Iridescent Part 15

24526

“Ve sama Gre ada di Mall ini juga ternyata”

Kenapa dia gak minta jemput yah tadi? Tapi ya sudahlah … Kemudian gue Buru-buru gue berbalik menghadap ke Tata dan sok sok an lihat dan memperhatikan perhisan-perhiasan di depan gue.

“Bagus yang mana, menurut kamu?” tanya Tata sambil menunjukan .

“Eh eh kamu?” tanya gue heran saat Tata menyebut dengan ‘kamu’ barusan.

“Kenapa? Emang salah?”

“Nggak salah sih, aneh aja tiba-tiba panggil gue ‘kamu’ gitu”

“Buruan yuk, gue juga banyak urusan nih” ujar gue.

“Yaudah deh, lagian kalungnya gak ada yang cocok. Tadinya gue mau cariin buat gue sama adek gue”

 

Gue lalu segera membawa Tata pergi dari tempat itu, kami akan turun ke P1 menggunakan lift agar lebih cepat. Saat menunggu lift terbuka gue mendengar Tata bertegur sapa dengan entah siapa, karena gue Cuma nguping pembicaraan mereka, lalu ada yang memegang bahu gue.

 

“Veranda?” ucap gue kaget saat berbalik melihat orang itu.

“Kamu kok disini sih? Terus kamu ketemu Tata dimana?” tanya Ve bertubi-tubi.

“Aku tadi ketemu dia dijalan sendiri sambil nangis, terus dia aku ajak makan aja. Ini ceritanya mau antar dia entah mau kemana” jelas gue.

“Dia tetangga sebelah rumah gue tolol!” gue menoleh kearah lain, Gre sedang memeluk Tata yang terlihat senang bertemu dengan mereka.

“Gre ….”

“Elo kalau ketemu Kak Tata kenapa nggak langsung hubungi gue atau Kak Ve?!” tanya Gre sewot.

“Ya mana gue tau Gre, kalau dia tetangga sebelah rumah lu” balas gue.

“Udah deh sayang, kamu juga Gre! Kalian ini malah pada debat sih, mending sekarang kita bicara di tempat lain, disini agak banyak orang lalu-lalang” ujar Ve.

“Cari

“Cari Cafe aja deh Kak Ve” ajak Gre.

 

Lalu mau nggak mau gue harus ikutin semua keinginan mereka untuk ke Cafe, tadinya mau keluar dari Mall, malah gak jadi. Kami lalu turun dua lantai pakai lift. Gue jalan di belakang mereka bertiga, kesannya mirip pengasuh ini.

Ve tiba-tiba menoleh ke arah gue, kemudian dia berhenti lalu jalan menyamakan dengan langkah gue.

 

“Hei, jalannya kenapa lambat sih?”

“Gapapa, takut ganggu kalian aja”

“Kangen” Ve lalu merangkul lengan gue dan menyenderkan kepalanya di bahu gue.

“Ah aa ahahaha, aku juga kangen” balas gue.

 

Sekarang gue malah jadi agak gugup berada didekat  Ve, ada perasaan deg-degan. Terlebih lagi itu berhubungan gue mau coba bicara soal hubungan yang harus diakhiri ini. Dari dalam hati gue benar-benar nggak tega mau sampaikan itu ke Ve, gue bingung kalau nanti semisal dia marah besar sama gue.

Tak lama kami memasuki salah satu Cafe, kemudian duduk di meja untuk 4 orang. Gue duduk bersebelahan dengan Ve dan berseberangan dengan Tata dan Gre. Setelah itu mereka bertiga memesan, kecuali gue yang nggak ikut memesan. Selesai memesan, kemudian Tata bercerita tentang bagaimana dia bisa sampai ke Jogja, gue nggak terlalu mendengarkan karena sebagian sudah gue ketahui.

 

“Kalau boleh tau, mantan Kak Tata itu siapa?” tanya Gre penasaran.

“Namanya Verro, dia satu sekolah sama kamu kan Gre” balas Tata menatap Gre.

 

Gue kaget mendengar nama itu disebut oleh Tata. Gue lalu menatap kearah Ve dan Gre, kami sama-sama terkejut mendengar nama Verro. Kalau mantan Tata itu adalah Verro, berarti kemungkinan yang Tata sebut selingkuhan Verro itu adalah Frieska.  Setelah itu gue hanya terdiam, sedangkan Gre mengalihkan topik pembicaraan dengan Tata. Tak lama pesanan mereka bertiga datang.

Gue bangkit dari tempat duduk dan menatap ke mereka bertiga.

 

“Gue pulang duluan ya” pamit gue.

“Loh, kok gitu sih??? Baru sebentar sampai disini kok udah balik aja” ucap Gre.

“Gue salah ngomong ya, Wil?” tanya Tata.

“Enggak kok, gue memang harus pulang sekarang aja. Gak ada apa-apa kok, kalian gak usah khawatir” balas gue.

“Jangan pulang dong, kita kan baru aja ketemu” ucap Ve.

“Maaf, tapi aku harus balik” ujar gue melangkah pergi.

 

Gue keluar dari Cafe tersebut dan jalan menuju ke parkiran di P1.

 

 

~ ~ 0o0 ~ ~

 

Gue turun ke P1 menggunakan lift, dan sesaat setelah lift terbuka gue melihat dua orang yang nggak asing. Kemudian gue berjalan mengikuti mereka, ternyata dua orang itu jalan menuju ke sebuah motor yang parkir tepat didekat punya gue.

Saat gue sudah sampai di dekat motor, salah satu dari mereka sadar dengan keberadaan gue. Dia kemudian tersenyum dan menghampiri gue. Orang itu adalah Viny, pacarnya si Faruk.

 

“Loh, Willy. Ternyata lo disini juga?”

“Iya Vin,”

“Lo sama siapa kesini? Shani atau Kak Ve ….” tanya Viny.

“Ya ampun Viny, malah pakai bahas itu lagi” ucap gue.

“Bercanda tau, Wil. Gitu aja ngambek ih” ujarnya.

“Iya iya gue tau. Eh itu siapa, pacar ya” tanya gue penasaran.

“Apaan, dia adek gue kalii …” jawabnya agak sewot.

“Kirain berpaling dari Aa’ Faruk,” ledek gue.

“Dasar. Yaudah gue balik dulu, kalau mau traktir atau hal lain, tinggal Line aja.”

“Oke deh, siap.”

 

Viny melambaikan tangan, kemudian dia dan adiknya itu meninggalkan parkiran. Gue pun naik ke motor, kemudian menyalakan mesinnya dan hendak jalan, tapi …. Tiba-tiba ada yang memegang tangan gue, kami saling menatap satu sama lain.

Veranda lah orang yang ada di depan mata gue sekarang, dia memasang wajah serius.

 

“Kamu ada apa sih, kok aku lihat kamu jadi aneh dari tadi? Aku juga khawatir, Wil!” ujarnya.

“Kalau ada masalah, cerita dong ke aku” tambahnya.

“Iya Ve, dirumah ada masalah. Banyak pikiran sekarang aku” jawab gue jujur.

“Kalau boleh tau, masalah apa itu?”

 

Gue ragu ingin menjawab pertanyaan Ve yang ini, karena sebenarnya dia juga ada kaitannya dengan masalah ini semua. Dengan sedikit keyakinan, gue memberanikan diri untuk menjawab dengan berhadapan langsung dengan Ve. Gue turun dari motor dan melepaskan helm.

“Shani minta kejelasan sama hubungan kami, dengan kata lain dia minta aku buat memilih lanjut sama pertunangan itu atau pilih berhubungan sama kamu” jawab gue berterus terang.

Lalu setetes demi setetes air mata mengalir di pipi Ve, perlahan dia mulai terisak walaupun dia coba menahan tangisan itu. Gue bingung harus melakukan apa sekarang, posisi gue serba salah jadinya.

Gue menghapus aliran air mata yang terus keluar dari matanya itu.

 

“A aku nggak mau pisah sama kamu, ini terlalu singkat kalau kita harus putus. Kita baru jadian kemarin waktu sebelum ke Jogja, apa kamu tega putusin aku? Aku nggak mau itu terjadi sama hubungan kita” ucap Ve bersikukuh.

“Tenang, kamu berhenti keluarin air mata kamu, jangan sedih. Aku tetap jadi Willy yang biasanya kamu lihat, aku tetap ada disekitar kamu, disamping kamu. Jadi kalau kita nggak punya hubungan lagi itu mustahil kan, kita berdua masih bisa jadi teman, sahabat atau bisa saudara” ujar gue coba memberinya pengertian.

“Hiks hiks, aku mau nya kita tetap pacaran. Aku nggak mau berakhir kaya gini, pokoknya aku gak mau” balas Ve.

 

Gue hanya bisa menghela nafas, berat untuk gue yang baru pertama kali coba memustuskan sebuah hubungan semacam ini. Sulit rasanya, otak berasa di cuci sekarang. Seharusnya dari awal gue nggak usah berhubungan sama Ve ….

Tapi ini semua awalnya karna keterpaksaan buat menerima Ve, buat jadi pacar ‘kedua’ gue.

 

“Kalau kamu masih ragu soal keseriusan hubungan kita, kalau aku udah lulus SMA, aku mau kita nikah!” ucap Ve tiba-tiba.

Otak gue makin kram mendengar ucapannya barusan.

“Ve, aku nggak bisa! Kamu kenapa egois sih jadinya” balas gue.

“Ayolah yang, aku Cuma mau hubungan ini bertahan, gak lebih dari itu ….” pinta Ve.

“Gini aja deh, lebih baik kita nggak usah ketemu dulu. Biar pikiran kita tenang, baru setelah itu kita bicarain ini lagi” tegas gue.

Ve terdiam sesaat, kemudian dia mengangguk lemah. Gue peluk dia dan mengusap kepalanya dengan lembut, seharusnya gue nggak perlu terlalu keras dengan Ve.

 

“Maafin aku, aku terlalu keras barusan. Seharusnya aku nggak boleh lakukan itu ke kamu” ucap gue.

“Gapapa, aku tau kamu bermaksud baik. Kamu Cuma mau pertahanin pertunangan itu, maaf aku jadi perusak hubungan kamu sama Shani” ujar Ve.

“Udahlah, kamu nggak salah. Ini karna aku yang nggak tegas aja” balas gue sambil melepas pelukan dengannya.

“Yaudah, aku pulang dulu kalau gitu” pamit gue.

 

Veranda mengangguk, gue pun lalu naik keatas motor dan memakai kembali helm gue. Mesin kembali gue nyalakan dan perlahan melaju pergi.

“Aku harap kita tetap bisa pacaran” teriaknya.

Gue hanya sempat menoleh kebelakang sebentar dan kemudian kembali melajukan motor keluar dari area parkir Mall.

…..

 

Diperjalanan pulang gue jadi kepikiran dengan Ve, semoga dia bisa mengerti dengan kondisi gue yang lagi sulit ini. Tak lama gue sudah memasuki sebuah perkomplekan rumah gue, saat pintu pagar rumah sudah dekat, gue melihat ada sebuah motor sport berwarna hitam didepan rumah.

Gue melambatkan motor dan berhenti agak jauh sedikit dari rumah. Gue pun melepas helm dan mengambil Hp dari saku celana, kemudian gue mengirim pesan Line ke Gaby.

 

Willy Debiean : Gab, itu didepan rumah ada motor siapa?

 

Tak lama ada balasan dari Gaby.

 

Gaby Warouw : Oh itu tadi kata Shani teman lamanya? Gue lagi nonton tv daritadi sama Shani, Kak Elaine, terus Kelik juga. Tapi tadi Shani terus keluar, terus waktu dia masuk mau bikin minuman buat temannya itu, gue tanya itu teman lama Shani gitu.

Willy Debiean : Yaudah kalau gitu, coba gue lihat dulu Gab ….

 

Gue memasukan Hp ke saku lagi dan berjalan menuju rumah, saat melangkah melewati pintu gerbang rumah ada pemandangan yang seharusnya nggak gue lihat. Ada seorang cowok yang kemungkinan itu teman Shani, tapi sekarang mereka sedang berpelukan dan wajah mereka semakin mendekat.

“Shani”

Mereka berdua menoleh kearah gue, apakah ini karma buat gue? Ini kah hukuman dan balasan yang Shani rasakan juga. Gue menggeleng masih tidak percaya dengan apa yang gue lihat. Shani langsung melepaskan pelukan cowok itu dengan keras.

“Sayang, aku bisa jelasin ke kamu. Ini nggak kaya yang kamu pikirkan” ucap Shani.

Perlahan gue melangkah mundur.

“Mungkin ini karma buat aku Shan, aku gapapa kok. Mungkin ini yang terbaik buat kita” ucap gue.

Please, dengerin penjelasan aku dulu sayang” ujar Shani.

“Wil!!! Sayang dengerin aku dulu, aku mohon!”

“Sayang!!!”

 

Panggilan dari Shani terdengar oleh telinga gue, gue berjalan sambil menoleh ke belakang. Shani terduduk lemas sambil menangis dan terus memanggil gue. Disana juga ada cowok asing itu dan juga ada Gaby, Kak Elaine dan Kelik yang ikut keluar, mungkin karena mendengar teriakan Shani itu.

Tak lama terlihat juga Mama, Tante Margareth, Bi Sri, Pak Tok sama Mas Paijo. Tapi gue tetap terus berjalan menuju ke motor dan menghiraukan panggilan mereka.

Gue melangkah ke motor dengan tergesa-gesa, kemudian gue buru-buru naik ke motor dan mengenakan helm. Lalu gue menyalakan mesin motor dan memacu motor dengan kencang menjauh dari rumah gue.

 

 

~ ~ 0o0 ~ ~

 

 

POV SHANI

 

 

Willy belum juga pulang dari tadi, aku khawatir dia kenapa-napa. Apalagi ini sudah mulai malam, seharusnya aku nggak perlu marah ke dia soal kejelasan hubungan kami. Tapi aku juga butuh kejelasan itu. Sekarang aku lagi duduk di ruang keluarga bareng Gaby, Kak Elaine dan juga Kelik, kami lagi nonton tv aja.

 

“Kamu kenapa Shan?” tanya Gaby agak mengagetkanku.

“Eh Gaby, bikin kaget aja deh”

“Habis nonton tv kok malah bengong gitu, kamu kepikiran soal Willy?” tanya Gaby.

“Iya, aku jadi kepikiran sama dia ….” jawabku jujur.

“Dek, kamu nggak perlu khawatir sama Willy, dia pasti berusaha yang terbaik buat penuhi permintaan kamu itu” ujar Kak Elaine.

“Udah jangan terlalu dijadikan beban, Shan. Pasti dia bakal melakukan apa yang terbaik untuk kalian” ucap Kelik.

Thanks yah, kalian buat aku lebih tenang” ucapku.

“Sama-sama Shan” balas mereka.

 

Hp milikku yang di meja bergetar, ada Line yang masuk entah dari siapa. Aku lalu mengambilnya dan melihat nama siapa yang tertera di layar. Saat aku lihat ternyata ada sebuah chat dari seorang teman lamaku.

Aduh balas nggak ya chat ini, bingung. Pasalnya dulu dia dekat sama aku, apalagi dia ini cowok yang dulu berkali-kali terus nembak aku. Ini juga dari mana dapat kontakku lagi sih, bikin geregetan aja.

 

“Siapa Shan, yang chat?” tanya Gaby.

“Oh ini, teman lamaku waktu masih SMP disini dulu” jawabku.

“Kangen kamu mungkin, hahaha” celetuk Kelik.

“Ih, jangan gitu deh” rengekku.

“Yaudah, bales aja chat dia. Siapa tau penting” ujar Gaby.

Aku Cuma membalasnya dengan anggukan, setelah itu aku buka chat dari orang aneh ini. Tertera nama “Dani” dilayar.

 

Dani Arya : Hai Shani, masih ingat aku kan? Mantan kamu dulu, oh ya tadi aku lihat kamu di bandara loh. Sama keluarga kan? Btw aku sekarang ada di depan rumah yang kamu tempati

 

“Apa???” teriakku kaget.

“Eh, ada apaan kamu Shan?” tanya Kelik kaget.

 

Belum ku jawab pertanyaan Kelik barusan, aku langsung berjalan meninggalkan depan tv lalu segera bergegas ke depan rumah. Ternyata benar, Dani udah ada di depan pagar sambil melambaikan tangannya. Aku lalu membuka pintu gerbang dan menatapnya dengan sebal.

 

“Mau apa? Kamu ngikutin aku sampai sini, kok sampai tau aku tinggal disini?” tanyaku sebal.

“Sabar dong sayang, aku kan kangen sama kamu. Ajak masuk dong, kan tamu spesial” jawabnya melenceng dari pertanyaaanku.

“Jangan buat aku pukul kamu deh, Dani! Jijik tau dengar kamu panggil aku sayang-sayang gitu. Dengerin ya, aku nggak pernah ada hubungan apapun sama kamu!” semburku ke Dani.

“Oke deh, maaf kalau gitu. Oh ya Shan, aku haus nih” ucapnya.

Aku langsung meninggalkannya masuk ke dalam rumah, saat melewati depan tv Gaby langsung melihatku.

“Siapa Shan” tanya Gaby.

“Temanku, Cuma mau minta air kesini” jawabku.

“Anjir banget tuh orang, ke sini Cuma mau minta minum. Kasih air kloset aja, Shan” ujar Kelik.

“Ide bagus” balasku.

“Heh, kalian ini malah mau bikin anak orang keracunan ya …. Udah deh kasih aja, nanti paling juga dia terus pergi” ucap Kak Elaine.

“Yaudah deh, aku buatin minum dulu” ujarku.

 

Aku lalu berjalan ke dapur dan buru-buru buatin Dani minum, setelah itu aku membawakannya ke depan. Ternyata dia udah duduk di kursi tamu, dia malah senyum-senyum gak jelas. Udah gila kali ya, ini anak? Dasar.

 

“Nih buruan diminum habis itu jangan pernah kesini lagi!” ucapku sewot.

“Idih, galak amat. Ntar aku nikahin baru tau rasa kamu, Shan” balasnya.

Dani mengambil minuman yang kubuatkan dan langsung menghabiskannya.

“Percuma aku udah tunangan kalii, jadi gak usah berharap lagi” ujarku.

“Masa bodoh sama tunangan kamu itu” ucap Dani.

Sumpah, Dani malah bikin aku naik darah sekarang.

Dia kemudian berdiri dan memelukku tanpa ijin. Lalu wajahnya mulai mendekat ke aku, nggak tau kenapa aku gak bisa bergerak sama sekali. Kenapa rasanya kaku sema, ayolah Shan sadar!

“Shan, aku sayang sama kamu” ucap Dani, wajahnya makin mendekat.

 

Tiba-tiba ada suara yang sangat familiar bagiku.

 

“Shani”

Aku langsung menoleh ke arah suara tersebut. Astaga, ternyata itu suara Willy. Dia menggeleng, semoga dia mau dengar penjelasan aku. Kemudian aku melepaskan pelukan Dani dengan keras, perlahan aku melangkah ke Willy. Wajahnya sangat-sangat sedih kulihat.

 

“Sayang, aku bisa jelasin ke kamu. Ini nggak kaya yang kamu pikirkan” ucapku.

Tapi perlahan Willy gue melangkah mundur.

“Mungkin ini karma buat aku Shan, aku gapapa kok. Mungkin ini yang terbaik buat kita” ucap Willy.

Please, dengerin penjelasan aku dulu sayang”

Aku nggak mau dia marah gara-gara masalah ini. Kenapa aku juga nggak bisa lepasin pelukan Dani sih, semuanya jadi makin rumit.

“Wil!!! Sayang dengerin aku dulu, aku mohon!”

“Sayang!!!”

 

Sia-sia, semua teriakanku nggak didengarkan sama Willy, semua terlanjur terjadi. Semua gara-gara Dani juga, kenapa dia kesini! Willy berjalan keluar dari rumah, aku mengejarnya, Dani juga mengikutiku keluar.

Aku hanya bisa terduduk lemas melihat dia jalan menjauh. Willy hanya menoleh ke arahku sebentar, kemudian tak lama Gaby, Kak Elaine dan Kelik keluar. Aku, aku udah nggak kuat menahan tangisan ini. Air mataku mengalir deras ….

 

“Shan kamu kenapa, kok gini sih? Apa yang terjadi”

“Itu gara-gara cowok brengsek itu Gab, semua jadi salah paham dan hancur gara-gara dia!” jawabku tak bisa menahan tangisanku.

“Lo berani-beraninya bikin kekacauan disini ya!” Kelik langsung memukul Dani dengan keras.

“Sabar, udah jangan pada ribut kaya gini dong!” ucap Kak Elaine.

 

Mama Willy, Tante Margareth, Bi Sri, Pak Tok sama Mas Paijo datang keluar rumah. Mereka ku lihat bingung sama kejadian ini. Kelik di tarik oleh Pak Tok agar tak memukuli Dani yang udah babak belur.

 

“Sayang, tolong pulang kesini lagi ….” teriakku.

Semua terlambat, Willy sudah pergi menjauh. Semuanya terasa sia-sia, sekarang aku nggak tau harus gimana. Ada yang menghampiriku, ternyata ada Mama Willy dan juga Gaby, aku langsung memeluk Mama keduaku ini, dan menumpahkan semua tangisanku.

 

“Yang sabar, Shan. Pasti kita bisa jelasin semua ke Willy. Kami janji” ucap Gaby mengusap kepalaku.

“Iya Shani, sekarang biar anak itu tenangin diri dulu. Kita kasih dia waktu buat menyendiri dulu. Mama yakin semua bakal baik-baik aja” ujar Mama.

“Iya Ma…. Gab….” jawabku.

 

Semoga aja itu semua benar, aku berharap itu semua kenyataan natinya.

 

 

POV SHANI END

 

~ ~ 0o0 ~ ~

 

 

Sekarang gue duduk di sebuah sofa, dirumah seseorang. Di depan gue ada sepasang yang tadi sempat gak sengaja bertemu di Mall saat di kami bertabrakan di depan kedai makanan, mereka berdua adalah Shanji dan Anin. Satu orang lainnya adalah pemilik rumah dan juga sekaligus pacar sahabat gue di sekolah, dia adalah Viny.

Mereka sudah tau semua masalah yang gue alami, tadi gue sudah menceritakan semuanya secara rinci. Masalah dengan Verro, pertemuan gue dengan Tata mantan dari Verro dan Masalah dengan Ve dan Shani.

 

“Lebih baik lo nginep di rumah gue dulu aja, Wil. Daripada elo nggak jelas mau kemana. Lagipula di rumah ini ada adek gue juga” ujar Viny.

“Iya Vin, thanks udah kasih tempat buat sementara” balas gue.

“Oh ya Wil, gue sebenarnya ada sesuatu yang mau gue jelaskan ke elo soal masalah kita” ucap Shanji.

“Apa itu, Nji?” tanya gue penasaran.

“Sebenarnya gue sempat di tawari sama Verro buat gabung dia, Verro langsung tawari gue waktu di Cafe dulu. Dan saat itu ada Dendhi sama Kak Naomi yang lihat gue sama Verro, mungkin mereka bilang ke elo sesuatu tentang gue. Tapi gue berani sumpah, selama ini hanya kesalahpahaman aja yang terjadi sama kita bung” jawab Shanji yang menceritakan sebuah fakta.

“Syukur kalau begitu, gue selalu berharap elo nggak pernah punya hubungan kerja sama Verro, dia orang yang licik dan juga bahaya. Makanya gue khawatir kalau teman-teman gue berurusan sama  dia” jelas gue.

“Terus apa yang harus kita lakukan, sebelum elo kemumgkinan di singkirin sama Verro dari SMA 48?” tanya Anin.

“Mungkin ini agak beresiko, tapi gue akan coba bertahan sebisa mungkin di sekolah itu. Apapun alasannya gue harus coba bertahan. Kalau soal harus berbuat apa, untuk saat ini gue juga nggak tau harus melakukan apaan” jawab gue.

“Udah deh, lebih baik lo tenangin diri aja. Fokus disitu dulu …” ujar Viny.

“Yang dibilang Viny ada benarnya Wil, biar gue sama teman-teman laimnya yang urus ini” timpal Shanji.

“Makasih buat kalian semua, udah mau bantuin gue” ucap gue tersenyum.

“Tenang, kita semua ini teman. Udah sewajarnya kita bantu satu sama lainnya” tambah Anin.

 

Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat, Shanji dan Anin juga memilih menginap di rumah Viny karna sudah larut malam.

……

 

“Bangun Wil, ini udah jam 8 loh …”

Gue mendengar suara Viny yang membangunkan sambil menggoyang-goyangkan badan gue. Perlahan lahan gue mengumpulkan kesadaran gue.

“Ehm iya iya, gue bangun kok”

“Mandi gih, gue siapin sarapan buat kita. Shanji udah di depan rumah lagi ngerokok, Anin bantu gue masak di dapur. Kalau mau pakai baju ganti udah gue siapin, semoga aja cukup” ujar Viny.

“Oke deh, thanks ya Vin” ucap gue berterima kasih.

“Sama-sama Wil” Dia mengelus kepala gue, kemudian meninggalkan gue.

 

Viny memang seperti itu dari dulu sejak pertama kenal, dia memang lebih tua dari gue dan sangat baik kepada teman-temannya. Makanya dulu Faruk naksir dengan Viny, dan saat menembak. Kami teman-teman dekat Faruk membantu proses pdkt dan penembakan Viny.

Gue pun memutuskan untuk mandi.

 

Selesai mandi dan sudah rapi, gue berjalan keluar dari kamar tamu dan menghampiri Shanji yang ada di luar, dia sedang duduk santai sambil menghisap sebatang rokok. Gue kemudian duduk di sebelah Shanji.

 

“Kalau mau rokok tinggal beli di jalan depan, ada indoapril. Soalnya lo gak cocok kan sama rokok gue” ucap Shanji.

“Oke, gue juga mau beli camilan buat kita” ujar gue.

“Kalau camilan mending gak usah beli deh, ntar elo di omelin kaya gue. Viny tadi sembur gue gara-gara baru dia masakin. Gue beli camilan aja malah dikasihin anak tetangga” ucap Shanji menasehati.

“Waduh, bahaya deh kalau gitu. Yaudah lah gue ga jadi beli camilan, cukup rokok saja”

“Yaudah sono”

Gue kemudian berjalan menuju ke indoapril yang diberitau oleh Shanji. Tak sampai lima menit, gue sudah sampai di mini market itu. Gue langsung ke bagian kasirnya dan membeli rokok satu bungkus, saat selesai membayar dan sedang menunggu kembalian, gue meliha ada seseorang sedang memilih milih camilan tak jauh dari kasir, pandangan kami berdua bertemu.

 

“Kak Melody”

“Loh Willy”

Kami berdua sama-sama kaget, dia kemudian berjalan menuju ke kasir menghampiri gue. Kemudian kami berjabat tangan dan cipika-cipiki juga. :v

“Kamu kok disini, emang rumah kamu yang di Jogja di daerah ini?” tanya Kak Melody.

“Enggak sih, aku Cuma nginap di rumah Viny, Kak” jawab gue.

“Kok bisa sih Dek?”

“Panjang lah ceritanya Kak Mel. Oh ya Kakak sendiri, kok bisa ada disini?”

“Oh, soalnya aku nginap di homestay di dekat sini. Frieska sama Verro kan gak mau di ganggu kalau lagi liburan gini” jelasnya ke gue.

“Kak, ssbenarnya ada sesuatu yang mau aku bicarain sama Kak Melody. Ini penting, ada kaitannya sama Frieska dan Verro”

 

Setelah itu, kami membayar belanjaan masing-masing dan kemudian jalan berdua menuju rumah Viny. Sesampainya di depan rumah Viny, si Shanji sudah tidak ada di teras. Kemana itu anak, paling udah di dalam kali.

Gue dan Kak Melody masuk ke dalam rumah, ternyata Shanji udah ada di dalam sedang memegang piring dan sibuk mengunyah makanan sambil menonton tv. Dia lagi sibuk sarapan sambil berduaan sama Anin, jadi teringat gue sama Shani. 😐

“Wil, sarapan dulu gih. Eh, Kak ….” Viny cengo, mungkin karena gue pulang kesini bawa seseorang yang dia kenal juga.

“Eh Kak Melody, kakak juga liburan di Jogja ternyata” ucap Viny terkejut setelah melihat keberadaan Kak Melody.

“Ikutan sarapan yuk Kak Melody, pasti belum makan …”

 

Gue sama Kak Melody kemudian gabung dengan yang lainnya untuk sarapan. Sembari sarapan, gue juga menjelaskan ke Kak Melody bawasannya Frieska Cuma di permainkan oleh Verro, karena Tata pun juga jadi korban sebelumnya. Verro sengaja memakai Frieska untuk memutuskan Tata dengan kedok, Frieska adalah selingkuhan Verro.

Kak Melody menangis mendengar itu semua, kami jelas ikut sedih jika teman kami dimanfaatlan seperti itu.

 

“Kak Mel, kami bakal bantu Kakak buat bongkar semua itu” ujar Viny.

“Iya Kak, kita semua bakal bantu buat selamatin Frieska dari permainan Verro” tambah Shanji.

“Elo ada rencana Wil, buat bongkar ini semua?” tamya Anin.

“Ada satu cara buat bongkar itu semua dan buat Verro malu. Kita minta bantuan Tata, Gre sama Ve, mereka bisa jadi saksi dan kunci buat bongkar permainan pertama Verro ini” jawab gue.

 

 

To Be Continued ….

 

 

 

Created By : Authornya

Yang kirim Tim suksesnya author : Line > mojo92 (Kelik : Sing handle Line authornya)

 

 

 

Maaf buat keterlambatan update part 15 ini, harap maklum karna author orginalnya lagi sibuk dan baru selesai kerja dan libur selama seminggu. Next part, udah normal kembali.

Iklan

5 tanggapan untuk “Iridescent Part 15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s