Remember

Secangkir kopi dengan sedikit gula mengawali hari ini, ku pikir dengan meminumnya dapat menghilangkan rasa kantuk. Tapi aku salah, pada kenyataannya ini tidak berpengaruh sama sekali. Lalu kulihat jam yang ada di tangan telah menunjukan pukul 6:48. Saat nya aku berangkat, walaupun langit terlihat tidak bersahabat karena ditutupi oleh awan mendung.Setelah berjalan sekitar 5 menit aku pun sampai di halte. Tidak lama aku menunggu bis pun tiba, dan kursi belakang dekat pintu menjadi tempat favorit bagiku. Perjalanan menuju kampus memakan waktu sekitar 20 menit. Dan ketika aku hendak turun, seorang perempuan menjatuhkan buku yang ia bawa. Melihat itu Aku pun langsung mengambil buku tersebut dan berniat mengembalikannya. Tapi, niat itu aku urungkan karena perempuan tadi telah menghilang entah kemana.

Jadwal hari ini adalah kelas B.inggris, dan aku langsung berjalan menuju ke ruangan yang biasa di pakai. Sesampainya disana ruangan telah dipenuhi oleh teman-teman ku dan beberapa mahasiswa program study lain, sepertinya hari ini bukan hari keberuntungan ku karena saat kulihat sekeliling ruangan hanya ada satu bangku kosong yaitu tepat di depan meja dosen. Mahasiswa yang duduk disini biasanya menjadi sasaran dosen ketika ada pertanyaan, hmm… memikirkannya saja sudah membuat ku pusing. Tidak lama dari itu dosen pun datang, dan langsung meminta tugas minggu lalu yang baru aku kerjakan semalam. Seperti biasa aku selalu mengerjakan tugas tepat sehari sebelum tugas itu di kumpul. Setelah dikumpul dia langsung memeriksa tugas yang kami kerjakan. sementara kami, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saat aku sedang asik bermain hp, tiba-tiba dia memanggil nama seorang mahasiswi.

“Shani, dimana tugas kamu?” Seluruh orang di dalam kelas langsung melihat ke arahnya dan tak kusangka dia adalah perempuan yang menjatuhkan bukunya tadi.

“jangan-jangan buku yang dia jatuhkan tadi…” tidak butuh waktu lama aku langsung sadar kalau buku yang ia jatuhkan tadi pasti adalah buku yang berisi tugas B.inggrisnya.

“anu pak…” belum sempat dia menyelesaikan perkataannya, aku langusng berjalan menuju meja dosen sambil memberikan buku miliknya. Lalu menjelaskan bagaimana aku bisa menemukannya.

“lain kali hati-hati Shani, untung ada dia” ucap dosen itu setelah mendengar penjelasan ku, dan Shani pun hanya mengangguk.

Setelah kelas selesai Shani langsung menghampiri mejaku dan mengucapkan terima kasih. Tak hanya itu dia juga menawarkan akan mentraktir ku makan di kantin.

“sorry aku udah ada janji, mungkin lain kali Shan” ucap ku padanya. Padahal ingin sekali aku menjawab ‘iya’ tetapi sepertinya itu tidak mungkin. bagaimana aku bisa menjawab ‘iya’ saat seluruh laki-laki di kelas menatap ku tajam seperti tatapan seekor predator yang ingin menerkam mangsanya.

~~~

Akhirnya kuliah hari ini selesai, aku pun langsung menuju ke halte. Kali ini bukan menunggu bis tetapi menunggu seseorang, karena aku sudah punya janji dengannya. Sambil menunggu dia datang aku pun mendengarkan musik melalu headshet. Sangking asik nya mendengarkan musik, aku tidak menyadari kalau Shani sudah duduk di sampingku dan itu membuatku sangat terkejut. Dan dia pun hanya tersenyum melihat ku terkejut, lalu menarik headshet di telinga kiri ku.

“aku tadi udah manggil kamu beberapa kali. Tapi, kamu malah asik sendiri. Yaudah aku langsung duduk aja” jelasnya pada ku.

“aduh maaf ya” ucapku. Beberap menit berselang tanpa adanya interaksi antara aku dan dia. sebenarnya aku paling benci suasana seperti ini. tetapi, aku juga bingung ingin memulai percakapan dengannya. Bagaimana tidak, aku baru saja kenal dengannya. Ntah aku yang jarang memperhatikan orang-orang di sekitar ku ataukah dia memang jarang hadir di kelas. Dari pada aku memikirkan itu lebih baik aku memecah suasana ini.

“panas juga ya siang ini?” ucap ku mencoba membuka pembicaraan sambil melirik kearahnya yang tengah asik dengan ponselnya.

“sial gak di denger!” pikirku. dengan perasaan sedikit kesal karena tadi tidak di hiraukan aku pun kembali bertanya padanya.

“kamu mau beli minum gak? aku mau ke mini market depan!”

“aku ikut aja, soalnya ada yang mau di beli juga” ucap nya sambil berdiri. Kami pun menyebrangi jalan dan masuk ke dalam mini market.

~~~

Dan baru saja kami keluar dari mini market, rupanya bis sedang berhenti di halte dan sebentar lagi akan pergi. melihat itu spontan saja ia langsung berlari karena takut ketinggalan bis, aku pun mengikutinya dari belakang. saat ingin menyebrangi jalan, ia tidak lagi melihat ke arah kanan dan kiri. padahal ada mobil yang sedang melaju kencang dari arah kanan. Tanpa pikir panjang aku pun langsung menarik tangannya dan dia pun jatuh di pelukan ku.

“hampir saja” ucap ku padanya. Dia pun hanya diam dan cukup lama aku memeluknya sampai mobil tadi tidak terlihat lagi.

“kamu gak apa-pa?” Tanya ku sambil melepaskannya lalu memegang kedua bahunya. Dia pun hanya mengangguk.

“mungkin dia masih sedikit shock” pikirku. dan Tanpa kami sadari bis yang berada di halte tadi telah pergi. lalu aku menggandeng tangan nya dan menyebrangin jalan.

“nih minum, nanti aku anterin kamu pulang” ucap ku padanya

“gak usah aku bisa pulang sendiri kok, aku gak mau ngerepotin kamu ” balasnya menolak ajakan ku. Lalu aku berfikir lebih merepotkan lagi jika terjadi sesuatu padanya, karena yang pertama di cari adalah orang yang terakhir bersamanya. Memikirkan itu saja sudah membuatku pusing.

“pokoknya harus dan gak boleh nolak!” tegasku padanya. Dia pun hanya diam dan menuruti perkataan ku.

Tak lama dari itu orang yang ku tunggu pun datang. Aku meminta nya untuk duduk di tengah agar aku yang membawa mobilnya dan menyuruh Shani untuk duduk di sampingku. Sekitar 25 menit perjalanan akhirnya kami sampai, lalu dia pun turun sambil mengucapkan terima kasih.

“kamu beneran gak apa-pa?” tanyaku lagi.

“iya gak apa-pa kok, makasih ya” jawabnya sambil tersenyum.

. .

. . .

. . . .

“kamu gak apa-pa ger?” aku pun langsung tersadar ketika mendengar ucapannya.

“apa itu tadi?” Aku merasa seperti ada memori lama yang muncul kembali  ketika dia tersenyum dan dari mana dia tahu namaku? Padahal aku belum sama sekali memberitahunya. Ingin rasanya aku bertanya. tapi, sepertinya itu tidak memungkinkan mengingat orang yang di dalam mobil telah memberikan kode agar aku cepat naik kedalam mobil dan pergi.

“gak apa-pa kok, aku balik dulu ya” ucap ku padanya. dan langsung saja aku kembali ke mobil dan pergi.

~~~

Sekarang suasana di dalam mobil ini tidak jauh berbeda dengan apa yang kurasakan di halte tadi.

“hey ayolah…, bukankah kau orang yang paling berisik” pikir ku. Dan saat aku tengah berpikir bagaimana cara mencairkan suasana ini tiba-tiba dia mulai berbicara.

“tadi itu siapa?” itulah kata pertama yang keluar dari mulutnya

“What…? Setelah lama dalam suasana ini dia Cuma bertanya shani itu siapa!” ucap ku dalam hati.

“Dia temen aku, tadi ada beberapa masalah makanya aku anterin dia pulang” ucap ku menjawab pertanyaannya dengan tenang agar tidak memancing emosinya. Mengingat aku pernah di turunkannya di tengah jalan cuma karena hal sepele dan aku tidak mau itu sampai terjadi lagi.

“oh ya… kita jadi kan ke toko buku?”

“jadi dong, kita sekalian makan yuk? Aku laper nih” balasnya padaku. Dan sepertinya suasana hatinya sudah mulai membaik. Mendengar itu aku hanya mengangguk lalu menambah kecepatan mobil.

~~~

Setelah melalui berbagai macam hal hari ini. akhirnya aku sampai juga di rumah, entah kenapa rasanya hari ini begitu melelahkan. Aku pun membuka pintu rumah secara perlahan lalu masuk kedalam dan tak lupa menutupnya kembali.

“Sepi sekali, sepertinya belum ada yang pulang” pikirku. Aku pun langsung menuju ke kamar menaruh barang-barang lalu pergi mengambil handuk dan mandi. Setelah selesai aku langsung kembali ke kamar dan kulihat ada sebuah notif pesan di hp yang bertuliskan nama “Gracia”. Ku buka pesan tersebut yang ternyata berisi ucapan terima kasihnya. Aku pun lansgsung memebalas pesan tersebut dan setelah selesai aku menaruh kembali hp kemudian menuju dapur untuk membuat secangkir kopi yang akan menemaniku duduk santai di depan rumah.

Ku nikmati secangkir kopi ini sambil ditemani hembusan angin segar dan kilau cahaya bintang yang sangat indah. Dan tanpa terasa aku kembali teringat dengan senyuman Shani tadi. Aku merasa pernah melihatnya tapi kapan dan entah dimana? Lalu kupikir lagi bukankah aku baru bertemu dengannya tadi. Aku pun mencoba mengingat-ingat apakah pernah bertemu dengannya tapi hasilnya nihil, itu malah membuatku pusing. Kulihat jam sudah menunjukan pukul 23:48 dan aku segera beranjak dari tempat ini untuk pergi tidur.

~~~

Tidur di bawah pohon merupakan salah satu cara ku untuk menghabiskan waktu sebelum kelas berikutya dimulai. Ya ini biasa ku lakukan jika ada selang waktu yang cukup lama dari kelas sebelumnya ke kelas berikutnya. Dan akan tambah enak jika tidurnya sambil mendengarkan musik.

“ah… ini baru hidup” ucapku sambil menghela nafas. Tetapi keadaan seperti ini akan berbanding terbalik jika ada seseorang yang sedang melihat mu.

“kamu ngapain disini?” ucapnya padaku

“oh god… you don’t see, I was sleep” ucapku dalam hati. Dengan sedikit kesal aku pun menjawab pertanyaan nya.

“tidur!” singkat, padat, dan jelas dengan nada sedikit malas. Berharap dia akan pergi setelah mendengar jawaban ku. Tapi…

“hmm… aku boleh duduk sini?” sepertinya kehidupan yang tadi aku rasakan telah hilang sepenuhnya.

“duduk aja, gak ada yang ngelarang”. Aku pun sedikit membuka mata dan melihat dia duduk di samping kiriku sambil membaca sebuah novel. Tanpa menghiraukannya lagi aku pun kembali tidur.

~~~

“Ger… bangun!” ucap suara yang membuatku kembali dari dunia mimpi.

“ntar dikit lagi” jawabku. Ntah kenapa rasanya berat sekali tubuh ini untuk digerakan. Aku merasa kalau tempat ini terus menarikku untuk tinggal. Lalu tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu yang membuat aku harus bangun.

“5 menit lagi kita masuk, dosen kita ibu  _ _ _ _ _ _” deg… Mendengar nama itu aku langsung terbangun dan berlari sambil menarik tangannya. Karena jika aku sampai telat pada kelasnya tamat lah sudah.

~~~

Mungkin sekarang yang harusnya aku lakukan adalah marah padanya. tapi entah kenapa aku merasa lebih baik langsung pergi dari hadapannya. Itu karena saat aku sampai diruang kelas disana tidak ada sama sekali orang dan rupanya saat aku tidur ada pesan di grup yang mengatakan bahwa dosen siang ini tidak hadir. Aku pun berjalan menuju parkiran dan di sepanjang jalan menuju kesana dia terus mengikuti sambil beberapa kali memanggil namaku dan meminta maaf.

“Gerry…….!” Teriakan terakhirnya itu menghentikan langkah ku, karena orang-orang di sekitar mulai melihat ke arah ku seakan mengatakan kalau aku adalah orang yang paling jahat. Seketika itu aku langsung berbalik dan menghadap kearahnya. Terlihat dia hanya tersenyum gembira melihat aku di tatap oleh orang-orang itu.

“jangan marah geh, aku kan cuma bercanda. Sebagai permintaan maaf kita jalan-jalan yuk?” ucapnya tepat dihadapan ku.

“boleh, terus mau naik apa? Kamu aja kesini naik bis!” balasku mencoba membuatnya diam dan terlihat dia kebingungan menjawab pertanyaan ku. Rasanya ingin tertawa melihatnya kebingungan.

“ayo” ucap ku sambil berjalan kembali, dan dia pun hanya mengikuti ku dari belakang.  Untungnya hari ini aku membawa mobil. Ini di sebabkan karena aku bangun kesiangan. Tadinya aku sempat tidak ingin kuliah karena malas, toh… aku pasti tidak akan bisa memasuki ruang kelas. Tapi sepertinya dewi fortuna masih memihak ke padaku karena hari ini kakak ku tidak pergi bekerja dan otomatis mobilnya tidak akan dia pakai.

~~~

Saat di dalam mobil aku banyak bertanya mengenai dia, dan dari situ aku mengetahui bahwa dia adalah mahasiswi dari Australia yang bergabung dalam program pertukaran pelajar.

“pantas saja aku tidak pernah melihatnya sama sekali” pikirku. dan tidak memakan waktu cukup lama akhirnya kami sampai di sebuah taman. Kemudian aku langsung menuju bangku yang biasa kutempati. Sebuah bangku yang menghadap ke arah kolam. Saat berada di sini rasanya sangat nyaman walaupun panas matahari sangat terik tapi angin yang berhembus mampu menghilangkannya. Di sini kami bercerita mengenai banyak hal. Tanpa terasa dia sudah tertidur di bahuku, lalu Kulihat wajahnya yang berada disampingku dengan jarak yang sangat dekat. Perlahan-lahan ku seka poni yang menutupi wajahnya.

“ternyata dia sangat cantik” pikirku. saat sedang memperhatikannya tiba-tiba hp ku berbunyi dan terlihat ada notif pesan dari kak Ve, yang memintaku untuk menjemputnya.

“sepertinya aku harus membangunkannya” ucap ku. Padahal aku tidak tega membangunkanya mungkin karena dia terlihat sangat lelah, tapi apa boleh buat hari pun juga semakin sore.

“Shani…, bangun shan?” ucap ku beberapa kali dan akhirnya dia terbangun dengan keadaan masih setengah sadar. Kemudian aku mengatarkannya pulang. Mungkin lain kali aku akan mengajaknya ke tempat yang lain.

~~~

Selama pelajaran tadi aku sama sekali tidak dapat berkonsentrasi, karena wajah Shani kemarin terus terbayang di pikiranku. Dan setelah pelajaran tadi selesai aku memutuskan untuk pergi ke kantin. Aku berpikir mungkin ini disebabkan karena aku tadi tidak sarapan.

Ketika aku sampai rupanya kantin telah di penuhi oleh mahasiswa dari berbagai fakultas. Kemudian kulihat sekeliling berharap mungkin ada yang ku kenal. Dan benar saja rupanya di dalam keramain itu ada Gracia. Langsung saja aku memanggil dan memintanya untuk memesankan makanan ku, Sedangkan aku mencari temoat duduk untuk kami berdua.

“nih baksonya” ucapnya sambil menaruh mangkuk itu di atas meja.

“thank you…, enak nih kayaknya” aku pun langsung menyantapnya

“eh… tumben kamu ke kantin jam segini?” Tanya nya padaku. Tentu saja aku jarang kekantin karena, waktu istirahat seperti ini sangat nanggun untuk makan. Lebih baik aku makan saat jam makan siang.

“gak apa-pa lagi pengen aja. Emang kayak kamu dikit-dikit makan, pantes aja sekarang nambah gendut” ucapku padanya. Dan sepertinya terlihat kesal dengan apa yang aku katakan, itu bisa terlihat dari raut wajahnya. Melihat itu Aku pun hanya tertawa.

“cie bete’ nih? Haha…hah..ha” ucap ku sambil tertawa.

“ih… awas kamu ya! Kalo ada apa-pa gak mau bantuin lagi” ucapnya sambil mengacungkan garpu pada ku, kemudian memalingkan wajah.

“iya deh… maaf, tenang aja walaupun kamu gendut tapi tetep cantik kok” sambil mencubit pipi kiri nya. Aku pertama kali bertemu gracia ketika ospek dan semenjak itulah aku berteman denganya. Kemudian semakin lama kami semakin dekat dan aku sudah menggapnya sebagai adikku sendiri. Ya… walaupun kami jarang bertemu dan berbeda fakultas, tapi kami selalu menyempat kan diri untuk bertemu. Di tengah obrolan kami tiba-tiba Shani datang.

“wih… bakso, mau dong” ucap Shani pada ku.

“beli sendiri sana, jangan ganggu orang makan” ucap ku sambil menggeser mangkuk bakso ku menjauh darinya.

“dasar pelit!” ucapnya sambil mengambil posisi duduk di samping ku.

“biarin…” jawabku padanya. Lalu tiba-tiba Gracia memberikan kode agar aku mengenalkan Shani padanya.

“Gracia kenalin ini teman sekelas aku Shani, dia mahasiswi dari Australia. dan dia kesini karena ikut program pertukaran pelajar”

“ohya… shani, kenalin ini Gracia dia ini temen aku juga” mereka berdua pun saling berjabat tangan, tapi entah kenapa mereka lama sekali berjabat tangannya. Dan tiba-tiba suasana di sekitar mereka berubah menjadi tak enak, karena mereka saling menatap tajam. Untuk mencairkan suasana ini, aku berinisiatif membelikan mereka berdua minum.

“aku mau beli minum dulu, kalian lanjutin kenalannya. Ohya… kalian mau minum apa?… hmm… kayaknya kalian gak haus ya”

“tamat lah sudah aku” pikirku. aku pun perlahan-lahan pergi lalu tiba-tiba…

“jus melon” ucap mereka berdua bersamaan. Aku pun hanya mengangguk kemudian langsung pergi.

Sambil menunggu jusnya jadi, aku melihat keadaan mereka dari kejauhan yang nampaknya tidak begitu baik. Dari sini aku merasa bisa melihat ada kabut hitam yang mengelilingi mereka berdua. setelah jusnya jadi aku pun langsung membayarnya dan kembali ketempat tadi.

“nih jus nya, gimana kalian udah saling kenal” ucap ku yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua. dan mereka berdua juga hanya mengangguk dan tersenyum ke araku.

“baiklah paling tidak mereka dapat saling tersenyum, walaupun aku merasa ada makna lain di balik senyum mereka berdua” pikirku. kemudian kulihat jam dan sepertinya pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Aku pun pamit pada Gracia dan bergegas pergi dengan Shani.

~~~

Saat sampai dirumah aku langsung menaruh tas dan berbaring di tempat tidur. Ntah kenapa beberapa hari ini rumah terasa lebih nyaman dari biasanya. Di tambah lagi besok akan jadi hari yang paling melelahkan. Karena, akan ada latihan kepemimpinan yang mengharuskan kami untuk bermalam di tempat yang tidak kuketahui. Ini semua terjadi karena shani menunjukku. Siang tadi setelah kelas terakhir selesai. Tiba-tiba beberapa mahasiswa dari BEM universitas masuk ke kelas kami. untuk menunjuk perwakilan dalam kegiatan itu.

“baiklah kami dari BEM universitas membutuhkan perwakilan 2 orang dari setiap jurusan untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan, apakah ada yang bersedia?” ucap salah satu anggo BEM yang berada di depan

“siapa yang mau ikut kegiatan seperti itu. Aku berani bertaruh pasti tidak ada yang mau, dan hanya sebuah keajaiban lah yang dapat membuat salah seorang di kelas ini ikut. Apa lagi jika tidak diwajibkan” Tadinya itu yang kupikirkan tapi…

“saya kak” ucap seorang mahasiswi.

“hmm… kayaknya aku mengenal suara itu” ucap ku dalam hati. Lalu aku menengok kebelakang dan melihat Shani mengangkat tangannya.

“Ok fix ada keajaiban, tapi bukan kah mereka butuh satu orang lagi? Sedangkan dari yang bisa kulihat tidak ada satu orang pun yang berminat” pikirku. akhirnya karena tidak ada yang menunjuk BEM membuat sebuah keputusan dan disinilah perasaan ku mulai tidak enak.

“kayaknya ini bakalan lama, ok biar cepet Shani tolong pilih teman kamu untuk jadi perwakilan satu lagi” deg… dia memandang kearah ku sambil tersenyum.

“Shit…” aku memaling kan wajahku sambil memejamkan mata berharap nama ku tidak terpanggil dan…

“Gerry kak” tamat lah riwayat ku

~~~

Hari itu pun tiba, hari dimana kami akan melakukan latihan kepemimpinan. Aku dan Shani telah berkumpul dengan perwakilan dari jurusan lain di lapangan, terlihat juga beberapa dosen turut hadir sambil memberikan pengarahan. Setelah pengarahan selesai kami langsung menaiki bis yang telah di tentukan. selang 6 jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. setelah mendapat pengarahan lagi dari instruktur, kami di suruh untuk makan siang bersama.

“coba aja kamu gak nunjuk aku, pasti aku sekarang masih tidur dirumah”

“maaf deh… tenang aja, ini pasti seru kok. Percaya sama aku” ucapnya mencoba meyakin kan ku.

“ya… semoga saja” pikirku. setelah selesai makan aku langsung pergi mencuci tangan dan membantu yang lain untuk mendirikan tenda.

Setelah tenda didirikan kami di bagi menjadi beberapa kelompok yang berisis 5 orang secara acak. Dan ini ditentukan berdasarkan warna yang kami dapat saat pengundian. aku mendapat kan warna ungu.

“ungu ya” gumamku. Aku terdiam sejenak sambil memikirkan siapa yang akan satu kelompok dengan ku.

“yey… ungu”

“hmm… suara itu sudah tidak asing lagi bagiku, karena suara dari orang itulah yang membuatku terjebak disini” pikirku.

“ungu kumpul disini ya” aku pun menoleh dan melihat ke arah suara itu berasal. Seperti yang aku pikirkan itu memang dia. sementara orang-orang yang lain mulai berkumpul, aku hanya diam dan melihat dari kejauhan. memperhatikan siapa saja yang satu kelompok bersamaku.

“sepertinya tidak ada yang kukenal. Tapi tunggu dulu, dimana satu lagi? Bukankah seluruhnya berjumlah 5 orang” kulihat sekeliling mencoba mencari siapakah satu orang lagi yang berada di kelompok ku. Saat sedang mencari aku melihat sosok Gracia di tengah kerumunan orang-orang yang sedang mencari kelompoknya.

“bukan kah itu Gracia, atau hanya perasaan ku saja” aku pun berjalan mendekat, dan benar saja itu dia. rupanya dia bernasib sama sepertiku harus terjebak disini karena temannya, lalu Kulihat kertas yang dia pegang  rupanya berwarna ungu.

“kayaknya kita sama nih” ucap ku, sambil mengangkat tangan yang sedang memegang kertas berwarna ungu. Setelah itu aku langsung mengajaknya untuk berkumpul bersama dengan yang lain. Setidaknya ada orang yang bernasib sama seperti ku.

~~~

Malam pun tiba dan kegiatan yang kami lakukan hanya berkenalan dengan orang-orang yang ada di kelompok masing-masing. Setelah itu kami langsung di suruh untuk pergi tidur, karena kegiatan yang sebenarnya baru akan di mulai besok. Tapi ntah kenapa mata ku sangat sulit untuk di pejamkan, mungkin ini di sebabkan karena aku belum terbiasa dengan suasananya. Cukup lama aku mencoba untuk tidur tapi hasilnya nihil, akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kamp. Udara dingin menjadi ciri khas tempat ini, walaupun aku sudah memakai jaket tetap saja masih terasa dingin. Aku berjalan sedikit lebih jauh menaiki sebuah bukit, dan tepat diatas bukit ini aku melihat Shani sedang duduk sendirian sambil menyematkan headshet di telinganya.

“ngapain kamu disini?” sambil mengambil posisi duduk di sampingnya

“eh…Gerry! gak lagi ngapa-ngapain cuma lagi denger lagu aja” ucapnya sedikit terkejut

“gimana seru gak ikut kayak gini?” aku kembali bertanya.

“se…ru” jawabnya sambil mengangguk. Walaupun dia menjawab seperti itu, tapi entah kenapa aku merasa dia tidak sama sekali menikmati kegiatan ini. mungkin ini karena dia belum pernah mengikuti kegiatan seperti ini, dan mungkin juga saat kemarin ia menunjuk tangannya. itu karena ia penasaran dengan kegiatan ini. memang terkadang rasa ingin tahu manusia itu sangat besar. Setelah itu aku pun menikmati kembali suasana di tempat ini. angin berhembus sangat kencang, yang menyebabkan udara di malam ini menjadi semakin dingin. dan kulihat dia sepertinya kedinginan karena tidak mengenakan jaket.

“di sini dingin, pakailah” sambil melemparkan jaket kearahnya.

“tapi…, bukannya kamu juga kedinginan”

“udah pakai aja” kemudian dia pun langsung memakai jaket itu.

“nih… dengerin” ucapnya. Sambil memberikan sebelah headshetnya padaku. Aku pun mengambil dan memasangnya di telinga kanan ku, sementara dia mengenakannya di telinga kiri. Ku pejamkakan mata secara perlahan sambil menghirup udara. Rupanya tidak buruk juga berada disini, lalu kulirik shani yang berada di sampingku. Tampaknya dia sedang menikmati suasana ini juga, itu bisa terlihat dari senyumnya.

“kenapa?” ucapnya sambil menoleh ke arahku

“engak…” jawabku sambil mengelengkan kepala. Aku tidak tahu kenapa setiap bersamanya terasa sangat menyenangkan. Lalu aku kembali memandangi wajahnya ntah apa yang merasuki ku sampai-sampai aku tidak bisa berhenti melihatnya.

“kenapa sih?” kembali dia bertanya kepadaku. kemudian tanpa sadar wajah ku telah berada dekat di depan wajahnya.

Perlahan-lahan…

Semakin dekat……

Dan dia hanya diam sambil memejamkan kedua matanya.

“ah… apa yang tengah ku lakukan!” pikirku. kemudian spontan saja aku langsung menutup kepalanya dengan hodie jaket dan beranjak dari posisi itu.

“ayo balik kayaknya kita udah capek” ucapku sambil berjalan di depannya, dia pun hanya mengikuti dari belakang.

~~~

Kegiatan hari ini adalah semacam outbond dan berdasarkan pengarahan yang telah diberikan kami disuruh untuk mengumpulkan seluruh stamp dari beberapa pos yang tersebar.

“ok ayo kita mulai” ucap ku pada yang lain. Semuanya menjawab dengan semangat kecuali Shani, dia tampak lebih diam dari biasanya. Dan saat aku melihat kearahnya dia langsung memalingkan wajahnya kearah yang lain.

“apa yang terjadi…? Ah…sudahlah kenapa aku yang jadi pusing” pikirku.

Kami pun mulai berjalan dan pos pertama yang kami datangi adalah pos tebak rasa. Disini kami disuruh untuk menebak campuran dari jus yang sudah disiap kan oleh panitia.

“baiklah di dalam jus ini terdapat 5 campuran, bisa jadi itu buah atau pun sayuran. Lalu setiap campuran yang berhasil kalian tebak akan mendapatkan nilai 20 poin?” jelas panitia itu pada kami

“pasti ada apel sama pisang” jelas shani. Sementara yang lain masih bingung dengan komposisi jus itu, aku malah bimbang apakah harus meminum jus ini. karena bisa dilihat warnanya yang sudah tidak karuan.

“Ger… kok lo gak minum sih?” ucap Evan. Teman satu grup ku yang bersal dari fakultas lain.

“minum geh!” tambah Gracia dan Anin bersamaan, dilain pihak Shani hanya diam seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku meminum jus tersebut. Baru sedikit aku meminumnya aku sudah tau campuran lain dari jus itu.

“cih… pasti ada sledri nya nih” ucapku pada mereka.

“ya ampun ger muka lo biasa aja kali” ucap Evan sambil tertawa, dan sialnya Shani dan yang lainnya juga ikut menertawai ku.

“sumpah gak lucu tau, itu di dalamnya pasti ada sledri” ucapku sedikit kesal. Akhirnya mereka diam kecuali Shani yang masih tertawa.

“ha….ha..ha…, emang gak pernah berubah” ucap Shani.

“apa Shan?” ucap yang lain padanya.

“eh…enggak kok” ucapnya sambil tersenyum. Dan pada akhirnya kami hanya bisa menebak 3 campura itu dan mendapat poin 60, ya walaupun hanya 60 itu adalah poin tertinggi yang berhasil di dapat. karena rata-rata kelompok lain hanya mampu menebak 2 saja.

kami pun meneruskan perjalanan ke pos-pos yang lain tanpa memperhatikan peta maupun urutannya, dan setelah kami menyelesaikan semua pos. kami di minta untuk menebak tempat yang akan menjadi finishnya.

“Danau” itulah jawaban dari pertanyaan nya, langsung saja kami melihat peta dan mencari dimana letak danau tersebut.

“baiklah ayo” ucap semuanya bersemangat. sangking semangatnya kami tidak lagi melihat peta, dan pada akhirnya kami pun tersesat. Kami tidak tahu posisi kami sendiri di dalam peta, di tambah lagi memang dari awal kami tidak memperhatikan letak setiap pos di peta.

“sepertinya kita tersesat” ucap Anin.

“hmm… ini bukan sepertinya lagi! ini memang benar-benar tersesat” pikirku. karena tidak tahu lagi harus kemana kami pun untuk berhenti dulu.

“apakah kalian dengar suara air mengalir?” ucap ku. Mereka pun mencoba mendengarkan tetapi nihil.

“jika pendengaran ku tidak salah kita bisa keluar dari sini. coba kalian lihat letak danau tempat kita finish, itu terletak di sebrang sungai” ucap ku sambil menunjuk peta yang kami bawa. Kami pun memutuskan meneruskan perjalanan mengikuti suara dari aliran air. lama berjalan dan akhirnya kami menemukan sungai.

“sepertinya arusnya tidak begitu deras dan juga terdapat batu-batu yang bisa kita jadikan tempat untuk berpijak” jelas ku pada mereka

Yang pertama kali menyebrang adalah aku lalu di ikuti Evan dan Anin, lalu selanjutnya adalah Shani. Dia pun melompat dengan semangat diatas batu-batu tersebut dan pada lompatan terakhir dia terpeleset. Dengan sigap aku pun segera menangkapnya.

“hampir saja” ucap ku sambil membantunya berdiri, yang terakhir adalah Gracia.

“kenapa dia hanya diam saja?” Pikirku.

“Gracia ayo” ucapku padanya, sepertinya dia mengatakan sesuatu tapi aku dan yang lain tidak bisa mendengarnya.

“apa?” tanyaku sekali lagi

“ih…. Aku takut!” akhirnya aku menyusulnya kesana, lalu aku menyuruhnya untuk memegang tangan ku.

“ayo pelan-pelan” satu demi satu batu kami lompati dan akhirnya sampai juga. Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan. Belum lama kami berjalan aku merasakan ada yang aneh dengan Shani.

“kaki kamu sakit ya?” tanyaku padanya, tapi dia hanya diam saja dan menggelengkan kepala.

“Van, Nin tolong bawakin tas gue sama Shani” ucapku sambil memberikan tas kami berdua. setelah itu akupun berjongkok membelakanginya.

“cepet naik, aku tau kaki kamu pasti sakit!”

“tapi”

“hmm… semakin lama kamu naik semakin lama kita sampai” jelasku padanya, akhirnya dia pun naik ke atas punggung ku. Ternyata lumayan berat juga dia, tapi tidak apa itu akan menjadi tanda kalau dia masih ku gendong. kami pun melanjutkan perjalanan, cukup lama kami berjalan dan akhirnya kami sampai. Rupanya kami adalah kelompok terakhir yang sampai, setelah itu kami langsung kembali ke kamp bersama instruktur dan dosen yang masih menunggu kami disana.

~~~

Hari ini waktunya kami kembali, sebelum itu kami di kumpulkan kembali di lapangan. Seperti biasa kata-kata penutup, tapi kali ini aku sangat memperhatikan dan ada satu kalimat yang ku ingat dari kata-kata penutup itu.

“suatu hari nanti saat kalian mengingat apa yang terjadi disini, orang-orang yang ada bersama kalian akan mengingatnya sebagai ‘kenangan indah’”

Setelah mendengar kata-kata itu aku berfikir kalau tidak buruk juga ikut kegiatan seperti ini. setelah itu kami langsung menuju bis. saat memasuki bis yang kemarin aku merasa ada sesuatu yang aneh, seingatku kemarin bis untuk laki-laki dan perempuan terpisah.

“gue salah masuk ya?” Tanya ku pada seisi bis

“udah masuk-masuk aja, udah pada capek semua ini!” jawab seorang perempuan di bagian depan bis. yah apa boleh buat aku pun masuk dan mencari bangku kosong. Untunglah ada satu bangku dan kulihat yang duduk di ssebelahnya sedang tertidur menggunakan jaket di tutup hodie.

“Hmm… jaket ku, kalo ini jaket ku pasti ini Shani” Aku pun duduk di sampingnya dan bis pun mulai berjalan. Belum lama bis berjalan aku sudah mulai merasa ngantuk dan memutuskan untuk tidur. Entah kenapa bahu ku terasa pegal padahal aku merasa kalau aku tidur belum begitu lama. saat aku melihat ke samping rupanya Shani tengah bersandar di bahu ku.

“hmm… pantas saja” pikir ku. Dan saat aku melihat wajahnya aku jadi teringat dengan kejadian malam itu. Apa yang terjadi jika aku benar-benar melakukannya? Apa yang sebenarnya merasuki ku pada saat itu? dan perasaan apa ini, apakah aku menyukainya?! Ah mungkin tidak, tapi aku tidak bisa membantah jika saat bersama nya aku merasa nyaman. Dan aku tidak ingin saat-saat seperti ini berakhir dengan cepat. Karena aku masih ingin bersamanya seperti ini lebih lama, seandainya kami tidak pernah sampai, tapi rasanya itu mustahil.

~~~

“Dek… bangun dek, bantuin kakak” mm… masih pagi juga, tidak bisa kah dia membiarkan adiknya ini untuk beristirahat lebih lama. ah… suaranya tidak terdengar lagi, sepertinya dia sudah pergi. atau jangan-jangan…

“kamu mau bangun gak atau kakak siram nih” mendengar itu aku pun langsung melompat bangun dari tempat tidur.

“mau apa sih kak? masih pagi juga” keluhku padanya

“bantuin kakak nyari barang di gudang” jelasnya padaku. Dengan keadaan malas aku berjalan menuju gudang dan membantunya mencari barang yang dia cari. Aku baru tahu kalau di gudang ini banyak barang-barang yang ku bawa dari rumah lama kami di jogja. Tapi ada satu kotak yang menarik perhatian ku, kotak itu bertuliskan “jangan dibuka, Cuma Gerry yang boleh buka”.

“ya ampun kelas berapa aku nulis ini” sementara kak Ve masih sibuk mencari barang yang dia cari. Aku membuka kotak tersebut yang rupanya berisi sebuah surat dan foto. Aku pun membaca isi surat tersebut

 

Untuk : Gerry

Saat kamu membaca surat ini mungkin kamu sudah tidak ingat lagi dengan dia, tetapi aku saat ini sudah berjanji padanya bahwa aku tidak akan pernah melupakannya. Dan suatu hari nanti kami pasti akan bertemu lagi dan di saat itu aku akan . . .

 

“Akan…, sial tulisannya jelek banget sih! Ah… sudah lah” aku pun mengambil foto yang ada di dalam kotak tadi. Foto anak laki-laki bersama seorang anak perempuan, yang jelas aku pasti tau anak laki-laki itu siapa. Tapi kalau yang perempuan…?

“nah ini dia, ayo dek kakak udah dapet barangnya” ucapnya sambil berjalan ke arahku, sementara aku masih diam memandangi foto tersebut mencoba mengingat siapa kah anak perempuan di dalam foto itu.

“bukannya ini… hani apa sapa gitu?” tunjuk kak ve, kearah anak perempuan yang ada di dalam foto.

“beneran namanya hani?” tanyaku penasaran, karena aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.

“aduh kakak juga lupa tapi ya seinget kakak ada hani nya gitu, yang kakak inget dia itu temen SD kamu dan dulu rumahnya masih satu komplek sama kita” jelas kak Ve padaku.

“Siapa dia? kenapa aku tidak ingat! rasanya seperti dia adalah orang yang sangat penting bagiku” gumam ku dalam hati.

“ya ampun dek, mau sampek kapan kamu ngelamun disitu! Kakak kunci nih kamu di gudang” ancam ka Ve pada ku

“jangan kak” aku pun langsung keluar dari gudang itu dan kembali ke kamar

Siapa dia? kenapa aku merasa dia adalah seseorang yang sangat penting bagiku, cukup lama aku memikirkan hal itu tapi tetap saja nihil aku tidak bisa mengingatnya. Lalu tiba-tiba hp ku bergetar dan kulihat sebuah pesan dari teman lama ku ketika SD, ya kami masih berhubungan karna aku masih satu SMA sama dia disini. Dan hari ini dia mengajak ku untuk bertemu. Langsung saja kau bergegas mandi setelah itu aku langsung pergi menuju sebuah café. Sesampainya disana aku melihat dia dari luar sedang berbincang-bincang dengan sesorang, karena posisinya terlalu jauh aku tidak mengetahui siapa yang sedang dia ajaknya berbicara. tapi yang jelas dari pengelihatan ku itu adalah seorang perempuan. Saat aku memasuki café perempuan yang di ajaknya bicara tadi sudah tidak ada lagi.

“udah lama ya?” sambil mengambil tempat duduk di depannya

“ya… lumayan lah, mau pesen apa biar gue pesenin?”

“kayak biasanya”

“ok” dia pun memanggil pelayan dan memesan coffe latte. Setelah itu kami mulai mengobrol dan membahas berbagai macam hal mulai dari A sampai Z. hingga dia menanyakan sesuatu yang membuatku kaget.

“lo udah ketemu Shani?” mendengar pertanyaan itu akupun sedikit tersedak saat sedang minum.

“lo kenal sama Shani?” tanyaku balik

“ya kenal lah, dia kan temen SD kita dulu waktu di jogja” aku masih mengingat-ingat lagi apakah benar Shani adalah teman SD ku, rasanya aku baru pertama kali bertemu dengan dia disini.

“ya ampun gak inget juga, bentar ya” dia pun mencari sesuatu di dalam tasnya

“nih… pas bener gue bawak, ini ni dia yang ini” sambil menunjukan sebuah photo yang di bawanya, anak perempuan yang di tunjuknya di dalam photo itu sama persis dengan photo yang aku temukan di kotak itu. Cukup lama aku mengingatnya lagi dan akhirnya aku pun ingat.

“ya ampun gue baru inget, Shani ya pantesan gue kayak pernah liat dia. kalo gak salah dulu hampir satu kelas suka ama dia kan?”

“nah itu lo inget, tadi gue baru ketemu dia disini. Lama tadi kami ngobrol dan dia ngomong kalo lo itu gak inget ama dia” jelas Arie pada ku

dan aku baru ingat juga di komplek perumahan ku yang dulu yang satu sekolahan sama aku Cuma dia, pantas saja aku merasa dia adalah orang yang penting.

“eh Ger… gue balik dulu ya, Soalnya udah ditungguin. Salam aja ya sama dia”

“ya…, hati-hati rie”

Di perjalan pulang aku teringat dengan perkataan kak Ve mengenai siapa nama anak perempuan yang ada di photo tersebut.

“cuma kurang S ternyata dan sepertinya aku harus menjelaskan kepadanya kalau aku benar-benar lupa”

~~~

Setelah kelas hari ini selesai aku langsung keluar menemui Shani yang telah berjalan terlebih dahulu.

“Shan… gimana kakiknya udah baikan?” sambil berjalan disampingnya

“udah kok, makasih ya kemaren mau gendong aku”

“oh… iya aku mau minta maaf sama kamu” ucap ku sambil menghadap kearahnya, dan dia pun tampak bingung

“minta maaf kenapa?”

“aku baru inget kalo kamu temen SD aku waktu di jogja dan…”

“dan…?” tanyanya penasaran

“udah itu aja” aku gugup sekali dan tentu saja itu karena aku merasa bersalah, bagaimana bisa aku lupa dengan teman ku sendiri.

“hmm… Cuma itu ya, gak apa-pa kok” jawabnya sambil tersenyum, tapi kali ini senyumnya tampak berbeda seperti ada perasaan sedih di baliknya.

“mm… aku ke toilet dulu, kamu duluan aja” ada yang aneh? Tapi mungkin cuma perasaan ku saja

Ya hari ini aku berniat untuk mengungkapkan perasaan ku padanya. Dan sekarang aku tengah menunggunya di parkiran, sebelumnya aku telah mengirim pesan ke dia.

“lama juga ternyata” lalu tiba-tiba ada yang menutup mata ku dari belakang.

“hayo tebak siapa?”

“ah… pasti ini dia” pikirku

“Shani” jawab ku. kemudian perlahan dia pun melepaskan tangannya, dan aku langsung melihat ke belakang

“Gracia…! Maaf… aku kira tadi Sha…” belum sempat aku menyelesaikan perkataan ku dia langsung mencium bibir ku

“Grac…”

“aku suka sama kamu…” ucapnya setelah mencium ku

“aku…”

“kamu tau aku udah lama suka sama kamu, tapi kamu gak pernah nganggap aku lebih sekalipun” dia mengatakan itu sambil menangis. Tidak kusangka selama ini Gracia menyimpan perasaan pada ku.

“maafin aku, aku benar-benar gak bisa. Kamu tau mungkin ada seseorang yang bisa mecintaimu seperti kamu mencintai aku” ucapku sambil memeluknya

“brak…!!!” terdengar suara buku terjatuh. aku langsung melihat kebalakang dan mendapati shani tengah berdiri sambil menangis. Belum sempat aku memanggilnya dia telah berlari, dan seketika itu hujan pun turun. Aku langsung mengejarnya dan meninggalkan Gracia. Langahku terhenti tepat di depan buku-buku yang ia jatuhkan, dia antara buku-buku itu ada satu benda lagi. Itu adalah sebuah cincin yang di masukan kedalam kalung. Entah kenapa benda tersebut tidak asing lagi bagiku.

“akh… bodohnya aku!” aku pun langsung berlari kembali mencari Shani.

“dimana kamu Shan?” setelah mencari kemana-mana aku masih tidak bisa menemukannya.

“liat shani gak?” tanyaku pada seseorang yang biasa duduk di sampingnya

“tadi sih dia di halte. tapi gak tau sekarang mungkin udah pergi”

“boleh minjem payungnya gak besok gue balikin” setelah mengambil payung itu aku langsung menuju ke halte, dan benar saja dia sudah tidak ada lagi. Tak lama dari itu ada sebuah bis yang datang, aku memtuskan untuk menaikinya. Sepanjang perjalanan aku memikirkan berbagai tempat yang mungkin dia datangi.

“mungkinkah dia!” aku pun memutuskan untuk berhenti di taman yang sering kudatangi.

“percaya atau enggak katanya sih tempat ini dapat bisa mengubah kesedihan mu menjadi suatu kebahagiaan yang tidak kamu duga. makanya aku sering datang kesini” aku jadi teringat perkataan ku padanya saat di taman, aku pun segera menuju bangku yang biasa kududuki. Benar saja dia sedang duduk disana. Aku pun berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.

“maafin aku”

“kenapa minta maaf, kamu gak salah apa-pa kok” jawabnya sambil menangis

“nih…, sesuai janji aku” sambil menunjukan kalung yang berisi cincin tadi di hadapannya

“kamu…?”

“aku inget semuanya, termasuk hari itu”

Pada suatu hari orang tua ku memberitahu bahwa saat aku lulus SD kami akan pindah ke Jakarta. Dan sesaat sebelum aku pergi aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaan ku pada Shani.

“Shan… aku mau…” deg… deg..deg… jantung ku berdegup sangat kencang yang membuat ku salah bicara

“aku mau pindah ke Jakarta”

“yah salah ngomong lagi gara-gara grogi, tapi bener juga sih. Tunggu kenapa dia terlihat sedih” pikirku

“kamu kenapa?” Tanya ku padanya

“aku suka sama kamu, dan aku mau kamu selalu ada di sini sama aku. Dan kalo kamu pindah mungkin kita gak bakal pernah ketemu lagi” aku hanya terdiam mendengar apa yang dia katakan dan tak kusangka dia juga menyukaiku.

“kita pasti akan ketemu lagi aku janji, karna aku juga suka sama kamu. Dan ini aku kasih sesuatu buat kamu” aku pun memberikan sebuah kotak dan dia pun membukanya, di dalam itu terdapat sebuah cincin yang dimasukan dalam sebuah kalung yah walaupun itu hanya cincin biasa.

“kok cincin nya gede banget sih?” Tanya nya penasaran

“bukan sekarang kamu makek nya tapi nanti saat kita ketemu lagi, dan saat itu aku yang akan makek in cincin ini ke kamu” sambil memakaikan kalung itu ke lehernya.

“aku janji akan selalu nunggu kamu, dan gak akan pernah melupakan mu” ucapnya sambil tersenyum, senyuman yang tak akan pernah ku lupakan.

Seketika itu aku menjatuhkan payung yang kupegang dan melepaskan cincin yang ada di dalam kalung itu lalu memakaikan cincin itu di jari manisnya.

“kamu tahu sudah begitu lama aku menunggu kamu” ucapnya sambil memelukku

“aku tahu, dan kamu telah berhasil nepatin janji itu” Lalu tiba-tiba aku teringat dengan satu kalimat di buku yang menurutku itu mustahil bisa terjadi. kalimat itu berbunyi

“Even if someday I will forget everything, always remember that my hearts are never forget you”

saat itu aku berfikir bagaimana bisa dia mencintai seseorang, yang bahkan dia tidak ingat siapa orang itu. Mengingat itu sekarang terjadi padaku, aku pun hanya tersenyum dan melepaskan pelukannya.

“I Love You Shani” sambil mencium bibirnya.

 

E.N.D

 

Trima kasih telah membaca, mohon kritik dan sarannya  \(>^ѡ^<)/

Created by: @lindaanadila

Iklan

13 tanggapan untuk “Remember

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s