Silat Boy : Tantangan Boim Part 13

CnJGPUtWgAEeomp

Pagi itu Rusdi meminta Kak Melody agar tidak mengantarnya ke sekolah.
Tadi malam ia memberitahu kakaknya bahwa ia akan belajar Silat dengan
Kak Ve besok siang setelah pulang sekolah.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya Rusdi merasa tenang. Udara di
Jakarta tidak pernah sesejuk ini. Rusdi berjalan santai melewati pasar
yang masih sepi. Ia tersenyum bahagia pagi itu.

Rusdi berjalan gontai menyusuri jalanan pasar, seraya menggendong tas
nya. Tas? Ia jadi teringat kejadian saat Boim dan kedua temannya
menendang-nendang tas itu.

Dengan cepat ia menyingkirkan pikiran itu. Betapa sakitnya jika ia
mengingat-ingat kejadian itu. Boim? Kak Ve bilang ia harus melawannya.
Baiklah, ia semangat sekali pagi itu.

Masih pagi, ia terlalu bersemangat. Perlahan, Rusdi berlari saking
semangatnya. Ia berlari sambil tersenyum. Membayangkan ia belajar
Silat bersama Kak Ve.

Ah, guru barunya benar-benar cantik. Selain itu hatinya juga mulia.
Senyum Rusdi semakin lebar. Beberapa orang di pasar hanya melihatnya
dengan tatapan aneh. Namun ada juga yang cuek tidak peduli.

Rusdi semakin kencang berlari. Sesekali ia mendengus bersemangat.
Benar-benar pagi yang sejuk. Ditambah kabut dan udara segar di
Jakarta. Kebahagiaannya semakin menjadi dibuatnya.

Saat di sekolah, Rusdi hanya diam seperti tidak terjadi apa-apa. Epul
dan Naomi pun tidak curiga sama sekali. Tadi malam, Rusdi memutuskan
untuk merahasiakan latihannya dari Epul dan Naomi.

Mereka tidak boleh tahu untuk sementara waktu. Hanya kakaknya yang
tahu latihan keras yang akan dijalaninya. Rusdi bersikap biasa saja.
Ia harus terlihat normal.

Waktu istirahat akhirnya tiba. Para murid berbondong-bondong keluar
kelas. Rusdi, Epul, Naomi dan Yona duduk di meja biasa. Kali ini Yona
yang memesankan makanan untuk mereka semua.

Beberapa detik setelah Yona pergi untuk memesan makanan, Boim dan
kedua temannya tiba-tiba menghampiri Rusdi. Epul dan Naomi kaget,
bermasalah dengan Boim memang tidak akan ada ujungnya.

“Berani sekali kau!” Boim menarik kerah baju seragam sekolah Rusdi.
“Tunggu, ada apa ini?” Epul berdiri, berusaha melerai.
“Kalian jangan ikut campur!” bentak Boim.

Naomi kemudian berdiri, ia menyentuh lembut bahu Epul. Epul
memperhatikan wajah Boim. Kenapa wajahnya lebam? Apa Rusdi memukulnya?
Tidak mungkin, ia bukan tandingan Boim. Selain itu ia tidak akan
berani melawan Boim.

Rusdi perlahan berdiri, wajahnya berada amat dekat dengan Boim. Rusdi
memperhatikan wajah Boim yang lebam akibat kejadian kemarin. Padahal
Kak Ve tidak pernah memukulnya.

Kak Ve hanya menangkis semua serangannya, dan hanya menyerangnya
sekali. Itu pun menendang dadanya, bukan wajahnya. Lantas kenapa
wajahnya lebam?

Rusdi tertawa pelan tepat di depan wajah Boim. Lalu perlahan ia
melepaskan tangan Boim yang masih mencengkeram kerahnya. Boim nampak
bingung, kali ini Rusdi terlihat tidak takut padanya.

“Kali ini aku akan melawanmu, tidak akan diam lagi.” Rusdi menyeringai.
“Yakin? Kau berani?” Boim terlihat meremehkan.
“Lihat! Kau harus melawanku disana.” Boim menunjuk sesuatu.

Ternyata yang ia tunjuk adalah sebuah poster. Poster pertandingan
Silat yang diadakan setiap enam bulan sekali, khususnya untuk acara
pergantian semester.

“Baiklah, aku setuju.” bukan main, Rusdi berani sekali menyetujui tantangan itu.
“Rusdi!” Epul hendak menghampirinya, tapi salah satu teman Boim memeganginya.

“BAIKLAH, DENGARKAN SEMUANYA!!! DIA AKAN MELAWANKU DI ACARA
PERTANDINGAN SILAT! KALIAN SEMUA SAKSINYA! JIKA DIA TIDAK DATANG, AKU
AKAN MENGHAJAR KALIAN SEMUA!!!” teriak Boim, seketika seisi kantin
menjadi ricuh karna ketakutan.

Yona yang saat itu masih memesan makanan hanya bisa diam. Meskipun
makanannya sudah jadi, ia tidak berani menghampiri teman-temannya
disana. Ia terlalu takut pada Boim.

“Jangan telat, siapkan mentalmu!” bisik Boim, ia hendak pergi bersama
kedua temannya.
“Boim!” panggil Rusdi, lalu Boim menengok.

“Jangan ganggu aku lagi. Biarkan aku berlatih dengan tenang.” pinta Rusdi.
“Baiklah!” Boim menyeringai, kemudian pergi meninggalkan kantin itu
bersama kedua temannya.

Selama ini Boim tak terkalahkan dalam pertandingan itu. Bahkan kakak
kelas pun ia kalahkan. Jadi ia terlihat percaya diri. Ia pasti bisa
mengalahkan Rusdi dengan mudah, begitu pikirnya.

Epul dan Naomi kaget, berani sekali Rusdi menerima tantangan itu.
Bukankah sebelumnya Rusdi tidak berani melawan Boim? Sikapnya sungguh
aneh. Masalah ini semakin rumit saja.

Seisi kantin amat terkejut. Tidak apa jika Rusdi kalah, yang penting
ia sudah datang. Tapi jika Rusdi kalah, Boim akan semakin brutal
menyiksa siswa di sekolah itu.

Setelah Boim benar-benar pergi, Yona kemudian menghampiri
teman-temannya. Ia terlalu terburu-buru membawa pesanan itu. Yona
kemudian menghampiri Rusdi.

“Kamu yakin?” ucap Yona, Rusdi kemudian menengok.
“Aku yakin! Kita harus melawannya, kalo enggak dia akan terus begitu!”
balas Rusdi.

“Pertanyaanku, apa kau punya guru Silat?” tanya Epul, mereka masih berdiri.
“Jangan khawatir, aku punya guru terbaik!” jawab Rusdi, ia terlihat bersemangat.

“Selama masuk SMA ini, Boim tak terkalahkan dalam pertandingan itu.
Kamu yakin bisa?” Epul berusaha menyakinkan.
“Kita tidak akan tau sebelum mencobanya.” Rusdi kemudian duduk, dan
memakan makanannya.

Seisi kantin masih terdengar ricuh. Bahkan ada beberapa yang melihat
sinis Rusdi. Dasar anak baru, dia tidak tahu siapa Boim sebenarnya.
Mungkin begitulah isi kepala mereka.

Tapi Rusdi tidak mempedulikannya, ia masih bersemangat. Ia sama sekali
tidak terlihat takut. Mereka kemudian memakan makanannya
masing-masing. Hening tanpa obrolan dan canda tawa.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

numpang bikin note Thor :3

So, gue selaku admin pengen ngasih tau doang……
Ada yang seru loh #SATUMINGGULAGI !

Penasaran? Bisa kepoin page ini atau tanya-tanya kesini :3

img_20160727_235857.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s