Silat Boy : Sahabat Sejati Part 18

CnJGPUtWgAEeomp

Minggu pagi, Rusdi sedang berlatih pull up di halaman rumahnya. Kak
Melody hanya memberinya semangat agar Rusdi tidak jenuh berlatih.
Semangat dari seseorang sangat diperlukan untuk kesuksesan latihannya.

Ia sudah mendapatkan semangat dari Kak Ve, bahkan juga Kak Melody.
Tapi Epul dan Naomi masih belum memberinya semangat. Mungkin mereka
tidak mau mengganggu latihannya.

Saat di kelas Rusdi bersikap biasa saja pada teman-temannya, seperti
tidak terjadi apa-apa. Tapi saat jam istirahat ia tidak pernah
berkumpul kembali dengan ketiga sahabatnya.

Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahat di lapangan
olahraga. Ia selalu melatih otot-otot lengan dan kakinya disana.
Sesekali di lantai dua Nabilah memperhatikannya.

Nabilah? Oh tidak, ia pasti sangat kecewa padanya. Sudah seminggu
sejak ia latihan Silat. Ia tidak pernah peduli lagi pada Nabilah. Tapi
Nabilah nampaknya masih peduli padanya.

Nabilah sering mengabarinya, tapi Rusdi selalu cuek. Ia kini terobsesi
pada latihannya. Dengan mudahnya ia membuang gadis primadona sekolah.
Dan lebih memilih fokus pada latihan yang dijalaninya.

Siang hari, Rusdi beristirahat sejenak. Tadi pagi ia melatih otot-otot
tangannya dengan latihan pull up dan push up. Ia juga melatih otot
perut dan kakinya dengan latihan sit up dan squat thrush.

Sore hari pukul empat, ia kembali melanjutkan latihannya. Jogging sore
mengelilingi taman kota di dekat rumahnya. Taman itu tidak terlalu
luas, tapi cukup untuk menguras tenaganya.

Setelah ia mengelilingi taman, ia melihat Epul dan Naomi tengah serius
bermain basket. Oh tidak, ia lupa bahwa setiap minggu ia harus bermain
basket bersama mereka. Dua minggu ini ia tidak bermain basket bersama
mereka.

Baiklah, ini masih belum terlambat. Rusdi kemudian menghampiri mereka.
Ia berjalan santai mendekati lapangan itu. Epul melihat Rusdi yang
mendekat padanya, lalu ia sejenak diam.

“Hay.” sapa Rusdi.
“Mau main?” Naomi memberikan bola basket padanya seraya tersenyum.
“Ayo!” Epul juga tersenyum.
“Baiklah!” Rusdi kemudian ikut bermain bersama mereka.

Pukul lima sore, mereka beristirahat sejenak. Rusdi melemaskan kakinya
yang terasa sedikit sakit. Sejak kemarin kakinya terasa sakit. Kak Ve
bilang hari ini ia harus beristirahat, tapi Rusdi malah kembali
berlatih.

“Jadi, gimana latihannya?” tanya Epul.
“Sejauh ini masih terkendali. Tapi aku masih belajar teknik dasarnya
aja. Latihan sebenarnya masih belum dimulai!” jawab Rusdi.

“Maafkan aku mengabaikan kalian, aku harap kalian mengerti. Aku hanya
ingin fokus pada latihanku.” Rusdi menundukkan kepalanya, seraya
melihat kedua kakinya yang sedari tadi ia pegang.

“Kami mengerti, karena kami adalah…” Epul menggantungkan kalimatnya.
“Sahabat sejatimu!” sambung Naomi.
“Terima kasih.” Rusdi tersenyum simpul menatap wajah kedua sahabatnya,
mereka juga balas tersenyum.

“Apa kalian mau melihatku berlatih?” tanya Rusdi.
“Kapan?” tanya Naomi.
“Besok, mau ikut gak ke tempat latihanku?” Rusdi kembali mengajak mereka.

“Aku sih mau-mau aja. Epul, kamu mau ikut gak besok?” Naomi melirik Epul.
“Ayo!” Epul sedikit tersenyum.
“Oke, besok pulang sekolah kita langsung ke tempat latihan.” balas Rusdi.

Setelah berbincang-bincang, mereka kemudian pulang ke rumah
masing-masing. Esok adalah hari yang sibuk, tapi kesibukan itu takkan
berarti karna besok Epul dan Naomi akan melihatnya berlatih dengan Kak
Ve.

Sesuai janji, pulang sekolah Epul dan Naomi langsung pergi ke tempat
latihan bersama Rusdi. Sebenarnya mereka sudah tahu tempat itu, karna
beberapa hari yang lalu mereka mengikuti Rusdi ke rumah itu.

Rusdi langsung menuju belakang rumah Kak Ve diikuti oleh Epul dan
Naomi. Disana sudah ada Kak Ve yang sedang bersantai sambil meminum
teh manis dingin.

“Siapa mereka?” tanya Kak Ve.
“Mereka temen aku, cuma mau liat aku latihan aja.” jawab Rusdi seraya tersenyum.
“Mereka boleh liat, asal jangan ikut campur!” ucap Kak Ve.

“Latihan hari ini adalah teknik pukulan dalam Pencak Silat. Kali ini
kau akan belajar menyerang lawan, ini adalah teknik serangan dalam
Pencak Silat.” ucap Kak Ve.

Pertama adalah pukulan lurus. Pukulan dengan salah satu tangan memukul
kearah depan, sasarannya yaitu dada lawan. Dan tangan satunya lagi
menutup arah point,  yaitu sasaran perut keatas.

Kedua adalah pukulan bandul. Mengayunkan tangan, salah satu tangannya
berbentuk kepalan kearah sasaran ulu hati. Dan tangan yang satunya
lagi tetap menutup arah sasaran lawan.

Ketiga adalah pukulan tegak. Sasarannya adalah bahu atau sendi, bahu
sebelah kanan lawan yang saling berhadapan dengan kita. Jadi sama saja
dengan bahu sebelah kiri yang menjadi sasaran kita.

Rusdi mempraktekan ketiga pukulan itu dengan sempurna. Terlihat mudah
sekali, ia belajar dengan cepat. Epul dan Naomi bahkan tekagum-kagum
melihat kemahirannya.

“Keempat adalah pukulan melingkar. Sasarannya adalah pinggang lawan.
Jika sampai terkena serangan ini, kau akan jatuh. Boim pernah
menggunakan pukulan ini padaku, tapi aku menahan lengannya.” ucap Kak
Ve.

“Besok akan kuajari cara menendang dan menangkis serangan.” sambungnya.
“Seperti waktu itu, Kak Ve hanya menangkis semua serangan Boim!” balas Rusdi.

“Besok akan kuajari teknik menangkis itu. Aku juga akan mengajarimu
teknik menendang dalam Pencak Silat.” ucap Kak Ve.
“Seperti waktu itu, Kak Ve hanya menyerang Boim dengan sekali
tendangan!” balas Rusdi, Kak Ve hanya tersenyum manis.

Pukulan keempat ia lakukan dengan mudahnya. Hari ini tidak ada
gerakkan yang sulit. Rusdi dan Kak Ve kembali berlatih pukulan dasar
dalam Pencak Silat hingga sore hari.

Setelah itu, Rusdi dan kedua sahabatnya pamit pulang pada Kak Ve.
Dalam perjalanan pulang Epul tak henti-hentinya memuji Rusdi karna
kemahirannya belajar memukul tadi.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s