Silat Boy : Pergi Seminggu Part 33

CnJGPUtWgAEeomp

Setelah itu, Rusdi dan Boim langsung kembali ke sekolah diantar oleh
Anin. Tapi saat mereka kembali ke sekolah, ternyata sudah waktunya
pulang. Mereka bertiga hanya diam melihat siswa lain berlalu-lalang
kembali ke rumah masing-masing.

“Maaf…” Anin menundukkan kepalanya.
“Gak apa-apa, kan kita udah izin sama kepala sekolah. Jadi ya gak
masalah, kan mulai hari ini kita dikasih dispensasi selama seminggu.”
balas Rusdi tersenyum.

Tiba-tiba ada yang melempar tas kearahnya, reflek Rusdi menangkap tas
itu. Dan ternyata Naomi yang melemparnya. Naomi, Epul dan Yona
menghampiri mereka.

“Tuh tas kamu, kemana aja sih dari tadi?” tanya Naomi kesal.
“Nih…” Epul memberikan tas milik Boim kepada pemiliknya, Boim
kemudian berterima kasih.

“Selamat tinggal kawan, sampai bertemu minggu depan.” Rusdi tersenyum
riang, kemudian pergi berlalu meninggalkan mereka.
“Sampai nanti.” Boim pergi mengikuti Rusdi, sementara yang lainnya
terlihat bingung.

“Kamu siapa?” Naomi bertanya dengan raut wajah kesal pada Anin.
“Eh, enggak kok aku bukan siapa-siapanya mereka. Aku pamit pulang
dulu!” Anin kemudian memasuki mobilnya, lalu pergi dari sekolah itu.

Keesokan harinya, Rusdi dan Boim sudah benar-benar siap. Kini mereka
sedang menaiki bus kota menuju Sukabumi. Hari ini adalah hari selasa,
itu berarti waktu untuk menemukan Reza tinggal lima hari lagi.

Tadi pagi Kak Melody menangis memeluknya. Boim hanya diam menyaksikan
pemandangan memilukan itu. Kak Melody benar-benar tidak setuju jika ia
pergi, tapi apa boleh buat? Kepala sekolah yang menyuruhnya.

Kak Melody sudah tahu misi mereka sejak tadi malam, Rusdi yang
menceritakannya. Rusdi meminta Kak Melody menceritakan misi itu pada
Epul dan Naomi jika ia sudah pergi.

Rusdi melamun menatap kosong jendela bus seraya memikirkan kakaknya.
Sementara Boim hanya duduk diam disebelahnya, perlahan Boim menutup
matanya.

Empat jam kemudian, kini mereka sudah sampai di Sukabumi. Mereka baru
saja tiba di kota Sukabumi. Udaranya jauh lebih sejuk dari pada
Kampung Tengsaw, mungkin disini masih sangat asri.

“Jadi kita mulai dari mana?” tanya Rusdi.
“Kau bawa hp?” Boim balik bertanya, Rusdi hanya menggeleng.
“Bagus, aku juga tidak bawa. Ini desa, mana ada sinyal!” sambungnya.

“Kita mulai dari mana?” sekali lagi Rusdi bertanya.
“Kita ikuti saja jalan ini.” balas Boim, mereka kemudian mengikuti
jalan itu hingga ke pelosok desa.

“Aku bilang sama Kak Melody jemput kita di Nagrak minggu sore. Jadi
santai aja, waktu kita masih lima hari lagi!” ujar Rusdi.
“Sepertinya ini akan sedikit sulit.” balas Boim gelisah.

“Hey ayolah, anggap aja ini petualangan. Kita akan menikmati liburan
ini.” Rusdi tertawa, kemudian Boim berhenti berjalan dan menghadap
Rusdi seraya menatapnya datar.

“Ini bukan liburan, tapi kita sedang melaksanakan perintah. Ingatlah,
Anin percaya padamu. Jadi jangan kecewakan dia. Satu lagi, dalam
petualangan pasti akan ada situasi dimana kita harus bertahan antara
hidup dan mati. Jujur, aku ikut denganmu karna aku tidak ingin kau
mati. Kau pasti akan mengalami kesulitan jika pergi sendiri.” Boim
kemudian kembali berjalan, Rusdi hanya menatapnya bingung.

Beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah desa.
Kemudian mereka diam sejenak di sebuah warung, dan memesan makanan.
Warung itu tidak terlalu ramai, jadi mereka tidak canggung berada di
desa itu.

Beberapa saat setelah selesai makan, mereka tidak langsung melanjutkan
perjalanan. Rusdi memutuskan untuk diam sejenak, Boim hanya menurut
saja padanya.

“Dimana kita menemukan orang ini?” Rusdi terus memandangi foto Reza.
“Aku bayar makanan kita dulu.” Rusdi kemudian mengantongi foto itu,
lalu ia hendak membayar makanannya.

“Permisi bu, semuanya jadi berapa ya?” tanya Rusdi dengan sopan.
“2 piring jadi 20.000.” jawab ibu-ibu itu, setelah membayar Rusdi
tidak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan Reza sedang merokok
di kursi lain.

Rusdi kemudian menatap foto Reza, dan membandingkan kemiripannya
dengan orang itu. Ternyata benar, itu memang Reza! Kebetulan sekali,
Rusdi kemudian menghampiri orang itu.

“Permisi, boleh saya tau siapa nama anda?” Rusdi bertanya dengan sopan.
“Siapa kau? Apa aku mengenalmu?” Reza terlihat bingung.
“Tidak Reza, kau tidak mengenalku! Tapi aku mengenalmu!” Rusdi menyeringai.

“Tunggu, kenapa kau tahu namaku? Apa aku mengenalmu? Siapa kau? Aku
tidak mengenalmu!” Reza semakin terlihat bingung, Rusdi kemudian duduk
di dekatnya

“Aku punya 2 pilihan untukmu. Pilihan A ikut denganku kembali pulang
ke rumah dengan tanpa kekerasan, aku jamin pasti tidak ada yang patah
ataupun sakit. Pilihan B aku memaksamu kembali pulang ke rumah dengan
kekerasan, aku harap kau tidak memilih pilihan B.” Rusdi menatapnya
datar.

“Apa kau menantangku? Kau pikir bisa mengalahkanku? Apa kau ingin
membawaku pulang ke rumah? Oh, ternyata kau orang suruhan! Baiklah,
aku pilih B!” Reza terlihat marah.
“Apa boleh buat!” Rusdi hanya menyeringai.

Setelah itu Rusdi berdiri, lalu menendang kursi yang di duduki Reza
hingga Reza terjengkang. Rusdi kemudian membanting Reza ke lantai
hingga ia mengaduh, rokoknya terjatuh. Kemudian Rusdi menginjak rokok
itu hingga padam.

Orang-orang di warung itu hanya melihat, Boim kemudian menghampirinya.
Rusdi bilang dialah Reza, lalu Rusdi menyuruh Boim mengikat tangannya.
Boim kemudian mengambil tali yang ada di tas nya, lalu mengikat tangan
Reza.

Sementara Boim mengikat Reza, Rusdi mengambil tas nya yang ada di
meja. Setelah itu Rusdi membawa Reza dengan kasar keluar dari warung
itu. Tapi ada salah satu orang yang menghadangnya.

“Ada apa ini?” tanya orang itu.
“Tolong aku!” Reza meringis kesakitan.
“Ayo jalan!” Rusdi cuek melewati orang itu, Reza terlihat kesakitan
dibawa dengan kasar oleh mereka.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s