Iridescent Part 18

24526

Hari baru sudah menanti, pagi ini gue baru aja selesai sarapan, masih diatas ranjang di rumah sakit. Shani dan Ve baru saja keluar, katanya mereka mau pulang dulu sih. Hari ini mereka berdua terlihat akur-akur saja menurut gue, tak ada yang aneh dari sikap mereka. Padahal kemarin gue sempat mendengar sedikit ada perdebatan antara mereka, itu kenapa gue minta tolong ke suster untuk memanggil mereka berdua.

Rasanya saat ini gue bosan karena tak ada yang menemani, keluarga gue juga tak kunjung kemari. Kemarin perasaan mereka janji kalau bakal balik kesini. Ah sudahlah jangan terlalu diharapkan, nanti juga bakal datang.

Tok Tok Tok

 

Sebuah ketukan pintu terdengar di telinga gue, pintu terbuka secara perlahan. Kemudian ada seorang memakai hoodie dan dia membelakangi gue, siapa dia? Dari posturnya gue merasa nggak asing deh.

 

“Sorry, siapa ya? Salah masuk kamar atau enggak” tanya gue.

Orang itu masih membelakangi gue, dia tak bergerak dan masih memegang knop pintu. Dan secara tiba-tiba dia berbalik menghadap gue, kemudian membuka tudung hoodie nya.

 

“Sha… Shania?!” Gue kaget dengan kedatangan nya, dari mana dia tau kalau gue ada di rumah sakit.

 

Shania lalu mendekat ke arah gue, kemudian kami saling bertatapan satu sama lain. Gue yang duduk bersandarkan bantal berusaha mendekatinya.

“Kangen” Shania langsung memeluk gue.

“Eh, Shan”

“Kamu gapapa kan, lukanya udah sembuh belum?” tanya dia. Suaranya sudah terdengar sesenggukan.

“Udah Shan, kamu tenang aja… lukanya udah agak baikan kok. Dah jangan nangis lagi” ucap gue menenangkan Shania.

Gue mengusap-usap punggungnya. Dia masih sama kaya Shania yang gue kenal selama ini, badanya kaya genter tapi masih cengeng sama persis kaya bocah.

 

“Kamu kena tembak Verro kan, Wil. Aku tau semuanya….” ucap Shania melepas pelukannya.

“Dari mana kamu tau sih tentang semua ini? Terus kamu kenapa bisa ke Jogja” tanya gue penasaran.

“Yang jelas aku kesini begitu dapat kabar dari Viny, terus aku panik jadi langsung buru-buru berangkat ke Jogja” jawab Shania dengan senyum yang terlihat dipaksakan.

“Nekat banget sih kamu, nanti kalau ada apa-apa kan bahaya tau!” omel gue.

“Ya maaf….” balasnya cemberut sambil mainin kuku.

 

PLAK

 

Tiba-tiba aja Shania menampar gue dengan keras. Gue mengusap bekas tamparan dia, cukup buat bikin pipi gue sakit. Shania sekarang hanya pasang muka garangnya, entah kenapa.

 

“Kok di tampar sih, sakit tau….” ucap gue.

“Kamu sih, tau-tau pacaran sama Kak Ve! Padahal kamu udah tunangan sama Shani” ujar Shania.

“Ya, karna awalnya terpaksa… lagian aku sama Ve udah putus” balas gue.

“Kamu pasti udah lupa sama janji kita berdua, masih ingat nggak?” tanya dia sewot.

 

Gue mencoba mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan oleh Shania. Ah, apa soal malam dimana gue mengantar Shania pulang itu…

 

 

FLASHBACK

 

Kami berdua sudah sampai didepan rumah Shania, gue menghentikan laju mobil. Shania menoleh kearah gue…..

 

“Makasih ya Wil, udah anterin aku pulang. Dan maaf sempat buat kamu kecewa karna aku tolak kamu” ujar Shania.

“Udahlah Shan, gak usah di bahas lagi. Aku juga minta maaf, kemarin sempat marah sama kamu” ucap gue meminta maaf.

 

Mata kami berdua saling bertemu satu sama lain, Shania memejamkan matanya dan mendekat. Gue juga mendekatkan wajah ke Shania, bibir kami saling bersentuhan….

Gue dan Shania berciuman, cukup lama hal itu kami lakukan. Akhirnya kami melepaskan ciuman. Kening gue dan Shania menempel, gue lihat Shania sekilas tersenyum memandang.

 

“Aku sayang kamu” ucapnya.

“Aku juga sayang kamu Shania, tapi….” Gue ragu untuk melanjutkan perkataan barusan.

“Tapi kenapa? Apa karna kamu udah punya Shani, tunangan kamu itu….?” tanya Shania.

“Iya Shan, aku bingung harus gimana” jawab gue.

“Jalani apa adanya aja, kita jalani hubungan yang sekarang terjalin. Aku setia tunggu kamu…” balasnya.

Gue Cuma bisa mengangguk saja. Mendengar kata tunangan barusan membuat gue ingat dengan Shani, yang sudah memiliki ikatan itu.

 

Pasti Shania sedih, karena realita berkata gue sudah terikat dengan cewek lain, tapi mau bagaimana lagi? Itu semua udah terjadi. Hubungan gue dan Shani sudah masuk jenjang yang serius juga, namun di sisi lain gue juga masih memiliki perasaan sayang ke Shania.

Kemudian Shania turun dari mobil gue, dia tersenyum kearah gue sambil melambaikan tangan dari luar sana.

 

“Aku pulang dulu ya, Shan” pamit gue membalas lambaian tangan Shania.

“Iya, hati-hati di jalan yah, Sayang” balas Shania.

Gue hanya tersenyum mendengar itu, kemudian gue melajukan mobil meninggalkan kediaman Shania.

 

FLASHBACK OFF

 

 

Gue ingat sekarang dengan janji apa yang Shania maksud, memang gue saat itu masih memiliki perasaan sayang ke Shania. Tapi kalau sekarang di tanya lagi, gue bingung harus jawab apa ke dia.

 

“Kamu kok diem aja sih….” Shania lalu mengusap-usap pipi gue.

“Aku sebenarnya ingat tentang semua itu, tapi aku bingung harus jawab apa sekarang” ujar gue.

“Yaudah lah, mending sekarang gak usah bahas itu dulu. Oh ya, nanti ada yang mau datang jenguk loh”

“Siapa, Shan?” tanya gue.

“Ada Faruk, Ricky, Kinal, Jeje, sama Budi baper” jawab Shania dengan mimik lucu.

“Serius mereka mau kesini? Wahh, udah lama nggak ketemu sama mereka nih” ujar gue.

“Oh ya, kamu kan kena tembak. Harusnya kamu itu gak boleh banyak gerak tau!” omel Shania.

“Yahh ketauan juga deh, habis capek tiduran mulu Shan… Ini aja baru bisa curi kesempatan duduk” ucap gue ngeles.

“Nanti gak sembuh-sembuh loh, aku aduin ke Mama kamu baru tau rasa” ancam Shania.

“Jangan ngadu dong, please Shania cantik…” Gue memasang muka melas di hadapan Shania, dia malah Cuma merespon dengan senyuman.

“Ih, mulai lagi deh. Udah ah kamu ini jago gombalin cewek. Jangan bikin baper” ujarnya.

“Kamu ini ada-ada aja Shan” balas gue.

 

Pintu kamar rawat gue terbuka tiba-tiba, gue dan Shania menoleh. Tak ada orang satu pun yang muncul, tapi ada suara orang cekikikan terdengar. Mungkin itu para manusia langka yang disebutkan oleh Shania tadi.

Shania malah ikut cekikikan mendengar suara-suara ghaib itu. Dasar, nggak di Jogja atau di Jakarta sama aja… mereka tetap minus aja kelakuannya.

 

“Hey, masuk ke dalam aja deh… daripada ntar gue bangun terus teriakin kalian jambret” ucap gue dengan keras.

 

BRUKKK

 

“Aduhhhhh”

“Hahahhahahaha”

Gue sama Shania langsung ngakak melihat ada satu spesies yang terjatuh, mungkin dia di dorong dari luar. Orang yang jatuh itu adalah Budi baper, dia memegangi bokongnya yang terlihat kesakitan.

 

“Lo ngapain Bud, disini ada sofa. Malah pilih duduk di lantai” Gue terus tertawa melihat dia sedang menderita.

“Ih Budi baper kayanya lagi main seluncuran nih” ujar Shania.

“Kalian ini malah bukan tolong gue, malah pada ketawain… ini punya pacar juga malah ikut ngerjain gue” celoteh Budi.

Lalu beberapa orang masuk, mereka juga nggak bisa menahan tawa melihat si Budi jatuh.

 

“Aduh… maaf nih sayang, aku juga lagi ngidam buat jailin orang nih. Sini aku bantu berdiri” Jeje lalu menarik tangan Budi agar bangkit. Mereka kemudian menghampiri gue dan Shania.

Faruk, Ricky, Kinal, Jeje, dan Budi baper yang datang menjenguk gue, sesuai dengan kata Shania.

 

“Heii, gimana kondisi lo, masih sakit nggak?” tanya Ricky menjabat tangan gue.

“Pernah lebih baik bung. Maklum lahhh, gue baru pertama kali kena tembak pistol” jawab gue tersenyum.

“Ih elo mah lagi serius ditanya malah ngaco mulu” celetuk Kinal.

“Kaya nggak kenal sama orang unik aja” timpal Jeje.

“Eh, pada kemana Wil tunagan sama selir hati lu? Perasaan disini Cuma ada lo sama si Mantan gebetan.” tanya Budi baper.

“Shani sama Ve lagi pulang, nanti juga kesini lagi paling. Kalau dari keluarga gatau kapan datangnya, kemarin sih Kelik, Gaby, Kakak gue bilang mau kesini pagi. Tapi sampai sekarang malah belum pada kesini” jawab gue.

“Gini Wil, kasus lo udah ditangani sama pihak yang berwajib. Verro sama Dendhi sekarang jadi buronan” ujar Faruk.

“Pasti lo minta bantuan sama Kakak tercinta” tebak gue.

“Hahaha, tau aja lo… santai aja lah, gue pastiin mereka bakal ketangkap” balas Faruk.

“Thanks bantuannya, bilang terima kasih juga ke kakak lo” ucap gue.

“Iya, nanti bakal gue sampaikan ke Kakak gue.” Jawab Faruk.

 

Tok Tok Tok

 

“Hai, eh rame banget nih….”

Muncullah beberapa orang dari luar, ternyata mereka adalah Shani, Ve, Gaby, Kelik, Gre, Kak Melody, Viny dan satu lagi Frieska.

“Wah, udah mirip sama demo pegawai pabrik nih” celetuk Kelik.

“Anjay, kita di samain sama gituan” ucap Budi baper.

Mereka lalu menghampiri kami, disini terasa ramai sekali sekarang. Gue sampai bingung mau lihatin mereka satu-satu, gue pusing jadinya.

 

“Ehm, kayanya ada yang lagi bingung nih” ujar Faruk sama Budi.

“Siapa?” tanya Gaby.

“Oh gue tau sekarang, hahaha” Kelik, Faruk dan Budi baper pada cekikikan sambil lihatin gue.

“Perasaan gue nggak enak nih, mungkin gue jadi sasaran mereka” ucap gue malas.

“Wah, udah ada yang merasa” ucap Viny.

“Ada dua mantan gebetan, ada mantan pacar, satu lagi ada tunangan” ujar Ricky.

“Anjir, pake di sebutin segala pula” Gre langsung terlihat menahan tawa.

“Masih kurang Lidya nih” timpal Kak Melody.

“Yaelah Kak, jangan sebut nama dong” ucap gue.

“Willy jangan di gituin tauu, nanti ngambek” omel Shani.

“Tuh pada di omelin tunangannya!” sembur Ve ke teman-teman.

“Pada nggak terima kan kalau Willy kita becandain, hahaha” ujar Budi.

 

Hahahahaha …. mereka tertawa diatas penderitaan orang lain, benar-benar teman yang baik. Terima kasih banget gue.

Shani lalu duduk disamping gue, kami saling menatap. Dia terus senyum-senyum sendiri, gue malah grogi sendiri. Terus gue menoleh kearah Ve, dia menatap gue dengan wajah yang kelihatan sedih.

“Kamu malah lihatin siapa sih?”

“Eh Shani, aku nggak lihat siapa-siapa kok” ucap gue kaget.

“Willy suruh tidur gih Shan, dia semalem ternyata bangun lagi” ujar Kak Ve.

“Oh, jadi semalam kamu bangun lagi” Shani memasang muka galaknya.

“Hehehe, iya Shan…” balas gue nyengir.

“Tidur gih, Wil” perintah Ve.

“Tuh di omelin kan, yaudah tidur aja Wil. Kita gapapa kok, kalau nanti lo bangun, paling kita jalan-jalan keliling Jogja” ucap Faruk.

“Iya deh, gue mau tidur dulu….” balas gue.

Sekarang masih siang sih, sebenarnya gue nggak ngantuk. Tapi apa boleh buat, yang minta Ve ditambah takut di omelin Shani. Gue langsung memejamkan mata, sesaat gue mendengar bisikan. Tapi itu suara dari Shania.

“Mimpi indah yaaa”

 

 

~ 0o0 ~

 

Gue membuka mata perlahan, tak ada suara dari teman-teman yang tadi memenuhi ruangan ini. Gue menoleh ke sekitar, hanya ada Ve yang tertidur di sofa yang tak jauh dari gue. Tak ada orang lain selain gue dan Ve, mungkin teman-teman yang lain sedang berkeliling Jogja.

Huhh, entah kenapa gue tiba-tiba kepikiran sama Shani, Shania, dan Ve secara bersamaan ya…

 

“Ahhhh, bikin pusing aja deh” teriak gue.

“Eh kamu udah bangun sayang… eh maksud aku Wil” ucap Ve.

“Aku dari kemarin ingatnya kita masih pacaran” ujarnya tertawa.

“Maaf soal itu, Ve” balas gue.

“Udah ah, kok malah jadi bahas itu yaa” ucap Ve.

“Jam berapa sih sekarang?” tanya gue.

“Ini udah jam 4 sore tuh” jawabnya menunjuk ke jam dinding.

“Yang lain pada jalan-jalan ya”

“Iya, udah dari tadi” balas Ve.

 

Ceklek, ada seseorang yang masuk ke dalam. Gue terkejut melihat orang itu, dia adalah Verro. Gue langsung berusaha bangkit, Ve yang juga melihat keberadaan Verro juga kaget.

“Mau apa lo kesini!” bentak gue.

“Cuma mau lihat keadaan lo, barangkali udah dekat dengan ajal” ujar Verro tersenyum sinis.

“Jangan macam-macam sama Willy!” teriak Ve.

“Lo jangan ikut campur, Veranda!!!” Verro menarik tangan Ve, kemudian dia menodongkan pistol ke kepala Ve.

“Verro, jangan sakiti dia…!” Gue melepas infus yang menempel ditangan dan berdiri.

Posisi Ve sangat riskan, lehernya dijepit lengan Verro. Gue takut Verro melakukan hal yang lebih nekat lagi.

 

“Wil, tolong!!!” Ve tak bisa menahan tangisnya, dia pasti sangat shock.

“Tenang Verro, gue akan turuti kemauan lo. Tapi tolong jangan libatkan Ve, dia nggak ada kaitannya!” ucap gue.

“Yakin, lo bakal ikuti semua kemauan gue?” tanya Verro.

“Semua bakal gue lakukan, asal lepas Veranda sekarang” balas gue.

“Bagus kalau begitu, yang harus lo lakukan gampang…. putusin Shani, biar lo ngerasain apa yang gue rasakan kemarin!!” ucap Verro tertawa puas.

Gue bingung harus menjawab apa, ini masalahnya sangat rumit. Verro mulai menekan pelatuk, gue makin tertekan. Apa tak ada orang yang lewat sini?! Gue butuh bantuan sekarang ini….

 

“Will….” Ve mentap gue dengan sendu.

“Cepat jawab!!!” teriak Verro.

Gue menatap Verro, terpaksa gue harus jawab. Gue nggak mau Ve kenapa-napa…

 

“Oke, gue akan penuhi kemauan lo!” jawab gue dengan tegas.

“Gue pegang janji lo, kalau lo nggak lakukan hal pertama yang gue minta itu, gue jamin semua orang-orang yang lo sayang bakal terjamin kesalamatannya!” ucap Verro.

Dia lalu melepas Ve, dan mendorongnya ke gue.

“Kamu gak kenapa-napa kan Ve?” tanya gue khawatir.

“Aku takut….” Gue langsung memeluk Ve, dia sangat ketakutan sekali.

“Udah, kamu jangan takut lagi… aku ada disini” ucap gue menenangkannya.

“Saran gue, lebih baik lo jauhi semua orang terdekat lo… itu lebih mudah, jadi gue nggak akan susah-susah buat sakitin mereka” ujar Verro.

“Gue coba ….” balas gue.

 

Setelah itu Verro meninggalkan ruang rawat ini, Ve sedari tadi tak berhenti menangis. Sekarang mungkin gue harus bertemu dengan Mama gue dan Tante Indira, tapi mungkin mereka bakal menolak permintaan gue ini.

Apa gue harus pergi dari kehidupan yang sekarang, dan membangun kehidupan di tempat lain? Ini semua agar orang-orang yang gue sayang nggak di sakiti oleh Verro.

Siapa yang harus gue beritahu tentang hal ini…?

 

“Dek, kok kamu lepasin infusnya?”

Gue menoleh ke samping, ternyata dia Kak Elaine….

“Kakak”

“Veranda kok nangis sih….?! Dia kenapa” tanya Kak Elaine.

“Verro tadi kesini Kak, dia minta aku buat putusin Shani… dan ngejauhin semua orang yang dekat sama aku. Dia bakal sakiti semuanya kalau aku nggak turuti semua kemauannya” ucap gue menceritakan semuanya.

“Ka kamu serius Dek???”

“Aku serius Kak, tadi Verro juga mau tembak Veranda….” ucap gue.

“Aku benar-benar takut Len tadi….” ujar Ve masih menangis.

 

Kami semua masih terdiam, gue benar-benar harus segera buat keputusan…. gue nggak takut semua ancaman Verro, benar-benar serius. Tiba-tiba Hp Kak Elaine berbunyi, kemudian dia menangangkat panggilan itu.

“Halo”

“Apa!!!” Kak Elaine menatap gue, dia tampak terkejut.

“Ada apa Kak?” tanya gue panik.

“Gaby kecelakaan, dia jadi korban tabrak lari….” jawab Kak Elaine.

“Apa?!” Ve langsung melepas pelukan gue, dia juga ikut kaget mendengarnya.

“Verro kayanya gak main-main dengan ucapannya….” ucap gue.

“Kak, bisa bantu aku buat pindah dari Indonesia?” tanya gue.

“Maksudnya kamu mau pindah ke luar negeri gitu?! Kakak gak mau bantu kalau kamu minta pindah ke luar Indonesia!” Kak Elaine tampak marah sekali.

“Aku gak mau yang lain juga di celakai Verro, Kak!” ucap gue dengan keras.

“Sebenarnya aku juga nggak mau, tapi ini pilihan satu-satunya Kak…. tolong bantu aku sekali ini, aku gak mau Shani, dan semua yang aku sayang di sakiti!” tambah gue.

“Aku bakal ikut kamu, kalau mau pindah keluar negeri!” ucap Ve tiba-tiba.

“Setidaknya ada yang awasi dan jagain dia, Elaine” tambah Ve sambil menatap Kak Elaine.

“Kakak bantu, tapi kamu janji harus bisa jaga diri dan jaga Veranda…. Kakak gak akan bilang ke siapa pun, tapi Gaby sama Kelik bakal Kakak kasih tau” balas Kak Elaine.

“Terima kasih Kak, maaf kali ini aku bakal ngerepotin Kakak banget” ucap gue.

Gue lalu menoleh kearah Ve, apa dia yakin bakal ikut gue ke luar negeri. Kali ini Verro menang, tapi saat gue di luar sana setidaknya orang-orang yang gue sayang gak akan di sakiti.

 

“Nanti aku bakal minta batuan orang tua aku, buat rahasiakan semuanya. Lagian aku nggak mungkin ikut kamu tanpa pamit ke mereka” ujar Ve.

“Maaf udah buat kamu terlibat…” ucap gue menyesal.

“Gak apa…. tapi apa kamu yakin mau tinggalin Shani?” tanya Ve.

“Terpaksa” jawab gue.

“Gaby di tabrak sama Verro, Kakak dapat info dari Kelik. Soalnya Frieska kenal sama mobil yang tabrak lari Gaby itu….” ucap Kak Elaine memberitahu.

“Kita mau pindah kemana?” tanya Ve.

“Jepang atau Amerika…..”

 

 

TO BE CONTINUED …..

 

CREATED BY : AUTHORNYA (LINE : MOJO92)

 

Note :

Akhirnya selesai juga part 18 ini, oh ya btw itu bagian Flashbacknya ngambil dr part 6/7 kalau nggak salah dan itu juga agak beda. Soalnya gue kehilangan semua file ff ini, jadinya Cuma ngetik yang gue ingat aja. Semoga aja nggak pada kecewa ….

Next part bakal di usahakan lebih baik. Thank you : )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

12 tanggapan untuk “Iridescent Part 18

      1. Jangan gitu, ntar kalo semisal gue gak dapet peran lagi …. mau makan apa ???? Hahaha
        Btw lo jadi keluarin versi oneshoot Iridescent?

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s