Sahabat (story version) part 6

Hanya isakan tangisan yg terdengar dari balik pintu ruang tempat Sinka berada yg tempatnya berada di salah satu ruangan rumah sakit, dan tepat disebelah ruangan Sinka, ada ruangan yg juga dihuni oleh Lidya. Ve memeluk Naomi erat, ia mencoba menenangkan Naomi. Walau hatinya juga ingin ikut menangis melihat kejadian itu. Kejadian yg tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kejadian dimana matanya harus melihat dua orang tergeletak dijalanan. Dan salah satunya adalah adik sahabatnya.

Ia menepuk pelan pundak Naomi yg tak berhenti menangis itu. Ia kemudian melihat kearah Anin yg terlihat terduduk sambil menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia juga bisa mendengar pelan suara tangisan darinya.

Dari kejauhan, Ve bisa melihat ada dua orang yg tak ia kenal. Dua orang pria dan wanita paruh baya. Langkah kakinya yg cepat, membuatnya dengan cepat berada didekat Ve. Ve berharap bahwa itu adalah kedua orang tua dari seseorang yg bernama Lidya. Yg tadi bersama Sinka dan terluka cukup parah. Ve bisa merasakan kini bahwa Naomi perlahan
melepaskan pelukannya.

Naomi terlihat menghapus air matanya yg terus saja mengalir. Ia melihat kearah bajunya Ve yg terlihat basah itu. Ia beralih pada wajahnya Ve. Namun pandangan Ve tak mengarah padanya. Naomi berbalik menatap belakangnya. Ia melihat pria dan wanita paruh baya itu disampingnya. Ia bisa mendengar bagaimana keduanya saling menyalahkan. Mungkin mereka adalah orang tua dari Lidya.

” maaf om, tante…apa kalian orang tua dari Lidya?” Ve memecah keributan diantara kedua orang paruh baya itu.

” iya..sebenarnya apa yg terjadi dengan anak saya?” balas pria yg menyebutnya sebagai papanya Lidya.

Ve menghela nafas panjang. Entah ia harus menjelaskan dari mana. Ia juga tak tau apa yg sebenarnya terjadi. Ve perlahan membuka mulutnya. Entah apa yg akan dikatakannya.

” saya bertanggung jawab atas musibah yg terjadi…” Ve mendongak kearah belakang orang tua dari Lidya. Ia bisa melihat Anin disana.

” nin…itu bukan kesalahan kamu?” timpal Naomi,

” tapi kak?. Aku yg bikin semua jadi kayak gini?” Naomi menggeleng pelan.

” enggak nin…ini salah aku?. Harusnya aku-”

” mi… Kita berdoa buat mereka berdua. Kita bicarakan itu nanti…” potong Ve.

” om, tante… Saya akan pastikan bahwa Lidya akan baik-baik saja… Dan saya siap melakukan apapun untuknya…”. Kedua orang tua Lidya terlihat mengangguk mengerti. Naomi dan Anin menatap Ve kaget.

Naomi terlihat heran memandang Ve. Namun Ve malah tersenyum padanya. Ve itu tidak ada hubungannya dengan musibah ini. Harusnya ia yg bertanggung jawab atas semua ini.

Anin juga terlihat heran akan perkataan dari Ve barusan. Ia yg seharusnya bertanggung jawab. Ia dan Shania lah yg menciptakan situasi ini. Ia dan Shania harus membayar semua itu. Dengan apapun.

Seandainya Lidya ataupun Sinka dalam kondisi yg tak pernah ia inginkan. Ia akan memukuli dirinya saat itu juga. Ia terlalu bodoh untuk percaya pada Shania. Jelas-jelas Shania memanfaatkannya. Seandainya terjadi apa-apa pada mereka berdua, ia siap untuk menghukum dirinya sendiri. Andai saja saat ini ada yg bisa ia lakukan untuk mereka berdua, ia tak akan berpikir dua kali untuk melakukan itu.

Anin mendudukkan kembali tubuhnya di kursi itu. Penyesalannya terasa menusuk, menembus hatinya. Ini lebih sakit dari apa yg ia bayangkan sebelumnya. Beruntung ia tak jadi menusuk Sinka waktu itu. Beruntung Tuhan memberinya petunjuk. Dan ia beruntung Naomi mau memaafkannya. Ia sudah menceritakan semuanya pada Naomi pada saat di mobil tadi. Banyak hal yg salah darinya. Ia menyesal mempercayai Shania. Sangat menyesal. Percaya pada seseorang yg tak seharusnya ia percayai.

Naomi kini menatap kearah ruangan didalam. Rasanya ia ingin menggantikan adiknya itu didalam. Perlahan terdengar suara pintu terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan Sinka dan Lidya hampir secara bersamaan . Naomi dengan cepat menghampiri dokter itu. Begitu juga dengan orang tua dari Lidya.

_O0O_

Shania beberapa kali memukul tembok didepannya. Ia terlalu berlebihan dalam bertindak. Apa yg bisa dilakukannya sekarang, memarahi anak buahnya tadi. Mereka melakukan itu juga karena diperintahnya. Sekarang ia menyesali itu. Yg salah papanya Sinka, bukan Sinka. Kenapa ia tak bisa berfikir kesana. Mamanya juga salah, dan ia harusnya tak melibatkan Sinka dalam masalah ini.

Sekarang ia bisa menyadari kalau tangannya terasa sakit. Ia melihat ujung tangannya yg menyentuh tembok, yg sedikit mengeluarkan cairan berwarna merah. Dan tembok yg awalnya putih, kini sedikit ada bercak merah. Ia tak peduli dengan itu. Yg ia pedulikan, bagaimana kondisi Sinka. Ia terlalu kelewatan kali ini. Ia hanya ingin menakuti Sinka, menghancurkan keluarganya perlahan. Tapi yg terjadi sekarang, ia malah melukai fisiknya. Menyuruh anak buahnya melukainya.

Shania memukul keras tembok itu lagi. Rasa sakit ditangannya seperti tak ia rasakan. Sekarang ia sadar, ia akan disebut sebagai pembunuh. Seorang pembunuh. Dan ia tau, POLISI pasti sedang mencarinya. Shania terlihat menggeleng pelan dan menempelkan telapak tangannya ditembok itu. Ia tak mau disebut pembunuh.

_O0O_

Lidya patah tulang dan dia akan kesulitan untuk berjalan seperti biasa lagi. Itu yg disampaikan dokter. Sekaligus menusuk hati paling dalam dari kedua orang tua Lidya. Anin, Naomi dan Ve juga merasakan hal yg sama ketika mendengar itu.

Siapa yg salah. Pertanyaan dari dalam hati mamanya Lidya. Ia sadar sekarang, ia terlalu mengabaikan putrinya itu. Ia seakan tak peduli, dan sekarang penyesalan itu benar-benar nyata dan terasa sangat sakit. Harusnya ia tak membiarkan Lidya pergi saat malam hari. Harusnya ia mencegahnya. Harusnya ia bisa membuat Lidya betah dirumah. Namun semua telah terjadi dan inilah kenyataannya. Putrinya kehilangan langkah impiannya. Kehilang cara untuk tetap berjalan seperti biasa.

Papa dari Lidya terlihat menunduk. Ia tak kuasa mendengar hal itu. Ia harusnya bertanggung jawab atas putrinya. Harusnya ia yg disana. Karena ia yg membuat putrinya selalu pergi dari rumah. Membuat putrinya selalu tidak betah mendengar ucapan kasar dari mulutnya. Harusnya ia tidak egois, tidak perlu berbicara kasar didepan putrinya. Tak perlu memperbesar masalah. Sekarang semua tinggal penyesalan. Hatinya terasa sangat sakit. Sakit. Ia sudah terlalu jauh dari putrinya sendiri.

Setidaknya mereka beruntung tak kehilangan putrinya itu. Tak kehilangan untuk selamanya. Sekarang putrinya sudah dipindahkan ke ruangan pasien biasa. Walau mereka tau, itu tak membuat semua kembali seperti dulu.

~

Naomi tak berhenti menangis, sesaat setelah Lidya telah dipindahkan. Tapi tidak dengan adiknya. Dokter mengatakan lukanya sangat parah dan dia kehilangan banyak darah. Beruntung memang stok golongan darah untuk Sinka masih cukup dirumah sakit ini. Namun Sinka tak juga membuka matanya.

Terdengar suara langkah kaki cepat dari kejauhan kini jadi pusat mata Naomi. Hanya ekspresi datar saat menatap mereka. Kedua orang tua dari Naomi telah tiba.

” apa yg terjadi dengan adik kamu?. Kenapa kamu tak bisa menjaganya!” itu kalimat sapaan dari papa Naomi untuk Naomi. Naomi hanya menatap papanya itu samar, rasanya mulutnya sulit untuk terbuka,

” pa, udah…kita sedang dirumah sakit sekarang?” mama Naomi terlihat menenangkan suaminya yg terlihat melotot kearah Naomi.

Naomi berdiri dari bangkunya. Ia menghadap kearah papanya. Ve terlihat memegang lengan dari Naomi. Namun Naomi melepaskannya pelan.

” pa…, papa nyadar ga?, siapa yg membawa Sinka dalam bahaya?. Papa sendiri. Apa yg sebenarnya papa lakukan sama tante Natha?. Jawab?” Naomi mengungkapkan apa yg ada didalam hatinya.

Ia menanyakan apa yg harus benar-benar ia tau dari papanya. Ia sudah mendengar tentang papanya dan juga mamanya Shania dari Anin. Anin menceritakan semua yg dia dengar dari percakapan Shania dan Sinka. Dan ia berharap papanya menjawab semua dengan jujur. Papanya terlihat kaget mendengar hal itu.

“Tante Natha siapa?. Dan apa yg kamu maksud?” balas Papa. Naomi tersenyum kecut mendengar itu. Papanya menutupi semua.

” hari kamis. Tanggal 5, bulan kemarin. Jam 10 malam. Papa lupa?. Apa yg papa lakukan dihotel?” tanya Naomi. Papa terlihat mengingat-ingat hari itu.

_O0O_

Shania memandang bulan yg kini menerangi sebagian kamarnya ditengah malam. Jam dindingnya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun matanya tak pernah bisa terpejam. Ia selalu ingat akan kejadian tadi. Perlahan terdengar suara pintu terbuka dikamarnya. Lampu kamarnya memang belum ia matikan dan kini ia bisa melihat sosok mamanya berjalan kearahnya.

” Shania…mama kecewa sama kamu.” ucap sang mama yg kini duduk disebelahnya. Mamanya sudah tau jika putrinya itu melakukan tidakan kejahatan. Ia tau dari anak buahnya Shania yg tadi tak sengaja bertemu dengannya.

” tapi mama mengaku salah?. Kamu jadi seperti ini karena mama yg egois. Tapi mama cuman mau bilang. Apa yg kamu lihat itu, tak seperti yg ada dipikiran kamu?” Shania menoleh, seakan ingin minta penjelasan lebih jauh.

” mama dihotel itu dengan rekan kerja mama. Dan di hotel pun itu tak se kamar. Mama tau, mama membuat kamu jadi khawatir?, tapi mama mau jujur, mama ga pernah selingkuh dari papa kamu. Dan mama ga pernah mau kamu pergi…”.

Hati Shania bergetar hebat. Mulutnya seperti tekunci. Ia melakukan kesalahan besar. Ia merasa sangat bodoh. Ia tak pernah berfikir untuk melihat kesana. Yg ia tinggikan hanya pandangan matanya. Harusnya ia mendengarkan penjelasan mamanya dulu. Sekarang tindakannya benar-benar salah.

” setiap tindakan yg didasari emosi, akan berakibat buruk pada akhirnya. Mama tau ini berat buat kamu?. Tapi kamu anak mama, anak kebanggaan mama. Dan mama yakin, kamu siap mempertanggung jawabkan semua itu…” kata mama pelan diiringi pelukan untuk putrinya itu.

Shania menangis kencang dipelukan mamanya. Ia sangat menyesal sekarang. Tapi setiap tindakan yg ia lakukan, ia harus siap dengan konsekuensinya. Dan ia siap untuk dibenci semua orang atas tindakannya.

Hanya suara mobil dari POLISI yg kini ikut mengantarkan Shania menuju kantor POLISI. Ia merasa memang pantas mendapatkan tempat dibalik jeruji besi. Rasanya itu tak lebih buruk daripada dibenci semua orang. Mendengar semua orang akan menyebutnya sebagai tukang kriminal. Itu sangat buruk.

_O0O_

Naomi merasa Shania salah mengerti. Salah dalam menterjemahkan apa yg ia lihat. Ia ingin sekali memukul Shania saat ini. Tapi ia harus mengurungkan niatnya itu, saat ia tau bahwa Shania telah tertangkap. Itu sedikit lebih baik. Walau ia tau, itu tak akan mengembalikkan semua keawal lagi.

Matahari senja kini telah tiba. Memaksa Naomi harus membuka kedua matanya yg masih terasa berat itu. Ia juga melihat Ve disana yg masih tertidur pulas dilantai yg hanya beralaskan karpet tipis itu. Ia bisa mendengar pelan dengkuran pelan dari mulutnya Ve yg sedikit menganga itu. Ia kasihan melihat Ve seperti itu. Ve tak seharusnya berada disini, ikut menunggu adiknya. Ve harusnya beristirahat dirumah. Perlahan Naomi mendudukkan tubuhnya. Ia tau Sinka memang sudah dipindah ke kamar pasien biasa. Namun Sinka belum bisa diajak bicara. Tubuhnya masih terlihat sangat lemah.

Naomi kini bisa melihat adiknya yg masih terbaring lemah didepan matanya. Ia juga bisa mendengar Ve yg menguap, dan terdengar suara karpet yg dia lipat itu. Perlahan terdengar langkahnya Ve mendekat kearahnya. Naomi menoleh kearah Ve. Naomi bisa melihat kini kantung matanya Ve yg terlihat hitam itu.

” Ve, kamu pulang dulu aja?. Kasian kan orang tua kamu?” ucap Naomi.

Ia seperti tak tega melihat kondisi dari Ve itu. Dan ia juga yakin Ve tak meminta ijin pada orang tuanya, karena sejak kemarin ia tak melihat Ve memegang handphone.

” tapi kan-”

”  Ve, kamu juga butuh istirahat?” potong Naomi. Ve terlihat mengangguk terpaksa.

Ve sebenarnya juga masih ingin menemani Naomi. Namun apa yg didengarnya barusan ada benarnya juga. Ia bahkan belum memberitahukan keberadaannya pada kedua orang tuanya. Dan ia yakin orang tuanya pasti khawatir.

_O0O_

Beby langsung dengan cepat menuju rumah sakit tempat Lidya dirawat. Ia bahkan bolos sekolah, ia tak peduli akan tatapan orang yg melihatnya keluyuran di jam sekolah dan masih menggunakan seragam sekolah. Baginya Lidya jauh lebih penting. Ia sudah diberi tau oleh Naomi tadi malam. Sebenarnya Beby ingin langsung ke rumah sakit tadi malam. Namun kedua orang tuanya tak memberi ijin. Ia mencoba mengerti alasan kedua orang tuanya. Siapa yg tega melihat putrinya pergi keluar tengah malam.

Beby kini telah sampai di kamar pasien Lidya. Ia bisa melihat Lidya menatapnya, lalu tersenyum. Beby ingin menitihkan air mata ketika melihat kondisi sahabatnya seperti itu. Di balut perban di beberapa anggota tubuhnya. Dan kakinya seperti digantung keatas. Namun ia harus tegar. Ia tau Lidya tak ingin melihatnya sedih. Perlahan langkah kakinya mendekat kearah Lidya.

” gue gakpapa?. Cuman keseleo doang?” ucap Lidya yg masih terpatah-patah itu. Ia bisa membaca apa yg pastinya akan ditanyakan Beby padanya. Keseleo. Itu jelas terlihat bohong.

” lid?. Sebenarnya apa yg terjadi?” tanya Beby. Lidya hanya menggerakkan pelan kepalanya, tanda ia juga tak tau. Atau ia tak mau menjelaskan.

” gue cuman kehilangan cara untuk berjalan…” kata Lidya memecahkan raut kebingunan pada wajah Beby.

” tapi lo tenang aja?. Gue kan masih punya lo buat nuntun gue…” lanjut Lidya sambil tersenyum. Beby tak bisa berkata-kata apalagi.

Sedih. Senang. Ia tak tau. Ia senang saat mendengar Lidya mengatakan hal itu. Tapi sedihnya, kenapa ia baru menyadari sekarang. Harusnya sejak dulu ia bisa memegang tangan Lidya. Harusnya.

Terdengar suara pintu yg terbuka dikamar Lidya. Beby menoleh dan mendapati Naomi disana. Berjalan kearahnya. Lidya juga menyadari hal itu. Ia malu saat bertatap muka dengan Naomi. Karena Ia merasa gagal menjaga adiknya Naomi itu.

” Lid…aku minta maaf. Harusnya aku ga perlu suruh kamu buat jagain Sinka, harusnya aku sendiri yg melakukannya…” kata Naomi. Ia berdiri tepat disamping Beby.

” kak…gue yg salah. Gue emang ga bisa diandelin.” balas Lidya. Beby hanya terlihat sebagai pendengar. Ia tak ikut berkomentar.

” Lid..aku udah banyak berterima kasih sama kamu. Kamu kayak gini karena aku…karena kesalahan kakak?”,

” kak Naomi?. Setiap tindakan memang harus siap menerima konsekuensinya. Dulu gue yg membuat Sinka kehilangan sahabatnya. Gue yg membuatnya sesaat kehilangan arah. Dan sekarang, apa yg gue lakuin belum seberapa dengan kesalahan yg gue lakuin dulu?”.

Naomi bungkam. Ia mencoba menahan setiap tetes air mata yg seakan ingin mengalir dengan sendirinya. Rasanya Lidya terlalu menyalahkan dirinya sendiri.

” Lid. Aku minta maaf?” seseorang dari balik Naomi kini jadi pusat perhatian diantara ketiganya.

” Anin…” ucap Lidya. Ia terlihat kaget. Begitu pula dengan Beby.

” lo mau apa lagi!” geram Beby. Ia mendekat kearah Anin. Namun ia ditahan oleh Naomi.

” tenang dulu…” pinta Naomi. Ia memegang lengan Beby.

” Nin…gue emang benci sama lo?. Tapi ga ada alasan kenapa gue ga bisa maafin lo. Lo yg udah bikin Sinka balik lagi kayak dulu dan itu alasan gue maafin lo. Dan satu lagi?, lo harus minta maaf sama seseorang?” Lidya terdengar berbicara cukup panjang. Dan cukup untuk menarik perhatian Anin.

” aku tau siapa orangnya.”

” lakukan sekarang. Gue ga mau, lo jadi kayak gue.”.

Perlahan langkah Anin meninggalkan tempat itu. Dan Anin tau mana yg akan ia tuju. Ayana. Ia memiliki kesalahan dengan orang itu. Namun saat langkahnya keluar dari rumah sakit. Ia melihatnya. Melihat orang yg ia cari.

” Ayana…” orang itu terlihat menoleh kearah Anin. Anin berjalan menghampirinya.

” ngapain lo disini?” kata Ayana seusai Anin berada didekatnya.

” aku mau minta maaf sama kamu. Aku tau tindakanku itu kelewatan…?”

” lo ga perlu minta maaf. Itu memang kenyataannya. Awalnya gue juga malu saat anak-anak ngatain gue. Tapi gue sadar itu memang kenyataan. Dan gue siap buat dibenci karena Ayah gue…” jelas Ayana. Raut kaget tergambar jelas dari wajah Anin.

” lo tau kamar pasien Lidya?” lanjut Ayana. Anin mengangguk cepat. Mereka berdua pun menuju kamar pasien Lidya.

~

Hanya Beby yg masih terlihat duduk didekat Lidya. Ayana membuka pelan pintu itu. Ia bisa melihat Beby dan Lidya yg menatapnya tersenyum. Beruntung Beby masih mempedulikannya, karena Beby memberitahukan padanya kalau Lidya berada dirumah sakit saat tadi dikelas. Ayana teringat saat ia mengusir Lidya dari rumahnya. Ia ingat saat itu. Ia merasa sangat bersalah akan hal itu. Ia harusnya bisa mendengar penjelasan Lidya dulu dan bukan dari teman sekelasnya yg lain. Ia menghela nafas panjang. Ia tak tau apa yg harus dikatakannya.

” ay…maafin gue ya?” Ayana menatap kearah Lidya yg masih terbaring lemah itu. Sangat lemah.

” enggak Lid, gue yg salah?. Gue harusnya dengerin lo dulu…” balas Ayana. Ia mendekat kearah Lidya dan berdiri disamping Beby.

” sekarang ga ada lagi yg salah…karena kita bertiga adalah sahabat. Sahabat yg selalu akan saling memahami. Dari sekarang dan untuk selamanya…” timpal Beby. Lidya hanya tersenyum dibalik wajah pucatnya. Kini Beby bisa merasakan kalau Ayana memeluknya. Beby tersenyum.

Anin hanya diam memandangi mereka bertiga. Rasanya ia benar-benar iri dengan Lidya. Namun ia beruntung, ia masih punya kesempatan untuk menyadari semua. Perlahan Anin membalikkan tubuhnya. Ia berjalan keluar dari ruangan itu. Dan kini bertatap muka dengan orang tua dari Lidya yg akan masuk keruangan itu. Anin hanya tersenyum memandangi mereka. Kini langkahnya menuju luar rumah sakit. Ia ingin pulang. Tidak ada lagi alasan kenapa ia disini. Ia tak bisa melakukan apapun.

Ia tidak dibutuhkan disini. Perlahan langkah kakinya menunutun menuju pintu keluar. Dan hanya para suster yg terlihat lewat kesana kemari didepannya.

~

Naomi terus memandangi adiknya yg belum membuka mata itu. Ia memegang tangan adiknya itu. Baru terasa sejenak kebahagiaan yg ia rasakan bersama adiknya itu. Tapi sekarang kesedihan harus menghampirinya kembali. Papa dan mamanya juga sudah ada disini bersamanya. Ia ingin melihat adiknya itu tersenyum kearahnya. Ia ingin itu sekarang. Papa dan mamanya pulang untuk mengambil beberapa pakaian ganti. Naomi tau mereka semalam langsung ke rumah sakit tanpa pulang terlebih dahulu.

Hanya suara pintu itu yg ditutup oleh kedua orangtuanya yg kini menemani Naomi dalam kesunyian. Menatap adiknya yg masih belum membuka kedua matanya. Perlahan sudut matanya Naomi keluar butiran bening. Ia tak bisa melihat adiknya seperti ini. Namun seketika raut kaget terpancar dari wajah Naomi. Telapak tangan Sinka yg tadi ia pegang. Kini terasa bergerak. Ia melihat itu. Tangannya perlahan bergerak bersamaan dengan mata Sinka yg terbuka sedikit. Naomi dengan cepat menghubungi dokter. Berharap bahwa Sinka akan segera sembuh.

Kini Naomi melihat dokter itu memeriksa adiknya. Dan ada raut bahagia, ketika dokter itu mengatakan Sinka akan segera sembuh.

Naomi tak berhenti menatap adiknya itu. Ia tak henti-hentinya memancarkan kebahagiaan.

” kak…aku dimana?” suara Sinka terdengar sangat lirih. Namun Naomi masih bisa mendengarnya,

” kamu akan baik-baik saja.” balas Naomi. Ia sedikit menghapus air matanya yg seakan ingin keluar dengan sendirinya,

” kenapa kakak nangis?” Sinka menyadari jika sudut mata kakaknya itu mengeluarkan butiran bening. Naomi hanya menggeleng pelan. Membohongiadiknya itu. Walaupun ia tau Sinka tak akan bisa dibohongi.

” kak…Lidya dimana?. Anter aku ketemu sama dia…”

” Lidya masih sakit. Jadi ga bisa diganggu…” balas Naomi. Ia tak ingin melihat adiknya memaksakan diri untuk menemui Lidya. Ia tak ingin Sinka malah semakin parah kondisinya.

” kalau kamu mau ketemu dia?. Kamu harus janji dulu, kamu harus sembuh…” Sinka terlihat tersenyum pada kakaknya. Walaupun ia masih merasa sedikit sakit dibagian punggungnya. Namun sakit itu seakan pudar ketika melihat kakaknya disisinya. Namun, ia juga tak bisa membohongi sakit dihatinya, sakit saat tidak bisa melihat kondisi Lidya.

_O0O_

Anin berada di bukit yg dulu selalu ia datangi saat dan sebelumbertemu Sinka. Namun saat ia bersama Sinka rasanya memang terasa lebih nyaman saat berada disini. Matahari senja itu kini yg masih setia menemaninya. Ia duduk menatap matahari senja. Berharap bahwa matahari itu selalu setia menemaninya. Walau ia sadar, itu tak mungkin, karena matahari itu kini semakin menghilang dari pandangannya. Ia sudah pasti yakin, saat Sinka sadar, ia akan jadi salah satu orang yg dibencinya.

Ia siap akan hal itu. Ia juga sadar telah melakukan kesalahan besar padanya. Dan sekarang ia akan kehilangan sosok orang pertama yg menyebutnya sebagai sahabat. Sahabat, yah sahabat pertama dan mungkin yg terakhir. Entah ia akan mendapat panggilan itu dari siapa lagi setelahnya. Ia tak percaya akan ada yg mau mengatakannya lagi.

Hembusan angin lembut kini menerpanya. Langit orange yg kini dihadapannya mulai berubah menjadi gelap. Ia memejamkan mata berharap  ini adalah angin yg membawanya jauh dari Sinka. Ia malu jika harus bertatap muka padanya. Sangat malu.

Kini terdengar suara langkah kakinya, yg menemaninya menuruni bukit itu. Hari sudah semakin gelap. Ia baru menyadari jika ia tak membawa kendaraan. Langkahnya yg pelan memaksanya harus berjalan menuju rumah. Ia berharap bahwa sang bulan mau menemani langkah kakinya. Tapi sepertinya awan hitam itu menutupinya. Tak ada yg menemaninya, tak ada yg meneranginya. Jalannya terasa sangat gelap. Hanya lampu dari layar smartphonenya itu yg sedikit memberikan cahaya untuknya.

_O0O_

Sudah satu minggu setelah kejadian itu. Lidya dan Sinka sudah cukup baik kondisinya. Sinka sudah kembali bersekolah. Namun tidak bagi Lidya, ia masih kesulitan untuk berdiri. Ia hanya menggunakan kursi roda dan terkadang dibantu oleh mamanya. Terkadang juga Beby dan Ayana.

Sinka duduk dibangku kelas. Ia menyadari tak ada lagi Anin disampingnya. Anin sudah pindah sekolah dari beberapa hari lalu, itu yg dikatakan teman sekelasnya. Ia merasa kehilangan saat ini. Ia ingat saat Anin memotong tali yg mengikatnya waktu itu. Ia sangat berterimakasih padanya. Tapi ia belum sempat mengatakannya.

***

” lakukan sekarang nin. Aku siap…” ucap Sinka. Ia terlihat pasrah seandainya pisau ditangan Anin itu menembus punggungnya. Ia memejamkan mata.

Yg terdengar kini malah gesekan pisau pada tali yg mengikat tangannya. Ia sedikit kaget saat tangannya itu terlepas dari ikatan tali.

” aku tak bisa melakukan itu. Pergilah?” kata Anin. Sinka masih menatap heran Anin. Tapi Anin tersenyum kearahnya.

” apa yg kamu lakukan nin!” teriak Shania yg kini melangkah cepat kearah Sinka yg masih mematung.

” sekarang…!” Anin membentak pada Sinka. Sinka langsung berlari kencang keluar dari tempat itu.

Ia bisa mendengar bahwa Shania menyuruh bawahannya untuk mengejarnya.

***

Ia ingat akan hal itu dan mungkin akan selalu mengingatnya.

Sekarang bangku sampingnya terasa sepi lagi. Viny, Anin, mereka telah pergi. Entah siapa yg mau mengisi bangku itu lagi. Bangku yg selalu meninggalkan kenangan baginya.

~

Langkah kakinya kini membawanya menuju kamar Lidya. Bersama mama Lidya, Beby, Ayana, Naomi dan Ve. Mereka semua juga ingin melihat kondisi dari Lidya.

Sinka yg pertama masuk setelah pintu itu dibukakan oleh mamanya Lidya. Ini pertama kali Sinka melihat kondisi dari Lidya langsung. Sebelumnya ia hanya tau dari kakaknya. Sinka tak berhenti melihat kearah Lidya. Begitupun Lidya yg terus menatapnya heran. Sinka perlahan mendekat kearah Lidya yg berdiri menggunakan tongkat itu.

” dari dulu gue pingin banget bisa mukul lo…” itu kalimat sapaan yg Sinka lontarkan untuk Lidya. Semua orang dibelakangnya hanya diam. Lidya malah tersenyum.

” dan lo bisa mukul gue sekarang…” balas Lidya. Sinka mengepalkan telapak tangannya. Lidya memberi isyarat agar tak ada yg ikut campur.

Perlahan Sinka mengangkat tangannya. Ia mengarahkan kewajah Lidya. Ia hanya menempelkan telapak tangannya dipipi Lidya. Ia tak memukulnya.

” dan gue selalu ga bisa buat ngelakuin itu…” kini Sinka malah memeluk Lidya. Lidya terlihat tersenyum.

” gue pikir lo bakal mukul Lidya beneran?” ucap Beby dan terdengar helaan nafas darinya.

~

Sekarang Sinka mendorong kursi roda Lidya. Membawa Lidya keluar rumah dan meninggalkan mereka semua tetap dirumah Lidya.

” lo selalu bisa bikin gue marah…” ucap Sinka. Hanya tawa kecil dari Lidya yg membalas itu.

” lo beneran ga bisa jalan?” sambung Sinka,

” mungkin iya. Kaki gue patah satu…gara-gara lo nih?” Sinka hanya memukul pelan kepala Lidya.

” sakit tau…” balas Lidya. Sinka malah tersenyum menatap rambut Lidya. Sinka menghentikan laju kursi roda yg ia dorong. Kemudian ia beralih kedepan. Jongkok didepan Lidya.

” gue siap jadi kaki lo, buat bantu lo melangkah. Dan tangan gue ini dari sekarang akan terus menuntun lo menuju impian lo. Gue ga mau lo kehilangan impian lo, kayak waktu itu…” ucap Sinka masih menatap bola mata Lidya. Lidya tersenyum,

” dan gue ga mau…” balas Lidya. Sinka yg tadi terlihat tersenyum kini malah cemberut mendengar jawaban Lidya.

” ga mau kehilangan orang yg mau menuntun gue…” sambung Lidya. Sinka memukul pelan kembali kepala Lidya.

” aduh…sakit tau?” keluh Lidya. Sinka malah senyum senang mendengar keluh dari Lidya itu.

***

Saat kakimu tak bisa untuk melangkah, aku siap memapahmu. Saat matamu tak mampu melihat lagi, aku akan menuntunmu. Saat kegelapan menyelimutimu, aku akan berusaha menerangimu. Saat kamu merasa sendirian, aku akan berada disampingmu dan mengatakan aku disini, selalu disini. Saat kamu terjatuh, aku akan ulurkan tanganku untuk menjadi pegangan saat kamu berdiri. Saat kamu menangis aku akan berikan telapak tangan ini, untuk menghapus air matamu. Dan saat kamu merasa lelah, aku akan pinjamkan pundakku untukmu bersandar.

Sahabat kata yg sangat sederhana. Namun tak sesederhana maknanya. Sederhana yg berarti luar biasa. Sederhana yg tak berarti kita mudah mendapatkannya.

Terimakasih Sahabat.

#######

END

#######

@sigitartetaVRA

Yeay…sudah di ending rupanya. Gimana?. Masih banyak pertanyaan
pasti?. Ngegantung banget atau terlalu monoton ceritanya?. Atau malah
ga jelas?.

Pokoknya makasih buat yg udah mau membaca cerita dari imajinasi saya ini. 🙂

Silahkan kritik dan sarannya…

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

nitip link thor… 😀
https://karyaotakgue.com/announcement/

Iklan

2 tanggapan untuk “Sahabat (story version) part 6

  1. anin seharusnya dia bisa di terima juga di dalam persahabatan sinka lidya dia juga sendirian soalnya kan kasihan 😥

    tapi fillnya dah dapat kok

    awak terhura

    Suka

  2. mungkin Sinka sama Lidya ga di takdirkan buat jadi sahabatnya Anin. mungkin nanti ada orang lain yg mau menjadi sahabatnya.

    siapa tau di next fanfict?.

    makasih, anda satu-satunya yg selalu meninggalkan jejak di fanfict ini…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s