Iridescent Part 21

iris

 

Hari sudah mulai gelap, gue masih berada di kamar sembari menemani Ve yang masih tidur. Menghela nafas dan santai sejenak, apa yang di beritahukan oleh Ricky tadi, masih terngiang-ngiang di pikiran gue. Shani…. kenapa kamu? Setelah gue coba perjuangkan dia untuk tetap bersama gue ternyata nggak cukup.

Tapi kenyataan berkata seperti itu, Shani udah pacaran dengan Dani yang tadinya temannya itu. Gue Cuma bisa berusaha saba dan menahan diri, jangan sampai kalau gue salah langkah lagi. Biarkan Shani melakukan apa yang dia mau.

 

“Wil” suara panggilan terdengar dari luar pintu.

Lalu gue bangkit dan berjalan kearah pintu, saat pintu terbuka, di depan gue berdiri seorang cewek  bertubuh tinggi. Dan dia adalah Okta.

“Eh kamu, ada apa Okta?” tanya gue.

“Ada yang cariin kamu tuh didepan kosan” jawabnya.

“Siapa?”

“Kata dia sih, namanya Dani” ucap Okta.

“Hah….” gue kaget mendengar nama itu disebut. Mau apa dia kemari, apa belum puas dia ambil Shani dari gue.

 

Kemudian gue bergegas ke depan kosan, entah darimana dia tau gue ada disini. Rasa marah gue tak bisa tertahan lagi, gue mau buat perhitungan dengannya. Masa bodoh kalau gue salah langkah.

“Wil, dengerin aku bicara dulu.” teriak Okta.

“Jangan bilang siapa pun kalau aku mau hajar Dani” balas gue.

Setelah itu semua teriakan panggilan dari Okta tak gue dengarkan, gue nggak punya waktu untuk mendengarkannya. Saat sampai di depan kosan gue melihat sosok Dani, dia berdiri disamping mobil. Tanpa basa-basi gue mendekati dia dan langsung memukul wajahnya.

 

BUGH

“Akhhh” Dani jatuh tersungkur, dia sangat kesakitan pasti. Pukulan gue tepat mengenai bagian rahangnya.

“Mau apa lo kemari!” bentak gue geram. Gue menarik kerah bajunya dan memukul muka Dani lagi.

 

BUGH  BUGH   BUGH

Gue sangat marah dengan kedatangannya ke sini, entah kenapa amarah gue tak bisa di kontrol lagi. Hidung dan mulutnya mengeluarkan banyak sekali darah dan dia hampir tak bisa bergerak lagi, lalu gue kembali mencengkram kerah bajunya dan hendak memukul Dani sekali lagi.

 

Namun tiba-tiba… “Stop!!!” gue mendengar suara teriakan seseorang.

Saat gue menoleh ke sumber suara itu, ternyata itu adalah suara teriakan Ve. Ternyata ada beberapa penghuni kos termasuk ada Ve, Okta, Ricky, Bang Aryo dan Desy yang melihat kejadian ini.

“Veranda….” gumam gue.

Gue melepaskan cengkraman tangan gue terhadap Dani begitu saja. Kemudian Ve berjalan mendekat kemari.

 

“Stop Wil! Aku gak mau kamu sakiti orang lain” ucap Ve seraya memeluk gue.

“Maaf, aku nggak bisa redam emosi ku” balas gue lalu membelai rambut Ve dengan lembut.

Teman-teman yang lainnya berjalan menghampiri tempat gue berdiri saat ini.

“Udah Wil, sabar…. gue yang minta Dani untuk kemari. Dia mau bicara sesuatu sama elo. Jadi tolong tenang!” ucap Ricky coba menenangkan gue.

“Denger Wil, sebenarnya gue sama Ricky mau beritahu tentang semua kejadian ini.” lanjut Ricky, gue Cuma bingung dengan perkataannya.

“Udah, mending masuk ke dalam aja dulu, Wil. Nanti soal itu, pasti bakal di beritahu sama Ricky.” ujar Desy.

“Betul kata Desy. ” tambah Bang Aryo.

 

Gue hanya terdiam saja. Lalu menghela nafas dan coba untuk menahan semua amarah yang masih ada sekarang. Kemudian gue kembali menatap wajah Ve yang tampak khawatir, dia orang pertama yang selalu bisa buat gue tenang.

“Masuk yuk” ucap Ve menarik tangan gue perlahan. Gue membalasnya dengan anggukan saja, lalu dia menuntun gue berjalan masuk ke dalam.

 

…..

Sekarang di dalam ruang tamu kosan, tempatnya memang terbilang luas. Gue duduk di salah satu kursi berhadapan dengan Ve, dia sedang membersihkan dan mengobati luka kecil di tangan gue yang sempat untuk memukuli Dani tadi. Situasi sudah mulai normal juga, para penghuni kosan yang lain sudah kembali ke kamar masing-masing.

Masih di ruangan yang sama, tapi agak terpisah jarak. Ricky sedang melihat kondisi Dani yang sedang di obati oleh Desy dan Okta, kalau bang Aryo hanya duduk termenung.

Gue kembali mengamati Ve, dia dengan telaten mengobati luka gue. Cewek satu ini memang punya perhatian berlebih dengan gue, apalagi selama kami berdua dekat. Beda dengan Shani sekarang.

Ahh….  gue jadi mengingat foto yang diberikan oleh Kak Melody, itulah awal yang membuat gue emosi sewaktu tau kedatangan Dani tadi.

 

“Udah selesai, besok mungkin gak akan kerasa sakit lagi.” ujar Ve mengagetkan gue.

“Makasih ya, Ve.” ucap gue sambil menatapnya.

“Sama-sama….” balasnya.

 

Sesaat gue baru sadar kalau besok adalah hari terakhir gue disini, tinggal menunggu paspor, berkas-berkas lain dan sisa barang gue. Besok pagi pasti akan diantar kemari. Gue menatap mata Ve dalam, nggak terasa gue harus meninggalkan orang-orang yang gue sayang untuk pindah ke Jepang.

Sebenarnya gue nggak mau pindah ke Jepang. Tapi semua ini terpaksa gue lakukan karena gue nggak mau terjadi apa-apa dengan mereka. Dan satu faktor lagi, yaitu menuruti Verro, karena dia yang mengancam menyakiti orang-orang yang gue sayangi.

 

“Kenapa? Kok kamu lihatin aku gitu banget sih.” ucap Ve tampak sedih.

“Eh. Nggak kok, siapa yang sedih sih. Biasa aja….” elak gue.

“Oh ya…. kamu janjikan, tadi katanya mau jelasin semuanya ke aku”

Aduh, Ve ternyata ingat dengan ucapan gue tentang hal itu. Gue janji ke dia untuk jelasin kenapa gue pulang ke Jakarta dan apa tujuannya.

“Aku jadi pindah ke Jepang ” jawab gue singkat.

Kemudian perlahan gue mendekatkan wajah ke Ve, ekspresinya kaget setelah mendengar jawaban gue barusan.

“Ka kamu yakin…. kamu nggak bercanda kan? Kenapa gak beritahu aku?” Ve mulai bergetar, pasti dia bakal keluarin air matanya lagi.

“Ssstt, jangan nangis!” gue langsung menarik Ve ke dalam pelukan.

“Tapi….”

“Udah ah, jangan bawel.” Ve langsung diam, gue gak mau dia terus-terusan buang air matanya karena hal ini.

 

Lalu terdengar suara mobil datang, kemudian gue menoleh kearah Ricky tak jauh dari tempat gue.

“Siapa?” tanya gue.

“Jemputan buat elo, Wil” jawab Ricky.

“Jemputan untuk keman….” tiba-tiba ucapan gue terpotong.

“Sekarang nggak ada waktu buat jelasin itu, tadinya Mama lo minta ke Dani buat cerita apa yang terjadi sebenarnya. Tapi baru datang aja udah lo hajar, terpaksa rencana di ubah.” jelas Ricky.

“Sumpah, gue gak ngerti walau udah lo jelasin.” ujar gue.

“Yo wes lah, engko teko melu wae!” ucap Ricky pakai bahasa planet.

“Dasar kampret.” balas gue.

 

Tak lama masuklah empat orang, mereka adalah Gre, Viny, Tata dan Kinal. Saat tatapan gue dengan Gre saling bertemu, dia langsung berjalan menuju tempat gue dan Ve duduk.

“Eh, Dek” Ve kaget dengan kedatangan adiknya itu.

“Lo kenapa bawa kakak gue kesini?!” Gre langsung melayangkan tangannya ke gue.

 

PLAK

“Auuu” gue merintih karena tamparannya keras sekali.

Semua yang ada di ruang tamu melihat kejadian tamparan maut Gre ke gue. Tamparannya membekas merah di pipi gue.

“Gre!!!” teriak Ve melotot ke adiknya.

“Kamu apa-apaan sih?!” omel Ve.

“Kakak ini kenapa sih masih aja berhubungan sama dia” teriak Gre menunjuk gue.

“Hei udah, berhenti. Jangan ribut dong!” Ricky datang dan menengahi pertengkaran kakak beradik ini.

“Kamu keterlaluan banget sih, Dek. Nggak seharusnya kamu tampar Willy!” ucap Ve.

“Udah… udah, kita ini di minta jemput Willy. Bukan untuk berantem” timpal Viny.

“Gak tau nih, lagi pms ya lo Gre” celetuk gue.

“Huh, bodo amat.” Gre memalingkan wajahnya dari gue.

“Daripada ribut mending kita buruan anter Willy ke tempat yang udah di beritahu sama Mamanya” ujar Tata.

“Iya tuh, udah di tunggu daritadi loh” tambah Kinal.

“Gue nggak ngerti, kenapa gue mau di ajak kemana sih?” ucap gue bingung.

“Jangan bawel, ikut aja!” sembur Gre ke gue.

“Udah, ikuti aja apa kata mereka Wil.” Ve menatap gue dan tersenyum.

 

Akhirnya kami semua berangkat, tapi kalau Okta, Desy dan Bang Aryo tak ikut, karena mereka nggak tau tentang hal ini. Apesnya gue harus satu mobil dengan Dani, pakai mobilnya pula. Tapi masih untung gue duduk di belakang dengan Ve, sedangkan yang memegang kemudi Ricky dan Dani duduk di sebelahnya. Kalau Gre, Viny, Kinal dan Tata jadi satu di mobil lain.

Selama perjalanan juga tak ada pembicaraan sama sekali….

 

~o0o~

Hampir 2 jam kami menempuh perjalanan, karena sempat macet juga. Kami semua sampai di sebuah tempat yang tak asing buat gue. Sempat kaget juga, apa tujuannya Mama meminta teman-teman membawa gue ke sini. Tempat ini adalah tempat favorit keluarga besar gue kalau lagi kumpul, inilah Restoran yang jadi tempat gue dan Shani bertunangan dulu.

Kemudian kami semua keluar dari mobil, Ve dan yang lainnya sudah jalan lebih dulu. Gue lalu bergegas menyusul mereka.

 

“Loh, itu ada juga ada disini?” gue kaget melihat ada Anin dan Shanji duduk di salah satu meja bagian luar Restoran.

“Di dalam masih ada lagi. Mereka yang udah pada tunggu kedatangan lo, Wil” ucap Ricky.

“Sana buruan masuk gih!” perintah Viny.

“Kalian gimana? Kalau mau pesan makanan gapapa, tapi ntar bayar sendiri.” ujar gue.

“Sama aja bohong kalau gitu!” balas Gre mencubit lengan gue.

“Jangan mulai lagi deh, nanti aku jewer kalian baru tau rasa” ucap Ve tiba-tiba.

“Nggak, ampun deh kalau gitu….” gumam gue.

“Sukurin lo.” Bisik Gre ke gue.

Lalu gue Cuma diam aja, ini Gre lama-lama mau gue makan hidup-hidup rasanya. Hobi banget bikin naik darah, dasar. DuhGre…

 

“Diem mulu lo Dan, masih berani deketin Shani lagi!” sindir gue.

“Nanti gue jelasin, ntar juga di bantu Mama lo juga. Yang jelas gue Cuma berniat bantu aja dan berbuat baik aja sama lo.” balas Dani.

“he he he” gue tertawa dengan malas.

“Lo malah ngeledek gue?!” Dani lalu marah-marah sambil mendekati gue.

“Kenapa, gak suka” balas gue.

“Hei, udah berhenti!!!” lerai Ve, kemudian Ricky menjauhkan gue dan Dani.

“Tengkar mulu deh daritadi, capek dengarnya” ujar Kinal.

“Gak tau tuh.” Timpal Tata.

 

Lalu, di depan pintu masuk Restoran, berdiri lah sosok Mama gue di depan. Sepertinya bakal ada semacam sidang kasus kopi sianida nih, bahaya deh kalau gitu. Gue kemudian menghentikan langkah tepat di depan Mama.

 

“Gimana Nak, apa kamu masih berniat untuk pindah ke Jepang?” tanya Mama.

“Kok Mama tanya begitu sih, bingung deh. Bukannya waktu itu udah setuju?” gue curiga kenapa Mama tanya seperti itu.

“Gini, mending masuk dulu aja ke dalam. Udah di tunggu…” ujar Mama.

“Terima kasih ya udah antar Willy kesini. Oh ya, anak-anak pesan aja makanan dulu… Shanji sama Anin udah juga tuh.” ucap Mama.

“Iya, sama-sama Tan” balas Kinal cengar-cengir. Para cewek ini, giliran makanan aja nomor satu… padahal cita-cita pingin kurus.

“Ricky ikut ke dalam aja, Dani juga…”

“Iya, Tante” balas mereka berdua.

Para cewek lalu berjalan meninggalkan depan pintu Restoran dan hendak menyusul Shanji dan Anin, tapi tiba-tiba….

“Loh, Veranda mau kemana? Sini, kamu ikut Willy” ucap Mama memanggil Ve. Sedangkan Ve malah terlihat bingung sendiri, tak tau kenapa….

“Aku Tan? Ikut masuk…” tanya Ve menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, siapa lagi di sini yang namanya Veranda…” balas Mama tersenyum.

“Buruan masuk yuk.”

 

Mama lalu masuk ke dalam Restoran lebih dulu, gue sama Ve masih bingung sendiri. Entah kenapa, gue rasa disini yang tak tau apapun hanya gue dan Ve saja. Dani lalu berjalan masuk juga, kemudian Ricky melihat gue dan Ve yang masih bengong.

“Ayo buruan masuk!” ajak Ricky.

“Tapi gue sama Ve kan…..” lalu ucapan gue langsung di potong begitu saja.

“Udah, nanti kalian berdua juga tau.” ucap Ricky memotong ucapan gue.

“Oke deh kalau gitu…” balas gue.

Kami bertiga lalu masuk ke dalam Restoran menyusul Mama gue.

 

Setelah masuk, gue melihat di salah satu meja yang terletak agak jauh dari bagian ramai Restoran, ada Mama, Mama Indira, Kak Melody dan juga Dani yang sudah menunggu gue. Kemudian kami bertiga duduk, gue yakin ini pasti akan membahas tentang kepindahan gue ke Jepang.

“Gimana, kamu jadi pindah Nak?” tanya Mama Indira.

“Ya, Jadi sih Ma” jawab gue.

“Wil, kenapa nggak di batalkan aja niat nya untuk pindah ke Jepang? Disana kamu sekolah gimana, terus yang jaga kamu juga siapa?” ucap Mama.

“Ini semua karna awalnya aku Cuma mau semuanya aman dan gak di ganggu sama seseorang” jelas gue.

“Verro kan seseorang itu.” celetuk Kak Melody.

“Ya, tau sendiri kan. Aku udah kena, terus Gaby juga jadi korban kedua.” ujar gue.

“Jadi apa maksud gue di bawa kesini, Rik. Tadi katanya mau jelasin ke gue kan?” tanya gue ke Ricky.

“Emm, biar Tante aja yang jelasin…” ucap Ricky menunjuk Mama gue.

 

Sejenak semuanya terdiam tanpa obrolan, bahkan Mama tak kunjung memberikan jawaban untuk pertanyaan gue. Ve sejak tadi juga tak bergeming sama sekali. Kemudian ada yang menarik kursi disamping kiri gue….

“Maaf, kita terlambat datang” ucap seseorang. Lalu gue menoleh ke arah suara tersebut.

“Shani” gue kaget, ternyata yang menarik kursi sebelah adalah dia. Shani tak datang sendirian, dia datang bersama Kak Elaine.

“Hai…” Shani tersenyum ke gue, dia lalu mencium pipi kiri gue.

“Apa kabar?” tanya Shani duduk disamping.

“Baik…” jawab gue memalingkan wajah darinya.

“Hei, kamu kenapa sih? Lihat ke aku!” tangannya menuntun wajah gue untuk menatapnya.

“Kamu pacaran kan sama orang itu?” ucap gue mengarahkan pandangan ke Dani.

“Ahahahaha, kamu ngaco deh….” balas Shani tertawa keras.

 

Gue menatap Shani dengan aneh, dimana letak lucunya dari pertanyaan gue? Semua yang ada disini juga pada menahan tawa mereka, ini benar membuat gue makin bingung dengan respon mereka semua.

Kak Melody bahkan mengalihkan pandangannya dari gue, dia menutup mulutnya. Huh, gue lalu ingat dengan foto Shani ciuman dengan Dani. Kemudian gue merogoh jaket dan mengambil foto-foto tersebut dan meletakkan nya di depan Shani.

 

“Ini apa?” tanya gue menatap Shani dengan serius.

“Ya ampun, tunangan aku cemburu berat nih.” ucap Shani tertawa makin keras. Dia lalu menyandarkan kepalanya di pundak gue dan memukul dada gue.

“Hmm, ini ada apa sih sebenarnya. Aku nggak ngerti deh Shan.” ujar gue. Ve yang duduk di seberang gue hanya tersenyum kecil, dia mengeluarkan air matanya.

“Dek, sebenarnya Shani udah tau tentang rencana kepindahan kamu ke Jepang. Dia tau semua kejadian tentang Verro, yang beritahu Shani itu kami semua.” ujar Kak Elaine.

“Foto itu Cuma aku rekayasa aja, biar kelihatan kaya ciuman. Padahal kan angle nya dari belakang, masa gak tau sih.” timpal Kak Melody.

“Dani Cuma kami minta tolong untuk itu semua, tadi di kosan gue mau cerita semuanya, tapi keburu lo hajar sampai babak belur orangnya.” ujar Ricky.

“Semuanya udah kami rencanakan, biar lo urungin niatan untuk pindah ke Jepang. Dari awal lo lihat gue sama Shani di Mall sampai pertemuan sekarang ini, dan akhirnya kami berhasil jalankan rencana ini.” ucap Dani.

 

Gue terdiam mendengar penjelasan mereka. Shani lalu berhenti tertawa, kemudian dia memegang kedua pipi gue dan kami berdua saling menatap satu sama lain.

“Kamu seharusnya cerita sama aku dari awal, aku yakin kalau kamu jujur semua orang gak akan susah-susah turuti kemauan kamu itu. Kita ini udah tunangan sayang, kamu masih gak bisa cerita soal semua masalah kamu ke aku?” Shani kembali tersenyum.

“Bukan gitu, aku Cuma khawatir kamu di sakiti Verro.” balas gue.

“Kita hadapi semua itu sama-sama….” ujarnya.

“Apapun masalah kamu, itu harus di selesaikan sama-sama. Kalau kita hadapi bersama, aku yakin semua akan selesai.” tambahnya.

“Udah selesaikan masalahnya, jadi lebih baik kamu batalkan niat kamu Nak” ucap Mama Indira tersenyum.

“Lagipula kakaknya Faruk kan yang Polisi udah bantu kasus ini. Jadi tenanglah, kamu cukup bertahan di sini. Jagoan Mama gak akan takut seperti ini.” tambah Mama.

 

Kemudian gue berpikir, mungkin apa yang mereka lakukan ini memang terbaik. Tapi gue sangat meragukan kalau Verro bakal tertangkap dengan cepat, apalagi ancaman dia untuk sakiti semua orang-orang yang gue sayang itu gak main-main. Terlebih lagi ada tangan kanannya Dendhi.

 

“Padahal semua persiapan kamu udah di persiapkan, buat jaga-jaga kalau kamu ngotot pergi ke Jepang loh Dek” ucap Kak Elaine.

“Hmm, kayanya gue tetap harus ke Jepang. Tapi sebelum itu gue harus bisa tau keberadaan Verro dan Dendhi dulu…” batin gue.

“Gimana, kamu batalin ke Jepang ya sayang?” tanya Shani.

“Huh….” gue lalu mengangguk saja.

“Akhirnya….” mereka tampak lega sekali tampaknya setelah gue iyakan apa yang mereka harapkan, ternyata mereka berhasil mencegah gue untuk ke Jepang.

“Tapi ada satu syarat….” ucap gue. Mereka semua langsung menatap gue lagi.

“Apa lagi, Nak?” tanya Mama.

“Aku mau tinggal di kosan punya Ricky aja, Ma…” jawab gue sambil menghela nafas dengan berat.

“Kenapa emangnya, sayang?” Shani giliran bertanya ke gue.

“Ini untuk cegah kejadian yang sama kaya Gaby, aku tetap gak mau kalau orang-orang yang aku sayangi di celakai sama Verro. Dan apapun usaha kalian buat larang permintaanku ini, aku bakal pindah ke Jepang.” ucap gue.

“Yaudah lah, daripada Willy beneran pindah ke Jepang…. lebih baik dia tinggal di kosan Ricky.” ujar Mama Indira mengerti.

“Mama ikuti kemauan kamu yang satu ini, tapi ingat… jangan sampai kamu berbuat nekat lagi!” ucap Mama mengingatkan.

“Iya, terima kasih udah turuti kemauan ku kali ini….” balas gue senang.

 

Setelah semua urusan terselesaikan, mereka mengajak gue untuk makan bersama tapi gue tolak. Karena gue langsung minta ijin untuk pulang lebih dulu ke rumah, dengan alasan mengambil barang-barang gue untuk di pindah ke kosan. Rencana ke Jepang tetap berjalan, namun itu harus sedikit tertunda dan ada perubahan strategi.

Dan waktunya mulai…

 

“Aku pamit pulang dulu ya, mau pindahin barang-barang ke kosan” pamit gue.

“Mau aku temenin nggak?” ucap Shani menawarkan.

“Emm, gimana ya…. kamu kan mau makan dulu, lagian barusan pesan kan, Shan.” gue berusaha agar dia nggak ikut dengan gue.

“Yaudah kalau gitu, gimana misalkan di temenin Kak Ve” Shani kok ngotot sih gue harus di temenin seseorang.

“Paling nggak ada yang temenin kamu Nak” timpal Mama.

“Gausah, mending aku ajak teman yang ada di depan deh. Mereka pasti udah kelar makan…” tolak gue.

“Yaudah, mending lo buruan deh…. lagian kenapa sih nggak nanti aja Wil” ujar Ricky.

 

Gue langsung memberi kode ke dia dengan menyenggol kakinya. Ricky kemudian hanya membalas dengan anggukan kecil. Sepertinya nanti gue harus memberitahu perubahan rencana, walaupun tujuannya sama, yaitu untuk pindah ke Jepang.

Rasanya memang berat dan gue juga merasa bersalah sekali, apalagi mereka udah berusaha untuk mencegah gue untuk pindah. Gue lalu berdiri dan berjalan keluar dari Restoran. Sesampainya di bagian luar, gue berjalan ke arah Shanji, Viny dan teman-teman lainnya.

 

“Eh, ada yang udah kelar makan nya?” tanya gue.

“Viny tuh udah selesai.” jawab Shanji dan Anin bersamaan.

“Kompak amat jawabnya” celetuk Kinal.

“Udah selesai urusan lo, Wil?” tanya Tata.

“Selesai semua, yaudah gue buru-buru nih” balas gue.

Lalu gue menarik tangan Viny, dia sempat kaget saat tangannya bersentuhan dengan tangan gue.

“Ikut gue”

“Kemana Wil?” tanya Viny.

“Pulang sebentar, gue mau pindahin barang-barang ke kosan.” Jawab gue.

“Sama gue doang Wil?” si Viny habis makan apaan sih, suruh ikut aja kebanyakan tanya. Dia kelihatan ragu dengan ajakan gue.

“Tenang, lo nggak gue ajak tidur bareng kok” ujar gue.

“Ya kali, Wil…. kalau iya, paling-paling gue jadi orang pertama yang bakal hajar lo!” ucap Gre. Sedangkan gue gak terlalu mendengarkan ucapan Gre barusan.

“Gimana, bisa bantu gue nggak Vin?” tanya gue yang masih memegang tangannya.

“Wil, hati-hati. Dia lama udah jomblo loh, udah hampir 2 minggu putus sama Faruk. Kita takutnya dia kepincut ama lo. Hahaha” ledek Kinal.

“Ih, Kinal kalo ngomong gak di filter dulu deh.” Balas Viny sewot.

“Dah sana, ikut aja Vin…. barangkali lo di jadiin selirnya nanti.” ujar Shanji.

“Hmm, yaudah yuk. Tapi isi bensin mobil gue ya….” ucap Viny.

“Gampang mah kalo soal itu.” Balas gue.

“Kita duluan ya…” pamit gue ke yang lain.

 

Kemudian Viny gue bantu bangkit, yang lainnya tiba-tiba menatap gue sambil senyum-senyum. Perasaan gak ada yang salah deh, kenapa pada ngelihatin gue sama Viny gitu amat sih.

“Tangan lo gak usah cari-cari kesempatan Wil…” ucap Gre.

“Eh, sorry Viny… tangan, kok lo nakal banget sih.” Gue memukul tangan gue sendiri. Berasa kaya orang gila deh…

“Gapapa…” balas Viny.

 

Lalu gue dan Viny pun berjalan menuju ke mobil Viny, karena tempat parkirnya agak luas gue berjalan lebih cepat, Viny yang fokus dengan handphone nya sedikit tertinggal.

“Tunggu gue…” teriak Viny dari belakang.

“Makanya, kalau jalan itu agak cepat sedikit dong, Viny…” ucap gue.

“Ya sorry kalau agak lama, ini gue ada chat dari Shani barusan.” ujarnya.

“Bilang apaan dia?” tanya gue kepo.

“Shani Cuma tanya sih, apa benar gue yang anterin lo. Dah gitu doang…” jawab Viny.

“Emm yaudah. Gue kira apaan…” ucap gue.

 

Tak lama gue dan Viny, sampai di dekat mobilnya. Dia lalu memberikan kuncinya, kemudian gue dan dia masuk ke dalam mobil. Gue menghidupkan mesin mobil dan melajukan meninggalkan area parkir Resto….

 

~o0o~

Selama perjalanan gue dan Viny hanya mengobrol cantik aja, eh. Tiba-tiba Viny menggeser posisi duduknya dan merebahkan kepalanya di pundak gue. Sempat kaget sih awalnya, tapi gapapa lah menang banyak gue dari kemarin…

 

“Pinjam pundak lo yah…” Viny lalu memejamkan mata.

“Iya Vin….” jawab gue. Kemudian kami berdua saling diam lagi, eh lama-lama itu bukit agak nempel deh di lengan. :v

“Vin.” Panggil gue.

“Apa?” sahutnya.

“Kata anak-anak tadi, lo beneran udah putus ya sama Faruk? Sorry loh, pertanyaan gue agak menyinggung …”

“Iya, gue sama Faruk udah putus agak lama… ya, makanya waktu liburan kemarin gue pulang ke Jogja. Sekedar tenangin diri.” Jawab Viny.

“Gitu ya…. kenapa nggak cari pacar lagi?” tanya gue lagi. Oke fix, kali ini gue udah mirip pembawa acara infotaiment.

“Kenapa lo kepo banget sih.” ucap Viny terkekeh.

“Hmm, yaudah deh kalo di bilang kepo.” balas gue.

“Sekarang gantian gue yang tanya, kenapa lo mau pindahin barang-barang ke kosan? Jangan-jangan lo mau nekat ke Jepang yah…” Anjir, kenapa tebakan dia benar banget ya.

“Emmm….” sumpah gue bingung jawab apaan.

“Kenapa nggak jawab…” Viny lalu bangkit dan menatap gue dengan serius.

“Sebentar Vin, gue mau pinggirin mobil sebentar….” ucap gue.

“Eh, kenapa??? Jalan ini sepi banget loh.” ujar Viny.

“Justru itu gapapa malahan.” Balas gue.

 

Tak lama, gue sudah menepikan mobil Viny di pinggir jalan. Kemudian gue menatap Viny, gak tau kenapa gue mau memberitahukan rencana gue untuk tetap berangkat ke Jepang.

“Vin, gue sebenarnya memang mau tetap pindah ke Jepang. Gue udah janji sama Verro, dan kalau nggak gue tepati, yang lain bisa di celakai sama dia.” ucap gue menjelaskan semuanya.

“Loh, kata Mama lo bukan nya udah di cegah buat kesana..?” tanya Viny.

“Gue tetap sama keputusan gue….!” jawab gue dengan tegas. Viny langsung terdiam, entah kesurupan setan apaan, gue mendekatkan wajah ke dia.

Viny tak bergeming sama sekali, wajah kami sudah sangat dekat dan makin mendekat lagi…

“Wil, lo ma mau ap….” belum selesai dia menyelesaikan ucapannya, gue sudah keburu melumat bibir tipisnya.

 

Matanya terbelalak, awalnya tak dia hanya bisa terdiam saja saat gue menciumnya. Tapi lama-lama Viny memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman gue. Tangan gue mulai memegang pinggangnya.

Lama ciuman itu berlangsung…..

 

“Emhhh” gue langsung melepaskan ciuman antara kami berdua. Mata Viny masih terpejam, takut gue berbuat lebih ke Viny.

“Sorry Vin… gue yang salah” ucap gue setelah dia membuka matanya.

“Gapapa, gue tadi malah kebawa suasana.” Ujar Viny.

“Jangan bilang ke siapa-siapa soal ini.” pinta gue.

“Iya, gue bakal jaga rahasia kita ini….” balasnya tersenyum.

“Gue langsung berhenti tadi, takut keterusan…” ujar gue tertawa kecil.

“Ih, pasti ngeres deh pikiran lo.” ledek Viny.

“Kan gak jadi…. gue masih bisa kontrol kok. Janji itu tadi gak terulang lagi.” balas gue.

“Tanggung jawab! Lo udah rebut ciuman pertama gue!” ujar Viny.

“Eh?”

 

To Be Continued ….

 

 

Created By : Wilco (Line : mojo92)

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Iridescent Part 21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s