“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 8

Setelah tadi Robby di jalan sempat melihat orang yang mirip seperti Shania. Ia pun menjadi terdiam, memikirkan orang yang tadi ia lihat. Ya, itu Shania. Ia tidak mungkin salah lihat. Ia sangat hapal sekali, walaupun sudah setahun tidak memberi kabar tetapi ia masih menyimpan foto-fotonya. Dan ia juga sempat untuk terakhir kalinya bertukar kabar melalui video call bersama Shania. Jadi dia sudah hapal sekali dengan wajah Shania..

Helaan nafas kini terdengar dari mulut Robby, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia harus mencari orang tersebut? Untuk memastikan bahwa itu adalah Shania, tetapi ia harus mencari kemana? Robby meneguk minumnya kembali.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 2.15 pagi. Dan Robby masih belum bisa tidur sama sekali, ia masih memikirkan orang yang mirip dengan Shania tadi. Apa jangan-jangan itu memang Shania? Robby beranjak dari kursi di meja makan, ia menuju ruang tengah untuk mengambil handphonenya.

Ia membuka aplikasi Line miliknya, banyak sekali masuk chat sedari tadi. Memang setelah ia mengantarkan Shani pulang ke rumah, dan ketika berada di apartement, ia langsung menaruh handphonenya di sofa ruang tengah. Pertama-tama ia membuka chat dari Shani, yang memang terlihat lumayan banyak..

ShaniIndiraN : Udah sampe rumah?
ShaniIndiraN : Kalau udah langsung bebersih ya.

ShaniIndiraN : Robbyyyyy??

ShaniIndiraN : Ish, kemana sih? Kok gak dibales?:(
ShaniIndiraN : Robby?:(

ShaniIndiraN : Yaudah deh, aku tidur duluan ya? Kamu jangan larut banget tidurnya, besok kuliah kan? Jangan begadang, dadah.

Robby : Udah dari tadi kok nyampenya, maaf baru ngabarin. Tadi ketiduran, maaf ya. Sleep tight then Indira, have a nice dream 🙂

Robby menghela nafasnya, kemudian ia pun menaruh kembali handphonenya. Kalau memang benar orang yang tadi ia lihat adalah Shania, bagaimana nasib Shani? Memang akhir-akhir ini ia merasa Shani semakin menjadi sikapnya pada dirinya, dalam artian ia semakin perhatian dan apalah itu. Dan ia pun juga mungkin sudah bisa membuka hatinya untuk Shani, tetapi Shania? Bisa saja Shania melupakan janjinya dulu, dan sekarang apakah ia harus memantapkan hatinya untuk Shani?

~

“Baiklah, mata kuliah hari ini telah selesai. Saya harap tugas yang saya berikan tadi, dikumpul tepat waktu lusa nanti.” Dosen tersebut berjalan keluar dari kelas Robby.

Robby pun bangkit dari kursinya, ia tidak konsen sekali hari ini. Pikirannya masih melayang tentang orang yang mirip Shania kemarin. Ia pun berjalan keluar kelas, tetapi baru saja ia ingin beranjak lebih jauh dari kelasnya. Tiba-tiba ada yang memanggil namanya..

“Robby!”

Langkah Robby pun terhenti, dan ia menoleh kearah belakang..

“Ada apa, Gre?”

“Ada apa, ada apa. Kita sekelompok tau! Jangan sampe lupa, hari ini kita ngerjain tugasnya. Di rumah gue nanti ngerjain tugasnya,” ucap Gre.

“Gak usah gitu juga kali. Okedeh, nanti gue ke rumah lo ngerjain tugasnya,” ucap Robby.

“Jangan sampai lupa Rob.”

“Iya, gue gak lupa kok. Udah dulu ya, gue mau ke kantin dulu.”

Gre mengangguk, kemudian Robby pun berjalan menuju kantin. Di kantin sudah ada dua temannya yaitu, Aldy dan Reizo yang sedang asik mengobrol. Robby pun duduk di samping Reizo, ia menaruh handphonenya di atas meja.

“Kenapa muka lo kusut gitu deh? Kayak anak kecil gak diberi uang jajan,” ucap Aldy.

Robby menggeleng, “Gakpapa gue, santai ahelah.”

Reizo dan Aldy mengangguk-ngangguk, sambil mulut mereka membentuk huruf ‘o’. Reizo dan Aldy pun melanjutkan pembicaraan mereka, sedangkan Robby terdiam melamun. Sedari tadi, handphone Robby bergetar terus menerus. Dan Robby tidak menghiraukannya, sekedar untuk melihat saja tidak..

Reizo dan Aldy saling memberi kode melihat Robby yang sedari tadi melamun, entah apa yang sedang mereka rencanakan..

“Kenapa dah Rob? Lo kayak ada masalah gitu deh,” ucap Reizo.

Robby melirik kedua temannya itu, kemudian ia menghela nafasnya pelan sambil menatap lurus ke depan.

“Gue kemarin liat Shania,” ucap Robby pelan.

“Hah?! Lo serius?! Dimana? Bukannya lagi di Singapore ya?” tanya Reizo.

“Kemarin pas balik mau pulang, gue gak sengaja ngeliat di mobil orang. Gue lagi gak mimpi kan, Zo, Dy?”

“Mungkin lo salah lihat kali Rob,” ucap Aldy.

Robby menggeleng pelan, “Gue gak mungkin salah lihat Dy, gue tau Shania. Dan gue yakin, dia Shania.”

“Terus dimana dia sekarang? Kenapa dia enggak ngabarin lo kalau udah pulang?” tanya Aldy.

“Gue gak tau dia dimana sekarang. Entahlah, gue gak tau kalau masalah itu,” lirih Robby.

“Udahlah Rob, lo gak usah mikirin itu. Mungkin lo salah lihat kali.” Reizo menepuk pelan bahu Robby.

“Apa mungkin gue salah lihat ya?” tanya Robby dalam hati.

Di sebuah rumah, kini dua orang perempuan tengah sibuk mengerjakan tugasnya di gazebo belakang rumah tersebut.

“Vin ini gimana ya?”

“Tinggal dikasih itu tuh Shan.”

Ya, mereka berdua adalah Shani dan Viny. Mereka mengerjakan tugasnya di rumah Shani, karena Shani tidak ada yang mengantar ke rumah Viny. Jadinya Viny deh yang ke rumah Shani..

Mereka pun mengerjakan tugasnya dengan telaten, tak berapa lama tugas mereka pun telah selesai mereka kerjakan.

“Akhirnya selesai juga,” ucap Shani.

“Hu’um, akhirnya selesai juga.” Viny meregangkan otot-otot tangannya.

Shani membuka handphonenya, mengecek siapa saja yang menchatnya sedari tadi. Robby. Satu nama itu langsung terlintar di pikiran Shani. Setelah tadi pagi ia membalas chat Robby, sekarang tidak ada satu pun balasan masuk darinya. Kenapa lagi dia? Pikir Shani.

Shani menghela nafasnya pelan.

“Kenapa Shan?” tanya Viny.

Shani menggelengkan kepalanya pelan.

“Pasti mikirin Robby ya?” tebak Viny.

Dahi Shani berkerut memandang Viny, “Kok bisa tau?”

“Bisa kali Shan, soalnya kan ak-.”

Viny yang tersadar akan apa yang ingin diomongkan olehnya, langsung saja menutup mulutnya.

“Soalnya kan apa Vin?” tanya Shani.

Viny menggeleng, “Gakpapa Shan, gakpapa.”

“Jujur aja kali Vin, aku gakpapa kok. Emang apa sih?”

“Oke, aku jujur. Tapi kamu jangan marah sama aku. Terus ceritain sama aku, gimana perasaan kamu sama Robby. Deal?” Viny menaik-turunkan alisnya.

“Marah kenapa coba? Baiklah, aku cerita,” ucap Shani.

Viny pun menyiapkan indra pendengarannya dengan baik, untuk mendengarkan cerita dari Shani. Shani menghela nafasnya pelan, mengatur nafasnya sebelum bercerita pada Viny tentang perasaannya pada Robby.

“Jadi bagaimana Shani?” tanya Viny.

“Perasaan aku sama Robby itu, entahlah mungkin aku cinta sama dia,” ucap Shani.

“Mungkin?”

Shani mengangguk, “Aku nyaman kalau sama dia, aku suka sama dia dari awal ketemu, aku gak suka kalaunya dia deket sama cewek lain. Banyak lagi sih sebenarnya, tapi ya intinya aku nyaman deket sama dia.”

Viny mengangguk-ngangguk, menandakan bahwa ia paham apa yang dimaksudkan oleh Shani.

“Sekarang giliran kamu Vin,” ucap Shani.

“Tapi jangan marah ya? Sehabis aku cerita jangan marah,” ucap Viny.

Shani mengangguk, “Iya, enggak marah kok.”

Viny menghela nafasnya, “Baiklah, aku cerita sekarang.”

“Jadi dulu waktu SMA, aku pernah deket sama Robby… Ya seperti kamu sekarang ini Shan, aku ngerasain apa yang kamu rasain sekarang. Tapi bedanya, aku kalah sama temen sekelas aku. Dia namanya hampir mirip sama kamu, tapi entahlah dia dimana sekarang. Dia ninggalin Robby sekarang, aku marah banget sama dia. Aku ngerelain Robby buat dia, tapi apa? Dia malah nyia-nyiain kaya gitu.”

Shani terdiam menatap Viny.

“Kenapa Shan?” tanya Viny heran.

“Kamu masih ada perasaan sama Robby?”

Viny menggeleng, “Enggak ada lagi, aku enggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia.”

“Eh bentar deh, temen sekelas kamu? Kamu sekelas sama Robby dulu?”

Viny mengangguk, “Iya, temen sekelas aku. Dan aku, dia, sama Robby sekelas.”

“Cewek itu namanya Shania bukan?” tanya Shani.

Dahi Viny berkerut menatap Shani, “Iya, namanya Shania. Kamu tau darimana?”

“Robby udah cerita sih, udah lama kayaknya pas pertama kali ke apartement dia,” jawab Shani.

Viny menganggukkan pelan kepalanya, sambil membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘o’.

“Jadi Shani udah tau ya Rob, bagus deh. Semoga dia bener-bener bisa gantiin Shania buat kamu ya,” ucap Viny dalam hati sambil memperhatikan Shani.

~

Kini hari telah menjadi sore, Robby kini tengah sampai di depan rumah Gre dan Shani. Tak berapa lama keluarlah Gre membukakan gerbang untuknya. Kemudian Robby pun mengekori Gre berjalan menuju gazebo di belakang rumahnya.

“Kayak kemarin aja ya Rob? Kita ngerjainnya bagi tugas aja,” ucap Gre.

“Yaudah deh, ayo bagi tugasnya. Gue yang gampang aja lah.”

Gre merengut sebal, kemudian mereka pun membagi tugasnya dengan mengundi nama mereka. Dan sial bagi Robby, ia dapat tugas susah kembali. Dengan pasrah ia pun mengerjakan tugas itu. Lama mereka mengerjakan tugas tersebut, hari pun tengah menjadi malam. Dan mereka berpindah mengerjakannya di ruang tamu. Seperti halnya kemarin, Gre selesai duluan dan Robby masih saja mengerjakan tugasnya.

Gre berjalan mengambilkan minum untuk Robby ke dapur, Robby terus mengerjakan tugas-tugasnya. Tiba-tiba…

“Robby?”

Robby pun menengok kearah suara tersebut.

“S-Shani?”

Dan tanpa disuruh lagi, Shani langsung berlari menuju Robby. Memeluknya seerat mungkin, melepaskan rindu yang ada saat ini.

“Kenapa gak ngabarin aku hm?”

“Aku gak pegang hape Shan,” jawab Robby.

“Kenapa? Jangan gini dong, kangen tau.” Shani memeluk erat Robby dari samping.

“Gakpapa sih, cuman pengen ngerasain sehari tanpa hape. Iya-iya, aku kangen juga kok.” Robby mengelus puncak kepala Shani lembut.

Dahi Shani berkerut, tunggu sepertinya ada yang salah dengan Robby? Tapi apa? Shani berpikir, berusaha mencari apa yang salah dengannya. Tunggu dulu, ‘aku kangen juga kok’ aku? Bukan gue? Shani tersenyum mengetahui hal itu, apa mungkin Robby sudah mulai membuka hatinya lagi? Shani menaruh kepalanya di caruk leher Robby.

“Shan udah dulu ya? Lagi ngerjain tugas nih,” ucap Robby.

“Enggak mau,” ucap Shani seperti anak kecil.

“Tapi Shan-,”

“Udah Rob, lo ngerjainnya nanti aja. Itu bentar lagi kan selesainya? Lagian juga kan lusa Rob dikumpulinnya,” ucap Gre yang membawakan minuman untuk mereka bertiga.

“Hh, yaudah deh,” ucap Robby pasrah.

Shani tersenyum dan semakin mempererat pelukannya pada Robby. Gre tersenyum pada mereka berdua, karena baru kali ini ia melihat sepupunya semanjan ini selain pada orang tuanya. Ia sangat yakin, kalau Shani sekarang sudah jatuh cinta pada Robby.

“Ke gazebo belakang yuk,” ajak Shani.

“Yaudah deh, ayo. Kasian Gre jadi obat nyamuk disini,” ledek Robby.

“Ish! Apaan sih?!” ucap Gre sebal.

Robby dan Shani terkekeh melihat Gre yang kesal, kemudian mereka pun berjalan ke gazebo belakang. Mereka merebahkan tubuh mereka di gazebo tersebut, dan Shani memeluk Robby lagi dari samping.

“Rob?”

“Ya?”

“Ada yang pengen aku omongin sama kamu,” ucap Shani.

“Ngomong aja kali Shan.” Robby terkekeh pelan.

“Aku serius Robby.”

Robby terdiam mendengar nada bicara Shani yang berbeda, mungkin ini hal yang serius pikirnya.

“Yaudah, mau ngomong apa?” tanya Robby.

Shani mengatur nafasnya pelan-pelan, “Kita kan udah deket lumayan lama Rob, dan aku tau kamu juga ngerasain hal yang sama denganku. Jadi aku mau minta kejelesan sama kamu.”

“Kejelasan apa?”

“Kejelasan tentang hubungan ini Rob.”

Dahi Robby berkerut, “Maksud kamu?”

“Aku mau minta kepastian sama kamu Rob, kita udah lumayan lama dekat. Dan sekarang aku mau, minta kepastian sama kamu. Apa kita akan begini terus? Tidak ada yang spesial?”

“Jadi…”

“Ya, aku mau kamu mutusin tentang hubungan kita sekarang Rob.”

 

*To be continued*

 

Created by : @RabiurR

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

numpang bikin note Thor :3

So, gue selaku admin pengen ngasih tau doang……
Ada yang seru loh #H-LIMA !

Penasaran? Bisa kepoin page ini atau tanya-tanya kesini :3

1469935824751.jpg

Iklan

2 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s