Sahabat (story version) part 5

Hanya suara langkah kaki dari Lidya yg menemaninya menuju rooftop. Ia
berdiam diri disana memandangi beberapa teman sekolahnya sedang
bermain basket. Ia menghela nafas panjang. Ia tau, sekarang ia
kehilangan Ayana dari sampingnya. ia yg merasa tidak bersalah pun,
merasakan kesedihan itu. Ia bingung harus bagaimana berbicara dan
menjelaskan semua kepada Ayana. Kemarin ia telah mencobanya, tapi
hasilnya malah jauh dari harapan. Sekarang hanya hembusan angin yg
menerpa wajahnya. Dan ia membiarkan rambutnya berantakan karena
terkena angin. Hidupnya memang terasa semakin sulit. Mungkin ini
akibat ulahnya dulu. Ia menyesalinya sekarang. Ia yg dulunya arogan
tak terkendali, berbuat seenaknya pada siapapun. Dan sekarang rasanya
ia ingin mengubur bayangan masa lalunya itu.

Entah datangnya dari mana, memori dalam pikirannya mengingat kejadian
dirumahnya semalam. Kejadian dimana ia benar-benar ingin menangis.
Papa dan mamanya bertengkar hebat. Dan mereka menginginkan cerai. Yah,
itu sesuatu yg memukul hati Lidya dengan sangat keras. Ia benar-benar
tak percaya semua itu akan terjadi. Dan tak pernah menginginkan hal
itu terjadi. Ia yg selalu berharap bahwa mama dan papanya bisa
berkumpul lagi, dan meninggalkan ego mereka masing-masing dan sejenak
untuk melihat kearahnya, sekarang semua itu hanya tinggal angan. Angan
yg jauh dari gapaian tangannya.

Angin yg menerpa wajahnya kini jelas semakin terasa. Saat ia membuka
mata, ia sadar bahwa ia sudah diujung rooftop. Apabila ia melangkah
selangkah lagi, mungkin semua beban dipikirannya akan berakhir. Ia
memejamkan mata lagi. Ia percaya, ini akan jadi akhir untuknya. Ini
lebih baik. Karena saat berjalan tanpa tujuan lagi, rasanya memang
menyakitkan. Ayana. Mama dan papa. Mereka adalah impiannya. Dan
sekarang ia kehilangan mereka. Ia kehilangan impian. Dan sekarang
mungkin saat yg tepat untuk mengatakan pada Viny, bahwa ia gagal
menepati janjinya. Ia gagal dalam kehidupannya.

” selamat tinggal impian…gue pergi…” gumam Lidya masih memejamkan
mata. Perlahan sudut matanya mengeluarkan bola kristal bening. Ia
mengangkat kakinya. Ia berharap bahwa semua akan berakhir sampai
disini.

” Lidya….!” seseorang dengan cepat menarik tangan Lidya.

” lo apa-apaan!. Lo mau bunuh diri!” Lidya menyadari sekarang bahwa
didepannya kini ada Sinka. Lidya hanya menunduk tak menatap kearah
Sinka.

” gue memang benci sama lo!. Tapi gue ga suka cara lo kayak gini!”
Sinka terdengar meninggikan suaranya. Lidya masih tetap menunduk.

” lo pikir dengan cara lo kayak gini, hidup lo berakhir baik gitu!”
Sinka masih terdengar membentak. Sinka mendorong Lidya hingga menempel
tembok.

” lo emang ga pernah mikir…!” itu kata terakhir yg diucapkan Sinka,
sebelum ia meninggalkan Lidya dari tempat itu.

Beby yg tadi mendengar suara keras dari rooftop langsung menuju ke
rooftop. Dan ia bisa melihat ada Sinka yg sedang berbicara keras pada
Lidya. Ia hanya diam memandangi hal itu. Ia tak berani berkomentar.
Beberapa saat kemudian Sinka berjalan melewatinya. Sinka terlihat acuh
akan keberadaannya disana. Beby dengan cepat langsung menghampiri
Lidya yg masih menunduk itu.

” lo gapapa lid?” Lidya menegakkan pandangannya, setelah ia sadar ada
yg memegang pundaknya,

” gue gakpapa…” balas Lidya singkat,

” apa ini karena Anin?” Lidya hanya menggeleng tanpa memberi
penjelasan. Beberapa saat kemudian, ia berjalan meninggalkan rooftop
bersama Beby dibelakangnya.

Entah apa yg Lidya rasakan saat ini. Ia benar-benar seperti orang
bodoh. Dimana pemikirannya. Dimana letak kedewasaannya. Ia bahkan
merasa tak pantas untuk diberi kehidupan. Ia yg dengan kebodohannya
malah menyianyiakan hidupnya. Dan tadi, hampir saja ia berakhir. Dan
itu artinya ia tak bisa menebus kesalahannya.

~

Sinka yg hendak menuju rooftop untuk menenangkan pikirannya, malah
melihat pemandangan tak mengenakan saat ia tiba disana. Ia dengan
kasar langsung menyeret Lidya yg hampir jatuh dari ujung rooftop. Ia
dengan kasar memarahi Lidya. Ia ingin menyadarkan Lidya. Walau ia tau,
ia membenci Lidya. Tapi ia tak suka dengan cara lidya itu. Ia
mendorong Lidya hingga menempel tembok. Ia tak peduli seandainya Lidya
akan marah padanya, ia hanya melakukan apa yg ada dipikirannya.
Berharap bahwa Lidya segera menyadari semua, bahwa yg dilakukannya
barusan adalah salah. Kesalahan yg sangat ia benci. Saat ia pergi
meninggalkan Lidya, sekilas ia menangkap pandangan ada Beby berdiri
disana. Ia berharap bahwa Beby mengerti apa yg sebenarnya terjadi. Dan
dia bisa memberikan sesuatu hal yg bisa membuat Lidya sadar akan
ilusinya. Ilusi yg hanya membuat semuanya memburuk.

Kini Sinka berada dikelas. Dan ia menyadari kalau Anin melihat kearahnya.

” kenapa?” tanya Anin. Ia melihat ada yg berbeda dengan Sinka,

” gapapa…” balas Sinka singkat. Ia tak mau Anin sampai tau masalah ini.

Sekarang keduanya sama-sama hening. Hanya terdengar seorang guru yg
sedang menjelaskan materi pelajaran.

_O0O_

Beby kini menatap kearah bangku sebelahnya. Tak ada lagi Ayana
disana, sepertinya Ayana tak masuk hari ini. Beby kemudian menatap
punggung Lidya dari belakang. Masih ada pertanyaan yg harus ia ajukan
untuk Lidya. Namun niatnya harus ia urungkan terlebih dulu, ketika ia
tau bahwa Lidya tidak dalam kondisi baik kali ini. Ia tak percaya
ucapan dari Lidya yg mengatakan baik-baik saja. Rasanya Lidya terlalu
tertutup padanya. Ia menghela nafas. Ia menyadari, ia tak pantas
disebut teman. Ia tak pernah ada untuk Lidya, hanya untuk sekedar main
kerumahnya pun jarang. Ia harusnya mengerti, wajar bila Lidya tertutup
padanya, ia juga tak pernah memberikan pundaknya hanya untuk tempat
bersandar bagi Lidya. Seberapapun sering dia tertawa, dia juga manusia
biasa. Dia juga pasti punya kesedihan, punya masalah. Tapi dia terlalu
cerdas untuk menyembunyikan semua itu.

” Lid…” Beby menyentuh pundak dari Lidya. Lidya terlihat menoleh,

” anterin ke perpus yuk?, gue mau minjem buku. Lagian dikelas lagi ga
ada pelajaran?” ucap Beby. Beby ingin membawa Lidya ketempat yg
sekiranya bisa membuat Lidya merasa lebih baik. Lidya hanya mengangguk
tanda setuju.

Kini keduanya sama-sama meninggalkan kelas. Namun bukan perpus yg mereka tuju.

” loh, katanya mau minjem buku diperpus?” tanya Lidya yg menyadari
bahwa arah jalannya ini berbalik dengan perpus,

” ga jadi…mending ke taman belakang?, sekalian nyari angin…hehe”
balas Beby. Dari awal memang itu tujuannya. Lidya terlihat tak
mempersalahkan hal itu. Yah, daripada dikelas yg terasa sangat
membosankan itu.

” Lid…, gue tau lo pasti lagi nyembunyiin sesuatu dari gue?” Beby
membuka percakapan, seusai mereka tiba di taman belakang. Dan duduk
disana, disalah satu bangku. Lidya menengok sejenak kearah Beby, ia
bisa melihat Beby menatapnya serius.

” gapapa kalau lo emang ga mau cerita?. Gue tau, gue bukan temen yg
baik buat lo. Tapi asal lo tau, lo itu lebih dari hanya sekedar temen
se kelas buat gue, dan gue nyadar lo itu sahabat terbaik gue…” itu
perkataan dari Beby yg membuat jantungnya Lidya bergetar.

Harusnya ia menyadari hal itu. Beby itu selalu ada untuknya, bahkan
sampai sekarang masih tetap setia disampingnya. Ia sadar, ia dulu suka
menyuruh seenaknya pada Beby. Tapi Beby, tak mempersalahkan hal itu.
Lagi, penyesalannya kini membayanginya. Entah penyesalan apalagi yg
akan hadir dalam kehidupannya.

” gue akan pinjemin pundak gue buat lo bersandar. Dan tangan gue ini,
akan selalu memegang tangan lo…, agar lo sadar, lo itu gak pernah
sendiri…” ucapan dari Beby barusan membuat Lidya kembali ingin
menangis menyesali dirinya yg dulu.

Tanpa aba-aba lagi Beby langsung memeluk Lidya yg terlihat
mengeluarkan butiran bening disudut matanya sambil menatapnya sendu.
Lidya terdengar sesenggukan dibalik punggungnya Beby. Beby menyadari
bahwa seragamnya mulai basah. Ia tak melepaskan pelukannya, yg ia
lakukan malah memeluk Lidya semakin erat.

” lo keluarin semua masalah lo, bersama air mata lo itu…” ucap Beby
masih memeluk Lidya itu.

_O0O_

Shania kini berada didalam mobil dan melihat kearah gerbang
sekolahnya Sinka. Menunggu seseorang keluar dari gerbang sekolah itu.

” itu dia…” kata Shania sambil tersenyum sinis. Ia menunggu saat ini tiba.

Shania terlihat turun dari mobil itu dan menghampiri seorang gadis yg
sedang berdiri didepan gerbang sambil melihat jam tangannya itu.

” hei…dimana Sinka?” itu kalimat sapaan dari Lidya untuk Anin,

” bentar lagi keluar, kamu tunggu dimobil aja…” balas Anin. Beberapa
saat kemudian Sinka terlihat menghampiri mereka berdua.

” kamu bisa ikut aku hari ini?” tanya Anin pada Sinka. Sinka terlihat
diam sejenak, perlahan bibir mungilnya terbuka untuk mengucapkan
sesuatu,

” aku minta maaf, hari ini aku ga bisa…” Sinka teringat kakaknya
sedang sakit dirumah. Dan ia tak akan meninggalkan kakaknya hanya
untuk bermain bersama Anin. Ia juga ingat jika Ve yg akan
menjemputnya,

” untuk kali ini aja…please?” Anin terlihat memohon. Namun Sinka
juga tak bisa untuk hari ini,

” Anin…maaf banget. Buat hari ini, aku bener-bener ga bisa…” jelas
Sinka. Ia mencoba memberi pengertian pada Anin,

” yaudah, aku anterin kamu pulang sekarang?” timpal Shania. Kini
pandangan Anin dan juga Sinka beralih pada Shania.

” gapapa, aku temen se kampus kakakmu…” lanjut Shania. Dan di
angguki oleh Anin. Sinka terlihat ragu, tapi ketika ia melihat Anin.
Semua keraguannya pudar.

Sinka kini telah berada di mobil Shania. Ia berada didepan bersama
Shania. Saat ia hendak mengeluarkan hpnya untuk memberitahukan pada Ve
bahwa ia sudah pulang, tiba-tiba ada yg membungkam mulutnya dari
belakang, ia tau itu Anin. Tapi apa yg Anin lakukan, itu
pertanyaannya. Ia mencoba menyingkirkan handuk kecil yg sedikit berbau
aneh dan juga tangannya Anin yg membungkamnya itu. Namun sial baginya,
entah kenapa tenaganya seperti menghilang. Pandangannya terlihat mulai
buram.

” kerja bagus nin…” kata Shania masih fokus menatap kearah jalanan,

” kamu ga bakal nyakitin dia kan?, incaran kita kakaknya bukan dia…”
balas Anin,

” aku mengerti…”.

Hanya keheningan sekarang yg menyelimuti mobil itu. Beberapa kali Anin
melihat kearah spion mobil Shania. Berharap bahwa tak ada yg
mengikutinya.

_O0O_

Ve menghentikan laju mobilnya ketika ia telah sampai di dekat
sekolahnya Sinka. Ia terlihat menengok kearah gerbang sekolah itu. Ia
memastikan bahwa ini benar sekolahnya adik sahabatnya itu. Ia
meminggirkan mobilnya, kemudian turun dari mobil. Ia berjalan pelan
kearah gerbang sekolah itu. Ia sekarang menjadi pusat perhatian
beberapa siswa dari sekolah itu.

” hai, boleh nanya sesuatu?” Ve berhenti tepat didekat seorang siswi
yg sedang berdiri diluar gerbang,

” ah iya…mau nanya apa kak?” balas orang itu,

” Kamu lihat Sinka ga?” tanya Ve pelan, orang itu terlihat berfikir,

” Sinka…Sinka anak kelas 11 maksudnya?” Ve mengangguk cepat,

” baru aja pulang sama temennya?”.

Ve kini melajukan kembali mobilnya. Tangan kirinya mencoba memegang hp
nya untuk menghubungi Sinka dan tangan kanannya memegang setir
mobilnya. Namun panggilan dari hpnya tak terjawab oleh Sinka. Ia sudah
menghubunginya beberapa kali, namun hasilnya sama. Ve kembali
meletakkan hpnya dan memutuskan untuk menuju rumahnya Naomi.

_O0O_

Shania berhenti disalah satu gedung yg kumuh, seperti bangunan yg tak
pernah terpakai. Ia menggendong Sinka yg dalam kondisi pingsan itu.
Diikuti Anin dibelakangnya. Shania mendudukkan Sinka itu disalah satu
kursi didalam bangunan tua itu. Perlahan Shania menempelkan tangannya
pada pipi Sinka. Ia dengan pelan menampar Sinka, hingga membuat Sinka
tersadar.

” dimana ini…!” Sinka terlihat kaget ketika ia sadar, ia entah
berada dimana. Ia kemudian menatap Shania tajam.

” apa yg lo lakuin!” Sinka membentak, ia bisa merasakan kini bahwa
kedua tangannya terikat,

” tenanglah…” balas Shania santai sambil jongkok dihadapan Sinka.

” Ini karena kakakmu!” Shania membentak sambil memegang kedua pipi
Sinka. Sinka terlihat geram, namun ia juga tak bisa melakukan apapun.

” Shania…!” terdengar juga nada membentak dari seseorang yg kini
berjalan kearah mereka berdua.

Raut kaget jelas tergambar dari Sinka, ia baru menyadari bahwa itu
Anin. Anin yg ia kenal. Anin yg tadi membekapnya. Anin yg selalu ia
sebut sebagai sahabat. Orang yg selalu ia percayai, bahwa dialah
pengganti Viny untuknya. Entah apa yg ia rasakan sekarang, kecewa itu
pasti.

” nin…aku butuh penjelasan kamu sekarang?” kata Sinka, ia ingin
minta penjelasan apa yg sebenarnya terjadi. Anin terlihat menggeleng
pelan tanpa ekspresi,

” Sinka…aku-”

” ini karena kakakmu!. Kakakmu itu yg membunuh kakaknya Anin?, apa
kamu ga tau?” Shania memotong ucapan dari Anin. Shania melihat bahwa
Anin sudah tak bisa menjelaskan semua.

Membunuh, apa lagi ini. Sinka semakin bingung dengan ucapan dari Shania,

” singkatnya…Anin pengen kakakmu juga merasakan apa yg Anin rasakan.
Bagaimana jika dia kehilangan orang yg dia sayangi?, apa yg akan
kakakmu rasakan…?” lanjut Shania,

” cukup Shania, ini diluar skenario!” seru Anin. Ia merasa bahwa
Shania sudah keluar dari rencananya. Ia sudah meminta pada Shania
jangan menceritakan tentang kakaknya,

” Anin…kenapa kamu jadi lemah gini saat ada dia dihadapanmu?” Anin
tak bisa menjawab pertanyaan dari Shania itu. Entah apa yg
dirasakannya saat ini. Ketika melihat kedua bola matanya Sinka yg
sekarang menatapnya Sendu. Ia mengalihkan pandangannya pada Sinka
kemudian menatap Shania. Ia tak bisa melihat Sinka dalam kondisi
seperti itu.

” kamu lupa rencanamu?” lanjut Shania. Hanya gelengan pelan dari Anin
yg menjawab pertanyaan itu. Anin kemudian berjalan meninggalkan tempat
itu. Sudut matanya hampir saja mengeluarkan air mata jika ia tak
mengusapnya. Ia merasa aneh dengannya kali ini. Entah kenapa, ia tak
bisa melihat Sinka seperti itu. Ia hiraukan teriakan dari Sinka itu,
walau jujur hatinya selalu mendengar itu. Dan itu semakin membuat
dirinya ingin meneteskan air mata.

” dia sudah pergi sekarang?” ucap Shania menatap kearah Sinka. Sinka
masih menatap kepergian Anin yg kini telah menghilang dari balik
pintu,

” dan sekarang aku mau jujur?. Alasanku membawamu kesini bukan karena
Anin?, bukan karena kakaknya. Tapi karena Ayahmu…” kata Shania.
Sinka menoleh kearah Shania, seakan ia minta penjelasan lebih jauh.

” baiklah, aku akan memberitahukan semuanya…”

***

Shania menghentikan laju mobilnya setelah sampai disalah satu hotel
mewah. Ia mengikuti mobil dari mamanya dan juga pria yg sedang bersama
mamanya itu. Ia tertegun ketika ia melihat bahwa mereka berdua masuk
ke dalam hotel yg sama. Pikirannya mulai panas, rasanya ia ingin marah
dengan mamanya itu. Ayahnya yg selama ini setia dengannya. Dengan
sesuka hatinya dia memainkan kesetiaan dari Ayahnya itu. Ia sangat
kecewa dengan mamanya. Ia mengerti sekarang, kenapa mamanya jarang
pulang ke rumah. Itu alasannya.

Shania kembali melajukan mobilnya, air matanya tak tertahan lagi.
Semua hal yg ia lihat barusan terus memutar dengan sendirinya di dalam
pikirannya.

Saat sampai rumah, ia membanting tas yg tadi ia bawa. Ia mendudukkan
tubuhnya ditempat tidur. Perlahan kedua tangannya menutupi wajahnya,
dan terlihat tetesan air dari balik telapak tangannya. Ia biarkan air
matanya mengalir. Rasanya ia benar-benar tak mampu menahan semua itu.

~

Dengan langkah pelan kini ia menuju meja makan. Ia bisa melihat ada
mamanya tersenyum padanya. Ia acuh dengan itu, itu hanya templet wajah
mamanya saat berada didepannya. Dalam pandangannya, terlalu banyak hal
yg ia benci dari mamanya.

” apa mama masih nganggep Shania anak mama?” kata Shania tak menatap
kearah mamanya,

” kamu ngomong apa?, mama ga ngerti maksud kamu?” itu balasan dari mamanya,

” mama, mama kemarin malam sama siapa?, kenapa mama ga bisa pulang?”
Shania masih tak menatap kearah mamanya, bola matanya ia arahkan ke
layar smartphonenya.

” kemarin…kemarin kapan?” Shania manaruh smartphonenya diatas meja.
Ia menatap tajam kearah mamanya yg seakan menutupi semua,

” mama pikir Shania ga tau!, mama jam sepuluh malam masuk kedalam
hotel bersama seorang pria?. Shania kecewa sama mama!” itu kata
terakhir yg Shania ucapkan sebelum meninggalkan meja makan.

Suasana malam ini semakin mencekam bagi Shania. Ia memukul salah satu
foto keluarga dikamarnya itu. Ia sangat kecewa dengan mamanya. Walau
ia tau, ia lahir dari kandungan mama. Tapi sakitnya terlalu besar
baginya, ketika keluarganya berantakan karena ulah mamanya itu. Shania
mencoba memejamkan mata, berharap kejadian ini hanya ilusi baginya.
Walaupun ia sadar, tangannya terasa perih setelah memukul kaca bingkai
foto itu. Dan ia yakin, ia tak sedang bermimpi.

~

Shania kembali melihat pemandangan itu tepat didepan matanya lagi. Ia
mencoba tetap tenang, walau hatinya terasa sangat sakit. Kini
pandangannya ia arahkan ke pria itu, ia bisa melihat pria itu tak lagi
mengikuti mamanya. Dia masuk ke mobil lagi, dan kembali melajukan
mobilnya. Shania mencoba mengikutinya. Dan saat mobil itu berhenti
disalah satu rumah, Shania bisa melihat pria itu masuk ke dalam rumah
itu. Dan betapa terkejutnya, ketika ia bisa melihat bahwa ada teman se
kampusnya yg menutup pagar rumah itu. Itu Naomi. Dan tadi itu pasti
Ayahnya. Pikirannya mulai kacau, ia terlihat memukul kemudinya itu
beberapa kali.

***

” kamu tau, itu terasa sangat sakit…” ucap Shania. Sinka menatapnya
seakan tak percaya akan hal itu. Papanya tega melakukan hal itu,

” jika kamu tak percaya?, tanya saja sama Ayahmu itu. Aku yakin dia
akan gugup saat menjawab…”

” papaku ga mungkin ngelakuin itu…ga mungkin!” Sinka terlihat
menggelengkan pelan kepalanya. Ia tak percaya akan perkataan Shania,

” Sinka…” ucap Shania, ia mendekat kearah Sinka dan mengeluarkan
smartphonenya.

Sekarang mata Sinka tak bisa berkedip ketika melihat sebuah foto yg
ada di layar smartphonenya Shania. Hatinya terasa sakit. Itu foto
papanya dan seorang wanita yg tak ia kenal. Rasanya ia tak ingin
percaya pada Shania. Tapi apa yg dilihatnya barusan. Tidak hanya satu
foto, tapi lebih dari sepuluh foto yg Shania tunjukkan. Sekarang
perlahan sudut matanya mengeluarkan butiran bening. Ia tak bisa
menghapus air mata itu. Tangannya terikat.

” sekarang bagaimana perasaanmu…”. Sinka tak bisa menjawab
pertanyaan dari Shania. Ia hanya menunduk, membiarkan air matanya
jatuh membasahi lantai itu.

_O0O_

Ve kini telah berada dirumah Naomi, Namun ketika bertanya tentang
Sinka, Naomi mengatakan bahwa Sinka belum pulang. Ve merasa sangat
bersalah kali ini. Ve kemudian menatap kearah Naomi yg terlihat panik
itu. Naomi memang sudah membaik, ia sudah bisa berjalan seperti biasa.
Walau wajahnya masih terlihat sedikit pucat.

” mi, aku minta maaf…, ini gara-gara aku,” ujar Ve. Naomi menoleh
kearah Ve, kemudian telapak tangannya memegang kedua pundak dari Ve,

” Ve, ga seharusnya kamu ngomong gitu?. Aku yg salah, aku ga pantas
menjadi seorang kakak, bagaimana bisa seorang kakak ga tau kemana
adiknya pergi…” ucap Naomi pelan. Ve mendongakkan wajahnya, ia
menatap kearah bola mata Naomi,

” biar aku yg mencarinya sekarang?” kata Ve,

” enggak, itu tanggung jawab aku sebagai kakak…”

” tapi, kondisi kamu?”

” aku gapapa Ve…”

” kalau gitu, kita cari sama-sama?” ucap Ve. Naomi diam sejenak, ia
sebenarnya tak ingin melibatkan Ve dalam urusan keluarganya.

” dia memang adik kamu, tapi aku juga menganggapnya sebagai adik
aku…?”. Naomi tersadar. Ia harusnya berterima kasih pada Ve. Ia
sudah seperti keluarga baginya. Naomi mengangguk menjawab perkataan Ve
barusan.

Tujuan mereka adalah rumah Anin. Karena setau Naomi, Sinka sering
bersama Anin. Hanya suara dari mobilnya dan juga matahari senja yg
kini menemani mereka menuju rumah Anin. Atau rumah Aaron. Setidaknya
itu yg ada dipikiran Naomi. Ia seperti mengenang masa lalunya. Entah
kenapa Naomi punya firasat buruk kali ini. Sebelumnya ia tak pernah
mencari adiknya walau pulang larut malam. Tapi hati kecilnya kali ini
berkata lain. Namun ia tak bisa menjelaskannya.

Saat Naomi dan Ve tiba disana. Rumahnya sepi. Ve mencoba memencet
tombol bel di rumah itu berkali-kali. Namun itu seakan sia-sia, tak
ada siapapun yg keluar dari rumah itu.

Mata Naomi terkunci ketika melihat rumah itu. Ada beberapa kenangan yg
tak bisa ia lupakan dirumah itu. Ia melihat ke teras rumah itu. Ia
ingat saat Aaron dulu memberinya sebuah syal disana. Syal yg saat ini
masih ia simpan. Otaknya seperti memutarkan semua kenangan itu dengan
sendirinya. Namun sentuhan dari Ve dipundaknya, menyadarkannya. Ia
harus pergi dari tempat itu. Dan mencari adiknya.

Entah tujuan mana lagi yg sekarang mereka tuju. Naomi seperti
kehilangan arah. Ia hanya memukul pelan kemudinya, ketika ia melihat
ada barisan berbagai macam kendaraan didepannya.

_O0O_

Anin terlihat termenung diluar ruangan tempat Shania dan Sinka
berada. Ia mendengarkan semua percakapan Shania dan Sinka dari luar
ruangan itu. Ia seperti tak bisa bergerak hanya untuk kembali ke
dalam. Rasanya matanya tak kuat melihat Sinka seperti itu. Tapi ia
ingat sekarang. Ia melakukan ini demi kakaknya. Saat ia ingat itu,
rasanya tak ada kasihan untuk Sinka. Sinka memang tidak salah, tapi ia
adalah orang yg disayangi oleh Naomi. Itu alasannya, ia juga akan
mengambil orang yg Naomi sayangi, sama hal nya saat Naomi mengambil
orang yg ia sayangi. Perihnya terlalu dalam, dan ia harus
melakukannya.

Tapi itu kesalahan kakaknya, kenapa harus Sinka yg menanggung semua
itu. Ia teringat sekarang, saat Sinka mengatakan bahwa ia sahabatnya.
Sesuatu hal yg tak bisa membuatnya berkata apa-apa lagi. Dia orang
pertama yg mengatakan itu. Ia bahagia saat ada orang yg menganggapnya
sahabat. Ia sangat bahagia. Dan ia juga tau, tak seharusnya ia
menyakitinya. Dia sudah mempercayainya. Kedua bisikan dari dalam
hatinya Anin terus bertabrakan. Ia bimbang sekarang.

Anin berjalan pelan masuk ke dalam ruangan yg sangat kurang akan
cahaya itu. Ia bisa melihat Sinka masih duduk dikursi itu. Ia
mengambil sesuatu dari dalam saku rok nya. Sebuah pisau lipat sekarang
ada di genggamannya. Ia bisa melihat sekarang bahwa Sinka melihat
kearahnya. Dan matanya terlihat merah. Ia tau Sinka sedang menangis,
walaupun tak mengeluarkan suara. Namun dari wajahnya, ia bisa
mengetahui itu.

” aku minta maaf…” ucap Anin. Anin mengangkat pisau lipat itu dari
belakang punggung Sinka.

Sinka menyadari hal itu, karena ia bisa mendengar suara pisau lipat yg
terbuka. Ia memejamkan mata. Tapi ia tak merasakan apapun. Kenapa.

” nin…apa ini karena kakakku?. Karena kakakku membuatmu kehilangan
kakakmu?. Aku ingat sekarang, kamu pernah menanyakan sesuatu tentang
itu. Saat kakakmu mati karena kakak temanmu, apa kamu akan membenci
temanmu itu?. Aku ingat pertanyaan itu. Aku tak mengira jika itu
pertanyaan dari dalam hatimu…dan sekarang pilihanmu itu tepat nin.
Sekarang bencilah aku. Tapi aku mohon?, jangan sakiti kakakku…” ucap
Sinka. Ia menyampaikan apa yg ada didalam pikirannya saat ini. Ia
keluarkan semua. Dan berharap Anin akan mengerti.

” lakukanlah, jika itu membuatmu senang. Dan membuatmu bisa memaafkan
kesalahan kakakku….” lanjut Sinka. Anin membisu. Tangannya bergetar
hebat. Kata-kata yg barusan ia dengar dari Sinka terngiang terus di
kepalanya.

Membuatmu senang. Ia bahkan tak bisa merasa senang kali ini. Kenapa.
Pertanyaan dari hatinya sendiri yg tak bisa ia jawab. Ia bimbang
sekarang. Namun beberapa saat kemudian ia mengangkat kembali pisau
lipatnya.

Shania menatap kearah Anin dan Sinka. Shania seakan tak percaya dengan
kejadian didepan matanya ini. Ia bisa melihat kini Anin membuang pisau
itu.

_O0O_

Lidya kembali memacu gas motornya. Ia pergi meninggalkan rumah. Ia
merasa telinganya sudah muak mendengar pertengkaran kedua orang tuanya
itu. Kapan mereka mau melihat kearahnya. Kapan mereka sadar kalau yg
mereka lakukan itu salah. Lidya memacu motornya dengan kencang. Ia tak
peduli akan teriakan kedua orang tuanya saat ia meninggalkan rumah
dalam kondisi hari sudah petang. Hanya bayangan dari pepohonan
disamping jalan itu yg kini selalu menemani disampingnya. Ia melewati
jalanan yg sangat sepi. Entah kemana arah tujuannya, tapi ia ingin
menepi untuk kali ini. Tetesan dari air matanya ia hiraukan. Ia
berhenti di salah satu taman bermain. Ia tau, hari sudah malam dan
tempat inipun terasa sangat sepi. Lampu sorot dari lampu taman kota
itu, memberikan sedikit cahaya untuk ia melihat seseorang yg tengah
berlari. Lidya menyipitkan matanya, ia melihat seseorang gadis remaja
berlari di jalanan yg berada dihadapannya. Dia terlihat masih memakai
seragam sekolah. Perlahan langkah kakinya yg cepat hilang di
kegelapan. Lampu taman itu tak mampu lagi menyinari sosok gadis itu.
Beberapa saat kemudian yg Lidya lihat malah dua orang pria berbadan
besar yg melewati jalan itu. Ia baru sadar, jika gadis itu di kejar
para pria berbadan besar itu. Lidya memacu motornya untuk mengejar
gadis itu, ia ingin menolongnya. Lidya melewati pria berbadan besar
itu tanpa menoleh.

_O0O_

” kamu ngelepasin dia!” Shania membentak pada Anin. Anin menatap Shania tajam,

” karena aku nyadar sekarang?, kakakku tak pernah memerintahkanku
untuk melukai dia. Dan aku tau, tak sepantasnya aku membencinya.
Kakakku meninggal karena penyakit jantung yg telah dia derita sejak
kecil. Dan Naomi, aku rasa dia tidak salah. Ini jalan terbaik yg Tuhan
rencanakan…dan aku percaya itu…” balas Anin. Ia kemudian
membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari tempat itu.

” dan aku tak mau jadi seorang pendendam…” itu kata terakhir yg Anin
katakan sebelum meninggalkan ruangan itu.

Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok itu. Naomi dan Ve.
Ia melihat mereka ada dihadapannya. Perlahan terdengar langkah Shania
yg juga keluar dari ruangan itu. Semua diam. Tak ada kalimat sapaan
diantara mereka.

” apa kamu melihat Sinka?” kata Naomi. Ia membuka keheningan diantara
tatapan tajam itu,

” dia berada dalam bahaya sekarang…” balas Anin. Naomi terlihat
kaget mendengar itu.

” beri tau dimana dia sekarang!” Ve meninggikan nada bicaranya. Naomi
kini memegang tangan Ve. Ia memberi kode pada Ve agar tetap tenang,

” beri aku kesempatan untuk bertanya…” ucap Anin. Naomi menatap serius Anin,

” apa kamu benar menyukai kakakku?”

” apa maksudmu?” balas Naomi.

” dia it-”

” diamlah Shania!. Kenapa kamu memutuskan hubungan dengan kakakku
kalau kamu menyukainya?” kata Anin. Naomi terlihat menggelengkan pelan
kepalanya,

” asal kamu tau. Aku ga pernah bilang putus sama kakakmu, aku
mencintainya. Dia sendiri yg memutuskan hubungan itu…”. Anin
terlihat kaget mendengar jawaban itu. Itu kebalikan dari perkataan
Shania padanya. Kini tatapan dari Anin mengarah tajam pada Shania.

” kamu membohongiku?. Beruntung aku tak percaya padamu…” ucap Anin.
Naomi dan Ve hanya menatapnya heran. Membohongi. Apalagi sekarang.
Mereka berdua seperti tak mengerti maksud Anin.

” apa yg sebenarnya terjadi?. Shania, apa yg kamu lakukan?” tanya Ve.
Namun Shania hanya diam.

” nanti biar aku yg jelasin semua. Sekarang kita kejar Sinka, dia
dalam bahaya sekarang…” ucap Anin. Naomi dan Ve mengangguk mengerti.

Perlahan mobil Naomi meninggalkan tempat itu. Dan meninggalkan Shania
dalam diam. Rencananya gagal kali ini. Dia hanya tersenyum kecut
menatap kepergian mobil Naomi itu.

_O0O_

Betapa tekejutnya Lidya, ketika ia bisa dengan jelas melihat wajah gadis itu.

” Sinka, ayo naik…” seru Lidya sambil menghentikan laju motornya
tepat didepan Sinka. Sinka menatapnya sekilas. Kemudian menengok ke
belakang. Ia melihat pria besar itu semakin dekat.

” ayo…tunggu apa lagi?” lanjut Lidya ketika melihat raut panik dari
wajah Sinka.

Tanpa membalas ucapan dari Lidya. Sinka langsung naik ke motornya
Lidya. Ia kesampingkan dulu akan kebenciaannya pada Lidya. Sekarang
Lidya sedang menolongnya. Perlahan para pria besar itu semakin jauh
dari pandangannya. Motor Lidya melaju sangat kencang. Namun sial
baginya. Motor Lidya entah kenapa berhenti tiba-tiba.

” sial…mogok lagi!” Lidya menendang motornya itu. Kemudian melihat
kearah Sinka yg tengah berdiri disebelahnya itu yg terlihat gelisah.
Ingin sekali Lidya menanyakan apa yg sebenarnya terjadi. Tapi ia
urungkan niatnya itu ketika pria besar itu telah nampak di bawah lampu
jalanan yg tak jauh dari tempatnya berdiri.

Lidya dengan cepat menarik tangan Sinka. Berlari kencang  meninggalkan
motornya di pinggir jalan.

Saat mata Sinka fokus melihat belakang. Ia tak menyadari jika ia
sedang menyeberang jalan raya. Ia bisa merasakan sekarang genggaman
tangan Lidya perlahan terlepas dari tangannya. Saat matanya menatap
kearah depan, ia bisa melihat Lidya terpental jauh dari hadapannya.
Hingga tubuh Lidya tergeletak di jalanan aspal itu. Ia menutup
mulutnya yg menganga sendiri dengan kedua telapak tangannya. Perlahan
mobil yg ada dihadapannya melaju kencang. Meninggalkannya dan Lidya
dalam kondisi penuh cairan merah disekujur tubuhnya. Hanya suara
langkah kakinya yg terdengar, menemaninya menuju tempat Lidya
tergeletak. Tak ada yg bisa Sinka katakan. Ia perlahan terduduk
didekat Lidya. Ia masih bisa melihat Lidya menatapnya sambil
tersenyum. Perlahan kedua bola matanya Lidya menutup. Berbarengan
dengan air matanya yg mengalir deras. Ia melihat ke belakang karena
ada sesuatu yg terdengar mendekat. Ia bisa melihat dua pasang kaki itu
berada dibelakangnya. Perlahan ia merasakan sesuatu menembus
punggungnya. Ia menyadari bahwa itu adalah sebuah benda tajam yg
menusuk punggungnya. Pandangan matanya perlahan mulai kabur. Ia ingin
memegang wajah Lidya saat ini. Dan berharap ia bisa menolongnya. Ia
bisa mendengar suara langkah kaki cepat menjauh dari tempat itu.
Sebelum semua menjadi gelap.

# bersambung…

@sigitartetaVRA

Gimana dengan part ini…

Membosankan?

Silahkan kritik dan sarannya.

Iklan

2 tanggapan untuk “Sahabat (story version) part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s