Silat Boy : Pertempuran Dimulai Part 39

CnJGPUtWgAEeomp

Sabtu subuh, tepat pukul lima pagi. Para pemberontak sudah
mempersiapkan segalanya. Rusdi, Boim dan para pemberontak berkumpul di
ruang tengah rumah itu.

Mereka sudah berganti pakaian dengan pakaian seragam dan membawa
sebuah ikat kepala. Rusdi mengenakan sebuah jas hitam dan baju kemeja
yang berwarna putih.

Sementara Boim mengenakan pakaian khusus yang terbuat dari karet.
Serta dilengkapi dengan armor yang ia kenakan. Yupi mengenakan pakaian
seperti para pemberontak.

Rusdi membawa sebuah punisher, Boim membawa sebuah shotgun laras
panjang dan sebuah belati yang ia kantongi di kantong yang ada di
sebelah kiri dadanya.

Yupi membawa dua buah TMP. Sementara yang lainnya menggunakan berbagai
macam senjata. Ada yang menggunakan bambu runcing, granat, blacktail,
PRL dan lain-lain.

Ada pula yang menggunakan sniper untuk penembak jitu dari jarak jauh,
hanya orang-orang terpilih lah yang mendapatkan bagian ini. Mereka
telah terpilih saat latihan.

Dan mereka pastinya tidak akan mudah mati karna tidak turun langsung
ke medan pertempuran. Mereka hanya menembak musuh dari tempat
tersembunyi.

“DENGARKAN AKU!!!” teriak Yupi, seketika mereka semua melihat kearah
sumber suara.
“Kita akan bertempur melawan orang luar itu! Suatu kehormatan jika
mati dalam pertempuran.” ucap Yupi.

“JADI JANGAN TAKUT MATI!!!” teriak Yupi.
“Kita semua saudara, tidak ada yang membiarkan saudaranya mati
sekalipun harus mengorbankan nyawa.” sambungnya.

Yupi lalu mengangkat ikat kepalanya, dan para pemberontak pun ikut
mengangkat ikat kepalanya. Rusdi dan Boim tidak diberi ikat kepala,
karna mereka orang luar desa.

“SERAHKAN NYAWA KALIAN!!!” Yupi lalu mengikatkan ikat kepala itu di
kepalanya, diikuti oleh yang lainnya.
“Jangan takut mati!” bisik Yupi pada Rusdi, lalu mulai berjalan
memimpin para pemberontak.

Boim berjalan santai di belakang Yupi. Sementara Rusdi terus
memperhatikan targetnya. Biar bagaimana pun, Reza lah alasan utamanya
pergi sejauh ini. Ia harus membawa pulang Reza hari ini juga.

“Pasukan kita kalah jumlah, tapi kita harus berusaha semaksimal
mungkin untuk menang!” ujar Yupi.
“Pasukan musuh pasti jauh lebih banyak.” Boim hanya menyeringai seraya
menutup matanya sambil terus berjalan.

Setelah sampai di markas musuh, para pemberontak langsung berpencar
mengambil tempat masing-masing untuk menembaki pasukan musuh. Tidak
ada lagi yang harus ditakutkan pada orang luar.

“Jangan takut! Baiklah, ambil posisi masing-masing!” perintah Yupi,
lalu para pemberontak mulai berpencar ke segala penjuru.
“Jadi ini tempatnya, banyak sekali pohon yang ditebang.” Rusdi melihat
sekeliling.

“Jadi orang itu ingin mengambil paksa hutan yang luas ini dari
penduduk pribumi.” tebak Boim.
“Itu benar, sekarang kalian tau siapa yang salah.” balas Yupi.

“Mereka terus menebang pohon! Kalau begini terus mereka pasti akan
menguasai hutan ini. Baiklah, persiapkan diri kalian! Waktunya perang,
jangan takut untuk membunuh! Keluarkan insting alami kalian.” ucap
Yupi, Rusdi dan Boim hanya mengangguk kecil.

“Ini pedalaman, aku tidak takut jika membunuh disini. Tidak ada yang
tau.” Boim menyeringai.
“SERANG!!!” teriak Yupi, lalu para pemberontak mulai menembaki musuh.

Sayangnya, seperti yang telah diberitakan. Addyn pengkhianat, ia
membocorkan rencana penyerangan itu. Musuh sudah bersiap, mereka balas
menembak dengan senjata yang jauh lebih canggih.

Seketika terjadilah pertumpahan darah. Di tengah peperangan itu Rusdi
menarik lengan Boim, lalu bersembunyi di balik sebuah bangunan. Mereka
diam sejenak, berlindung dibalik bangunan itu.

“Aku harus membantu mereka!” Boim hendak pergi, tapi Rusdi menahan lengannya.
“Sudah cukup, kau jangan terjerumus lebih jauh lagi!” Rusdi menatapnya tajam.

“Apa kau lupa tujuan kita sebenarnya? Sudah cukup, lebih baik kita
menunggu disini hingga perang itu usai. Kalau begini terus kita bisa
mati. Ingat, disini pedalaman! Tidak ada yang peduli pada orang mati,
mereka hanya menguburkan saja!” sambungnya panjang lebar.

“Tapi mereka pribumi, kita harus membantunya!” Boim mengibaskan tangan Rusdi.
“Boim, dengarkan aku! Kau…” tiba-tiba ada yang menendang wajah Rusdi.

Rusdi jatuh tersungkur menghantam seng disana. Dan terdengar suara
seng dari jatuhnya itu. Ternyata orang yang menendang Rusdi berbadan
tegap dan mengenakan sebuah topeng.

Boim tidak tinggal diam, ia lalu melawan orang yang telah menendang
Rusdi. Dan terjadilah perkelahian disana. Boim menendang orang itu,
tapi orang itu menahan dan menendang balik.

Boim berkali-kali terkena serangannya, tapi ia masih bertahan. Boim
lalu meninju topeng orang itu dan menendang perutnya. Dengan cepat
Boim mengambil senjatanya, lalu menodongkannya pada orang itu.

Tapi orang itu menendang senjata Boim hingga pelurunya meleset. Dan
orang itu pun mengambil sendiri senjatanya. Mereka saling menodongkan
senjata, Rusdi kemudian berdiri.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s