My life is diary…

Dear diary.

“Apa aku tidak bisa diberi kesempatan untuk ngobrol dengan sesaat saja ya allah? Kenapa kau ambil dia dariku secepat itu.” Batin seorang pemuda yg tengah mencurahkan semua isi hatinya kedalam sebuah catatan kecil yg biasa di sebut Diary itu.

“Aku harus bagaimana ya allah setelah ini? Aku tidak bisa hidup tanpanya, apa dia bukan orang yg kau tak dirkan untuku? Dan siapa pengantinya ya allah?.” Sesekali pemuda itu menyeka kedua bola matanya yg sudah tidak bisa terbendung lagi menggunakan kedua bahunya. Lebih dari lima tahun menjalani hubungan dan dengan perpisahan yg sangat menggenaskan seperti ini membuat seorang pemuda bernama lengkap Guntur suhendra itu sangat terpukul sekali dengan kejadian itu. Kejadian pesawat yg di bajak oleh beberapa orang teroris yg sempat membuat gempar dunia, karena pesawat yg di bajak di tabrakan ke menara Ke Menara kembar U.S.A 9 tahun yg lalu. Dan menewaskan banyak korban termasuk salah satunya Melody Nurramdhani Laksani yg tengah berlibur di Negara Adidaya tersebut. Memang kejadian yg tragis dan tak akan pernah terlupakan oleh semua warga Amerika dan juga oleh Guntur Sunendra, pemuda asal Kota Pati yg bekerja di salah satu butik baju milik almarhum Ibunya Melody. Setelah 9 tahun ke pergiannya Melody, orang yg sangat terkasih. Butik peninggalannya di lanjutkan oleh Frieska adik kandung sekaligus saudara kandungnya melody sendiri. Seminggu sekali Guntur datang ke butik peninggalan pacarnya. Untuk membantu frieska menata dan melayani para custumer yg datang ke butik.

 

“Kak Gugun, makasih banget ya. Aku udah kakak bantuiin di butik seharian ini.” Ucap Frieska sambil tersenyum manis kearahnya GuGun panggilan akrabnya Frieska ke Guntur Sunendra.

 

“Iya sama-sama dek. Lagian kakak juga ada waktu luang makanya aku bantuin kamu di butik, dari pada kakak bosan di rumah mending kakak bantuiin kamu fries..” balas Guntur sambil melangkahkan kakinya kearah pintu keluar.

 

“Eh tunggu sebentar kak..” Frieska menghentikan langkah kakinya Guntur.

 

“Ini kak, tadi siang aku beliin ini buat kakak. Semoga kakak suka ya?” Kata Frieska lagi sambil senyum dengan mata tertutup semua.

 

“Makasih banyak ya, dek. Kapan-kapan main kerumah kakak boleh?”. Guntur menerima bungkusan yg entah apa isinya itu dari tangan Frieska.

 

“Iya kak, nanti kalau ada waktu luang aku main kerumah kakak kok.” Balas Frieska masih dengan senyum unyunya.

 

Di tengah perjalan pulang menuju kearah rumah, air hujan yg sangat deras dan di sertai angin kencang mengguyur ibu kota. Pepohonan besar dan papan iklan di pinggiran jalanan itu, seperti menari-nari akibat tiupan angin yg terlalu kencang yg melanda ibu kota. BRAK! Kab depan mobilnya guntur ketimpa pohon besar yg sedari tadi pas dia menghentikan laju kendaraannya sebentar karena ada pohon yg lebih dulu tumbang di depannya. Sebelum dia melewati pertigaan jalan tersebut. Guntur mulai turun dari mobil dan mulai berlari kearah pertokoan terdekat untuk berteduh, dengan baju yg setengah basah. Gugun tersender lemas di depan toko kelontong.

 

“Aku masih gak percaya aku masih bisa selamat seperti ini.” Batin guntur dalam hati, terus memandangi keadaan mobilnya yg bagian depan ringsek parah.

 

Suara getar telphone menbuyarkan lamunannya pemuda itu.

 

“Hallo..”

 

“Hallo kak, kakak sudah sampai mana sekarang?”

 

“Kakak lagi nyampai daan mogot, fries. Kab mobil kakak ringsek kejatuhan pohon tumbang.” Kataku.

 

“Inaillahi.. Tapi kondisi kakak nggak apa-apa kan?” Tanya khawatir Frieska ketika mendengar berita itu langsung.

 

“Iya fries, alhamdulilah kakak gak apa-apa.” Balasku.

 

“Tunggu sebentar disana ya kak, frieska tak nyusul kakak kesana..” Ucap Frieska sambil mengambil kunci mobil dari samping tempat tidurnya.

 

“Enggak usah dek, anginya terlalu kenceng. Bahaya di kamunya entar, kamu istirahat aja dirumah gak usah kemana-mana.” Kata Guntur melarang Frieska untuk menyusulnya.

 

“Tapi..” Ucap frieska terpotong.

 

“Udah yah, handphone kakak lowbet nih.” Ucap guntur berbohong sambil memutus sambungan telphone.

 

“Iya… *tut! Tut!*..” sambungan telphone sudah terputus.

 

“Semoga gak terjadi apa-apa ya kak? Sama kamunya? Semoga kamu selamat terus ya.” Batin Frieska dalam hati sambil mematikan lampu hias di samping tempat tidurnya.

 

Rintikan air hujan yg semalaman penuh menguyur Ibu kota akhirnya selesai. Dan sudah banyak orang-orang yg mengngerubungi mobilnya sambil mengintip di kaca film jendela mobilku. Orang-orang itu mencoba melihat ada pengemudinya gak di dalam mobil yg depannya sudah ringsek itu.

 

“Kamu gak apa-apa nak? ” Tanya warga yg mengerubungi mobilku barusan.

 

“Alhamdulilh gak apa-apa kak..”

 

“Alhamdulilah kalau gak apa-apa kamunya..” Ucap warga sambil membantu dinas kebersihan kota Jakarta menebang pohon yg tumbang di jalan raya itu. Banyak polisi yg sudah ada di tkp, dan banyak mobil yg di suruh putar arah sebelum pembersihan jalan selesai. 2,5 Jam pembersihan pohon yg tumbang semalam di bahu jalan, akhirnya pembersihan bahu jalanan itu selesai dan sudah ada beberapa mobil yg sudah melintas di depanku.

 

“Hai kakak..” sapa seseorang yg suaranya tak asing lagi di telingaku, menepuk pundakku dari belakang.

 

“Eh kamu Fries tenyata, ngaget-ngagetin aja sih kerjaan kamu..” kataku.

 

“Hehe..Maaf kak lagian aku semalem khawatir banget sama kondisi kakak, semaleman aja aku gak bisa tidur gara-gara aku kepikiran kakak terus..” Ucapnya.

 

“Ouh sampe segitunya banget sih kamu fries, sampe-sampe kamu sempat ngekhawatirin kakak seperti itu.” Ucapku.

 

“Ya jelas aku ngekhawatirin kamu lah kak, aku tuh cinta dan sayang banget sama kamu kak. Kamunya aja yg gak peka sama aku kak..” Batin Frieska dalam hati.

 

“Kamu kan sekarang udah jadi kakak aku satu-satunya, ya wajar aja donk kalau aku ngekhawatirin banget kamu kak.” Balas Frieska sambil senyum palsunya, dalam hatinya yg paling dalam dia lagi sedih sekarang.

 

“Makasih ya fries, kamu udah ngekhawatirin gitu sama kakak..” Kata Guntur.

 

“Iya kak gugun sama-sama..”

 

Di perjalanan pulang ke kediamannya frieska. Frieska menyuruhku untuk menghentikan sejenak laju kendaraan di depan sebuah warung makan sederhana pinggir jalan.

 

“Ada apa dek? , kok kamu nyuruh kakak berhentiin mobil di tengah-tengah jalan gini?”. Tanyaku.

 

“Aku laper kak? Aku dari tadi pagi belom sarapan? Yuk makan di warung pecel lele itu yuk kak! Kayaknya enak deh?.” Batin Frieska sambil mendorong-dorongku keluar dari dalam mobil.

 

“Tapi dek.. Itu kayaknya gak higenis deh dek makanannya..” Balasku..

 

“Udahlah kak, makanan tuh sama aja bentuknya yg penting buat kita kenyang aja udah cukup kok..” Ucap Frieska sambil keluar dari dalam mobil. Dengan sangat terpaksa aku pun juga keluar dari dalam mobil. Dan mulai berjalan mengikuti langkah kaki yg sangat ringan itu.

 

“Buk, saya pesen pecel lelenya 2 porsi sama es teh 2 ya?.” Ucap Frieska langsung sambil duduk.

 

“Kamu bener pengen makan disini fries? Kayaknya gak higenis gini deh tempatnya.” Tanyaku sambil berbisik pelan di telinganya Frieska.

 

“Udah, aku udah kekeh untuk makan makanan di pinggir jalan seperti ini. Lagian aku juga udah pernah ngerasaiin makanan pinggir jalan kayak gini kok, dan hasilnya memang enak kok, gak kalah sama makanan yg di jual di restauran, restaurant mahal loh kak.” Kata Frieska.

 

“Yadeh Fries, terserah kamu ajalah…” Dengan muka BTku aku mulai memainkan games yg ada di handphonenya gadis yg kakinya jenjang itu. Sesekali aku juga membuka isi pesan dan membaca isi pesan di handphonenya Frieska satu persatu, aku di buat tertawa geli ketika salah seorang teman kakaknya melody yg mengungkapkan semua curahan hatinya ke frieska tapi gak di reply sama frieska sama sekali.. Galeri yg penuh dengan komuknya frieska yg unyu-unyu dengan kakakya, dan ada juga kenangan indah dulu pas melody masih hidup.

 

“Apa sih kak, buka-bukaiin private aku sih.. Gak sopan tau kak, bukaiin privatenya orang kayak gitu..” Ketus frieska sambil ngerebut paksa handphonenya dari tanganku.

 

“Hehehe…” ketawaku nyengir kuda.

 

Pesanan kami pun sudah ada di depan mata dan frieska pun juga udah duluan makan sepiring pecel lele dengan lontong sayur itu dengan lahap,. Aku perhatikan lama kelamaan cara makannya frieska sama seperti melody dulu, ngunyah sambil nutupin mulutnya menggunakan salah satu tangannya.

 

“Hey kak..” lamunanku buyar ketika frieska melambai-lambaikan telapak tangannya di depan mukaku pas.

 

“Eh iya…”

 

“Ada apa ya?” Tanyaku.

 

“Kakak ngelamunin siapa hayo? Sampai makanannya gak di sentuh sama sekali kayak gini.” Frieska sambil menyendokan makanan pecel lelenya kearahku.

 

“Ayo buka mulut kak..” Perintah Frieska menyuruhku untuk membuka mulutku.

 

“Gak mau ah fries, kamu makan aja fries lagian kakak udah kenyang kok, tadi pagi kakak udah makan bubur soalnya.” Tolakku beralasan. KERUYUK!!!

 

“Nah sekarang kakak mau cara alesan apa lagi, ayo kakak makan gak ini? Kalau gak makan dompet sama handphone kakak aku sita nih?” Ancam Frieska sambil mengambil dompet dan handphone yg aku taroh di depan meja, sambil ia memelototiku dengan tangan kanan memegang sendok yg sudah penuh sama pecel lele..

 

“Eh jangan donk. Iya iya kakak makan kok..”

 

“Nah gitu kan baru kak Guntur yg paling aku Cintai..” Ucap Frieska keceplosan.

 

“Hah…tadi kamu barusan baru ngomong apa ya, fries?” Tanyaku gak percaya.

 

“Gak kok kak, aku tadi gak ngomong apa apa kok kak, beneran deh.” Ucap Frieska tenang.

 

“Kiraiin kamu barusan ngomong cinta sama aku gitu, apa pendengaranku aja ya yg tadi salah denger?” Kataku.

 

“Fiuhh untung gak ketahuan tadi, kalau ketahuan aku malu berat di depannya kak guntur.” Batin frieska lega.

 

“Wooo GR banget kamu kak, aku suka kakak? Ya gaklah? Lawong kakak kurang ganteng gitu kok, kalau kakak ganteng gituh? Nah itu bisa aku pikir-pikir ulang deh kak. Hhh:-D.” Tawa Frieska sambil memasukan makanan ke dalam mulutku.

 

“Hehehe…”

 

Sehabis selesai makan dan tak lupa aku membayarkan makanan yg di pesen sama frieska tadi, kami pun langsung melanjutkan perjalanan kami kearah kediamanku terlebih dulu. Setibanya aku dirumah, frieska tak suruh buat masuk kedalam rumah gak mau, katanya hari ini dia ada kesibukan sendiri dengan bisnis baru yg baru dia geluti beberapa tahun lalu.

 

Dear Diary, 18 Agustus 2016.

 

“Aku kangen banget sama kamu mel? Kamu disana baik-baik saja kan yah? So pasti baik-baik saja donk yah! Mel, aku kok baru nyadar ya. Kalau adek kamu ternyata perhatian banget sama aku, semenjak kamu ninggalin aku selamanya di dunia ini, Mel. Oh iya Mel, bisnis aku di dunia fashion and modeling sukses loh. Aku kemaren habia tour ke beberapa negara di eropa untuk memperkenalkan fashion yg aku buat. Ah mungkin sekian dulu ya mel? Yg aku katakan ke kamu, aku mau ngomong panjang lebar ke kamu tapi ide aku lagi habis. Kapan-kapan yah sayang:-*.” Guntur sambil menutup buku diary kecilnya di atas meja depan ruang tamu. Pagi hari nan indah dan sejuk pun datang menghampiri kediamannya guntur sunendra. Pagi hari ini guntur berniat nyekar ke makam orang yg paling sangat dia cintai itu. Dengan membawa kembang 7 rupa dan dua botol air putih, setibanya di makam tempat melody di peristirahtkan untuk terakhir kalinya. Guntur langsung membersihkan makamnya melody dari rumput-rumput liar yg tumbuh di atas makam dan dedaunan di atasnya. Setelah semua selesai dan udah bersih pula makam tercinta itu. Guntur langsung menaburkan bunga di atas makam dan memanjatkan doa +Hening Sejenak ya? Ada orang yg baca tahlil+ setelah semua selesai guntur langsung menyiramkan air yg di bawa nya di atas batu nisan sang kekasih.. Dan tak lupa mencium batu nisannya.

 

“Sayangku Melody, aku pulang dulu yah? Kamu tenang disana ya sayang. Hati dan cinta aku hanya untuk kamu seorang kok sayang. Tenang aja kamu sayang, kamu gak usah khawatir ya kalau aku bakalan cari wanita lain selain kamu, gak kok sayang..cinta aku hanya untuk kamu seorang sampai mati kok.. Aku pamit pulang dulu ya sayang.” Guntur sambil mencium batu nisannya melody.

 

“Kak gugun, kamu sekarang lagi ada dimana kak?” *Pesan Masuk.

“Aku lagi di makam, habis nyekar ke makam kakak kamu nih. Emang ada apa dek?” *Balas pesanku.

“Bisa bantuiin aku pindahin rak-rak buku di rumah aku gak kak?” *isi pesan Frieska.

“Bisa, tapi tungguin bentar yah, kakak lagi nyetop taxi nih.” *Balasku.

“Okeh kakak..” *Pesan Frieska yg terakhir.

 

Di Rumahnya Frieska….

 

Banyak orang dan teman-temannya frieska yg sedang ngumpul di ruang tamu mempersiapkan sebuah kejutan untuk orang yg sebentat lagi akan nyampe disini.

 

“Baik teman-teman, kalian sudah tau apa tugas kalian masing-masing kan yah? Kalau kak gugun masuk kedalam rumah….” Belom sempat Frieska menjelaskan rencanannya. Bel rumah depan berbunyi, dan seketika itu juga orang yg ada di dalam rumah grusa grusu untuk mencari tempat bersembunyi yg aman.

 

KREKK!! *suara pintu terbuka..

 

 

“Hallooo… Frieska…frieska.. Kok sepi gelap gini ya rumahnya. Tadi katanya suruh di bantuiin buat geser rak-rak tapi kok rumahnya sepi gini yak!” Batin Guntur sambil mencari saklar..

 

Ceklek!!

 

CEPLOK! CEPLOK! CEPLOK! Setelah lampu di nyalakan orang orang yg sudah memegang sebuah telur masing-masing langsung melempari badannya guntur dengan telur dan tepung terigu..

 

“Selamat ulang tahun kakak gugun yg ke-25 tahun, semoga di tahun ini semua impian dan cita-cita kakak tercapai ya.” Ucap Frieska yg keluar dari dapur dengan kue tart di kedua tangannya.

 

“Frieska, awas ya kamu dek..”

 

“Hehehe… HBD kakak, di tiup dulu lilinya kak, sama minta permohonan yah.” Ucap Frieska sambil menyalakan lilin di kue tart tersebut..

 

“I wish semoga aku tetap seperti ini rendah hati dan tentunya makin ganteng, amin..”

 

“Kalau udah buat permohonan saaatnya…” ucap frieska terpotong.

 

“Saatnya pesta..” Sambungku sambil numplek kue tart yg mau diarahkan frieska ke aku tapi aku balikin keanaknya..

 

“Kak guntur….!!” Teriak Frieska.

 

“Hahaha rasaiin tuh wlee…” ledeku sambil masuk ke kamar mandi untuk bersih2ā€¦

 

Setelah pesta ulang tahunku selesai di rayaiin oleh frieska dan yg lainnya. Aku langsung ijin pamit ke frieska dan tantenya yg kebetulan lagi nginep di rumahnya. Setibanya di rumah aku tak langsung pergi untuk beristirahat, aku malah mendesain baju untuk event di amrik tiga bulan lagi…

 

3 Bulan kemudian…

 

Di salah satu bank yg ada di Jakarta. Dua orang perampok bersenjata masuk kedalam bank dan menyandra seisi orang yg ada di bank tersebut, suara tangisan pecah di seisi ruang berangkas bank tersebut…

 

“Kak aku takut..” Ucap Frieska pelan..

“Udah kamu gak usah takut dek, gak akan terjadi apa apa sama kita semua kok dek.” Ucapku menenangkan frieska yg panik.

Di luar bank swasta yg ada di indonesia. Sudah ada banyak polisi berseragam lengkap sambil menodongkan pistol kedepan jika sewaktu waktu para perampok menekan senjata kaliber berat itu.

 

“Cepat kalian lepaskan para sandra itu. Jika tidak kami akan masuk kedalam buat menembak kalian..” Seru salah seorang polisi.

 

Salah satu perampok yg membawa bom dan senjata lengkap menarik lengan dari salah seorang wanita muda dan memakaikannya rompi yg penuh dengan bom hidup.

 

“Cepat lo jalan keluar kalau gak gue bunuh lo..” Todong salah satu penjahat yg memakaikan frieska rompi penuh bom.. Di sisi lain gue menuliskan kata-kata terakhir di sebuah buku diary. Dengan sekuat tenaga gue mengambil pisau yg ada di atas meja teller dan langsung gue berlari kearahnya frieska merobek dengan paksa kengkangan kuncian sabuk yg sangat sulit di buka. Setelah rompi penuh dengan bom aktif itu yg beberapa detik lagi akan meledak, aku melepaskan rompi bom itu dengan paksa dari badannya frieska dan aku langsung berlari ke dua orang perampok itu dan menyudutkannya di pojok.

 

“Kalau gue harus mati, lo juga harus mati sialan..”

 

KABOOMM!! Ledakan yg sangat dahsyat meledakan bank swasta itu dan melukai para sandra, sedangkan ketiga orang itu tewas seketika itu juga di tempat kejadian.. Frieska yg melihat itu semua hanya terduduk terdiam memeganggi buku diary kecil peninggalanku.

 

“Kak Guntur kenapa kamu cepat banget ninggalin aku pergi kak, aku tuh sayang banget sama kamu kak, tapi kakak malah ninggalin aku secepat ini.” Tangis Frieska di atas makamku.

 

Malam harinya tiba, Frieska yg masih berkabung itu membuka dan membaca semua isi tulisan yg ada diaryku.. Frieska sangat terenyuh ketika membaca tulisan diary yg terakhir kalinya itu.

 

Dear diary, 29 Desember 2016..

 

“Mungkin ini tulisanku yg terakhir kalinya sebelum aku menyusulmu di atas sana melodyku sayang. Untuk adeku frieska yg paling kakak sayangi, mungkin ini terakhir kata-kata kakak buat kamu sebelum kakak pergi nolongin kamu.. Kakak tau sejak dulu kamu udah jatuh cinta sama kakak, tapi maaf kakak gak bisa jatuh cinta balik sama kamu. Kakak udah anggep kamu itu adek kandung kakak sendiri, kakak gak bisa mencintai kamu dek. Kakak hanya bisa mencintai satu wanita saja yaitu kakak kamu, kakak melody nurramdhani laksani. Kakak rela ngorbanin nyawa kakak sendiri buat kamu karna kakak sayang banget sama kamu dan kakak gak pengen jika adek kakak terluka atau tergores sedikit pun. Maafin kakak kalau selama ini kakak punya salah sama kamu ya dek? Kakak pergi dulu ya:-) kamu gak usah sedih gitu kalau kakak tinggal pergi selamanya menyusul kakak kamu di sana ya.”

 

“Kak Guntur…”, Tangis frieska sejadi-jadinya sambil memeluk peninggalanku berupa buku diary dan yg lainnya.

 

 

The ends…..

 

Created by: @Lastwota Number Phone:089654707790

Iklan

7 tanggapan untuk “My life is diary…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s