Zombie…., Part3

Malioboro Jogjakarta, D.I Yogyakarta. 15.00 WIB.

“Sore guys…, Masih dengan Shania disini, ini hari kedua gue di Jogja. Hari ini gue pergi berdua sama Sagha. Gha… Gha… say hay ke kamera dong.” Gadis dengan rambut ponytail itu mengarahkan kamera mirrorless miliknya kepada seseorang di sampingnya.

“Apaan ini?”

Vlog gue Gha, kaya kemaren.”

“Oh hay lagi…, ah iya subscribe channel gua juga ya, lo semua bis…”

“Malah promo, isi channelnya cuma sepedaan keliling kota doang, ga penting.”

“Gitu-gitu juga yang subscribe lumayan Nju.”

“Ya udah ya udah, subscribe channel dia ya, tuh udah di promoin.”

“Inget subscribe, like and share ok.”

“Berisik-berisik Gha. Ngomong-ngomong sekarang kita udah sampai di Malioboro, oiya kemaren kan kita bertiga, cuma sekarang temen gue yang satu lagi yang kemaren itu tuh yang cewek lagi ketempat keluarganya, maklum dia punya sodara di Jogja.” Kamera itu kini diarahkan ke jalanan tempat mereka berada. Di sebelah kanan terlihat andong berbaris rapi.

“Sore ini kita mau kemana aja Gha?” tanya Shania.

“Malioboro, so gue juga mau liat Bringharjo sekarang kaya apa, sama ya jalan-jalan sekitaran sini aja lah sampe malem,” kata Sagha.

“Baterai kamera lu penuh kan?” tanya Shania.

“Aman pokoknya.”

“Ya udah ikutin perjalanan kita berdua ok,” kata Shania kearah kamera miliknya.

Malioboro sore ini terlihat begitu ramai. Matahari bersinar cerah, awan pun tak nampak di langit, hanya langit berwarna biru saja yang nampak. Sepanjang trotoar dipenuhi pedagang-pedagang serta orang-orang yang berbelanja. Entah itu penduduk asli, atau juga turis yang sedang berkunjung kesana.

Begitupun dengan Shania dan Sagha, mereka berdua kini telah mengantri bersama orang-orang demi berfoto dibawah papan nama jalan yang bertuliskan Jl. Malioboro.

“Gue dulu Gha, entar giliran lo.” Sagha mengangguk tanda setuju.

Setelah selesai berfoto disana, mereka berdua kembali berjalan menyusuri trotoar jalan paling terkenal di Kota Jogja itu. Beberapa tukang becak juga menawari mereka berdua untuk pergi keliling-keliling Jogja, tentu dengan tarif yang tidak murah.

“Gha, mau gak? Lumayan sekalian beli bakpia.”

Bukannya menjawab Sagha hanya melihat ke arah televisi yang ada disalah satu toko disana. Televisi itu menampilkan sebuah berita yang cukup menarik baginya.

“Sagha!” Sebuah teriakan mengalihkan fokus Sagha, dan ia tahu siapa pelakunya.

“Eh ada apa ya Shan?”

Shania melongo setelah mendengar ucapan temannya. Ia mendengus, betapa kesalnya karna temannya ini tak mendengarkan ucapannya sedari tadi.

“Mau keliling ga pake becak? Lumayan sekalian beli bakpia.”

“Boleh deh.”

“Ya udah, pak anterin kita ya,” kata Shania kepada tukang becak itu.

“Baik Mba.”

Mereka berdua akhirnya menaiki becak itu. Shania tentu sibuk dengan kameranya, sementara Sagha hanya diam memandangi handphone miliknya. Sungguh jarang terjadi Sagha mendadak jadi sangat serius.

Shania yang menyadari hal itu langsung mematikan kameranya. Ia merasa sudah cukup mengambil gambar saat sedang duduk di atas becak ini. Kamera itu langsung ia masukan kembali kedalam tas miliknya. Sekarang ia hanya mengamati Sagha yang mendadak serius.

“Ada apa sih? Tumbenan jadi serius.”

Pertanyaan Shania berhasil mencuri perhatian Sagha. Ia pun memperlihatkan sebuah berita yang terpampang di handphone miliknya. Berita yang berasal dari situs yang ia temui di sosial media miliknya.

“Lo percaya?”

“Loh Lu ga percaya emangnya?” Shania menggeleng.

“Aneh aja tau, mana ada zombie di dunia ini.”

“Tapi berita disini benar, nih baca, ga cuma di Jakarta tapi di Bandung juga.” Sagha memberikan handphonenya kepada Shania.

Shania membaca berita itu, ia merasa pecaya tidak percaya dengan berita yang telah dibacanya. Baginya tidak mungkin ada zombie di dunia ini. Hal itu hanya ada didalam film-film. Tapi faktanya, telah ada zombie di Jakarta juga Bandung.

“Masih ga percaya?” tanya Sagha.

“Ga! Gue rasa itu cuma rekayasa.”

“Terserah lah.”

Meskipun mulutnya berkata tidak, namun di dalam hati Shania ia merasa takut. Ia berharap berita itu tidak nyata, hanya rekayasa saja. Tapi kemungkinan itu sangatlah kecil, berita yang ia baca adalah berita yang bersumber dari situs yang sangat terkemuka. Tidak mungkin situs itu memberitakan sesuatu yang salah.

Tanpa terasa kini mereka berdua sudah berada di alun-alun Jogja. Suasana siang itu tidak begitu ramai. Sang supir becak pun memberitahu, alun-alun ini akan lebih ramai pada malam hari. Tak hanya menceritakan soal alun-alun saja, supir becak itu bercerita mengenai beberapa jalan yang dilaluinya barusan. Seperti tadi ia sempat mengantarkan mereka melewati sebuah benteng yang menjadi tempat wisata di kota Jogja.

Belum lama meninggalkan kawasan alun-alun, tiba-tiba lalu lintas didepan mereka macet total. Si supir becak juga menawarkan jalan alternatif lain, tentu Sagha dan Shania pun setuju. Mereka tak ingin rencana liburan mereka rusak gara-gara kemacetan. Cukup sudah menikmati macet di ibukota.

Merekapun kembali berputar, melewati Taman Pintar, lalu menerobos ke sebuah jalan yang lebih sempit hingga akhirnya mereka sampai di sebuah toko bakpia.

“Saya tunggu disini ya Mba,” kata supir becak itu.

“Oh iya-iya Pak. Gha, yuk masuk.”

Mereka berdua pun masuk kedalam tempat oleh-oleh bakpia itu. Meskipun namanya toko bakpia tapi di dalamnya tak hanya menjual bakpia, ada juga oleh-oleh yang bernama yangko ataupun geplak. Shania dan Sagha pun mengambil beberapa kotak bakpia untuk oleh-oleh. Berbagai rasa mereka ambil, mulai dari kacang hijau sampai keju coklat. Tak lupa Shania pun menyalakan kameranya demi mengambil moment ini.

Saat sedang asik-asiknya mencicipi bakpia, terlihat dari luar toko beberapa kerumunan orang sedang berlari melewati toko itu. Tak hanya orang-orang, sepeda motor, becak, andong, serta mobil pun beramai-ramai melewati toko itu. Sontak membuat penasaran para pengunjung yang ada di toko.

Karna Shania juga penasaran, ia mengikuti beberapa pengunjung lain melihat ke luar toko. Beberapa diantaranya berteriak-teriak. Rata-rata semuanya meneriaki satu kata yang sama, Zombie.

Keadaan mendadak chaos, semuanya panik. Pengunjung toko itu mulai berhamburan keluar. Sementara Shania kembali masuk ke dalam toko itu untuk mencari Sagha. Akhirnya ia menemukan Sagha sedang melihat ke arah televisi yang ada di toko itu bersama beberapa orang lainnya.

Televisi itu menayangkan sebuah kejadian yang tak beda jauh dengan situasi Jakarta dan Bandung saat ini. Jogja sedang diramaikan oleh zombie zombie yang menyerang. Dari siaran itu terlihat beberapa zombie mulai berdatangan menuju alun-alun Jogja. Terlihat juga beberapa polisi serta tentara mulai berdatangan mengevakuasi warga serta menembaki para zombie.

“Sagha ayo!”

Sagha pun dikagetkan oleh suara Shania. Terlihat kepanikan terpancar dari gadis dengan rambut ponytail itu. Tanpa menunggu jawaban dari Sagha, Shania pun langsung menarik pria itu keluar dari toko dan berlari mengikuti orang lain.

“Shan… Kita lari kemana?” tanya Sagha.

“Mana gue tau, kita ikutin aja orang-orang!”

Mereka berdua terus berlari ke arah utara. Mencoba menjauh dari alun-alun kota yang berada di selatan. Benar-benar liburan yang kacau, sekarang Shania terpaksa percaya dengan berita itu. Tanpa sadar ia pun meneteskan air matanya.

“Shan lu nangis?” Shania langsung mengusap air matanya, ia lalu menggeleng.

Sagha pun tiba-tiba menarik lengan Shania dan membawanya kembali ke Malioboro. Sesampainya di Malioboro, situasi lebih kacau. Kepanikan terjadi disana, orang-orang berteriak, lari terbirit-birit kesana kemari.

Situasi itu malah dimanfaatkan oleh sebagian oknum yang mengambil barang-barang dagangan dan pergi melarikan diri. Terlihat disebuah toko ada yang berebutan mengambil pakaian. Tidak ada petugas keamanan disana, situasi pun tambah kacau.

Sagha dan Shania akhirnya pergi ke sebuah gedung yang berada di Malioboro itu. Mereka pergi ke hotel tempat mereka menginap.

“Kita ambil barang penting kita, terus langsung balik ke Jakarta!” panik Sagha.

Shania yang mengerti langsung pergi ke kamarnya, Sagha pun pergi ke kamarnya yang ada disebelah kamar Shania. Sagha yang selesai duluan lansung pergi ke kamar Shania.

“Cepet Shan!”

“Bentar.”

Shania pun memasukan laptop, charger serta beberapa pakaian kedalam ranselnya. Sementara kopernya ia sengaja tinggalkan. Setelah semuanya selesai, mereka berdua keluar dari hotel itu.

Langit yang berberapa jam lalu nampak cerah sekarang mulai dikhiasi kepulan asap dari berbagai tempat. Paling parah terlihat dari arah alun-alun berada.

“Kita kemana?” tanya Shania.

“Stasiun.”

Bersyukur hotel tempat mereka menginap sangat dekat dengan Stasiun Yogyakarta. Sesampainya disana, sangat sial bagi mereka berdua. Ratusan orang bertumpuk di pintu masuk stasiun itu. Ah mungkin jumlahnya bukan ratusan, bisa sampai ribuan. Seperti lautan manusia, mereka saling dorong dan mencoba masuk kedalam stasiun itu.

Terdengar kabar, katanya ada sebuah kereta yang sedang berhenti disana, dan mereka semua menuju kereta itu untuk melarikan diri dari kota Jogja.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat nyaring dari dalam Stasiun kereta itu. Disusul kepulan asap tebal berwarna hitam dari dalam sana, banyak orang berteriak juga.

“Keretanya terbakar!”

“Cepat lari!”

Di dalam stasiun kini nampak sebuah gerbong kereta yang terguling kesamping. Nampaknya kereta itu terbakar disebabkan oleh kereta lain yang datang dari arah belakang dan menabraknya. Menimbulkan benturan yang sangat kencang hingga rusak dan terbakar.

Beberapa mayat tergeletak samping gerbong kereta itu. Orang-orang juga mulai berhamburan keluar. Sementara Shania dan Sagha pergi menjauh dari Stasiun Yogyakarta.

Mereka berdua terpaksa kembali berlari disepanjang Jl. Pasar Kembang. Bersyukur disana mereka menemukan sebuah kantor polisi. Tapi sialnya disana tak ada satupun polisi yang berjaga.

“Polisinya pada pergi ke Rumah Sakit deket Alun-alun mas,” kata seorang pemuda yang berlari dari lawan arah. “sekarang Jogja udah ga aman mas, lihat tadi di berita-berita? Jangankan Jogja, Surabaya, Jakarta, Bandung juga diserang zombie-zombie.”

Pemuda itu kemudian meninggalkan Shania dan Sagha yang berdiam diri di depan kantor polisi. Shania yang kelelahan langsung duduk di pinggir jalan, ia pun menyandarkan tubuhnya di tembok bangunan.

“Kita harus kemana?” Shania memeluk lututnya erat-erat, wajahnya ia sembunyikan disana, “Aku takut.”

Sagha hanya diam melihat Shania yang ketakutan. Ia juga tak menyangka berita itu beneran nyata.

“Gha…” Shania menarik celana jeans Sagha. “Gue takut Gha…, tolongin gue.”

*to be continued.
Promo…. http://wp.me/P2XVbe-1X6

Hehehe

 

Iklan

18 tanggapan untuk “Zombie…., Part3

  1. Duh senengnya bareng nju ..
    Woles , sagha pernah namatin resident evil 4 semua level , plus special mode .
    Di situ Ashley anaknya president berhasil di selamatkan tanpa cheat dalam waktu 2 bulan.
    “Nju kamu tenang ya , mine darts aku masih banyak kok” sagha mengecup kening shania
    Shaniapun kembali tenang 👊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s