Silat Boy : Awal Liburan Part 28

CnJGPUtWgAEeomp

Dua minggu berlalu begitu saja. Tidak terasa, sudah dua minggu sejak
pertandingan itu. Lihat apa yang terjadi selama dua minggu ini. Banyak
yang telah berubah.

Rusdi, ia kini disegani oleh murid-murid di SMA. Bahkan ada beberapa
gadis yang sengaja membuat fanclub untuknya. Mereka sangat
menghormatinya karna sudah melawan ketidakadilan di sekolah itu.
Sungguh kemajuan yang luar biasa untuk seorang anak baru.

Banyak hal telah berubah. Kini hidup Rusdi terasa jauh lebih nyaman.
Tapi tidak senyaman di desa. Ia mulai terbiasa dengan kerasnya
Ibukota. Terbiasa dengan beberapa teman yang sok jagoan.

“Kak, apa masih jauh? Aku lupa lagi jalannya.” ujar Rusdi, mereka
berada di dalam mobil.
“Sabar, bentar lagi juga nyampe. Kalo ngobrol kan gak kerasa, tau
nyampe aja.” jawab Kak Melody.

“Emang di desa ada apa sih?” balas Naomi.
“Ada banyak, gak kayak di Jakarta pokoknya.” Epul bersandar di bahu Naomi.

“Iya ada apa?” Naomi jengkel, lalu kembali bertanya.
“Jangan banyak tanya, liat aja nanti!” jawab Boim dengan ekspresi
datar, kemudian perlahan memejamkan matanya.

Tunggu dulu, Boim? Ada Boim diantara mereka? Ya, memang itulah
kenyataanya. Itu adalah salah satu hal yang telah berubah. Boim kini
memutuskan untuk berteman dengan mereka.

Tapi sikapnya masih belum berubah. Ia sesekali sering marah-marah.
Tapi jika Rusdi menegurnya, ia langsung tunduk. Sepertinya ia takut
pada Rusdi. Hanya Rusdi dan Kak Ve yang bisa mengalahkannya.

Tunggu, Kak Ve? Dimana dia? Dia memutuskan untuk diam di rumahnya,
tidak ikut liburan bersama mereka. Selain Kak Ve, Yona juga tidak ikut
liburan dengan mereka. Yona memutuskan ikut dengan keluarganya liburan
di kampung halaman.

Untuk pertama kalinya, liburan semester kali ini Naomi pergi ke desa.
Ia tidak tahu apa itu desa, bagaimana keadaan disana? Apa udaranya
kotor seperti di Jakarta? Apa sering banjir? Entahlah, ia belum pernah
ke desa.

Mereka terus saja mengobrol, bahkan Naomi sesekali bertanya tentang
lingkungan di desa. Tapi Epul menjawabnya dengan jawaban konyol,
membuat semua orang yang ada di dalam mobil itu tertawa. Terkecuali
Boim, ia hanya tersenyum tipis seraya memejamkan matanya.

Rusdi merasa sangat senang. Akhirnya ia kembali ke desa walaupun hanya
sebentar. Setidaknya ia bisa refresing setelah ulangan kenaikan kelas.
Ulangan itu terasa sangat sulit.

“Lihat apa yang terjadi padaku? Musuhku menjadi sahabatku, sahabatku
menjadi pacarku, dan pacarku menjadi musuhku.” pikir Rusdi dalam hati,
ia menyeringai senang.

Musuhnya? Boim, kini sudah menjadi sahabat. Sahabatnya? Naomi, kini
sudah menjadi pacarnya walaupun mereka tidak pernah romantis.
Pacarnya? Nabilah, kini sudah berubah menjadi musuhnya.

Dua hari setelah pertandingan itu, tepatnya setelah Boim benar-benar
sembuh. Ia kemudian mendatangi Rusdi dan teman-temannya. Lalu meminta
maaf atas segala kesalahannya. Setelah itu mereka pun berteman, tidak
ada lagi musuh yang harus ditakuti.

Rusdi menyatakan cintanya pada Naomi, beberapa jam setelah memenangkan
pertandingan itu. Tapi meskipun mereka sudah berpacaran, mereka
memutuskan untuk dekat seperti biasa. Tidak lebih dari sebelumnya, dan
mereka juga tidak mengucilkan Epul.

Nabilah apa kabar? Ia kini sudah sangat membenci Rusdi. Itu karna
selama mereka berpacaran, Rusdi hanya romantis di awal saja. Setelah
itu ia hilang tanpa kabar. Dan ternyata ia lebih mementingkan latihan
Silat dari pada pacarnya sendiri.

Setelah itu, mereka akhirnya sampai di rumah Rusdi yang berada di
desa. Mereka kemudian mengambil barangnya masing-masing, lalu
memindahkannya ke rumah itu.

Malamnya, mereka tengah asik bercanda gurau di ruang tamu. Rusdi
memutuskan untuk keluar sejenak hanya sekedar mencari udara segar. Tak
lama, seseorang dari kegelapan malam menghampirinya.

“Aku dengar kau sudah pulang, kawan.” ternyata itu Ulung.
“Ulung, ternyata itu kau!” mereka kemudian berpelukan sejenak, hanya
sekedar melepas rindu.

“Apa yang terjadi di desa ini? Rasanya seperti ada yang berubah.” tanya Rusdi.
“Memang, semuanya sudah berubah. Diambil alih oleh orang luar.” jawab Ulung.

“Maksudmu?” melihat wajah Ulung, Rusdi jadi makin penasaran.
“Beberapa hari setelah kau meninggalkan desa ini, ada orang luar
datang kemari. Ia ingin mendirikan perusahaan disini, dan berniat
menguasai kampung ini.” jelas Ulung.

“Siapa dia?” Rusdi terlihat geram.
“Dia bukan orang sini, dan tidak ada cara untuk menghentikannya
menjadi penguasa disini. Dia menawarkan kesejahteraan, tapi kami harus
menjual sawah-sawah kami untuk itu.” jelas Ulung.

“Tidak ada orang luar desa yang boleh mengambil tanah kelahiranku,
Kampung Tengsaw! Kampung ini dulunya banyak sawah! Itulah kenapa
disebut Tengsaw, tengah sawah! Dan sampai nanti pun kampung ini akan
terus dikenal dengan nama Tengsaw!” ucap Rusdi, Ulung hanya
menyeringai.

“Kau datang tepat waktu, besok transaksi itu akan dilaksanakan.
Penduduk desa ini terpaksa melakukan itu, mereka sudah tidak tahan
lagi dengan iming-iming soal kesejahteraan yang ditawarkan. Kuharap
kau bisa menghentikannya, kawan.” Ulung menyentuh lembut bahu Rusdi.

“Aku pergi dulu, besok aku akan kembali kesini.” sambungnya, kemudian
Ulung berlalu meninggalkan Rusdi.
“Kau masih belum berubah… masih misterius seperti dulu…” Rusdi
kemudian masuk ke dalam rumahnya.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s