Iridescent Part 20

zz

Perjalanan dari Jogja kembali ke Jakarta memang tak lama, tapi cukup menguras tenaga. Apalagi kondisi gue sebenarnya masih belum terlalu fit. Saat ini gue sudah sampai di Jakarta, duduk di sebuah Cafe yang terletak di dalam bandara, gue sedang menunggu jemputan. Sebelumnya gue sudah di beri kabar oleh Mama untuk menunggu lebih dulu, karena bakal ada seseorang yang akan menjemput gue.

Entah siapa orang itu, yang jelas gue percaya sama dia. Semoga aja dia gak akan ke siapapun tentang keberadaan gue nantinya. Apalagi gue sangat khawatir kalau Shani sampai mengetahuinya, dia bisa-bisa marah besar. Itu hal yang harus gue hindari.

Sudah hampir 20 menit lebih gue menunggu disini, tapi orang yang akan menjemput aja gue nggak tau dia siapa dan tak kunjung datang.

 

“Sumpah, ini orang yang kata Mama bakal jemput gue malah gak datang-datang sihh…” gumam gue sambil melihat jam tangan.

 

Tiba-tiba….

 

“Hei” ada yang menepuk pundak gue, dan saat menoleh ke belakang ternyata ada seseorang yang ada di belakang gue.

Apa dia yang menjemput gue?

 

“Kak Melody?!!” ucap gue kaget.

“Sorry ya lama… jalanan macet banget nih” ujar Kak Melody.

“I iya, gapapa Kak. Tapi apa Kakak orang yang jemput aku?” tanya gue heran.

Kak Melody lalu mengangguk…

 

“Aku udah di ceritain semuanya sama Mama kamu dan Tante Indira tadi, waktu kami semua sampai Jakarta. Mereka udah jelasin masalah kamu itu dan minta ke aku, untuk jaga kamu selama dua hari sebelum hari-H” jawab Kak Melody.

“Tenang, aku bakal jaga rahasia ini…. aku tau, kamu Cuma nggak mau orang-orang yang kamu sayangi di sakiti sama Verro” tambahnya.

Gue lalu tersenyum kepada Kak Melody, dan dia membalasnya. “Thank’s Kak Melo”.

“Sama-sama. Emm kita jalan sekarang yuk” Dia mengulurkan tangannya ke gue.

“Iya Kak” balas gue mendekatkan tangan. Dia lalu langsung menariknya.

 

Kami berdua pun, berjalan menuju area parkir bandara. Kak Melody… kenapa disaat seperti ini dia mau menolong gue. Apa yang membuatnya bersedia, gue yakin ada yang tak dia sampaikan ke gue. Pasti rahasia antara Kak Melody dengan Mama dan Mama Indira.

“Kak…. aku boleh tanya sesuatu?” gue berjalan lebih cepat agar sejajar dengan Kak Melody.

“Apa” Kak Melody menatap gue.

“Kenapa Kak Melody mau bantu aku. Apa alasannya?”

“Balas budi kamu bantu aku sama Frieska. Kalau alasannya, aku nggak bisa kasih tau” jawabnya.

“Aku sayang kamu udah seperti adik kandung sendiri. Gak perlu alasan kan untuk membantu sesama” tambah Kak Melody.

“Apa Cuma itu aja” Gue masih kurang yakin dengan alasan dia.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya pernah ada suatu saat dimana aku mau ada di posisi kaya Shani atau Veranda” ucapnya.

 

 

DEG …

 

Apa dia serius dengan ucapannya barusan? Itu berarti secara tak langsung dia mau memiliki hubungan lebih dengan gue. Ya ampun, kenapa Kak Melody baru mengakui nya sekarang sih.

“Aku sayang kamu lebih dari hubungan kakak-beradik, tapi karena itu nggak mungkin terjadi. Lebih baik aku pendam aja” mata Kak Melody terlihat berkaca-kaca.

“Kak…. aku.. minta maaf” entah kenapa gue bisa merasakan kesedihannya. Dia menitikkan air matanya.

“Udah deh kok jadi bahas kaya gini sihh…” ujar Kak Melody menghapus air matanya yang mengalir.

 

Gue dan Kak Melody sudah sampai di dekat mobil miliknya. Dia sibuk mencari sesuatu di tas yang di bawanya, mungkin kunci mobil. Sesekali gue mendengar dia sesenggukan, gue lalu mendekati Kak Melody dan langsung memeluk tubuhnya dari belakang. Seketika Kak Melody berhenti bergerak.

Agak kesulitan sih, karna dia jauh lebih pendek dari gue. Oke, gue nggak tega ngatain dia langsung, bisa-bisa gue di tampar sama Kak Melody.

 

“Aku sayang kamu… Kak Melody” bisik gue.

“Wil…. jangan mulai deh kamu ini, aku masih nggak yakin kalau nanti kita pacaran.” ucap Kak Melody.

“Kan aku Cuma bilang sayang sama kamu. Bukan berarti kita harus pacaran kan….” ujar gue mempererat pelukan ini.

“Oh gitu ya, maaf. Aku kepedean dong” balas Kak Melody sambil terkekeh.

“Kak Melody tau kan kita mau kemana setelah ini. Atau jangan-jangan kamu nggak tau tujuan kita ya, Kak” gue mulai mencairkan suasana dengan sedikit candaan garing. Setidaknya tak terus menerus membuatnya sedih.

“Apaan sih. Aku tau kok tujuan kita kemana….. kamu bakal tinggal di kosan punya keluarga Ricky kan” ucap Kak Melody.

“Yaudah yuk Kak, buruan ambil kunci mobil. Capek tau berdiri terus” ujar gue.

“Lepas dulu pelukan kamu…. yang” balasnya.

“Eh?”

Apa nggak salah dengar gue, dia panggil gue “yang”.

 

Gue hanya bisa terdiam dan belum melepas pelukan di tubuh Kak Melody, entah panggilan itu ngena banget. Kak Melody tersenyum memandang wajah gue, tangan gue terasa disentuh, pelukan ini malah makin erat.

“Kamu kalo peluk cewek lain juga kaya gini atau Cuma aku aja?” tanya Kak Melody mengagetkan gue.

“Eh, Kak… peluk gimana sih maksudnya?” balas gue yang bingung sendiri.

“Lihat tangan kamu” ucapnya tersenyum.

Gue langsung melihat dimana tangan gue mendarat saat memeluk tubuh Kak Melody. Astaga, pantesan aja kok agak ada empuk-empuk sedikit. Tangan gue ternyata memegang bagian bukit miliknya, kurang ajar nih tangan gue.

“Maaf Kak Melody….” gue langsung melepaskan pelukan.

“Gapapa….” balasnya menahan tawa, dia lalu mencari kunci mobilnya lagi di dalam tas. Kemudian setelah ketemu dia membuka kuncinya dan masuk ke dalam mobil.

“Aduh gue kok malah jadi grogi sendiri nih, gak enak gue udah memegang daerah itu tadi” batin gue.

“Heh, ayo buruan masuk ke mobil!” teriaknya.

“I iya Kak, koper ku di taruh tengah aja ya…” ucap gue.

“Iya…..” balas Kak Melody.

 

Gue pun langsung membuka pintu mobilnya dan memasukan koper gue di tengah. Setelah itu gue menuju ke Kak Melody, kami saling menatap.

 

“Kenapa nggak masuk?” tanya Kak Melody.

“Biar aku aja yang pegang kemudi, Kak.” Balas gue.

“Hmm, yaudah deh” Dia lalu merangkak pindah ke sebelah kursi pengemudi dan duduk. Gue pun mengambil alih kemudinya.

“Kita berangkat sekarang” ucap gue, Kak Melody sedikit menggeser duduknya dan merebahkan kepalanya di bahu gue.

“Ayo… katanya mau jalan sekarang, sayang!?” ucapnya.

“Huhhh, iya iya…. grogi tau dipanggil gitu, Kak” ujar gue.

“Biarin, salah sendiri peluk aku tapi malah sampai pegang dada” balas Kak Melody.

“Njir, padahal gak terlalu besar…. eh kok gue ingat terus sih sama hal itu” batin gue heran sendiri.

“Bercanda kali Dek….” ucap sambil terkekeh.

 

Gue lalu melajukan mobil meninggalkan area parkir bandara, kami akan menempuh perjalanan ke kediaman Ricky. Untung banyak teman-teman yang membantu gue, itu sangat berharga sekali. Semoga keputusan gue pindah ke Jepang itu tepat, dan semoga Verro penuhi semua janjinya untuk tak menyakiti orang-orang yang gue sayang.

Kak Melody sekarang hanya bersenandung mengikuti lagu yang gue play.

 

 

~o0o~

 

Mobil yang kami berdua kendarai sudah sampai di kediaman Ricky, gue sudah mengirim chat Line ke dia agar segera keluar rumah. Kak Melody tertidur dibahu gue, kasian dia pasti lelah sekali. Gue memberanikan diri mengusap pipinya, dan gue juga masih kepikiran soal dia ingin berada diposisi seperti Shani atau Ve. Tapi gue yakin, dia hanya mengungkapkan isi hatinya dan apa yang dia katakan itu bagian dari masa lalunya.

Gue mulai memandangi wajahnya Kak Melody, dia orangnya manis, dewasa, dan masih banyak lagi keistimewaan nya. Tiba-tiba dia bangun….

“Eh maaf Kak, gara-gara aku jadi kebangun deh” ucap gue.

“Gapapa…. Oh ya, aku mau kasih tau sesuatu ke kamu, Wil. Tapi jangan marah ya…” gue balas dengan anggukan.

“Kamu tau kenapa aku berani bilang kalau aku mau ada di posisi seperti Shani atau Ve?” ucapnya.

“Enggak tau….” gue sama sekali tak tau apa yang Kak Melody maksud.

Kak Melody lalu mengambil tas miliknya dan mengambil sesuatu dari dalamnya.

“Ini, kamu lihat baik-baik. Aku nggak bermaksud jelek atau lainnya, tapi aku Cuma mau kamu tau dan suatu saat kalau kamu lihat langsung” ucapnya.

 

Dia memberikan beberapa lembar foto, gue melihat foto-foto itu dengan seksama. Apa ini sungguhan? Inikan Shani dan cowok yang waktu itu ada di Jogja juga, didalam foto yang gue pegang ini memperlihatkan Shani dan cowok itu berpelukan dan juga…. ciuman.

Sepertinya Shani dan cowok itu bakal pacaran suatu saat, entah kenapa rasanya sakit sekali. Sakit yang tidak mengeluarkan darah.

 

“Tadi waktu kami semua sampai di Jakarta, Shani di panggil seseorang dan ternyata yang panggil dia itu temennya namanya Dani” ucap Kak Melody.

Gue nggak bisa menahan rasa marah, jengkel, sedih, semua jadi satu perasaan itu. Kak Melody mengusap punggung  gue. Sekali lagi, gue menangis karna seorang cewek. Dulu, gue juga pernah menangisi Lidya, Frieska, dan Shania. Dan sekarang Shani…..

“Sabar ya…. aku yakin nantinya kamu bakal bahagia, walau nantinya tanpa Shani” ucap Kak Melody menenangkan gue.

 

Tok tok…. ada suara ketukan di kaca mobil Kak Melody, ternyata Ricky dan Kinal di luar mobil.

“Wil… lo kenapa nangis?” Kinal mengusap-usang kepala gue.

“Dia tadi udah aku beritahu soal Shani tadi….” ucap Kak Melody.

“Oke, mending kita antar dia ke kamar aja. Udah gue siapin kok” ujar Ricky.

“Yuk Dek, masuk dulu….” Kak Melody menggoyang-goyangkan bahu gue.

“Iya….” jawab gue mengangguk saja.

“Kopernya biar gue bawain aja deh, Kinal sama Kak Melody langsung antar masuk dia aja” ucap Ricky.

Gue lalu keluar dari mobil, Kak Melody dan Kinal mengantar gue ke dalam….

 

…..

 

Sesampainya di dalam, gue Cuma tiduran aja di kasur. Kak Melody, Kinal dan Ricky menemani gue di salah satu kamar kosan dirumah ini. Mereka sedang mengobrol, gue tak terlalu ingin mendengar apa yang mereka bicarakan itu.

 

“Kapan lo mau berangkat ke Jepang Wil?” tanya Kinal.

“Secepatnya, gue disini Cuma tunggu paspor, visa, dan ambil beberapa keperluan lain. Mungkin lusa gue udah berangkat” jawab gue.

“Gue, Faruk, Kelik dan yang lain akan bantu selesaiin masalah ini…. gue janji Wil, dia pasti bakal masuk penjara.” ujar Ricky.

“Kami juga bakal jaga Shani, Ve dan Gaby” timpal Kak Melody.

“Makasih udah mau bantu gue sampai detik ini, dan gue sangat menghargai itu semua. Soal ancaman Verro itu, gue akan penuhi kali ini….” balas gue.

“Tapi lo bakal cepat balik ke sini kan?” Kinal menatap gue serius.

“Kita setuju sama pertanyaan Kinal itu…. Kakak berharap kamu cepat kembali ke Indonesia nanti” ucap Kak Melody.

“Gue nggak tau pasti, kapan bisa pulang…. yang jelas gue mau menjalani apa yang ada sekarang” jawab gue.

Lalu suasana menjadi sunyi, kami sama sekali tak mengobrol apapun lagi.

“Bisa tinggalin gue sendiri…..” ucap gue.

“Baik kalau gitu, aku pamit pulang dulu Dek” balas Kak Melody.

“Gunakan waktu ini buat istirahat , Wil…” ujar Kinal.

“Oke” balas gue tersenyum.

“Kalau butuh apapun bilang aja ke gue, lo tau kan kamar gue…” tambah Ricky.

“Iya…”

 

pintu kamar kos dan kembali rebahan di kasur. Hari ini sama sekali tak beraktivitas berat, tapi gue merasakan lelah sekali. Karna saking lelahnya, gue memutuskan untuk tidur saja.

 

 

~o0o~

 

Drrrtt drrtttt drrrtt

 

“Ya ampun, ini suara ganggu banget sih!!!” gumam gue.

“Siapa sih yang ganggu….”

 

Suara handphone berdering keras mengganggu tidur aja, tangan gue meraih ke sekitar mencari letak handphone yang mengganggu sekali. Mata gue masih belum bisa terbuka dan kesadaran belum kembali seutuhnya.

Lalu gue melihat ke arah jam dinding, ternyata waktu udah menunjukkan jam 7 lebih.

Akhirnya karena terpaksa gara-gara suara itu, gue mau gak mau harus bangun. Handphone gue ternyata jatuh di lantai, tangan gue langsung meraih benda itu. Saat melihat ke layar, tertera nama “Shani Indira”, dia menelepon gue. Kemudian gue mengangkatnya saja, walaupun sebenarnya malas. Itu karena foto yang di berikan Kak Melody semalam, gue masih teringat dengan hal tersebut.

 

“Halo” ucap gue, setelah mengangkat panggilan itu.

“Hai sayang, apa kabar. Udah sarapan belum?” tanya Shani di seberang sana.

“Baik kok kabarku. Ini belum sarapan, baru aja bangun sih” jawab gue.

“Kabar kamu gimana?” gue balik menanyakan kabar dia.

“Aku baik juga, sama kaya kamu… hihihi” balasnya terdengar tertawa.

“Kangen kamu” ucap Shani.

“Hahaha, baru pisah kemarin aja udah kangen. Gimana kalau di tinggal lama” celetuk gue.

“Gak boleh bilang kaya gitu!!” Shani berteriak, sehingga gue harus menjauhkan handphone dari telinga gue.

“Iya deh, maaf. Oh ya, gimana kabar cowok kamu itu?” tanya gue sedikit menyindir.

“Cowok…. pacar… siapa sih sayang? Aku beneran nggak tau apa yang kamu bilang barusan deh” ucap Shani.

“Itu tuh yang namanya Dani, kemarin kamu ketemu dia kan waktu sampai di bandara” Setelah itu tak terdengar suara dari Shani, dan tiba-tiba saja dia menutup sambungan telepon kami.

 

Mungkin dia kaget setelah mendengar ucapan gue yang menyebut nama Dani itu. Berarti gue sudah bisa memastikan kalau Shani benar soal berciuman dengan laki-laki bernama Dani, rasa marah tentang hal itu kembali di benak gue.

“Maaf Shan….”

“Semoga dia bisa bahagia saat gue tinggal ke Jepang Nanti”

Gue pun segera bangkit dan bersiap untuk mandi dan keluar kosan untuk mencari udara segar. Sekalian mengawasi keadaan sekitar, barangkali ada sesuatu yang bisa gue pantau.

 

……

 

Gue udah selesai mandi dan sekarang siap untuk ke dunia luar, berkeliling entah kemana. Hari ini gue sengaja menggunakan pakaian serba hitam, bahkan gue memakai hoodie agar bisa menyamar dari orang-orang yang mengenali gue.

Setelah siap gue pun keluar dari kamar kosan, disini terlihat agak ramai. Wow, banyak cewek ternyata yang tinggal disini. Dengan cuek, gue berjalan melewati orang-orang yang tinggal di kosan ini juga. Saat gue berjalan dan menatap lurus ke depan, ada Ricky dan seorang cewek yang gue kenal sedang berbicara.

 

“Hei, Wil” Ricky melambaikan tangan ke gue.

“Hei” gue membalasnya dengan senyuman.

Gue menghampiri mereka terlebih dahulu, sekedar menyapa dan mengobrol sedikit untuk berbaur dengan lingkungan baru gue.

“Pasti lo kenal sama titan yang satu ini” ujar Ricky.

“Eh, Okta…. lama nggak ketemu” gue mengulurkan tangan ke orang yang tak asing di depan gue ini.

“Hei, iya nih lama nggak ketemu kita Wil” ucapnya dengan muka lucunya, kami berdua lalu berjabat tangan.

Dia lah Okta, anak kelas 11 IPA 2… kelas tetangga dan salah satu teman sekelas saat MOS dulu.

 

“Eh, kamu tinggal disini juga ternyata….” ucap gue mengusap puncak kepalanya.

“Ishhh, apaan sih… kebiasaan deh, pasti aku di anggap anak kecil terus. Nggak di sekolah, di kosan juga” Okta memasang muka sebal dan menggembungkan pipinya.

“Disini Cuma sendirian atau tinggal sama anak-anak SMA 48?” tanya gue.

“Aku disini sama ci Desy tinggalnya, dan kamar kami Cuma sebelahan doang sih” jawab Okta.

“Oh gitu… Btw Okta agak isi ya sekarang badannya” ucap gue melihat Okta dari bawah ke atas.

“Jangan di salkusin, Wil!!! Gue juga tau kalau dia akhir-akhir ini bodynya makin wah” bisik Ricky.

“Hus, udahlah. Kok malah bahas itu sih” balas gue.

“Iya nih, Wil. Akhir-akhir ini lagi hobi makan” Okta ketawa sambil memegang perutnya.

“Oh ya Wil, btw lo mau kemana?” tanya Ricky.

“Keluar sebentar, sekalian jalan-jalan sama cari makan” jawab gue.

“Sekalian sama Okta aja Wil, dia juga mau cari makan katanya” celetuk Ricky.

“Emang Okta mau makan yaa?” Gue menatap Okta, dia membalas dengan anggukan saja.

“Dia bisa buat penyamaran kalo lagi diluar sana Wil” bisik Ricky.

“Iya benar, tau aja lo…” bisik gue juga.

“Yaudah yuk, Okta. Kita berangkat bareng aja” ajak gue.

“Oke deh, tapi kamu yang traktir aku kan?” Okta menatap gue sambil menaik-turunkan alisnya.

“Hmm, iya deh iya…” balas gue.

“Nih pake aja motor gue dulu Wil, biar gak keluar ongkos banyak. Kan sebentar lagi lo bakal pergi…”

“Ssttttt diam aja, nyet” sembur gue ke Ricky.

“Oh iya, sorry gue lupa” Ricky malah cengengesan tak jelas.

“Malah pada gak jelas gini kalian” ujar Okta.

 

Gue lalu menerima kunci motornya Ricky, kemudian gue dan Okta berjalan ke depan kosan. Kemudian gue naik ke motor dan memakai helm, Okta juga memakai helm dan naik ke motor.

“Dah siap kan?” gue lalu menyalakan mesin motor.

“Siap.” balas Okta semangat. Kemudian gue melajukan motor meninggalkan kosan.

 

Selama perjalanan gue dan Okta Cuma saling bercanda satu sama lain, ternyata dia lebih lucu dari yang gue kenal. Maklum aja, gue dan dia jarang berkomunikasi di sekolah. Dan ini baru pertama kalinya kami berdua seakrab ini.

Sudah lebih dari satu jam perjalanan kami tempuh, akhirnya gue dan Okta sampai di sebuah Mall yang tak mau disebutkan namanya. Setelah memarkirkan motor, kami berdua berjalan mengelilingi Mall terlebih dulu. Kata Okta, dia ingin mencari sesuatu yang penting dan itu urusan cewek katanya.

Gue sebagai cowok hanya nurut dan mengikuti Okta saja. Kami berdua sampai di sebuah tempat…. apa!!!! Ya ampun, ini Okta yakin ngajak gue masuk ke tempat beginian. Harga diri gue hilang nih…. Gue terdiam mematung di depan salah satu toko.

 

“Ayo, temenin aku masuk ke dalam” ucap Okta menghampiri gue.

“Serius nih ngajak aku ke tempat beginian?” gue menatap Okta dengan muka melas.

“Serius lahhh” balasnya.

“Udah lah, yuk masuk aja!” Okta menarik paksa gue.

 

Dengan terpaksa gue menemani Okta masuk ke dalam toko ini, di dalam banyak sekali aneka warna. Ya, inilah toko yang membuat cowok selalu malas menemani cewek. Toko yang menjual barang khusus cewek, inilah toko bra.

Sumpah, gue malu sekali masuk menemani Okta disini. Beberapa mbak yang jaga juga terlihat menertawai gue, daritadi gue Cuma mengekor di belakang Okta yang sibuk memilih barang yang dia mau beli. Mungkin karena banyak warna dan model, jadi dia bingung milihnya.

 

“Hei, yang ini bagus nggak warna nya?”

Gue menoleh kearah Okta, gue kaget banget waktu dia nempelin barang yang dia bawa didepan muka gue.

“Asssstagaa, kaget gue” gue kaget setengah berteriak, gara-gara Okta.

“Gimana Wil, bagus nggak model sama warna yang ini” tanya nya.

“Emm, gimana ya Ta… aku juga bingung kalau suruh pilihin, lagian kamu kan lebih tau tentang gituan” jawab gue bingung.

“Yaudah deh, menurut kamu mana yang paling bagus? Cowok kan pasti juga punya selera ke ceweknya, pokoknya yang menurut cowok wah lah” Okta terus mendesak gue untuk memilihkan salah satu model.

“Oke, kali ini gue harus pakai insting aja deh” batin gue.

 

Untung gue sering tak sengaja lihat punya Shani atau Ve yang kadang tembus dan terlihat oleh mata gue. *Njir

“Yaudah deh, yang warna merah ini aja” ucap gue menunjuk salah satu barang yang Okta bawa.

“Bagus juga pilihanmu, aku bayar dulu ya…”

“Iya, Ta”

 

Okta pun berjalan menuju ke kasir, gue Cuma menunggunya di tempat gue berdiri. Samar-samar gue mendengar sesuatu, entah suara apaan itu. Yang jelas suaranya sangat lirih sekali, terdengar seperti panggilan. Ada seseorang yang melambaikan tangan ke arah gue, tapi entah dia mau memanggil siapa, mungkin pacarnya atau mbak yang jaga toko ini.

Gue Cuma cuek aja, karna nggak tau siapa yang mau dia panggil….

 

“Woy, lo…. yang pake hoodie hitam” ucap orang itu terdengar agak keras.

Gue yang bingung Cuma menoleh ke samping dan ke belakang. Tak ada orang lain selain gue yang berdiri di sini…. lalu gue berbalik kembali menoleh ke orang tadi. Dia menunjuk ke arah gue.

 

“Gue?” ucap gue menunjuk diri.

“Iya…..” balasnya.

“Sini aja” panggil gue.

Orang itu lalu berjalan dengan terburu-buru dan saat sampai di depan gue, dia terengah-engah sambil duduk lesehan di lantai. Ini orang aneh banget deh. Kemudian dia kembali bangkit dan menjabat tangan gue.

 

“Kenalin, nama gue Martinus Aryo…. panggil aja Aryo” ucapnya memperkenalkan diri.

“Nama gue Willy Debiean, panggil aja Willy…..” ucap gue.

“Sorry, gue mau tanya nih sama lo. Tapi jangan ketawa ya….” Aryo tampak serius sekali dari tatapannya.

“Oke, silakan aja kalau mau tanya. Gue nggak akan ketawa, tapi gak janji ya” Gue lalu bersiap mendengar apa yang akan dia tanyakan ke gue.

“Lo tau nggak, ini bra model apaan dan ada yang warna hitam putih nggak?” tanya Aryo ke gue. Dia memperlihatkan Handphone miliknya yang terlihat sebuah foto sebuah benda milik cewek.

“Ya kagak tau lah bang, gue bukan pakar tentang bra cewek.” Jawab gue dengan senyum yang sangat-sangat gue paksakan.

“Waduh…” Aryo wajahnya sangat panik dan bingung sendiri.

“Loh Bang Aryo… kok bisa ada di sini sih?”

 

Gue dan Aryo langsung menoleh ke asal suara tersebut, ternyata ada Okta yang sudah selesai dengan transaksi barang yang dia beli. Mereka berdua saling kenal???? Karena nggak tau apapun, gue Cuma diam saja dan menatap mereka berdua.

Lalu gue menyenggol bahu Okta, dia sadar dari lamunannya. Aryo kemudian juga ikutan sadar….

 

“Kalian berdua saling kenal?” tanya gue penasaran.

“Dia ini Bang Aryo. Orang yang baru PDKT sama Ci Desy” jawab Okta.

“Ouu, jadi begitu yah…” gumam gue.

“Oh ya Okta, tolong dong. Kamu bisa cariin yang model gini nggak?” pinta Aryo ke Okta, gue Cuma bengong menatap mereka.

“Bisa-bisa…..” jawab Okta.

 

 

~o0o~

 

Gue, Okta dan Aryo sekarang duduk bertiga di salah satu Cafe yang tak mau disebutkan namanya. Kami makan bersama sambil saling mengobrol untuk kenal lebih jauh lagi. Kocaknya Aryo menceritakan kenapa dia terpaksa membeli salah satu barang milik Desy yang dia hilangkan.

Gue dan Okta yang mendengar cerita itu ngakak dan tak bisa menahan nya lagi. Habis dia sendiri juga aneh, bisa-bisa nya hilangin kutang punya Desy.

 

“Bang Aryo aneh banget sih, gimana bisa hilangin bra Ci Desy” Okta lalu tertawa lagi.

“Ya begitulah…. sulit di ceritakan” balas Aryo menggaruk kepalanya.

“Lain kali hati-hati bang…. gue tadi juga bingung Okta suruh pilihin” ucap gue ngakak.

“Anjir…. ada-ada aja lu” balas Aryo ikut ngakak.

“Habisnya sih, cowok kan suka mandangin punya cewek. Itu kenapa aku minta Willy pilihin bra” ujar Okta.

“Anjay….” gue dan Aryo teriak dan lanjut ngakak bareng.

“Udah yuk, makan udah habis, bayar juga udah. Mending sekarang pulang deh….” Okta lalu bangkit lebih dulu, kemudian dia senyum ke arah gue.

“Iya, aku masih ingat kok” balas gue mengerti akan maksud tatapan Okta itu. Dia jelas menagih janji kalau gue yang traktir dia makan.

“Gue bareng kalian ya… sekalian ketemu Desy” ujar Aryo.

“Oke deh….”

Kami pun menuju kasir dan gue membayar pesanan gue dan Okta saja… sedangkan Aryo membayar sendiri, bangkrut ntar kalo gue bayar semuanya.

 

Gue, Okta dan Aryo lalu berjalan keluar dari Mall. Tak sengaja mata gue melihat keberadaan orang yang sangat gue kenal, dia adalah Shani dan satu orang temannya yang bernama Dani. Gue lalu fokus ke tangan Shani yang bergandengan dengan laki-laki itu.

Perasaan sakit dan itu kembali lagi, gue ingat dengan foto-foto yang di berikan oleh Kak Melody. Gue lalu menoleh ke Okta dan Aryo, kalau Okta pasti tau siapa Shani itu…

 

“Aku ikut dia dulu ya, Ta. Kamu pulang ke kosan?” tanya gue.

“Gapapa, kejar Shani aja Wil” balas Okta.

“Thank’s… gue duluan” ucap gue berjalan meninggalkan Okta dan Aryo.

Kemudian gue diam-diam mengikuti kemana Shani dan Dhani pergi. Gue agak memberi jarak agar tak ketahuan oleh Shani, apa yang mereka lakukan. Apa mereka jalan-jalan untuk berduaan ya….?

 

Tiba-tiba Handphone gue bergetar, gue dengan cepat merogoh kantong celana dan mengambilnya. Ada nama “Veranda” tertera di layar, gue dengan sengaja me-rejectnya. Dan sekali lagi ada panggilan masuk dan masih Ve yang menghubungi.

“Ah sial, ganggu aja sih kamu…” batin gue. Akhirnya gue mengangkat panggilan dari Ve.

“Kamu kok di sini?!” seseorang menarik tangan kiri gue.

Ah habis lah, gue ketangkap basah sama orang ini. Dia adalah Ve, gue sudah kehilangan jejak Shani dan ini gue ada di depan Jessica Veranda.

 

 

DEG

 

Gue menoleh ke belakang, kemudian dia menatap gue dan wajahnya sangat serius. Lalu dia langsung menggandeng tangan gue dengan paksa, gue hanya mengikuti langkahnya entah kemana. Pasti dia mau marah-marah tentang ini….

Kami berdua berada di parkiran Mall yang tak mau disebutkan namanya ini, Ve melepaskan genggaman tangannya. Kemudian dia berbalik dan menatap gue, kali ini air mata mengalir di pipinya. Gue nggak tau kenapa dan apa alasan dia menangis.

 

“Kamu bohong ya sama kita semua, ternyata kamu susul aku dan teman-teman pulang ke Jakarta! Sebenarnya kamu apa mah kamu, apa yang kamu rencanakan?!!! Jawab aku” Ve melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu sambil memukul dada gue.

“Kamu nggak perlu tau, ini bukan hak kamu Ve” jawab gue hanya pasrah dia pukuli.

“Kenapa… tolong jelasin semua sama aku Wil, aku memang bukan siapa-siapa kamu lagi. Tapi aku juga tetap berhak tau, itu karna aku masih sayang sama kamu!!!” teriak Ve.

“Sssttt udah jangan teriak-teriak gitu…. orang-orang pada ngelihatin kita tuh, udah ya jangan nangis lagi. Aku bakal cerita tapi nggak disini” gue memeluk erat Ve, apa yang dia bilang mungkin benar.

 

Ve mulai berhenti menangis, dia membenamkan wajahnya di dada gue. Tangan gue terasa agak perih, kayaknya ada yang luka nih. Mungkin saat Ve menarik tangan gue tadi.

 

“Kamu kesini naik apa tadi?” bisik gue.

“Naik Taksi tadi, waktu mau ketemuan sama teman-teman lama malah lihat kamu. Yaudah akhirnya aku kejar kamu aja tadi” balasnya sesekali sesenggukan.

“Dah ah, jangan nangis terus. Bedak kamu luntur tuh” ujar gue sambil mengusap air matanya Ve.

“Iya… iya” balas Ve tersenyum, walau sesekali dia masih tetap sesenggukan.

 

Akhirnya gue mengajak Ve untuk pulang ke kosan Ricky naik motor. Selama perjalanan, Ve lebih banyak diam, dia tak banyak berbicara tak seperti biasanya. Ve hanya memeluk gue dengan erat dan gue lihat dari spion, dia sangat lelah mungkin.

Setelah menempuh perjalanan, gue dan Ve sampai di depan kosan. Gue sama sekali tak mendengar suara Ve, apa dia masih marah. Hari juga sudah mulai sore, di dalam terdengar riuh-riuh para penghuni kos.

 

“Ve” panggil gue.

“Masih marah ya soal tadi? Nanti aku cerita deh kalau begitu….” ucap gue lagi.

Masih tak ada jawaban dari orang yang gue ajak bicara. Lalu gue menoleh ke Ve yang kepalanya menempel di bahu gue.

“Pantas aja….” gue Cuma tersenyum dan merasa bodoh sendiri.

Orang yang gue ajak bicara ternyata udah molor dari tadi. Berasa aneh dan tolol aja gue, yaudah.

 

Gue pun melepaskan helm yang gue pakai dan Ve sekalian. Dengan berhati-hati gue mengangkat tubuh Ve, ternyata dia tambah berat deh perasaan. Saat gue melewati jalan dimana kamar para penghuni kosan, ada rame-rame di dekat dapur sana. Entah ada acara apaan…

Saat sampai di kamar yang gue tempati, gue bingung bagaimana cara membuka pintu kamar. Ah, bingung banget gue mikirin caranya.

 

“Hei” gue lalu melihat ke orang yang memanggil gue.

“Eh, ternyata elo Rik” ucap gue.

“Kak Ve kok bisa ada sama elo?” tanya Ricky.

“Panjang kalau di ceritain, yang jelas gue ketangkap basah waktu sama Ve waktu diam-diam ikuti Shani sama Dani” jelas gue ke Ricky.

“Sini gue bantu buka” ucapnya.

“Thanks” balas gue.

Setelah pintu terbuka, gue masuk dan merebahkan Ve di kasur. Sepatunya gue lepaskan juga, setelah itu gue berjalan ke depan kamar, dimana Ricky menunggu.

“Eh Rik, itu di dekat dapur?” tanya gue memandang kearah keramaian penghuni kos yang lain.

“Oh, ada yang ulang tahun. Jadi ya di kerjain gitu orangnya.” jawab Ricky. Gue mengangguk saja.

“Btw Wil, gue dapat Info dari Kelik kalau Gaby udah siuman di Jogja….” kata Ricky memberitahu berita baik kepada gue.

“Serius? Wah, syukur deh kalau Gaby udah siuman. Beban pikiran gue agak berkurang, setidaknya gue gak membebani di saat susah kaya gini” ucap gue lega.

“Tapi gue mau kasih tau berita satu lagi, tapi gue mohon lo jangan langsung emosi…” Ricky menepuk bahu gue lalu menghela nafas.

“Shani hari inikan jalan sama anak yang namanya Dani itu kan, seperti yang lo lihat tadi?” ucap Ricky.

“Ya, begitu lah.” balas gue.

“Sorry sebelumnya, tadi waktu lo sama Okta pergi itu…. gue minta tolong ke Shanji sama Anin buat jagain elo. Tapi saat Shanji sama Anin kehilangan jejak lo, dia malah ikutin Shani dan Dani. Terus menurut laporan Shanji selama memantau Shani, kalau tunagan lo itu udah resmi pacaran sama Dani…”

 

Gue kaget mendengar berita itu, apa yang Shani lakukan…. apa dia mulai gila?! Sumpah, gue nggak bisa berpikir dengan jernih mendengar itu. Gue lalu menatap Ricky, dia hanya mengatakan gue untuk bersabar.

 

“Sabar Wil, gue bakal cari tau apa yang terjadi sebenarnya sama Shani…” ujar Ricky.

“Iya, maaf gue bikin repot elo” ucap gue.

“Dah, yang tabah. Gue yakin ada sesuatu yang gak beres dengan Shani” Ricky selalu berusaha membuat gue tegar disaat seperti ini.

 

Kemudian gue hanya membalasnya dengan senyuman yang sangat gue paksakan, lalu gue memilih masuk ke dalam kamar saja.

 

 

To Be Continued…..

 

 

Created By : Wilco (Line : mojo92)

 

 

Iklan

13 tanggapan untuk “Iridescent Part 20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s