“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 9

“Rob?”

“Ya?”

“Ada yang pengen aku omongin sama kamu,” ucap Shani.

“Ngomong aja kali Shan.” Robby terkekeh pelan.

“Aku serius Robby.”

Robby terdiam mendengar nada bicara Shani yang berbeda, mungkin ini hal yang serius pikirnya.

“Yaudah, mau ngomong apa?” tanya Robby.

Shani mengatur nafasnya pelan-pelan, “Kita kan udah deket lumayan lama Rob, dan aku tau kamu juga ngerasain hal yang sama denganku. Jadi aku mau minta kejelesan sama kamu.”

“Kejelasan apa?”

“Kejelasan tentang hubungan ini Rob.”

Dahi Robby berkerut, “Maksud kamu?”

“Aku mau minta kepastian sama kamu Rob, kita udah lumayan lama dekat. Dan sekarang aku mau, minta kepastian sama kamu. Apa kita akan begini terus? Tidak ada yang spesial?”

“Jadi…”

“Ya, aku mau kamu mutusin tentang hubungan kita sekarang Rob.”

Robby terdiam, apa yang harus ia lakukan sekarang? Kemarin baru saja ia melihat orang yang mirip Shania. Dan itu bisa saja Shania. Dan kalau ia menerima Shani, jadi dia bermain di belakang Shania dong? Ia tidak tau harus melakukan apa sekarang..

“Rob?” panggil Shani.

“Hm?”

“Aku mau kamu putusin sekarang tentang hubungan kita. Atau kamu gak mau ya Rob?” lirih Shani.

Robby menghela nafasnya, ini yang ia takutkan apabila ada perempuan yang di dekatnya. Apalagi kalau perempuan itu mempunyai perasaan padanya, tapi mungkin kali ini beda. Disatu sisi ia ingin menunggu Shania, walaupun itu lebih lama lagi. Dan disatu sisi, ia ingin mencoba melupakan Shania dengan cara menata ulang hatinya untuk Shani.

Tapi kata-kata putus belum terucap dari Shania, maupun dari Robby. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

“Bukan gitu Shani, aku butuh waktu. Aku gak mau kamu nantinya malah sakit hati gara-gara aku,” ucap Robby pelan.

“Apa ini gara-gara cewek yang namanya Shania itu?” Shani mendongak menatap wajah Robby.

“Entahlah, aku gak tau juga. Tapi yang jelas, aku gak mau kamu sakit hati gara-gara aku.”

“Baiklah, aku kasih kamu waktu. Gimana?”

“Tapi Sha-,”

“Plis Robby, aku pengen kamu kasih kepastian tentang hubungan ini. Apa enggak bisa jadi spesial tentang hubungan kita ini?”

Robby menghela nafasnya kasar, “Baiklah, kasih waktu aku satu bulan.”

“Enggak, terlalu lama. Aku kasih kamu waktu satu minggu,” ucap Shani.

“Itu terlalu cepat Shani, tidak bisakah lebih lama lagi?”

“Baiklah, bagaimana kalau dua minggu?”

Robby menghela nafasnya pelan,”Oke, kasih aku waktu selama dua minggu.”

Shani mengangguk dan memeluk erat Robby. Sedangkan Robby, ia terdiam memikirkan apa yang harus ia katakan pada Shani nanti. Sekarang ia harus memilih, Shania atau Shani?

Di sebuah rumah, kini tampak seorang perempuan tinggi yang manis dengan chococips di dagunya berjalan keluar kamarnya, menuju dapur. Ia mengambil gelas dan menuangkan air yang ada di meja makan.

“Belum tidur lo?”

Perempuan tersebut berbalik, setelah mendengar suara tersebut.

“Belum. Masih jam segini Bil.”

“Ck, kebiasaan lo ah. Pasti mikirin itu lagi.”

“Sok tau.” Perempuan tersebut merengut sebal.

“Sok tau? Bukannya gue udah tau ya Shan? Kan gue sering nemenin lo Shania Junianatha.”

“Ck, iya-iya. Lo bener Nabilah Ratna Ayu Azalia, lo bener gue mikirin itu lagi.”

Ya, itu adalah Shania. Dan tentang Nabilah, ia adalah teman Shania ketika berada di Singapore. Nabilah adalah pertukaran pelajar dari Indonesia ke Singapore waktu SMA dulu, dan kebetulan sekali Shania baru masuk. Karena sama-sama orang Indonesia, mereka pun lebih cepat akrab. Nabilah-lah, orang yang pertama ia kenal waktu sekolah SMA di Singapore dulu, setelah itu baru beberapa temannya yang lain..

Ah iya, dan ketika pulang ke Indonesia, Nabilah memberikan alamat rumah dan nomor telponnya di sana. Siapa tau penting, katanya. Dan benar, itu memang benar penting sekali. Ketika kembali ke Indonesia, Shania langsung menuju alamat Nabilah. Dan beginilah sekarang, Shania tinggal di rumah Nabilah..

“Lo kan udah dapet nomor hape sama alamatnya, tunggu apa lagi? Samperin lah,” ucap Nabilah.

“Gak segampang itu Bil, gue masih takut,” lirih Shania.

Nabilah menghela nafasnya kasar, “Lo takut apa lagi? Jangan sia-siain kesempatan deh Shan, gak usah takut. Bukannya lo udah denger sendiri dari kakaknya?”

Shania terdiam, memang ia takut bertemu dengan Robby. Dalam artian, ia takut apa yang ia bayangkan akan berbeda dengan kenyataannya. Apalagi selama setahun, ia tidak memberi kabar. Dan dengan mudahnya, ia menemuinya dan minta maaf tentunya menjelaskan semuanya apa yang terjadi mungkin? Itu bisa saja dilakukannya, tetapi bagaimana reaksi Robby nanti? Itu yang tidak bisa ia bayangkan nanti, mungkin kah marah? Mungkin kah sebaliknya?

“Samperin dia besok.”

Shania menatap Nabilah, “Lo gila ya? Gue masih takut Bil.”

“Lo yang gila! Ini udah berapa kali sih kita bahas? Lo selalu takut dan takut! Kapan beraninya sih? Jangan sampai lo sia-siain kesempatan ini. Kalau lo sia-siain, lo bakal nyesel nantinya, soalnya lo tau kan ada cewek yang deket sama dia?” Nabilah tersenyum sinis.

“Hh, tapi bagaimana kalau Robby ternyata udah nganggep gue gak ada?”

“Lo gak usah mikirin itu, yang penting lo samperin aja dulu. Jelasin ke dia, minta maaf ke dia, lakuin yang pengen lo lakuin sama dia.”

Shania menghela nafasnya, “Baiklah, anter gue besok.”

“Gue ada kuliah pagi, lo sendiri aja nanti berangkatnya. Maaf.”

“Hh, baiklah. Gue besok sendirian ke sana.” Shania pun berjalan menuju kamarnya.

Shania merebahkan tubuhnya di kasur, memejamkan matanya memikirkan apa yang ingin ia lakukan besok kalau bertemu dengan Robby.

“Semoga baik-baik saja,” ucap Shania dalam hati.

~

Keesokkan harinya, kini hari telah siang. Dan Shania telah rapi dengan bajunya, ia ingin bertemu dengan Robby hari ini. Apapun reaksi Robby nanti, ia akan menerimanya. Karena ini semua salahnya, jadi ia pantas mendapatkan itu.

Shania berjalan di lobby apartement Robby, sekarang ia harus mencari nomor apartement milik Robby. Ia berjalan menuju lift untuk menuju dimana apartement Robby berada. Kini ia mencari-cari nomor apartement milik Robby. Gotcha! Ia telah berhasil mendapatkannya.

Shania mengatur nafasnya terlebih dahulu, sebelum bertemu dengan Robby. Kemudian ia memencet bel yang berada di samping pintu. Tidak ada tanda apa-apa, ia kembali memencet bel tersebut. Cukup lama Shania menunggu, tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada apa-apa..

“Mungkin Robbynya gak ada kali ya?” ucap Shania dalam hati.

Shania menghela nafasnya, setelah ia berani ingin bertemu dengannya. Tapi takdir berkata lain, ia tidak bertemu dengan Robby. Shania pun berjalan menuju lift, tidak apa-apa mungkin nanti bisa ketemu pikirnya. Yang penting sekarang ia tau dimana apartement Robby. Ia memencet tombol lift, menuju lantai satu. Kemudian setelah di lantai satu, ia pun berjalan keluar.

Shania memberhentikan salah satu taksi yang lewat, kemudian ia pun masuk ke dalam. Dan meninggalkan apartement Robby, entah kemana..

Kemudian tak berapa lama, kini sebuah mobil baru saja masuk ke parkiran apartement. Setelah memarkirkan mobilnya, keluar dua orang di dalam mobil tersebut.

“Ayo ih, lama banget sih Rob.”

“Sebentar Shani, ini ngebawa belanjaan dulu,” ucap Robby yang mengeluarkan belanjaan di bagian belakang mobil.

Ya, itu kedua orang tersebut adalah Robby dan Shani. Mereka baru saja selesai berbelanja, mungkin untuk mengisi makanan di apartement Robby(?).

“Rob, ayo cepetan masuk ih. Aku udah laper banget ini,” rengek Shani.

“Udah nih, ayo kita masuk. Biar cepet masaknya juga.”

Mereka pun berjalan menuju apartement Robby. Setelah sampai di depan pintu apartementnya, Robby pun memencet kode untuk membuka pintu apartementnya.

“Kok gue ngerasa aneh ya? Kayak ada yang hilang, tapi apa ya?” ucap Robby dalam hati.

“Malah ngelamun! Udah ah, ayo masuk Rob.”

“E-eh, iya Shan.”

Mereka berdua pun masuk ke dalam, meletakkan belanjaan di meja makan. Robby berjalan kearah wastafel, mencuci mukanya. Ia merasa ada yang aneh, entah apa itu..

“Robby?” panggil Shani lembut.

Robby berbalik, “Kenapa Shan?”

“Kamu kenapa? Aku perhatiin kayak melamun gitu deh,” ucap Shani.

Robby menggelengkan kepalanya pelan, “Enggakpapa kok Shan, perasaan kamu aja kali.”

“Beneran? Cerita sama aku kalau ada apa-apa Robby.”

Robby berjalan mendekat pada Shani yang berada di kursi meja makan, kemudian ia menangkupkan pipi Shani dengan kedua tangannya.

“Beneran gakpapa kok. Emang kenapa sih? Ngelamunin apa coba aku hm?”

“Ya bisa aja kan? Kamu bisa nyembunyiin dari aku kan? Kan aku gak tau juga,” ucap Shani cemberut.

“Enggak ada yang aku sembunyiin dari kamu Shaniii.”

“Yaudah, ayo masak. Udah laper banget ini.”

Robby mengangguk, dan mereka pun memasak bersama diselingi dengan candaan tentunya.

~

Hari tengah berganti menjadi malam, dan sekarang Robby tengah duduk di sofa ruang tengah. Shani belum pulang dari apartementnya, dan sekarang ia berada di kamar Robby. Setelah selesai memasak bersama dan tentunya makan bersama, mereka menonton film sebentar di ruang tengah. Karena tak berapa lama Shani pun tertidur, dan Robby pun mengangkat Shani menuju kamarnya. Jadi begitu lah yaa…

Sedangkan di lain tempat, atau lebih tepatnya di sebuah café. Kini seorang perempuan berambut pendek tengah duduk sambil menikmati pesanannya, ia membaca buku yang ia bawa sambil menunggu hujan reda. Ia meregangkan tubuhnya, sudah lama ia berada di sini. Dan belum dijemput-jemput juga, ia menghela nafasnya kasar.

Kemudian ia mengitari pandangannya di dalam café tersebut, masih ada beberapa orang yang berada di café tersebut. Tiba-tiba ia dilihat oleh seorang perempuan berambut panjang yang melihat padanya, ia mengernyitkan dahinya. Perempuan tersebut berjalan mendekat padanya, ia seperti mengenalnya. Tapi siapa?

Perempuan tersebut kini tengah berada di depannya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Viny kan?”

Viny mengangguk, “Iya, aku Viny. Kenapa?”

Perempuan tersebut tersenyum, “Udah lama kita enggak ketemu Vin.”

Viny mengernyitkan dahinya heran, lama? Viny berpikir keras mengingat siapa yang ada di depannya. Wajahnya agak familiar dengan salah satu temannya dulu.

DEG!

Viny terdiam, ia memandang perempuan tersebut dari atas sampai bawah.

“S-Shania?”

Shania tersenyum mengangguk, “Iya, ini aku Shania Vin.”

Lidah Viny kelu untuk berbicara, tetapi kini otak dan hatinya sedang berperang di dalam. Ada pendapat yang berbeda dari dirinya, dan itu harus membuatnya berpikir dengan keras.

“Boleh duduk?” tanya Shania.

Viny mengangguk pelan, “Duduk aja Shan.”

Shania pun duduk berhadapan dengan Viny.

“Gimana kabar kamu Vin?” tanya Shania.

“Baik kok, kalau kamu gimana Shan?”

“Syukurlah, masih sama Aldy kan? Aku baik kok Vin hehe.”

“Masih kok, ini lagi nunggu dia jemput tapi lama banget,” ucap Viny.

Shania terkekeh pelan, itu mengingatkannya pada Robby. Dulu ia juga pernah begini, Robby telat ngejemput gara-gara ia ketiduran. Dan Shania pun mengomelinya habis-habisan..

“Shan?”

Shania menatap Viny, “Kenapa Vin?”

“Kamu kapan pulangnya Shan?” tanya Viny.

“Ngg, udah satu bulan lebih kayaknya deh Vin,” jawab Shania.

“Kenapa enggak ngabarin kalau udah pulang Shan? Kamu tau kan, Robby di sini nungguin kamu?”

Shania menghela nafasnya pelan, “Bukan gitu Vin, tapi ada satu masalah yang ngebuat aku gak bisa kabarin kalau aku pulang. Aku tau kok Vin, aku sangat tau malah.”

“Vin, asal kamu tau. Aku juga berusaha banget buat ketemu sama Robby, dan tadi aku baru aja ke apartementnya. Tapi dianya gak ada, aku udah berusaha banget buat ketemu sama dia. Tapi apa? Selalu aja gak bisa, pasti ada aja masalahnya. Aku pengen banget ketemu sama dia Vin,” lirih Shania.

Hati Viny terenyuh mendengar penuturan dari Shania, tetapi kemarin ia telah menyetujui untuk membantu Shani. Dan sekarang, apa yang harus ia lakukan? Membantu Shania juga?

“Vin, aku minta tolong bisa?”

“Tolongin apa Shan?” tanya Viny.

“Bantuin aku buat ketemu Robby Vin.”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

4 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s