Sahabat (story version) part 4

Pagi hari ini tubuh Naomi terasa berat untuk dibangunkan. Matanya
hanya menangkap sorot lampu kamarnya yg belum ia matikan itu. Kemudian
ia mencoba menggeser posisi tidurnya itu. Tapi ia menyadari kini bahwa
ada seseorang yg ikut tidur disebelahnya. Ia tersenyum saat menyadari
bahwa itu adalah adiknya. Terlihat kini adiknya berbalik kearah
dirinya. Ia bisa dengan jelas melihat adiknya yg juga menatapnya itu.

” kak Naomi udah bangun?” tanya Sinka sambil mengucek matanya itu,

” wajah kak Naomi kok pucet banget?” lanjut Sinka. Naomi tersadar,
hari ini sepertinya tubuhnya memang berada dalam kondisi kurang baik.

Sinka perlahan mendekatkan tangannya kearah wajah kakaknya. Naomi
hanya terlihat diam. Ia tak tau apa yg sedang dilakukan adiknya itu.
Sinka menaruh telapak tangannya ke kening kakaknya itu. Ia bisa
menyadari kini bahwa kening kakaknya itu terasa panas. Sinka
mendudukan tubuhnya. Ia terlihat panik. Sinka kemudian dengan cepat
meninggalkan kamar kakaknya itu, ia kemudian kearah dapur untuk
mencari air untuk mengompres kakaknya itu. Dengan cepat ia sudah
kembali kekamar kakaknya.

Sekarang Sinka sedang mencoba menghubungi mamanya, berharap mamanya
bisa memberi solusi atau lebih baiknya dia bisa segera pulang.

” hallo ma, iya. Kak Naomi sakit?, apa mama bisa pulang sekarang..?”
Sinka langsung pada intinya,

” ma…Sinka ga tau mesti ngapain sekarang?, mama bisa kan pulang sekarang?”.

Hanya raut kesal yg terlihat dari wajah Sinka. Bagaimana tidak.
Mamanya bahkan tak bisa pulang hari ini. Ia berfikir. Apa yg harus ia
lakukan sekarang. Ia kembali ke kamar kakaknya itu.

” kamu ga usah khawatir?, kakak baik-baik aja kok?” ucap Naomi yg
melihat adiknya itu menatapnya sendu. Yah, ia tak mau membuat adiknya
itu menangis lagi. Sudah sulit baginya untuk melihat senyumannya
seperti kemarin.

” kamu berangkat sekolah gih?,  nanti malah telat lagi?” lanjut Naomi.
Sinka masih terlihat diam, duduk disebelah Naomi berbaring,

” aku mau bolos untuk hari ini…aku mau tetep disini…” balas Sinka.
Naomi bungkam. Ia menyadari sekarang, bahwa adiknya itu
mempedulikannya. Ada raut bahagia dari wajah Naomi yg terlihat sedikit
pucat itu.

Sinka perlahan meninggalkan kamar kakaknya. Ia melangkah lagi ke
dapur. Ia ingin membuatkan sesuatu untuk kakaknya itu. Sekarang
giliran ia yg harus membuat sarapan. Dengan cekatan, ia meracik
bumbu-bumbu dapur itu hingga menjadikannya suatu makanan. Nasi goreng,
itu menu yg terlihat ada dipiring yg ia bawa menuju kamar kakaknya. Ia
tau, ia tak sepandai kakaknya dalam hal memasak dan bahkan dalam
segala hal. Tapi itu bukan alasan untuk ia tak bisa melakukan apapun.

Kini Naomi mencoba membangunkan tubuhnya saat ia tau adiknya
membawakan makanan untuknya. Perlahan tangan Naomi mencoba untuk
mengangkat sendok makan itu. Tapi sial bagi dirinya, tangannya bahkan
terasa lemas untuk ia mengangkat sendok berisikan nasi goreng itu.
Sinka yg menyadari hal itu langsung mengambil alih sendok itu. Naomi
terlihat diam, ia ingin sekali memukul dirinya sendiri saat ini.
Bahkan hanya mengangkat sendok saja ia tak mampu. Bagaimana jika ia
harus mengangkat beban pikiran adiknya itu.

Sinka perlahan mengarahkan sendok makan yg berisi nasi goreng itu
kearah mulut kakaknya. Naomi pun membuka mulutnya, rasanya ia
benar-benar malu kali ini. Harusnya ia yg ada diposisi Sinka. Harusnya
ia yg menyuapi Sinka. Naomi mengunyah nasi goreng itu. Rasanya agak
sedikit  aneh memang, tapi ia mencoba mengerti, mungkin memang
mulutnya yg kurang beres.

” kenapa kak?, ga enak ya?” ucap Sinka ketika ia menyadari kakaknya yg
terlihat terpaksa saat menelan nasi goreng buatannya itu. Naomi
mencoba menggeleng cepat. ia tak ingin Sinka jadi tak mau masak
karenanya. Ia sudah cukup berterimakasih padanya. Sinka dengat
repot-repot mau membuatkan sarapan untuknya.

Sinka kemudian mencoba mencicipi nasi goreng buatannya itu. Asin. Itu
kata pertama yg keluar dari pikiran Sinka ketika ia baru saja
memasukkan nasi goreng itu. Ia kemudian meletehkannya di piring yg
berisikan nasi goreng itu. Ia sudah tak kuat mencicipi masakannya itu.
Ia harusnya tau, masakannya itu hanya menyiksa kakaknya. Ia dengan
cepat keluar dari kamar kakaknya, kemudian membuang nasi goreng itu.
Kemudian memesan makanan dari salah satu masakan pesan antar
langganannya.

Tak beberapa lama kemudian Sinka kembali ke kamar kakaknya. Membawa
sebuah makanan berbungkus kotak itu.

Jujur saja, Naomi lebih suka nasi goreng yg tadi di banding dengan
makanan yg kini ada dihadapannya. Ia tak mempedulikan rasanya itu
seperti apa. Tapi yg ia lihat adalah kerja keras adiknya dalam
membuatkan sarapan. Baginya itu lebih dari hanya sekedar rasa yg enak
dari sebuah makanan.

” kak… Aku telfon dokter sekarang ya?” ucap Sinka,

” enggak usah?, kakak gapapa kok, hanya butuh istirahat aja…” balas Naomi,

” tapi kak-” Ucap Sinka belum selesai,

” Sinka, bagi kakak senyuman dari kamu itu adalah obat disetiap rasa
sakit kakak…” potong Naomi.

Sinka mengerti sekarang, yg membuat kakaknya sakit itu adalah dirinya.
Ia harusnya sadar kakaknya seperti ini karena dirinya. Kakaknya
terlalu lelah untuk terus mengurus kehidupannya. Harusnya beban
seberat itu, tak ia timpakan pada kakaknya. Ia ingin menangis
sekarang, ia terlalu bodoh untuk menyadari itu. Bagaimana ia bisa
merasakan iri, harusnya pemikiran itu ia timbun sedalam mungkin.
Perasaan itu tak pantas ada kepada kakaknya. Benar-benar tak pantas.

” yaudah…kakak istirahat yg banyak ya?” ucap Sinka. Ia berjalan
keluar dari kamar kakaknya itu. Sudut matanya itu perlahan
mengeluarkan air mata sesaat setelah keluar dari kamar kakaknya. Ia
tak mampu menyembunyikan penyesalannya. Kenapa ia baru menyadari
sekarang. Beruntung bagi dirinya, kakaknya tak memberi jarak
sedikitpun setelah apa yg ia lakukan terhadap kakaknya itu.

_O0O_

Lidya berjalan kearah kerubutan orang itu. Ia penasaran dengan apa yg
terpampang di mading itu, hingga banyak orang yg mengerubutinya. Lidya
bisa melihat bahwa ada Ayana dan juga Beby ada disana. Tapi ada yg
berbeda dari raut wajah Ayana ketika pandangan mereka bertemu. Ketika
Lidya mendekat kearahnya, Ayana langsung lari meninggalkan tempat itu.
Kini hanya raut kebingungan dari Lidya. Ia tak tau kenapa dengan
Ayana.

” gue ga nyangka lo setiga itu lid…” itu yg dikatakan Beby setelah
kepergian Ayana. Ada raut kecawa dari wajah Beby.Lidya malah terlihat
semakin bingung,

” lo ngomong apa sih?, gue ga ngerti maksud lo?” balas Lidya,

” coba deh lo lihat sekarang di mading?” ucap Beby, sambil menunjuk
papan mading.

Lidya terlihat mencoba melewati kerumunan itu. Matanya terbelalak
kaget setelah melihat sobekan kertas koran yg teroampang di mading
itu. Kemudian ia keluar dari kerumunan itu, untuk membicarakannya
dengan Beby.

” lo puas sekarang…!” Beby terdengar meninggikan nada bicaranya,

” Beb, itu bukan gue yg nempelin?” Lidya mencoba menjelaskan. Ia
benar-benar tak tau akan sobekan koran itu,

” terus siapa lagi?, yg tau masalah ini cuman kita bertiga…” Beby
sudah sedikit lebih tenang, ia tak ingin jadi pusat perhatian kali
ini,

” dengerin dulu…, gue bener-bener ga tau jika masalah ini bisa
kesebar luas?. Lo tau kan, kalau ada berita itu terbit dikoran. Dan
itu artinya ada orang lain yg juga tau…” balas Lidya,

” terus siapa lagi yg tau masalah ini…” tanya Beby, Lidya hanya menggeleng.

” bentar, gue tanyak anak-anak, siapa yg nempelin ini…” lanjut Beby.
Ia kini bertanya pada salah satu siswi dibelakangnya. Hanya raut
kaget, sekaligus emosi ketika ia tau siapa yg nempelin kertas koran
itu. Kertas koran yg berisikan tentang Ayahnya Ayana. Ayahnya yg
seorang koruptor.

” Anin…lo bener-bener keterlaluan…” gumam Lidya. Ia dengan cepat
berjalan ke kelas Anin. Tapi langkahnya terhenti ketika Beby
menghalanginya,

” kita cari Ayana dulu…” ucap Beby.

Entah sudah seberapa lama Lidya dan juga Beby menyusuri hampir seluruh
area sekolahnya, tapi sama sekali tak mendapati Ayana. Dan bel tanda
masuk itu kini malah membuat semuanya makin kacau. Dengan langkah
terpaksa, mereka akhirnya menuju kelas. Dan benar saja, bangku Ayana
kosong. Tasnya juga tidak ada.

_O0O_

Lidya diluar kendali, ia dengan cepat langsung menampar Anin ketika
mereka berdua bertemu dikantin. Beby mencoba menenangkan. Namun itu
seakan tak di gubris oleh Lidya.

” lo… Bener-bener keterlaluan…!” Lidya tak peduli, kini ia jadi
pusat perhatian dikantin dengan suaranya itu,

” kamu apa-apaan sih, datang main gampar aja…!” balas Anin ikut
membentak sambil mengelus pipinya yg terlihat kemerahan itu,

” lo harusnya tau…lo itu bikin Ayana malu disekolah. Lo inget koran
yg lo tempelin di mading kan…!” Lidya bersuara cukup lantang, ia
seakan acuh dengan siswa-siswi yg melihat kearahnya,

” oh itu…, loh itu kan emang kenyataannya. Ga perlu disembunyiin
mereka semua lambat-lambat juga bakal tau, kalau temen kamu itu anak
seorang pemakan uang negara…” ucapan dari Anin barusan membuat Lidya
mengepalkan tangannya. Namun seketika Beby langsung menarik tangannya
menjauhi Anin. Beby sudah tau, jika sampai Lidya mengamuk. Entah apa
yg akan terjadi dengan Anin. Beby mencoba menyadarkan Lidya dari
emosinya.

” lo ada janji sama Viny…, lo inget kan?. Lo yg ngomong sendiri
waktu itu?” Beby mencoba menyadarkan Lidya, setelah ia membawa Lidya
ke taman belakang sekolah,

” iya, gue inget…” balas Lidya yg kemudian menunduk,

” lo udah jadi baik sekarang, dan gue ga mau lo jadi seperti dulu
lagi?” ucap Beby sambil menepuk pundak Lidya, Lidya menoleh,

” Anin seperti cerminan gue di masa lalu…dan gue harap dia juga
menemukan orang yg bisa membuatnya berubah..” Beby mengangguk setuju
dengan ucapan Lidya. Ia juga merasa bahwa Anin adalah Lidya yg dulu.

_O0O_

Entah apa yg dirasakan Ayana saat ini. Ia langsung memutuskan pulang
ke rumah. Telinganya sudah tak mampu mendengarkan ocehan para
siswa-siswi tentang Ayahnya. Ia yg datang sekolah dengan penuh
semangat, harus pulang penuh dengan air mata. Ia tak tau siapa yg
membuka aib keluarganya itu. Tapi setau dirinya, yg tau akan hal itu
selain keluarganya tentunya, hanya Beby dan juga Lidya. Dan Beby tadi
bersamanya. Ia tau Lidya pernah mengancam akan membocorkan semua, tapi
itu sebelum Lidya jadi seperti sekarang.

****

Ayana menginjakkan kakinya di sekolah barunya. Hari ini ia pertama
masuk disekolah barunya ini. Ia pun berjalan ke kelas seusai tadi dari
ruang kepala sekolah. Ia mendengus kesal ketika menyadari bahwa belum
ada siapapun dikelasnya. Ia melihat kearah jam ditangannya. Kalau ia
ingat sekolahnya di jepang, ini sudah waktunya masuk. Ia juga sedih
harus pindah sekolah sampai sejauh ini. Tapi ini juga kemauan kedua
orang tuanya yg ingin tinggal di Indonesia. Ia tak menyesalkan hal
itu. Ia berharap disini akan mendapatkan banyak teman.

” hei…, minggir lo…ini bangku gue…” bentak seseorang, Ayana
mencoba melihat kearah sumber suara itu. Ia bisa melihat ada seseorang
berdiri disampingnya dan menatapnya tajam.

” lo tuli ya…” ucapnya lagi,

” ah iya…maaf…” Ayana menepi dari bangku itu. Ia mendengus kesal,
orang yg pertama ia temui malah seperti itu.

Ayana kemudian berjalan keluar, ia ingin mengelilingi area sekolah.
Tapi lagi, ia bertemu dengannya saat di ruang musik. Ia dengan cepat
keluar dari tempat itu. Ia tak ingin ada masalah dengannya. Bel masuk
telah dibunyikan. Itu artinya ia harus kembali ke kelas. Ia menunggu
semua siswa-siswi dikelas itu masuk, agar ia bisa melihat bangku
kosong untuk ia tempati. Lagi, ia bisa melihat tatapan tak mengenakan
dari orang itu. Ia hanya menunduk, tak berani menatapnya balik.
Seorang guru yg menepuk pundaknya menyadarkannya, bahwa ia harus
segera masuk. Ia mengikuti langkah gurunya itu. Ia menengok sejenak
kearah bangku para murid. Mereka seakan tak peduli akan kehadirannya.

” namaku Ayana…aku pindahan dari jepang…” ia sedikit menarik
perhatian beberapa murid, terutama murid laki-laki. Ada yg tersenyum
kearahnya, ada yg mengacungkan hpnya. Ia tau, itu kode meminta nomor
hpnya. Ada yg menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia risih
dengan tatapan itu.

Kemudian ia langsung berjalan kearah bangku kosong yg letaknya tepat
dibelakang orang itu. Yah orang dengan tatapan ketus itu.

~

Ia berjalan melewati koridor sekolah. Ia yg sedang fokus mendengarkan
musik dengan handsetnya itu tak sengaja menabrak seseorang. Seseorang
yg benar-benar membuatnya takut. Para anak laki-laki kakak kelasnya.
Ia seperti menggigil saat tau bahwa minuman yg ia pegang itu menumpahi
seragam kakak kelasnya itu. Kemudian melepaskan handset di telingamya
dan memegangnya.

” wah jadi kotor deh…” ucap kakak kelas itu sambil mengelap seragam
sekolahnya,

” harus kasih hukuman bro?” timpal salah satu temannya. Hukuman, Ayana
tak pernah membayangkan hukuman apa yg akan ia terima saat ini. Ia
masih terlihat gemetar. Ia tau, ia seperti orang kesetrum kali ini.

” jangan deh, mending minta nomor hpnya…” itu suara dari salah satu
temannya yg lain. Ayana tak masalah jika hanya memberikannya nomor hp.
Baginya itu hal wajar. Ia juga tak mau dicap sombong.

” enak aja, dia bagian gue…mending-” belum selesai orang itu
berbicara. Seseorang memukulnya dari belakang menggunakan buku,

” woy..apa yg kalian lakuin?, kalian mau menyudutkan dia…” Ayana
bisa mendengar jelas suara itu. Itu suara orang yg duduk didepannya
dalam kelas,

” dasar pengecut…!” lagi, suara itu terdengar menggema,

” lo Lidya ya… Gue boleh minta nomor hp lo ga?” balas orang yg tadi
seragammnya terkena minuman dari Ayana,

” minta?, lo ngaca dulu sana?” itu balasan dari orang yg dipanggil
Lidya oleh kakak kelasnya tadi. Dia kemudian menarik tangan Ayana
menjauh dari kakak kelas tadi.

Sekarang keduanya sama- sama diam di kantin. Tapi kemudian orang yg
duduk disebelah Ayana bersuara.

” gue cuman ga suka, liat cewek itu direndahin sama cowok…jadi
jangan anggap gue nolongin lo tadi?” Ayana hanya mengangguk, tak
berani berkomentar,

” lo boleh panggil gue Lidya. Biar lo ga bingung mau ngomong apa?”
lanjut orang itu. Ayana memberanikan diri untuk melihat kearah orang
itu.

***

Itu kenangan yg selalu mengingatkan dirinya akan Lidya saat pertama
dulu bertemu. Kenangan yg sulit sekali untuk dilupakan. Kenangan yg
membuatnya sadar, bahwa Lidya adalah orang pertama disekolah yg ia
kenal. Sekaligus orang yg terlihat ketus, tapi punya sisi baik.

Rasanya sakit ketika baiknya Lidya hanya didepan. Dan di belakang dia
seperti orang yg sedang membawa senjata tajam, yg selalu siap
menusuknya.

Ayana menangis kencang dalam kamarnya. Ia ingin mengeluarkan semua
dalam pikirannya. beberapa saat kemudian mamanya terlihat masuk
kedalam kamarnya. Mendekapnya erat.

” kamu kenapa?” tanya mamanya pelan,

” ma..kenapa papa harus jadi seorang koruptor sih…” balas Ayana
sambil sesenggukan,

” papa kamu itu dijebak?, dan harusnya papa kamu ga ada di sel saat
ini…tapi mau gimana lagi, papa kamu ga punya bukti kuat untuk
membuktikan bahwa dirinya itu tidak bersalah…” Ayana melepaskan
pelukannya,

” apa itu benar ma?” mamanya hanya mengangguk. Sakit memang membohongi
anaknya sendiri. Tapi ia tak bisa terus melihat anaknya sedih, tak
bisa terus melihat anaknya menyalahkan papa kandungnya sendiri.
Walaupun ia tau suaminya itu memang bersalah. Salah dalam mengambil
tindakan.

_O0O_

Ve atau anggap vedadari *skip. Duduk disalah satu bangku taman yg
biasa ia tempati bersama Naomi. Ia menghela nafas panjang. Sekarang
tidak ada lagi dirinya disana. Hari ini sepertinya Naomi memang tidak
masuk. Ia sudah mencoba menghubunginya tadi, tapi itu sia-sia. Tidak
ada balasan darinya, yg ada hanya ocehan dari wanita yg tak ia kenal
dan selalu mengucap kata yg sama. Ini bukan kali pertama ia tanpa
Naomi memang, dan itu selalu bisa membuat Ve terlihat lesu, tak
bersemangat. Ia mendengus kesal, saat menyadari ada Shania duduk
disampingnya. Ia pun berdiri dan meninggalkan tempat itu. Ia tak ingin
membuat moodnya semakin buruk karena berdebat dengan Shania. Ia pun
berniat ke rumah Naomi seusai pulang kuliah nanti.

Shania hanya memandang kepergian dari Ve. Ia tak peduli dengan hal
itu. Ia kini mengambil smarphone nya dari dalam tasnya. Ia mengetikkan
pesan untuk seseorang. Tapi setelah lama tak ada balasan pesan. Ia
akhirnya menelpon orang itu.

” apa kamu sudah memulainya?” tanya Shania pada seseorang diseberang
telpon sana. Beberapa saat kemudian, terlihat raut kecewa dari wajah
Shania. Ia tak mendapat jawaban yg ia inginkan.

” harusnya aku yg ngelakuin sendiri tanpa harus memanfaatkan anak
itu…dia tak lebih dari hanya seorang bocah…” gumam Shania sambil
berlalu dari bangku taman itu.

Ia tau, rencananya gagal untuk menjauhkan Naomi dengan adiknya. Ia
memang pernah bertemu dengan adiknya Naomi beberapa kali.

***

Shania hanya menatap keberadaan seseorang yg kini ada di teras rumah
Anin. Ia asing dengan orang itu. Ia memang sering main ke rumah Anin
dan hanya kali ini ia menjumpai orang itu. Perlahan langkah kakinya
mendekat kearah orang itu, tapi langkahnya terhenti ketika Anin
memegang tangannya.

” dia  Sinka, adiknya Naomi, jadi jangan macam-macam dengannya?. Aku
ga mau dia menjauh karena kamu…” ucap Anin, Shania mengangguk
mengerti,

” aku tak akan melakukan apapun…percayalah?” balas Shania. Kemudian
Anin melepaskan genggamannya pada tangan Shania.

Shania berjalan mendekat kearah adiknya Naomi itu perlahan.

” hei…kamu adiknya Naomi ya?” itu kata sapaan yg keluar dari
mulutnya. Orang itu terlihat menengok kearah Shania,

” kamu agak sedikit berbeda dari kakakmu…” lanjut Shania,

” karena gue bukan kembarannya…” balasnya,

” apa kamu iri dengan kakakmu?. Itu hal wajar menurutku, kakakmu
memang sempurna?. Dan bila seandainya aku ada diposisi kamu?, aku
pasti sudah mundur jika harus bersaing dengannya…?” ucap Shania, ia
masih menatap kearah adiknya Naomi itu,

” dan gue, bukan orang yg sama seperti lo…?” itu kata yg agak
memanaskan situasi. Sebelum Anin membawanya pergi meninggalkan Shania.

***

Itu salah satu yg selalu teringat dalam pikiran Shania. Ia gagal dalam
pertemuan itu. Ia berharap bahwa Sinka sepemikiran dengannya, tapi
malah sebaliknya. Ia mendengus kesal setiap kali mengingat itu.

_O0O_

Langkah kaki pelan menuntun Ve tiba didepan rumahnya Naomi. Ia
memencet tombol bel itu beberapa kali. Keluarlah seseorang gadis
dengan wajah datar menatap kearahnya. Ya, itu Sinka. Ve sudah tau itu,
adiknya Naomi memang seperti itu. Ve mencoba memamerkan gigi putihnya
itu. Ia tau, ia salah karena memencet bel itu seenaknya.

” Naominya ada?” tanya Ve. Sinka hanya mengangguk,

” ada apa kak Ve kesini?” Sinka sudah agak sedikit ramah dalam pikiran
Ve. Sepertinya memang Sinka sudah kembali seperti dulu,

” Naomi tadi ga masuk kenapa?”

” dia sakit…” balas Sinka. Ia juga sudah tau jika Ve itu adalah
teman kakaknya. Dan juga sudah sering main kerumahnya.

~

Sekarang mereka berdua menuju kamar Naomi. Ve bisa melihat jelas wajah
Naomi yg pucat itu. Ia kecewa pada dirinya sendiri, ia bahkan tak tau
jika sahabatnya itu sedang sakit. Ia pun mendudukan dirinya tepat
disamping Naomi berbaring. Ia menempelkan telapak tangannya pada
kening Naomi. Entah Naomi menyadari atau tidak, karena matanya memang
sedang tertutup.

Panas. Itu kata yg terucap dari bibir Ve seusai menempelkan telapak
tangannya pada kening Naomi.

” kamu udah membawanya ke dokter?” tanya Ve pada Sinka yg masih
memperhatikannya itu. Sinka hanya menggeleng pelan,

” kita harus membawanya ke dokter sekarang?” lanjut Ve,

” kak Ve, tadi ga dibolehin sama kak Naomi…” balas Sinka. Ve
menghela nafas panjang. Naomi memang keras kepala, ia tau akan hal
itu,

” yaudah, biar kak Ve yg bawa dokternya kesini…” Ve kemudian berlalu
dari kamar itu.

_O0O_

Lidya kini berada diluar kamar Ayana bersama Beby dan mamanya Ayana.
Perlahan ia membuka kamar itu dan mendapati Ayana sedang bermain hp.
Dan sekarang menatap kearah mereka. Beberapa saat kemudian Ayana
mengalihkan pandangannya pada layar smartphonenya lagi.

” Ay…gue udah ada disini dan lo boleh nampar gue sekarang kalau lo
emang marah sama gue?. Tapi kalau lo mau nuduh gue yg ngelakuin itu,
gue harus bilang bahwa itu salah…” ucap Lidya. Namun Ayana seakan
tak peduli dengan hal itu,

” dan lo, ga punya alasan lagi kenapa ada disini…” balas Ayana.

” gue mau, lo pergi dari rumah gue sekarang?” lanjut Ayana. Ada
sedikit raut kecewa dari wajah Lidya, tapi dengan cepat ia berjalan
keluar diikuti Beby dibelakangnya.

” lo harusnya dengerin penjelasannya Lidya…” ucap Beby sambil
berlalu dari tempat itu. Ia juga merasa kecewa dengan Ayana.

Hanya keheningan yg menyelimuti kamar Ayana. Mamanya hanya menatapnya sendu.

” kamu harusnya ga ngomong kayak tadi sama temen kamu sendiri…beri
dia kesempatan untuk menjelaskan semua?. Apa yg kamu lihat belum tentu
sama dengan kenyataannya…dan jangan hanya karena salah paham, kamu
kehilangan mereka…” ucap Mama pelan. Dan beberapa saat kemudian
meninggalkan Ayana dalam keheningan.

Ayana masih mematung menatap kosong kearah luar jendelanya. Rasanya
memang ia juga salah. Ia harusnya memberinya kesempatan untuknya
berbicara. Bukan seperti tadi, ia langsung menyuruhnya pergi.

_O0O_

Kini Ve dan Sinka memperhatikan seorang dokter yg tengah memeriksa
Naomi. Naomi juga sudah bangun dari tidurnya.

” gimana dok…” tanya Ve,

” dia gejala tifus…dia terlalu kelelahan…” balas sang dokter. Itu
cukup membuat Sinka ingin memukul dirinya sendiri. Dia kelelahan pasti
karenanya.

” ini…obat-obat yg harus diminum…” ucap dokter itu menjelaskan
secara detail kepada Naomi. Naomi hanya mengangguk mengerti.

~

Sekarang dokter itu telah pergi dari rumah itu. Dan meninggalkan
bermacam obat diatas meja di kamar Naomi.

” tuh, kamu itu butuh istirahat yg banyak?, makanya jangan bandel…”
ucap Ve yg masih duduk disamping Naomi berbaring. Naomi mencoba
membangunkan tubuhnya di bantu Sinka dan Ve,

” duh..ve?, aku itu gapapa. Kamu itu terlalu khawatir?” Ve mendengus
kesal mendengar ucapan dari Naomi,

” gapapa gimana?, orang bangun aja susah gitu?” Ve tak mau kalah.
Naomi menghela nafas panjang. Ia harusnya bersyukur, dikelilingi oleh
malaikat-malaikat tak bersayap disampingnya itu. Mereka berdualah yg
membuatnya tetap kuat. Adiknya dan sahabatnya. Suatu hal yg membuatnya
tak bahagia apabila tanpa mereka.

” aku pingin meluk kalian saat ini…?” itu kata yg entah sengaja atau
tidak keluar dari bibir lembut Naomi. Ve dan Sinka bersamaan menatap
Naomi,

” Naomi…” ucap Ve langsung memeluk Naomi,

” kak…” Sinka jelas tak mau kalah. Ia dengan cepat memeluk kakaknya
dari samping.

Yg terlihat bukan Naomi yg memeluk mereka. Tapi Ve dan Sinka yg
memeluknya. Bahagia itu memang sederhana. Dan Naomi percaya akan hal
itu. Adiknya dan sahabatnya, itu kebahagiaan baginya.

# bersambung…

@sigitartetaVRA

Gimana dengan part ini…

Udah ga baper lagi kan?. Semua udah selesai, Sinka udah akur lagi sama
Naomi. Jadi apa ini udah ending?

Silahkan kritik dan sarannya…

Iklan

2 tanggapan untuk “Sahabat (story version) part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s