Silat Boy : Melawan Boim Part 27

CnJGPUtWgAEeomp

Wajah-wajah penonton terlihat tegang. Kak Melody kali ini hanya
menatapnya sayu. Kak Ve pun sama, ia tidak memaksakan Rusdi untuk
memenangkan pertandingan itu. Setidaknya ia sudah berani melawan Boim.

Wasit mengangkat bendera, kemudian Boim mulai menyerang diikuti oleh
sorakan penonton yang sangat ramai. Rusdi bisa menahan serangan itu,
tapi itu hanyalah permulaannya.

Boim kemudian menendangnya, Rusdi terjatuh tapi ia melompat dan
kembali berdiri. Lalu Rusdi mulai menyerang balik. Menang dalam
pertandingan ini adalah segalanya bagi Rusdi.

Kehormatannya dimata Kak Ve, harga dirinya dimata seluruh siswa, dan
janjinya dimata Kak Melody dan sahabat-sahabatnya. Ia harus bisa
memenangkan pertandingan ini apapun yang terjadi.

Boim mampu menangkis semua serangan Rusdi. Tapi Rusdi masih belum
menyerah, ia masih menyerang dengan gesitnya. Mereka masih belum
serius, hanya awalan saja.

Saat Rusdi sibuk melancarkan serangan-serangan mematikan, Boim dengan
mudahnya menendang pergelangan kaki Rusdi. Rusdi mengaduh, lalu Boim
menendang wajah Rusdi dengan keras.

Rusdi berusaha menahan sakit, ia perlahan kembali berdiri. Boim
kemudian menendang dadanya, lalu menangkap tangannya dan membantingnya
dengan kuat ke lantai.

Rusdi terjatuh, lalu Boim menarik sabuknya hingga Rusdi kembali
berdiri. Boim meninju bagian perutnya berkali-kali. Bahkan Rusdi
berteriak karena kesakitan.

Melihat kejadian itu, Kak Melody hanya bisa menutup mulut dengan kedua
tangannya. Bahkan kali ini tak terdengar lagi suara riuh penonton.
Nampaknya Boim mulai serius.

Boim masih terus meninju Rusdi bagai samsak, sesekali memukul
wajahnya. Setelah puas memukulinya, Boim membanting Rusdi ke lantai.
Rusdi kesakitan, ia memegangi dadanya.

Rusdi berusaha menahan rasa sakitnya, ia kembali berdiri. Boim hanya
menyeringai melihat kegigihannya. Rusdi kemudian berlari kearah Boim,
lalu menendangnya.

Boim menghindari tendangan itu, lalu Rusdi menyerang Boim dengan
ganasnya. Kali ini Boim mulai serius, serangan Rusdi bisa ia tangkis
dengan mudahnya. Lalu Boim menyerang balik.

Boim memukul dan menendang Rusdi dengan gesit, Rusdi berhasil menahan
beberapa serangannya. Sisanya ia telak terkena serangan itu. Boim
berputar, lalu menendang kearah kepala Rusdi.

Rusdi lengah, Boim berhasil menendang kepalanya. Lalu Boim memukul
dada Rusdi dengan kedua tangannya seraya berteriak keras. Rusdi
terpental, ia jatuh di dekat garis.

“KAU TIDAK AKAN BISA MENGALAHKANKU!!!” teriak Boim, ruangan itu nampak
sunyi karna teriakan Boim.
“Kau akan kukalahkan!” Boim mendekat padanya.

Rusdi berusaha berdiri, tapi kali ini tidak bisa. Tendangan Boim tadi
sukses membuat pandangannya kabur sesaat. Rusdi sesekali
menggeleng-gelengkan kepalanya agar pandangannya tidak kabur lagi.

Boim sudah mendekat, lalu ia dengan kasarnya menarik tangan Rusdi.
Rusdi masih belum bisa berdiri, ia hanya berlutut di depan Boim. Tanpa
diduga, Boim kembali menendang wajahnya.

Rusdi kembali jatuh tersungkur. Rusdi menyeka pelipisnya yang sudah
mulai berdarah. Rasanya perih, tapi lebih perih lagi jika Boim
menyakiti teman-temannya.

Rusdi berdiri dan kembali menyerang Boim. Ia berusaha menahan rasa
sakitnya. Tak lama, Boim berhasil menjatuhkannya kembali. Rusdi
terlalu memaksakan diri.

Rusdi perlahan menatap Kak Ve. Terlihat jelas di wajahnya, betapa Kak
Ve sangat mencemaskannya. Rusdi kemudian menatap kearah lain. Itu? Itu
pacarnya, Nabilah!

Tapi kenapa Nabilah ada disana? Apa ia akan memberinya semangat?
Nabilah terlihat sedang berdiri disisi lain. Ia terdengar samar
meneriaki nama Boim. Boim kemudian menarik kerah bajunya.

“Lihat! Bahkan kali ini gadis itu memberiku semangat. Apa kau yakin
bisa menang dariku? Apa kau yakin bisa mengalahkanku?” Boim masih
menarik kerah bajunya.

Rusdi sudah tidak kuat lagi, semangatnya telah patah sejak tadi.
Darahnya menetes di arena itu. Membuat kotor baju hitamnya. Apa daya,
ia bahkan sekali pun tidak bisa memukul Boim.

“Aku juga harus berani melawannya. Jangan takut saat melawannya nanti,
karna kami semua akan selalu mendukungmu. Aku, Kak Ve, Kak Melody,
Naomi, juga Yona akan selalu ada di pihakmu.” tiba-tiba ia teringat
perkataan Epul sebelumnya.

“Semoga kau menang melawannya. Aku tidak mau dia terus berbuat
seenaknya di sekolah ini. Sekali lagi, semoga kau menang kawan.”
kata-kata Epul terngiang di kepalanya.

“Aku akan mempermalukanmu di depan gurumu.” Boim tertawa tepat di
depan wajah Rusdi.
“Dasar sombong! Aku tidak akan kalah lagi darimu!” Rusdi memukul wajah
Boim, lalu berguling ke belakang.

Boim nampak kesal karna Rusdi memukul wajahnya. Seketika suara riuh
penonton kembali terdengar. Rusdi perlahan berdiri, para penonton
nampaknya berpihak pada Rusdi. Terdengar jelas para penonton meneriaki
namanya.

Itu lebih dari cukup untuk mengembalikan semangatnya. Rusdi kembali
bersemangat. Kali ini ia akan mengalahkan Boim dengan satu serangan
brutal.

Rusdi kemudian menantang Boim untuk mendekat. Ia mengacungkan jari
tengahnya seraya menyeringai. Boim terpancing emosi, lalu berlari
kearah Rusdi.

Saat Boim hendak menyerang, dengan cepat Rusdi menendangnya. Boim
terjengkang ke belakang. Lalu ia mengayunkan kakinya seraya melompat
dan kembali berdiri.

Rusdi terseok-seok menyerangnya. Tapi kali ini bukan serangan biasa,
melainkan teknik serangan khusus. Pukulan Kuat, itulah nama yang ia
berikan untuk teknik itu.

Rusdi memukul  Boim dengan kuat. Serangannya sangat lambat, tapi
kekuatan serangan itu dua kali lipat dari serangan sebelumnya. Tubuh
Rusdi mendadak mengeras.

Boim berkali-kali menangkis serangan itu, tapi tangkisannya berhasil
dipatahkan oleh Rusdi. Boim berkali-kali menendangnya, tapi tak ada
efek apapun bagi Rusdi.

Boim nampak gentar, kali ini ia terlihat gelisah. Saat Boim lengah,
Rusdi memukul wajahnya dengan kuat. Lalu Rusdi kembali menyerang
secara biasa, karna tenaganya sudah mulai terkuras.

Rusdi berkali-kali meninju perut Boim. Boim tidak tinggal diam, ia
berusaha menyerang Rusdi. Tapi serangannya selalu ditangkis oleh
Rusdi. Rusdi kembali meninjunya secara brutal.

Kali ini keadaan berbalik, Rusdi lebih mendominasi pertandingan itu.
Rusdi masih memukuli Boim bagai samsak. Lalu Rusdi menendang kedua
pergelangan kaki Boim.

Boim sudah berlutut, Rusdi kemudian menendang dagunya seraya salto dan
berputar. Kepala Boim mendongkak keatas karena tendangan itu. Rusdi
kemudian berteriak keras, lalu ia menendang dada Boim dengan kuat.

Boim terguling ke belakang. Rusdi kemudian berlari menghampirinya,
kali ini ia menggunakan Blue Power. Rusdi salto berputar-putar, lalu
jatuh dalam satu tendangan di wajah Boim saat ia berusaha berdiri.

Sambil terengah-engah, Rusdi kembali memukuli Boim bagai samsak. Lalu
mendorongnya dengan satu pukulan. Boim kembali berlutut, lalu
memegangi dadanya.

Darah mengalir membasahi bajunya, wasit kemudian menghampiri Rusdi.
Dan wasit mengangkat tangan kanannya, tanda ia sudah menang. Sambil
terengah-engah Rusdi menatap Boim yang sudah tak berdaya.

Para penonton kemudian bersorak keras. Bahkan ada yang menyemprotkan
confetti, dan ada pula yang membunyikan terompet untuk pertandingan
sepak bola. Bahkan suara Kak Melody dan Naomi tidak terdengar
karenanya.

Kak Ve kemudian menghampirinya. Wasit terlihat sedang memeriksa Boim
yang masih berlutut kesakitan. Darah dari mulutnya menetes ke lantai,
Boim sudah sangat kesakitan. Kak Melody dan ketiga sahabatnya lalu
menghampiri Rusdi.

Naomi kemudian memapahnya, sejenak Rusdi tertawa kecil melihat Nabilah
yang berlalu meninggalkannya. Nampaknya ia sangat kesal. Tak lama,
panitia memberinya medali.

Rusdi hanya tersenyum menerima medali itu. Setelah itu, para penonton
kembali bersorak. Mereka terdengar begitu riuh, bahkan beberapa siswi
ada yang histeris meneriaki namanya. Nampaknya mereka sangat bahagia
bisa bebas dari Boim.

Akhirnya Rusdi bisa mengalahkan Boim. Ia tidak hanya sekedar janji.
Rusdi tersenyum puas menatap para penonton yang meneriaki namanya.
Akhirnya ia bisa jadi orang yang berguna di sekolah itu.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s