Silat Boy : Awal Petualangan Part 32

CnJGPUtWgAEeomp

Inilah hari terakhir liburan, ya walaupun masuk sekolah masih lama.
Tapi Kak Melody harus kerja, waktu liburnya sudah habis. Rusdi dan
yang lainnya pulang ke Jakarta esok harinya.

Dua minggu kemudian, Rusdi dan teman-temannya sudah belajar seperti
semula. Berita itu sudah menyebar luas. Berita tentang perlawanan
Rusdi terhadap Taipan itu.

Dan kegigihannya mempertahankan tanah kelahirannya. Dua bulan
kemudian, ia sudah sangat terkenal di sekolah itu. Bahkan ia
mengalahkan kepopuleran Boim yang merupakan siswa berprestasi di
sekolah itu.

“Rusdi, kamu ditunggu kepala sekolah di ruangannya.” ucap seorang guru.
“Tapi saya tidak melakukan kesalahan apapun. Apa salah saya, bu?”
Rusdi terlihat takut.

“Kamu kesana dulu aja.” ucap guru itu, Rusdi hanya menurut.
“Dasar pengganggu!” gumam Boim.
“Padahal kita lagi ngumpul.” Naomi terlihat kecewa.

Guru itu mengganggu mereka yang sedang berkumpul di kantin. Naomi dan
Boim hanya menggerutu, sementara Yona dan Epul hanya diam sambil
menikmati makanannya.

“Aku akan menyusulnya!” Boim kemudian menyusul Rusdi.
“Boim sudah gabung sama kita, tapi dimana kedua temannya itu? Yang
dulu pernah pukulin Epul.” ucap Naomi, seketika Epul menyemburkan
minumannya.

“Ihh Epul jorok!” Yona terkena semburan itu.
“Maaf Yona, sini aku bersihin!” Epul kemudian membersihkannya, Yona
hanya menggerutu.

“Mungkin dua teman Boim itu udah gak berteman lagi sama Boim semenjak
dia temenan sama kita.” ucap Boim.
“Mungkin.” balas Naomi, mereka bertiga kemudian kembali mengobrol.

“Assalamualikum…” Rusdi masuk ke ruangan kepala sekolah, ternyata di
dalam sana ada seorang wanita seusianya sedang berdiri di sebelah
kanan kepala sekolah.

“Waalaikum salam, masuk Rusdi.” balas kepala sekolah tersenyum, Rusdi
kemudian masuk.
“Silahkan duduk.” setelah itu Rusdi duduk di hadapan kepala sekolah.

“Ada apa, pak? Apa ada masalah?” tanya Rusdi dengan sopan.
“Tidak ada, sama sekali tidak ada masalah.” balas kepala sekolah
seraya kembali tersenyum.

“Terus kenapa bapak manggil saya?” Rusdi kembali bertanya.
“Begini, kamu bapak kasih dispensasi seminggu.” ucap kepala sekolah.
“Loh? Kenapa pak? Apa salah saya?” Rusdi terlihat panik.

“Kamu gak salah apa-apa, lebih jelasnya biar nak Anin yang jelaskan.”
balas kepala sekolah, lalu wanita yang bernama Anin itu menghadap
Rusdi dan berdiri disebelahnya.

“Maaf ganggu sekolah kamu, tapi aku butuh banget bantuan kamu.” ucap Anin.
“Bantuan apa?” tanya Rusdi.
“Nanti aku jelasin di rumah aku, sekarang kamu ikut aku dulu ke
rumah.” balas Anin.

“Tunggu!” Boim masuk ke ruangan kepala sekolah.
“Kalo mau masuk ketok pintu dulu!” kepala sekolah terlihat marah.
“Maaf, apa boleh saya ikut dengan Rusdi?” tanya Boim.

“Pak, tolong biarkan dia ikut.” Rusdi memohon.
“Nak Anin, bagaimana? Apa boleh dia ikut?” tanya kepala sekolah.
“Boleh pak, biar Rusdi ada temennya.” balas Anin.

“Baiklah, bapak kasih kalian dispensasi seminggu buat bantu nak Anin.
Manfaatkan baik-baik waktu kalian.” ucap kepala sekolah, lalu mereka
bertiga meninggalkan ruangan kepala sekolah.

Sesampainya di rumah Anin, Rusdi dan Boim langsung masuk mengikuti
Anin. Rumah itu sangat besar, jauh lebih besar dari pada rumahnya.
Pasti ada banyak kamar di rumah itu.

Rusdi dan Boim lalu duduk di sofa setelah Anin menyuruh mereka duduk.
Di meja itu ada banyak makanan ringan, ternyata Anin sudah
mempersiapkan itu sebelumnya.

“Jadi kenapa kau butuh bantuanku?” tanya Rusdi to the point.
“Jadi gini, orang tua aku tuh seminggu lagi mau merayakan hari
pernikahan mereka yang ke 20 tahun. Aku butuh bantuan kamu buat siapin
surprisenya.” jawab Anin panjang lebar.

“Cuma itu?” Rusdi tertawa kecil.
“Bukan! Jadi gini, kakak aku tuh udah lama pergi dari rumah ini. Aku
mau kamu bawa kembali dia buat hadir di acara perayaan orang tua aku
sebagai surprise!” ujar Anin.

“Kalo boleh tau, nama kakak kamu siapa?” tanya Boim dengan sopan.
“Reza.” jawab Anin.
“kenapa kakak kamu pergi dari rumah ini?” tanya Boim.

“Dia suka banget petualang, bahkan dia katanya mau merantau dan pergi
dari keluarga ini. Katanya dia bakal kembali kalo udah sukses. Dan
sampai sekarang pun dia gak pernah kembali lagi.” Anin terlihat sedih.

“Udah berapa lama kakak kamu pergi?” Boim kembali bertanya.
“Kurang lebih 5 tahun.” Anin mengusap matanya, Rusdi jadi tidak enak
karna ia tadi tertawa.

“Apa sebelumnya kakak kamu punya masalah sama orang tua kamu?” tanya Boim.
“Setahuku enggak, kakak aku tuh orangnya keras kepala. Kalo ada maunya
pasti bakal lakuin apapun buat itu.” jawab Anin.

“Gimana?” Boim melirik Rusdi yang sejak tadi hanya diam.
“Baiklah, ayo bawa dia kembali!” Rusdi terlihat bersemangat, sementara
Boim hanya tersenyum simpul.

“Ini fotonya, awas jangan sampe ilang.” Anin memberikan foto kakaknya.
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu mau aku bawa dia kembali? Kan masih
banyak orang lain.” tanya Rusdi.

“Karna ini!” Anin memberikan sebuah koran pada Rusdi, ternyata itu
adalah koran tentang perlawanannya di desa itu.
“Aku udah tau kehebatan kamu, jadi tolong bawa kakak aku kembali.” Anin memohon.

Setelah itu Rusdi dan Boim pamit pulang. Mereka harus mempersiapkan
segalanya untuk besok. Anin bilang terakhir kakaknya terlihat di
Sukabumi, jadi itulah tujuan pertama mereka.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s