Silat Boy : Mister Liem Part 29

CnJGPUtWgAEeomp
Pagi itu, saat semua orang tengah sarapan di meja makan. Hanya Rusdi
yang tidak makan, ia hanya memainkan makanannya. Pikirannya sedang
berada di tempat lain.

“Rusdi, kenapa gak dimakan makanannya? Aku sama Kak Melody cape loh
udah masak.” tanya Naomi, Rusdi tiba-tiba berdiri dari duduknya.
“Aku ada urusan!” setelah itu ia meninggalkan mereka semua.

“Dia kenapa, kak?” bisik Epul.
“Gak tau, biasanya kalo dia kayak gitu ada yang dia sembunyikan.” ujar
Kak Melody, kemudian mereka melanjutkan sarapannya.

“Kau sangat lama…” ternyata Ulung sudah menunggunya diluar rumah.
“Maaf…” jawab Rusdi, kemudian mereka pergi menuju tempat transaksi
penjualan lahan di desa itu.

“Kau harus hati-hati, orang itu punya 2 bodyguard kuat. Satunya
berbadan kecil, tapi ia sangat jago soal beladiri. Bahkan lima pemuda
desa kita ia kalahkan kurang dari 2 menit!” Ulung mengerutkan
keningnya.

“Dan satunya lagi orang berbadan besar, ia cukup kekar dan kuat. Aku
yakin ia lebih kuat dari yang satunya. Ingat kita datang kesana untuk
bernegosiasi, bukan cari gara-gara.” sambung Ulung.

Sesampainya di tempat tujuan, ternyata disana sudah mulai ramai. Pagar
pembatas dari kayu sudah dibuat untuk membatasi orang-orang yang ingin
melihat. Dan ternyata benar apa kata Ulung, dua bodyguard itu ada
disana.

“HENTIKAN!!!” teriak Rusdi, seketika semua mata tertuju padanya.
“Apa kalian sudah gila? Kenapa kalian menjual tanah kelahiran kalian
sendiri pada Taipan itu?” Rusdi nampak marah.

“Hey anak muda, perkenalkan namaku Mister Liem. Aku akan mendirikan
perusahaan besar di desa ini. Dan jika perusahaan itu sudah jadi, akan
kusejahterakan kalian semua! Jadi kau jangan menghalangiku!” ternyata
orang itu bernama Mister Liem.

“TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU MEREBUT TANAH KELAHIRANKU!!!” Rusdi
berteriak di depan wajah Mister Liem.
“Hey kawan, apa yang kau lakukan? Bukankah sudah kubilang kita kesini
bukan untuk cari gara-gara, tapi untuk bernegosiasi.” bisik Ulung,
tapi Rusdi tidak menggubrisnya.

“Baiklah, kau yang minta. Capu, habisi dia! Kalahkan dalam 2 menit!”
perintah Mister Liem, kemudian salah satu bodyguard yang bertubuh
kecil menantangnya.

“Aku merasa sedih melihat bangsa negeri ini yang lebih memilih uang,
dan malah balik menyerang bangsa sendiri.” Rusdi hanya diam, tidak
menanggapi tantangannya.

“Kenapa? Kau tidak berani melawanku?” tanya Capu.
“Kawan, sudahlah… kau tidak akan menang melawan mereka.” bisik Ulung
pada Rusdi.

“Aku punya kesepakatan! Besok aku akan melawan 2 bodyguardmu itu. Dan
jika aku menang, kalian harus meninggalkan desa ini.” Rusdi menantang
dua bodyguard Mister Liem.

“Dan jika kau kalah, semua lahan yang ada di Kampung Tengsaw akan jadi
milikku secara gratis.” seketika orang-orang tertegun, mereka tidak
mau menyerahkan tanahnya begitu saja.

Rusdi diam, tidak berani menerima tantangan itu. Tapi salah seorang
pemuda desa membelanya, dan yang lainnya pun ikut membela Rusdi. Maka
terjadi perdebatan panjang disana. Setelah mendapat dukungan dari
semua orang, akhirnya Rusdi menerima tantangan itu.

Besok ia akan melawan dua orang sekaligus. Ia harus menang, karna
taruhannya adalah puluhan bahkan ratusan sawah. Jika kalah musnah
sudah lahan para petani. Dan diberikan secara gratis pada Mister Liem.

Siang itu, Rusdi kembali ke rumahnya. Ulung sudah pergi entah kemana.
Ia harus berlatih keras jika ingin mengalahkan dua bodyguard Mister
Liem.

Rusdi kemudian masuk ke dalam rumahnya. Epul tengah menonton tv, Kak
Melody dan Naomi sedang masak untuk makan siang nanti. Boim tidak ada,
mungkin dia sedang jalan-jalan.

“Kak Melody!” panggil Rusdi, seketika semua mata tertuju padanya.
“Aku…” Rusdi ragu menjelaskan tantangan itu, kemudian ia
meninggalkan mereka dan tidak jadi menjelaskan.

“Dia kenapa?” Epul nampak bingung melihat tingkah aneh Rusdi, dan yang
lainnya pun hanya melongo.
“Aku tidak bisa menjelaskannya!” gumam Rusdi, ia melewati Boim tanpa sadar.

Boim melihat tingkah aneh Rusdi, bahkan sejak tadi pagi Boim terus
memperhatikannya. Rusdi pergi menuju suatu tempat. Boim tidak tinggal
diam, ia kemudian mengikutinya.

Rusdi kemudian berhenti sejenak. Dengan cepat Boim bersembunyi dibalik
semak-semak. Rusdi seperti sedang bingung, ia sangat gelisah. Boim
terus memperhatikan gerak-geriknya.

“Besok aku tidak boleh kalah!” gumam Rusdi, ia mengepalkan kedua tangannya.
“Jika aku kalah, maka musnah sudah harapan penduduk desa.” Rusdi
kemudian berlalu.

Boim sejenak diam, ia termenung memikirkan perkataan Rusdi. Tiba-tiba,
ada seseorang menepuk pundaknya. Reflek Boim membanting orang itu,
lalu mengunci tangannya.

“Siapa kau?” tanya Boim.
“Akan kujelaskan!” ternyata orang itu Ulung, Boim lalu melepaskannya.
“Namaku Ulung, aku sahabat Rusdi sejak lama.” sambungnya, perlahan
Ulung kembali berdiri.

Sementara itu di tempat lain, Rusdi sudah sampai di tempat tujuannya.
Ia berdiri di depan sebuah pohon rindang yang cukup besar. Angin
bertiup semilir, menerbangkan anak rambut, membuat dedaunan
berjatuhan, membuat ilalang-ilalang liar bergoyang.

Ia sangat bingung dengan pilihan yang dibuatnya sendiri. Kesepakatan
macam apa itu? Bagaimana jika ia kalah? Apa yang harus ia lakukan? Ia
tidak yakin bisa menang, tapi kenapa ia menantangnya?

Ya, ia yang menantang Mister Liem. Ia tidak mau tanah kelahirannya
direbut begitu saja oleh Taipan itu. Sialan, kenapa ia harus terlibat?
Baiklah, tidak ada pilihan lain lagi. Maka ia harus melawan.

“Pagi tadi Rusdi menantang Mister Liem, orang yang akan mendirikan
perusahaan di desa ini.” ucap Ulung.
“HAA!!!” angin kembali bertiup, ditempat lain Rusdi memukul kuat pohon
yang ada di depannya.

“Ia membuat kesepakatan dengan Mister Liem. Jika ia berhasil
mengalahkan 2 bodyguard Mister Liem, maka Mister Liem akan
meninggalkan desa ini. Tapi jika ia kalah, penduduk desa harus
menyerahkan tanah mereka pada Mister Liem secara gratis.” jelas Ulung.

“Tapi kenapa? Kami baru saja tiba disini tadi malam. Kenapa ia harus
terlibat ini semua?” Boim nampak bingung.
“HAA!!!” Rusdi terus memukul pohon itu dengan brutal.

“Aku tidak tahu, tiba-tiba ia menantang Mister Liem. Besok ia akan
bertanding, doakan saja agar ia bisa menang.” Ulung tersenyum,
kemudian berlalu meninggalkan Boim yang masih terdiam disana.

“Aku tidak akan kalah! Aku tidak akan kalah! Aku tidak akan kalah! Aku
tidak akan kalah! Aku tidak akan kalah!” Rusdi terus mengulangi
kata-kata itu sambil terus memukul pohon di hadapannya.

“AKU HARUS MENANG!!!” pukulan terakhirnya sukses membuat tangannya
terluka, angin kembali bertiup, Rusdi hanya diam membiarkan air
matanya jatuh.

“Aku tidak akan mengecewakan kalian…” Rusdi menangis.
“Aku… akan… menang…” Rusdi sejenak diam.
“HAAA!!!” Rusdi kembali memukuli pohon itu.

Esok pagi, tepat di depan rumah. Rusdi tengah membalut kedua tangannya
dengan sebuah kain, ia mengenakan baju putih polos yang pernah ia
pakai saat latihan Silat dulu.

“Rusdi mau kemana? Gak sarapan dulu?” tanya Naomi.
“Gak ah, lagi buru-buru.” balas Rusdi, ia sedang duduk di teras rumah.
“Buru-buru mau kemana sih?” tanya Naomi.

“Rusdi!” panggil Ulung dari kejauhan.
“Aku pamit dulu ya, doakan aku biar menang!” Rusdi kemudian mencium
pipi Naomi, sementara yang dicium hanya melongo.
“Dia menciumku?” Naomi kaget, ia terus memandangi kepergian Rusdi.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s