Annihilation part 7

Cover

Nampak dari kejauhan, sebuah Istana megah dengan ornamen berwarna putih dimana-mana, di sekeliling Istana itu hanya ada awan putih yang terbentang luas,
saking luasnya, mungkin awan itu tidak berujung. Benar-benar kerajaan impian, didukung pula oleh suasana yang damai dan menenangkan.

Istana tadi adalah istana yang berada di Surga, tempat Para Malaikat bernaung dan beraktivitas, di dalam Istana itu terdapat empat Malaikat yang tengah berkumpul di ruangan yang besar, di sisi kanan kiri ruangan terdapat berbagai lukisan-lukisan Malaikat dan ornamen-ornamen bunga warna-warni yang indah.

“Ada apa kau memanggil kami kesini, Gabriel ?” tanya salah satu Malaikat yang bernama Padris

Sosok yang bernama Padris ini memiliki wajah tampan, putih bersih, mempunyai mata biru dan rambut coklat yang panjang sampai punggung. Tubuhnya tinggi dan besar, ia memakai jubah yang berwarna putih dengan motif keemasan. Benar-benar sesosok Malaikat yang sempurna

“Ada kabar yang ingin kusampaikan tentang para Iblis itu” kata Gabriel sambil memasang wajah serius

“Apa yang ingin kau sampaikan tentang mereka ?” Michael ikut bertanya

“Ada pertempuran antara kedua klan Iblis hari ini” Para Malaikat melihat satu sama lainnya seakan bingung terhadap peperangan Klan Iblis yang terjadi

“Benarkah, Gabriel ?” tanya Rafael menaikkan satu alisnya

“Tentu saja. Tempo hari, aku baru saja berkeliling untuk melihat aktivitas para Iblis, dan aku mendengar salah satu percakapan dari mereka yang mengatakan bahwa hari ini akan ada perang besar diantara kedua Klan Vanguard dan Lucyfer” jelas Gabriel panjang lebar, yang lainnya mendengar dengan seksama

“Hmm.. aku tidak menyangka mereka akan berperang secepat ini” gumam Rafael sambil tampak berpikir

“Mungkin antara Aidan atau Vanguard berniat menyelesaikan pertikaian mereka dengan segara, oleh karena itu, mereka berperang” balas Gabriel

“Masuk akal juga pemikiranmu” Chris menanggapi pendapat Gabriel

“Lalu, apa tujuanmu memanggil kami kesini ? apakah hanya itu saja pengumumanmu ?”
Rafael menyilangkan kedua tangan di depan dada

“Ada lagi”

“Apa itu ? cepatlah katakan.. aku harus melanjutkan melatih para pasukan dalam memanah dan ilmu Roost” Rafael seakan geram dengan Gabriel yang memanggilnya disaat waktu latihan. Ia tidak suka bila ia ada yang mengganggu saat dirinya melatih

“Aku akan menugaskan beberapa dari kalian, untuk mengawasi perang Iblis itu” kata Gabriel memberitahu

“Maksudmu, kita harus ke Bumi dan menonton Perang mereka ?” tanya Michael memotong

“Ya, begitulah. Bagaimanapun, mengetahui kekuatan Para Iblis itu sangat penting bagi kita nantinya saat berperang melawan mereka” jelas Gabriel

Setelah berpikir dan mencerna dalam-dalam maksud perkataan Gabriel, Michael, Padris dan Rafael menyadari bahwa perkataan Gabriel ada benarnya juga, mengetahui kekuatan musuh merupakan bekal penting dalam perang mereka nantinya.

“Setelah kupikir, ada benarnya juga perkataanmu itu, Gabriel” gumam Michael

“Bukankah begitu, Padris ?” Michael menengok kesampingnya

“Ya” jawab Padris singkat

“Lantas, siapa yang kau tugaskan untuk melihat keadaan peperangan disana ?” Rafael berharap dirinya tidak terpilih, ia lebih ingin menikmati hari-hari dengan santai dan mendidik Malaikat lainnya daripada menjadi mata-mata mengawasi musuh

“Yang jelas, kau bisa bernafas lega Rafael. Karena aku tidak akan memilihmu” Gabriel seakan tahu apa yang baru saja dipikirkan Rafael

“Baguslah kalau kau mengetahuinya” Gabriel hanya tersenyum menanggapinya

“Kau, Padris !” Padris menunjuk dirinya sendiri seakan tidak percaya akan dipilih

“Aku ?”

“Ya, kau, siapa lagi Malaikat yang bernama Padris disini”

“B..b..baiklah” sebenarnya Padris kurang berminat dalam mematai-matai kekuatan
musuh, ia lebih senang jika harus beradu Roost atau pedang daripada ilmu mata-mata

“Apakah kau keberatan ? aku bisa menggantikanmu dengan Malaikat lainnya yang bersedia”

“Tidak, Gabriel. Aku akan menjalankan tugas darimu” jawab Padris

“Terimakasih Padris”

“Bagaimana denganku ?” tanya Chris

“Kau, untuk saat ini tidak. Latihlah dulu Roost Anginmu itu, agar perang nanti, kau bisa diandalkan ” Chris terlihat sedikit kesal atas perkataan Gabriel itu

“Dasar kau ini, tapi baguslah, aku juga tidak ingin ke Bumi. Lebih baik disini” jawab Chris

“Hanya aku sendirian ?” Padris terlihat bingung, karena baik kedua Malaikat di sampingnya, yaitu Rafael dan Chris tidak dipilih Gabriel

“Tunggu, aku berniat menugaskanmu dengan satu Malaikat wanita”

“Heeei.. dimana para Malaikat wanita ?” lanjut Gabriel bertanya

“Shania sedang berlatih pedang, Violeta ada latihan Panah, Yuvia.. emmh”

“Ia sedang bermain di tepi danau dengan beberapa Malaikat wanita lainnya, aku tadi baru saja melihat mereka ” belum selesai Rafael berbicara, Chris memotongnya

“Termasuk Shani ?” Gabriel mengarahkan pandangannya kearah Chris

“Mhh.. sepertinya tidak, Gabriel.. kalau tidak salah, aku melihat Shani di kamarnya tadi” Gabriel hanya mengangguk

“Kau panggillah dia Chris, bilang kalau aku memanggilnya”

“Baiklah, Gabriel” Chris lalu melaksanakan perintahnya lalu naik ke lantai atas Istana

Gabriel memanglah pemimpin dari Para Malaikat, tetapi malaikat lainnya tetap memanggil namanya, tidak seperti kaum Iblis yang menyebut Raja/Pemimpin mereka dengan “Yang Mulia”.Itu dikarenakan Gabriel bukanlah seorang Raja, ia hanya ditugaskan Tuhan untuk memimpin Para Malaikat, karena Raja Surga atau pemimpin sesungguhnya hanyalah Tuhan semata, yang jarang menampakkan diri-Nya.

Tak berapa kemudian, datanglah Chris bersama sesosok Malaikat wanita.Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergerai, senyum lembut selalu menghiasi parasnya yang cantik dan anggun. Gerak-geriknya selalu sopan dan tertata, benar-benar mencerminkan Malaikat Wanita yang penuh kasih sayang. Tapi, siapa sangka dibalik wajah cantik anggunnya, ia juga bisa mengayunkan pedang. Ia juga cukup ahli dalam ilmu Roost dan panah.

“Ada apa kau memanggilku kemari, Gabriel ?” tanyanya lembut, matanya melihat kearah Rafael dan Padris yang ada juga disana

“Apakah kau keberatan jika aku menugaskanmu untuk ke Bumi ?”

“Bumi ? Untuk apa ?” Shani sedikit bingung

“Tenanglah, kau tidak sendirian. Ada Padris yang akan menemanimu” Shani melihat
kearah Padris, Padris membalas dengan senyuman

“Ada suatu perang besar hari ini di Bumi antara kedua Klan Iblis, aku menugaskanmu dan Padris hanya untuk mengamati dan mempelajari kekuatan-kekuatan mereka. Itu saja” lanjut Gabriel menjelaskan

“Bagaimana ?” Gabriel menyilangkan kedua tangannya di depan dada

“Hm.. baiklah. Aku akan kesana” akhirnya Shani menyetujui misi dari Gabriel

“Terimakasih, Shani. Aku sangat menghargai bantuanmu. Kerajaan Surga berhutang budi padamu”

“Kau terlalu berlebihan Gabriel” ucap Shani sambil diiringi tawa manis

“Nampaknya Padris akan merasa senang dengan tugas ini, apalagi jika Shani yang menemani” Chris sedikit menggoda Padris

“Berjuanglah, kawan” Rafael ikut-ikutan
sambil menepuk pundak Padris berkali-kali

“Apalah kalian ini, tidak ada lucunya lelucon kalian” Padris balas dengan wajah datar tanpa ekspresi

“Heei.. Rafael, mungkin setelah pulang dari Bumi, Padris dan Shani akan menjadi sepasang kekasih” Chris tidak henti-hentinya menggoda mereka berdua

“Ya.. yaa, aku mengerti kalau kalian memang sudah memiliki kekasih” Rafael dan Chris terus tertawa satu sama lain

Rafael, ia memang merupakan Malaikat yang mudah dalam menaklukkan wanita,
ia sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan Malaikat wanita, Shania dan Yuvia merupakan dua Malaikat yang sekarang menjadi mantannya. Kekasihnya yang sekarang bernama Electra. Sesosok Malaikat yang cantik dan bermata indah.

Sementara Chris, sebenarnya ia merupakan tipe yang acuh tak acuh terhadap masalah asmara, tetapi karena satu dan lain hal, ia menerima permintaan Malaikat Wanita yang bernama Sierra untuk menjadi kekasihnya. Sierra merupakan Malaikat Wanita yang mempunyai rambut berwarna ungu, mempunyai sorot mata yang lembut dan senyum yang manis.

Shani hanya bisa tersenyum malu, ia memalingkan wajahnya karena takut keempat Malaikat Pria lainnya melihat pipinya berubah merah.

“Heeei.. heeii sudah.. sudah” Gabriel hanya tersenyum sambil menggeleng

“Aku izin untuk pergi, Gabriel” setelah Gabriel mengangguk, Rafael berlalu pergi untuk melanjutkan latihan yang dipimpinnya

“Aku juga, Gabriel” Chris tak lama mengikuti Rafael dari belakang

Tinggal tersisa tiga Malaikat di ruangan besar itu

“Kalian.. Padris, Shani. Kuharap kalian berhati-hati, tidak perlu mendekat
dalam mengamati mereka, cukup dari tempat yang jauh dan aman. Jangan sampai ada Iblis yang melihat kalian”

“Baik, Gabriel. Aku tahu akan hal itu”
gumam Padris

Shani hanya mengangguk saja

“Kau Padris, karena kau Pria, aku harap kau bisa menjaga Shani dengan baik.
Kau harus memimpinnya dan berada di depan dan…”

“Baik-baik, Gabriel, kau ini terlalu banyak bicara” Padris mulai mengeluh

“Ini demi kebaikan kalian berdua”

“Aku tahu itu” jawab Padris

“Sudah, itu saja yang ingin kusampaikan, kalian pergilah.Kembalilah esok hari” Padris dan Shani kemudian mengangguk dan berjalan keluar Istana Begitu sudah berada di luar pintu Istana, baik Shani dan Padris membuka kedua sayapnya untuk terbang, bersiap untuk segera pergi ke Bumi.

“Kau takut akan misi ini, Shani ?” tanya Padris sesaat sebelum mereka terbang

“Tadinya begitu, tapi.. karena ada kau yang menemani, aku tidak takut lagi”
Shani tersenyum manis, Padris agak sedikit salah tingkah dibuatnya

“Terimakasih, aku akan melindungimu” Shani balas mengangguk, lalu kemudian
kedua Malaikat tersebut terbang sambil mengepakkan kedua sayap mereka

~oOo~

“Duel berikutnya, Ilmu Roost. Peraturannya sederhana, aku mau tidak ada satupun senjata seperti panah dan pedang dalam pertarungan ini. Pertarungan boleh dilakukan di udara menggunakan sayap. Cara menentukan pemenangnya sama seperti Ilmu Pedang tadi, yaitu bila lawan terjatuh ke tanah dalam waktu sekitar 10 detik atau lebih, ia dinyatakam kalah. Atau diperbolehkan juga untuk berduel sampai
salah satu ada yang mati” jelas Pangeran Vanguard panjang lebar

“Kau gila, Vanguard. Aku tidak setuju jika harus bertarung sampai mati” Pangeran Aidan berusaha menolak

“Heei.. heei Aidan, aku yang mengatur duel ini, kau sebaiknya tidak perlu membantah akan hal ini”

“T..t..tapi”

“Cukup !!! Jika kau sampai berani membantah aturan yang kubuat, dengan berat hati, aku langsung menyerang kalian dengan puluhan ribu pasukanku di belakang” Vanguard tersulut emosi, ia hampir saja ingin mengeluarkan pedang dari sarung di pinggangnya.

Aidan terpaksa mengalah jika ancamannya sudah seperti itu, bukannya ia tidak optimis dalam memenangkan perang, tetapi Aidan tidak mau jika ada banyak Iblis yang mati karena pembantaian yang terjadi, pihaknya jelas kalah jumlah dari pihak Vanguard

“Oke.. oke, aku menurut aturanmu, aku akan tetap sabar, hingga pada waktu yang tepat untuk memisahkan leher dari kepalamu” Vanguard hanya tertawa menanggapinya

“Berhenti berdebat, ayo kita mulai saja”

~

Kedua Raja dari masing-masing Klan berjalan kembali menuju Iblis bawahan mereka yang akan diutus untuk berduel selanjutnya

“Aku mengharapkanmu, Kelvin! Berjuanglah” ucap Pangeran Aidan di depan Ve dan Kelvin sendiri

“Baik, Yang Mulia. Hamba berjanji akan bertarung semaksimal mungkin” Kelvin lalu berlutut memberi hormat

Kelvin baru saja bersiap maju ke tengah medan duel, sebelum ada sesuatu yang menahannya

“Jangan terbunuh, berjuanglah. Kau pasti bisa” Ve memegang lengan Kelvin, matanya
menatap dalam mata Iblis pria di depannya

“Terimakasih, Ve” Kelvin membalas dengan senyuman kecil, setelah itu pegangan tangan Ve terlepas, dan Kelvin kembali berjalan ke tengah-tengah medan duel

“Wildann, giliranmu” Vanguard berbisik kecil di telinga Iblisnya

“Baik, Yang Mulia”

“Buat Iblis Lucyfer itu kalah, bahkan, aku izinkan kau membunuhnya” Vanguard memang terkenal akan kekejamannya, ia berhati dingin dan tidak peduli akan membunuh dan dibunuh, sangat berbeda dengan Kakaknya, Aidan. Meskipun Iblis identik dengan kekejaman dan menyeramkan, Aidan tidak terlalu mencerminkan sifat Iblis, ia lebih punya cinta kasih dan mengampuni nyawa siapa saja yang sudah menyerah.

“Akan kuusahakan Yang Mulia” jawab Wildann patuh

“Bagus” Vanguard tersenyum dingin, ia sudah membayangkan jika apa yang ia harapkan benar-benar terjadi.

Kedua Iblis dari masing-masing Klan sudah berhadapan, mereka bersiap untuk beradu dalam ilmu Roost

“Kelvin… aku sudah sering mendengar tentangmu, aku sudah sangat menunggu akan duel ini” gumam Wildann tersenyum, matanya menatap tajam mata lawan di depannya

“Terimakasih, akupun juga sama Wildann, aku sangat tidak sabar dengan duel ini.
Kuharap yang terbaiklah yang menang”

“Roost Apimu pasti akan kalah dengan Roostku” ucap Wildann beromong besar

“Buktikan saja, Wildann”

“Mari bertanding” lanjut Kelvin sambil membungkuk menghormat lawannya

“Mari bertanding” Wildann melakukan hal yang sama

*To Be Continued*

Created by : @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s