Silat Boy : Menikmati Liburan Part 31

CnJGPUtWgAEeomp

Rusdi pulang dibopong oleh Ulung. Setelah sampai rumah, Ulung langsung
pergi lagi. Rusdi hanya berterima kasih padanya, tapi rasa terima
kasih Ulung padanya jauh lebih besar.

Rusdi masuk ke rumahnya, ia kemudian berpapasan dengan kakaknya. Kak
Melody menahan tangannya, lalu menatapnya sejenak. Astaga, Kak Melody
pasti marah.

“Wajah kamu kenapa?” tanyanya.
“Besok kakak pasti tau!” Rusdi kemudian pergi menuju kamarnya.
“Dia kenapa, kak?” Naomi menghampiri Kak Melody.

Beruntung di rumah itu ada satu kamar untuk tamu. Kamar itu dipakai
oleh Boim dan Epul, jadi Rusdi sendiri di kamarnya. Tak apa, ia sedang
tidak mau diajak bicara.

Naomi sekamar dengan Kak Melody. Dulu kamar itu milik orang tua
mereka. Dan kamar tamu bekas kamar Kak Melody. Sejak orang tuanya
tiada, kini Kak Melody yang menempati kamar itu.

Rusdi berbaring di kasurnya. Perlahan menutup matanya, rasa sakit itu
masih membekas. Itu sudah biasa, dulu latihannya bahkan jauh lebih
sakit dari ini. lalu ia tertidur, bebannya hilang seketika.

Esok pagi, Rusdi baru saja bangun. Ia tidur lama sekali, mungkin karna
terlalu lelah. Ia masih mengenakan pakaian kemarin. Rusdi kemudian
bergegas mandi, setelah itu ia mengganti pakaiannya.

Kemudian ia pergi ke meja makan untuk sarapan pagi. Disana sudah ada
Kak Melody dan Naomi. Epul dan Boim tidak ada, entah mereka kemana.
Naomi menatap wajahnya lamat-lamat.

“Rusdi, wajah kamu kenapa?” tanya Naomi.
“Nanti juga kamu tau sendiri.” Rusdi masih merahasiakannya.
“Kamu ini dari kemaren bilang gitu mulu, coba cerita kenapa wajah kamu
sampe lebam gitu.” Kak Melody mendesaknya.

Rusdi hanya menunduk, terlihat jelas matanya yang membiru. Ia tidak
punya pilihan lain. Baiklah, ia akan menceritakan kronologi
kejadiannya. Saat ia akan bercerita, tiba-tiba Boim dan Epul datang.

“Lihat ini!” Boim memberikan sebuah koran pada Kak Melody, Naomi
kemudian mendekat dan ikut membaca koran itu.
“Kau hebat!” Epul menyeringai senang menatap sahabatnya.

“Kisah seorang anak yang mempertahankan tanah kelahirannya dan
mengalahkan petinju raksasa dari Amerika.” Naomi membaca judul koran
itu.
“Di kampung Tengsaw!” Kak Melody terkejut.

“Jadi Jack berasal dari Amerika.” ucap Rusdi dalam hati.
“Jadi kau?” Kak Melody menatap Rusdi, Naomi kemudian merebut koran itu
dari Kak Melody.

“Aku mau baca!” Naomi kemudian membacanya.
“Aku dan Ulung menyaksikan sendiri saat ia melawan petinju itu.” ujar
Boim, Kak Melody kemudian memeluk adiknya.

Rusdi perlahan balas memeluk kakaknya. Sudah lama Kak Melody tidak
memeluknya. Ahh, rasanya hangat seperti terakhir kali Kak Melody
memeluknya.

Kak Melody perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengusap matanya yang
basah. Epul hanya tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu. Naomi
masih sibuk membaca koran, sementara Boim mengalihkan pandangannya.

“Baiklah, hari ini kita akan menikmati liburan disini. Ayo kita
berenang di sungai!” Kak Melody berusaha tersenyum.
“Tapi sebelum itu kalian harus sarapan dulu, ayo dimakan makananya.”
sambung Kak Melody.

Mereka kemudian duduk dan menyantap sarapan paginya. Setelah itu
mereka menyiapkan baju ganti untuk berenang di sungai. Di meja makan
itu hanya tinggal Kak Melody dan Naomi.

“Kak Melody, lihat ini! Taruhan terbesar yang pernah ada. Jadi
sebenarnya perkelahian itu adalah taruhan. Jika Rusdi kalah, maka
semua lahan akan diberikan pada Mister Liem. Tapi ia berhasil menang,
dan mengusir Mister Liem dari desa ini.” ujar Naomi.

“Siapa Mister Liem?” tanya Kak Melody.
“Mister Liem adalah orang yang hendak membeli lahan di desa ini, tapi
Rusdi tidak setuju tanah kelahirannya akan dijadikan perusahaan besar.
Jadi Rusdi menantang Mister Liem, dan ia harus berhadapan dengan 2
bodyguard Mister Liem.” jawab Naomi panjang lebar.

“Jadi itu alasan kenapa kemaren tingkah dia aneh banget.” ucap Kak Melody.
“Sini korannya, biar kakak yang simpan.” Kak Melody merebut koran itu,
Naomi hanya menatapnya datar.

“Kak Melody, ayo berangkat!” ajak Epul.
“Tapi kakak belum siap-siap.” balas Kak Melody.
“Aku juga belum siap-siap!” sambung Naomi.

“Gak usah siap-siap, renangnya pake itu aja. Percuma kalo bawa baju
ganti juga, cewek kan ribet.” Rusdi pergi mendahului mereka.
“Iya-iya!” Kak Melody dan Naomi pergi menyusul Rusdi.

Pagi itu mereka pergi ke sungai untuk berenang. Besok pagi mereka
harus pulang ke Jakarta, jadi hari ini adalah hari terakhir mereka
liburan di desa itu. Hari terakhir menikmati indahnya pemandangan
pedesaan dan menghirup udaranya yang segar.

Sesampainya di sungai, Kak Melody dan Naomi langsung mandi. Sementara
Epul dan Boim mengganti pakaiannya di tempat lain yang tak terlihat
oleh siapa pun. Rusdi pergi ke belakang pohon bambu untuk mengganti
pakaiannya.

“Rusdi!” panggil seseorang, Rusdi kemudian menengok.
“Ulung?” ternyata Ulung yang memanggilnya, Ulung kemudian menghampirinya.

Setelah itu Ulung duduk di sebelahnya, Rusdi pun ikut duduk. Ulung
menatap tangan Rusdi, ternyata benda itu masih ia kenakan. Benda yang
dulu ia berikan padanya sebagai tanda perpisahan.

“Kau masih mengenakan gelang itu ya?” Ulung tersenyum.
“Iya, ini adalah benda berharga yang aku miliki.” jawab Rusdi, ia
menatap gelang itu.

“Ada satu pertanyaan untukmu, kenapa kau bisa jago beladiri?” tanya Ulung.
“Ceritanya panjang, di Jakarta aku belajar Silat.” jawabnya.
“Ceritakanlah, aku ingin mendengar ceritamu saat di Jakarta!” Ulung mendesaknya.

Karna Ulung adalah sahabat terbaiknya, maka dengan senang hati Rusdi
menceritakan pengalamannya saat di Jakarta. Ia bercerita selama satu
jam, dan Ulung pun menceritakan pengalamannya selama sahabatnya itu
pergi.

“Rusdi!” panggil Kak Melody.
“Aku harus pergi!” Ulung kemudian pergi tanpa sepatah kata pun,
setelah itu Rusdi menghampiri Kak Melody dan teman-temannya yang telah
selesai berenang.

“Kamu kemana aja?” tanya Kak Melody.
“Iya, kok badan kamu gak basah sih? Kamu gak mandi ya? Terus dari tadi
ngapain aja?” Naomi cerewet sekali.
“Aku mandi disana.” balas Rusdi.

“Udah-udah, kakak udah kedinginan. Yuk pulang, kakak mau ganti baju.”
ucap Kak Melody, setelah itu mereka pun pulang ke rumahnya.
“Selamat tinggal, Ulung…” ucap Rusdi dalam hati

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s