“Directions The Love and It’s Reward” Part 18

as

Keesokan paginya…

KRING…!!!

KRING…!!!

KRING…!!!

“Hmmzzz… siapa sih yang pagi-pagi berantem di ring tinju” pemuda itu sangat malas membuka matanya. Tangannya meraba-raba pada sesuatu yang berdering di meja lampu tidurnya.

KLEK

“Masih ngantuk juga” ucapnya malas kemudian menyelimuti sekujur tubuhnya lagi dengan selimut hangat bergambar Bumblebee favoritnya.

 

KRIET…

Pintu kamarnya terbuka dengan terseret.

“Dek…???”

“Astagfirullahaladzim… kamu masih belom bangun?! Hari ini kamu sekolah tau nggak sih?!” ucap seorang wanita sudah lengkap dengan memakai seragam.

“Hmmzzz… lima langkah… eh, lima menit lagi maksudnya” ucapnya membalikan badannya membelakangi gadis itu.

“Lima menit, lima menit! Nanti malah jadi lima jam lagi! Udah buruan! Kakak udah siapin sarapan. Kamu mandi terus turun, kita berangkat” ucap gadis itu lantang dan kemudian kembali ke bawah.

 

TING!

TING!

TING!

 

Sebuah deringan telfon mencoba membangunkan pemuda itu. Berkali-kali bahkan berulang kali selalu terngiang walaupun ia sudah menyumbat telinganya dengan kapas dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.

“ARRGGGHHHH! SIAPA SIH ORANG ISENG YANG NELFON PAGI-PAGI BUTA BEGINI?!” Ucapnya kesal dan bangun. Dia melihat lockscreen Hpnya menampilkan sebuah nama.

“Ini anak kurang kerjaan banget sih!”

 

TIT!

“Halo?”

“Kamu kurang kerjaan banget sih! Pagi-pagi buta udah nelfon. Buat apa coba?!”

“Hu….! biarin wlee. Ketahuan nih kalo bangunnya suka kesiangan. Semalem sok-sokan nyuruh aku tidur. Pake dibilang anak kecil segala lagi. Sendirinya bangun aja telat kayak anak kecil HAHAHA.” Jawab seseorang di seberang sana.

“Ah, udah ah. Sekarang mau kamu apa?”

“Mau aku? Tumben mau nurutin haha.”

“Udahlah, nggak usah basa-basi. Aku mau berangkat sekolah nih” pemuda itu berjalan menuju balkon.

 

~o0o~

 

Gadis itu terus saja tertawa dan bercanda dengan orang yang di seberang sana. Jauh di mata. Ia berjalan menuju balkon rumahnya.

“Aku mau cerita nih, boleh gak?” tanya gadis itu dengan nada yang dibuat-buat

“Cerita apaan lagi sih? Snowithe toon? Toonderella? Thorderella?”

“Ish…! bukan! Aku mau cerita, kalo semalem tuh aku ketemu seseorang dalam mimpi.”

“Oh gitu, siapa emangnya?”

“Em… ya… gitu deh. Orangnya ngeselin pokoknyaaa pake bangeeetz.” Ucapnya dengan nada ditekan.

“Ada mitosnya juga sih.”

“M-maksudnya? Jangan cerita horror lagi deh. Aku gak suka.” Raut wajahnya menunjukkan ketakutan.

“Hei hei. Ya enggak lah. Makanya dengerin dulu. Konon katanya kalo kamu ketemu sama orang yang kamu kenali dalam mimpi, berarti orang yang ada dalam mimpi kamu itu lagi mikirin kamu.” jelas pemuda itu.

“Masa sih?”

“Ah terserah deh, gitu lah pokoknya.”

“Berarti…

Kamu semalem mikirin aku dong? Ya nggak? Ya nggak? Jujur aja deh” ucap gadi itu mulai PD.

“Hmm? Maksudnya gimana nih?”

“Orang yang dateng ke mimpi aku semalem itu…

 

…Kamu.” ucapnya dengan nada diperkecil.

 

“Eh?! Apa?”

“Udah deh, jujur aja.. Kamu semalem mikirin aku kan? Kata kamu tadi, kalo ada orang yang mikirin seseorang saat tidur. Seseorang itu akan datang ke mimpi seseorang yang dipikirkannya. Ketahuan nih, cie~ suka mikirin aku hihi” gadis itu terus saja mengejeknya.

“Ih! Siapa juga yang mikirin anak kecil kayak kamu. PD banget sih.” ucap pemuda itu dengan suara kesal sekaligus salah tingkah.

“Aku bilangin ke semua orang gimana yah?

Owh… owh… owh… atau aku laporin ke kak Melody kalo kamu kemarin bikin aku nangis di taman? Mau?” nada jahat terus tersirat dari kata-kata ancaman itu.

“Er… ARGGHHH IYA! IYA! AKU MIKIRIN KAMU SEMALEM. PUAS?!?!?!”

“Belooom :p” gadis itu menjawab dengan nada mengejek.

“Sekarang, mau kamu apa?!”

“Yang halus dong” pintanya manja.

“Iya iya! Jadi… kamu maunya apaaa?”

“Hihihi, enak juga bikin orang kesel ya” batin gadis itu

“Traktir aku es krim lagi!” ucap gadis itu ngotot.

“Huuu! Dasar anak kecil! Mintanya es krim mulu. Mana pake ditraktir lagi. Eh, makan es krim aja masih belepotan kayak anak kecil gitu wlee HAHAHA.”

“Iiih! Apaan deh. Kan makannya buru-buru. Biar es krimnya nggak meleleh tau. Huftyup…” wajahnya cemberut walaupun hanya menanggapi jawaban via suara dari seorang pemuda yang ditelfonnya.

“Anak kecil! Anak kecil! Anak kecil! Wlee :p HAHAHA”pemuda di seberang terus saja mengejeknya.

“Huft! Nyebelin! Aku aduin ke kak Melody nih!” ucap hgadis itu mengancam.

“EH?! Ampun… ampun… tuan putri jangan laporkan hamba pada nenek sihir itu” nadanya seperti memohon.

“Pffttt…AHAHA… makanya jangan melawan kekuasaan tuan putri! Kamu belum merasakan kehebatan tuan putri sih. Jadi, sekarang kamu harus menuruti kata-kata tuan putri, oke?”

“Er…. pemerasan nih, pengancaman. Masuk pasal! Kamu dipenjara!”

“Ya nggak bisa dong! Kan aku tuan putrinya! Jadi aku berhak mengatur apa saja termasuk kamu pangeran!”

 

“Tunggu… apa? Pangeran?”

 

“E-eh?! Pangeran?! Siapa juga yang manggil pangeran! Tadi manggil… em…

Ah! Prajurit kok! Kamu kan prajurit aku” ucap gadis yang ternyata adalah Yuvia. Ia salah tingkah karena salah sebut dan tidak sengaja memanggil ‘Pangeran’.

 

~o0o~

 

“Bener nih?” tanya pemuda itu. Ya, dia Rendy. Ia bertanya dengan nada candaan.

“Iya bener kok! Siapa juga yang manggil situ pangeran. Ih! Ge’Er banget deh. Gak cocok juga kali.”

“Iya, iya oke. Jadi…

Tugas prajurit itu apa tuan putri Cindyrella?” Tanyanya lagi dengan nada candaan. Mereka berdua jauh, memandang langit yang sama. Entah, Rendy merasakan kehadiran seseorang. Ya, seseorang yang telah lama dirindukannya. Ia tersenyum menatap ke arah langit di balkon kamarnya. Sudahlah, tapi itu hanya angan-angan dan khayalannya saja.

“Ish…! gombal deh! Huuu! Basi nih, basi.”Yuvia juga, ia memandang indahnya langit di pagi hari di balkon kamarnya. Senyum simpul menghiasi wajah cantiknya. Merasakan hal yang sama.

“Iyaaa~ maaf. Aku tanya sekali lagi. Jadi, tugas prajurit itu apa tuan putri Cindyrella?” Rendy sedikit menanhan gelagak tawa.

“Menjaga, menemani, dan selalu berada di samping tuan putri. Itu aja kok hehe. Paling ada tambahan traktir makan sama traktir es krim :p  wlee.” Yuvia membalas dengan tersenyum-senyum.

“Ya udah lah, siap! Laksanikan! Tapi inget, jangan kasih tau nenek sihir itu. Ngerti?”

“Oke, mulutnya di kunci!”

“Udah deh ya, udah agak siangan nih. Aku mau mandi dulu abis itu langsung go to school. Btw…

Selamat pagi tuan putri” ucapnya berjalan menuju meja belajarnya hendak menaruh Hpnya. Tapi, Hp itu masih berada di genggamannya, masih ia posisikan di telinganya menunggu reaksi Yuvia.

 

~o0o~

 

“EH?! Emm… i-iya. Selamat pagi juga. J-jangan lupa sarapan yah” wajahnya tertunduk malu merah merona. Ia sedang duduk di kursi tempat meja make up nya.

Ia hanya terus menunduk memainka jari-jarinya dengan gugup. Ia melihat ke arah cermin meja riasnya.

“Dandan nggak yah? Make up nggak yah?” Itu saja yang terus mengusik di dalam ngiangannya.

 

KLEK!

 

“EH?!

Kak Ve kalo mau masuk ketuk pintu dulu apa” ucap Yuvia kesal.

“Kakak panggilin dari bawah kamu nggak turun-turun. Yaudah kakak langsung masuk aja. Udah siang nih! Buruan berangkat. Kamu nggak mau kan telat lagi kayak waktu itu? Untung waktu itu ada yang nolongin kamu” ucap kak Ve menasihati.

“Iya, udah lah jangan bahas itu. Sekarang…” ia melirik pada cermin meja riasnya.

“Hmm…. kayaknya ada yang aneh nih” ucap kak Ve menyelidik.

“A-aneh apanya kak?” tanya Yuvia penasaran dengan wajah gugup.

“Kok tumben kamu duduk di meja rias. Biasanya kan kamu jarang mau make up. Oh… pasti ada sesuatu nih” kak Ve tersenyum-senyum melihat tingkah adiknya.

“E-eh, s-siapa juga yang mau dandan. Ya enggak lah, aku kan udah cantik wlee :p” Ia sudah menutupi kebohongannya.

“Ah… nggak usah sungkan sama kakak sendiri. Ya udah, kamu duduk aja. Tunggu hasilnya dari kakak” kak Ve kemudian bangkit dan duduk persis di belakang Yuvia.

“Eh?! Kakak mau ngapain?!” ucap Yuvia terkejut dengan tingkah kakaknya.

“Kakak bakalan make over kamu biar jadi cewek feminim. Biar nggak tomboy dan jutek. Pokoknya kamu diem aja” kak Ve mulai mengambil beberapa bedak dan lip gloss. Juga beberapa hiasan untuk ‘menghiasi’ alis dan kelopak mata Yuvia yang biasa-biasa saja itu.

Biasanya, remaja lebih suka terkesan simple but ellegant. Bisa dibilang, kak Ve cukup handal dalam make over model apa pun. Terbukti saja dari wajahnya sendiri yang selalu cantik menawan. Rahasianya sederhana. Dia nggak suka make up yang berlebihan, jadi pakenya bedak dingin aja. Bibirnya itu loh… mempesona! Pake lipice atau apa gw lupa. Pokoknya bacanya lip ais gitu lah gais. Kadang yang ada rasa buah-buahannya gitu kayak strawberry, jeruk, apel, anggur, atau apa lah.

Ya bukannya gw pernah cobain. Tapi label-labelnya sih gitu. Aromanya sih kalo dicium-cium ya emang wangi buah. Tapi gak tau rasa sebenernya itu kayak gimana.Ya kali gw mau pake lipstick? Tanda-tanda kiamat malah makin deket kalo kayak gitu mah T.T

Oke, back to the story!

“Iiihh! Kak, nggak usah pake gitu-gituan segala deh matanya” rengek Yuvia.

“Gapapa, diem dan nurut aja. Kamu cantik kok” ucap kak Ve yang masih fokus.

Mulai dari rambut Yuvia yang hanya lurus polos, kini ia kepang dan jadikan satu dengan rambut lurus Yuvia. Kak Ve terus saja memainkan jari-jemari mahirnya. Yuvia masih menutup mata, ia tidak yakin dengan perbuatan kakaknya. Tapi ia mencoba percaya.

“Nah, udah. Sekarang, buka mata kamu” ucap kak Ve.

Yuvia perlahan membuka matanya.

“Kak…” Yuvia melihat ke depan cermin tidak percaya.

y1

“Itu cewek yang mukanya belepotan di belakang aku siapa?”

“EH?! Astaga!”

 

—o0o—

 

“Ya ampun, kak Ve kalo udah berkreasi suka lupa diri” Yuvia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah kakaknya tadi.

“Um… hehe. Suka lupa dunia Yuv.”

“Haha, ada-ada aja nih kak Ve” Yuvia menahan gelagak tawa.

“Tapi hasilnya nggak mengecewakan kan?”

“Em…” Yuvia melihat-lihat dirinya pada cermin di mobil kak Ve.

“Lumayan sih…”

“Kamu cantik kok. Uh… pasti langsung banyak yang ngelirik nih” goda kak Ve.

“Apaan sih” ucapnya salting.

“Tapi kok tumben yah kamu mau dandan. Biasanya berangkat ya berangkat aja. Cuma pake bedak doang, itu aja belepotan hahaha.” Kak Ve tertawa geli.

“Ah, kak Ve nggak asik nih. Huftyup” Yuvia menggembungkan pipinya.

“Btw, kamu dandan buat siapa sih? Apa ada lomba resmi? Atau…

Buat seseorang ya…?” kak Ve tersenyum menggoda.

“Apaan deh, enggak kok. Ya, aku Cuma mau ngerubah style aku aja sih. Tapi ya masih suka sama kesan imut-imut gitu” wajahnya diimut-imutin.

“Hu! Dasar anak kecil. Kapan gedenya?”

“Hm? Apanya?

 

—o0o—

 

“Pagi kak!” sapa Rendy turun dari kamarnya. Ia menuju ke meja makan seperti biasa untuk sarapan bersama kak Melody dan Yona.

“Ditungguin dari tadi juga” ucap Yona bete.

“Tau nih, udah cepetan tuh dimakan. Abis itu kita berangkat” ucap kak Melody mengambilkan sepiring nasi goreng.

“Oh iya Yon. Nanti jadi kan?” tanya Rendy sambiil melahap sepiring nasi gorengnya.

“Em… iya jadi.”

“Lagunya yang kayak latihan kemarin kan?” tanya Rendy sembari meminum segelas air putih.

“Kalian ngmongin apa sih?” tanya kak Melody yang mulai penasaran.

“Jadi, nanti aku ada kelas Seni Musik kak. Suruh nyanyi, nah kalo pake instrumen bakal dapet nilai plus, boleh minta bantuan dari anak kelas lain. Kemarin, aku lihat ternyata Rendy jago banget main gitarnya kak. Ya jadi aku minta dia buat bantuin tugas aku.” Jelas Yona sambil memakai sepatu.

“Owh… gitu. Yaudah, yuk kita berangkat!” ucap kak Melody semangat.

“Yuk!” Rendy berjalan paling depan.

“Oh iya, kunci mobil mana?” tanya Rendy. Ia berbalik ke belakang sejenak dan melihat kakaknya menenteng-nenteng kunci sambil tersenum seringai.

“Bentar…” Rendy melihat kakanya dari atas sampai bawah *pake busana ya gais*.

“Kita…” Rendy memutar otaknya menanggapi kalimat tadi.

 

“Oh…

 

TIDAKKK!!!”

 

“Hehehe…”

 

—o0o—

 

Saat sampai di sekolah dan hanya kurang lima menit sebelum bel berbunyi. Rendy memarkirkan mobilnya dengan malas di parkiran sekolah. Ia keluar dari mobil dengan wajah lesu karena…

“Kakak ke kelas dulu ya” kak Melody pamit sambil berjalan mendekati sebuah mobil berwarna hitam. Kalau tidak salah, itu mobilnya kak Ve.

 

GLEK!

 

Pintu mobil pun terbuka.

 

WUSH!!!

 

Badai! Sekolahan itu terserang badai yang sangat dahsyat! Oke gw lebay.

“Pagi Mel” kak Ve langsung cipika cipikachu. Dan, dari pintu sebelah kanan mobil nampak ada seseorang yang menggedor-gedor pintu mobil dari dalam.

“Kak! Bukain dong” ucapnya, suaranya seperti seorang gadis.

“Em, Ren boleh kakak minta tolong? Tolong tuh si Yuvia bukain pintu mobilnya. Dia kadang-kadang suka ribet tuh” ucap kak Ve kemudian pergi bersama kak Melody.

“Oh, iya kak” balas Rendy sambil berjalan mendekati mobil kak Ve.

 

TOK! TOK! TOK!

 

Yuvia masih terus mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.

“Ada-ada aja” pikir Rendy dan ia membuka pintu mobilnya.

“Selamat pagi tuan…

Put… ri…” matanya terbelalak melihat seseorang di hadapannya.

“Hallo?” Yuvia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rendy yang masih dalam lamunan menatap dirinya.

Langsung saja ia kepalkan tangannya di depan wajah Rendy. Seketika itu juga, Rendy tersadar.

“Eh, maaf-maaf. Udah tuh, sana gih. Buka pintu aja nggak bisa”ejek Rendy.

“Huft, biarin :p wlee” Yuvia menjulurkan lidahnya dan berlalu pergi. Kini hanya tinggal Rendy dan Yona di parkiran.

“Ren, aku ke kelas dulu. Nanti bel jam pertama kamu ke kelas aku ya” Yona pun ikut pergi.

“KENAPA KAK MELODY HARUS SATU SEKOLAH LAGI SAMA AKU?!?!?!” Rendy berteriak di parkiran

“Hey! Anak muda. Kenapa kau parkir di sini. Ini parkiran khusus motor kau tau! Mana pake teriak-teriak segala lagi. Macam orang gila saja kau” ucap seorang satpam. Kalau dilihat-lihat, ini satpam baru.

“Buset, ototnya keker juga nih. Nurut aja deh yang diomongin. Kok kayaknya nggak pernah lihat ya?”

“Om ini satpam baru di sini?”

“Ah, benar sekali kau anak muda. Am-om am-om. Aku ini masih muda kau tau. Macam mana pula kau panggil Om-om. Kau kira aku ini serial kartun kucing dan tikus itu hah?! Sudah! Kau pindahkan mobil kau sekarang ini atau…”

“Atau apa om?”

“AKU LEMPAR KAU KE DALAM ADONAN BUBUK KOPI!!!”

“E-eh jangan om” Rendy mulai ketakutan.

“Bang!”

“Eh iya, jangan bang. Sudah-sudah, nanti…” Rendy melirik ke tempat pos satpam dan melihat setumpukan gelas berjejer rapih.

“Nah… nanti abang saya belikan kopi. Bagaimana?”

“Ah! Mantaplah kalau itu! Sudah, tapi tolong kau parkirkan mobil kau ini di sebelah sana karena ini parkiran khusus untuk motor.”

“Terima kasih bang” Rendy langsung saja memindahkan mobilnya dan berlalu pergi. Tapi ia ditahan.

“Kalau kau mengingkari janjimu..”

GLEK

Rendy hanya menelan ludahnya meantap dengan penuh ketakutan.

“Tak segan-segan aku… Kreekhh” satpam itu memperagakan tangannya di leher seperti orang membunuh.

“Ehehe, nanti mampir aja ke kantin bang” Rendy mencoba mengontrol suasana dan berjalan pelan untuk pergi.

“Ahaha, bagus lah kalau macam itu” satpam itu menepuk-nepuk bahu Rendy keras.

“Buset! Bisa bisa patah ini kalo engsel gue diginiin mulu tiap hari” Rendy terlihat tega dan berjalan menuju kelasnya.

Tapi sebelum ia masuk ke halaman sekolah…

Ia melihat…

Seorang gadis…?

 

TEEET! TEEET! TEEET!

Bel masuk berbunyi.

 

—o0o—

 

Setelah bunyi bel tadi, semua pelajar SMA 48 Jakarta pun melakukan aktifitas belajarnya, walau ada beberapa kelas yang masih gaduh karena belum ada guru yang masuk.  Dan seperti hal sekolah pada umumnya, ada yang tepat waktu, ada pula yang terlambat.  Inilah yang terjadi terhadap satu siswi yang tertahan di luar dikarenakan dirinya telat dan gerbang sekolah sudah tertutup rapat oleh satpam.

Di gerbang sekolah, siswi tersebut berusaha membujuk satpam agar membiarkan dirinya masuk ke dalam sekolah.

“Ayo dong pak, cuma telat 2 menit doang” ucap gadis itu memelas.

“Bah udah telat, amnesia pula kau ini. Dikau itu telat udah 5 menit sejak bel berbunyi.” Jawab satpam yang nampak sewot.

“Ish, nanti Shani Doa-in kopi dikantin habis, dihabisin para guru-guru” ucap gadis bernama Shani tersebut.

“Eh.. kop..kopi habis..”, tampak satpam sedikit ketakutan mendengar ucapan Shani

“Eh..eh tidak bisa ! kau kira aku ini bisa kau takut-takutin.  Pokoknya harus sesuai takaran kopi..eh, maksudku harus sesusai peraturan sekolah.  Gerbang harus diseduh dengan air panas…eh maksud aku harus ditutup 25 menit. Jadi kau tunggu saja dulu disitu bah, tunggu 20 menit lagi aku buka” ucap Satpam tersebut jelas.

Karena malas berdebat lagi, Shani pun terpaksa menunggu di dekat gerbang, untungnya sudah disiapkan kursi panjang yang memang dipersiapkan untuk pelajar yang terlambat.  Selagi menunggu Shani mengeluarkan smarthphone untuk sekedar menghilangkan bosan.  Selagi Browsing sayup sayup terdengar suara seseorang yang sedang mengomel-ngomel, karena penasaran Shani pun mencari sumber suara tersebut.

Tak jauh dari situ terlihat, seorang bapak dan seorang pemuda yang memakai seragam SMA yang lagi sibuk mendorong mobil, suara omelan dari pemuda itu pun semakin jelas di telinga Shani dikarenakan jaraknya hampir dekat dengan jaraknya.

“Ayah oh Ayah, udah pakai acara lupa kunci mobil ketinggalan, pakai acara lupa lagi isi bensin” ucap pemuda itu nampak kesal.  Tak mau kalah Ayah pemuda itu pun berkelit

“Lah, Ayah ingat kok, Cuma ya keyakinan Ayah saja yang salah”

“Keyakinan apaan? Apa hubungannya lupa isi bensin sama keyakinan?”

“Tadi Ayah sangat yakin bensin tadi cukup buat mengantar kamu dan kekantor, ternyata semesta tidak mengijinkannya” ucap Ayahnya dengan penekanan bahasa sok dramatis.

“Semesta disalahin, Keyakinan ayah itu yang sesat !”

“Udah jangan gembira begitu, ayo dorong terus sampai ketemu penjual bensin eceran”, ucap Ayahnya cuek.

Karena malas berargumen dengan ayahnya lagi pemuda itu memilih diam. Shani yang bisa mendengar percakapan mereka berdua hanya bisa menahan tawa, apalagi saat melihat mimik muka pemuda tersebut yang seolah berkata “Siapa juga yang gembira !”.

Saat melewati sekolah SMA 48 Jakarta, Ayahnya baru sadar kalau mereka baru saja melewati sekolah baru anaknya tersebut.  Kemudian dia berkata kepada anaknya

“Kayaknya itu sekolah baru kamu, nak”

Pemuda itu menoleh untuk memastikan, dan ternyata benar, itulah SMA 48 Jakarta yang kini menjadi sekolah barunya di awal semester 2 tersebut. Tanpa berpikir lagi, Dia berhenti mendorong mobil dan berjalan kearah sekolahnya tersebut

“Hoi hoi hoi, bantuin dulu ini Ayah ngedorong nih mobil” Protes Ayahnya

“Yaelah yah, udah bikin telat anaknya. Telpon Budi saja gih anak buah ayah, minta dibawain bensin” ucap pemuda tersebut member solusi.

“Iya juga ya, yaudah nak sana masuk.  Ingat tadi yang Ayah bilang ke mobil, langsung ke Ruang Kepala Sekolah, beliau sudah tau soal kepindahan kamu kesini. Dan JANGAN NYASAR !” tegas Ayahnya.

“Iya Iya”, pemuda itu pun melanjutkan langkahnya.

Sesampai di dekat gerbang, sesaat Dia melihat Shani yang sedang duduk didekat gerbang, merasa dilihat Shani pun mengalihkan pandangannya ke Smarthphone nya. Pemuda tadi tidak ambil pusing dengan cewek yang dilihatnya tadi dan dia akhirnya tepat di depan gerbang.

Melihat gerbang ditutup, ada satpam di dekat situ, dan ada cewek yang sedang duduk, pemuda itu menyimpulkan kalau gerbang ini bakalan dibuka dalam waktu tertentu, dikarenakan dia capek gegara mendorong mobil tadi dan segera ingin masuk kelas pemuda itu pun mulai bercakap dengan satpam

“Bang, bukain dong gerbangnya.  Mau masuk nih.” Ucap pemuda itu ke Satpam

“Bang Bang Bang, sejak kapan kita ini jadi satu orang tuanya bah! Tak rela aku jadi abang kau! Kau murid ya ? tunggu 10 menit lagi ini gerbang kubuka dengan khusyuknya”, jawab satpam itu seenaknya.

“Wah tegas juga nih satpam, rada gokil juga kayaknya” ucap pemuda itu dalam hati.

Tak habis pikir pemuda itu pun melihat lihat kondisi pos satpam, seperti pos satpam sekolah seperti biasa, tapi terdapat petunjuk bagi pemuda itu setelah melihat meja yang terletak di pos satpam yang dimana meja itu terdapat 7 gelas kopi yang sudah nampak habis dan ampasnya mengering.  Pemuda itu pun mencoba untuk mempraktekan obrolan dari petunjuk yang minim.

“Bang, bukakan dong gerbangnya, nanti saya traktir kopi deh” ucap pemuda itu memancing

“Eh..kop…kopi..” gumam satpam yang tampak sedikit tergoda

AHA! KENA LU, KAMPRET !”, ucap si pemuda girang didalam hati.

Shani yang mendengar percakapan pemuda dan satpam ini pun mulai tertarik dengan percakapan mereka, kemudian dia memasukkan Smartphonenya kedalam tas dan kembali mendengarkan percakapan mereka berdua.

No! No! No! No! No! pokoknya Nehi aca aca! Kau tau? Bah kau tak tau? Sini kukasi tau kau, sini, sini. Aku ini satpam anti sogok asal kau tau itu, di kampungku saja aku ini dikenal dengan anti-karat, kau tau itu? Anti-bandel HAH! Kaulah! ” Satpam ngerocos tidak jelas.

“Siapa juga yang nanya, setan !” kesal pemuda itu dibatinnya, tapi dia tidak menyerah dan terus berusaha membujuk satpam tersebut.

“Ayolah, kayaknya 2 gelas kopi besar nikmat banget tuh hmmm nyam nyam”, ucap pemuda itu lagi sambil mengecap ngecap mulutnya. Satpam terlihat bimbang, dia tidak menjawab perkataan pemuda itu, dirinya terombang ambing dalam delusi menikmati 2 cangkir kopi besar yang jarang didapatkan di sekolah.

Melihat satpam yang gelisah tersebut, pemuda itu merasa percakapannya mencapai klimaks, dengan sentuhan akhir dia berkata.

“Tenang bang, ini bukan sogokan kok, ini namanya T-R-A-K-T-I-R”

Tiba-tiba gerbang terbuka, pemuda itu pun disambut senyum ceria sang satpam. Layaknya seorang pelayan yang mempersilahkan masuk seorang bangsawan, satpam itu pun berkata

“Silahkan Masuk wahai murid teladan”, ucapnya sambil senyam-senyum.

“HUAHAHAHAHA!”, tertawa dibatinnya, tapi karena merasa tak enak juga memakai cara ini, pemuda itu berniat mentraktir Satpam ini 3 Gelas kopi saja nantinya. Sebelum masuk dia teringat akan cewek yang dilihatnya tadi, yaitu Shani.  Mengerti keadaannya, dia pun mencoba mengajaknya masuk

“Yuk masuk sama-sama, lagian panas juga kan disitu” ucap pemuda itu kepada Shani.

Shani pun terkejut kalau yang diajak ngobrol itu adalah pemuda itu, setelah selesai rasa terkejutnya dia tersenyum senang dan beranjak dari tempat duduknya. Si pemuda dan Shani masuk, tak lupa Shani mengucapkan terima kasih ke Satpam.

Tapi langkah pemuda itu dihentikan oleh satpam, merasa heran si pemuda pun menoleh ke arah satpam

“Jangan lupa, kopinya pas jam istirahat pertama oke, yang panas dan hot, oke Ucok ?”, ucap sang satpam sambil menaik turunkan alisnya.

“Horas bah, tenang saja abang disitu, jam Istirahat nanti bakalan nongol itu kopi di tempat abang kayak sulap”, jawab pemuda itu walau sedikit kesal dia mendapat panggilan baru dari sang satpam yaitu, Ucok.

Satpam yang terlihat gembira berjalan mundur sambil memutar-mutar kedua jempol tangannya kearah pemuda itu, seperti joget dangdut pada umumnya.  Pemuda itu dan Shani pun melanjutkan perjalanannya.

 

—o0o—

 

Shani yang pemalu berusaha mengajak ngobrol dengan si pemuda selama perjalanan dikarenakan jarak dari gerbang dan gedung sekolah cukup jauh, disitu dia baru ingat dia belum berterima kasih buat hal tadi, mungkin itu bisa dijadikan awal pembicaraan.

“Emm tadi terima kasih ya, kalau gak ada kamu pasti saya masih di luar sampai batas waktu gerbang dibuka” ucap Shani memberanikan diri memulai percakapan

1 detik, .. 2 detik, .. 5 detik tak ada respon dari pemuda itu. Shani yang merasa heran pun menoleh kearah nya, dan ternyata pemuda itu sedang asyik celingak-celingukan menikmati suasana baru sekolahnya yang dinilai lebih luas dari sekolahnya dulu. Wajar bagi Murid baru untuk melihat-lihat tempat baru, tapi tidak bagi Shani yang tanpa tahu kalau pemuda itu anak baru apalagi Shani merasa di cuekin, Shani pun merasa kesal terhadap si pemuda.

Tak lama mereka pun sudah sampai di gedung, Shani yang keburu kesal gegara perlakuan Dion tadi mau berpamitan sekedarnya untuk menuju kelasnya

“Saya ke kelas dulu ya, dan sekali lagi saya berterima kasih buat hal tadi.”

Pemuda itu pun sadar dirinya di ajak ngobrol barusan, dia menoleh kearah Shani tapi Shani sudah membalikan badannya untuk segera beranjak ke kelasnya.

Belum 5 langkah berjalan, Shani dihentikan pemuda itu dengan cara memegang pundaknya. Shani yang terkejut otomatis menoleh kearahnya.  Merasa risih kalau dirinya dipegang oleh cowok, apalagi cowok yang tidak dikenalnya. Dengan sopan Shani melepaskan pegangan tangan pemuda itu di pundaknya.

Dengan heran Shani pun mulai bertanya kepada pemuda itu.

“Kenapa ya?”

Karena merasa tidak sopan memegang pundak cewek ini, pemuda itu berusaha meminta maaf sambil menggaruk-garuk bagian kepala belakangnya.

“Maaf kalau tadi saya kurang sopan.”

Shani diam sejenak, kemudian berkata

“Iya gak apa-apa, terus ada apa ya ?”

“Terima kasih, ngomong-ngomong ruangan Kepala Sekolah dimana ya?” sambung pemuda itu sambil nyengir

“Heh ?” Shani melotot keheranan.

 

—o0o—

 

Kelas 11 B masih berisik di banding kelas yang lain, dikarenakan belum ada guru yang masuk.

“Pagi!” ucap kak Ve masuk bersama dengan seseorang.

Semua mata tertuju matanya terutama para kaum pria. Pintu terbuka dan masuklah seorang pria paruh baya berkacamata dan kumisan, membawa sebuah tas kecil yang di apit di antara ketiaknya.

“Selamat pagi anak-anak, sehat ?” tanya pria payuh baya tersebut. Dan dijawab serentak oleh semua murid-murid

“Selamat pagi pak, Sehat pak”

Merasa ada yang asing, guru itu pun bertanya.

“Kamu murid baru ya? Yang dari Bandung itu?” tanya guru itu.

“Iya pak.”

“Kamu perkenalan dulu gih.” Ucap guru itu.

“Hai, aku Melody Nurramdhani Laksani. Panggil aja Melody.” kak Melody berkenalan di depan kelas.

“Hae Melody!”, ucap para kaum lelaki yang tak henti-hentinya memandang kak Melody.

“Yaudah, kalian santai-santai saja. Bapak ngurus dokumen dulu. Dan disini Ketua kelasnya siapa ya ? Bapak Lupa”

“Saya pak” jawab Ve mengacungkan tangannya.

“Tolong ambilin Map warna biru di meja bapak ya, Bapak mau merangkum materi bahan-bahannya disitu. Tolong ya” Pinta pak guru

“Baiklah Pak, boleh ajak temen pak ?” tanya kak Ve, Pak Guru cuma menganggukan kepalanya tanda setuju sambil mengecek kertas-kertas yang dia keluarkan dari tas nya tadi. Kak Ve pun menarik tangan kak Melody untuk menemaninya ke Ruang Guru, kak Melody cuma bisa pasrah.

Di koridor terlihat seorang Pemuda dan seorang wanita yang berjalan menuju ke arah Ruang Guru. Terjadi percakapan di antara mereka

“Oh hihi, pantes kayaknya saya baru liat gitu.  Anak baru rupanya.”

 

~o0o~

 

“Iya, maaf ya ngerepotin.. eeee, Shani ?” ucap pemuda itu sambil melihat tag name di baju cewek itu.

“eh kok tahu?” Shani terkejut, tapi setelah melihat arah mata cowok tersebut ke tag name bajunya akhirnya dia mengerti. Pemuda itu pun tersenyum karena Shani tahu jawabannya tanpa perlu si pemuda menjawab pertanyaannya.

“Kalau kamu ?”, Shani bertanya, soalnya tidak ada tag name apapun di seragam pemuda ini.

“Panggil saja Dion, Ruang Gurunya yang itu bukan?” kata pemuda itu sambil menunjuk Ruangan yang dimaksud

“Iya, nanti kamu masuk nanti di sebelah kiri dalam ruangan guru ada ruangan lagi, nah itu Kantor Kepala Sekolahnya” jawab Shani menjelaskan

“Ya udah sampai disini saja nganternya, terima kasih ya Shani, maaf ngerepotin”

“Gak apa-apa kok, anggap saja balasan buat di gerbang tadi. Kalau gitu saya ke kelas dulu ya” ucap Shani tersenyum kemudian bersiap meninggalkan pemuda bernama Dion itu. Pemuda itu melambai-lambaikan tangan ke Shani, Shani Cuma bisa tertawa kecil kemudian dia benar-benar pergi.

Sebelum memasuki Ruang Guru, pemuda itu melihat toilet, dia pun berpikir untuk buang air kecil terlebih dahulu sebelum bertemu Kepala sekolah, pemuda itu pun memasuki toilet.  Tak jauh dari situ terlihat kak Ve dan kak Melody yang juga sedang berjalan menuju ke Ruang Guru, sebelum melewati belokan langkah mereka terhenti karena panggilan seseorang

“Kak Ve kak Ve”, ucap seseorang tersebut, kak Ve dan kak Melody pun menoleh kearah sumber suara. Terlihat seorang gadis berlari kecil menghampiri mereka.

“Kenapa Viny ? kok tergesa-gesa gitu”, tanya kak Ve kepada gadis yang bernama Viny

“Ada Rapat Osis dengan semua ketua ketua kelas, yuk kamu ikutan, sekalian kita juga manggil ketua kelas lainnya”, ajak Viny ke kak Ve

“Oh gitu, Yaudah deh.  Mel, maaf ya, bisa gak gantiin aku ngambilin map nya Pak Burhan” ucap kak Ve memohon ke kak Melody dengan muka memelas.

Kak Melody cuma bisa mengiyakan permintaan kak Ve. Kemudian kak Ve dan Viny pun berpamitan ke kak Melody, kak Melody pun hanya bisa melihat punggung ke dua temannya yang sudah pergi.

Kak Melody pun melanjutkan perjalannya ke ruang guru, dan di saat itu juga pemuda tadi baru selesai buang air kecil.  Dan saat pemuda membuka pintu toilet, tanpa di sadari kak Melody, pintu tersebut pun sukses menghantam mukanya walau tidak terlalu kuat. Reflek kak Melody pun terjatuh, karena merasa pintu toiletnya menabrak seseorang, pemuda tadi buru-buru melihat siapa korban “BUKA-PINTU” nya.

Disitu dilihatnya kak Melody meringkuk, meringis sambil memegang hidungnya akibat hantaman pintu tadi.

Merasa bersalah pemuda itu pun mencoba untuk membantu kak Melody, tapi baru selangkah kakinya malah menginjak tali sepatunya yang tidak terikat rapi. Karena keseimbangannya kurang, pemuda itu pun akhirnya jatuh dan tepat jatuh menimpa kak Melody.

“SUDAH JATUH, TERTIMPA TANGGA PULA”

Peribahasa ini lah yang sedang kak Melody rasakan sekarang. Dimulai dari dihantam pintu toilet, sekarang dirinya ditimpa oleh orang yang membuka pintu toilet tersebut. Dan bukan hanya itu saja, dan ini disadari betul oleh kak Melody dan pemuda bernama Dion, Bibir mereka bertemu saat pemuda itu jatuh tadi.  Sebuah Ciuman yang tidak sengaja.

Pemuda itu segera bangkit dari badannya kak Melody, begitu juga kak Melody. Sadar akan kesalahannya Dion berusaha menjelaskan dan meminta maaf. Tapi tidak bagi kak Melody, Amarahnya sudah memuncak, matanya memerah menahan tangis.

“Ma..Maaf, Aku tidak senga…”

Belum selesai pemuda itu ngomong, sebuah tamparan keras diterimanya di pipi sebelah kiri, pemuda itu pun terkejut dan tanpa persiapan apa-apa sebuah tamparan keras diterimanya lagi, kini di sebelah kanan. Merasa belum puas sebuah tamparan bertubi tubi di arahkan ke pemuda bernama Dion ini, kanan-kiri-kanan-kiri.

Pemuda itu berusaha menghentikan tangan kak Melody, tapi kak Melody sudah melancarkan serangan akhir. Yaitu menendang selangkangan pemuda itu dengan kakinya. Pemuda itu tak kuasa menahan perihnya, “Tongkat Baseball” nya hampir pecah oleh tendangan kak Melody.  Pemuda itu pun meringkuk kesakitan sambil memegang selangkangannya, sedangkan kak Melody kembali ke kelasnya dengan berlari sambil menahan tangis.

Merasa ada suara gaduh di Luar, salah satu seorang guru keluar dari ruang guru untuk menge-cek. Dan di lihatnya pemuda itu terlihat bersujud sambil memegang selangkangannya.

Guru itu pun menghampiri pemuda yang dipanggil Dion ini, merasa aneh dengan gaya Dion guru itu pun bertanya

“Kamu ngapain senam Yoga di dekat toilet ?”

“YOGA PALA LU PEANG !” batin Dion, Dion pun masih meringis kesakitan gegara tendangan sakti Melody.

Mengerti keadaan Dion, guru itu pun membantunya berdiri dan membawanya ke Ruang Guru untuk meminta penjelasan dari “ADA APA DENGAN SELANGKANGAN” dan juga bertanya tentang dirinya, karena guru itu baru pertama kalinya melihat Dion di sekolah ini.

Kak Melody ternyata tidak kembali ke kelasnya, tapi dia malah ke toilet wanita yang berada di Lantai 2, dikarenakan dirinya merasa toilet ini bakalan sepi selama jam pelajaran.  Disitulah dia melampiaskan kekesalannya, air keran terus menyucur untuk mencuci mukanya, tapi air matanya terus mengalir.

Masih terngiang-ngiang jelas bayangan dirinya saat berciuman dengan orang yang tidak dikenalnya itu.  Ini dikarenakan Ciuman pertama yang selalu dia jaga dan hanya diberikan kepada orang yang sangat dia sayangi suatu saat nanti itu hancur seketika.

Sedangkan Dion duduk di sofa yang tersedia di ruang guru, dan tetep, masih memegang selangkangan.  Setelah menceritakan tentang dirinya dan tragedi tadi, tapi tentang ciuman itu tidak dia ceritakan, tak sedikit guru yang tertawa, tapi ada juga yang bersimpati, tapi sambil tertawa juga.

Merasa dongkol, Dion lebih memilih memijit pelat selangkangannya, sekedar untuk menghilangkan rasa perihnya.  Guru yang sadar maksud tujuan Dion ke ruang guru pun langsung mengetuk pintu Ruangan kepala sekolah, tak ada jawaban tapi tak lama kemudian pintu itu terbuka.

Dion melihat kearah pintu tersebut dilihatnya seorang Bapak yang tidak terlalu tua, dan tidak pula terlalu muda, kumisan dan mengenakan batik berwarna biru, semakin dilihat bapak itu tak jauh berbeda dengan ayahnya, mungkin usianya kalau dilihat dari muka.

 

—o0o—

 

Rendy baru ingat tadi gitarnya ketinggalan di mobil. Ia kembali ke parkiran sejenak untuk mengambilnya. Tadi sepintas ia melihat lagi gadis itu. Seperti ia mengenalnya. Tapi… dia bersama seorang laki-laki. Kemudian ia kembali ke kelasnya.

 

****

 

Di kelas X-C

“Ya, seperti saya bilang kemarin, hari ini kita akan ada ujian praktek Seni Musik. Jadi, akan Ibu panggil satu persatu untuk maju menyanyikan lagu pilihan kalian” ucap guru gendut pendek dengan rambut sebahu itu memegangi sebuah kertas. Mungkin itu daftar nama untuk nilai.

“Duh, Rendy mana sih?” ucap Yona gundah gelisah melihat-lihat ke arah luar melewati jendela kaca kelasnya. Berharap Rendy datang dengan tepat waktu karena penilaian sudah dimulai.

“Yak, seperti biasa. Ibu akan panggil sesuai nomor absen atau sama saja dengan huruf abjad nama kalian. Mengerti?”

“Mengerti Bu!” ucap seisi ruangan kelas X-C.

 

*****

 

Penilaian satu-persatu dilakukan. Sudah hampir abjad ‘V’ untuk nama depan Yona. Ia semakin gelisah.

Dan tiba saatnya…

“Viviyona Apriani!” ucap guru itu dengan suara keras memanggil nama Yona untuk maju di depan kelas.

“Eh?! E… a-anu bu” Yona berdiri dengan sedikit gugup.

“Kenapa? Ayo maju penilaian” ucap guru itu memainkan pulpennya.

“Saya, be-belum siap bu” ucap Yona pelan.

“APA? SAYA NGGAK DENGAR?” ucap guru itu dibuat-buat.

“Em… 5 menit saja Bu, tolong tunggu sebentaaar… saja” ucap Yona memohon.

“1 menit, kalau lebih kamu tidak dapat nilai.” Ucap guru itu seenaknya. Yona semakin bingung dengan situasi seperti ini

 

TOK! TOK! TOK!

 

“Masuk” ucap guru itu.

“Permisi bu…” wajah Yona langsung menjadi senang.

“Nah! Ini bu, saya minta bantuan teman dari kelas sebelah. Dia jadi pengiring saya saat saya bernanyi” ucap Yona menepuk-nepuk bahu Rendy keras dengan menatap tajam ke arahnya.

“Patah ini lama-lama” batin Rendy yang sudah tak tahan.

“Kamu… dari kelas apa?” tanya guru itu menyelidik dari atas hingga bawah.

“Saya Rendy dari kelas X-A bu” ucap Rendy memperkenlakan diri.

“Ka-kamu Mr. R itu?”

“Eh? Saya?” tunjuk Rendy pada dirinya sendiri.

“Tidak salah lagi. Memang kamu, beruntung sekali sekolah ini punya murid seperti kamu” ucap Guru itu lagi-lagi menepuk pundak Rendy.

“Jirut!”

“Baik,  Yona silahkan mulai.” Rendy mulai di posisi duduk memegang gitarnya, sedangkan Yona berdiri mengambil nafas agar tidak gugup.

“Saya akan menyanyikan sebuah lagu romansa kisah cinta.

Love Story”

Klik Link untuk mengikuti jalan cerita (tidak wajib)

https://www.youtube.com/watch?v=8xg3vE8Ie_E

 

*JRENG*JRENG*CK!*

We were both young,

when I first saw you.

I close my eyes and the flashback starts-I’m standing there,

on a balcony in summer air.

I see the lights; see the party, the ball gowns.

I see you make your way through the crowd-You say hello, little did I know…

 

That you were Romeo,

you were throwing pebbles-And my daddy said “stay away from Juliet”

And I was crying on the staircase-begging you,

“Please don’t go…”And I said…

Romeo take me somewhere, we can be alone.

I’ll be waiting; all there’s left to do is run.

You’ll be the prince and I’ll be the princess,

It’s a love story, baby, just say yes.

 

So I sneak out to the garden to see you.

We keep quiet, because we’re dead if they knew-So close your eyes…

escape this town for a little while… Oh, Oh.

Cause you were Romeo – I was a scarlet letter,

And my daddy said “stay away from Juliet”

but you were everything to me-I was begging you,

“Please don’t go”And I said…

Romeo take me somewhere, we can be alone.

I’ll be waiting; all there’s left to do is run.

You’ll be the prince and I’ll be the princess.

It’s a love story, baby, just say yes-

 

Romeo save me, they’re trying to tell me how to feel.

This love is difficult, but it’s real.

Don’t be afraid,

we’ll make it out of this mess.

It’s a love story, baby, just say yes... Oh…, Oh…

 

I got tired of waiting.

Wondering if you were ever coming around.

My faith in you was fading

When I met you on the outskirts of town. And I said…

Romeo save me, I’ve been feeling so alone.I keep waiting,

for you but you never come.Is this in my head,

I don’t know what to think

He knelt to the ground and pulled out a ring and said…

Marry me Juliet, you’ll never have to be alone.I love you, and that’s all I really know.

I talked to your dad

— go pick out a white dress

It’s a love story, baby just say… yes.Oh…, Oh…, Oh…, Oh.., Oh~

’cause we were both young when I first saw you~

 

PROK!

 

PROK PROK PROK PROK!

Sebuah tepuk tangan meriah dari seisi kelas untuk Yona dan Rendy. Sebuah siulan para lelaki pun tak terhindarkan.

“Terima kasih” ucap Yona dan Rendy berbarengan. Terlihat guru yang sedang menilai pun…

“Hiks… hiks… hua…! Robek! Aku kangen robek!” guru itu menangis terjerit-jerit.

“Hah? Robek apanya bu?” tanya Yona heran

“Hiks… ja-jadi, Ro-robek itu pacar saya saat zaman penjajahan Belanda” guru itu mengambil sekotak tisu.

 

“EH?!?!?!”

 

—o0o—

 

“Gila! Ngedengerin flashback tuh guru seni musik gokil juga” ucap Rendy.

“Hahah… wah iya tuh, dasar tuh guru. Ada-ada aja lah. Nama pacarnya Robek. Kerenan dikit kek. Kayak Robert gitu, lah ini Robek? Hahaha” Yona ikut tertawa. Ya, ini saatnya Rendy kembali ke kelasnya.

Rendy tadi untung saja sudah izin kepada guru Seni Musik yang mengajar kelasnya beberapa menit yang lalu, tapi pelajarannya belum selesai saat ini.

“Yon, aku ke kelas dulu ya. Ini masih jam pelajaran satu. Lagipula tadi kamu nyanyinya juga nggak ada lima menit kan? Yaudah bye” Rendy berlalri menuju kelasnya sambil menenteng gitar.

“Oke, sip! Thanks yah Ren!” ucap Yona melambai. Rendy menoleh ke belakang dan mengacungkan jempol.

 

*****

 

“Baik anak-anak, saya akan mengadakan ujian mendadak. Yaitu ujian menyanyi.”

“APA?!” ucap seisi kelas X-A

“Simple kok, hanya bernyanyi saja. Apa susahnya? Saya kasih waktu 3 menit untuk berpikir lagu apa yang akan kalian nyanyikan di depan kelas.

“Rendy manas sih Yo? Shani juga gak ada di kelas.” Tanya Guntur pada Rio di beakangnya.

“Mana gue tau om, kalo si Rendy tadi bilangnya mau izin bantuin kelas lain bikin tugas. Kalo si Shani ntah berantah” ucap Rio menaik-turunkan bahunya.

“Kampret lah si FrankenEinstein. Mana ada ujian mendadak lagi” ucap Guntur mengeluh

“Wah! Sialan tuh guru” ucap Guntur yang tidak sengaja dengan nada keras.

“Siapa tadi yang ngomong Sialan?” tanya guru itu. Ia sudah melotot ke arah bangku Guntur

“Dia bu!” tunjuk Rio pada Guntur.

“Kampret lu Yo” ujar Guntur mulai ketakutan.

“Maksud saya tadi Si Alan bu. Iya, Si Alan” ucap Guntur ngeles.

“Memangnya kelas ini ada yang muridnya bernama Alan?” tanya guru itu pada semua murid di kelas itu.

“Nggak ada bu!” ucap seisi kelas.

“Kamu! Ghifari Guntur! Maju dan nyanyi sekarang juga!”

“Eh?! Tapi bu… saya belum siap” ujar Guntur terkejut.

“Maju atau saya tidak kasih nilai?” ucap guru itu mengancam.

“Iya bu” Guntur maju sambil berpikir keras, lagu apa yang yang akan dinyanyikannya di depan kelas saat ini.

Guntur sudah ada di berdiri di depan, tepatnya di tengah-tengan papan tulis. Ia menemukan sebuah ide bagus.

“Kamu mau nyanyi apa?” tanya guru itu mulai mencatat sikap Guntur saat di depan kelas.

“Saya mau nyanyi… em… judulnya…

Kuaci bu!” ucap Guntur semangat.

“Kuaci? Lagu apa itu? Daerah? Pop? Jazz? Rock? Dangdut? Campur sari? Atau ciptaan kamu sendiri?”

“Ciptaan saya sendiri bu” ucap Guntur dengan nada lantang.

“Baik, ayo mulai.”

“Terima Kucai cinta…

Untuk segalaya…~

Kau berikan lagi…”

“Bentar-bentar, ini kan lagunya Afgan? Bener nggak temen-temen?” kampret ini si Rio.

“Iya bu!”

“Ganti-ganti! Liriknya salah itu. Ganti lagu lain aja kalau kamu tidak hafal” ucap guru itu tegas.

“Kuaci ibu…

Kepada beta!

Tak terhingga sepanjang masa~

Hanya… Lihat ke depa’an~

Karna jika menoleh…

Air mata ini…”

“Loh? Ini kok jadi nggak nyambung gini sih! Guntur! Kamu yang benar! Atau saya kurangi nilai kamu. Dan ini yang terakhir, kalau salah lagi, nilai kamu kurang dari KKM” ucap guru itu marah.

“Yah, jangan bu. Oke, oke. Yang ini bener. Lagu dari Patin.”

“Itu ikan kali om!” sahut Rio.

“Ah… kantin!”

“Itu tempat makan om!”

“Fatin kali Tur” ucap seorang pemuda yang berdiri di pintu.

“Permisi bu, saya sudah selesai. Terima kasih izinnya” pemuda itu berjalan menuju guru tersebut.

“Baik, duduk di bangku kamu” Rendy duduk di bangkunya.

 

Tiba-tiba sebuah kertas melayang ke kepala Rendy. Ia mengira ada yang mengusilinya. Ia melihat ke arah samping dan sekitarnya. Ia melihat ada seorang gadis yang memelototinya sambil menggembungkan pipinya. Seperti mengkodenya untuk membaca kertas itu.

Rendy mulai membuka kertas itu.

“Kamu dari mana sih? Dari tadi nggak ada di kelas. Awas kalo mabal pelajaran, aku bilangin ke kak Melody.”

“Er…” Rendy megambil pulpennya dan menuliskan balasan kertas itu. Dan melemparnya kembali.

 

~o0o~

 

“Tuan putri… aku tadi bantuin Yona ngerjain tugas Seni Musiknya. Puas?”

Yuvia membacanya dengan serius. Kemudian menoleh ke arah Rendy. Seraya berkata dengan mimik wajah “Awas kalo diulangin lagi, lain kali bilang-bilang dulu”.

Rendy hanya menatap malas.

 

~o0o~

 

“Ayo Guntur” ucap guru itu. Kali ini lebih serius.

“Saya hafalnya Reffnya saja bu” ucap Guntur

“Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau reffnya saja dan benar, nilai kamu saya janjikan 80” ucap guru itu.

“Inilah akhirnya, harus kuakhiri…

Sebelum burungmu semakin dalaaam~

Maafkan diriku, memilih setia!

Walaupun kutahu burungmu!

Lebih besar… owh! Owuho~

Lebih besar da… rinya…~”

“Pffttt…. HAHAHA! BRUAKAKAKAK!” riuh ramai seisi kelas mendengar.

“Buset om… burung siapa om! Hahaha” tawa Rio pecah bersama seisi kelas.

“Hm… ada-ada saja kamu. Sudah sana duduk. Nilai kamu 70” ucap guru itu mendata.

“Loh? Kok gitu bu?” tanya Guntur heran.

“Kan tadi saya bilang kalau LIRIKNYA BENAR. Dan kamu mengganti lirik Cinta dengan Burung” ucap guru itu sinis.

“Rasain lu om!” ejek Rio.

“Diem lu!” ucap Guntur bete.

 

*****

 

“Selanjutnya… C…

Cindy Yuvia” panggil guru itu.

“Tuh Yuv, dipanggil. Sana gih” senggol Viny. Semua mata tertuju padanya. Yuvia meluai maju. Pandangannya hanya tertuju pada satu arah. Ya, pada seseorang.

Pandangan mereka bertemu. Yuvia tersenyum simpul.

“Silahkan” ucap guru itu mempersilahkan.

“Bu, boleh saya mengiringinya?” Rendy tiba-tiba mengacungkan tangannya.

“Boleh, pasti akan lebih bagus” ucap guru itu. Rendy maju sambil menenteng gitarnya

“Kurang ajar si Einstein. Deket-deketin dia. Awas, tunggu perhitungan gue.” Mata seseorang melirik pada teman-teman di belakangnya.

“Tunggu waktu pulang.” Kemudian salah satu dari mereka menelfon seseorang diam-diam dengan beralasan buang air kecil.

“Bu, permisi ke belakang.”

“Cepat ya.”

“Iya bu” pemuda itu nampak tersenyum seringai ke arah Rendy.

 

TIT!

 

“Ben, butuh bantuan lo. Ada kerjaan nih.”

“…”

“Bayarannya ada di tangan.”

“…”

“Pulang sekolah, kita main rame-rame bro…”

“…”

“Sip lah, tungguin kita di gerbang depan sekolah. Ntar nunggu perintah, kita giring ke tempat sepi. Lalu… lu tau kan harus apa?”

“…”

“Clear, thanks bro.”

 

TIT!

 

“Tunggu aja Einstein.”

 

*****

 

 

“Lagu ini, menggambarkan perasaan yang saat ini aku rasakan.” Ucap Yuvia melirik ke sebelahnya. Rendy suah siap dengan posisi duduk memetik gitarnya.

“CIE!!!” sorak Viny. Ia mengikuti arah pandangan mata Yuvia dan benar. Tertuju pada seseorang dalam prediksinya. Yuvia menghela nafas panjang

“Jatuh Hati”

Klik link untuk mengikuti jalannya cerita (tidak wajib)

https://www.youtube.com/watch?v=9gY0vpjbDuA

Ada ruang hatiku yang kau temukan

Yuvia meliahat ke arah pemuda itu. Ya, Rendy

Sempat aku lupakan kini kau sentuh

“Rain, sempat aku ingin ngelupain kamu. Tapi, thanks Rendy, kamu ngingetin dia lagi sama aku.”

Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati~

“Aku bingung, aku jatuh hati pada siapa. Seseorang yang aku rindukan dulu. Atau… ah, aku semakin bingung. Aku jatuh cinta, atau jatuh hati. Tapi, aku selalu nyaman di dekat kamu.”

 

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu

“Aku inget semua kata-kata kamu Ren. Itu hampir sama dengan dia.” Seketika Yuvia teringat saat mereka menobrol di taman sore itu.

Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia

“Se-simple anak kecil. Sayang, nggak perlu alasan.”

Kuharap kau tahu bahwa ku, terinspirasi hatimu

“Melupakan sama saja dengan mengingat kembali.”

Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?

“Untuk saat ini, aku nggak bisa memiliki Rain karena aku nggak tahu kamu di mana. Tapi, masih bisakah aku berada di dekat Rendy?”

 

Ada ruang hatiku, kini kau sentuh

“Aku hanya ingin sekali jatuh di antara cinta dan hati.

Seperti bunga mawar yang melambangkan cinta.

Seperti burung merpati yang memiliki satu pasangan.

Seperti bunga eidel weiss yang berarti keabadian”

Aku bukan jatuh cinta, namun aku jatuh hati…~

“Aku selalu ingin jatuh cinta sama orang yang ngasih aku begitu banyak kenangan. Sampai aku nggak bisa ngelupain dia sama sekali.”

Ku terpikat pada tuturmu~, aku tersihir jiwamu…

“Memang, aku lelah menunggu, menunggu, dan terus menunggu.”

Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia

“Tapi…

Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu…

Asal aku sama kamu…

Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?

 Aku mau…”

 

Katanya cinta~, memang banyak bentuknya…

“Cinta tak memandang apa pun. Hati yang merasakan cinta itu.”

Ku tahu pasti sungguh aku jatuh hati…!~

“Entah apa yang kurasakan.”

 

Ku terpikat pada tuturmu~, aku tersihir jiwamu

Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia

Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu

Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu

“Aku selalu menunggumu di sini Rain, menunggu janji kamu…

Tapi bolehkah ku selalu di dekatmu

“Menemani, Menjaga, dan selalu ada di sampingku~”

 

PROK! PROK! PROK!

FIUIT! FIT! FIT FIU!

“Luar biasa! Kita beri applause untuk Cindy Yuvia semuanya!!!” ucap guru itu juga ikut bertepuk tangan.

“Uwuwuwu! Baby Dino keren!!!” ucap Viny berdiri diikuti seisi kelas. Kecuali hanya beberapa yang hanya diam memandangnya tajam.

Riuh ramai satu kelas membuat semuanya terasa sangat bangga pada diri Yuvia. Rendy tersenyum menoleh ke arahnya. Tanpa Yuvia sadari sendiri, air matanya jatuh sambil tersenyum haru.

Rendy yang menyadari itu hendak bangun dan menyeka air matanya. Yuvia tau itu. Dengan segera, ia meletakkan tangannya tepat di depan Rendy. Mengkodenya agar diam saja.

“Biarkan air mata ini menetes. Aku hanya ingin melihat ke depan. Karena jika aku menoleh, air mata ini akan terlihat” ucap Yuvia pelan tanpa menoleh pada Rendy. Rendy yang mengerti akan hal itu, terduduk kembali sambil bertepuk tangan dan juga tersenyum melihat wajah cantik Yuvia yang tersenyum dari samping.

“95 buat kamu Yuvia!” ucap guru itu langsung menulis abjad A+ dan angka 95 di daftar presensi Yuvia.

“Baik, terima kasih Yuvia dan Rendy kalian boleh duduk di tempat kalian masing-masing.”

“Terima kasih Bu” ucap mereka berdua, terlihat Yuvia dengan cepat menyeka air matanya sendiri.

“Uwuwuw… Baby Dino aku!” Viny langsung memeluk-meluk Yuvia dengan erat. Setidaknya, bisa meredakan perasaan emosional yang tadi habis menangis.

“Saya harap, nanti kalian semua bisa menyanyi seperti itu. Nah, sekarang…

Shani Indira Natio?” ucap guru itu memanggil sambil celingukan. Semua murid seisi kelas sama halnya hanya celungak-celinguk mencari sang pemilik nama.

“Kemana dia?”

“Nggak tau bu!”

“Sakit atau bolos?”

“Nggak tau juga bu!” ucap semuanya.

“Ya sudah, lewat saja dulu. Selanjutnya…

Rendyan Aldo?”

“Saya Bu! Wah itu namanya kebalik bu. Harusnya Aldo Rendyan, sama ada nama tengah saya yang belum kesebut” ucap Rendy kemudian maju membawa gitarnya lagi.

“Tapi di sininya begini. Ya sudah, nanti ibu beritahu wali kelas kamu untuk membetulkan nama kamu. Sudah, sekarang kamu maju dulu” suruh guru itu.

Rendy melangkahnkan kakinya perlahan ke depan kelas. Ia duduk di tengah dengan sebuah kursi sederhana. Melihat-lihat pandangan seseorang. Pandangan mereka bertemu. Ya, Yuvia kini sedang tersenyum pada Rendy. Sorot maatnya mengkode “Berikan yang terbaik, kalo nggak, siap-siap aku aduin ke kak Melody.”

Rendy hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya pertanda “Iya, iya bawel”

“Selamat pagi gais” sapa Rendy hangat. Ia tahu, semua teman di kelas akrab kecuali Dika dan beberapa temannya.

“Cih, penampilan lo nggak mungkin sebagus tadi.”

“Gue di sini mau mempersembahkan sebuah lagu. Untuk seseorang yang spesial.”

“Judulnya…

 

~Dekat di Hati~”

Klik link untuk mengikuti alur cerita (tidak wajib)

 

Dering telfonmu membuat ku tersenyum di pagi hari…

Seketika, Rendy teringat sebuah panggilan di pagi hari yang mengusik dirinya. Rasanya, ia ingin marah.

Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi…

“Aku pengen marah. Tapi, kamu ngingetin aku lagi sama dia. Kamu memberi kepercayaan kalo aku bisa ketemu lagi dengan seseorang yang sangat penting untukku. Walau aku tahu, semuanya hanya angan-angan dan khayalanku.”

“Lucu aja kamu cerita kalo kita ketemu dalam mimpi. Tapi sebenarnya, aku juga ketemu kamu dalam mimpi.”

Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini…

“Sejak bersama kamu…

Aku merasakan lagi kehadirannya di sini…

Di hati…”

Tawa candamu, menghibur saat ku sendiri…

Seketika Rendy teringat tentang candaan dan tawa Yuvia di pagi hari yang mengusiknya. Terasa sangat menyenangkan apalagi saat dia marah-marah, ngambek, dan tertawa bersama.

“Aku berpikir, aku selalu sendirian di tengah lalu lalang keramaian dunia ini. Tapi, kamu mengajarkan aku apa artinya sebuah keramaian di tengah kesepian.”

 

Aku di sini, dan kau di sana~

“Aku di sini, dan kau di sana. Entah kau ada di mana, tapi aku percaya, kamu selalu menungguku. Aku juga, akan menagih janji kita. Aku akan terus berusaha mencari. Sementara ini, thanks Yuv, udah buat aku inget dan percaya lagi sama dia yang kurindukan.” Senyum terbinar dari wajah Rendy menatap ke satu arah. Hanya pada yuvia yang sedang tersenyum mendengar lantunan suaranya yang menghipnotis seisi kelas.

“Suaranya mantep juga Dik.”

“Apaan sih lu! Masih kerenan gue kali. Ya nggak Yuv?”

“Eh, lu apaan sih” ucap Viny sewot yang menyadari ada beberapa pemuda yang menggoda temannya.

“Udah diem lah. Ada yang galak ngejagain tuh,” ucap David

“Yelah, iya-iya.”

Hanya berjumpa via suara…

“Kita hanya berjumpa via suara. Pagi tadi, tanpa bertegur sapa. Apa…

Aku diam-diam ada rasa sama kamu?”

 

Namun ku s’lalu menunggu saat kita aka ber… jumpa…

“Di satu sisi, aku bingung. Menetap pada hati yang masih kupertahankan…

Atau hati baru dari dalam lubuk hati aku, aku selalu menunggu perjumpaan kita suatu hari nanti Yupi.”

Meski kau kini jauh di sana~

“Aku nggak tahu kamu seberapa jauh di sana. Aku nggak peduli kamu sudah punya hati baru yang mengisi hati kamu. Yang jelas, aku hanya ingin ketemu dan meluk kamu walau pun Cuma sekali.” Rendy menatap ke arah jendela kelasnya.

“Aku juga nggak tau kamu seberapa jauh Rain. Tapi, hati ini selalu menunggu. Aku berharap kita bertemu, kamu memeluk aku hingga tangis bahagia kujatuhkan lagi-lagi dan terus. Kalo bisa, aku pengen meluk kamu selamanya.” Batin seseorang itu.

Kita memandang langit yang sama…

Rendy mengingat kembali saat ia memandang langit senja sore bersama Yuvia. Dan juga saat pagi tadi, dia berdiri di balkon. Kita selalu memandang langit yang sama setiap hari. Hanya perlu menemukan satu sama lain. Karena aku yakin Arah Sang Cinta dan Balasannya dan hati…

Jauh di mata, Namun…

Walau kita jauh di mata, namun…

Dekat di hati~

Hati kita terhubung, dan…

Dekat di hati~”

 

~o0o~

 

Merasa lama menunggu kak Melody. Kak Ve mulai mencari keberadaan sahabatnya itu.

“Naomi, tau Melody di mana nggak?”

“Nggak tau Ve, dia belum ada masuk ke kelas lagi” jawab kak Naomi.

“Ya udah, aku cari dulu ya” kak Ve kemudian keluar kelas. Mencari-cari kebedaraan kak Melody di mana.

Dia melewati ruang kepala sekolah. Dan ia melihat lagi pemuda itu yang sekiranya adalah murid baru di sekolah ini. ia terlihat sama, tapi kelakuannya berbeda. Kakinya terus membuka lebar mengangkang dan kepalanya tertunduk lemah seperti ada sebuah beban yang sa… ngat panjang hari ini.

“Hihihi, lucu juga anak barunya” Ve tertawa sejenak melewati ruang kepala sekolah dan melanjutkan pencariannya.

“Melody ke mana sih?” hingga kak Ve menelusuri sampai ke toilet wanita. Dan terdengar suara…

“Hiks…”

Ia hanya menebak-nebak. Dan suara itu terdengar kembali. Kak Ve berinisiatif untuk mencoba bertanya, apakah benar itu adalah kak Melody.

Kak Ve mendekatkan telingannya ke pintu sembari mengetuk pelan.

“Mel? Itu kamu?” tanya kak Ve dari luar.

“Ve? Nggak, Ve nggak boleh tau.” Orang yang di dalam langsung saja menghapus air matanya. Tapi tetap saja, pipinya masih memerah dan juga bekas linangan air matanya masih tersirat.

“Iya Ve, bentar!” ucap seseorang itu dari dalam.

Kemudian pintu terbuka perlahan dan menampakan seseorang itu.

“Melody? Loh itu kenapa muka kamu merah? Dan itu kamu kok kayak abis nangis?” tanya kak Ve khawatir. Benar saja itu adalah kak Melody. Ia hanya diam, tak lama kemudian langsung memeluk kak Ve.

“Loh? Eh eh kenapa?” kak Melody tidak menjawab cukup lama.

“Em… ini tadi aku kepentok” ucapnya mencari-cari alasan drama KEPENTOK PINTU.

“Gimana ceritanya?”

“Tadi aku mau ke kamar mandi, terus aku nggak tau di dalem ada orang tapi pintunya masih ketutup. Pas aku mau buka, eh… aku kepentok pintu gitu terus jatuh. Agak sakit sih, tapi aku nggak papa kok” berharap kak Ve percaya pada argumennya.

“Beneran? Siap orangnya?”

“Ah pokoknya itu lah, tyuk balik ke kelas aja” ucap kak Melody sambil menarik tangan kak Ve.

 

*****

 

Mereka berjalan terus menyusuri koridor, sampai melewati ruang kepala sekolah lagi dan nampak seorang pemuda tadi. Kak Melody dengan cepat mengajak kak Ve berjalan cepat. Pandangannya menuju ke arah pemuda itu dengan penuh amarah sampai mengepalkan tangannya. Pemuda itu menyadarinya dan hanya menelan ludahnya.

“Mel, kenapa cepet-cepet sih?”

“Gapapa, dah ah yuk!” kak Melody menarik tangan kak Ve dengan cepat.

Anyway, sebelum sampai ke kelasnya… mereka pasti melewati ruangan kelas X terlebih dahulu dari mulai X-E sampai paling ujung yang kita ketahui adalah kelas unggulan yaitu kelas X-A #azeekkk

Kak Melody dan kak Ve berjalan pelan melwati ruang sekretariat yang kalian tahu pasti isinya mikrofon, TV LCD pemberitahuan dan meja sekretariat. Tak lupa juga dengan CCTV pastinya *itu di sekolah gw bro, sama aja kayak sekolahannya si tokoh utama*

Langkah mereka terhenti sejenak mendengarkan suara lantunan melodi yang indah dari kelas X-A. Petikan gitar dan suara menjadi satu membentuk suatu keharmonisan.

“Tunggu, kamu denger ada suara orang nyanyi nggak Ve?” tanya Melody menghentikan langkah mereka berdua.

“Iya Mel, kayaknya dari kelasnya adik kita deh” ucap kak Ve. Mereka berjalan perlahan mengikuti sumber suara dan sampai di depan kelas X-A. Benar saja, Rendy sedang bernyanyi saat itu. Kak Melody sperti teringat seseuatu dengan lagu ini.

“Lagu ini…

Nggak salah lagi.” Batinnya.

“Ve, cepet kamu ambil penyanggah mikrofon di sekretariat. Sekalian aku juga mau ngambil mikrofonnya.” Ajak kak Melody tergesa-gesa.

“Tapi buat apa?” tanya kak Ve bingung sekaligus heran.

“Udah, ikutin aja” merasa yakin dengan temannya, mereka mengambil dua alat itu. Langsung menposisi on kan semua speaker dan kontrolnya di ruang sekretariat. Lalu mereka berdua kembali lagi dengan berlari menuju kelas X-A.

 

—o0o—

 

Tiba-tiba, dua orang kakak kelas masuk ke ruang kelas Rendy. Guru di sana pun terkejut, tapi guru itu membiarkannya karena tau maksud dari dua orang itu. Rendy sangat menghayati nyanyiannya sehingga menutup mata adalah cara untuk meresapinya. Tiba-tiba seperti ada gerakan bayangan di depannya. Guru di sana pun terkejut, tapi

Dengan cepat ia menyadarinya dan membuka matanya. Sebuah mikrofon telah terposisikan rapih di depannya. Ia melihat sunggingan sebuah senyum dari seseorang yang membawakan mikrofon itu seraya berkata dalam hati.

“Thanks kak Mel, kak Ve.” Ucapnya tersenyum menatap ke arah mereka berdua.

Kak Melody dan kak Ve membalas senyumannya. Mata kak Melody berbinar dan mengacungkan kedua jempolnya untuk adiknya.

Semua speaker pun menyala di ruang kelas sampai ruangan kantor. Terdengar suara seseorang menyanyi.

Shani yang masih berlari karena telat pun ikut mendengar suara itu terhenti sejenak.

“Ini kan suaranya…

Rendy.” Pikirnya yang masih berlari menuju kelasnya

 

Dering telfonmu membuat ku tersenyum di pagi hari…

Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi…

Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini…

Tawa candamu, menghibur saat ku sendiri…

 

Di kelas X-C…

 

“Ini suara siapa Yon?” tanya Hanna.

“Kayak suara sepupu kamu” ucap Lidya.

“Hmm. Nggak salah lagi ini suaranya.”

 

Begitu juga di kelas X-B

“Zal, ini suaranya anak baru itu deh kayaknya.” Ucap Gibran.

“Wuih! Mantep juga” ucap Akbar yang sudah kebiasaannya memegang stick drum.

“Gimana kalo kita ajak dia bikin Band aja Zal, cocok tuh” usul Gibran.

“Akbar! Gibran! Kenapa kalian mengobrol terus!” ucap guru yang sedang mengajar.

“Eh maaf bu. Lagunya enak. Ya nggak temen-temen?”

“IYA BU!” ucap seisi kelas.

“Ini siapa sih yang nyanyi?”

“Nggak tau bu!” ucap mereka serentak.

“Ya sudah, break dulu sebentar. Habis itu kita lanjutkan lagi.”

“Hore!” suara kaum perempuan tampak lebih mengungguli.

“Lawan kita itu BEATTEN BOYS. Apa kita sanggup?” pikir Rizal.

 

Aku di sini, dan kau di sana~

Hanya berjumpa via suara…

Namun ku s’lalu menunggu saat kita akan ber… jumpa…

Meski kau kini jauh di sana~

Kita memandang langit yang sama…!

Jauh di mata, Namun…

Dekat di hati~

 

How… Wow…

Aku di sini, dan kau di sana~

Hanya berjumpa via suara…

Namun ku s’lalu menunggu saat kita akan ber… jumpa…!!!

 

Meski kau kini jauh di sana~

Kita memandang langit yang sama…

Jauh di mata, Namun kau dekat di hati!

Jarak dan waktu tak kan berarti…

Karna kau akan selalu di hati~

Bagai detak jantung yang kubawa kemana pun ku pergi…~

Oh..owh…wow…!

 

Meski kau kini jauh di sana~

Kita memandang langit yang sama…

Jauh di mata, Namun…

Dekat di hati~

 

Dekat di hati~

 

De…kat.. Di…

Hati~

 

Rendy menghela nafas panjangnya di akhir nada. Hening sejenak, cuku lama. Hingga sebuah suara mengawali.

PROK!

Sejenak terhenti lagi.

PROK! PROK! PROK!

PROK! PROK! PROK!

PROK! PROK! PROK!

FIT FIT FIU!

FIUIT FIT! FIU!

“HORE!!!” ucap semuanya dengan nada keras.

“Luar biasa! It’s amazing! More applause for you Rendy!” ucap guru itu dengan nada keras nan senang.

Seluruh tepuk tangan dari masing-masing kelas terdengar jelas berpadu.

“Terima kasih Bu.”

 

~o0o~

 

“Hadeuh… semoga aku masih sempet” ucap seorang gadis penuh peluh menuju kelasnya. Sekian lama berlari akhirnya ia sampai di depan pintu kelasnya.

“Sebelum itu, aku mai bilang kalo lagu ini aku persembahin spesial, pertama untuk…

 

Yuvia…”

“CIE~!!!” riuh ramai satu kelas.

“Cie Baby Dino” ucap Viny sa,bil menyenggol bahu Yuvia.

“Mamah Dino apaan sih” Yuvia tersipu malu. Wajahnya memerah tertunduk samhil tersenyum-sebyum sendiri. Rendy tersenyum menahan gelagak tawa melihat hal itu.

“Dan satu lagi aku persembahin buat seseorang yang selama ini aku cari…” ucapan Rendy menggantung

“Hosh, hosh, hosh… permisi…” ucap gadis itu menunduk

Rendy menoleh ke arah pintu mendapati seorang gadis dengan peluh mengalir deras di dahinya.

“Tunggu…

Kalung itu…

Nggak salah lagi pasangan dari punyaku.” Ucap Rendy tercengang. Gadis itu menunduk dan terlihat sebuah kalung berbentuk hati berlian merah.

 

 

“Shani.”

“EH?!?!?!”

 

-To Be Continued-

Authorized By : @Rendyan_Aldo

Colaboration By : @luphari

~Notes~

Hallo gais, gimana?

Jadi gw ada konsep CrossOver di cerbung ini dan berkolaborasi dengan cerbung Beautifull Aurora I bersama dengan om Dion. Dan part ini… Kepanjangan ya? Maaf-maaf hehe.

Ikuti terus “Arah Sang Cinta dan Balasannya” ~

Komen, kritik, saran perlu asupan

 

Iklan

5 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward” Part 18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s