Zombie Attack, Part 7 : Fighting with old friend

*Di Spanyol*

Dendhi masih terdiam di tempat, ia masih meratapi mayat sahabatnya itu, Michelle hanya menepuk pundak Dendhi pelan dan berulang-ulang, sepertinya ia tahu betapa perih nya kenyataan ini bagi Dendhi. Lalu handphone yang tadinya di pegang oleh Rafles berdering.

Veranda : Raf, aku kehilangan kontak dengan helicopter yang di kirimkan oleh Pemerintah Spanyol

Dendhi : Sorry Ve, but Rafles is gone,  Rafles sudah meninggal.

Veranda : Apaa?? Jangan bercanda, tiga jam yang lalu dia masih hidup

Dendhi : terserah kamu mau percaya atau nggak, tapi berusan aku liat Chris, dan dia yang bunuh rafles dengan cara menyuntikkan Vaksin itu ke tubuhnya Rafles, entah dapet dari mana dia vaksin itu, yang jelas  dalam waktu sekitar lima belas menit, dia udah berubah jadi mahkluk aneh, aku terpaksa nembak dia, kalo nggak aku tembak, posisi ku sama Michelle bisa dalam bahaya.

Veranda : apa posisimu jauh dari mayatnya Rafles?

Dendhi : nggak.

Veranda : kamu bisa nggak kirim foto mayatnya Rafles, aku akan coba analisis virus apa yang menginfeksi dia, tapi sebelum itu bisa nggak kalau aku ngomong sama Michelle.

Dendhi lalu memberikan Hp nya pada Michelle

Veranda : Halo Michelle, kenalin. Aku Veranda. Panggil aku Ve. Aku staff Badan Keamanan Nasional.

Michelle : halo kak Veranda. Nama ku Michelle, aku kangen sama papa, aku pengen nelpon sama papa.

Veranda ; sabar Michelle, papa kamu lagi dalam perjalanan balik ke Jakarta, setelah landing, dan ke sini, pasti kamu bakal di telpon sama papa kamu.

Michelle : makasih kak

Lalu ia memgembalikan Hp itu ke Dendhi

Veranda : Den, singa dalam perjalanan kembali ke kandang (nama samaran untuk Ibu kota negara), setelah nanti singa mendarat di kandang, kita akan menyusun rencana pemyelamatan untuk membantu kamu dan Michelle keluar dari desa itu.

Dendhi : ooh.. oke Ve, aku bakal ngelanjutin perjalanan

Dendhi langsung mematikan panggilan di Hp nya

“ayo lanjut” ajak Dendhi kepada Michelle, yang di balas oleh anggukan pelan oleh Michelle

Mereka berdua berjalan terus menyusuri tanah lapang itu. Dari jauh mereka melihat seperti reruntuhan helicopter, mereka yang penasaran mendekati reruntuhan itu. Michelle hanya menutup mulutnya,

“Seperti nya ini jemputan kita tadi” kata Dendhi.

Mereka kembali meneruskan perjalanan, tak jauh dari reruntuhan ada sebuah pintu, yang ternyata terdapat retina scanner untuk membuka pintu itu.

“Sekarang apa lagi kak?” keluh Michelle kepada Dendhi.

Jujur Dendhi juga tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan, pandangan nya tiba-tiba tertuju pada tulisan kecil di tanah

“Kalo lo emang cowok, gue tunggu lo di rumah gudang penyimpanan desa ini, untuk ke sana, naik aja cable car yang lokasinya nggak jauh dari sini, tertanda, temen lama lo”

 

DENDHI POV

 

Temen lama? Apa ini Chris yang nulis? Kalo gitu sekarang aku tau harus ngapain, ku Tarik tangan Michelle menuju ke station cable car, aku nggak sengaja liat station cable car itu, lokasi nya emang sedikit terjal sih, Michelle juga tadi sempet terpeleset juga, ketika sampai di station itu, suasana nya sepi banget, aku segera mengeluarkan senjata sniperku, aku berusaha mencari musuh, karena ketika nanti di dalam cable car, pasti bakal kerepotan untuk ngurus mereka,

Keyakinan ku membuahkan hasil, ku lihat tiga warga desa berdiri di jarak yang aku taksir, 200 meter, 400 meter, dan 600 meter dari station cable car ku ini,

 

AUTHOR POV

 

*Di Bandara*

 

Suasana bandara pagi itu sangat ramai, wartawan dari berbagai stasiun TV baik local maupun internasional sedang menunggu kedatangan pesawat private jet yang di sewa oleh pemerintah Indonesia, pesawat itu mengangkut Presiden, di dalam ruangan VIP itu terlihat seorang wanita yang sedang gelisah.

“mel, lu ngapain gak tenang?” tanya seseorang

“gimana bisa tenang Lid, singa (nama samaran untuk Presiden masih belum aman posisinya?” sahut seseorang itu

“kan udah di kawal sama empat pesawat tempur milik pemerintah Mel” kata Lidya

“kamu lupa apa? Orang kunjungan presiden itu di kawal sama enam pesawat jet tempur aja masih bisa di serang sama orang, apalagi Cuma empat?” melody menaikkan suara nya satu oktaf. Di tengah perdebatan itu, terlihat sebuah pesawat yang baru saja landing di lapangan pacu, dengan tergesa-gesa dua orang itu keluar dari ruangan VIP menuju ke hangar milik angkatan Udara. Di lihat nya Presiden keluar dari pesawat private jet seseorang menghampiri presiden dan menjabat tangan presiden

“senang melihat anda kembali pak” ujar Panglima TNI.

“senang juga bisa kembali ke sini, saya kira nyawa saya sudah berakhir di Spanyol” Presiden berjalan langsung menuju ke kendaraan yang sudah disiapkan oleh TNI diiringi oleh beberapa menteri, di sana juga terdapat Melody dan Lidya. Mereka semua langsung menuju ke Istana Negara. Sesampainya di sana, Presiden langsung mengadakan rapat tertutup dengan semua staff keamanan Nasional. Melody kini tengah menyampaikan presentasi di depan para hadirin

“pak, Michelle kini sedang diamankan oleh Dendhi dan Rafles, posisi mereka di suatu desa yang bernama El Pueblo, kondisi geografis desa itu lumayan menantang pak, letak desa itu berada di lereng gunung” ujar Melody menyudahi presentasi nya

“hmmm… jadi anak saya bersama dengan Dendhi dan Rafles, dua orang yang bisa di bilang terbaik di bidang pengamanan Presiden” gumam presiden pelan.

“kalau begitu segera bentuk tim yang beranggontakan pasukan-pasukan terbaik yang ada di negeri ini, kita akan memberikan perlawanan. Spanyol sudah mengijinkan tentara kita untuk masuk ke wilayah negaranya, saya sudah berkoordinasi dengan presiden Spanyol sebelum saya berangkat ke Jakarta” perintah Presiden.

 

*Di Kastil*

 

Viny sedang mengendap-endap masuk ke dalam kastil. Handphone nya kembali berdering, dengan malas ia mengangkat panggilan itu

Viny : ada apa to?

Anto : mission Report vin

Viny : aku lagi di dalam kastil, ini kastil sepertinya masih ada kaitannya sama los Illuminados.

Anto : ooh iya, vaksin virus dari gue udah lu simpen kan?

Viny : Vaksin virus? Virus apa To? Kamu nggak ngomong kalo di cargo itu tadi ada vaksin virus.

Anto : viny-viny, lu kok agak bego sih. Ya udah. Lupain aja soal vaksin virus itu tadi. Sekarang lu focus sama sample las Plagas aja.

Viny : ya ud…

Tiba-tiba Viny di Serang oleh mahkluk dengan cakar besi yang panjang, mahkluk itu tidak memiliki mata.

“nyaris aja aku mati di sini” Viny lalu mulai mengeluarkan snipernya, dengan sabar ia menunggu mahkluk itu menunjukkan punggungnya, karena letak kelemahan mahkluk itu berada di punggungnya. Ketika asik membidik, Viny tak menyadari bahwa ada penjaga kastil yang berjalan mendekati nya. Viny lalu di cekik oleh penjaga kastil itu, pandangan Viny mulai kabur, ia mulai pasrah namun tiba-tiba.

DAAAR…

Suara tembakan terdengar, sebuah peluru 9mm sukses menembus kepala penjaga kastil itu, Viny yang tak siap terjatuh.

Hey girls, please introduce, my name is Ramires, I’m a

you’re not a cop, you’re a scientist, you hired by Saddler to make the parasite stronger, I’m not stupid like Dendhi” potong Viny dengan cepat (kau bukan polisi, kau adalah ilmuwan yang di pekerjakan oleh Saddler untuk membuat parasit itu semakin kuat, aku tidak bodoh seperti Dendhi)

“How do you know that? But I’m not working for Saddler again, a long story, but I’m never let him reach his goal” balas Ramires (Bagaimana kau tahu itu? Tapi aku tak bekerja untuk Saddler lagi, ceirtnya panjang, tapi aku tak akan membiarkan ia mencapai tujuannya).

GROOOARRR…

“We talk later, we have kill those thing” balas Viny yang di balas oleh anggukan oleh Ramires,

 

*Di Desa*

 

Suara tembakan menggema di dekat rumah pemotongan hewan, Dendhi berusaha memasuki rumah pemotongan hewan yang di maksud oleh Chris, namun warga desa itu tak membiarkan ia masuk, banyak yang menghadang Dendhi.

“kak, tolong aku” jerit Michelle, warga desa itu berhasil menculik dia di saat Dendhi lengah.

“tak akan pernah kubiarkan” ujar Dendhi yang lalu menembak kepala warga desa itu. Warga desa itu dan Michelle terjatuh, dengan cepat Dendhi menarik tangan Michelle. Dia lalu melemparkan granat kea rah kerumuman warga-warga desa itu, daan

BLAAAAR…

Suara ledakan granat terdengar sangat keras. Ledakan itu membunuh banyak warga desa, tak ada musuh yang berdiri.

“maaf le, aku lengah tadi” ujar Dendhi.

“gak apa-apa kok kak” balas Michelle tersenyum.

“aku bakal masuk, cari tempat sembunyi” perintah Dendhi yang di balas oleh anggukan oleh  Michelle.

DENDHI POV

Aku lalu masuk ke dalam, hanya ada tumpukan jerami di sekitar ku, namun tiba-tiba Chris muncul dari tumpukan jerami dan memukulku dengan sangat keras, dan  pukulan nya sakit banget, sumpah deh, dan sepertinya juga ranselku lepas.

“Den, lo gak akan bisa keluar dari sini, karena gue sendiri yang akan ngebunuh lo”Chris dengan cepat langsung melesat ke arah ku, aku rasa dengan kecepatan secepat itu, dia bukan manusia. Dengan cepat aku menarik pisau ku dari sarangnya, dan mulai menyerang Chris. Aku berhasil melukai lengan kiri Chris, Chris yang menyadari itu langsung sedikit menjauh.

not bad”  kata Chris tersenyum.

Entah sadar atau tidak, tak jauh dari tempat chris berdiri terdapat sebuah drum yang berisi minyak tanah.

“dalam sekali langkah lo bakal mati” kata Chris yang lalu mengeluarkan cakar dari dalam tangannya. My god, itu manusia apa kucing ya. Dengan mata yang merah menyala dia bersiap untuk menyerangku.

“harusnya itu kalimat buat kamu” aku dengan cepat mengambil pistol dan menembak ke arah drum itu.

DAAAR…

Ledakan terjadi setelah aku menembak drum itu, dan menyambar jerami itu, hmmm… perfect, now how could I get out from this place?, dan Chris mulai menampakkan wujud asli nya, dan harus kuakui dia seperti werewolf di dalam cerita-cerita yang sempat aku ceritakan kepada Gre, bahkan aku sempat membuat lukisan nya, namun kali ini dalam versi nyatanya.

Chris langsung berlari ke arahku, dia menyerang ku, aku berhasil menghindar, tapi naas, aku malah terkena ekornya, aku terpental beberapa meter. Untungnya posisi ransel ku kini tak terlalu jauh dari ku. Segera aku berlari dan mengambil ransel ku, ku keluarkan shotgun ku dari dalam ransel itu. Chris berlari ke arah ku. Aku segera membidik shotgun ku, ku arah kan ke kepala Chris yang kini berubah seprti kepala serigala, tanpa berpikir panjang langsung ku tembak, tembakan itu rupanya mengenai kepala Chris, dia langsung terpental ke belakang. Ku keluarkan High Explosion Grenade, ku lemparkan ke arah nya.

DAAAAAR….

GROOOARRR..

Terdengar auman Chris, isi perutnya keluar, aku langsung mendekati dia, dan membidik shotgun ku ke arah jantung Chris.

This is for Rafles” kata ku yang lalu menembak kan shotgun ku ke arah jantung nya. Chris lalu mengaum keras, ku lihat salah satu matanya menggelinding keluar, lalu Chris terbujur kaku. Tadinya sih aku ingin membiarkan bola mata itu, tapi tiba-tiba aku teringat dengan pintu yang berada tak jauh dari stasiun cable car, di pintu itu terdapat sebuah retina scanner, dengan jijik aku mengambil bola mata itu, dan dengan hati-hati menaruhnya di dalam ransel ku. Dan sekarang aku kebingungan.

Karena bangunan ini terbuat dari kayu, seperti nya akan mudah bagiku apabila ku tendang. Aku bergegas mencari bagian kayu yang sudah lapuk, begitu ketemu langsung ku tendang, tendangan pertama gagal, tendangan kedua masih gagal, ketika tendangan ketiga

 

BRAAAAK…

Berhasil, dan kini aku berhasil keluar dari tempat itu.  Aku bergegas mencari Michelle, terakhir kali aku suruh dia bersembunyi, aku tak menemukan dia, awalnya sih aku ingin menjahili dia sedikit, namun kali ini aku harus membatalkan itu. Terpaksa dengan cara lama.

 

AUTHOR POV

 

“Michelle, ini aku. Keluar dari persembunyian mu” kata Dendhi dengan suara agak nyaring. Perempuan yang di panggil Michelle ini keluar dari tempat persembunyian nya, ternyata dia bersembunyi di balik pohon.

“kak Den, are you okay?” tanya Michelle Dendhi hanya membalasnya dengan anggukan pelan. Dendhi lalu mengajak Michelle keluar, kembali ke pintu itu.

10 menit kemudian mereka tiba di depan pintu itu, Dendhi mengeluarkan bola mata itu. Dan sontak ekspresi wajah Michelle berubah.

“kak, itu bola mata siapa?” tanya Michelle

“ini bola mata temen ku yang sudah bunuh Rafles” jawab Dendhi singkat.

Michelle tak tahu harus berbicara apa, terpancar ekspresi ketakutan dari wajahnya ketika ia mengetahui itu, Dendhi yang menangkap perubahan raut wajah dari Michelle itu lalu berkata

“gak usah takut Michelle, aku bakal jagain kamu kayak aku jagain adik aku. Bukan karena tuntutan misi, percayalah aku bakal jagain kamu sampe titik darah penghabisan, sampe jantungku tak lagi berdenyut” kata Dendhi menenangkan Michelle, ia lalu memeluk Michelle. Sontak pipinya memerah dan jantung nya berdegup kencang.

“maaf ya, aku tadi kebawa suasana, biasanya kalo Gre ketakutan atau khawatir, aku selalu peluk dia” kata Dendhi yang lalu tersenyum

“eng…eng.. enggak apa-apa kak” ujar Michelle terbata-bata.

Mereka lalu membuka pintu itu. Tak jauh dari pintu itu terdapat gubuk kecil.

“kak, kita istirahat dulu, ini udah malem, besok pagi kita lanjutin perjalanan” ajak Michelle pada Dendhi

“eh, tapi bukannya sema….” Ujar Dendhi terpotong

“aku gak terima penolakan, aku udah capek kak” kata Michelle

“hmmm.. ya udah deh, ayo” kata Dendhi yang lalu berjalan ke arah gubuk kecil itu, diikuti oleh Michelle.

Ketika mereka ada di dalam, mereka duduk di lantai gubuk kecil itu.

“kak, aku mau tanya sama kakak. Boleh gak??” tanya Michelle

“tanya apa?” balas Dendhi

“kakak dulu alumni SMA mana?” tanya Michelle.

“hmmm… aku alumni dari SMA yang ada di Banyuwangi. Emangnya kamu tau di mana Banyuwangi?” tanya Dendhi

“hmmm… pernah denger kak, papa aku kalo nggak salah dulu pernah ke sana. Kalo nggak salah yang ada pelabuhan Ketapang itu ya?” tebak Michelle

“iya” jawab Dendhi singkat.

“ooh iya, aku boleh nanya nggak nih?” tanya Dendhi

“boleh kok kak” jawab Michelle.

“kamu beneran mau diajarin keyboard?” tanya Dendhi

“iya lah kak, aku dari dulu pengen banget belajar main keyboard, tapi waktu nya nggak sempet, jadwal ku terlalu banyak les-les privat gitu kak” kata Michelle sedih

“semoga aja setelah ini aku di bolehin sama papa aku, kalo kita masih hidup” ujar Michelle sedih, tak di sadari oleh Michelle, air matanya menetes.

“heiii.. jangan ngomong gitu, percaya sama aku, kita bakal keluar dari sini dalam keadaan hidup” kata Dendhi menenangkan Michelle sedangkan Michelle menatap Dendhi dengan tatapan yang tak dapat di artikan oleh Dendhi.

“udah, sekarang tidur aja ya. Udah malem” kata Dendhi. Michelle lalu membelakangi Dendhi. Mereka tak bersuara dalam waktu yang bisa dikatakan lumayan lama.

“kak Den” ujar Michelle, namun tak ada dari Dendhi

Merasa panggilan nya tak di respon oleh Dendhi, Michelle lalu menoleh ke arah Dendhi, di lihatnya Dendhi sedang tertidur pulas. Michelle lalu berbisik pada Dendhi

“tidur yang nyenyak ya kak, kasihan kakak sudah banyak kesusahan demi aku, maaf kalo aku ngerepotin kakak” ujar Michelle yang lalu mencium kening orang yang sedang tertidur lelap, lalu ia menyusul Dendhi ke alam mimpi.

 

To be Continued

 

@Dendhi_yoanda

 

Halo rek, maaf ya baru di update, ada kesibukan di dunia nyata yang gak bisa di tinggalin, dan baru sempet dua minggu yang lalu. Makasih yang sudah nungguin cerita ini, tetep tungguin kelanjutan cerita ini ya. Bagi yang mau ngasih kritik dan saran monggo, saya terima J

Iklan

4 tanggapan untuk “Zombie Attack, Part 7 : Fighting with old friend

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s