Ending Story

mo2

Saran : yang bisa masuk Deepweb cobalah masuk dari sekarang. Jangan buat beli Lolita Slave Girl tapi buat sewa jasa pembunuh bayaran.

Seorang gadis dengan paras manisnya terlihat memandang sebuah album foto yang terdapat dirinya bersama seorang pria. Setiap lembaran foto memiliki kenangan dan kesan tersendiri yang sangat berarti bagi dirinya. Sebuah potret kehidupan yang telah dirangkai sedemikian rupa.

Dengan air mata yang meleleh menghiasi pipi. Air mata kekesalan, penyesalan bercampur. Tak banyak hal yang bisa ia lakukan saat itu. Yang ia bisa lakukan hanya lah berusaha menjalani hidup yang ada tanpa adanya sosok orang yang beberapa tahun ini bersama dengan dirinya. Orang yang sejak lama ia sukai dan ia sayangi.

Kalimat yang paling ia ingat di hari terakhir pertemuannya. Pertemuan terakhir dengan status menjalin hubungan bersama.

”maaf gre, kita…harus putus” sebuah kalimat singkat sukses membuat waktu serasa berhenti dan berada didalam mimpi malam yang menakutkan.

Dengan perasaan tak menentunya. Gracia mengecup wajah yang terdapat difoto kemudian memeluk album foto tersebut dan ia memutuskan untuk memejamkan matanya. Dalam pikirnya dalam mata yang tertutup. Gracia berpikir, Entah hari esok seperti apa yang akan terjadi. Hari tanpa sosok dia, seorang Erza.

“Semua udah siap ?!” seru seseorang memastikan.

Semua orang yang ada mengacungkan jempolnya, menandakan telah siap di posisinya masing-masing dan pada perannya.

“Oke kalo gitu…kita mulai”

“OI ! Gre mendekat!”

Suasana pelajaran pertama disalah satu sekolah terpandang di kota A. Di isi dengan pelajaran Olahraga. Topik pelajaran yang saat itu dipakai adalah Volly.

Terlihat juga para siswa putra bergerombol dipinggir lapangan menyaksikan pertandingan antar siswi putri. Karna saat itu memang bagian perempuan yang bermain. Tak jauh beda lucunya saat melihat sepak bola putri. Di Volly juga banyak hal lucu yang terjadi. Seperti satu umpan bola yang datang namun ditangkis oleh seluruh pemain. Kan kocak. Dikira nangkep Mangga jatuh kali.

“Gue berasa nonton tawuran” batin Erza mengamati.

Tak lama kemudian juga hal lucu menimpa Gracia.

”Hahaha” ”hahaha…”

”LoL. Hahaha…”

Dengan posisinya dipinggir lapangan sambil melihat Grcaia bermain bola Volly bersama teman-temannya. Erza terus menertawakan kejadian yang ia lihat.

”Tuh pak, masa Erza ngetawain sama mulu. Kan saya mainnya jadi ga konsen” ucap Gracia sambil mengelus wajahnya yang memerah akibat terkena bola Volly dengan teknik smash dari lawannya tepat pada wajahnya.

”Lagian elu sih, main Volly tuh pake tangan bukan pake muka. Hahaha” sahut Erza dari pinggir lapangan.

”kalo mau belajar Debus tuh bukan pake bola Volly. Sekalian aja pake bola baja penghancur gedung” lanjutnya.

“Yaudah Gracia, kamu ke UKS aja obatin wajahnya. Wajah kamu keliatan merah tuh” suruh pak Rido guru Olahraga.

“Dan buat kamu, Erza temenin Gracia”

“Loh, kok saya pak ? Males ah”

“Temenin atau nilai kamu di mata pelajaran bapak diturunin dibawah KKM”

Dengan terpaksa Erza akhirnya menuruti perintah pak Rido untuk menemani Gracia pergi ke ruang UKS.

Sesampainya mereka di ruang UKS. Sepi tak ada orang. Mungkin karna masih jam pelajaran makanya UKS kosong. Biasanya sih rame saat pelajaran kosong ataupun istirahat. Ya walaupun tak seramai di kantin. Masa iya, UKS ramenya kaya kantin. Mabok kolak kali.

Gracia menempatkan dirinya diatas kasur UKS dan merebahkan tubuhnya disana. Sementara Erza mencari kursi untuk diposisikan di samping ranjang UKS.

“Panas nih wajah gue” ucap Gracia membuka pembicaraan.

“Ya terus gue mesti ngapain ? Tiupin gitu”

“Yakali gue Tahu Bulat yang baru keluar dari penggorengan pake ditiupin segala”

“Hampir sama. Pipi kamu bulat dan aura kamu selalu angetin hati aku” ucap Erza.

“Njir gombal. Hahaha. ga pantes lu”

“Buat dingin wajah gue kek” sambung Gracia dengan nada tertawanya yang mulai menurun.

Erza terlihat berpikir bagaimana caranya buat wajah Gracia dingin.

“Tau ah, malah gue didiemin gini” ucap Gracia sambil memejamkan matanya dan menyilangkan kedua tangannya diatas dadanya.

“WEI !” kaget Gracia saat benda dingin menyentuh wajahnya.

“Katanya disuruh dinginin wajah lu” ucap Erza sambil mencoba menempelkan benda yang dipegangnya kembali ke wajah Gracia, namun oleh Gracia ditolak.

“Ya ga gini juga kali ! Pake balok Es, ukurannya gede lagi. Lu dapet darimana Es segini gedenya ?!”

“Tuh…” balas Erza sembari pandangannya mengarah ke pojok ruangan dimana terdapat kotak Ikan disana.

Gracia menepuk Jidatnya, “Ini UKS apa gudang Ikan Sarden sih ? Pantesan bau amis, gue kira tadi bau lu”

“Gre, cabut yuk ? Gue lagi gabut nih disekolah” ucap Erza mengajak Gracia untuk pergi meninggalkan Sekolah. (Jangan ditiru)

“Sama sih, tapi gimana caranya ? Pintu gerbang pasti kan dijaga sama Satpam”

“Kita lewat tembok belakang aja” saran Erza.

“Kita mau nembus tembok ? Emang bisa ?” tanya Gracia dengan wajah polosnya.

“Lu dah pernah ketiban Es segede ini kaga ?” ucap Erza mengangkat kembali balok Es tadi.

Dengan jarinya, Gracia membentuk huruf V sambil berkata, “piss. Hehehe…”

Sebelum mereka melaksanakan pelariannya. Sebelumnya, mereka kembali ke kelas untuk mengambil tas. Setelah itu barulah menuju halaman belakang sekolah dimana tembok yang dimaksud berada.

Namun, saat baru saja sampai di halaman belakang, dari kejauhan Erza melihat ada pak Nowo. Pak Nowo adalah salah satu guru BP di Sekolahnya. Bisa dibilang juga guru Killer. Memang kalau jam-jam pelajaran beliau selalu berkeliling untuk memantau keadaan atau aktivitas murid. Erza yang melihatnya langsung memberitahu Gracia untuk bergegas menaiki tembok.

“Gue kan ga bisa manjat, bantuin makanya” keluh Gracia pada Erza saat kesusahan memanjat.

“Kyaa !!” teriak Gracia setelahnya namun tak terlalu keras.

“Kurang ajar ! ngapain lu pegang pantat gue ?!”

“Katanya suruh bantuin” ucap Erza dengan ekspresi panik bercampur ekspresi menahan tawa.

“Udah cepetan nanti bisa kepergok sama pak Nowo”

“Yaudah deh, tapi ini megannya yang bener. Kesempatan lu !”

Saat Erza membantu Gracia menaiki tembok…

“Bangke lu ah. Pake buang gas beracun segala. Ilfil gue lama-lama punya pacar kaya lu”

“Ya maaf” ucap Gracia diatas sambil cengengesan tak jelas.

Bersusah payah akhirnya mereka bisa memanjat pagar belakang Sekolah pergi meninggalkan pelajaran yang sedang berlangsung.

Dengan saling tertawa saat mengingat tadi saat mencoba memanjat pagar. Namun Gracia tiba-tiba berhenti tertawa dan diam menatap Erza.

“Terus motor lu mana ?” tanya Gracia dengan wajah polosnya kembali.

Erza ikut terdiam dan menatap balik Gracia. Ia menatap belakang tepat ke arah bangunan Sekolahnya dan ia baru sadar akan motornya yang masih berada didalam parkiran Sekolah pun langsung menepuk Jidatnya.

“Masih dipalkiran…” jawab Erza cengo.

“Pake angkot aja ya, pake Taksi mahal soalnya” lanjut Erza sambil melihat kanan kiri.

“Terus nanti motor lu gimana ?”

“Santai aja biar nanti temen gue yang bawa pulang” akhirnya Gracia cuma mengangguk pasrah.

“Kita ke taman bunga yuk” ajak Gracia.

“Serah”

Dengan memberhentikan salah satu Angkot yang lewat mereka berdua menaikinya dan menggunakannya sebagai sarana menuju Taman Bunga yang Gracia maksud.

Tak terlalu lama perjalanan yang ditempuh oleh Angkot yang mereka naiki menuju tempat yang dituju. Turun dari Angkot dengan Erza yang keluar terlebih dahulu dan langsung ngeloyor pergi. Alhasil untuk sekian kalinya, Gracia yang harus mengeluarkan lembaran kertas dari dompetnya. Setelah membayar ongkos Angkot, Gracia berlari menyusul Erza yang sudah lumayan jauh dari posisinya.

“BUK !”

Headshot ! Lemparan yang Gracia layangkan berhasil mengenai tengkuk leher Erza. Sebuah lemparan menggunakan hp nokia sepatu miliknya.

“Sepatu siapa nih ?!” gerutu Erza melihat sepatu disampinginya. Tanpa menoleh ke belakang Erza mengambil sepatu yang tadi digunakan untuk mengenainya dengan diikuti gerakan melempar sepatu tersebut ke atas pohon.

“Biarin lah, lagian gue kaga tau sepatu siapa”

“HEI !” teriak Gracia dari belakang saat melihat sepatunya nyangkut diatas pohon.

Erza berbalik badan, “eh, elu Gre… Hei juga”

Memasang tampang santai seakan Erza tak merasa bersalah sedikitpun dengan Erza menyapa balik Gracia. Gracia yang geram pun menghampiri Erza dengan cepat dan langsung mengapit kepala Erza dengan tangannya. Gracia mengepalkan tangan dan meletakannya diatas kepala Erza dengan gerakan seperti mengulek bumbu dapur.

“Apaan nih ?! Sakit wei ! Udeh” Gracia yang merasa sedikit cukup atas aksinya menghentikan gerakan kepalan tangannya diatas kepala Erza dengan kondisi rambut Erza yang berantakan.

“Itu sepatu gue yang lu lempar tau !”

“Lagian siapa suruh lu nimpuk gue” ucap Erza.

“Ambil !” cegah Gracia dengan nada kesal.

“Iye Gue ambilin”

Dengan terpaksa Erza menuruti ucapan Gracia untuk mengambil kembali sepatu miliknya yang Erza lempar dan nyangkut diatas pohon. Tak butuh waktu lama memang. Kini sepatu warna putih milik Gracia telah berada ditangannya.

“Tangkep nih” ucap Erza dari atas pohon. Gracia yang berada dibawah bersiap menangkapnya.

“BUK !” dikarenakan lemparan Erza sedikit melebar dan Gracia tak memperhatikan sekelilingnya, Gracia jatuh tertabrak oleh sepeda begitu juga si pengemudi sepedanya yang ikut tepar dijalan kecil, Taman.

Erza yang melihat kejadian tersebut tanpa pikir panjang turun dari atas pohon dengan cara langsung loncat dan mendarat ditanah dengan posisi tersungkur akibat keseimbangan yang tak pas.

“Setan…pendaratan yang kurang mulus bung” ucap Erza dengan disertai tawaan kecil. Menertawai diri sendiri.

Erza sedikit menjauhkan wajahnya dari tanah, “Untung kaga ngena nih kotoran kucing” gerutu Erza.

Erza menghampiri Gracia, “lu ga papa gre ?” Gracia menggeleng.

“Liat-liat dong kalo jalan !” ucap pengemudi sepeda.

“Heh ! Itu harusnya ucapan gue buat lu. Lu yang ga liat-liat naik sepedanya. Lu kira ini jalan yang bangun nenek lu” ucap Gracia tak mau kalah.

Sambil menunjuk, “untung…untung lu cewe” ucap si pengendara sepeda dengan menahan emosinya.

“Kalo gue bukan cewe emang lu mau apa ? Hah ?!” tantang Gracia.

“Mijon mijon, prutang…yang lagi panas” Erza berjalan santai memotong di tengah-tengah antara Gracia dan si pengendara sepeda.

Gracia menarik sebelah telinga Erza, menjembregnya dan didekatkan pada mulut Gracia. Ia berbicara cukup keras tepat di lubang telinga. “Nyari mati lu ?!”

Taman berubah seketika bak acara debat capres. Si pengendara sepeda, sebut saja doi sebagai Ucok yang selalu mengeluarkan argumennya namun, selalu kalah oleh Gracia. Tau sendiri lah cewe selalu benar dan cowo lah yang salah. Sedangkan Erza ? Ia bagaikan penonton bayaran.

Setelah mengalami fase debat yang alot, akhirnya si Ucok pun mengalah dengan meminta ganti rugi dikarenakan rantai sepeda miliknya putus. Baru giliran Erza lah yang mengeluarkan uang.

Mereka melanjutkan jalannya berkeliling Taman. Tak lama, dikarenakan hari mulai terik akibat posisi Matahari kini tepat diatas mereka, mereka pun berniat menyingkir kebawah pohon untuk berteduh.

“Mau minum apa ? Biar gue beliin” ujar Erza menawarkan minuman.

“Apa aja deh yang bikin seger”

Ketika Erza berbalik, “Eh ! Jangan minuman deh, gue itu aja” Gracia berucap sambil menunjuk penjual Ice Cream yang berada di taman tak jauh dari mereka.

Erza menatap Gracia, “rasa apa aja” ucap Gracia menjawab tatapan Erza.

“Oke, tunggu sini”

Saat Erza mulai berjalan menjauh dari hadapan Gracia. Gracia memandang punggung Erza dengan lekatnya. Ia tersenyum kecil. Gracia mengeluarkan smartphone nya. Kemudian memfoto punggung Erza dari jaraknya duduk.

“Makasih za, udah bikin aku seneng walau kadang caranya ngeselin tapi… Aku sayang kamu” Gracia berucap lirih.

Gracia mengelukan suara berdeham kecil saat menikmati Ice Cream nya. Sambil menyandakan kepalanya tepat dibahu milik Erza. Ia menatap wajah Erza dari posisinya. Menatap bingung dengan perkataan yang Erza lontarkan.

“Lu ngomong apa sih?” tanya Gracia dengan mengangkat kepalanya.

Gracia duduk menyerong ke arah Erza, “Sampai kapanpun, lu harus disini bareng sama gue”

“Apaan sih? Gue cuma bercanda doang kali” balas Erza.

Gracia masih terdiam menatap Erza tanpa bergemih. Melihat ekspresi Gracia yang tiba-tiba berubah, Erza mengambil langkah dengan…

“Isshh…” Gracia mengeluarkan suara. Erza hanya tertawa.

“Mau nantangin colek-colekan cream nih?” ucap Gracia.

Erza yang tadinya mencolekan Ice Cream ke hidung Gracia untuk mengembalikan suasana kini Gracia juga ikut mengambil gerakan untuk membalasnya. Namun dengan cepat Erza berdiri dan berlari menjauh.

“Balas aja kalo bisa” tantang Erza pada Gracia yang masih duduk.

Erza berbalik badan dan berlari kecil namun, dari belakang Gracia  melakukan gerakan cepat. Gracia kembali melemparkan sesuatu. Kali ini apa yang ada ditangannya, sebuah Ice Cream.

“PLEK !”

Kepala Erza terasa dingin oleh lelehan Ice Cream nilik Gracia yang dilemparkan. Dengan senyum nya Erza menanggapi ulah pacarnya itu dengan santai. Membalikan badan menatap Gracia. Gracia berjalan mendekat ke arah Erza dengan senyumnya juga. Setelah saling berhadapan, Gracia mengambil Ice Cream milik Erza.

“Buat gue ya” ucap Gracia tanpa dosa.

Gracia menjilat Ice Cream tersebut. Setelahnya, ia memberikan giliran untuk Erza juga.

“Kita makan bareng aja” ucapnya sambil membersihkan lelehan Cream di kepala Erza dengan sapu tangan.

Se’akan luluh dengan ucapan lembut dan senyum manis yang Gracia berikan. Erza kembali hanya tersenyum. Kini Erza menjadi bingung. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk memberitahukannya atau waktu yang salah. Erza tak mau menghancurkan momen berdua ini hanya dengan beberapa kalimat. Kalimat yang mungkin bagi Gracia itu menyakitkan. Bukan hanya bagi Gracia tapi bagi Erza sendiri juga. Masih ada waktu, mungkin besok atau lusa.

“Tadi sama orang rumah udah bilang mau pulang sore kan ?” tanya Erza.

Gracia mengangguk, “emang kenapa?”

“Ikut gue yuk” sambil menarik tangan Gracia, Erza membawanya keluar dari taman menuju jalan mencari Taksi.

“Emang kita mau kemana ?” tanya Gracia didalam Taksi.

“Pantai” jawab Erza singkat.

Dengan duduk dikursi belakang. Gracia menyandarkan kepalanya dibahu Erza dengan alunan musik bergenre lembut yang di mainkan oleh si sopir. Tak banyak percakapan memang, Erza hanya mengelus rambut hitam Gracia dengan gerakan teratur.

Hamparan pasir putih memenuhi pandangan yang ada. Suara deburan ombak menjadi pelengkap suasana dengan langit sore yang ikut mulai menghiasi. Di sekitar hanya terdapat beberapa anak kecil sedang bermain sepak bola pantai. Pantai yang mereka datangi bukanlah pantai tempat rekreasi. Hanya pantai dekat kampung nelayan, namun dengan kebersihan yang terjaga.

Dua buah kelapa muda ditangan masing-masing. Erza duduk di pasir bersebelahan dengan Gracia. Bersiap memulai topik pembicaraan.

“Pemandangannya bagus ya?” ucap Erza memandang lurus dan tersenyum.

“Iya. Udah lama juga gue ga liat kaya gini. Terakhir ke pantai kayaknya beberapa tahun yang lalu dan itu pun juga pas lagi liburan keluarga jadi rasanya beda aja sama sekarang” balas Gracia disusul meminum air kelapa dengan sedotan warna putih.

“Lu suka?”

“Suka banget malahan”

Gracia menatap Erza, “za…” panggilnya lembut.

“Aku sayang kamu” Gracia memeluk Erza dari arah samping.

Erza membalasnya. Ia juga mengatakan, bahwa ia juga sayang sama Gracia.

Erza berdiri dari posisinya, menggenggam tangan kanan Gracia dan mengajaknya menuju batas pantai. Mungkin sudah bisa ditebak mau apa mereka. Sebelum menginjakan kakinya pada air laut terlebih dahulu melepas sepatu sekolah. Dengan cepat Gracia berlari mendahului Erza yang masih terlihat melepas kaos kaki miliknya. Ia juga memulai mencipratkan air laut pada tubuh Erza.

Tergambar keceriaan dimata Gracia. Senyumnya yang manis. Tawanya yang renyah dan rengekan manjanya seakan menjadi bumbu pelengkap hidup.

“Udahan yuk. Baju kamu udah basah semua tuh. Entar masuk lagi, kan repot” ucap Erza menyudahi acara mainan airnya.

“Gendong tapi” Erza kaget mendengarnya.

“Deket juga”

“Gendong atau gue tetap disini main air”

“Bodo amat Gre” ucap Erza cuek sambil berbalik dan berjalan menjauhi air pantai.

“Issshhh ! Mulai lagi ngeselinnya” gerutu Gracia.

Tanpa Erza duga. Punggunya tiba-tiba ditimpa sesuatu. Gracia meloncat ke punggung Erza untuk digendongnya. Dengan refleksnya, Erza menahan berat tubuh Gracia dari bawah, kaki Gracia.

“Dasar manja” ucap Erza sambil berjalan menggendong.

“Biarin. Lagian jadi cowok punya momen romantis dikit banget”

Langit sore terlihat mulai menelan habis matahari. Dari posisinya, Erza bersama Gracia telah duduk kembali dengan baju kering yang mereka bawa. Duduk menyaksikan sunset sore. Gracia teringat akan suatu hal.

“Inget ga ?”

“Ga” ucapan Gracia dipotong cepat oleh Erza.

“Jangan dipotong dulu !”

“Inget ga pas lu nyatain perasaan ke gue? Waktu itu sore-sore, lu ngajak gue ke bukit dan pas itu juga kita jadian didepan sunset sore kaya pemadangan saat ini” ucap Gracia.

“Momen absurd yang gue ciptain buat dapetin lu…haha” balas Erza dengan tawaan kecil.

“Tapi utungnya, momen yang gue buat itu ga ngecewain dengan jawaban (mau) yang lu kasih”

“Jujur, saat hari itu gue ngrasa seneng bisa dapetin lu. Gue ga nyangka. Seorang Gracia bisa nerima ungkapan dari orang yang notabene nya disekolah maupun lingkungan sebagai anak absurd dengan kelakuan konyolnya” Erza terus berbicara. Gracia mendengarkan.

“Gue kenal lu lama gre tapi gue taunya lu cuma anak perempuan biasa dan terlihat mandiri, kua. Ya walau emang kadang suka terlihat gesrek tapi itu cuma kadang-kadang doang. Tapi semenjak kita jadian, gue baru tau semuanya, aslinya lu”

“Emang gue kenapa?”

“Lu itu…manja, sebenernya cengeng juga dan point utamanya, ternyata lu ga jauh beda sama gue. Ceroboh, absurd sama konyol juga”

“Cie maunya disamain”

Tanpa disadari. Matahari kini telah lenyap dari padangan seakan ditelan oleh kumpulan air laut. Langit yang tadinya berwarna ke’orange’an kini mulai berubah bercampur dengan warna hitam yang mulai ikut membaur di satu langit.

Hari mulai memasuki malam. Erza dan Gracia beranjak dari tempatnya dan melangkahkan sepasang kakinya meninggalkan pantai. Jejak kaki yang mereka tinggalkan mulai tersamarkan oleh cahaya malam.

Keesokan harinya. Banyak siswa maupun siswi berkumpul di kantin sekolah. Tak kelupaan juga disana terdapat Erza, namun tak terdapat sosok Gracia. Mereka tampak membicarakan sesuatu secara bersama. Mungkin lebih tepatnya jika dilihat seperti rapat para murid ?

“Gimana hasil kemaren?” tanya Erza.

Dua anak yang ditanya saling bertatapan dan beberapa detik kemudian melakukan adu telapak tangan, tos. Keduanya saling tersenyum sumringah.

“Seperti yang diinginkan” ucap siswa satu, si Willy.

“Pastinya” sahut siswa dua, si Ido Kapur Barus.

“Sayang banget kemaren kak Ve ga liat lu berdua” ucap Willy menyayangkan.

“Buat pagi ini emang niatnya mau gue tunjukin dulu hasilnya sama kalian semua. Nah, kemungkinan besok atau lusa baru gue edit. Tambahin efek sama backsound kayaknya mantap” ucap Ido.

“Okelah” ucap Erza menanggapi.

Kini giliran Anin yang berbicara, “terus buat hari ini mulainya jam berapa?”

Berdiri di rooftop sambil merentangkan kedua tangan menikmati hembusan angin sore yang menerpa tubuh terasa bagaikan melayang diudara. Hal itulah yang kini Erza rasakan. Dengan dibelakannya tak jauh dari posisinya berdiri terdapat Gracia sedang membereskan buku-buku nya yang tercecer akibat tugas yang harus ia cari dari buku satu ke buku lainnya.

Mereka lebih nyaman mengerjakan sebuah PR di Rooftop. Suasana yang mampu membuat tenang dan pikiran bisa lebih fokus.

Langkah lembutnya. Gracia berjalan mendekat berdiri disamping Erza dan menirukan gerakan apa yang sedang Erza lakukan. Merentangkan tangan sambil tersenyum ke arah senja. Kemudian menutup mata, mengambil nafas dalam dan membuangnya secara perlahan.

“Udah selesai” ucapan Erza memecah keheningan.

Gracia membuka matanya, “udah”

Gracia menatap Erza dan sebaliknya. Ia mendekat dan mulai memajukan posisi kepalanya agar tepat berhadapan dengan kepala Erza. Semakin dekat. Siluet dari bayangan senja menjadi background yang sangat tepat. Dua sosok berlainan gender tengah berdiri berhadapan.

Wajah Gracia terus mendekat, hingga kini bibir Gracia hanya berjarak beberapa centi dari… Telinga Erza. Gracia berucap…

“Jalan-jalan yuk. Suntuk gue abis ngerjain tugas”

“Dan jangan berpikir gue tadi mau nyium lu ya. Hahaha” tambahnya sambil tertawa renyah.

Erza yang sempat tak karuan rasanya akibat dipepet Gracia, kini hanya terdiam. Namun, tak lama keterdiamannya itu. Erza menyapu pandangannya ke arah bawah. Tepat ke arah kaki Gracia. Ekspresi yang Erza tunjukan hanya menahan tawa.

“Kenapa ?” Gracia mengerutkan dahinya.

“Jangan sok makanya. Hahaha” kini giliran Erza lah yang menertawakan Gracia.

“Gue sama lu itu tinggian gue… Liat, lu mau bisikin gue aja sampe jinjit gitu kaki lu. Pake batu bata lagi. Hahaha”

Erza kemudian menendang dua batu bata yang Gracia pakai untuk berdiri. Tapi untungnya keseimbangan Gracia masih baik dan tak sempet sampai jatuh.

“Tega lu ama pacar sendiri. Untung kulit gue ga lecet. Sampe lecet, gue patahin Persneling lu”

Erza mengulurkan tangannya dan disambut oleh genggaman Gracia.

“Mau ke mana?” tanya Erza pada Gracia yang  terlihat sedang membersihkan celana Jeans nya dari kotoran.

“Gimana kalo kita ke Event lampion. Malem ini kan bakal dilepas Lampion masal. Gimana ?”

“Oke. Eh, gue kan bawa motor…lu Joki nya ya gre” ucap Erza.

“Sekali-kali lah” tambah Erza dengan memperlihatkan deretan giginya.

“Gila” hanya itu yang keluar dari mulut Gracia dan berjalan mengambil tasnya.

Terlihat cahaya dibungkus dimana-mana. Kumpulan orang memegang satu buah Lampion setiap orang dengan motif yang dibuat dari para pemiliknya. Namun berbeda dengan Erza. Ditangannya ia membawa dua buah lampion dengan hiasan lukisan yang ia buat sendiri. Lampion pertama berhias permata Squidward tamvan, gagah dan pemberani. Sedangkan lampion kedua bergambar…. Otong ? Keterlaluan nih anak. Lucknut.

Oke kita tinggalkan kelakuan itu. Bergeser ke arah Gracia. Terlihat, dengan tenangnya Gracia mencoret-coret lampion nya dengan cat warna. Apa yang ia gambar ? Bukan gambar, melainkan hanya sebuah kalimat singkat di ekor yang Gracia buat pada lampion nya “Otak pacar gue kurang bahan konstruksi”

Erza yang membacanya hanya mengerutkan jidat. “Kalimat macam apa ini?” pikir Erza.

Erza sedikit kesal terhadap ulah Gracia. Kemudian ia juga tak mau kalah. Ia membuat ekor dan menempelkannya pada lampion miliknya. Gracia mengintip ke arah Erza. Dengan cepatnya Erza membuat sebuah kalimat super.

“Anu nya pacar gue gede sebelah” tulisnya pada ekor lampion.

“SMACK…DOWN !” seru Gracia dengan lantang.

“BRUK!”

Sambil berteriak, Gracia mengambil ancang-ancang menerjang Erza, mengapit kepalanya dan dijatuhkan ke tanah. Orang-orang yang melihatnya hanya terdiam memandang. Setelahnya, semua tertawa dengan tindakan Gracia barusan.

“Bakar tuh kertas ekornya” ucap Gracia sengit.

“Lah napa ? Bagus gini kok”

“RKO !!!” seru Gracia mengambil langkah kembali.

“Eh iye, stop ! Stop !” cegah Erza dengan cepat. Gracia kembali diam.

“Iye nih gue bakar” ucap Erza sambil menyalakan pemantik korek api ke arah ekor kertas.

“Nah gitu kan jadinya damai” ucap Gracia dengan entengnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

“Meh -_- ” Erza hanya bisa memandang datar.

“Ancur nih rekamannya” ucap salah satu orang atau bisa disebut juga teman Erza dan juga Gracia. Ido.

“Bodo amat lah, rekam aja seadanya” sahut Erza.

Waktu pelepasan Lampion pun tiba. Dimulai dengan hitungan mundur dari 1000 anak ayam tiga, dilanjutkan ditariknya pelatuk pistol. Secara serentak Lampion beterbangan lepas dari pemiliknya menuju langit lepas.

Erza memeluk Gracia dari samping sambil keduanya menatap langit malam bertabur (biji wijen) bintang dan tambahan ratusan Lampion yang ada. Udara dingin mulai menembus kulit. Tapak jelas terasa pada Erza bahwa tubuh Gracia seakan bergetar. Dengan melepas pelukannya dari Gracia, Erza melepas Jaketnya dan memakaikannya pada Gracia.

“Kan udah gue bilang, pake Jaketnya” ucap Erza lembut sambil memakaikannya.

“Maaf” lirih Gracia.

Kini giliran Erza yang tampak gemetar dan dari ekspresi yang ditunjukkan. Erza seperti sedang tak nyaman. Gracia menawarkan jaketnya yang masih tersimpan rapi di tas santainya. Namun, Erza menolak.

“Gue gemetar kaya cacing kepanasan buka karna gue kedinginan” ucap Erza menghentikan langkah Gracia yang akan memakaikan jaketnya.

“Lah terus?”

“Gue pengen ke belakang” ucap Erza kemudian berbalik dan menjauh dari hadapan Gracia.

Gracia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia berpikir, kenapa ia bisa mendapatkan pacar model Erza ?

Setelah menanyakan toilet dimana. Erza telah berada di dalam toilet. Pertama langsung ia buka risleting celananya dan bersiap kencing namun, setelah menunggu beberapa saat kencing yang dinanti tak kunjung keluar. Akhirnya Erza mulai berpikir. Ia khawatir.

“Kenapa kencing gue ga mau keluar ? Apa mungkin masih terlalu sesak ?”

Erza kemudian mencopot seluruh celananya. Masih saja kencingnya tak mau keluar. Lepas dan terus melepaskan hingga akhirnya Erza telah telanjang di dalam toilet, namun hal sama masih saja terjadi. Kencingnya belum kunjung keluar. Hingga ia menyadari akan suatu hal.

“Gue tau kenapa kencing gue ga mau keluar. Gue baru ingat. Gue kesini bukan kebelet kencing makanya ga keluar. Karna gue kesini kebelet boker bego” umpat Erza pada dirinya sendiri.

“Ini lagi, kenapa gue sampai telanjang gini? Kacau nih otak” tambahnya.

Setelah menyadari kebodohannya. Bukan kencing tapi yang lain. Karna dirinya sudah telanjang, Erza langsung berjongkok. Namun… Ada hal yang merasa ganjil kembali di hati nya tapi apa ? Erza memikirkannya.

“Gue kok gini amat ya…” ucap Erza lemah.

“Ngapain gue jongkok coba? Ini kan WC duduk. Pe’a !”

mo1

“Udah?” tanya Gracia sekembalinya Erza dari toilet.

Acara lepas seribu lampion pun tela usai. Kini Erza, Gracia, Willy dan Ido telah berada di dalam salah satu restoran cepat saji. Mereka berniat mengisi perut yang mulai terkuras habis. Dari pesan makanan ini, hingga makanan itu.

Disaat semua pesanan sudah siap. Baik Gracia maupun yang lainnya langsung menyantapnya tapi tak lupa juga sebelumnya telah berdoa terlebih dahulu. Baru beberapa detik tadi suasana resto ramai dengan suara, namun kini semua hening. Hening hanya disebabkan oleh suara ringtone. Erza… Erzalah dalang keheningan yang tercipta. Semua menatap ke arah Erza.

“BIB! BIB! BIB! BIB! BIB! DORA!” suara ringtone hp milik Erza.

“Wuanjir ringtone nya Dora” ucap Willy dengan makanan dimulutnya.

“Matiin woy ! Kita diliatin hampir seluruh pengunjung nih gara-gara ringtone lucknut lu” sambung Ido.

“Iye iye, gue mau matiin ini !”

“Malu-malu’in aja” seru Gracia dan menyantap makanannya kembali.

“Apaan, ringtone lu malah iklan Semprit suara nya Cak Lemper” balas Erza tak mau kalah.

“Ngapain sih pake di video?” sewot Gracia pada Ido dan Willy yang merekamnya menggunakan handycam.

Ido dan Willy hanya tertawa menanggapi.

Makanan sudah berpindah ke dalam perut. Kini saatnya untuk beranjak dari tempat duduk dan pulang menuju rumah. Sebelumnya Erza mengedipkan matanya pada Ido dan juga pada Willy. Namun, respons yang diberikan oleh keduanya membuat kesal.

“Kita dikedipin, do” ucap Willy.

“Maaf ya, kita ga doyan batang” ucap Ido.

“Kampret lu pada”

“Kedipin apa?” tanya Gracia yang mendengarnya.

“Ga. Gapapa” ucap Erza.

“Udah sono. Pulang lah kalian. Pulanglah ke alam kalian”

“Sialan lu, za” ucap Willy namun sambil tertawa.

“Pulang yuk” ajak Erza.

Gracia menggeleng, “kita ke air mancur dulu. Ya cuma buat duduk-duduk ngabisin malam. Lagian baru jam sembilan kan. Masih ada batas waktu sejam dari perjanjian pulang rumah”

“Emang lu ga capek?”

“Ga. Apa jangan-jangan lu yang capek? Masa kalah sama cewe dasar lemah”

“Enak bener kalo ngomong. Se’enak jidat aja lu” ucap Erza tersulut ucapan Gracia.

“Ezzory cnd dlo…” balas Gracia dengan cengengesan dan jari membentuk V.

Ucapan Gracia bagi Erza adalah tusukan benda tajam yang langsung nusuk ke dalam hati. Memang trik yang Gracia gunakan untuk memaksa Erza selalu berhasil dengan cara mengompori nya.

Akhirnya Erza menuruti permintaan Gracia dengan sebelumnya bilang bahwa dirinya bukanlah cowo lemah. Dalam hati Gracia, ia tertawa lepas mendengarnya. Karna jujur bagi Gracia, Erza adalah sosok yang tahan banting kuat, mampu menjaga Gracia.

Duduk bersebelahan dengan tepat didepan mereka sebuah air mancur tak terlalu besar tapi lumayan enak untuk dipandang. Namun malam itu Gracia merasakan ada hal yang disembunyikan oleh Erza terhadapnya. Hal apa ? Dibalik jaket dan baju milik Erza ada apa ? Namun, Gracia dengan cepat menyingkirkan pikiran anehnya itu.

Erza terus terdiam hingga membuat Gracia yang melihatnya menjadi bingung. Gracia sempat berpikir apakah Erza marah atas ucapannya tadi yang mengatakan bahwa ia lemah ? Tapi kayaknya ga. Setau Gracia, selama ini Erza tak pernah marah berlebih hingga diam seperti itu.

“Za?” lirih Gracia. Tak ada jawaban namun, tiba-tiba Erza meletakan kepalanya di bahu Gracia.

Hal yang baru pertama kali Gracia rasakan. Sosok Erza menyandarkan kepalanya pada bahunya. Biasanya hanya Gracia yang melakukan hal itu. Saat itu Gracia, antara kaget, senang, deg-degan dan khawatir bercampur. Entah apa yang ia khawatirkan soal Erza.

“Mungkin ini waktu yang pas buat ngomongin nya” batin Erza.

“Maafin gue gre. Maaf…”

Masih dalam posisinya. Erza mencoba mengungkapkan sesuatu pada Gracia.

“Gre…” panggil Erza.

“Mmm…iya ? Kenapa, za?”

“Gue mau ngomong sesuatu sama lu. Sebenarnya gue pengen ngomong ini dari beberapa hari yang lalu tapi, waktunya aja yang ga tepat dan, malam ini menurut gue waktu yang emang benar-benar pas buat ngomong-Nya ke lu” ucap Erza.

Gracia memandang lekat mata dan wajah Erza.

“Sebelumnya, gue mau minta maaf banget soal apa yang mau gue omongin ini”

Gracia yang mendengarnya semakin membuatnya tak nyaman di waktu dan posisi itu. Antara penasaran dan rasa takut yang mulai datang entah darimana.

“Gre…” Erza memegang kedua tangan Gracia dengan erat.

“Gue mau lu berjanji”

“Janji ? Janji apa?”

Erza mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Ternyata rasa mengganjal di hati Gracia memang benar. Erza menyembunyikan sesuatu dibalik pakaiannya. Namun apa ?

“Berjanji buat buka ini pas hari ulang tahun lu” ucap Erza.

Erza memberikan kotak tak terlalu besar dan juga tak terlalu tebal. Mungkin seukuran satu keping cover DVD dan tiga kali tebal tiga cover DVD. Sebuah kotak dengan warna ungu.

“Ini kotak apa?”

“Saat lu buka pas di hari ulang tahun lu. Lu pasti akan tau sendiri jawabannya”

“Gimana? Janji…”

Erza memberikan jari kelingkingnya sebagai tanda sepakat. Gracia sempat terlihat berpikir dan beberapa kali memandang ke arah Erza namun, pada akhirnya Gracia membalas sambutan jari kelingking Erza walau masih terlihat dari raut wajah Gracia sebuah rasa tak yakin.

“Sekarang lu dah janji. Jadi…jangan pernah lu coba-coba buat ingkari janji lu sendiri”

“Katanya lu mau ngomongin sesuatu sama gue?” ucap Gracia karna rasa penasaran dan tak enak perasaannya.

“Udah siap dengarnya?” tanya Erza memastikan jika Gracia tak bisa menerima tau apa.

“Gue cuma mau mastiin kalo lu bisa terima dengan apa yang mau gue omongin ini”

Kembali, Gracia menatap lekat wajah Erza.

“Gue siap…” ucap Gracia menjawab.

“Dengan risiko yang bakal kamu dapat atas keputusan gue?”

Kembali terdiam, berpikir. Gracia memejamkan matanya beberapa saat dan membukannya kembali. Menarik udara segar dan melepaskannya perlahan dari kantung paru-parunya melewati tenggorokan dan dibuang nya lewat mulut.

“Gue siap dengan semuanya” ucap Gracia.

Erza kembali memegang kedua tangan Gracia. Hal ini lah tang membuat rasa takut pada diri Gracia bertambah besar. Apa yang mau Erza omongin? Kenapa malam ini Erza terlihat menjadi berbeda. Menjadi orang lain? Pikiran Gracia terus berputar mencari jawaban namun tak kunjung ia temukan.

Erza mengalihkan pandangannya ke kanan dan mengambil nafas, “gue…gue mau…”

“Gue mau kita putus gre”

Hanya beberapa kalimat pendek sukses membuat jantung Gracia berasa berhenti dan kemudian berbalik berdetak dengan cepatnya. Kalimat yang sukses membuat air mata mulai terkumpul di kelopak mata Gracia dan siap untuk dijatuhkan ke permukaan kulit pipi.

“Siapa pun, tolong bangunkan aku dari mimpi jelek ini” batin Gracia sesak.

Setiap tarikan nafas berubah seakan berat. Seakan yang Gracia hirup bukanlah lagi sebuah Oksigen seperti biasanya, melainkan sebuah racun.

“Bercanda lu kampungan banget, za. Hahaha” ucap Gracia menganggap hal itu hannyalah gurauan yang Erza buat sambil Gracia tertawa lepas.

“Gua lagi ga bercanda, gre”

Perlahan suara tawaan Gracia memelan dan… Mulai berubah menjadi sebuah tangisan lirih. Menaikan ritme nya menjadi semakin keras, namun Gracia mencoba menahannya sekuat tenaga.

“Hiks…hiks…hi…huuu…huhuuu”

Sebuah suara seperti itu adalah rasa yang paling ia tak sukai. Sebuah tangisan sedih. Sejujurnya, Erza tak mau melakukan hal ini. Mungkin memang berat tapi ini memang harus terjadi.

“Ta…tapi…kenapa?” tanya Gracia bercampur dengan tangisnya.

“Maafin gue, gre”

“Kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu mutusin tanpa sebab yang jelas. Bahkan… Bahkan kamu sendiri tak bisa menjelaskan sebabnya…huuuu…”

Erza terdiam menunduk, “maafin gue gre” ucapnya dalam hati.

“Lu bilang gue harus buka kotak ini pas hari ulang tahun gue? Lu ngasih ini sebagai hadiah dan gue juga dapet bonus. Bonus berakhirnya hubungan kita?” ucap Gracia.

“Ini adalah kado terburuk yang pernah gue dapat. Kado yang ga pernah gue inginkan” Gracia berbicara dengan air mata yang terus mangalir membasahi pipi manisnya.

Sedangkan Erza. Ia tak mampu menatap wajah Gracia. Di hatinya ia tak tega jika harus melihatnya setelah ia berhasil membuat hati Gracia pecah tak karuan.

“Gue pikir lu cowo yang bisa ngertiin gue sebagai ceweknya. Gue pikir lu beda dari yang lain. Cowo emang brengsek. Lu brengsek Erza !”

“Erza jahat!”

“Gue benci Erza!” teriak Gracia sambil memukul-mukul tubuh Erza.

Erza dengan cepat bangkit dan langsung memeluk Gracia dengan erat.

“Gue benci lu, za. Lu jahat…”

“Huhuhuuuuu….”

Ucapan Gracia mulai memelan dan tak seperti tempo tadinya. Kini Gracia menangis kembali di pelukan Erza dengan dirinya membalas pelukan yang Erza berikan.

“Maafin gue gre…”

Cukup lama mereka berpelukan, hingga Erza tak sadar bahwa Gracia kini terlelap tidur didalam pelukannya. Erza sedikit menatap wajah sendu Gracia sehabis menangis. Gracia memeluk Erza dengan erat seperti seorang anak kecil yang tak mau ditinggal oleh Ibu nya.

Tak jauh dari tempat Erza dan Gracia berada. Dari arah kanan keluar dua orang. Mereka adalah Ido bersama dengan Willy sambil menenteng handycam nya masing-masing.

“Lu bawa mobil kan wil?” tanya Erza pada Willy lirih, takut membangunkan Gracia.

Willy mengangguk sambil memberikan kunci mobilnya, “nih…”

“Lu bawa mobil yang mana?”

“Yang itu” sambil menunjuk.

“Mobil pick up terbuka?” ucap Erza.

“Eh, kampret! Masih bisa-bisanya lu bercanda. Cepat bawa Gracia pulang tadi karanya dah pada nunggu dirumah” ucap Willy.

Sesampainya dirumah Gracia pukul.22.21. Erza yang menggendong Gracia dan melihat Ibu Gracia, kak Ve dan yang lainnya menunggu di ruang tamu. Erza memberi isyarat kepada semuannya untuk jangan berisik. Erza membawa Gracia naik ke lantai dua. Tempat dimana kamar Gracia berada.

Meletakan tubuh Gracia dengan lembut, menyelimutinya dan mencium keningnya dengan lembut.

“Maafin gue gre. Di hari ulah tahunmu semua mimpi buruk ini akan berakhir” ucap Erza sambil mengelus lembut rambut hitam milik Gracia.

Erza melepaskan tangan nya dari rambut Gracia. Ia merogoh kantong sakunya mengambil kotak warna ungu yang ia berikan untuk Gracia dan ia letakan diatas meja kecil samping tempat tidur. Erza berjalan keluar dan menutup kembali pintu kamar. Meninggalkan Gracia dalam tidurnya.

Selama dua hari setelah nalam itu. Gracia melakukan aktivitas seperti biasanya, namun ada perubahan tang terjadi pada diri Gracia. Seperti susah diajak buat makan dan lebih sering mengurung diri di kamar setelah pulang sekolah dan berdiam diri di dalamnya.

Gracia terlihat memandang sebuah album foto yang terdapat dirinya bersama Erza. Setiap lembaran foto memiliki kenangan dan kesan tersendiri yang sangat berarti bagi dirinya. Sebuah potret kehidupan yang telah dirangkai sedemikian rupa.

Dengan air mata yang meleleh menghiasi pipi. Air mata kekesalan, penyesalan bercampur . Tak banyak hal yang bisa ia lakukan saat itu. Yang ia bisa lakukan hanya lah berusaha menjalani hidup yang ada tanpa adanya sosok orang yang beberapa tahun ini bersama dengan dirinya. Orang yang sejak lama ia sukai dan ia sayangi.

Kalimat yang paling ia ingat di hari terakhir pertemuannya. Pertemuan terakhir dengan status menjalin hubungan bersama.

”maaf gre, kita…harus putus” sebuah kalimat singkat sukses membuat waktu serasa berhenti dan berada didalam mimpi malam yang menakutkan.

Dengan perasaan tak menentunya. Gracia mengecup foto wajah Erza dan kemudian memeluk album foto tersebut. Setelahnya, ia memutuskan untuk memejamkan matanya. Dalam pikirnya dalam mata yang tertutup. Gracia berpikir, Entah hari esok seperti apa yang akan terjadi. Hari tanpa sosok dia, seorang Erza. Hari dimana ulang tahunnya tiba.

Pagi hari. Tanggal 31 Agustus. Gracia terbangun dari tidur malamnya. Dengan gerakan awal menguap. Gracia melihat ke arah sekeliling kamarnya. Ia mengingat-ingat ada kejadian apa malam itu.

“DEG!”

Ia teringat waktu ia jalan bareng Erza dan…

Air mata Gracia mulai muncul kembali di kelopak matanya. Seakan ingin memastikan. Gracia mengambil hp nya menelepon Erza, namun nomor nya tak aktif. Bahkan akun sosmednya juga tak ada tanda-tanda ada nya aktivitas. Apakah semalam mimpi atau memang nyata? Gracia gelisah sendiri diatas kasurnya.

Tatapan Gracia tertuju pada benda di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Sebuah kotak kecil berwarna ungu terdapat disana.

“Sekarang tanggal berapa?” ucap Gracia sambil melihat kalender

“31 Agustus…”

“Ini hari ulang tahunku”

(Berjanji untuk membuka kotak ini tepat di hari ulang tahunmu)

Ucapan Erza masih terngiang di kepalanya. Hari itu hari ulang tahun Gracia. Gracia mulai membuka isi didalam kotak warna ungu tersebut.

“Satu keping DVD? Ending Story?”

Terdapat juga didalam-Nya selembar surat yang berwarna sama dengan warna kotak, ungu. Gracia membukanya.

*isi surat*

“Hai, bidadari manjaku. Pas lu baca surat ini berarti hari ini lu ulang tahun. Selamat ya…cie udah mau punya KTP dong?”

“Hahaha…” Gracia tertawa membacanya dan melanjutkan kembali membaca isinya.

“Maaf soal malam itu. Jawaban dari semua mimpi buruk ini ada didalam keping DVD yang gue kasih. Udah liat judulnya kan? Walaupun namanya Ending tapi ini bulan sebuah akhir. Gue harap setelah lu nonton video nya, lu bisa maafin gue. Erza”

Dengan cepat Gracia mengambil keping DVD tersebut dan menyalakannya di laptopnya. Dilayar awal video muncul kalimat “Selamat Ulang Tahun Shania Gracia alias Grecot. Semoga apa yang diinginkan bisa tercapai dan……”

Kalimat terhenti dan beberapa detik kedepannya muncul sebuah video.

“Dan maafin gue, Shania Gracia”

Setelah video munculnya Erza meminta maaf. Video-video lainnya mulai muncul. Dimulai Disaat Gracia bermain Volly bersama teman-teman perempuannya hingga wajahnya terkena smash. Video yang memperlihatkan pas Gracia dengan Erza melarikan diri dari sekolah, pesta lampion dan dilanjutkan pada akhir yang menakutkan setelah acara pesta lampion. Semua terekam jelas oleh lensa kamera dan ada yang merekamnya secara diam-diam.

“Ido ! Willy ! Ya, mereka berdua dari hari main Volly itu mereka selalu membawa handycam di tangannya” tebak Gracia.

Gracia kembali fokus pada tayangan video di depannya. Muncul video yang terdapat Ibu nya, kak Ve, Anin, Ido, Willy, bahkan Shani yang notabene nya baru kenal juga ikut serta didalam video. Namun, ada satu yang membuat Gracia fokus, yaitu sosok Erza.

Di dalam video secara serentak mereka mengucapkan selamat ulang tahun untuk Gracia. Gracia mulai mengeluarkan air mata. Rangkaian video pun berhenti. Terdapat kalimat kembali di layar laptopnya. “Buka pintu kamarmu. Sekarang”

Gracia berjalan ke arah pintu kamarnya dan memegang knop pintu. Mulai membukanya secara perlahan dan..

“Ceplok!”

Beberapa telur dan tepung dijatuhkan ke kepala Gracia. Bercampur dengan riuhnya suara dan ucapan selamat ulang tahun yang datang.

“Selamat ulang tahun ya nak” ucap ibu Gracia.

“Selamat ulang tahun dek” ucap kak Ve.

Disusul oleh yang lain juga ikut mengucapkannya. Hingga giliran satu orang yang terlihat muncul dari balik kerumunan. Erza. Gracia diam memandang. Erza terus mendekat hingga posisi mereka berhadapan.

“PLAK!” sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Erza, hingga menimbulkan warna kemerahan dan bunyi yang dihasilkan cukup nyaring di telinga.

Namun, setelah Gracia menamparnya. Gracia memeluk Erza sambil menangis.

“Rencana kejutan yang lu buat pake mutusin gue segala ga keren ! Huhuhuuu…”

“Maafin gue, udah buat lu kaya gini. Tapi jujur Sebenernya gue ga mau lakuin tapi gue dipaksa sama anak-anak, kak ve dan… Ibu mu juga” jelas Erza.

Gracia melepas pelukannya dan menatap ibunya.

“Ah, ibu… Sama putri sendiri jahat banget” rengek Gracia seperti anak kecil minta permen.

“Maaf ya gre. Beberapa hari gue ngikutin lu sama Erza dan gue rekam” ujar Willy.

“Gue juga ya gre” ucap Ido juga.

“Iya, udah. Aku maafin semuanya kok” ucap Gracia tersenyum walau masih ada bekas lelehan air mata di pipinya.

“Gre…” panggil Erza.

Gracia berbalik. Erza memegang kedua tangan Gracia.

“Lu mau kan terima gue jadi pacar lu lagi. Kemaren kan gue dah mutusin lu. Tapi jujur itu bukan keinginan gue” ucap Erza.

“Mmm…gimana ya?” Gracia mengetuk dagunya dengan jari sambil tersenyum.

“Cium dulu tapi” ucap Gracia.

“Belum mukhrim oi !” Sahut Willy.

“Panggil penghulu aja langsung” teriak Anin.

“Teriak si teriak, tapi jangan depan kuping gue juga kali” sewot Ido.

Semua hanya tertawa menanggapinya. Termasuk Gracia yang pagi itu bisa mendapatkan kebahagiaannya lagi. Bisa tersenyum dan tertawa lepas kembali seperti biasanya.

*THE END*

 

(Kaga ada gambar Singa Tom&Jerry. Singanya lagi sakit Mag)

Makasih sudah mau membaca. Alur absurd ? Menipu ? Makanya dah gw bilang sewa pembunuh bayaran buat bunuh authornya :v enjoy. Jas por* pan. Hahaha. Maaf juga kalo masih banyak typo.

Kritik saran diterima dengan baik. Mention Twitter @ShaNjianto

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

Iklan

7 tanggapan untuk “Ending Story

  1. Sumpah Nji, tanggung jawab! Gue ngakak, ketawa-ketiwi sendiri bacanya…. baper juga pas lo bikin Erza putusin Gre, de Bes lahhhh Ending Story- nya….

    Pokoknya lo harus tanggung jawab!!! Kenapa gue ama Ido cuma jadi juru keker doang haa? Wkwkwk canda, abaikan protes barusan 😂

    Di nanti lah karya lainnya 👍👌👌👌

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s