Janjiku Untuk Desy Part 3

Selamat pagi dunia! Kuawali pagi ini dengan kembali dari alam mimpi, alias bangun tidur. Biasanya kalau orang mengawali pagi dengan senyuman, kalau aku mengawali pagi ini dengan bangun tidur. Karena kalau nggak bangun, gimana bisa senyum. Oke, aku mulai nggak jelas. Maafkan ya, hehe.

Badanku terasa kurang enak pagi ini, itu karena semalam aku tidak bisa tidur. Jam 2 pagi baru aku bisa tidur dan bangun jam 5 pagi. Sepertinya aku harus mengatur pola tidurku, agar waktu bangun badanku menjadi segar. Tetapi itu tidak akan terjadi kalau semalam dia tidak datang tiba-tiba ke kosanku dan menyatakan perasaannya padaku. Ya, dia, Rona Anggraeni. Orang yang semalam sukses membuatku tidak bisa tidur dan terus memikirkan perkataannya yang membuatku merasa terancam.

“Sebelum kamu bisa menepati janjimu kepada pacarmu, aku akan terus mengejarmu, mendapatkanmu, walaupun itu sulit bagiku. Aku akan berusaha.”

Perkataan itu terus terngiang-ngiang dipikiranku, membuat kepalaku serasa mau pecah kalau terus memikirkannya. Aku sudah berusaha untuk melupakannya, agar aku bisa tidur nyenyak. Berbagai macam cara aku lakukan, mulai dari minum susu, ngitung domba, ngitung kancing, ngitung duit simpenan bapak kos, sampe ngitung beras sekarung aku lakukan supaya bisa tidur. Namun apa daya, perkataan Rona itu terus melekat dipikiranku. Oke, kali ini Rona membuatku tidak berdaya, sukses membuatku stres semalaman.

Bunyi dering ponsel mengagetkanku saat masih memikirkan kejadian semalam. Duh siapa pagi-pagi sekali menelepon? Kulihat layar di ponselku, terpampang sebuah nama “Desy Gesrek”. Oke, pacarku menelepon. Senang rasanya pagi-pagi sudah ditelponin pacar sendiri. Kenapa? Ada yang salah dengan namanya? Ya, memang itu panggilan sayangku untuknya. Kuangkat telepon dari Desy yang dari tadi terus berbunyi.

Aryo: Halloo Desy gesrek, pacarku yang paling kusayang!

Oke, aku sedikit berlebihan, atau mungkin aku sudah ketularan gesrek seperti Desy ya?

Desy: Hallooo papah!!

Bentar, kok dia manggil aku papah ya? Sejak kapan aku nikah sama mamahnya? Kalau Desy memanggilku dengan sebutan ‘papah’, berarti Desy itu anak aku dong? Ada yang nggak beres nih.

Aryo: Kok manggil papah? Kamu harusnya nelpon papah kamu kali.

Desy: Hahahaha. Kamu pasti bingung ya?

Aryo: Ya jelas bingung sayang. Kamu pagi-pagi gini nelpon aku terus manggil papah, emangnya aku papah kamu?

Desy: Hehehe. Mulai sekarang aku mau manggil kamu dengan sebutan ‘papah’. Begitupun sebaliknya, kamu harus manggil aku dengan sebutan ‘mamah’.

Desy kenapa ya kok tiba-tiba pingin merubah panggilan sayang jadi ‘papah-mamah’? Jujur saja, aku merasa agak gimana gitu, soalnya panggilan itu terkesan lebay untuk didengar. Tapi aku memaklumi saja, Desy memang suka begitu orangnya.

Aryo: Kok jadi papah-mamah sih Des?

Desy: Soalnya kamu kan sudah janji sama aku, kalau hubungan kita akan awet sampai mati nanti. Jadi aku mau kita pakai panggilan itu dari sekarang sampai kita mati nanti. Nggak apa-apa kan Yo?

Aku berfikir sejenak. Entah bagaimana aku jadinya jika setiap hari harus pakai panggilan itu. Bisa-bisa merinding terus aku dibuatnya. Tapi demi Desy, apapun akan kulakukan.

Aryo: Yaudah deh, iya kamu sekarang boleh panggil aku papah.

Desy: Yeayyyy. Makasih papah Aryo. Makin cinta deh sama papah.

Duh, aku berasa tua banget dipanggil papah. Memang sudah tua juga sih, November nanti umurku 22 tahun, tapi ini kalau dipanggil ‘papah’ sih aku berasa kaya lagi ngomong sama anak sendiri. Tapi tak apa, demi Desy. Dengan itu pula, pikiran soal kejadian semalam itu perlahan menghilang karena kelakuan Desy.

Aryo: Sama-sama mamah Desy yang paling gesrek.

Desy: Hehehe. Papah mandi dulu gih sana, terus sarapan biar nggak lemes. Shift pagi kan hari ini?

Aryo: Iya, ini juga mau mandi kok. Mamah sih nelpon papah, jadinya nggak mandi-mandi kan.

Desy: Yaudah papah mandi gih. Oh ya, nanti siang mamah mau ke tempat kerja papah, mau makan siang disana, hehe.

Aryo: Iya, papah tunggu deh nanti.

Desy: Oke. Kalau gitu mamah lanjut bobo lagi ya, dadah papah. Love you.

Aryo: Love you too.

Kami pun mematikan telepon kami. Desy memang sudah kebiasaan, kalau bangun jam segini pasti dia lanjut tidur lagi. Ada-ada saja dia. Kemudian aku beranjak dari kasur untuk mengambil handuk, lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi.

****

Inilah tempatku bekerja. Sebuah tempat dimana banyak orang yang datang kesini untuk makan siang, makan malam, atau sekedar menongkrong sambil ngopi. Ya, aku bekerja di sebuah cafe ternama di kota Jakarta ini. Kerjaku disini cukup sederhana, hanya membuat dan menyajikan makanan dan minuman untuk pelanggan. Kadangkala, aku juga menunjukan keahlianku menjadi seorang barista, membuat dan meracik kopi kepada pelanggan.

Aku suka bekerja disini, walaupun hanya sebagai pramusaji atau barista tapi penghasilannya cukup untuk membiayai kebutuhan hidup. Jujur saja, aku tidak terlalu menyukai kerja kantoran walaupun gajinya lumayan sih. Tapi menurutku, itu membuat aku merasa tidak bebas untuk berkreasi. Berbeda dengan disini, aku jadi lebih bebas untuk berkreasi. Bahkan boss aku pernah mengijinkan aku untuk membuat menu makanan baru sesuai kreatifitasku atau bereksperimen dengan segala macam kopi. Dari situlah aku belajar juga tentang cara berbisnis, karena suatu saat nanti aku ingin membangun cafe sendiri dan tentunya akan ku kelola bersama Desy.

Oh ya, kalian jangan salah paham dulu ya. Itu cuma pendapatku kok, pendapat orang kan beda-beda, hehe.

Jam menunjukan pukul 07.00, cafe masih belum buka karena cafe ini bukanya pukul 09.00. Aku baru saja sampai di cafe jam 7 pagi dan melihat sebagian pegawai cafe sedang melakukan berbagai persiapan untuk membuka cafe. Sebagian pegawai cafe juga sudah datang, mereka nampaknya sedang bersih-bersih cafe.

“Wilujeung enjing kang,” sapa Noval, salah satu pegawai cafeย  yang sedang mengelap kaca cafe. Dia ini asalnya dari Soreang, Bandung. Makannya dia menyapa pakai bahasa Sunda.

“Wilujeung enjing. Meuni rajin pisan euy, neng Siska kamana kang biasana sok mantuan unggal enjing?” tanyaku pada Noval.

Kalian kurang paham ya bahasanya? Aku translate-in deh; “Selamat pagi. Rajin sekali euy, neng Siska kemana kang biasanya suka bantuin setiap pagi?”

Bagaimana sudah paham kan? Maklum aku dan Noval sama-sama berasal dari Bandung, cuma beda daerah saja. Jadi maklum kami kalau ngobrol sering pakai bahasa Sunda.

“Neng Siska engke siang dongkapna kang. Ayeuna mah nuju bobo keneh mereun, haha.” (Neng Siska nanti siang datangnya kang. Sekarang masih tidur mungkin, haha.)

“Ohh nya geus atuh, abdi ka lebet heula nya kang.” (Ohh yaudah, saya ke dalam dulu kang.)

“Sip atuh,” ucap Noval sambil mengacungkan jempolnya.

Aku melangkahkan kaki masuk kedalam cafe, kulihat beberapa pegawai cafe sedang beres-beres cafe. Ada yang mengelap meja, menyapu lantai, mengepel, membersihkan dapur, dan mengecek berbagai peralatan di cafe itu. Aku kemudian berjalan kearah pintu belakang, tempat dimana para pegawai beristirahat. Aku menaruh tasku diatas meja, kemudian berganti pakaian menggunakan seragam cafe. Dan sekarang aku bisa memulai pekerjaanku.

Awalnya aku bingung mau mengerjakan apa, soalnya ini masih pagi dan teman-temanku nampak sedang melakukan semua pekerjaan. Ah iya, aku masak saja kalau begitu. Tapi mau masak apa ya, kan cafe juga belum buka. Bingung aku jadinya.

PRANG!!

“Duh… Kamu ini gimana sih kerjanya?! Piring kok bisa jatuh begini?!”

Aku mendengar suara piring jatuh ke lantai, kemudian kudengar juga suara bossku yang nampaknya sedang marah. Aku menoleh kearah sumber suara. Dan benar saja disana bossku sedang memarahi pegawainya, seorang wanita.

“Kamu tau sudah berapa banyak piring yang kamu pecahkan sejak kemarin-kemarin?!” ucap bossku masih dengan nada marah.

“Ma.. Maaf teh.. Saya nggak sengaja, saya janji nggak akan mengulanginya lagi.” Pegawai wanita itu nampak pasrah dirinya dimarahi bossku, dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap bossku.

“Kamu ya dari kemarin-kemarin janji-janji mulu, tapi sekarang malah diulangi lagi..”

“Cepat bereskan piringnya,” lanjut bossku.

“Maaf….”

Pegawai wanita itu berjongkok untuk membereskan piring yang pecah itu. Dia sesenggukan, apakah dia menangis? Kuperhatikan dia dan ternyata benar, dia menangis, air matanya saja sampai keluar. Aku jadi kasihan padanya, lebih baik aku membantunya.

“Sini biar aku saja yang beresin.”

Aku menghampirinya dan berjongkok dihadapan peagawai itu, lalu kuambil satu persatu pecahan piring yang pecah itu. Pegawai wanita itu terkejut dengan tindakanku.

“Loh Aryo, kamu udah datang? Kapan datangnya, kok saya nggak liat ya?” ucap bossku.

“Baru saja tadi saya datang teh Melody.”

Ya, bossku yang sekaligus pemilik cafe ini bernama Melody, Melody Nurramdhani Laksani. Aku dan para pegawai cafe disini sering memanggil dia dengan sebutan ‘Teteh’. Karena Melody masih muda, umurnya juga cuma beda 2 tahun denganku tapi lebih tua Melody sih dibanding aku. Selain itu, dia tidak suka kalau dipanggil ‘Ibu’, dia lebih suka dipanggil ‘Teteh’.

“Teh, jangan sering-sering marahin pegawai. Tuh liat sampai nangis gitu,” kataku sambil terus membereskan piring yang pecah itu dan melihat kearah Melody.

Melody nampak kelihatan menyesal, lihat saja mukanya langsung memerah dan menundukkan kepalanya.

“Saya minta maaf ya, tadi saya terlalu keras marahnya. Tapi inget ya, jangan diulang lagi kejadian tadi,” ucap Melody.

Pegawai wanita yang tadi dimarahi Melody itu mengusap air matanya dan berkata pada Melody, “Iya teh, nggak apa-apa kok. Saya janji nggak akan diulangi lagi.”

“Yaudah kalau gitu, dilanjut lagi kerjanya. Oh ya Aryo, nanti setelah ini kamu ke ruangan saya, saya mau bicara,” ucap Melody, lalu dia berjalan menuju ruangannya.

“Oke teh,” balasku sambil mengacungkan jempol.

Aku menoleh kearah pegawai wanita itu. Dia sudah tidak menangis lagi, lihat saja air matanya tidak lagi keluar. Dia nampak tersenyum kearahku.

“Kamu nggak apa-apa, Citra?” tanyaku padanya. Ya, nama pegawai wanita ini adalah Citra, Citra Ayu Pranajaya Wibrado lengkapnya.

Citra menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa kok kak.”

“Makasih ya udah bantuin aku,” lanjut Citra sambil terus senyum-senyum kepadaku. Ada apa dengan anak ini, kok dia senyum-senyum terus ya?

“Yaudah kalau gitu, aku ke ruangan teh Melody dulu ya.” Aku berdiri sambil membawa pecahan piring pecah di dalam serokan. Kemudian aku berjalan menuju ruangan Melody, sebelum itu aku membuang terlebih dahulu pecahan piring tersebut ke tempat sampah.

Aku melangkahkan kaki menuju ruangan Melody. Entah apa yang ingin Melody bicarakan denganku, yang jelas aku jadi deg-deagan dibuatnya. Apajah ini yang dinamakaj cinta? Duh, pikiranku mulai ngaco lagi. Masa aku juga cinta sama Melody, aku kan sudah punya Desy. Kuketuk pintu ruangan Melody dan kubuka pintunya, lalu masuk ke dalam.

“Ada perlu apa teh sama saya?” tanyaku seraya duduk di kursi yang sudah disediakan.

“Jadi gini, cafe ini sekarang sudah banyak didatangi pengunjung. Saya ingin kamu menciptakan makanan yang baru lagi sesuai dengan kreasi kamu. Bagaimana kamu mau?”

Aku berpikir sejenak, memikirkan tentang perkataan Melody. Tiba-tiba saja dipikitanku muncul sebuah ide yang lebih bagus.

“Kalau menurutku, nggak perlu membuat makanan yang baru, soalnya pengunjung yang datang kesini banyak yang memesan kopi. Nah, lebih baik saya membuat racikan minuman kopi yang baru. Bagaimana menurut teteh?”

Aku menjelaskan ideku yang tiba-tiba saja muncul kepada Melody. Melody mendengarkan penjelasanku dengan seksama, dia nampak manggut-manggut mendengar penjelasanku. Setelah itu, Melody berpikir sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja aku jelaskan.

“Oke, saya setuju.” Melody menyetujui usulanku. Dia pun berjabat tangan denganku.

Asik! Akhirnya aku bisa berkreasi lagi, aku bisa bereksperimen kembali dengan berbagai macam kopi. Kali ini aku akan membuat racikan kopi yang berbeda dengan kopi lainnya. Tapi untuk melakukan itu semua, aku memerlukan tim sukses dalam pembuatan kopi. Setelah mengobrol dengan Melody, aku pun beranjak meninggalkan ruangan Melody.

UWAAHH!

“Kamu ngagetin aja! Untung aja aku nggak punya penyakit jantung.”

Aku terkejut saat membuka pintu ruangan Melody sudah ada Citra didepanku sambil senyum-senyum sendiri kearahku. Ini anak hobi banget ya senyum-senyum sendiri, terlebih lagi dia senyum kearahku. Memangnya ada apa denganku? Aku ganteng ya? Memang orang ganteng sepertiku ini selalu disenyum-senyumin sama cewek. Oke, cukup berangan-angan jadi orang gantengnya, karena aku sadar dengan rupaku yang sekarang ini.

“Hehehe. Kakak habis ngapain di ruangan teteh?” tanya Citra sambil memiringkan kepalanya.

“Ada urusan sama teteh,” jawabku seperlunya.

“Hmmm, kakak udah sarapan belum? Aku tadi beliin sarapan loh buat kakak,” tanya Citra lagi.

“Aku udah sarapan kok tadi di kosan.”

Tumben Citra nanya soal itu ke aku, ditambah lagi dia bawa sarapan buatku. Biasanya selama dia bekerja disini, dia selalu cuek padaku. Bahkan hanya untuk sekedar menyapaku saja belum pernah, hanya ke beberapa temanku saja dia menyapa.ย  Pernah suatu hari aku pernah sekali menyapanya, tapi dia malah diam saja terus pergi begitu saja. Memang aneh dengan anak ini.

“Kamu kok tumben bawa sarapan, biasanya nggak pernah? Ada angin apa nih?” Aku jadi penasaran dibuatnya, memang ada yang aneh dengan anak ini.

Citra mengembangkan senyumnya, kali ini diiringi tawa kecil darinya. “Aku pingin aja bawain sarapan buat kakak, nggak boleh ya?”

“Boleh kok. Cuma tumben aja kamu bawain makanan buat aku, biasanya nggak pernah.”

“Hehehe.”

Perasaan aku mendadak jadi nggak enak melihat perlakuan Citra terhadapku. Apa mungkin Citra menyukaiku ya? Kalau itu benar, nambah satu lagi cewek yang berusaha deketin aku, setelah sebelumnya kemarin Rona tiba-tiba datang berusaha mengusik hubunganku dengan Desy. Lalu sekarang Citra juga sepertinya mau masuk ke kehidupanku. Ya, aku memaklumi saja kalau misalnya dia menyukaiku, toh itu hak dia.

“Hey.. Malah ketawa-ketawa, udah lanjut kerja sana.” Aku mencoba menyadarkan Citra dari tawanya yang tidak berhenti. Dia pun berhenti tertawa, namun masih meninggalkan senyum di bibirnya.

“Siap bos!” ucap Citra sambil memberi hormat. Dia pun meninggalkanku dan melanjutkan pekerjaannya.

****

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, cafe pun sudah mulai buka. Para pegawai cafe pun bersiap dengan pekerjaannya masing-masing. Aku kebagian untuk menjadi barista, ditemani rekanku Noval kami membuat minuman kopi untuk para pengunjung yang mulai berdatangan. Sedangkan rekan-rekanku yang lain ada yang bertugas menjadi pelayan, penjaga kasir, dan memasak makanan di dapur. Melody yang sedari tadi berada dalam ruangannya, keluar ruangan untuk melihat keadaan cafe yang sedikit demi sedikit mulai ramai didatangi pengunjung.

“Wah sedikit demi sedikit cafe ini mulai ramai kembali,” ucap Melody sambil menghampiri meja bar tempat aku dan Noval meracik kopi.

“Ya jelas atuh teh, saha heula atuh bossna?” ucap Noval dengan semangat.

“Hahaha, bisa wae si akang teh.” Melody hanya tertawa menanggapi perkataan Noval.

Tak terasa kami sudah melakukan pekerjaan kami hingga jam menunjukkan pukul 1 siang. Kebetulan juga aku belum makan siang nih, mumpung suasana cafe lagi sepi tidak banyak pengunjung, aku membuat kopi untuk sekedar mengganjal rasa lapar.

“Kak Aryo, nih sarapan yang aku beli tadi pagi kakak makan gih,” kata Citra yang tiba-tiba sudah ada di depan meja bar, sambil menyodorkan bungkus plastik berisi nasi bungkus.

“Emang kamu udah makan siang?” tanyaku dengan menaikkan sebelah alisku.

Citra menggelengkan kepalanya.

“Nasi bungkusnya mending kamu makan aja gih, kalau nggak dimakan nanti jadi nggak semangat loh kerjanya,” kata aku.

Aku menolak pemberian Citra bukan karena tidak berterimakasih dengan pemberiannya, melainkan aku takut kalau nanti Citra benar-benar jadi suka padaku dengan seolah-olah aku memberinya harapan. Kalau itu terjadi, bisa gawat nantinya. Masalah tentang Rona saja belum selesai, masa mau nambah satu masalah lagi. Mungkin aku harus memikirkan cara agar Citra tidak terlalu sering mendekatiku.

“Yaudah deh, sarapannya aku makan aja deh,” ucap Citra. Dia nampak cemberut setelah aku menyuruhnya untuk memakan sarapannya. Dia berjalan ke arah pintu belakang tempat para pegawai cafe beristirahat.

“Kang, jigana mah Citra teh bogoh ka akang,” ucap Noval saat melihat kepergian Citra ke tempat istirahat. (“Kang, kayanya Citra suka ke kamu.”)

“Keun bae lah, lantaran abdi teh tos gaduh kabogoh, abdi ge tos nyaah pisan ka manehna,” ucapku sambil menuangkan kopi kedalam cangkir. (“Biarin saja lah, soalnya aku sudah mempunyai pacar, aku juga sudah sayang banget ke dia.”)

Ya, aku tidak mau lagi ada cewek lain yang mau mengusik kehidupanku dengan Desy. Aku sudah berjanji padanya kalau aku akan menikahinya nanti dan Desy menunggu momen-momen itu. Kalau seandainya Citra memang menyukaiku, lalu dia menyatakan perasaannya padaku, tentu saja aku tidak bisa menerimanya.

Ngomong-ngomong soal Desy, katanya dia siang ini mau ke cafe buat makan siang. Aku sudah menunggunya dari tadi tapi dia belum datang juga, kemana ya dia? Jangan-jangan dia jam segini masih molor. Ah, masa jam segini masih molor, kaya kebo aja.

Pintu depan cafe terbuka, terlihat seorang gadis yang aku tunggu-tunggu datang juga. Dia datang bersama seorang gadis yang lain, nampaknya aku kenal dengan gadis itu. Gadis yang lain itu memakai seragam cafe dan menghampiri aku dan Noval.

“Wilujeung siang Neng Sisca,” sapa Noval dengan semangat, diikuti senyum lebarnya.

“Siang Aa Noval,” balas Sisca dengan senyum lebarnya.

Nah, Sisca namanya. Sisca ini adalah pacarnya Noval. Mereka belum lama ini jadiannya, ya sekitar sebulan yang lalu. Dia juga teman dekat Desy.

“Papahhhh!!”

Desy berteriak kata ‘papah’ kepadaku. Kemudian dia berlari kearahku dan memelukku dengan erat, sampai-sampai punggungku terasa sakit. Noval dan Sisca hanya melongo setelah mendengar Desy berteriak ‘papah’ padaku.

“Aduh mamah udah dong pelukannya, malu ah diliatin Noval sama Sisca,” ucapku sambil berusaha melepaskan pelukannya.

“Tuh liat mereka aja sampe melongo gitu ngeliat kita,” lanjutku.

Desy sepertinya menyadari kalau sedari tadi Noval dan Sisca memperhatikan kami sedang pelukan. Dia pun melepaskan pelukannya.

“Kalian berdua ini pacaran atau udah nikah sih, kok manggilnya papah-mamah?” kata Sisca.

“Pacaran dong, cuma Aryo udah janji mau nikahin aku suatu saat nanti,” jawab Desy dengan semangatnya.

“Ohh begitu, ada-ada aja kalian ini,” kata Sisca.

“Yaudah kalau gitu. Aku sama Noval ke dalam dulu ya, mau makan siang,” lanjut Sisca seraya menggandeng tangan Noval menuju pantry.

Sekarang tinggal kami berdua di cafe yang suasananya sedang sepi ini. Akhirnya kami bisa berduaan deh. Aku mengajak Desy untuk duduk di sofa dekat pintu masuk cafe. Desy kelihatannya lapar sekali, lihat saja dari tadi dia mengelus-elus perutnya, tanda kalau dia lapar.

“Lapar ya? Papah buatin makanan dulu ya. Mamah mau makan apa?” tanyaku padanya sambil mengangkat dagunya dengan tanganku.

“Hmm… Mamah mau nasi goreng aja deh,” jawab Desy.

“Oke deh.”

Aku pun beranjak dari sofa menuju dapur untuk membuat nasi goreng. Namun saat hendak beranjak dari sana, tanganku ditahan oleh Desy. Dia nampak ingin bicara sesuatu.

“Hmm… Lebih baik kita manggilnya biasa aja deh, kalau papah-mamah nggak enak didengar, hehe.”

Yah dia baru nyadar ternyata kalau panggilan sayangnya ‘papah-mamah’ itu nggak enak didengar. Aku saja sudah merasa nggak nyaman dengan panggilan itu sejak awal.

“Huhhh kirain ada apa. Yaudah aku ke dapur dulu, kamu udah laper banget tuh,” kataku seraya beranjak dari sofa dan menuju ke dapur.

Di dapur, aku mulai memasak nasi goreng kesukaannya. Setelah nasi gorengnya jadi, aku membawa sepiring nasi goreng itu keluar dapur dan memberikannya pada Desy yang sudah menunggu.

“Nih nasi gorengnya, spesial buat kamu,” ucapku sambil menaruh sepiring nasi goreng itu diatas meja.

“Makasih sayang. Seneng deh punya calon suami yang bisa masak,” kata Desy sambil mengedipkan matanya berkali-kali. “Sering-sering ya masakin aku kaya gini, hehe.”

“Hmmm enak di kamu, nggak enak di aku. Kalau aku terus yang masakin, nanti yang nyari duit siapa hayo? Kan suami juga yang nya…..”

Desy tiba-tiba mencubit kedua pipiku sedikit keras, pipiku jadi sakit dibuatnya.

“Kamu serius banget sih, aku cuma bercanda kok. Lama-lama aku jadi gemes sama kamu, hehehe.” Kali ini giliran hidungku yang dicubitnya.

“Aduh sakit, Des..”

“Habisnya kamu bikin gemes sih. Kamu tenang aja, calon istrimu ini paling jago masak,” ucap Desy dengan sombongnya.

“Hmm yakin jago masak?” Aku sebenarnya tidak yakin juga sih kalau Desy bisa masak.

“Nggak percaya? Pulang kerja kamu ikut aku ke kosan aku ya.”

Aku berpikir sejenak tentang hal itu. Sebenarnya Desy tidak terlalu bisa masak, walaupun dia pernah masak itu pun masakannya kurang sedap untuk dimakan. Oleh karena itu, aku masih ragu kalau dia bisa masak.

“Hmmm.. Oke deh, lagian aku juga udah lama nggak main ke kosan kamu.”

“Asikkk! Kita masak bareng ya kalau gitu,” ucap Desy dengan senangnya.

“Kamu ini, bawel banget ya. Nih makan nasi gorengnya dulu, keburu dingin.” Aku mengambil sesendok nasi goreng, lalu bersiap untuk menyuapi Desy.

Aku mulai menyuapi Desy dengan sesendok nadi goreng, dia nampak senang disuapi olehku. Lihat saja dia terlihat manja-manja begitu, seperti anak kecil saja. Sedang asik-asiknya menyuapi Desy, pintu depan cafe terbuka, lalu masuklah seseorang yang tidak asing bagiku. Sepertinya aku mengenalnya.

 

~To be continued~

 

Created by Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

Iklan

3 tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s