Secangkir Kopi Di Hari Minggu

S.K.D.H.M

Seseorang wanita muda yang tidak gue kenal sedang berjalan menghampiri ketempat gue berada. Dia lalu memberi barang yang dia pegang dan langsung saja gue check harganya. Wanita itu langsung membayar barang yang dibelinya sedangkan gue juga langsung  mengembalikan barang dan juga kembaliannya, setelah itu gue mulai berbasa-basi.

“Terima kasih, semoga hidangan kami tadi membuat anda senang.”

Wanita itu heran menatap gue. “Loh ini kan toko buku, kok kayak rumah makan aja sih?”

“Biar ditanya.” Jawab gue sambil tersenyum.

Pelanggan wanita itu sedikit tertawa dengan alis setengah mengkerut mendengar jawaban yang gue berikan, setelah itu dia keluar membawa bungkusan berisi buku yang telah dibelinya.

Tak lama kemudian datang Enu, teman gue kuliah dan juga sama-sama bekerja sambilan ditempat gue berada sekarang. “Dion, gue mau beli makan siang nih. Lu nitip gak?”

“Sekali-kali kek lu nraktir,” gue lalu merogoh kocek untuk mengambil uang.

“Kapan-kapan pas gajian.”

“Haaaaah,” gue menghela nafas. “Tuh ucapan dari taon lalu, dan berbulan-bulan. PHP lu.”

“Hehe biasalah,” Enu lalu mengambil uang yang gue berikan. “Pake ayam atau ikan nih?” tanyanya lagi.

“Ikan aje, Tenggiri ya? Jangan lupa kuah rendang sama sambal ijo nya.”

“Oke.” Enu berlalu keluar dari toko menuju pemadam kelaparan, alias rumah makan.

Sekarang gue berada disebuah toko buku yang cukup terkenal didaerah ini. Toko buku ini lumayan luas sehingga buku-buku yang seabrek begitu bisa pas ditaruh ditiap-tiap raknya. Lagipula disini juga ada sofa disudut ruangan yang disediakan buat pelanggan yang mau membaca buku disini.

Cling-Cling,” suara lonceng pintu kecil yang diatas pintu berbunyi yang artinya ada yang masuk.

“Eh ada Shani, tumben lu kesini?”

Cewek yang bernama Shani itu kemudian tersenyum dan menghampiri gue dikasir.

“Hayoo kangen ya?”

“Meeeeeh, bosen ngangenin elu hehe.”

“Wuuu,” tangan gue ditoyornya. “Eh iya ada jual buku tentang Fotography gak disini?”

“Ada, cari aje tuh dirak, pasti dapet. Anyway, lu emangnya mau jadi Fotographer apa nanya-nanya gituan?”

“Pengen belajar aja sih, 4 hari yang lalu Shani dibeliin kamera sama Papa. Siapa tau berguna nanti.”

Gue memanggut-manggut. “Kalau gitu nanti lo sama gue foto-foto yuk? Anggap aje foto Pra-Wedding,” pinta gue bercanda sambil memain-mainkan alis, persis ulat bulu berjalan ditempat panas.

“Hahaha mukamu Pra-Wedding, udah ah Shani nyari dulu,” sehabis berkata begitu Shani kemudian mencari-cari buku yang dicarinya.

Shani itu tetangga gue, dan jarak balkon antar kami juga dekat dilantai 2. Kadang gue kalau main kekamarnya gue tinggal loncat aje, dan Shani juga begitu kalau mau main kekamar gue. Kami berdua udah persis kayak maling rumah Profesional. Dan dia juga baru masuk kuliah, sekarang dia bisa tahu nikmatnya kuis dadakan dan tugas-tugas dosen.

Gue kembali memeriksa pendapatan hari ini di komputer, bukannya ingin tapi lagi gak ada kerjaan aje. Soalnya komik favorit gue udah khatam gue baca sebelumnya.

Bunyi lonceng masuk berbunyi kembali dan perhatian gue sekarang menuju pintu.

Wow! Beautiful !!” puji gue didalam hati.

Yang masuk tadi adalah seorang cewek cantik yang gak gue kenal, rambutnya panjang, berpipi gempal, dan sedang mencari-cari buku dirak. Gue perhatiin terus tuh cewek yang berpindah dari satu rak ke rak lainnya sampai pada akhirnya suara gebrakan dimeja kasir mengagetkan gue.

“Hayooo mulai aktif deh tuh mata,” sehabis berkata begitu Shani kemudian menoleh untuk melihat wanita yang gue lihat tadi.

“Gak pake gebrak-gebrak meja juga kali. Ini aja nih?”

“Iya. Eh kamu ngapain mandang-mandang cewek tadi?” tanyanya sambil menumpu tangannya dimeja kasir dan memperhatikan buku yang gue Scan.

“Mandang aje sih, emangnya gak boleh?”

“Genit.”

“Hehe. Harganya 48 ribu, mau dibaca disini atau dibungkus?”

“Ntar dulu,” sehabis itu Shani memandang luar dari jendela kaca dibelakang gue. “Mau hujan kayaknya, baca disini aja deh. Kebetulan bawa laptop sama kameranya juga.”

“Kalau butuh model panggil gue aje ye? Hehe.”

“Gak,” jawabnya sambil memelet lidah.

“Pelit lu, eh awas itu ada orang dibelakang.”

Shani kemudian menoleh kebelakang dan melihat gadis yang kami omongin tadi, gadis itu hanya tersenyum dipandang sama Shani. Setelah itu Shani berpamitan menuju sofa yang terdapat diujung toko.

Gue lalu melihat gadis ini tidak membawa apa-apa ditangannya yang bertanda dia pasti mau bertanya. “Ada yang bisa saya bantu?” gue nanya duluan dengan ramah.

“Itu, buku Sherlock Holmes yang judulnya The Boscombe Valley Mystery gak ada ya disini?”

“Sherlock Holmes? Buku Detective itu ya?”

“Iya.”

“Tadi dicari emang gak ada?”

Gadis itu hanya menggeleng pelan, dan gue sebagai pegawai toko mau tak mau turun tangan. “Kalau gitu tunggu bentar ya, The Boscombe Valley Mystery kan judulnya?” gue bertanya lagi untuk memastikan, dan dia mengangguk.

Gue lalu mencari-cari buku yang dimaksud di rak bagian Novel Fiksi maupun Mystery dan tampaknya gue setuju dengan perkataan gadis itu barusan. Bukunya gak ada.

“Ga, tolong liatin gudang dong. Cariin buku Sherlock Holmes,” pinta gue kepada karyawan satu lagi. Namanya Ega, dan seperti halnya Enu. Dia juga teman kuliah gue yang magang disini.

“Sherlock Holmes? buku apa tuh?”

“Novel, Detective gitu. Cari yang judulnya The Boscombe Valley Mystery ya?

“Hah? Apa tadi? Oncom Ale-Ale?” tanyanya lagi, gue maklumin karena telinganya ini memang sedikit terganggu.

Gue lalu mengeluarkan Handphone dan mengirimkan pesan ke Ega yang berbunyi judul yang gue sebutin barusan.

“Dah tuh, nanti lu liat aje di SMS judul bukunya.”

“Oke,” setelah itu Ega mulai memasuki kedalam pintu yang terhubung langsung dengan gudang.

Sedangkan gue kembali kekasir yang dimana gadis itu masih menunggu, karena gak ada sesuatu yang bisa dijadikan tempat duduk untuk gue tawarin selain sofa yang nun jauh disana, gue mulai berniat mengajaknya ngobrol.

“Tunggu sebentar ya, bukunya lagi dicariin digudang.”

Gadis itu tidak menjawab tapi dia mengangguk dan tersenyum mengiyakan ucapan gue.

“Ngomong-ngomong fansnya Sherlock Holmes ya?”

Gadis itu kembali menoleh kearah gue. “Iya,” jawabnya tersenyum. “Mas tahu juga ya tentang Sherlock?”

“Gak tau juga sih, tapi dia ada didalam komik Detektive Conan yang biasa saya baca hehe.”

“Oh gitu, emangnya suka baca komik ya?”

“Iya, kalau mbak?”

“Emmm agak kurang hehe, lebih suka novel.”

“Oh keliatan sih, tuh pipi mbak tembem gitu.”

“Kok malah jadi ke pipi?”

“Gak tau juga, ngegombal aja tadi hehe.”

“Ahaha ada gitu gombal bilang-bilang?”

“Ada, tuh barusan saya bilang,” gadis itu kembali tertawa kecil dengan ucapan gue. “Ngomong-ngomong kesini pake mobil atau motor mbak? Diluar mendung soalnya.”

Gadis itu lalu melihat keluar dari dinding kaca. “Iya ya, pake mobil sih tadi kesini.”

“Oh, dari kampus?”

“Enggak, ya muter-muter nyari buku tadi dari rumah.”

Gue cuma memanggut-manggut, tak lama kemudian datang Ega menghampiri.

“Nih Yon bukunya, sisa 5.”

“Yaudah 1 nya sini, sisanya lu taruh dirak. Udah habis stoknya dirak tadi,” pinta gue sambil mengambil buku itu.

Ega yang melihat gadis cantik mulai timbul sifat sok Playboy nya. “Eh ada cewek cantik, siapa namanya mbak?”

“He’eh, udeh sana-sana, ganggu aje lu.” Usir gue kepadanya dengan buku yang gue pegang, persis seperti mengusir-usir laler.

“Bangke lu, hati-hati ya Mbak sama orang ini. Baru disuntik rabies.”

“Woi!”

Mendengar gertakan gue Ega langsung ngacir menuju rak tadi sedangkan cewek ini hanya tersenyum-senyum mendengar percakapan kami barusan.

“Maaf ya Mbak.”

“Iya gak apa-apa kok.” Jawabnya tersenyum.

“Bener?”

Gadis itu kembali tersenyum dan mengangguk.

“Ga, Ega sini Ga. Gak apa-apa katanya, yuk kita ngomong lagi,” panggil gue kepada Ega dan tentu saja gue cuma pura-pura memanggilnya. Gadis itu terkejut dan menoleh kebelakang, tapi dilihatnya Ega tidak mendengarkan karena jaraknya jauh.

“Bercanda kok mbak,” gue lalu mulai memeriksa harga buku di Scan sambil tertawa.

“Ada-ada aja,” ungkapnya dengan tawa yang kecil.

“Biar gak tegang suasananya hehe, harganya 155 ribu. Mau dibayar Cash? atau pakai yang lain?”

Gadis itu yang mau membuka tasnya menoleh kearah gue dengan tatapan heran. “Yang lain? Maksudnya?”

“Ya pake senyum aja, senyum mbak nilainya lebih dari 155 ribu sih soalnya,” gue menjawab sambil terkekeh.

“Hahaha aduuuh, aduuh,” gadis itu tertawa dan menggeleng-geleng sambil mengeluarkan dompet dari tas nya.

“Pake Cash aja deh, kalo pake senyum susah nanti Mas nyari kembaliannya.” Ucapnya tersenyum sambil memberikan 4 lembar uang 50 ribuan.

Gue kembali tertawa mendengar gadis ini mengikuti alur ucapan gue barusan. Setelah membungkus buku dan mengambil kembalian dari kasir, gue langsung saja menyerahkannya kepada yang empunya.

“Nih Mbak, terima kasih udah berbelanja disini.” gue lalu bergaya seperti kasir Indomaret.

“Sama-sama,” Balasnya tersenyum.

Gadis itu kemudian melangkah menuju pintu untuk keluar, sebelum keluar gue memanggilnya lagi.

“Mbak,”

“Ya?”

“Hati-hati dijalan, udah mulai gerimis kayaknya,” gue lalu menunjuk rembesan air yang menerpa dinding kaca.

“Iya, makasih ya,” jawabnya dan lagi-lagi tersenyum, gue pikir tampaknya gadis ini memang ramah dan murah senyum.

Gadis itu akhirnya keluar dan gue kembali melanjutkan aktifitas gue, yaitu bengong  sampai pada akhirnya bunyi lonceng diatas pintu kembali berbunyi dan membuat gue menoleh.

“Wuuhhh untung belum hujan.” Enu lalu menyibak-nyibak pergelangan tangannya yang tampak sedikit basah.

“Punya gue mana Nu?”

“Ada ini. Lo mau makan nanti atau sekarang? Kalau sekarang biar gue aje yang jaga kasir.”

“Nanti aje deh, simpan aje dibelakang. Habis lo makan lo kesini ya? gantian.”

“Oke deh,” ucapnya berlalu menuju ruang pegawai didalam, Enu kemudian memanggil Ega untuk mengajak makan bersama. Tak lupa juga dia gue liat menegur Shani sebelum masuk.

Gue yang mulai bosan mulai menumpu kepala dengan lipatan tangan diatas meja. Lalu perhatian gue tertuju ke ujung toko yang terdapat Shani sedang melihat kameranya sambil membaca buku disofa. Dirasa tidak ada pelanggan yang datang dicuaca seperti ini gue lalu menghampirinya.

“Gimana? Bisa?” gue langsung bertanya saat sudah menghampiri dan duduk disebelahnya.

Tak ada jawaban tapi bibirnya Shani malah dimonyongin sambil memandang kameranya.

“Bukannya dijawab, kenapa lu monyong gitu?”

“Gak ada apa-apa, malas aja ngejawab pertanyaan orang yang senang-senang ngobrol sama cewek tadi.”

“Lah,” gue kemudian terkekeh. “Kenapa emangnya?”

“Gak kenapa-napa,” Shani kembali cuek dan melihat-lihat kameranya.

“Ohh… ya-ya, sory deh ngebuat cemburu.”

Shani kemudian menoleh kearah gue dan mengkerutkan dahinya. “Siapa juga yang cemburu?”

“Ohh kirain cemburu, berarti gue salah sangka dong hahahaha.”

“Ishh, gak lucu tau gak?” Shani terliat masam mukanya dan kembali melihat kameranya.

“Deeeh, gitu aje marah.”

“Siapa juga ya marah?”

“Iya deh iya, berarti tadi aku yang cemburu,” gue lalu menumpu dagu gue dengan tangan dan melihat tangannya yang asyik mempretel kamera.

Shani menghentikan aktifitasnya dan menoleh kearah gue. “Hah? Emangnya kamu cemburu sama siapa?”

“Tuh. Kamera lo, masa dia terus dipegang-pegang guenya enggak?” gue lalu melipat tangan dan menoleh kearah lain selain dirinya, pura-pura ngambek gitu.

“Dih, hahaha,” akhirnya Shani tertawa walau tangannya itu langsung saja menoyor-noyor lengan gue sehingga membuat gue miring kesamping. “Cemburu kok kekamera, Wuuuu.”

“Nah, gitu dong. Gue dipegang-pegang,” Shani yang mengerti maksud ucapan gue kemudian berhenti menoyor. Dia lalu tersenyum dan kembali memandang kameranya, dan kali ini juga bukunya.

Gue terus memperhatikan dia sampai membuat gue sadar ada yang kurang disini. “Mau minum?”

“Emm enggak usah deh.”

“Oh, berarti mau,” gue lalu beranjak dari sofa dan hendak menuju kebelakang.

“Dih dibilangin gak mau,” mukanya langsung merengut memandang gue.

“Eh! Harus mau, pokoknya disini lo gak boleh bilang enggak kalau gue nawarin.”

“Yeee maksa, kalo aku Bos disini udah Shani pecat kamu.”

“Bodo amat,” mulut gue lalu gue buat sejelek mungkin untuk mengejeknya sehingga membuat dia kembali tertawa dan membalas dengan memeletkan lidahnya.

Gue lalu masuk kedalam dan langsung menuju tempat gelas dan termos. Didalam terlihat Ega bersama Enu sedang makan sambil menonton TV dengan acara yang hobinya membicarakan orang lain dan hidupnya sendiri. Biasalah Infotainment.

“Eh Yon, siapa yang jaga kasir?” Enu bertanya dengan mulut menggigit paha ayam.

“Sebentar doang, buat kopi.”

“Oh,” Enu hanya memanggut-manggut dan kembali menonton TV.

Gue lalu mengeluarkan Handphone gue untuk Internetan sebentar sambil mengaduk kopi, dan gue sedikit tersenyum melihat hasil dari gue ber-Internet dilayar Handphone. Setelah membuat kopi 2 gelas gue kemudian bersiap-siap untuk keluar tapi sebelumnya gue berbicara dulu dengan kedua temen gue. “Nu, Bay, cepet dikitlah makan tuh. Gue juga laper ini.”

“Iye, tenang aje.”

“Lu buat kopi untuk siapa Yon?” tanya Ega yang melihat gue menenteng 2 gelas kopi.

“Gue sama Shani.”

Ega dan Enu hanya merespon dengan kata “Oh” dan melanjutkan menonton TV, gue kemudian keluar ruangan dan kembali menghampiri tetangga gue itu.

Gue lalu menaruh kedua gelas kopi tersebut diatas meja “Nih kopinya,” sehabis itu gue kembali duduk disampingnya.

Shani terlihat mencondongkan kepalanya untuk melihat isi minuman yang gue buat dan kembali bersandar di sofa. “Yaah, kok kopi sih?”

“Yeee nih anak, lu kate ini Kafe? ada jus, soda dan lain-lain?”

“Issh becanda, gitu amat,” Shani memanyunkan bibirnya dan mencubit lengan gue pelan. “Makasih ya,” lanjutnya lagi sambil tersenyum.

“Wah, tau gini tadi gue buat kopi pahit aje.”

“Loh? Kenapa?”

“Tuh, senyum lo manis juga ya. Kayaknya bisa itu jadi pengganti gula.” Jawab gue sambil tertawa.

“Ahahaha diiih gombal, basi lagi gombalannya. Tumben-tumbenan kamu ngegombalin aku?”

“Gak apalah sekali-sekali, mending gue gombalin daripada gue kasih kepastian. Bakalan terdiam lu nanti.”

“Kepastian apa coba?” tanyanya dengan gaya menyender dan tangan mengutak-atik kamera. Gue juga ikutan menyender.

“Bosan jadi tetanggaan, pacaran yuk?”

“Heeeeeh?!” Shani terlihat kaget dan melotot kearah gue, sedangkan gue hanya tertawa melihatnya.

“Oh berarti gue salah, gue kirain lu bakalan diem tadi hehe.”

Shani kemudian sewot dan menyenggol-nyenggol gue. “Apa-apaan sih, becandanya kayak gitu.”

“Hehe, eh udah dong. Sakit nih,” ucap gue meminta dia menghentikan senggolannya tersebut.

“Lemah, gitu aja sakit,” Shani kembali bersender dan memanyunkan bibirnya.

“Haaaaaah,” gue gak memperdulikan ucapannya dan kembali ikut menyender. “Emang kalau serius lu mau gitu pacaran sama gue?”

“Gak.” Jawabnya cuek dan perhatiannya masih kekameranya.

“Kenapa?”

“Siapa juga yang mau pacaran sama orang kayak kamu? Genit, suka bangun kesiangan, gak peka, genit.”

“Genitnya kok 2 kali? Sekali lagi dong, biar dapat piring cantik.”

Shani kemudian menaruh kameranya diatas meja dan mengangkat kedua tangannya, dan dengan kedua ujung jari telunjuknya dia mulai menusuk-nusuk pinggang gue. “Genit! Genit! Genit! Geniiiit!”

“Ahahaahha hoi udah woi. Geli! Ahahaahha,” gue berusaha menjauhkan diri dari jaraknya, tapi dia kembali mengikuti dan terus menusuk-nusuk pinggang gue.

“Heeleeeh, malah asyik pacaran lo berdua. Tuh sekarang giliran lo makan, Yon.” Ucap Enu yang ternyata sudah keluar dari ruangan dan disusul Ega setelahnya.

“Hiiis siapa juga yang pacaran, nih Dion nih nyebelin,” Shani langsung menghentikan perbuatannya dan kembali ketempat dia duduk semula.

“Ngatain orang nyebelin tapi senyum-senyum gitu,” Enu mengomentari Shani dengan tawa terkekeh.

“Biarin,” jawabnya cuek dan kembali mengutak-atik kameranya.

“Biasalah malu-malu mau,” gue menimpali, Shani yang mendengar itu langsung memukul pelan tangan gue. “Eh jagain kasir lah, gue mau makan.” Pinta gue kepada Enu sambil mengelak-elak pukulan tangan Shani.

“Iye-iye. Ga, bantuin gue bentar beresin majalah di kasir.” Pintanya kepada Ega dan Ega hanya menjawab “Ok.”

Setelah kepergian Enu dan Ega gue kembali berbasa-basi dengan Shani.

“Udah makan? Pasti belum?” tanya gue sambil melihat jam tangan.

“Kok tau?”

“Ya sekarang udah jam 2.30, lu kan pulang kuliah jam setengah 2. Dari jarak kampus lu kesini aje 10 menit dan tadi gue perhatiin jam lu datangnya jam 2 kurang 15 menit. Itu berarti lo dari kampus langsung menuju kesini.”

“Wow,” Shani terlihat tertegun mendengar omongan gue barusan. “Terus kamu tau darimana Shani belum makan? Kan siapa tau Shani udah makan dikantin?”

“Lo itu mahasiswa baru dan lu itu cewek. Pasti lo itu langsung pulang tanpa kepikiran buat kekantin dulu atau semacamnya. Karena lu masih malu-malu dan belum punya temen dikampus.”

“Enak aja, udah ada temen kok tapi ya.. emang sih gak ada kepikiran buat kekantin tadi. temen Shani aja males kekantin soalnya penuh sama senior-senior.”

“Ditambah lagi lo emang gak pernah jajan dikantin dari sekolah dulu.”

“Kok kamu tau sih? Jangan-jangan kamu tau dari Mama Shani ya?” tanyanya menyelidiki sambil menunjuk tangan kearah gue.

“Beeeh, emangnya gue kenal lo ini baru sehari apa? Haha.”

“Terus kamu tau darimana kalo Shani gak pernah jajan dikantin?”

“Ini nih, Ini nih ckckckc,” gue lalu menunjuk Shani sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Gue kan dari SD udah jadi kakak kelas elu sampai SMA, masa gitu aje gue gak tau kan?”

“Eh? Oh iya hehe. Cieee jadi aku diperhatiin nih yeee?” tanyanya menggoda gue sambil menonjok-nonjok lengan gue.

“Iya dong, tolong dong cie nya dipanjangin haha.”

“Wuuuu,” dari tonjokan sekarang berganti menjadi toyoran kearah lengan gue.

“Tapi lo mau tau gak sebenarnya gue tau darimana lu belum makan?”

“Apa? Apa?” Shani terlihat Antusias.

“Jadi tadi pas bikin kopi, kan gue lagi buka Path tuh. Trus gue gak sengaja liat status lo yang bilang lagi Laper, malah lo check in nya di toko buku ini lagi hahaha.”

Shani terlihat melotot dan mulutnya mulai berbentuk seperti mau mengucapkan huruf O. “Ooooohhh dari situ rupanya! Pake gaya-gaya lagi sok-sok an analisis. Hih! Hih!” Shani terlihat geram dan mencubit-cubit gue.

Gue tertawa dan langsung berdiri menghindari cubitannya.

“Awas kamu,” wajahnya terlihat kesal dan tak berniat menghampiri gue, mungkin karena gue udah berada dipintu untuk masuk kedalam ruangan pegawai.

Gue memasuki ruangan dengan sisa-sisa tawa gue barusan, gue lalu meraih kantong plastik dan mengambil nasi bungkus gue. dan ada lipatan uang dikaret pembungkus yang tampaknya kembalian dari duit gue sebelumnya, gue tau itu karena Enu memang kebiasaan melakukan ini kepada teman-temannya saat dititipi sesuatu. Gue lalu mengambil piring dan 2 sendok, lalu gue keluar dari ruangan dan kembali berjalan untuk menghampiri Shani.

Tiba-tiba ada suara yang menarik perhatian gue untuk melihat keluar. “Yaahhh. Hujan,” ucap gue diperjalanan, dan saat sudah sampai gue langsung saja duduk dan meletakan piring dan nasi bungkus diatasnya.

Shani terlihat sedang meminum kopi yang gue buat tadi, setelah selesai minum dia berbicara. “Iya hujan, eh kok makannya disini?”

“Bareng aja yuk, lo kan belum makan. Nih gue udah bawa 2 sendok.”

“Gak ah, itukan makanan kamu. Lagian Shani gak biasa makan satu berdua.”

“Hmm gitu, kalau gitu biar lu aja yang makan. Gue bisa nanti.”

Shani menggeleng-gelengkan kepalanya. “Enggak-enggak, Shani masih bisa tahan kok.”

Gue lalu berpikir sebentar, sehabis itu gue kembali memasukan bungkusan nasi tadi kedalam kantong plastik.

“Loh kok? Gak jadi makan?”

“Iya, ini buat ntar malam aje deh temen buat main PS nanti dirumah,” gue lalu mengambil kopi gue dan meminumnya.

“Lah terus, sekarang gimana kamu makannya?”

Gue yang udah selesai meminum kopi lalu menjawab pertanyaannya. “Bentar lagi kan jam 3 gue udah pulang kerja. Lo masih disini kan?”

“Iyalah, hujan gitu.”

“Gimana kalau nanti pulangnya sama-sama? Kita makan diluar?”

Shani menoleh kearah gue dan alisnya terangkat dengan senyum mengembang. “Wah boleh-boleh ide bagus tuh, gimana kalau makan Bakso didekat SMA kita dulu?”

“Bosen, sate aja yuk? Kemarin gue sama anak-anak pas selesai main futsal mampir kesitu. Enak loh,”

“Boleh-boleh, dimana tuh?”

“Ada, dekat kok dari sini. Jadi sip kagak nih?”

“Sip,” jawabnya menyetujui.

Gue dan Shani kemudian melakukan tos tangan dan tertawa kecil.

“Terus nasinya ini diapain?” tanyanya sambil menunjuk bungkusan nasi gue.

“Lah, lo denger gue ngomong gak tadi? Kan gue bilang buat ntar malam pas gue main PS nanti.”

“Lupa hehe, main PS melulu kamu, gak pernah Shani ngeliat kamu belajar.”

“Ya kali masa belajar gue harus laporan dulu sama elu? Jadi tiap gue belajar gue kudu ngetok jendela balkon lo terus gue harus bilang gue mau belajar gitu?”

“Hehe ya enggak sih,”

“Lagian bukannya tiap malem lu datang ikutan main PS dikamar gue? Haha.” Sedikit Info yang bisa gue berikan. Gini-gini Shani jago main PS, tapi game balapan, kalau FIFA jadi “Sayur Mayur” dia gue buat alias dia sering kalah melulu.

“Enak aje tiap malem, jarang kali. Kamu tuh yang ampir tiap hari dateng cuma numpang nonton DVD doang dikamar aku.”

“Film lo banyak sih, ada film baru gak?”

“Gak ada, malah Shani ada rencana pengen nonton film di Bioskop soalnya DVD nya belum keluar. Temenin yuk?”

“Film apa?”

“Apa tadi ya emmm,” Shani mengetuk-ngetuk dagu dengan jarinya sambil berpikir, tak lama matanya sedikit melebar. “Suicide Squad judulnya. Gimana? Temenin dong, Shani males nonton sendirian.”

“Tumben, biasanya ngajak temen. Boleh deh, kapan?”

“Temen Shani gak bisa katanya, masing-masing sibuk. Kalau besok gimana?”

“Kenapa gak hari ini?”

“Males ah, tau sendiri kalau malem minggu ramenya kayak apa. Besok aja ya? Gimana?”

“Haha kasian. Iya boleh deh, jam berapa?”

“Kasian, kasian, kamu sendiri kasian. Malam minggu dirumah melulu sama temen-temen kamu yang nginep.”

“Kamar gue udah kayak Mall sih hehe. Jadi jam berapa? Asal jangan pagi atau siang, gue masih molor.”

“Wuuuu,” Shani menoyor lengan gue lagi. “Sore aja deh kalau gitu, diliat dari tingkat malasnya kamu yang susah bangun pagi dan sering kesiangan, kayaknya jam segitu cocok.”

“Nyindir nih ye, oke deh.” Gue kembali menyandar sedangkan Shani hanya tertawa mendengar ucapan gue yang pasrah gara-gara disindir barusan, kemudian terlihat dia menikmati kopi sambil memandang hujan.

Entah sudah beberapa menit kami berdiam diri menikmati suara hujan dan hampir membuat gue terbuai untuk tidur tapi gue masih bisa gue tahan. Gue lalu melihat jam dan sudah hampir menunjukan jam 3. gue dan Shani terus mematung memandang hujan yang bisa dilihat dari dalam, karena baik pintu dan dinding berupa kaca yang bisa melihat sesuatu dari dalam. Tak lama kemudian datang 3 orang teman kuliah kampus gue juga yang akan menggantikan gue, Enu dan Ega menjaga toko buku ini. Mereka bertiga adalah Damar, Aji dan Erik.

“Eh, itu temen kamu yang pake jas hujan warna putih siapa namanya?” tanya Shani sambil berbisik.

“Erik, kenapa?”

“Kemarin dia ngasih coklat gitu keteman kampus aku.”

“Oh ya? Siapa?”

“Manda, kamu kenal?”

“Oh Manda, gak kenal hehe. Terus-terus?”

“Kirain, ya kayaknya temen kamu itu naksir temen aku deh.”

“Wow,” Gue cukup tertegun. “Kalau mereka jadian cepat-cepat kasih tau gue ya?”

Shani lalu menoleh kearah gue. “Emang kenapa?”

“Biasalah, apa namanya tuh? Yang dipake kalian kalau ada teman kalian ada yang pacaran? Lupa gue.”

“Ohhh. Peje? Pajak jadian hahaha.”

“Ah itu, lumayan kan hemat duit buat makan-makan misalnya tuh anak pacaran.”

“Mulai deh tuh keluar akal bulusnya,” wajah Shani langsung singit memandang gue.

“Oh iya, penemu kata Peje siapa sih? Penasaran.”

“Mana Shani tau, emangnya kenapa?”

“Agak gimana gitu, pacaran kok pake pajak segala.”

“Hihi itukan cuma candaan kayaknya, tapi ada juga sih yang nanggepinnya beneran dan benar-benar nraktir temennya.”

“Iya juga sih.” Gue memanggut-manggut.

Yo Wasssssaaaap Yon, Shan. Nyante aje kalian berdua nih.” Sapa Aji yang sudah menghampiri tempat kami berdua, disusul Damar dan Erik dibelakangnya.

“Biasalah, eh di Setia Budi lebat gak Mar?” tanya gue kepada Damar.

“Lebat Yon, mau ngapain lo kesitu?”

“Mau makan nanti, ditempat sate kemarin.”

“Wuehee ketagihan juga lo kesitu haha, eh iya kopi lo yang mana nih?” tanya Erik melihat 2 gelas kopi dimeja.

Gue lalu menunjuk gelas kopi gue. “Nih.”

“Sip,” Erik lalu mengambil gelas kopi gue dan meminumnya tanpa ada dosa sama sekali.

“Kampret, bikin sendiri lah.”

“Alaah lu juga bentar lagi pulang,” jawabnya setelah menghabiskan kopi gue. Damar, Aji dan Shani hanya tertawa saja melihat kopi gue dengan nistanya dihabisin oleh Erik.

“Eh iya gue masuk dulu Yon, Shan. Ganti baju dulu,” kata Damar untuk berpamitan.

“Oke,” jawab gue dan disambung sama Shani. “Monggo-monggo.”

Damar dan Aji lalu berjalan untuk masuk kedalam dan mau disusul oleh Erik.

“Eh Rik, Rik. Bentar Rik.” Panggil gue kepadanya.

“Apa Yon?”

“Masih mau kopinya?” tanya gue kepada Shani dan Shani hanya menggeleng pelan sambil memasukan kamera kedalam tas nya. “Nah, sekalian Rik bawain ke dalem. Nih kopi Shani masih ada kalau lu mau lu pinum aje sampai ampas-ampasnya. Sekalian piring sama nih sendok,” pinta gue dengan menyerahkan benda-benda yang gue sebutin tadi.

“Baru dateng udah banyak aje cucian kotor lo buat.” Ucapnya menyambut benda-benda tadi.

“Cuma gelas doang. Piring sama sendoknya masih bersih itu, belum diapa-apain.”

“Kalau tangan lo yang megang udah gak steril lagi berarti haha,”

“Taik,” balas gue sambil terkekeh.

Erik terus tertawa sampai suara tawanya itu hilang memasuki ruangan. Sedangkan gue kembali menatap hujan yang semakin lebat, itu bisa dirasakan dari derasnya airnya yang turun dan suaranya.

“Kamu itu bisa gak sih gak ngomong kotor sekali aja sama temen-temen kamu?” tanya Shani tiba-tiba sehingga membuat gue menoleh kepadanya.

“Hah? Apanya?”

“Itu tadi taik-taik segala.”

“Oh itu. Udah kebiasaan. Mau gimana lagi coba?”

“Ya jangan dibiasain. Gak enak dengernya tau gak?” komentarnya sambil menyilangkan tangan dan memandang gue.

“Tumben? Dulu lo gak pernah protes perasaan.”

“Ya Shani kan diem aja biar kamu sadar sendiri.”

“Hmm gitu, yaudah deh kapan-kapan hehe.”

“Haaah palingan nanti kamu keceplosan lagi, kayak gak kenal kamu aja.”

“Oh ya? Siapa kamu? Siapa aku? Aku dimana?” gue lalu berakting hilang ingatan. Sedangkan Shani yang tahu candaan gue hanya bisa mesem-mesem dan kembali memukul gue dengan pelan.

“Tapi Shan, lo mau dengar suara gue yang indah buat telinga lo gak? Selain kata kotor gue barusan.”

“Apa? Nyanyi? Shani aja ampe bosen loh denger-denger kamu nyanyi dikamar dengan lagu gak jelas pake Headset. Mana suara kamu Fals lagi hehe.”

“Haha tau aje lo. Tapi bukan nyanyi, lebih indah pokoknya deh.”

“Apa tuh?” tanyanya dengan gaya menumpu kepalanya dengan tangan dan memandang gue.

“Nih ya,” tangan gue lalu gue peragakan seperti orang mau bersalaman dan menghadap kedepan. “Nih. Saya terima nikahnya Shani Indira Natio dengan mas mbak kawin dengan seperangkat alat Sholat dan emas berpuluh-puluh kilo gramnya entah ditimbang pake apa dan dibayar dari hasil menabung bertahun-tahun, tunai!” Setelah puas berkata begitu gue lalu tertawa dan memandang Shani.

“Ahahahahahaha,” Shani juga tertawa terpingkal-pingkal sampai dia bersender disofa. Gue yang masih tertawa lalu kembali berbicara dengannya.

“Gimana? Indah kan? Hahaha.”

“Aduuuh aduuh sakit perut, ahaha indah dari mananya coba? Ada gitu ijab Kabul ngomongnya kayak gitu?”

“Haha ya itu kan candaan doang. Kalau Ijab kabulnya yang beneran kan bakalan Indah ditelinga lo.”

“Hahaha iya sih, tapi kenapa Shani nikahnya sama kamu? Hihi.”

“Cuma ngasih contoh hehe.”

“Dasar.” Shani masih tertawa dan kembali memukul-mukul gue. Agak lucu sebenarnya, dia protes kalau gue ngomong bahasa kotor, tapi hobi dia ini dari dulu suka mukul gue kalau gue bercanda, ini kan kekerasan namanya. Ya, walau pelan sih.

Setelah itu Damar, Aji dan Erik keluar ruangan untuk bersiap menggantikan gue bersama Enu dan Ega.

“Aku ganti baju dulu, lo bawa jas hujan kan?” tanya gue kepada Shani.

“Iya bawa, yaudah cepetan. Udah laper ini,” jawabnya dengan sisa tawa barusan.

Gue lalu memasuki ruangan untuk berganti baju. Setelah membuka seragam datang juga Enu dan Ega memasuki ruangan. Kami kemudian berbincang-bincang selama berganti baju, gue yang udah selesai kemudian berpamitan untuk pulang dan keluar ruangan.

“Udah nih, yuk.”

Shani kemudian mengangguk dan memakai lagi tas nya dan tas kameranya. Gak lupa gue juga mengambil kantong plastik yang isinya nasi bungkus gue tadi.

“Ji, Mar, Rik, gue pulang dulu ya.”

“Oke Yon, Shan. Hati-hati dijalan.” kata Aji mewakili Damar dan Erik.

“Eh Mar, ambilin payung dikasir, pinjem bentar buat ngambil jas hujan di jok motor.”

“Oh, ntar,” Damar terlihat mengobrak-abrik ruangan kasir, tak lama kemudian dia muncul kembali dengan memegang payung yang gue maksud. “Nih Yon, tangkap!”

Gue dengan sigap langsung menangkap lemparan payung yang pelan tersebut. “Main lempar-lempar aje lo.”

“Haha males keluar lagi gue dari kasir.”

Gue langsung saja membuka pintu dan membuka payung yang gue pegang.

“Kunci motor lu mana? Biar gue yang ambilin jas lo,” pinta gue sambil menadahkan tangan kepadanya.

Shani yang mengerti maksud gue langsung saja memberikan kunci motornya. Sehabis itu gue lalu menerjang derasnya hujan dengan memakai payung. Pertama-tama gue ambil jas hujannya Shani kemudian baru gue mengambil jas hujan dari dalam jok motor gue. setelah itu gue kembali lagi ketoko buku.

“Nih, pakenya didalam saja. Imbas airnya masih kuat itu,” ucap gue sambil menunjuk lantai tempat kami berdiri.

“Iya.”

Gue dan Shani masuk kembali. Setelah melipat payung dan udah gue rasa udah gak ada air lagi yang menempel setelah gue kibas-kibaskan diluar. Gue lalu berbicara kepada Damar. “Mar, tangkap!”

Damar terlihat kaget dan gegalapan saat payung sudah melayang dekat dirinya. Karena tak siap payung itu sukses mengenai kepalanya.

“Bangke lu Yon.” Umpatnya kepada gue sambil mengelus-elus kepalanya dan memungut payung yang terjatuh tadi, sedangkan gue hanya bisa tertawa melihat itu.

Gue langsung saja memakai jas hujan gue. setelah dirasa sudah, gue dan Shani mulai bersiap-siap.

“Dah yuk,” ajaknya.

Gue lalu menoleh kearah Shani dan tertawa kecil.

“Ini jas hujan atau kostum buat pesta? Masa ada telinganya gini.” Komentar gue sambil menarik-narik telinga jas hujannya yang gue maksud, telinga itu berbentuk seperti telinga kucing.

Shani terlihat kesal dan berusaha melepaskan tangan gue yang menarik-narik telinga jas hujannya tersebut. “Biarin, abisnya lucu sih,” ucapnya dengan bibir yang manyun.

Gue hanya bisa tertawa, ya emang lucu sih. Kalau Shani yang make emang lucu karena tertolong dengan wajahnya yang imut. Kalau Damar yang makai? Dengan senang hati bakalan gue ceburin tuh anak ke got. Setelah puas tertawa gue dan Shani kemudian menerjang hujan dengan jas hujan kami menuju motor kami masing-masing.

“Nanti lo ikutin gue aja ya dari belakang. Hati-hati dijalan nanti.” Ucap gue setengah berteriak karena derasnya hujan kepada Shani untuk memperingatinya.

“Iya,” balasnya juga dengan setengah berteriak.

Gue lalu menghidupkan motor dan mulai menjalankannya. Gue lalu melihat Spion dan terlihat Shani mengikuti gue dari belakang. Na’as, nasi bungkus yang rencananya mau gue makan dirumah malam nanti terjatuh dan berhamburan di aspal, gue hanya bisa pasrah.

Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kami bedua sampai ditempat yang dimaksud. Untungnya disini disediakan tempat parkir khusus motor yang memiliki atap diatasnya. Setelah kami memakirkan motor berdampingan gue lalu membuka jas sambil mengobrol dengannya.

“Kayaknya sepi, nih motor masih bisa diitung pake jari.”

“Iya, mungkin hujan. Emang biasanya ramai ya?”

“Semalam sih ramai.”

Shani hanya memanggut-manggut terlihat dari mulutnya yang sedikit memonyong, sedangkan matanya tertutup jas karena dia berusaha melepas jas hujan. Setelah selesai membentangkan jas hujan di motor kami masing-masing. Gue dan Shani mulai memasuki tempat makan Sate tersebut.

“Eh Dion, kapan kamu disini?” tanya seseorang dikasir, dan dia adalah Bos ditempat gue bekerja. Gue kaget dia ada disini, dan tampaknya dia udah selesai makan, itu bisa dilihat dari dia yang membayar.

“Barusan pak. Bapak baru datang?” tanya gue, biasalah untuk berbasa-basi.

“Baru selesai, dikasih tau Enu tadi. Eh iya, ini siapa? Pacar kamu?” tanyanya sambil tersenyum kepada seseorang disamping gue, ya Shani yang dimaksudnya.

“Bukan, pak. Tetangga saya, tadi dia mampir ke Toko buku hehe. Bapak sendirian disini?”

“Oh kirain pacar, cocok loh wajah kalian mirip gitu. Sama anak saya, dia lagi cuci tangan sebentar,” ucapnya sambil menoleh kedalam. “Nah, itu dia.”

Gue dan Shani kemudian memiringkan kepala untuk melihat anaknya karena penglihatan kami terhalang oleh beberapa orang disekitaran kasir. Gue lalu tertegun saat melihat orang yang menghampiri tempat kami berada.

“Dion, itukan cewek tadi?” bisik Shani kepada gue dan gue mengiyakannya.

“Udah Yah?” tanya gadis yang ditoko buku tadi kepada Bos gue dan bos gue hanya mengangguk sambil menunggu kembalian. Tak lama kemudian gadis itu menoleh kearah gue dan Shani, terlihat dia juga kaget.

“Eh, kamu kan yang diToko buku tadi?” tanyanya tersenyum sambil menunjuk gue, mendengar pertanyaannya itu Bos gue kembali menoleh kearah gue.

“Loh kalian udah kenal?”

“Belum, tapi Ini loh Yah yang aku ceritain tadi,” jawab gadis itu tersenyum kepada Ayahnya.

“Ohh ya ya,” Bos gue mengangguk-angguk. “Ayah kira yang kamu maksud tadi orang yang satu lagi, soalnya dia mirip banget gayanya sama anak ini haha,” Bos gue lalu menepuk-nepuk bahu gue.

“Enu maksudnya pak?” tanya gue saat Bos gue bilang ada yang mirip gayanya dengan gue.

“Iya, tadi saya kira Enu yang dimaksud anak saya ini hehe.”

“Oh hehe,” gue cuma mesem-mesem, gak heran sih Enu gayanya emang mirip gue. tinggi sama, gaya rambut pun sama, sama-sama berantakan walau masih dalam katagori rapi. Tapi ada yang membedakan, yaitu orang tua kami beda.

“Pak ini kembaliannya,” seorang kasir lalu memanggil Bos gue dan Bos gue kembali menoleh kearah kasir.

“Jadi, kamu anaknya Bos saya? Wah berarti tadi Inspeksi karyawan dong?” tanya gue kepada anak Bos gue tersebut.

“Haha enggak juga, emang tadi lagi niat nyari buku sih. Oh iya, makasih ya udah bantuin tadi. Eh, ini yang tadi juga di toko buku kan?” tanya gadis tersebut kepada Shani.

“Iya,” jawab Shani dengan ramah.

“Oh iya, Dion. Perkenalkan ini anak saya. Namanya Jessica Veranda. Ve, ini namanya Dion,” Bos gue mulai memperkenalkan kami berdua.

Gue lalu memajukan tangan gue untuk berjabat tangan dan untung tangan gue disambutnya dengan ramah. “Dion,” gue mulai memperkenalkan diri.

“Ve,” balasnya dengan ramah. Setelah melepaskan tangan Ve kemudian berkenalan dengan Shani. “Nama aku Ve, nama kamu?”

Shani gue liat menyambut tangan Ve dengan ramah. “Shani, salam kenal ya Ve”

“Sama-sama, salam kenal juga ya Shani,” balas Ve sembari tersenyum.

Setelah mereka berkenalan dan melepas tangan masing-masing Bos gue kembali berbicara.

“Nah Ve. Dion masih sendiri itu, katanya tadi tertarik.”

“Heh?” gue sedikit kaget dengan ucapannya.

“Ayah apa-apaan sih, kan gak enak sama pacarnya,” Ve kemudian mencubit perut ayahnya. Sehabis itu dia berbicara dengan Shani. “Maaf ya Shani, ayah saya tadi cuma bercanda kok.”

“Loh katanya tadi bukan pacarnya loh, iya kan Dion?” tanya Bos gue.

“Iya pak,” gue mengiyakan, sehabis itu gue berbicara dengan Ve. “Shani ini tetangga saya Ve.”

“Oh,” Ve terlihat sedikit terkejut dengan kesalah-pahamannya. “Kirain pacar, maaf ya Shani, Dion.”

“Iya gak apa-apa,” jawab Shani dan gue timpali juga. “Iya, gak perlu minta maaf juga hehe.” Sehabis berkata begitu entah kenapa gue merasakan nyeri dipunggung gue, setelah gue telusuri ternyata Shani yang mencubit. Gue memandang Shani tapi dia hanya tersenyum lurus kedepan.

“Haha saya denger cerita dari anak saya tadi kamu ngegombalin dia ya?”

Gue mulai panik. “Eh i-itu iya pak, tapi saya gak tau kalau Ve anak bapak. Tolong gaji saya jangan diturunkan pak. Gombalnya gak parah kok tadi pak, cuma gombal ringan. Bapak bisa tanya sendiri sama Ve. Iya kan Ve?”

Ve dan Ayahnya malah tertawa mendengar permintaan gue barusan, padahal gue udah berdebar-debar dengan keparnoan gue barusan.

“Ada-ada saja, ya enggaklah Dion. Kamu lucu deh,” Ve tertawa dengan menutup mulutnya.

“Iya ngapain juga saya harus nurunin gaji kamu? Kecuali kamu macarin anak saya, ya saya tambahin sedikit gaji kamu buat nabung kalian nikah.”

“Ayah! Mulai deh,” Ve kemudian mencubit perut Ayahnya lagi.

Gue hanya bisa tertawa mendengar ucapannya, begitu juga Shani. Dia memang tertawa tapi tangannya lagi-lagi mencubit punggung gue.

“Kalau gitu saya pulang dulu ya Dion, Shani.” Bos gue mulai berpamitan untuk pulang. “Eh iya Ve, Aaron biar Ayah saja yang jemput. Kamu langsung pulang saja nanti dan ini tolong kasihin ke Mama kamu dirumah,” pinta Bos gue sambil menyodorkan bungkusan berisi sate kepada anaknya tersebut.

“Iya Pak. Hati-hati dijalan nanti pak,” gue lalu memberikan ruang untuk bos gue lewat.

“Terima kasih,” Bos gue lalu tersenyum kearah gue dan Shani sambil menepuk-nepuk bahu gue kembali. Setelah itu beliau langsung keluar dengan payung yang sepertinya udah dia bawa sebelumnya kearah mobil.

“Kalau gitu aku juga pulang dulu ya Dion, Shani,” Ve juga berpamitan dan meraih payung yang dia titipkan dekat kasir.

“Iya Ve,” jawab Shani dan gue hanya tersenyum karena ucapan yang mau gue ucapkan sudah diwakili oleh Shani.

Ve hanya mengangguk sembari tersenyum membuka payungnya. “Oh iya Dion,” panggil Ve tiba-tiba.

“Ya?”

“Jaga kesehatan ya biar kamu gak sakit dan bisa terus bekerja dengan baik,” ucapnya menasihati gue.

“Iya, pasti. Terima kasih,” balas gue sambil tersenyum.

“Sampai ketemu nanti,” sehabis berkata begitu Ve langsung saja keluar menuju mobilnya dengan menggunakan payung.

Setelah kepergian Ve, perut gue dan perut Shani mulai keroncongan yang membuat gue teringat tujuang gue semula kesini. Tanpa basa-basi lagi gue langsung memesan.

“Bang, satenya 2 porsi ya. Yang satunya gak pake timun. Lu masih gak suka timun kan?” Tanya gue kepada Shani dan Shani hanya mengangguk. “Dah itu aje bang.”

“Sate ayam atau sapi?”

“Oh iya, campur aje deh bang. Yang  Special.”

“Oke, kalau tunggu gitu tunggu saja. Eh kalau gak salah kamu tadi malam kesini yang rame-rame itukan habis main futsal?”

“Iya bang, ingat aje hehe.”

“Haha ingat dong, kan kalian nambah sampai 3 kali. Mudah-mudahan langganan disini ya kalau mau beli sate.”

“Pasti. Kalau gitu saya nunggu duduk dulu bang.”

“Oh iya, maaf-maaf. Ngajak ngobrol jadinya hehe.”

“Gak apa-apa bang, santai hehe. Oh iya Teh es satu sama teh panas 1 ya bang,” gue kembali memesan minuman dan abang yang sedang membolak-balikan sate hanya mengangguk dan tersenyum mengiyakan.

Setelah itu gue dan Shani memilih tempat duduk yang paling ujung karena cuma diujung yang gue rasa hawanya lumayan. Kalau didepan udara dingin udah mulai menusuk-nusuk tulang apalagi gue dan Shani gak memakai jaket.

“Oh iya, tadi lu nape nyubit-nyubit punggung gue?”

“Gak tau, pengen aja,” jawabnya cuek sambil memain-mainkan tusuk gigi ditangannya.

“Ohh gue kirain cemburu tadi.”

“Yee ngarep. Tadi itu Shani udah laper banget dan Shani nyubitin kamu cuma sebagai pengalihan.”

“Pengalihan apa? Udah kayak politik aje pengalihan-pengalihan haha.”

“Weeeek,” Shani yang terlihat sebal mulai memeletkan lidahnya.

Tak lama kemudian datang seorang pelayan yang membawa pesanan minuman gue pesan tadi. Setelah meletakan diatas meja pelayan itu kemudian pergi dan gue mulai membagikan minumanya. Gue Teh Es sedangkan Shani teh panas.

“Minum dulu Shan, biar hanget tuh perut.”

“Masih panas. Kok kamu minum Es sih? Udah tau dingin gini.”

“Hmm gue gak biasa minum panas-panas, kan lo tau sendiri,” jawab gue dengan cueknya menyeruput kembali.

“Oh, gak ingat Ve tadi bilang apa? Jaga kesehatan, biar dia bisa ketemu kamu lagi tuh di toko buku. Kalau sakit kan kamu gak bisa masuk kerja.”

“Emangnya dia siapa gue? Terserah gue dong. Lagian lu ngapain ngomong gitu sambil nyingit-nyingitin tuh mata ke gue?” tanya gue sedikit menahan tawa.

“Gak kok, biasa aja.”

“Oh kirain.”

“Apa? Cemburu? Dibilangin gak cemburu, masih aja ngarep,” ucapnya lagi dengan memanyunkan bibir dan melihat-lihat kuku-kuku tangannya.

Gue akhirnya tertawa. “Hahaha yang bilang cemburu siapa coba?”

Shani lagi-lagi kesal dengan ucapan gue. “Terus kamu tadi mau ngomong apa yang kirain tadi?”

“Gak mau ngomong apa-apa. Gue aja gak mikir apa-apa tadi hehe.”

“Kamu sih suka bilang cemburu inilah, cemburu itulah. Kan Shani jadinya mikir kamu tadi mau ngomong gitu,” keluhnya kepada gue.

“Hehe iya maaf. Yaudah daripada lu marah-marah, mending kita makan dulu. Tuh pesanannya udah dateng,” kepala gue menadahkan kearah pelayan yang membawa pesanan kami berdua.

Setelah makanan datang, cacing diperut kami berdua gue rasa udah berpesta pora menunggu kedatangan asupan makanan yang akan memasuki perut nanti. Gue dan Shani mulai makan dengan nikmatnya, dan terlihat wajah Shani yang senang saat makan sedari tadi.

“Kasian, laper banget kayaknya,” gue mulai berkomentar.

“Hehe. Enak ya satenya, kayaknya boleh nih dibungkus satu buat dirumah.”

“Boleh, asal pake duit lu sendiri haha.”

“Yeee yang minta dibeliin siapa?”

“Oh, kirain ngasih kode tadi minta dibeliin.”

“Wuuuu,” dengan tusuk sate yang habis dipakainya Shani langsung menusuk tangan gue dengan ujungnya tersebut.

“Eh sakit, main tusuk-tusuk aje.”

“Hehe maaf.”

Kami berdua melanjutkan makan sampai pada akhirnya semua sate dan lontong dipiring kami berdua telah lenyap dari muka bumi ini. Kalau gue gak ada malu gue mau aja tuh ngejilat-jilat sisa bumbu kacangnya yang masih tersisa di piring.

“Pasti kamu mau ngejilat sisa bumbu kacangnya kan?” tanya tiba-tiba dengan tersenyum renyah.

Gue kaget. “Kok lu tau?”

“Kayak gak tau kamu aja, sisa mie goreng yang biasa aku buatin aja kamu jilat-jilat,” jawabnya sambil menyeruput tehnya.

“Kalau gitu gue jilat ya?” gue udah mulai berancang-ancang untuk menjilat piring tersebut.

Mata Shani terbelalak dan buru-buru meletakkan cangkir tehnya. Tangannya lalu mencegah gue melakukan hal itu. setelah menelan minumannya dia kemudian berbicara. “Kamu apa-apaan sih, gak malu apa? Liat tuh udah mulai ramai orang.”

“Bercanda, biar tangan lo megang gini,” gue menjawab sambil terkekeh.

“Hmmm modus!” Shani buru-buru melepaskan tangannya.

Gue hanya bisa tertawa. Gue kemudian mengeluarkan rokok, mengbakar ujungnya dan mulai menghisapnya. “Oh iya Shan, gue liat-liat dari dulu lo kok gak pernah pacaran gitu?”

“Kenapa emangnya?”

“Ya penasaran aje sih.”

“Apanya yang dipenasaranin? Males pacaran, cowoknya gak peka sih.”

“Oh udah ada yang lo taksir. Kayaknya gue yang harus cemburu sekarang,” gue lalu berakting berpura-pura frustasi.

“Hahaha apaan deh. Lebay, oh iya kamu sama Melody kenapa bisa putus pas SMA? Padahal udah mau setahun kan kalian dulu.”

“Mau jawaban yang bohong atau yang jujur dulu nih?” gue bertanya balik.

“Hmm yang bohong dulu deh, Shani gak yakin kamu mau jawab serius kalau jujur.”

“Hahaha emanglah. Oke, dari yang bohong dulu ya. Melody dan gue putus baik-baik karena kami pikir lebih baik temenan saja.”

“Hmm kalau yang jujur?”

“Sama kayak yang bohong tadi,” gue menjawab sambil tersenyum dan memain-mainkan alis.

“Haha bohong!” ucapnya dengan mata yang mendelik tajam.

“Lah bohong gimana?”

“Yaiyalah, ada gitu jawaban jujur dan bohongnya bisa sama gitu?”

“Hehe iya sih, sebenarnya Melody mutusin gue karena dia gak tahan ngeliat gue yang lebih sering main Game daripada ngeperduliin dia. Tapi kami masih berteman sekarang, lu liatkan gue sama Melody masih negur-negur di kampus?”

“Iya juga,” Shani menyetujui kata gue barusan. “Tuh kan bener kamu ini gak ada peka-pekanya sama sekali.”

“Bukannya gak peka, cuma guenya suka diem aje. Diem-diem memperhatikan. Jangan-jangan cowok yang lu maksud tadi yang gak peka pasti gue ya?”

“Mulai deh GR.”

“Elu yang mulai haha.”

“Malah Shani yang disalahin. Trus kalau gitu cewek idaman kamu itu kayak gimana? Ngertiin kamu yang suka main Game gitu?”

“Salah satunya. Game kan hanya Hobi, lo juga pasti punya hobi kan? Gimana perasaan lo saat hobi lu diganggu?. Gue juga main Game kalau kewajiban gue udah selesai, ngerjain tugas dan lain-lain. Kan lo tau sendiri.”

“Ya tapi jangan ampe segitunya kali dimakan sama hobi kamu sendiri sampai gak peka. Cewek biar gimanapun butuh perhatian apalagi sama orang yang disayanginya tau gak?”

Gue tertegun. “Baru tau gue.”

“Tuh kan, makanya Shani gak heran Melody mutusin kamu.”

“Telat gue nyadarinnya. Yaudah deh, anggap aje pengalaman.”

“Gak ada niat gitu buat balikan sama Melody?”

“Kalau gue niat balikan yang ada gue berantem sama cowoknya. Kan Melody udah ada pacar baru, lagian gue udah gak ada perasaan apa-apa lagi sih sama dia. Udah enakan gini juga.”

“Mulai deh ngibulnya lagi.”

“Gak percaya ya udah, gue gak nyuruh lu buat percaya,” gue tertawa kecil.

“Tahu sifat kamu kayak gini bingung jadinya mana yang bercanda mana yang serius, cengengesan melulu.”

“Haha iya maaf.”

“Dasar, terus apa lagi selain ngertiin tentang hobi kamu?”

“Nanya melulu lu.” Sehabis itu gue menghisap rokok dan menjauhkan asapnya dari Shani, kasian gue ngeliat tangannya ngipas-ngipasin asap rokok gue melulu.

“Pengen tau aja.”

“Hmmm gak tau juga gue. Gak ada kriteria khusus.”

“Dih gayanya, kalau ceweknya nyuruh kamu berhenti ngerokok gimana?”

“Haaah itu sih semua cewek juga bisa, tinggal nyuruh doang. Kalau dia ngebantu proses gue berhenti ngerokok baru gue salut tuh.”

“Hmm gitu,” Shani memanggut-manggut. “Terus gak ada lagi gitu?”

“Apa ya..” gue mulai berpikir-pikir. “Ah iya, kalau bisa yang pande bikinin gue kopi susu tiap pagi. Seger rasanya, kan wanita idaman yang bisa ngerti kesukaan cowoknya hehe.”

“Tuh kan gimana Shani bisa percaya, kamunya aja suka bangun kesiangan,” Shani kemudian tertawa dengan ucapan gue barusan.

“Etssss lu gak tau aje gue ini sebenarnya jam 6 biasanya udah bangun.”

“Masa?”

“Ya, tapi pas bangun gue bingung mau ngapain. Ya gue tidur lagi akhirnya hehe.”

“Haha Dion, Dion,” Shani kembali tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Gaya lu sok tua, geleng-geleng kepala segala.”

“Mulai deh nyebelin,” mulutnya mulai cemberut, gue suka mandang dia kalau lagi gini.

“Sekarang gue tanya sama lo, kriteria cowok lo kayak gimana?”

“Kepo,” sehabis berkata begitu dia lalu tersenyum dan memeletkan lidahnya lagi kepada gue. Gue hanya bisa nyinyir dan dia kembali tertawa.

Kami berdua terus mengobrol dari hal kecil sampai hal yang serius. Seperti memperdebatkan bumi itu datar atau bulat. Shani yakin bumi itu bulat sedangkan gue yakin bumi itu berbentuk semau hati dia mau berbentuk apa. Gue sebenarnya gak mempermasalahkan bumi mau berbentuk apa, cuma gue rasa gak perlu diperdebatin. Cukup percaya sama dengan sang Maha Pencipta dan patuh kepadanya. Toh kiamat nanti bumi ini bakalan hancur seperti debu. Trus kenapa gue malah ngomongin hal ini sama Shani? Namanya juga bahan untuk obrolan.

“Eh udah sore ini, hujan pun udah agak reda. Pulang yuk?” ajak Shani.

“Ayo, eh iya gak jadi bungkusin satenya?”

“Oh iya, untung kamu ngingetin. Tunggu bentar ya.” Shani kemudian pergi kedepan untuk memesan sate lagi untuk dibungkus.

Gue berniat ikutan kedepan sambil membawa tasnya dia dan juga tas kameranya. Setelah gue rasa gak ada yang ketinggalan gue mulai menyusul dia. Gue lalu memberikan tasnya kemudian gue membayar pesanan gue dan Shani barusan. Sedangkan sate yang dibungkus Shani yang mau bayar sendiri.

“Nanti temen kamu nginep lagi dirumah?”

“Gak, Enu sama yang lainnya mau ikutan Bayu sama Beny nanti malam. Katanya sih syuting gitu.”

“Syuting? Emangnya mereka kru film?”

“Bukan, lagi buat film pendek mereka. Bayu dan Beny kan anak DKV. Nah Enu sama yang lainnya pengen ikutan, karena ada sepupu Beny dan Bayu juga yang ikutan. Cewek, jadi jangan heran kenapa mereka mau ikut.”

“Oh,” Shani memanggut-manggut. “DKV apaaan sih? Dikafe?”

“Bukan, ngaco lu. DKV itu Desain Komunikasi Visual. Di UMN sono. Nah Bayu sama Beny anak Cinematography.”

“Hehehe jarang denger sih. Terus kenapa kamu gak ikutan?”

“Males, lagian katanya besok mereka juga syuting lagi. Besok deh baru gue ikut.”

“Tapi syuting kok malam-malam gitu sih? Emangnya gak bisa siang apa?”

“Bayu sama Beny maniak Horror. Beny ngeliat kuntilanak aja dulu bukannya lari, malah dikejarnya tuh kuntilanak. Nyokapnya cerita sama gue.”

“Oh gitu, ada-ada aja. Oh iya, Bayu sama Beny itu yang mana sih?”

Gue langsung tertunduk lesu. “Gue kirain lu udah tau.”

“Temen kamu suka beda-beda melulu datang kerumah kamu, gimana Shani bisa ngingetnya coba? Mending 1, ini bergerombol. Shani aja inget Enu, Aji, Damar sama Ega aja gara-gara sering ketemu ditempat kalian kerja ataupun dikampus.”

“Haha iya deh, nanti gue kenalin. Tapi lu jangan naksir ya.”

“Kenapa emangnya?”

“Nanti gue cemburu lo naksir temen-temen gue, gue kan udah naksir lo udah lama,” gue menjawab sambil tertawa

“Hahahaha mulai deh, mulai.” Shani juga ikutan tertawa dan lagi-lagi memukul gue dengant tasnya.

“Mukul melulu.”

“Kamunya gitu sih hehe.”

Tak lama kemudian Shani dipanggil pelayan karena pesanannya sudah jadi, setelah itu kami langsung keluar menuju parkiran. Sambil melipat jas hujan Shani kembali mengajak berbicara.

“Kalau Ve suka sama kamu gimana? Tadi aja dia cerita soal kamu sama ayahnya.”

“Trus kalau gue gak suka gimana? Masa baru kenal udah langsung naksir aje.”

“Bukannya iya? Ve kan cantik.”

“Iya juga ya. Apalagi kata Ayahnya kalau gue pacaran sama anaknya gaji gue dinaikin dikit. Asyik sekali.”

“Wuuuh jangan gitu, masa mau pacaran sama anak orang gara-gara gaji?”

“Ya enggaklah, kalau ada pilihan Ve sama lo gitu, gue sih milih elu.”

“Hmm mulai lagi.”

“Eh serius, soalnya kita kan udah kenal lama. Baik buruknya pun udah tau, kalau Ve bisa gitu kayak lo, mungkin gue mau aje sama dia.”

“Beneran?”

“Bercanda. Haha, nanya melulu. Pacaran aje lo belum pernah, nyari ilmu ya?”

“Haha seru sih,” tawanya sambil memasukan lipatan jas kedalam jok motor. “Oh iya, besok pas pergi nonton awas kamu ya bawa-bawa rokok.”

Gue menyeringitkan dahi. “Lah kenapa?”

“Risih liatnya, tadi aja tangan Shani pegel ngipas-ngipasin asap rokok kamu. Awas aja kalo berani ngerokok didepan Shani lagi. Bakalan Shani buang langsung rokok kamu.”

“Segitu amat, kalau gitu kalau gak didepan lo gue boleh ngerokok?”

“Ya, tapi kalo deket-deket Shani awas aja.”

“Oke, tapi nanti malam gue nonton DVD lagi ya dikamar lo? Mau lanjutin nonton Game Of Throne kemarin hehe,”

“Dasar. Padahal rumah kamu udah ada Internet, tinggal download atau Streaming.”

“Males, mending DVD. Tinggal pencet.”

“Hihihi.”

Setelah selesai berbicara gue dan Shani langsung saja pulang dengan motor kami masing-masing. Jarak dari sini sampai rumah gue lumayan jauh dan harus 3 kali ketemu sama lampu merah. Di lampu merah yang kedua gue gak sengaja melihat Melody melintas bersama cowok barunya. Gue hanya tersenyum dan benar-benar yakin dengan ucapan gue sebelumnya yang tampak biasa saja melihat itu tanpa terbawa perasaan sama sekali. Kalau pas masih pacaran sih iya, tapi itu dulu.

Seperti halnya lampu merah ini, tak selamanya dia meminta gue untuk berhenti, akan ada waktunya dia memberi lampu hijau untuk terus berjalan dan melewati sesuatu yang membuat gue berhenti barusan. Merah akan beganti menjadi Kuning dan Hijau, bertahap untuk yang terbaik.

15 menit perjalanan akhirnya gue sampai dirumah, begitu juga dengan Shani yang rumahnya tepat disamping rumah gue.

“Nanti malam bawain snack lagi ya, kalau enggak jangan harap balkon kamarnya Shani bukain.” Ucapnya memberitahu keinginannya.

“Ngemil melulu.”

“Biarin, daripada kamu. Makan melulu tapi gak gemuk-gemuk.”

“Cacing gue udah buat Negara didalam perut hehe.”

“Haha udah ah. Mandi dulu, kamu jangan lupa mandi tuh. Shani gak mau kamar Shani bau.”

“Bawel lu.”

“Biarin,” ucapnya berlalu memasuki garasi rumahnya.

Gue lalu memasukan motor gue kedalam garasi dan segera masuk kedalam rumah.

“Lama amat pulangnya Yon? Darimana?” tanya Ibu gue yang sedang menonton acara komedi situasi di TV bareng ayah gue.

“Makan dulu tadi sama Shani.”

“Kok bisa bareng? Kan jam kuliah kalian beda?” Sekarang giliran Ayah gue yang berbicara.

“Tadi dia mampir di tempat Dion kerja. Kekamar dulu ye, ngantuk.”

“Udah mau Mahgrib baru mau tidur, persis Ayah kamu dulu.” Ibu gue mulai berkomentar, sedangkan pria berkumis yang memberi gue gen punya hobi tidur jam segini hanya tertawa. Ya dia ayah gue yang gue maksud tadi.

Gue menaiki tangga dan memasuki kamar gue. sesampainya dikamar gue langsung saja berbaring karena rasa kantuk yang sudah tak tertahankan. Gue melihat jam sebentar yang menunjukan pukul setengah 5 sore. Setelah itu gue mulai menutup mata dan mulai menuju mode setengah mati.

“Dion,” panggil seseorang dari arah balkon kamar gue. Dan gue kenal suara itu tapi gue malas menjawab panggilannya karena keburu ngantuk.

“Awas aja ketiduran ampe Maghrib ya. Gak bakalan Shani bukain nih Balkon kamar nanti biarpun kamu gedor-gedor ataupun bawa Snack.” Lanjutnya lagi.

“Bodo amat,” komentar gue dengan suara pelan saking ngantuknya.

“Awas aja kalau kamu ngomong “Bodo Amat” habis ini,” ucapnya lagi.

Njir, tajam amat firasat nih cewek,” gue yang kaget karena itu akhirnya bisa sadar kembali dari rasa ngantuk gue.

Dengan muka malas gue lalu membuka pintu balkon kamar dan melihat Shani sudah tersenyum-senyum mandangin gue.

Gue yang dipandang hanya cuek aja sambil menggaruk-garuk kepala dengan muka setengah ngantuk. “Ganggu aje lu.”

“Biarin, sekarang mending kamu mandi biar segeran dikit.”

“Males, gini aje udah wangi kok.”

“Tante, Dionnya gak mau mandi Tanteee,” Shani dengan setengah berteriak menoleh kearah dalam kamar gue.

“Dion, Mandi,” terdengar suara Ibu gue menyuruh juga dari bawah.

“Ngadu aje lu.”

“Hahaha kalau gak gitu kamu gak bakalan mau nurut.”

“Tanteee, Shaninya gak mau mandi tanteee.” Gue juga membalas ucapannya dengan berbicara setengah berteriak kedalam kamar.

“Shani, ayo mandi.” Terdengar suara Ibu Shani juga setengah berteriak yang bisa gue dengar dari sini, Shani memandang kesal kearah gue sedangkan gue hanya bisa ngakak.

“Dah sana mandi, inget bawa Snack nanti malem.”

“Bareng aje yuk mandinya?”

“Tanteee, Dion genit lagi tanteee,” Shani kembali berbicara setengah teriak kedalam kamar gue.

“Dion!” terdengar suara Ibu gue memanggil, gue mulai keki sedangkan Shani sudah tertawa terbahak-bahak memasuki kamar dan menutup pintu balkon kamarnya.

Gue akhirnya masuk kekamar, karena kesal gara-gara tadi rasa kantuk gue mulai hilang. Akhirnya gue terpaksa untuk mandi dan menuju kamar mandi dengan lingkaran handuk dileher. Setelah proses mandi yang gak perlu gue beritahukan caranya, gue lalu keluar kamar mandi dan segera melakukan proses selanjutnya, yaitu ganti baju. Setelah itu bergabung dengan orang tua gue dibawah untuk nonton.

Setelah melakukan aktifitas yang beragam akhirnya jam menunjukan pukul setengah 8 malam. Gue langsung saja kekamar gue dan membuka isi lemari gue untuk mengambil Snack yang biasa gue beli untuk menemani gue saat bermain PS. Gue lalu pergi kebalkon kamar dan cukup selangkah saja gue udah sampai dibalkon kamarnya Shani.

Gue mulai mengetuk sambil memanggil namanya. “Shan, Shani.”

Pintu balkon kamarnya terbuka dan tiba-tiba nongol kepalanya memandang gue dan berkata. “Password.”

“Banyak gaya, langsung masuk aje pun pake password.”

Ting-tong! Bener. Silahkan masuk,” ucapnya sambil tersenyum mempersilahkan gue masuk sambil membuka pintu balkon kamarnya lebar-lebar.

Password-nya? Ya itu tadi yang gue sebutin.

“Yah, kok dikit amat sih snack nya?” komentarnya bersungut-sungut mengambil snack dari tangan gue.

“Shan, ingatlah kalimat pertama bagian Reff lagu d’Masiv – Jangan Menyerah.” Ucap gue sambil duduk didepan rak DVD nya.

“Apa tuh?”

“Syukuri apa yang ada ~,” gue menjawab dengan nada menyanyikan bait lagu tersebut.

“Hahaha alesan aja, yaudah deh gak pa-pa. Lumayan nambahin snack.”

“Udah ada snack pun masih minta. Eh Shan, mana kasetnya yang kemarin?”

“Lah kemarin kamu simpen dimana?”

“Didekat TV,” gue menjawab sambil menoleh kepadanya.

“Ya masih disitulah kasetnya. Kamu ngapain malah bengong mandangin rak DVD?”

“Kirain udah lu beresin hehe,” gue kemudian merangkak menuju arah TV kamarnya.

“Shani kebawah dulu ya ambilin minum,” sehabis meletakan snack ditempat tidur dia kemudian beranjak untuk keluar tapi didepan pintu Shani tiba-tiba berhenti. “Kamu gak bawa rokok kan?”

“Enggak.”

“Bagus, awas aja kamu ngerokok disini,” sehabis berkata begitu dia kembali melanjutkan perjalanannya. Gue langsung saja memasukan kaset DVD Game Of Throne kedalam DVD player. Gue lalu memilih episode yang terakhir gue tonton dan langsung menekan Play.

Asyik-asyik menonton Shani akhirnya kembali membawa sekaleng susu soya dingin dan juga air putih yang selalu dia bawa kalau gue datang kekamarnya.

“Nih,” tangannya memberikan kaleng susu soya tersebut dan gue langsung mengambilnya.

“Kok udah sampai disini? ulang-ulang,” tangannya lalu meraih remote dan menekan tombol untuk kembali dari awal.

“Yeee, ini sih gue rugi 3 menit jadinya.”

Shani lalu mengambil bantal ditempat tidurnya. “Siapa suruh mutar dulu gak pake nungguin. Geser dikit,” pintanya menaruh bantal disamping gue yang duduk menyandar di lemari pakainnya.

“Nyempil aje lu.”

“Terserah gueeeeeh dong, kamar-kamar gueeeehh.”

Gue tertawa. “Hahaha gak cocok Shan, janggal telinga gue dengerinnya.”

“Makanya jangan banyak protes.”

“Iya, pesek.” Kemudian gue memencet hidungnya.

“Ngatain lagi, endut.” Shani kemudian membalas memencet perut gue.

Gue terkekeh. “Gendut dimananya coba?”

“Ngehibur kamu aja sih, yang gak bisa gendut-gendut hehe.”

“Bisa-bisa. Dah mending nonton aje deh.”

Gue dan Shani kembali menonton sambil berkomentar-komentar dengan apa yang ada di adegan TV Series yang sedang kami tonton ini. Kami terus menonton dan menonton sampai pada akhirnya Shani berbicara kepada gue.

“Dion, Shani tidur dulu ya. Jangan lupa nanti tutup pintu balkon kamarnya dan kunci dari luar. Bisa kan?”

“Tanggung Shan, kenapa gak tunggu episode ini habis aje?”

“Udah ngantuk ini.”

“Baru jam 11,” komentar gue saat melihat jam didindingnya.

“Issh jangan disamain jam tidur Shani sama jam tidur kamu. Udah deh, inget ya jangan lupa tutup pintunya nanti,” pintanya lagi sambil memiringkan badannya untuk tidur.

“Haaah mending lanjut besok aje deh. Gue pulang dulu kalau gitu.” Gue lalu mengambil remote dan mematikan DVD. Setelah itu gue berdiri dan mematikan TV nya.

“Shan, kunci nih pintu. Gue udah mau balik.” Ucap gue membangunkan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya.

“Nggg,” Shani dengan wajah setengah ngantuknya lalu berdiri.

Sesampainya di Balkon, gue yang mau melangkah tiba-tiba diajak berbicara.

“Jangan lupa besok sore tuh.”

Gue melanjutkan perjalanan sekali langkah itu menuju balkon kamar gue. “Iye tenang aje.” Jawab gue dan gue liat Shani sudah mengucek-ngucek matanya.

“Dah tidur sana gih, ngantuk amat kayaknya.”

“Hehe,” Shani hanya tertawa komentar gue barusan, gue lalu membuka pintu balkon kamar gue dan lagi-lagi Shani berbicara.

“Dion, pintu balkon kamu jangan dikunci ya? Ampir aja Shani lupa tadi.”

Gue lalu memandangnya dengan tatapan penasaran. “Kenapa?”

“Ada deh,” balasnya dengan senyuman, walau matanya menutup, mungkin saking ngantuknya.

“Ada-ada aje lu,” gue lalu memasuki kamar dan hendak menutup pintu balkon.

“Jangan dikunci, inget ya? Nanti kamu bakalan tau kok.”

“Iye-iye, dah tidur sana.”

“Iya, dah.” Shani kemudian menutup pintu dan begitu juga gue dengan mengikuti permintaannya. Entah apa maunya pintu balkon kamar gue ini diminta untuk tidak dikunci.

Gue lalu bermain Game sebentar dan rasa kantuk yang gue tahan sedari sore tadi tampaknya kembali menyerang. Mata gue serasa habis baterai dan mau menutup. Dengan malas melakukan tahap Shut Down komputer, gue main cabut aje kabelnya dan segera menuju kasur. Gue semakin terlelap, dan terlelap. Bagaikan ditampar para Dewa tidur, gue pun akhirnya tertidur.

Didalam mimpi gue sedang berada disuatu tempat kosong yang ada hanya gue dan sebuah kursi. Gue kemudian duduk dan termenung tanpa mengetahui apa yang harus gue lakukan. Tiba-tiba gue mendengar suara bel dari belakang yang entah dari mana datangnya. Lalu terdengar suara bel lagi dari arah kanan dan terdapat bel besar yang bentuk nya menyerupai bel sebelumnya. Suara bel semakin nyaring karena jumlah Bel semaking banyak dan memekakkan telinga gue. Tak tahan dengan itu tiba-tiba gue tersadar dari alam mimpi.

Gue lalu menoleh kearah samping tempat tidur dan mematikan alarm yang selalu gue pasang untuk membiasakan gue bangun pagi, walaupun pada akhirnya gue bakalan tidur lagi. Setelah mematikannya gue melempar alarm tersebut kebagian ujung kasur.

Dengan ekspresi malas sambil mencoba bangun dari tempat tidur, gue akhirnya duduk dikasur sambil menguap-nguap setelah merenggangkan badan. Gue perhatikan sekitar tidak ada yang berubah seperti biasanya. Gue lalu berinisiatif untuk tidur kembali. Saat badan gue berbaring kesamping gue melihat sesuatu yang janggal, sesuatu yang tak pernah gue taruh benda apapun di atas meja yang berada tepat disamping kasur gue.

Gue kemudian duduk kembali.

Siapa yang naruh cangkir disini?” batin gue bertanya. Lalu gue perhatikan ada selembar kertas yang menyangkut dipegangan cangkirnya.

Langsung saja gue ambil kertas itu, dan saat tangan gue bersentuhan dengan cangkir, terasa sekali cangkir itu masih cukup panas. Yang menandakan bahwa cangkir itu belum lama ditaruh disitu.

Gue semakin penasaran dan langsung saja gue buka kertas tersebut.

“Apaan nih?” gue melihat ada sebuah bentuk seperti tulisan tapi bahasanya tidak gue mengerti sama sekali. Gue lalu mencoba membalikan kertas tersebut dan terkekeh. “Kebalik, pantas gak kebaca hehe.”

Gue lalu membaca tulisan yang ada dikertas tersebut.

Dion, kalau kamu udah membaca surat ini berarti kamu udah bangun. Tapi walaupun begitu Shani mau buktiin apa bener yang kamu ucapin kemarin kalau jam 6 kamu udah sering bangun pagi.

Kalau kamu bener bangun jam 6, sekarang Shani bakalan nungguin kamu memanggil Shani dari balkon kamar. Shani bakalan nunggu sampai jam 7. kalau lewat dari jam itu berarti kamu bohong tentang kemarin 😛

Eh iya, soal minuman yang ada dicangkir kamar kamu. Susu kental dirumah Shani ternyata habis jadi Shani buatin kamu kopi biasa deh hehe. Kamu sendiri yang bilang kan bakalan seneng kalau ada yang ngebuatin kamu kopi susu pagi-pagi?

Ya, walau yang Shani buat cuma kopi biasa sih. Tapi untuk selanjutnya bakalan Shani buatin kamu kopi susu.

Itupun kalau kamu udah membaca surat in sebelum jam 7 😛

Setelah membaca surat itu gue hanya bisa terkekeh dan mengulang lagi membacanya dari awal. Merasa puas gue hanya tersenyum memandang kebawah. Perhatian gue lalu mengarah kecangkir yang ada disitu, gue buka tutupnya dan memang seperti yang disebutkan disurat tadi. sebuah kopi biasa karena disurat dia bilang susu kentalnya habis.

Gue lalu memandang Jam yang menunjukan jam 6.15 pagi. Setelah membunyikan tulang punggung gue lalu langsung berdiri dan segera keluar dari balkon.

“Huii pesek,” gue mulai memanggil kearah kamarnya Shani sambil menggaruk kepala gue yang gatal sehabis bangun tadi.

Pintu balkonnya terbuka dan nongol kepala Shani yang tersenyum kearah gue. Rambutnya masih terlihat kalau dia sendiri belum lama bangun apalagi dia masih memakai baju tidurnya.

“Ngapain lu ngintip disitu, sini.” Panggil gue kembali.

Shani hanya tertawa kecil dan mengiyakan panggilan gue. Dia lalu keluar kebalkon kamarnya dan langsung menyandarkan tangannya dipagar pembatas balkonnya tersebut.

Gue tersenyum dan dia juga tersenyum memandang gue.

“Nah, sekarang lo udah percaya kan gue sering kebangun jam 6?”

Senyumnya itu terus tertahan bahkan saat dia menjawab pertanyaan gue. “Iya percaya.”

“Terus kok kopi doang? Susunya mana? Hehe.”

“Yeee kan tadi udah kasih tau disurat. Mau kewarung beli susu pagi-pagi gini males, warungnya jauh.”

“Oh iya deh. Terus” Gue lalu menggodanya dengan memain-mainkan alis. “Eheeem bener kan kata gue kemarin hahahaha.”

“Udah deh jangan diungkit lagi, jadi kamu sekarang udah tahu kan?”

“Hahaha iya-iya, sejak kapan?”

“Apanya?”

“Ya itu, sejak kapan suka?”

“Dari kamu kelas 3 SMP hehe.”

“Wow, lama juga ya. Kenapa gak bilang daridulu?”

“Ya kali Shani yang bilang lebih dulu. Kamunya aja gak pernah peka,” jawabnya sambil cemberut tapi kemudian dia tersenyum lagi.

“Hmm gitu, kalau gitu maaf ya baru sadar sekarang. Udah sadar sih dari dulu cuma gue takut ke GR an aje.”

“Alesan, bilang aja baru sadarnya sekarang,” balasnya dengan tawa yang kecil.

“Mungkin gue tipe yang harus dikasih tahu dulu hehe.”

“Inisiatif dong,” Shani kemudian memeletkan lidahnya mengejek gue.

Gue dan Shani kembali tertawa. Kalau gue jujur saja gue tertawa karena bingung mau ngomongin apa. Tak lama kemudian tawa Shani mereda begitu juga gue yang mengikutinya. Gue lalu mengingat-ingat ucapan gue kemarin dan bertanya kepadanya.

“Semisalnya aku main Game dan gak memperdulikan kamu, gimana?”

“Tinggal ngelangkah aja terus masuk kekamar kamu, lalu kumarah-marahin kamu disitu.”

“Itupun kalau aku denger, kan aku suka pake Headset.”

“Biarin, pokoknya bakalan terus aku gedor sampai kamu bisa denger.”

“Oke, terus soal merokok?”

“Inget kan Shani bilang jangan pernah merokok kalau didekat-dekat Shani?”

“Iya.”

“Nah kamu sendiri udah tahu jawabannya kan?”

“Haha Pinter juga.” Ya dengan itu berarti Shani akan senantiasa dekat dengan gue.

“Oiya dong hihi.”

“Terus apa lagi ya, sumpah gue bingung mau ngomong apalagi hahaha.”

“Hihi yaudah kalau gitu giliran Shani ya.”

“Iya deh.”

Shani kemudian menarik nafas dan tersenyum setelah menghembuskannya. “Kalau kita ada masalah jangan dipendem sendiri, kita bicarakan baik-baik dan cari solusi yang sebaik-baiknya.”

Gue hanya mengangguk menyetujui ucapannya. “Terus?”

“Terus…,” Shani terlihat sedang memikirkan sesuatu dan tak lama kemudian dia tampak seperti sudah mendapatkan apa yang dipikirkannya tadi. “Awas aja kalau kamu genit sama cewek lain ya apalagi bawa-bawa perasaan.”

“Haha klise amat, kamu juga tuh. Pandai-pandai sadar diri kalau kamu udah punya cowok.”

“Yeee, kamu tuh. Semua cewek digombalin, anak Bos nya aja digombalin.”

“Yaa, itu kan gue gak tau, lagipula gue mana pernah serius ngegombal. Kayak gak tau aje lu.”

“Hehe iya sih, tapi sebel aja ngeliat kamu ngegombal gitu. Buktinya Ve aja kayak suka gitu sama kamu kemarin kan?”

“Ya tinggal bilang aja gue udah ada yang punya, beres.”

“Huu beres, beres. Awas aja pokoknya ngegombalin cewek lain lagi.”

“Iya-iya cemburuan amat.”

“Ah iya, itu juga. Awas ya kalau kamu cemburuan banget. Kamu sendiri udah tau Shani gak pernah pacaran sampai sekarang. Kamu sendiri udah tau alasannya kan? Jadi kamu gak usah ngeraguiin lagi kenapa Shani tetap nungguin kamu.”

“Iya gak usah diungkit juga udah tahu kali hehe.”

“Oh iya satu lagi.”

“Apa?”

“Coba biasain manggil Shani pake nama sekarang. Jelek banget tau gak pake lo, lo. Emangnya Shani ini temen-temen kamu apa?”

“Yaelah, iya deh. Kenapa gak sayang sekalian? Yank, Yank gitu?”

“Terserah kamu aja sih, asal jangan lo lo lagi. Ya?”

“Iya,” jawab gue sambil tersenyum. “Shani,” gue mencoba memanggilnya dengan nama.

Good. Biasain ya.”

“Oke. Masih ada lagi?”

“Gak ada deh kayaknya. Kalau kamu?”

“Kalau aku.. ah, lain kali kopi susu ya? Hehehe.”

“Hahaha.” Shani kembali tertawa lepas mendengar ucapan gue barusan. “Iya-iya, tapi gak tiap pagi ya. Ribet tau tadi ngelangkah sambil megang cangkir.”

“Siapa suruh hehehe.”

“Yeee kalau gak gitu kamu gak bakalan bisa tahu.”

“Haha iya deh iya.”

Gue dan Shani kembali terdiam. Dia tetap memandang gue dengan senyumannya begitu juga gue yang memandangnya.

“Shani.”

“Ya?”

“Jadi sekarang udah jelas. Shani udah tahu, gue juga tahu. Jadi kayaknya kita tahu apa yang mau gue pertanyakan sekarang setelah tahu semuanya tadi. Jadi sekarang gimana jawaban kamu. Mau atau tidak?”

Shani terlihat senang mengetahui pertanyaan gue barusan, dia kemudian mengangguk-angguk sebenar kemudian memandang gue lagi sambil tersenyum. “Iya.”

“Sekarang udah resmi ya?”

“Pake ditanya lagi, kan udah tahu hehe,” balasnya dengan tertawa kecil.

“Ciee malu haha. Yaudah, hai pacar.”

“Hai juga pacar,” Shani tersenyum dan menahan-nahan tawanya.

“Kok mukamu lecek, Car? Mandi sana Car. Pesek kamu Car.”

“Yeeee pesek-pesek pacar kamu juga weeeeeeek.”

“Oh iya ya, pacar 1 langkah. Cuma ngelangkah udah nyampe kerumahnya haha.”

“Bagus kan? Jadi kamu irit bensin hihi.”

“Iya juga sih, yaudah sana mandi Car, ah pacar nih. Kucel.”

“Kamu sendiri kucel car, mandi sana.”

“Males car, ini mau tidur lagi kayaknya nih. Ngantuk hehe.”

“Pemalas. Eh iya car, mau Shani buatin nasi goreng? Tadi Shani liat ada bumbunya didalam kulkas.”

“Boleh deh. Yang pedes ya,” pinta gue.

“Yaudah deh car, tunggu disini. Shani masakin dulu.” Setelah berkata begitu Shani kemudian membalikan badannya dan mulai melangkah memasuki kamarnya.

“Yang cepet ya, kalau bisa 1 menit saja.”

Shani kemudian berhenti lalu menoleh kearah gue. “Masak nasi goreng apa cuma 1 menit?”

“Dibisa-bisain aje car. Takut kangennya kumat hahahaha.”

“Ahahaha lebaynya kamu pacar, tunggu saja Adinda disini.”

“Yee sendirinya lebay, baiklah. Akang tunggu Adinda disini, cepat ya Adinda.”

“Hahaha iya-iya,” Shani kemudian masuk kedalam rumahnya.

Gue masih tersenyum memandang balkon kamarnya walau penghuninya sekarang sedang berada didapur. Lalu gue masuk kedalam dan mengambil cangkir kopi yang dibuat Shani barusan dan gue bawa kebalkon lagi.

Gue kemudian duduk dikursi yang ada dibalkon kamar gue dan menyeruput kopi yang sudah mulai menghangat.. Masih agak terasa terlalu pahit, tapi gue tetep senang karena ini. Berkat kopi pahit inilah membawa suasana manis yang barusan gue rasakan.

Sambil menunggu gue lalu tiduran sebentar dikursi, menunggu Shani yang selesai memasak dan ditemani secangkir kopi di hari minggu.

[Secangkir Kopi di Hari Minggu]

[ – T A M A T –]

By     : Dion [@LupaHari]

Site   : http://www.melodion.xyz

Iklan

57 tanggapan untuk “Secangkir Kopi Di Hari Minggu

      1. ,,tapii benerr manteep ini baangg
        ,,alurr ceritaanya majuu,,dan diselipii dialoog yangg nDak bosaan dibaca sehingga wee yang sebagaai pembacaa jadi pengeen melanjutkan teruss membacaanyaA sampaaii habis
        ,,good job baangg, wee suka samaa cerita” muu baang

        Suka

  1. “Jadi sekarang udah jelas. Shani udah tahu, gue juga tahu. Jadi kayaknya kita tahu apa yang mau gue pertanyakan sekarang setelah tahu semuanya tadi.”

    oke ini tulisan yang rada sulit buat di cerna otak gue

    Suka

  2. Knapa Shani lagi?? Kenapa Dion lagi???
    Knapa gak bikinin cerita buat Ega ama Ve?? Atau Erik ama Dhike?? atau Damar sama Yona??? Atau Aron Ama Cesen?? Atau Bayu ama Andela??

    Suka

  3. mantep. yg w suka disini shani tdk terlalu over, tokoh dion jg mendukung sifat shani disini. shani serius dion humoris, kadang sebaliknya. lanjutkan broo. feelnya lbh dapet drpd plain vanilla

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s