Janjiku Untuk Desy Part 2

“Loh kamu?!”

Alangkah terkejutnya aku dengan apa yang saat ini aku lihat. Orang yang sedari tadi berdiam diri di gerbang kosanku itu adalah seorang gadis yang dulu menolak cintaku sewaktu masih SMA, dia adalah Rona Anggraeni.

Sejak SMA dia adalah salah satu siswi tercantik di sekolah, selain itu dia juga pintar di kelasnya, aku sempat menyukainya. Dia menolakku karena waktu itu di mata dia aku terlihat sangat cupu, kucel, lalu apalagi ya? Ah sudahlah aku malas menyebutkannya. Terlebih lagi saat aku menembaknya, ternyata dia sudah memiliki pacar padahal aku tulus menyukainya. Hal itu sungguh membuatku sakit hati, sampai-sampai aku jatuh sakit dan nggak masuk sekolah selama seminggu.

****

Saat itu di SMA 48 Jakarta tempatku bersekolah, sedang diadakan acara pentas seni. Acara itu diadakan saat malam hari dan banyak siswa-siswa sekolahku yang datang. Banyak acara yang digelar di pentas seni itu, salah satunya adalah kontes menyanyi. Aku tertarik melihat kontes menyanyi itu bukan karena aku suka menyanyi, jujur saja suaraku jelek kalau menyanyi. Melainkan karena yang mengikuti kontes ini adalah siswi-siswi cantik dan bersuara bagus.

Satu persatu siswi yang ikut kontes naik keatas panggung dan menyanyikan lagu andalan mereka. Aku menonton dari bawah panggung sambil memperhatikan para kontestan. Dan tiba saatnya untuk kontestan terakhir. Seorang gadis berparas cantik, berambut panjang dan berpakaian seperti lady rocker, naik keatas panggung. Aku tahu siapa dia, dia Rona Anggraeni. Anak kelas 11 IPS 1, yang menurut teman-teman sekelasnya adalah murid terpintar.

“Wah, cantik banget tuh cewek,” aku kagum dengan kecantikannya. Jantungku berdetak kencang saat melihatnya, sepertinya aku menyukainya.

Rona menyanyikan salah satu lagu dari Nike Ardila. Pantas saja dia berpakaian seperti rocker jaman dulu. Suaranya bagus, nge-rock gitu deh. Aku jadi salut sama dia bisa nyanyi dengan sebagus ini, sampai-sampai penonton yang menonton dibawah panggung bertepuk tangan dengan semangat.

Rona sudah selesai menyanyikan lagu andalannya, dan turun dari panggung. Sesaat dia akan melewatiku, aku mencoba menyapanya.

“Hai Rona.”

Rona berhenti tepat di depanku. Dia menoleh kepadaku dan tersenyum.

“Hai Aryo.”

“Suara kamu bagus banget, belajar dari mana?” aku mencoba berbasa-basi supaya bisa dekat dengannya.

“Wah terimakasih ya, hehe. Aku belajar dari mamahku, kenapa? Mau diajarin juga?”

“Enggak kok. Suaraku jelek gini, bisa-bisa orang pada pingsan dengar aku nyanyi, hehe.”

Rona sedikit tertawa. “Kamu lucu ya.”

 

“Hahaha. Bisa saja kamu.”

 

Baru kali ini aku dikatakan lucu sama cewek. Biasanya cewek-cewek kalau bertemu denganku suka bilang ‘Apa sih garing tau ga?!’ atau kayak gini ‘Dasar jelek!’. Oke, itu penghinaan namanya. Tapi aku mencoba untuk bersabar menerima segala perkataan itu.

 

Setelah pertemuanku dengan Rona saat itu, hubunganku dengan Rona menjadi semakin dekat. Pacaran? Belum. Aku dan dia hanya sebatas teman dekat saja. Aku sering sekali bermain ke rumahnya setiap hari Sabtu, kadang dia juga main ke rumahku untuk main PS denganku. Kalian jangan salah ya, Rona ini jago banget main PS apalagi main Winning Eleven, aku sempat kalah saat melawannya.

 

Lama-kelamaan benih cinta mulai tumbuh dalam hatiku. Aku jadi sangat menyukai Rona, ingin rasanya aku utarakan perasaanku padanya. Namun, aku tidak tahu Rona juga suka padaku atau tidak. Untuk memastikannya aku berencana untuk menyampaikan perasaanku padanya.

 

Aku ajak Rona pergi Puncak yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Tempat yang sangat sejuk nan indah, cocok untuk menyatakan perasaan. Di hamparan kebun teh yang sangat subur itu, aku dan Rona berjalan-jalan sambil menikmati udara sejuk. Aku melihat wajah Rona yang terus menunjukkan senyuman, nampaknya dia menyukai tempat ini.

 

“Tempatnya sejuk sekali ya, sampai kamu terus tersenyum sedari tadi,” aku mencoba membuka percakapan agar tidak membosankan.

 

Rona sedikit terkejut karena aku bicara secara tiba-tiba kepadanya. Nampaknya dia juga sadar kalau aku sedari tadi memperhatikannya, lihat saja dia sampai salah tingkah begitu.

 

“Ah iya, tempatnya sejuk. Adem banget rasanya, hehe,” ucap Rona.

 

“Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kamu ajak aku kesini?” lanjut Rona.

 

Oh iya, aku mengajak dia kesini karena aku ingin menyatakan perasaanku padanya, sekaligus ingin tahu apakah dia juga suka aku atau tidak. Kurasa ini waktu yang tepat untuk melakukannya.

 

“Rona, sebenarnya aku sudah memendam ini sejak pertama kita bertemu saat pentas seni waktu itu.”

 

“Maksudnya?” Rona memiringkan kepalanya pertanda bahwa dia bingung dengan ucapanku.

 

Aku memegang kedua tangan Rona, kemudian menatap mata indahnya. “Sebenarnya aku suka sama kamu. Sejak pertama kita bertemu di pentas seni itu aku sudah menyukaimu. Mau nggak jadi pacarku?”

 

Rona sedikit terkejut. Raut wajah Rona berubah menunjukkan ekspresi kebingungan. Rona melepaskan genggaman tanganku dari tangannya. Oke, perasaanku tidak enak.

 

“Maaf, aku nggak bisa.”

 

Aku seketika terdiam, tidak tahu mau bilang apa lagi. Saat itu juga badanku serasa lemas.

 

“Aku nggak bisa jadi pacar kamu. Aku sekarang sudah punya pacar, namanya Edwin. Aku sudah sayang banget sama dia sejak dulu,” kata Rona.

 

Oke, seluruh badanku menjadi lemas setelah mendengar penjelasan Rona tadi. Terlebih lagi aku juga baru mengetahui kalau dia sudah punya pacar. Tapi kenapa selama kami jadi teman dekat, dia tidak memberitahuku soal itu? Dia sudah berani membohongiku.

 

“Kenapa?” aku tidak tahu harus bagaimana, hatiku serasa benar-benar hancur dibuatnya.

 

Rona sedikit kebingungan mendengar pertanyaanku, namun akhirnya dia menjawab.

 

“Soalnya kamu beda dengan pacarku itu. Kamu nggak keren, nggak ganteng kayak pacar aku. Jujur ya, kamu keliatan cupu banget.”

 

Oke, rasanya aku ingin pingsan saja. Jadi ini alasan Rona menolakku. Dia sudah memiliki pacar tapi tidak memberitahukan padaku lebih dulu. Terlebih lagi yang membuatku sakit hati, adalah karena aku nggak ganteng, nggak keren, terus cupu. Memangnya ada apa dengan itu? Toh memang rupaku begini. Seharusnya dia tidak memandangku hanya dari luarnya saja, tetapi dari dalam juga, dan sekarang aku tidak melihat itu semua dari dalam dirinya.

 

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Rona yang ada di depanku hanya bisa diam, sepertinya dia juga tidak tahu harus bagaimana. Di tempat ini seharusnya aku bisa mendapatkan hati Rona, tapi apa yang aku dapatkan sebuah penolakan yang membuat hatiku hancur. Lebih baik aku pergi dari tempat ini untuk menenangkan diriku sejenak.

 

Semenjak kejadian itu badanku menjadi sangat drop, aku jatuh sakit dan tidak masuk sekolah selama seminggu. Mungkin karena stres. Banyak teman-temanku yang menjengukku, namun aku tidak melihat Rona menjengukku. Aku sempat berfikir apakah ini salahku yang terlalu berharap mendapatkan Rona? Tapi jelas-jelas waktu itu dia membuatku sakit hati. Lebih baik aku melupakannya supaya aku benar-benar pulih kembali menjadi Aryo yang dulu.

 

****

 

Sejak saat itu aku mulai menjauhi Rona, berusaha melupakannya dan berharap agar aku tidak bertemu dengannya lagi. Namun kenyataan berkata lain, aku bertemu kembali dengan orang yang aku harap tidak akan bertemu kembali. Ingin rasanya aku pergi saja dari sini.

 

Dengan nada malas aku bertanya kepada Rona, “Mau ngapain kamu kesini?”

 

Rona senyum-senyum sendiri saat ditanya olehku. Ada apa dengan anak ini? Ditanya malah senyum-senyum. Rona bangkit dari duduknya dan tiba-tiba dia memelukku.

 

“Aku kangen sama kamu Yo,” ucap Rona.

 

Apa aku nggak salah dengar ya? Setelah apa yang dia perbuat terhadapku sewaktu dulu, sekarang dia tiba-tiba datang dan mengatakan ‘kangen’ kepadaku. Oh ayolah, aku tidak mau terjerumus lagi ke jurang yang bernama ‘keterpurukan’. Aku hanya ingin bahagia, lagipula aku sudah memiliki Desy dan aku senang dengan adanya Desy. Tetapi sekarang orang yang dulu sudah membuatku terpuruk datang ke kehidupanku.

 

Oh Tuhan, kenapa Kau memberiku cobaan seperti ini? Aku hanya ingin hidup bahagia bersama Desy. Aku yang mendengar ucapan Rona barusan hanya terdiam, aku tidak tahu harus bilang apa.

 

“Aku baru sadar ternyata yang benar-benar tulus menyukaiku itu adalah kamu, Yo. Maafin aku ya waktu itu aku nolak kamu. Sekarang aku datang kesini buat ketemu kamu, aku sekarang menyukaimu, Yo. Mau kan kamu menerimaku?” Rona semakin mempererat pelukannya terhadapku. Sumpah! Ini pertama kalinya aku ditembak sama cewek. Biasanya aku sebagai cowok yang duluan nembak, bukan cewek yang duluan nembak.

 

Selama ini aku belum pernah bertemu lagi dengan dia, baru sekarang aku bertemu lagi dengan dia dan tiba-tiba dia menyatakan perasaannya padaku. Entah kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal itu, lalu kenapa dia bisa tahu kosan aku padahal dia baru ketemu denganku saat ini? Aku jadi curiga padanya, aku tidak percaya padanya.

 

Tidak mau ada orang lain atau penghuni kosanku melihat Rona sedang memelukku, aku melepaskan pelukan Rona dan berkata kepadanya, “Rona, kita baru ketemu lagi dan tiba-tiba kamu menyatakan perasaanmu padaku setelah apa yang kamu perbuat padaku waktu dulu. Lagian kan kamu udah sama pacar kamu. Maaf aku nggak bisa.”

 

“Kenapa?” seketika wajahnya berubah menjadi sedih. Terlihat dari matanya yang berbinar dan sedikit mengeluarkan air mata. Aku jadi tidak tega melihatnya sedih, tapi mau bagaimana lagi aku tidak mau kejadian buruk di masa lalu terulang kembali.

 

Aku pun berusaha menjelaskan alasanku menolaknya, agar dia mengerti.

 

“Aku sekarang sudah memiliki wanita yang sudah membuatku bahagia. Aku sudah berjanji padanya kalau suatu hari nanti aku akan menikahinya, dan aku akan berjuang untuk itu. Kamu juga seharusnya bahagia dengan pacarmu. Dan kamu juga harusnya berjuang untuk menjaga hubungan kalian.”

 

“Tapi pacarku itu nggak sebaik kamu, Yo,” dia mulai menangis mendengar penjelasanku tadi.

 

“Apa menurutmu aku itu baik buat kamu!?” ucapku dengan nada tinggi.

 

Rona terdiam mendengar omonganku barusan. Dia menunduk pasrah sambil terus menangis. Huftt! Apa yang telah kuperbuat sampai-sampai anak orang dibuat nangis olehku? Aku bingung sekarang harus mengatakan apalagi ke Rona. Jujur saja aku merasa terganggu dengan datangnya Rona yang ingin masuk ke kehidupanku. Jika itu terjadi maka hubunganku dengan Desy bisa terancam kandas ditengah jalan, otomatis aku tidak bisa menepati janjiku padanya. Aku sudah menjelaskan semampuku kenapa aku menolaknya, sekarang aku hanya berharap agar Rona mengerti atas apa yang tadi aku jelaskan padanya.

 

Rona membasuh air matanya yang keluar dengan tangannya, tangisannya kini berhenti. Dia berpikir sejenak, kemudian dia menatapku dengan tatapan sedih.

 

“Baiklah kalau begitu, mending sekarang aku pulang aja,” ucap Rona. Aku hanya terdiam. Dia mengambil tasnya dipojokan pagar kosanku dan bergegas pergi meninggalkan kosanku. Namun, dia balik badan dan mengatakan sesuatu padaku.

 

“Sebelum kamu bisa menepati janjimu pada pacarmu, aku akan terus berusaha mengejarmu, mendapatkanmu walaupun itu sulit bagiku. Aku akan berusaha.”

 

Dia pun pergi meninggalkan kosanku.

 

Seperti terkena sambaran petir. Aku tersentak mendengar ucapan Rona barusan, seketika aku merasa lemas. Entah kenapa ucapan Rona barusan merupakan sebuah ancaman bagiku. Ketakutan mulai menyelimuti diriku. Aku takut, benar-benar merasa takut bahkan melebihi rasa takutku saat bertemu kecoa di kamar mandi. Nampaknya Rona tidak main-main dengan ucapannya barusan, terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam menatap kearahku, dia benar-benar serius.

 

Apa yang harus kulakukan? Aku takut hubunganku dengan Desy kandas gara-gara wanita itu. Kenapa juga dia harus tiba-tiba datang ke kehidupanku? Padahal kan aku sudah terbebas dari dia. Dan sekarang dia seolah-olah ingin memasukkanku kembali ke dalam penjara yang telah dibuatnya.

 

Ketakutanku makin menjadi. Sekarang yang aku pikirkan adalah Desy. Bagaimana dengan Desy nantinya jika ada wanita lain yang ingin merusak hubungan kami? Bisa-bisa dia jadi sangat kecewa padaku.

 

ARGHHH!! Aku bingung, benar-benar bingung.

 

Aku mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kucoba menenangkan diriku, menjernihkan kembali pikiranku dari segala ketakutan dalam diriku secara perlahan. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa melewati semua ini. Aku pun teringat akan janjiku pada Desy.

 

“Jika kamu menerimaku, aku janji aku akan jaga hubungan kita sampai kamu menjadi istriku, kalau perlu sampai mati Des.”

 

Hal itu kujadikan penyemangatku dalam menghadapi cobaan ini. Aku yakin pasti bisa. Aku dan Desy akan berjuang.

 

~To be continued~

 

Created by Martinus Aryo

 

Twitter: @martinus_aryo

Iklan

2 tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s