Pengagum Rahasia 2, Part 11

Baru beberapa langkah setelah melewati gerbang, Deva dikejutkan oleh seseorang.

“Hey!”

“Lu lagi-lu lagi. Sekarang ada apalagi shan?” ucap Deva

“Ini masih berkaitan dengan kelompok dev. Lo itu kelompok gw, dan satu kelompok itu emang cuma berdua,” ucap Shania menjelaskan

“Terus?”

“Terus kapan kita mau latihan? Bahkan kita belum nentuin lagu apa yang bakal kita bawain nanti,” ucap Shania lagi

“yaudah pulang sekolah aja latihannya,” Deva kemudian melewati shania yang menghalanginya

“Apa!? Pulang sekolah!?”

“T..Tapi dev…ya ampun,” ucap Shania namun deva sudah terlanjur jauh

“Hai shan…,” sapa orang itu

“eh sinka,” timbal Shania

“Hari ini aku main ke rumah kamu yah,” ucap Sinka

“Loh, kok tumben mau main ke rumah?” Shania mengernyitkan dahinya

“Kata kak naomi, hari ini dia gak bisa jemput karena ada kerja kelompok dan ada kemungkinan juga dia bakal pulang malem. Atau bahkan gak akan pulang,” Jelas Sinka

“Hah? Gak akan pulang?” ucap Shania

“Katanya ini bukan cuma kerja kelompok, tapi ada rapat juga untuk persiapan psikotes nanti,” tambah Sinka

“emm…jadi kamu mau nginep?”

“eh enggak shan. Nanti aku bakal pulang kok, tapi mungkin agak maleman,” ucap Sinka

“Oh, Dikirain mau nginep,” ucap Shania

Tanpa terasa mereka telah sampai di kelas dan langsung masuk ke dalam.

“Aku sih mau aja nginep, tapi kan nanti gak ada yang jagain rumah,” ucap Sinka sembari menyimpan tasnya

“kamu free kan hari ini?” tanya Sinka

“Free sih enggak, tapi kalau kamu mau main ya gak masalah,” Jawab Shania

“yah, kalau gitu gak jadi deh. Takutnya malah ganggu kamu nanti,”

“eh-eh gak apa-apa lah sin. Lagian gak free itu karena hari ini mau kerja kelompok. Tapi kerja kelompoknya juga di rumah aku kok,”

“Oh gitu ya, Yaudah nanti aku bantuin kamu deh, bantuin kerja kelompok,” ucap Sinka yang alisnya naik turun itu

“Serius kamu mau bantuin?” ucap Shania meyakinkan Sinka

“ya serius lah,” Jawab Sinka

“Oke kalau kamu maksa,” Shania hanya tersenyum menanggapinya

~oOo~

Srek! Gsrek! Srek!

“Biasa aja kali yup, pake penghapusnya sampai di teken gitu,”

“penghapusnya udah kotor, di hapus juga tetep aja masih ada bekasnya!” ucap Yupi tampak kesal

“*C* Cindy Yuvia?”

“Ah…Iya vin, hehe…,” ucap Yupi

“Kenapa hurufnya gak *Y* aja?” ucap Viny

“Papahku mana tau kalau aku sering di panggil yupi disekolahan,” Jawab Yupi sembari membuka lembaran baru di bukunya

“Owh…Jadi ini hadiah dari papah kamu yah,”

“Iya vin, padahal aku pengen banget dapet yang kalung biar sama kayak adik aku,”

“Hah kalung?” tanya Viny

“Jadi kemarin papahku kirim paket yang isinya gelang ini dan juga ada kalung. Tapi sayangnya kalung itu khusus untuk adik aku,” ucap Yupi

“emm, gitu yah,” ucap Viny

“Oh iya vin, liburan nanti kamu gak akan kemana-mana kan?” Yupi balik bertanya

“Maksud kamu?”

“Nanti liburan semester kamu bakal mudik atau enggak?” ucap Yupi kembali mengulang pertanyaannya

“emangnya kenapa? Uasnya aja belum,” ucap Viny

“Aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke jakarta, itu juga kalau kamu gak mudik,”

“ke jakarta? Deket banget yup, hahaha…,” Viny tertawa

“ahaha…emang kamu maunya kemana? Nanti aku ajak deh kalau jalan-jalan keluar kota,” ucap Yupi

“Apa alasan sebenarnya kamu mau ngajak aku ke jakarta?” tanya Viny kembali

“kan mau liburan vin, aku juga ngajak temen-temen yang lain kok,” Jelas Yupi

“emm…gitu yah,” ucap Viny

“Apa ada yang salah vin?” ucap Yupi yang menatap tajam wajah Viny

“eh, mungkin cuma firasatku aja. Tadi aku pikir kamu punya alasan tertentu kenapa ngajak aku jalan-jalan ke jakarta,”

“EH!?” Yupi sedikit kaget mendengar perkataan viny

Suasana tiba-tiba menjadi hening.

“eh, aku belum beres ngerangkum, sorry…,” Viny pergi dari tempat Yupi

Yupi terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa sekarang aku ngerasa rencana ini sama halnya seperti aku lagi manfaatin semua temanku?” batinnya

“A..Apa semua rencana yang aku buat ini salah. Ya tuhan, mudahkanlah segala urusan untuk ku,”

Duk!

“EH!” orang itu membuat Yupi tersadar dari lamunannya

“um, m..ma..maaf,” ucapnya gagap

“eh aldo, jalannya pelan-pelan dong, sampai nyenggol meja segala,” ucap Yupi sambil meluruskan mejanya kembali

“aldi…b..bu..bukan aldo,” ucapnya

“AH!? I..iya aldi. Tadi aku bilang aldi kok,” ucap Yupi sepreti gugup

Aldi tidak menanggapinya.

“M..maaf,” Aldi pun pergi dari sana

“Huuu! Kenapa dia selalu ada di pikiran aku!” Yupi mengacak-acak rambutnya sendiri

“Tunggu aku al. Aku pasti datang,” batinnya

~oOo~

Kreeeng! Kreeeng!

            Bel pulang berbunyi.

“Pulangnya naik apa?”

“Aku biasa naik angkot sin,” Jawab Shania

“Oke deh kalau gitu,” balas Sinka

Shania dan Sinka pulang bersama.

Dengan berjalan kaki dan menempuh jarak sekitar 500 meter saja, mereka sampai di pinggir jalan raya.

“Eh ada angkot yang ngetem,” ucap Shania

Kini mereka berada di dalam angkot, dan salah satu dari mereka mulai membuka percakapan. “Kenapa sih?” tanya Shania

“Kamu keliatannya gak biasa naik angkot,” tambahnya

“I..Iya shan, aku cuma takut,” ucap Sinka dengan suara yang pelan

“Takut apa?” tanya Shania balik

Sinka mendekat dan membisikan sesuatu. “Biasanya kan suka ada orang jahat di angkot gini,”

“Hahahaha! Kamu terlalu banyak nonton sinetron sin!” balas Shania

“Ih aku beneran takut shan,” ucap Sinka sambil melihat kesekitarnya

“Halah gitu aja takut,”

Percakapan mereka terhenti ketika shania berkata…”Kiri pak!”

Angkot itu pun berhenti di pinggir jalan.

“Fyuh, akhirnya…,”

“Akhirnya apa? Akhirnya bisa keluar dari angkot? Hahahahaha!” Shania menertawakan Sinka

“Enggak! Maksud aku akhirnya bisa menghirup udara segar!” bantah Sinka

“Naik angkot aja takut!” Shania terus mengejek

“udahlah!” Sinka kesal dan pergi lebih dulu

Shania hanya mengikuti sinka dari belakang sambil terus tertawa.

~oOo~

“Ada siapa?” ucap Sinka dengan suara yang sedikit pelan

“Gak ada siapa-siapa. Semuanya lagi pada kerja kok,” Jawab Shania

Sinka menyimpan sepatunya di rak itu.

Lalu dengan santai sinka masuk ke dalam rumah.“Oke deh kalau gitu,” ia merebahkan tubuhnya di sofa

“Jadi…mana nih yang mau kerja kelompok?”

“Baru aja di omongin, orangnya langsung nge BM,” ucap Shania

“Eh, kamu tunggu bentar yah, aku mau jemput dia dulu,”

“Jemput? Jadi temen kamu gak tau kalau alamat rumah kamu disini?” ucap Sinka

“Sebenernya dia udah pernah kesini, tapi entah kenapa dia jadi lupa sekarang,” ucap Shania

“yaudah aku aja yang jemput,” Sinka bangun dari sofa

“Loh?”

“udah biar aku aja, lagian aku juga pengen beli jus dulu di depan,” ucap Sinka kembali

“Sekarang posisi temen kamu lagi ada dimana?”

“yang tadi itu pas kita turun dari angkot. Nah dia ada disitu sekarang,” ucap Shania

“Oke,” Sinka memakai sepatunya lagi

~oOo~

“Lama bener!” Pria itu terus saja melihat arlojinya

Lalu ia kembali melihat ke jalanan.

Tiba-tiba…

“Hey,”

“Eh…,” Pria itu berbalik

“HAH!”

“Deva!?” ucapnya sedikit mundur dari Deva

“eh…Sinka,” ucap Deva

“K..Kamu lagi ngapain ada disini?” tanya Sinka

“Mau ke rumahnya shania,” Jawab Deva

“Mau ngapain!?” tanya Sinka mulai curiga

“Pengen tau aja lu,” Jawab Deva

“Huh! Yaudah ayo!” Sinka membuang muka

“Ayo? Kemana? Ke pelaminan? Eh…,”

“No way! Kamu ini siapanya aku!? Udah cepetan lah!”

“Iya tapi Ini kita mau kemana!?” tanya Deva

“Ikut aja!” ucap Sinka kembali

~oOo~

“Pak…Jus stroberinya satu,” ucap Sinka

“Iya dek,” jawab Pedangang itu

“Kenapa kita malah ke tukang jus buah!?” tanya Deva kembali sembari menunggu

“Tunggu sebentar aku haus. Kamu mau juga?” tanya Sinka menawarkan

“eh enggak,” Jawab Deva singkat

Zruuuung!

Stroberi itu sedang di blender.

Setelah selesai, Sinka terlihat mengambil dompetnya di saku. “Dev, pegangin dulu,”

“Hah? Nyuruh!?” ucap Deva

“Bentar doang napa sih!” ucap Sinka

“Hemm,” deva mengalah

“Ini pak uangnya,” ucap Sinka

“Makasih pak…,”

“Sama-sama…,” balas Pedagang itu

“Loh, kemana dia!?” Sinka mencari-cari deva

Pada akhirnya sinka menemukan deva yang sedang duduk di kursi taman itu.

“Main pergi aja!” ucap Sinka yang menghampiri deva

Surp! Surp!

“EH!?” Sinka terkejut ketika melihat deva yang sedang meminum jusnya

“Ish deva!” Sinka langsung merebut jus itu dari tangan deva

“ya ampun! tinggal setengah lagi!”

“Sorry, haus…,” ucap Deva tersenyum

“Tapi kamu udah minum setengahnya dev!”

“esh…biar aku beliin lagi,” ucap Deva

“Eh!?”

“Mau gak?”

“em…enggak!” jawab Sinka ketus

“yaudah kalau gak mau ya sukur,” Deva pergi meninggalkan sinka

“HEEEEH!” Sinka semakin kesal lalu mengikuti deva

“Huh?” Deva berhenti. “Sekarang apalagi sinka. Keliatannya kamu kesel banget?” ucap Deva

“Iya, kesel karena kamu!” jawab Sinka ketus

“Tadi kan udah aku tawarin, mau lagi gak jusnya? Kamu bilang enggak,”

“udahlah jangan di bahas!” ucap Sinka kembali

“Beuh…Dasar anak gendut!” ucap Deva sembari mencubit pipi Sinka

“AH!” Sinka langsung memegang pipinya

Deva pun kembali berjalan.

“Oh sekarang aku ngerti,” ucap Sinka

“Hmm?” Deva hanya melirik

“Apa kamu mencoba untuk memperbaiki hubungan kita ini dev?” tanya Sinka

“What? Bukannya kita belum jadian yah,” pikir Deva

“Jangan geer dulu deh. Maksud aku tuh hubungan pertemanan,”

“Eng…menurut kamu?” ucap Deva sambil tersenyum

“Huft…Oke, aku anggap semua permasalahan kita udah selesai,” ucap Sinka

“Jadi udah baikan nih?”

“Menurut kamu?” tanya Sinka balik

“yee…lama-lama aku cium juga! Malah balik nanya lagi dut!” ucap Deva

“Nih-nih cium!” ucap Sinka memberikan pipinya

*CUPS!

“EH!” Sinka langsung menghentikan langkahnya

“Mau lagi?”

“Eng…gak!” Wajah Sinka tampak memerah

“Kamu pikir aku gak berani nyium kamu? Aku nyium bibir kamu juga berani!” ucap Deva

“Ish udah ah!” Sinka mempercepat langkahnya dan melewati deva

“Mau balap? Oke!” Deva mengejar Sinka

Sinka yang menyadarinya langsung berlari.

“Hey jangan lari!” ucap Deva

~oOo~

“Nah mau lari kemana lagi!” Deva memeluk Sinka

“Ih! Malu tau!” Sinka tersenyum sambil melihat wajah Deva

“Ngapain pake lari segala,” ucap Deva

“Kamu sih!” Sinka tampak mendekatkan wajahnya pada Deva, begitu juga dengan Deva

“Sinka…,” ucap Deva pelan

“Kamu…mau kan, jadi…,”

(………………………………………………….)

“Dek! Dek!”

Pedagang itu terus saja memanggil Sinka.

“Dek!” Pedagang itu menepuk pundak Sinka

“AH! I..iya pak!” ucap Sinka tersadar dari lamunannya

“Ini kembaliannya,” ucap Pedagang itu

“um, makasih pak,”

“iya sama-sama,”

Sinka perlahan menghampiri deva yang sedang duduk di kursi itu.

DEG!

Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.

“Dev…,” ucap Sinka pelan

“Nih…,” Deva langsung memberikan jus itu

“Eh,”

“Kenapa? Kok jadi lemes?” tanya Deva

“Ah, enggak kok hehe…,” Sinka hanya tersenyum di hadapan Deva

“yaudah ayo cepetan. Kayaknya lo emang udah di utus shania buat jemput gw,” ucap Deva

“Eh…iya dev,” balas Sinka

Sinka pun jalan lebih dulu.

~oOo~

“akhirnya kalian datang,” ucap Shania yang menunggu di teras rumahnya

“Gw pikir lo nyasar tadi,”

“Gw lama bukan karena nyasar, tapi karena dia,” ucap Deva menunjuk Sinka

“Ehkem! Jadi jalan-jalan dulu nih?” ucap Shania

“Ish enggak shan!” bantah Sinka

“Tadi kan aku bilang mau beli jus dulu!”

“Hem, iya deh iya,” ucap Shania

Mereka semua masuk ke dalam rumah.

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s