“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 11

“Shan! Eh, tunggu dulu! Shania! Arghhh.” Viny langsung mengejar Shania yang berjalan menuju meja Robby.

Beby yang mendengar suara tersebut pun, langsung tersontak kaget. Shania melihat ini, dan pasti akan gagal semuanya apabila Shania pulang. Tetapi kalau dia berjalan ke sini bagaimana?

Robby juga terdiam, ketika mendengar nama yang diteriakan oleh seseorang tersebut.

“Robby.”

Robby terdiam, ia mengenali suara ini. Suara yang ia rindukan dan suara yang selalu ia dengarkan dulu. Robby melepaskan tangan Shani, dan bangkit dari duduknya berbalik ke belakang.

“S-Shania?”

Robby membelalakkan matanya, jantungnya berdegup kencang. Ia terdiam menatap Shania, ia tidak percaya bahwa Shania berada di depannya sekarang. Sedangkan Beby menatap mereka berdua, kemudian ia menatap Viny yang berada di samping Shania meminta penjelasan kepadanya. Viny menatap cemas pada mereka berdua, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Sedangkan Shani, ia menatap Shania meneliti dari atas sampai bawah.

“Jadi ini yang namanya Shania yang diceritain Robby itu ya?” ucap Shani dalam hati.

“K-kam-,”

“Apa kabar?” tanya Shania yang memotong ucapan Robby sambil tersenyum tipis.

Robby menghela nafasnya, kemudian ia berjalan mendekati Shania. Setelah berhadapan dengan Shania, Robby tersenyum tipis menatap Shania. Dengan perasaan rindu yang amat besar, Robby pun merengkuh tubuh Shania untuk dipeluknya. Pecahlah sudah tangis Shania, pelukan ini yang ia rindukan. Dan begitu sama halnya dengan Shania, Robby pun menitikkan air matanya perlahan tetapi ia segera menghapusnya.

Shania memeluk erat Robby, begitu pula sebaliknya. Seolah-olah mereka tidak ingin kehilangan kembali untuk yang kedua kalinya.

“A-aku baik-baik aja, selama kamu baik-baik aja Shan,” lirih Robby.

Shania tidak menghiraukan ucapan Robby, yang ia pentingkan untuknya sekarang adalah meminta penjelasan bagaimana hubungan dia dengan perempuan yang berada disampingnya itu.

“Aku kangen,” bisik Shania.

Shania menghirup dalam-dalam aroma tubuh Robby, ia sangat sangat rindu dengan laki-lakinya yang satu ini. Dan ia semakin memperdalam pelukannya ke dalam tubuh Robby.

“Aku juga Shania.” Robby mengusap pelan dan lembut kepala Shania.

“Ehem.” Beby berdeham setelah berdiam diri menonton Robby dan Shania yang melepas rindu. “Disini masih ada orang ya, jadi mohon untuk tidak mengumbar-ngumbar kemesraan disini.”

“Dan disini juga tempat umum, jadi kalau mau lepas kangen mending jangan disini,” tambah Beby.

Shania melepaskan pelukannya, lalu menatap sebal pada Beby.

“Apa sih Beb?” ucap Shania kesal.

“Udah deh, jangan pada mulai ribut. Malu diliatin orang.” Viny berjalan menuju Beby untuk duduk disampingnya.

Shania memanyunkan bibirnya dan menatap kesal pada Beby, Robby yang melihat itu terkekeh geli. Karena sudah lama ia tidak melihat Shania seperti ini, dan tentunya sedekat ini..

“Kapan kamu pulang?” tanya Robby.

Shania menatap Robby, kemudian ia menaruh telunjuknya di dagu, “Hm. Kapan ya? Dua minggu yang lalu kayaknya deh. Lupa.”

“Kok gak bilang sama aku? Sama mereka aja gitu ya?”

“Bukan gitu ih, aku itu udah berusaha buat ketemu sama kamu tau. Kamunya aja yang gak ada, jalan mulu sih sama cewek lain,” sindir Shania.

“Ngg, nanti aja deh ributnya. Mending dengerin cerita dari masing-masing dulu deh. Pasti kalian berdua pengen cerita apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Beby.

“Kamu ke sini naik apa?” tanya Robby pada Shania.

“Tadi sih dijemput sama Viny, kenapa?”

“Yaudah, pulangnya sama aku aja.” Robby menarik tangan Shania keluar cafe. “Duluan ya.”

“Hati-hati,” ucap Beby dan Viny.

Sedangkan Shani memandang Robby yang terlihat senang sekali ketika melihat Shania yang bersamanya tadi, ada perasaan tidak suka ketika Robby mengacuhkannya dan lebih memilih bersama Shania. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

“Aku duluan ya, Mamah udah jemput di depan.” Viny mengangguk menanggapi ucapan Beby, kemudian Beby pun keluar dari café tersebut meninggalkan Viny dan Shani.

“Shan.” Viny menepuk pundak Shani pelan.

“Ngg?” Shani menoleh pada Viny.

“Diem mulu dari tadi,” tegur Viny.

“Enggak kok, lagi pengen diem aja,” ucap Shani.

Viny menghela nafasnya, “Maafin aku Shan, aku beneran gak tau kalau Shania balik lagi. Dan seminggu yang lalu aku baru tau kalau dia balik lagi ke sini. Maafin aku gak ngasih tau kamu.”

“Udahlah Vin, gakpapa kok. Kalau gini jadinya aku bersaing kan ya sama dia?” Shani tersenyum tipis.

“Tapi..”

“Tapi apa?” tanya Shani yang menatap Viny.

“Kamu yakin?”

Shani mengganguk, “Ya. Aku yakin.”

“Tapi kan dia pacarnya Shani.”

“Aku tau, tapi kalau masih pacaran bisa aja kan putus? Dan aku bisa aja mendapatkan kesempatan untuk menggantinya.”

Viny menghela nafasnya kasar, ia tidak tau apa yang ada dipikiran Shani. Bagaimana cara pola pikirnya, kalau begitu berarti ia sama saja dengan PHO dong? Perusak hubungan orang..

Kini Robby dan Shania tengah di perjalanan pulang menuju tempat tinggal Shania yang baru. Di perjalanan mereka membicarakan banyak hal, dari yang gak penting sampai yang gak terlalu penting… *lha

Dan setelah cukup lama di perjalanan untuk menuju tempat tinggal Shania yang baru, kini mereka telah sampai di depan rumahnya. Shania memandang Robby sedari tadi, banyak yang berubah dari Robby. Laki-laki yang ia cintai ini sekarang tidak ingin merepotkan orang lain, dan ingin sendirian menghadapi semua masalahnya.

“Shan?” Robby melambai-lambaikan tangannya.

“Hm?”

“Ini udah sampai dari tadi, malah ngelamun,” ucap Robby.

“Rob, kamu masih sayang kan sama aku?” tanya Shania yang tidak menghiraukan ucapan Robby.

Dahi Robby mengernyit heran, ia menatap Shania. “Maksud kamu?”

“Ya, aku mau tau Robby. Setelah kita lama gak ketemu, apa kamu masih sayang sama aku atau enggak.” Shania menyandarkan tubuhnya di jok mobil Robby.

“Dan tadi aku liat ada cewek yang deket sama kamu ya? Apa dia pacar kamu?” tambah Shania.

Robby menghela nafasnya, “Shan dengerin ya, aku itu masih sayang sama kamu. Dan soal cewek yang tadi, dia bukan pacar aku. Pacar aku itu kamu, bukan yang lain. Emang dia keliatannya kayak gimana gitu sama aku, ya itu karena dia…”

“Dia kenapa?” tanya Shania yang menatap Robby.

“Dia..suka sama aku,” lirih Robby.

Shania tersenyum tipis mendengarkan penuturan Robby.

“Kalau emang aku pacar kamu, aku boleh minta satu permintaan gak?” tanya Shania.

“Permintaan?” tanya Robby.

“Ya, permintaan. Harus kamu kabulin,” ucap Shania

“Yaudah, emangnya apa?”

“Jauhi cewek itu.”

~

Keesokkan harinya, siang hari lebih tepatnya. Kini Robby tengah berada di apartementnya, sedang bersiap-siap. Ia akan pergi bersama Shania, hari ini mungkin akan menjadi hari yang menyenangkan atau mungkin akan menjadi hari melelahkan untuknya. Karena hari ini ia dan Shania akan menceritakan semuanya apa yang terjadi, mendengar cerita dari masing-masing.

Cklek.

Ada yang membuka pintu apartement Robby, Robby yang sedang berada di dapur mengambil minum pun menengok.

Dahi Robby mengernyit heran, “Shani?”

Shani berjalan masuk setelah menutup pintu dan melepas sepatu sneakersnya, ia mencari-cari dimana Robby berada. Dan ia pun berjalan ke dapur.

“Robby?” panggil Shani yang berjalan masuk ke dapur.

“Ada apa?” tanya Robby yang menaruh gelas bekas minumnya di wastafel.

Shani tersenyum senang ketika melihat Robby yang ada di depannya, kemudian ia memeluk Robby dari belakang. Menghirup aroma tubuh Robby dalam-dalam.

“Wangi banget, mau kemana?” tanya Shani.

Robby menghela nafasnya, ia teringat janjinya dengan Shania tadi malam. Janjinya yang akan menjauhi Shani, karena ya Shania itu cemburuan..

“Robby ih.”

“Mau jemput Yupi,” ucap Robby.

Robby melepaskan tangan Shani yang berada di perutnya, kemudian ia membalikkan tubuhnya.

“Kamu ngapain ke sini?” tanya Robby.

“Aku bosen di rumah, jadi ya aku ke sini aja. Gak boleh ya?” Shani memanyunkan bibirnya.

Robby menggeleng-gelengkan kepalanya pelan menatap Shani, kemudian ia mengelus puncak kepala Shani lembut, “Boleh kok, kata siapa gak boleh?”

“Ya, kamunya nanya gitu sih. Kan kirain aku gak boleh.”

“Kan aku nanya aja, gak ngelarang kok,” ucap Robby.

Shani menarik Robby menuju ruang tengah dan duduk di sofa. Ia menatap Robby dalam, sementara Robby ia yang ditatap Shani seperti itu ada rasa bersalah dalam dirinya. Ia akan menjauhi Shani demi Shania, tetapi apakah ia bisa?

“Robby,” panggil Shani lembut.

“Ya?”

“Aku sayang kamu,” lirih Shani.

Robby semakin merasa bersalah, Shani mempunyai perasaan padanya. Dan mungkin ia juga mempunyai perasaan yang sama dengan Shani, tetapi Shania telah kembali. Ia harus bagaimana sekarang?

Robby menarik Shani untuk dipeluknya, ia mengelus kepala Shani dengan lembut dan pelan.

“Kita bisa kayak gini terus kan Rob?” tanya Shani yang berada di pelukan Robby.

Robby tidak menjawab pertanyaan Shani, ia tidak tau apakah masih bisa begini dengan Shani atau tidak. Yang jelas ia telah berjanji dengan Shania akan menjauhinya..

Shani yang tidak mendapat jawaban pun mendongak melihat Robby, kemudian ia pun melepaskan pelukannya. Shani menatap dalam mata Robby, kemudian ia memajukan wajahnya perlahan sambil menutup mata. Seolah tau apa yang akan dilakukan Shani, tubuh Robby menegang. Ia terdiam, dan sampai lah ketika bibir Shani menyatu dengan bibirnya.

Mereka berdua terdiam, tidak ada pergerakan sama sekali dari keduanya. Kemudian Shani melepaskan ciumannya pada Robby, dan membuka matanya.

“Kamu berangkat jam berapa?” tanya Shani.

“Ngg, m-mungkin sebentar lagi,” jawab Robby terbata.

Shani mengangguk, “Kalau gitu anter aku dulu bisa?”

“Mau kemana?”

“Ke rumah Viny.”

“Yaudah, tunggu disini. Aku mau ngambil kunci mobil dulu di kamar.”

Robby pun berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil, sedangkan Shani menchat Viny memberitahu bahwa ia akan menuju ke rumahnya. Dan tak berapa lama Robby pun keluar kamarnya.

“Udah nih. Yuk berangkat,” ucap Robby.

Shani mengangguk, ia memasukkan handphonenya ke dalam tas. Dan berjalan bersama Robby keluar apartementnya, menuju parkiran apartement. Kemudian mereka pun menuju rumah Viny..

Sesampainya di rumah Viny, mereka berdua terdiam. Shani juga tidak ingin keluar dari mobil Robby, seolah-olah ada yang menariknya untuk tidak keluar dari mobil Robby. Shani menghela nafasnya, dan ia memandang wajah Robby.

“Rob?”

Robby menoleh, “Ya?”

“Aku masuk ya? Kamu hati-hati jalannya,” ucap Shani.

Shani baru saja memegang pintu mobil, dirasakannya ada tangan yang menahan satu tangannya.

Shani pun menoleh, “Kenapa?”

Robby tidak menjawab, ia malah memajukan wajahnya dan mencium kening Shani dengan lembut. Cukup lama mereka terdiam, Robby pun melepaskan ciumannya dan menatap Shani dengan lembut.

“Aku sayang kamu juga.” Robby tersenyum manis pada Shani. “Aku jalan dulu ya.”

Shani mengangguk, ia tidak tau harus kenapa ia tidak bisa mengucapkan sesuatu. Ia pun keluar dari mobil Robby, dan Robby pun melajukan mobilnya. Setelah mobil Robby tidak terlihat lagi, Shani pun masuk ke dalam rumah Viny..

~

Kini Robby tengah berada di depan sekolah Yupi, ia menunggu Yupi yang sedari tadi belum keluar juga. Ia menyandarkan tubuhnya di jok mobil, ia memikirkan apa yang ia lakukan tadi pada Shani. Apa yang ia lakukan tadi adalah tindakan yang bodoh, bisa-bisanya ia berkata begitu. Padahal ia sudah berjanji pada Shania, jadi bagaimana sekarang?

Kaca mobil diketuk pelan, Robby pun menoleh dan membukakan pintu mobil yang disampingnya.

“Udah lama kak?” tanya Yupi.

“Hm, lumayan,” jawab Robby.

“Yaudah, ayo pulang. Eh tapi cari makan dulu ya kak? Aku laper,” ucap Yupi.

“Mau makan dimana?” tanya Robby.

“Ngg, jalan aja dulu deh kak. Nanti gampang kalau itu.”

Robby mengangguk, kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya. Selama perjalanan Robby terlihat melamun, ia memikirkan apa yang barusan ia lakukan terhadap Shani. Selalu saja terputar di otaknya.

“Kak?”

Yupi menoleh pada Robby, ia menghela nafasnya. Selalu saja kakaknya yang satu ini melamun, mungkin sudah hobinya melamun..

“Kakak!”

“Apa sih Yup? Gak usah teriak-teriak juga,” ucap Robby sebal.

“Kakak dari tadi aku manggil gak nyaut-nyaut, jadi aku teriak aja. Lagian hobi banget sih ngelamun,” cibir Yupi.

“Kalau ada masalah cerita aja kak, jangan dipendam sendiri. Nanti nyeseknya sendiri,” tambah Yupi.

Robby menoleh pada Yupi, adik kecilnya ini sudah tumbuh dewasa rupanya. Ia menghela nafasnya pelan.

“Shania balik lagi Yup.”

“Kak S-Shania?”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

2 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s