Janjiku Untuk Desy Part 5

des

Aku terus melajukan sepeda motorku, hingga akhirnya aku menghentikan sepeda motorku di dekat sebuah mini market karena ada sesuatu yang menarik perhatianku. Di parkiran mini market itu terlihat sekelompok orang berjumlah 4 orang sedang berusaha merampas tas milik seseorang yang baru saja keluar dari mini market. Sepertinya ada perampokan nih. Aku perhatikan siapa korban yang sedang dirampas sekelompok orang itu.

“Loh itu kan?!”

Aku melihat seorang gadis berambut panjang, berkulit putih, berparas cantik, tapi punggungnya bolong. Oke, mulai ngaco. Gadis itu tampak sedang berusaha melawan keempat perampok itu. Dia memukul-mukul perampok itu dengan tangannya, namun kelihatannya perampok itu tidak kesakitan sama sekali karena tenaga gadis itu jauh dibawah keempat perampok itu. Gadis itu terus berontak, berusaha untuk menyelamatkan tasnya. Hingga akhirnya, salah satu perampok itu menahan tangan gadis itu kebelakang punggungnya.

Tunggu sebentar. Ini disekitaran mini market nggak ada orang yang nolongin apa? Aku perhatikan sekeliling mini market itu. Benar, tidak ada orang yang menolong. Iya, soalnya letak mini market ini berada di jalanan yang sepi. Kalau begitu aku harus menolongnya.

“WOI!! JANGAN GANGGU DIA!”

Keempat perampok itu menoleh kearahku dengan tatapan tajamnya. Sebenarnya aku takut sih menghadapi mereka, soalnya aku belum pernah menghadapi perampok sebelumnya. Kukeluarkan semua keberanianku demi menyelamatkan gadis itu. Kemudian aku turun dari motorku dan berjalan kearah para perampok itu. Namun saat berjalan, aku tersandung karena sebuah batu yang menghalangi.

“Aduhhh.” Aku pun terjatuh.

“Hahaha. Banyak gaya lo.”

“Emang enak jatoh?! Hahaha.”

Aku bisa mendengar para perampok itu tertawa karena melihatku terjatuh. Tawa mereka seakan mengejekku. Oke, ini cuma kesalahan teknis, kalian belum lihat kemampuanku ya? Oke, akan aku tunjukkan. Kemudian aku bangkit berdiri dan menatap para perampok itu.

“Kalau berani jangan sama perempuan dong. Nih lawan gue kalau berani,” kataku dengan berani.

Para perampok itu saling menatap satu sama lain. Lalu salah satu dari perampok itu berlari kearahku, bersiap untuk memukulku dengan kepalan tangannya. Namun sebelum pukulannya berhasil mengenaiku, aku menendang perampok itu tepat ke bagian wajahnya.

Yeahhhh! Dia langsung jatuh tersungkur ke tanah parkiran. Darah segar pun keluar dari hidungnya. Pasti dia merasa kesakitan setelah wajahnya aku tendang. Tapi sialnya, selangkanganku jadi sakit karena terlalu tinggi menendangnya, alhasil jalanku jadi sedikit pincang. Kayanya aku harus melatih lagi ilmu bela diriku.

“Woy kampret!! Berani-beraninya lo ngehajar anak buah gue!” ucap salah satu perampok yang sedang memegang gadis itu.

“Biar kita berdua aja yang ngehajar dia bos. Kita kasih pelajaran ke dia,” ucap salah satu perampok yang yang tingginya sama denganku.

Sial, dua lawan satu. Situasiku menjadi terdesak, apalagi saat ini selangkanganku masih terasa sakit gara-gara tendangan tadi. Oke, jangan panik. Kakekku yang seorang guru bela diri pernah bilang padaku, “Jika menghadapi situasi terdesak, cobalah untuk tetap tenang. Ambil sebatang rokok dan menyalakannya. Niscaya kamu akan tahu apa yang harus dilakukan.”

Oke kakek, cucumu yang ganteng ini akan menjalankan pesan kakek. Kuambil sebungkus rokok dari kantung celanaku, lalu aku mengambil sebatang rokok dari bungkusnya dan menyalakannya. Asap yang dihasilkan dari rokok tersebut pun keluar dari mulutku. Fiuhhh, sungguh nikmat.

“Gaya amat lo. Mau mati aja pake ngerokok segala,” kata salah satu perampok yang memakai kupluk di kepalanya.

Aku menyimpan kembali bungkus rokokku kedalam saku celana. Kemudian aku menatap para perampok itu.

“Sini maju kalau berani,” kataku pada para perampok itu.

“Belagu lo nyet!! Mending mati aja lo!!”

Kedua perampok itu berlari kearahku. Akupun tidak tinggal diam, akupun berlari kearah mereka, untungnya sakit di selangkanganku mulai sedikit mereda. Kemudian dengan cepat aku melompat dan menendang salah satu perampok yang memakai kupluk tepat dibagian dada hingga dia terjatuh. Lalu tiba-tiba perampok yang satu lagi hendak memukul wajahku, namun berhasil kutahan pukulannya. Akupun tak tinggal diam, dengan cepat dan juga sangat keras aku pukul perampok itu tepat dibagian ulu hatinya hingga dia berlutut lemas dihadapanku.

Yahhh.. Aku kira para perampok ini kuat, nggak tahunya lemah gini. Aku masih belum puas, kutendang dengan keras kepala perampok yang kini sedang berlutut sambil memegang dadanya. Perampok itu terpental kesamping dan pingsan.

Dua perampok yang sebelumnya sudah kukalahkan melihat kearahku yang sedang menghisap rokok dengan santainya. Akupun ikut menatap mereka berdua. Ekspresi mereka terlihat ketakutan. Tak lama kemudian merekapun langsung kabur. Tinggal satu perampok lagi.

“Woy! Lepasin dia, atau nasib lo bakal sama kaya dia.” Aku menunjuk kearah perampok yang sudah pingsan tadi.

“Diem lo!” Perampok itu malah membungkam mulut gadis itu dengan tangannya. Gadis itu meronta-ronta berusaha melepaskan tangan perampok itu dari mulutnya.

Cih. Keras kepala. Aku mengambil sebuah batu yang tadi membuatku tersandung. Kemudian aku langsung melemparnya tepat ke kepala perampok itu. Lemparanku tepat mengenainya. Perampok itu langsung merasa pusing dan melepaskan bungkamannya dari gadis itu. Dia hendak melarikan diri, namun dengan cepat aku langsung menghampirinya dan menarik baju perampok itu.

“Sentuhan terakhir.” Aku mengambil rokok yang ada di mulutku, lalu aku tempelkan bagian ujungnya yang terbakar ke pipi si perampok. Alhasil perampok itu meringis kesakitan dan buru-buru kabur.

“Ahh masa rampok kok lemah? Sia-sia gue melawan mereka.”

Sia-sia aku melawan mereka. Aku tidak mendapat perlawanan yang berarti dari mereka. Aku kira mereka kuat, tapi ternyata mereka lemah banget. Buang-buang waktuku saja. Namun, aku akhirnya tahu maksud dari pesan kakek, kalau soal rokok itu digunakan pada saat terakhir agar lawan menjadi jera. Oke, sedikit agak aneh memang. Tapi begitulah yang aku tangkap soal pesan kakek.

****

Sekarang aku sudah duduk bersama gadis itu di sebuah kursi panjang di mini market itu. Aku memberikan sekaleng minuman kopi yang baru saja aku beli kepada gadis itu. Gadis itu tampaknya masih shock gara-gara kejadian tadi.

“Kamu nggak apa-apa, Naomi?” tanyaku sambil menghisap rokok yang masih belum habis sejak pertarunganku melawan perampok tadi.

Ya, gadis itu adalah Naomi, Shinta Naomi lengkapnya. Dia adalah salah satu sahabatku sewaktu masih SMA. Hubunganku dengan dia sangat dekat, bahkan dia yang membantuku saat aku sedang melakukan pendekatan dengan Desy.

“Aku baik-baik aja. Kamu sendiri nggak apa-apa, Aryo?” Naomi meminum kopi kaleng yang tadi aku berikan.

“Aku sih nggak apa-apa. Lihat nggak ada lecet sama sekali kan.” Aku kembali menghisap rokok yang berada di mulutku.

“Kamu tetep nggak berubah ya, masih suka kelahi, tapi ditolak cewek galaunya minta ampun.”

“Jangan ngeledek deh. Udah syukur aku tolongin kamu tadi.” Mendengar perkataan, Naomi jelas aku tersinggung.

“Hahahaha.”

Jangan salah, walaupun cupu-cupu begini aku bisa bela diri, lebih tepatnya sih sering berkelahi. Sebenarnya nggak sering juga sih berkelahi, hanya kalau ada orang yang sengaja mengajakku duel atau ketika amarahku tak bisa dikontrol. Anehnya, aku tidak pernah kena hukuman dari sekolah tentang hal itu. Tapi walaupun begitu, aku lemah kalau berhadapan dengan cewek. Ya lihat saja, sewaktu aku ditolak Rona, hatiku serasa hancur berkeping-keping. Mungkin inilah yang namanya ‘cowok kuat berhati lembut’.

“Malam-malam begini kamu ngapain bisa berada disini?” tanyaku yang masih menghisap rokok.

Secara mengejutkan Naomi merebut rokok yang masih menempel dimulutku, lalu membuangnya ke tanah dan diinjak-injaknya rokok itu.

Nah, satu lagi kenakalanku sewaktu sekolah dulu, merokok. Awalnya, waktu itu aku ditawari rokok oleh salah seorang temanku. Karena penasaran merokok itu seperti apa rasanya, akhirnya aku mencoba merokok dan ternyata begini toh rasanya. Akhirnya, semenjak itu aku jadi sering merokok.

Sampai di titik dimana aku kena omel habis-habisan oleh Naomi untuk segera berhenti merokok, karena saat itu aku sedang dekat-dekatnya dengan Desy. Alasan lainnya adalah Naomi tidak mau nantinya aku sakit-sakitan karena rokok, kalau sakit-sakitan gimana bisa jagain Desy nanti, begitulah yang dia katakan waktu itu.

“Miiiii.. Rokoknya belum abis, kenapa dibuang?!” tanyaku dengan sedikit sewot.

“Kamu tuh ya, bukannya kamu udah berhenti ngerokok? Kenapa ngerokok lagi? Udah punya pacar juga. Kalau kamu nanti sakit gimana? Siapa yang jaga Desy?!” ucap Naomi sambil menoyor kepalaku. Tuh kan, kena omel lagi.

“Duhh, Mi.. Aku terpaksa ngerokok, soalnya aku terdesak saat menghadapi para perampok tadi.”

“Loh, apa hubungannya coba?” Naomi memiringkan kepalanya, pertanda kalau dia bingung.

“Soalnya kakekku pernah berpesan kalau dalam keadaan terdesak, keluarin sebatang rokok dan menyalakannya, niscaya aku akan dapat mengetahui apa yang harus dilakukan. Begitu.” Ya, memang pesan kakekku agak nyeleneh. Terkadang aku juga tidak mengerti yang dimaksud kakek.

“Dasar..” ucap Naomi dengan ketus. Aku hanya cengengesan saja dibuatnya.

“Aku mau berangkat kerja dan kebetulan aku lewat sini. Aku mau membeli sesuatu disini, setelah keluar dari mini market, ga tahunya aku malah dihadang para perampok itu,” sambung Naomi.

“Kerja? Malam-malam begini? Kerja apaan emangnya?”

Aku jadi sedikit heran padanya. Kenapa kerja malam-malam begini? Setahuku, pekerjaan yang dilakukan pada malam hari seperti ini adalah polisi atau pegawai rumah sakit yang mendapat shift malam. Aku lihat dandanan pakaiannya juga beda banget sama Naomi yang aku kenal. Dulu style pakaian dia cukup simple, hanya kemeja dipadukan celana jeans panjang dan sepatu. Pokoknya dulu dia tomboy deh. Tapi sekarang dia memakai celana pendek. Ya, pendek, sampai paha putih nan mulusnya terpampang jelas. Lalu baju yang dia pakai juga tidak ada bagian lengannya, sehingga ketiak mulusnya tanpa bulu terlihat jelas.

“Hmm, jangan-jangan kamu kerja….” Aku jadi penasaran dibuatnya.

“Apa?!” bentak Naomi.

“Eh.. Nggak kok nggak, hehe.” Aku jadi kaget sendiri karenanya. Naomi kalau lagi membentak orang itu serem banget, lebih seram dari Mak Lampir deh pokoknya.

“Aku nggak bisa ngasih tahu soal kerjaan aku,” ucap Naomi sambil meminum kopi kaleng yang masih tersisa.

Aku hanya terdiam saja mendengarnya. Sebenarnya aku penasaran dengan kerjaan Naomi itu, tapi aku mencoba mengerti saja soal itu. Mungkin saja ada suatu hal yang membuatnya tidak bisa memberitahukan pekerjaannya kepada orang lain.

“Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Desy?” sambung Naomi.

“Sejauh ini baik-baik saja, aku dan dia jadi semakin sayang satu sama lain,” jawabku sambil mengambil kopi kaleng yang dipegang Naomi, lalu meminumnya.

“Bagus dong kalau begitu.”

“Tapi ada seseorang yang berusaha mengusik hubungan kami.”

“Siapa?” Naomi menaikkan sebelah alisnya, penasaran.

“Rona.”

“Hah?!” Naomi mendadak kaget setelah aku menyebutkan siapa nama orang itu. Jelas Naomi kaget, karena dia tahu kalau Rona itu yang menolakku waktu itu.

“Serius kamu? Rona yang waktu itu nolak kamu kan?” tanya Naomi lagi.

“Masa aku bohong sih.. Waktu itu Rona tiba-tiba datang ke kosanku. Aku kaget kenapa dia bisa tahu kosan aku? Padahal aku baru bertemu lagi dengannya setelah sekian lama.” Aku mencoba menjelaskan tentang kejadian dimana aku bertemu kembali dengan Rona. Naomi hanya mendengarkanku saja.

“Setelah itu, dia malah menyatakan perasaannya padaku, tapi aku tolak. Tapi yang sungguh membuatku shock adalah dia akan terus berusaha mendapatkanku walau aku udah pacaran sama Desy,” lanjutku.

“Kalau sudah sampai seperti itu, kamu harus hati-hati. Kamu harus tetap menjaga hubungan kalian, jangan sampai putus ditengah jalan,” kata Naomi sambil menatapku.

“Rona itu kalau dia sudah berucap, maka dia akan serius dengan ucapannya,” lanjut Naomi.

“Ya, aku tahu itu. Tapi perkataan Rona soal itu seperti sebuah ancaman bagiku.”

Naomi merangkul bahuku dengan tangannya. Dia mencoba memberi ketenangan padaku.

“Kamu tenang aja kawan, aku bakal bantuin kamu kok,” ucap Naomi.

Aku menjadi lega karenanya. Memang Naomi sahabat yang baik. “Terima kasih, Mi.”

Naomi hanya tersenyum melihatku.

“Eh, udah jam 12 malem nih kita pulang yuk,” ajak Naomi seraya bangkit dari tempat duduknya.

“Loh, katanya kamu mau kerja?”

“Setelah aku pikir-pikir, lebih baik malam ini aku membolos dulu, toh besok bisa kerja lagi.”

“Ohh. Yasudah pulangnya aku antar saja, takut kamu kenapa-napa di jalan.” Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju motorku, diikuti oleh Naomi.

“Memang itu yang aku tunggu, hehe.”

“Dasar. Ngarep banget kamu, haha.”

Setelah kami sampai motorku. Aku pun mulai memacu motorku menuju rumah Naomi.

****

Setelah aku mengantarkan Naomi pulang ke rumahnya, kini aku sudah berada di kamar kosku. Aku merebahkan tubuhku diatas kasur, mencoba untuk bernafas sejenak. Lalu kulihat jam dinding yang terpasang di tembok.

Gila!! Jam dua pagi?! Berarti tadi aku mengobrol dengan Naomi itu lama banget, belum lagi mengantarnya pulang yang jaraknya lumayan jauh. Aku sampai nggak sadar kalau sekarang sudah jam dua pagi, perasaan baru jam 10 deh. Tapi untungnya, aku hari ini kebagian kerja shift siang, jadi ada waktu untuk tidur deh.

Setelah bersih-bersih sebentar, aku pun mencoba untuk tidur. Belum sampai lima detik aku memejamkan mata, suara dering ponselku berbunyi. Aduhhh… Siapa sih yang telepon? Ganggu orang mau tidur aja. Aku mengambil ponselku yang ada di meja kecil, kemudian aku menjawab panggilan itu.

“Hallo.”

“Hallo sayang.” Oke, ternyata Desy yang telepon.

“Kenapa sayang? Kok belum tidur?”

“Aku nggak bisa tidur. Masih kangen sama kamu.”

“Kan tadi udah ketemu, masa masih kangen aja?”

“Aku pinginnya kamu nginep di kosan aku aja, biar kangen aku hilang.”

Aku menghela nafas. Ada-ada saja pacarku yang satu ini. Dia malah minta aku menginap di kosannya. Sejujurnya aku mau saja sih menginap disana, kapan lagi kan bisa tidur satu kamar dengan cewek? Hahaha. Oke, bercanda.

Aku menolak tawaran Desy untuk menginap di kosannya karena aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang nantinya akan merugikan kami berdua. Ya, kalian bisa tahu sendiri lah.

“Ah kamu masih aja minta aku nginep di kosan kamu. Nanti kalau aku khilaf gimana?” kataku sambil rebahan kembali di kasur.

“Ishhh… Dasar genit..”

“Hehehe. Udah sekarang kamu tidur gih. Nggak baik kalau kelamaan begadang.”

“Nyanyiin aku satu lagu biar aku bisa tidur, hehe.”

“Duhh, jangan ah, aku nggak bisa nyanyi.”

“Boong kamu mah. Buktinya waktu kita di taman itu, kamu lagi nyanyi sambil nungguin aku.”

Aku mengingat-ingat soal kejadian itu. Dan ternyata, aku ingat.

“Oh iya ya, hehe. Tapi kan suara aku nggak bagus, Des.”

“Nggak apa-apa kok, yang penting kamu nyanyi biar aku bisa cepet tidur.”

“Yasudah, aku nyanyi deh.”

Aku pun menyanyikan sebuah lagu kesukaan kami yang berjudul Lengser Wengi. Eh salah, maaf. Lagu kesukaan kami berjudul Kau Adalah milik penyanyi cantik Indonesia bernama Isyana Sarasvati. Aku terus menyanyikan lagu itu supaya Desy bisa tertidur, ya, walaupun suaraku nggak bagus.

Desy yang mendengarnya dari seberang sana, tidak terlalu banyak bicara. Dia hanya hanya berbicara sepatah dua kata kalau lagunya enak didengar.

“Lagunya enak didengar, yang.”

“Kau adalah yang terindah, yang membuat hatiku tenang. Mencintai kamu takkan pernah ragu, sebab kau terima saja kurangku.”

Lagu ini memang cocok sekali dengan hubungan kami. Karena diliriknya mengandung makna bahwa mencintai pasangan dengan apa adanya, serta saling menerima kekurangan yang dimiliki setiap pasangan. Itu yang aku tangkap dari lagu ini. Biasanya aku suka menyanyikan lagu ini kalau sedang kangen Desy, begitupun sebaliknya.

“Des, nyanyinya udah ya, capek,” kataku sambil memijat tenggorokanku yang mulai serak.

Tidak ada jawaban. Apa mungkin dia sudah tidur ya? Kucoba panggil dia lagi.

“Des.. Desy sayang..”

Tetap tidak ada jawaban, padahal sambungan telponnya masih nyambung. Oke, dia sudah tidur. Akhirnya, dia tidur juga. Kalau masih belum tidur juga, bisa-bisa aku yang tidak tidur. Kumatikan ponselku dan kusimpan diatas meja. Kemudian, aku pun mencoba untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi.

****

Dering ponselku kembali berdering, membangunkanku dari alam mimpi. Padahal tadi aku sedang mimpi kalau aku sedang melaksanakan pernikahan dengan Desy disebuah gereja. Lalu saat hendak mencium keningnya, tiba-tiba semua menjadi buyar karena suara dering ponsel. Ponsel sialan! Ganggu aja, padahal lagi seru-serunya. Lagian siapa lagi sih yang menelpon? Ga tahu apa kalau ini masih pagi?

“Halloo,” ucapku seraya mengangkat panggilan ponselku.

“Aryo!!! Kamu dimana?!! Nggak kerja? Sekarang jadwal kamu kerja loh!” Aku menjauhkan ponselku dari kupingku karena suara dari orang itu terlalu keras, sampai sakit kupingku.

“Aduhh Teh, ini masih pagi, saya kan nanti siang kerjanya.” Oke, yang menelpon adalah bossku, Melody.

“Pagi gundulmu! Ini udah siang, sekarang udah jam 1. Kamu udah telat banget loh.”

Sudah siang? Perasaan masih pagi deh. Kulihat jam di dinding. Sial, jam 1 siang. Ternyata aku tidurnya kebablasan. Ini mungkin efek aku menolak ajakan Desy menginap di kosannya. Kalau seandainya aku menginap disana, Desy bisa membangunkanku. Tapi ini, aku dibangunkan oleh boss ku sendiri. Melody bisa terlihat galak sekali kalau ada pegawainya yang datang terlambat, makanya aku langsung panik ketika tahu kalau aku sudah terlambat.

“Oke, saya berangkat, Teh.”

~To be continued~

 

Created by Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

Iklan

4 tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy Part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s