung menghampiri komputer dan memastikan bahwa apa yang dikatakan kakakku adalah benar, dan….

YESS!!! It’s show time!! Aku berhasil!!!! Aku melihat kalimat terindah atas penantian panjangku selama ini, “SELAMAT!! ANDA LULUS DI PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNJ…..”

Aku berhasil mematahkan dan membuktikan kepada semua orang bahwa aku benar – benar bisa dan aku bukan seperti yang mereka katakan. Semua celaan yang mereka lontarkan kini berhasil ku tepis dengan tegas dan lega sudah perasaan ini. Kepuasan ketika itu muncul sambil tak hentinya hujan air mata yang jatuh dikedua pipi ini. Aku tidak berteriak, aku seketika itu speechless, entah apa yang ada di fikiranku saat itu, justru kakakku yang berteriak, dia tak henti – hentinya menciumku penuh haru, suasana hangat itu yang selama ini aku rindukan. Setelah semua haru biru dikamar tersebut, aku segera menghampiri Umi dan Abi dengan berlari kegirangan, aku memeluk mereka dan tak sanggup berkata – kata. Mereka hanya melihatku bingung akhirnya kakakku yang menjelaskan. Setelah mereka mendengar cerita kakakku, Abi ikut menangis sangat haru, aku tak kuasa melihat Abi menangis, air mataku semakin deras menghujani rumahku yang sederhana itu.

“ Abi tahu nak, kamu pasti bisa, dan ini pembuktianmu,” sambil memelukku sangat erat.

“ makasih Abi, aku tau Abi selalu mendoakan Aku, makasih banyak bi,” jawabku sambil mengusap air mata Abi.

“ gw juga yakin lo bisa adek gw yang keras kepala,” tambah kakakku sambil mendorong bahuku pelan. Semua yang berada di kamar sempit itu larut dalam tangisan. Termasuk aku, yang tak henti – hentinya menagis haru.

***

Usai sudah penantianku. Kini, ku mampu berdiri tegak melihat alam ini. Setidaknya aku bisa menjawab semua keraguan orang – orang yang selama ini mencelaku. Senyum di pipiku mulai terpancar indah ketika berjalan di kerumunan orang banyak. Yang kufikirkan saat ini ialah bagaimana caranya aku bisa sukses dengan pilihanku. Aku yakin Allah telah menyiapkan ujian – ujian selanjutnya yang nantinya akan membuat aku semakin kuat dan tidak lemah menghadapi hidup. Dan ku yakin semua ujian – ujian ini adalah bukti cinta kasih Allah untukku. Tetapi….

“ nak, sekarang kita berjuang sekali lagi untuk sukses nak, sekarang kita fikirkan bagaimana caranya Abi bisa membayar uang masuk itu. Abi sudah nabung sedikit demi sedikit untuk itu, kamu juga harus membantu Abi dengan doa – doa tulusmu, kita berjuang bersama,”

Senyum yang telah hinggap dengan indahnya harus ku pending terlebih dahulu. Kini, ku kembali mengkerutkan keningku berfiir bagaimana membuktikan kepada Abi bahwa aku mampu.

***

Kekhawatiranku itu tak berlarut lama karena usahaku sebelumnya untuk ikut sebuah beasiswa untuk perguruan tinggi telah pada puncak pengumuman. Merupakan rencana Allah yang sangat indah aku diberi kesempatan untuk mendapat beasisiswa itu. Dan yang tak kusangka – sangka beasiswa itu memberikanku jaminan hingga aku menjadi seorang sarjana muda. Air mata kembali jatuh di kedua pipiku dan inilah pembuktianku selanjutnya kepada Abi dan semua orang bahwa orang miskin bisa kuliah tanpa memikirkan biaya kuliah yang terkesan mahal. Pipiku kembali kuhiasi senyumku yang tulus. Aku segera pulang untuk memberitahukan kabar gembira ini. Sebenarnya aku sama sekali tidak memberitahukan keluargaku bahwa aku diam – diam daftar sebuah beasiswa. Aku berfikir nanti saja aku beritahu hasilnya baik buruknya akan aku kabarkan pada mereka, dan inilah saatnya.

Pada saat Abi memberiku sejumlah uang sebagai uang masuk UNJ, aku menolak dengan lembut. Aku tahu uang itu adalah hasil perjuangan keras Abi untuk tetap bisa mendukungku kuliah.

“ tak usah Abi, aku sudah membereskan semua urusan pendaftaran kok, uangnya Abi simpan saja ya untuk biaya sekolah adik – adik yang lain, “ jawabku.

“ kok bisa? Dapat uang darimana? Abi tak melihatmu bekerja atau yang lain?” tanya Abi bingung keheranan.

“ aku ikut beasiswa bi dibantu guru – guru SMA, dan alhamdulilah bisa menjamin sampai sarjana nanti insya allah,” tambahku.

Abi kembali menangis dan memelukku erat. Aku tak kuasa melihat Abi menangis hingga aku ikut larut dalam suasana hangat tersebut. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas apa yang telah orang tuaku berikan. Walau aku tahu ucapan itu tak akan mampu membalas semuanya. Setidaknya aku mampu kembali membuktikan aku bisa kuliah tanpa menambah beban orang tuaku. Inilah mimpiku sebenarnya, kuliah di PTN tanpa mengeluarkan uang dan tanpa menambah fikiran orang tua, dan aku sangat bersyukur atas terwujudnya mimpi besarku ini. Kini, aku kembali menata hidupku membuat rencana – rencana indahku jauh kedepan. Dan mimpiku satu lagi…

AKU AKAN SUKSES SETELAH MENJADI SARJANA NANTI.  AKAN KUBUKTIKAN ITU!!

Itu ikrar di diriku yang akan ku persembahkan untuk Umi, Abi, dan semua orang yang telah mendukungku dan semua orang yang telah mencelaku. Aku hanya bisa berterimakasih untuk orang – orang yang telah mencela dan menghinaku karena atas celaan dan hinaan mereka aku bisa mewujudkan mimpi – mimpiku. Tanpa berfikir membalas atau menghujat mereka. Aku harap semua adik – adikku bisa bangkit dari sebuah kegagalan dan akan kudukung dengan segala daya upaya yang kumiliki agar mereka bisa mewujudkan mimpi mereka. Aku yakin, aku, kamu, kita, semua bisa sukses dan meraih apa yang kita inginkan jika kita bersungguh – sungguh dan tidak pasrah dengan kondisi dan segala tantangan didepan mata. Karena tantangan dan cobaan bukan untuk diratapi, melainkan untuk dihadapi!! Bismillah..

*******

Created by: Hazimah (hazima862@gmail.com)

Iklan

6 tanggapan untuk “Lo Jual? Gue Beli!!

  1. ,,SUPER SEKALIIIIIIIIIIIIIIIIII !!!
    ,,MEE-MOO-TII-VAA-SIIIIIIIIII
    ,,PERJALANAAAN INIIII, TERASAAA SANGAAAT MENYEEEDIHKAAAN, SAYAAANG KAU TAAAK DUDUUUK, DISAMPINKUUUU, KAWAAAAN, OUOOOOOO

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s