Vepanda parrt 14

CEKLEK!!

Seseorang membuka pintu dan masuk ke kamar Rezza, orang itu berjalan medekati Rezza yang sedang berbaring di atas kasur.

“Ada apa kak?” tanya Rezza saat orang itu duduk di sebelahnya

“Kakak mau ngobrol serius sama kamu,” jawab orang itu yang ternyata Melody.

“Mau ngomongin apaan?” tanya Rezza mengubah posisinya menjadi bersandar ke tembok.

“Ini soal Ve.”

“Ada apa sama kak Ve?”

“Sebelum Ve kecelakaan, paginya pas istirahat dia ngasih sesuatu sama kakak.”

“Apaan?”

“Ini,” Melody memberikan sebuah kotak kecil kepada Rezza.

Rezza mengambil kotak itu dan membukanya. Terlihat di dalam kotak itu ada sebuah cincin dan selembar kertas yang terlipat. Rezza mangambil cincin tadi dan menatapnya dengan kecewa.

“Kenapa dek?” tanya Melody duduk di kasur Rezza.

“Gapapa kok,” jawab Rezza tersenyum.

“Itu cincin yang waktu itu?” tanya Melody.

“Iya,” jawab Rezza mengangguk.

 

Flashback on

 

Tik.. tik… tik…

Suara tetesan air hujan masih terdengar dari dalam kamar kos Rezza sore itu. Disana, terlihat Rezza sedang duduk di kasur dan memikirkan sesuatu sambil menatap keluar jendela kamarnya. Alunan musik jazz dan aroma kopi hitam menemani Rezza di sore hari itu.

“Okelah, gue jual aja,” ucap Rezza bangkit dari kasurnya.

Kemudian Rezza berjalan mengambil gitar tuanya yang terletak di pojok ruangan dan membawanya ke atas kasur. Setelah berganti baju, Rezza keluar kamar dengan membawa gitar tuanya tadi yang sudah dimasukkan ke dalam tas. Dalam kondisi gerimis itu ia berjalan sendirian menuju toko gitar yang tak jauh dari kosannya.

“Ada yang bisa saya bantu mas?” tanya Pemilik toko gitar saat Rezza masuk ke tokonya.

“Saya mau jual gitar,” Rezza memberikan gitar yang dibawanya tadi.

“Saya lihat dulu ya mas,” Pemilik toko mengambil gitar Rezza dan mengeluarkannya dari dalam tas.

Pemilik toko itu terlihat sedang memperhatikan gitar Rezza dengan serius, ia memutar-mutar gitar itu untuk mengecek kondisinya.

“Boleh saya coba dulu mas?” tanya Pemilik toko.

“Iya, silahkan,” jawab Rezza tersenyum.

Setelah beberapa menit mencoba gitar Rezza, pemilik toko itu meletakkan gitar Rezza ke atas meja.

“Mau dijual berapa mas?” tanya Pemilik toko.

“1,5 juta aja mas,” jawab Rezza.

“Beneran mas mau dijual 1,5 juta aja?”

“Iya mas, gapapa segitu aja, saya lagi butuh duit banget sekarang.”

“Padahal kalo mas bilang 2jt juga saya bayarin mas, soalnya saya udah lama nyari gitar kaya gini.”

“Gapapa mas segitu aja.”

“Yaudah kalo gitu, duitanya mau transfer apa cash aja mas?”

Cash aja mas kalo bisa,” jawab Rezza tersenyum.

“Yaudah saya ambilin duitnya bentar ya mas,” Pemilik toko itu meninggalkan Rezza.

Setelah memasukkan uangnya ke dalam tas, Rezza pergi dari toko gitar itu dan berjalan lagi menuju sebuah toko perhiasan.

“Semoga duitnya cukup,” ucap Rezza sebelum memasuki toko perhiasan itu.

“Selamat sore mas, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang Pegawai toko saat Rezza masuk.

“Saya mau beli cincin mbak,” jawab Rezza.

“Silahkan dipilih dulu mas,” Pegawai toko tadi memperlihatkan cincin-cincin yang berada dalam etalase.

Rezza melihat-lihat semua cincin yang ada di etalase.

“Hmm…, saya mau beli yang ini aja,” ucap Rezza menunjuk sebuah cincin.

“Yang ini ya mas?” tanya Pegawai toko mengambil cincin yang ditunjuk oleh Rezza tadi.

“Iya mbak,” jawab Rezza mengangguk.

“Ukuran jarinya mas?”

“Size 14 sama 21 mbak.”

“Saya cariin dulu ya mas ukurannya.”

“Eh mbak, bisa diukir nama sekalian nggak?”

“Bisa mas, harganya 100 ribu.”

“Yaudah itu cincinnya diukirin tulisan VR MMXV ya mbak.”

“Iya mas,” ucap Pegawai toko itu sebelum pergi meninggalkan Rezza.

Beberapa menit kemudian Pegawai toko tadi keluar sambil membawa cincin pesanan Rezza.

“Ini mas cincinnya,” ucap Pegawai toko menyerahkan cincin pesanan Rezza.

“Semuanya jadi berapa mbak?” tanya Rezza setelah memperhatikan cincin pesanannya.

“Semuanya jadi 800 ribu mas,” jawab Pegawai toko itu tersenyum.

“Ini mbak uangnya,” ucap Rezza memberikan uang yang ia ambil dari dalam tasnya.

Setelah Pegawai toko itu selesai menuliskan surat-surat cincin itu dan memberikannya kepada Rezza, Rezza keluar dari toko perhiasan itu.

Bau aspal yang basah karena diguyur hujan menemani Rezza sepanjang perjalanan pulang ke kosannya.

~oOo~

Malam harinya Rezza sudah bersiap untuk menuju ke rumah pacarnya, Ve. Dia berangkat ke rumah Ve dengan motor maticnya sendirian. Setelah sampai di depan rumah Ve, Rezza tidak langsung masuk ke rumahnya. Ia duduk bersandar dimotornya sambil menatap ke arah rumah Ve, ia menghembuskan nafas untuk meningkatkan keberaniannya sebelum masuk ke rumah Ve. Setelah keberaniannya terkumpul, rezza mulai berjalan masuk ke rumah Ve.

Tok… tok… tok…

“Bentar!” teriak seseorang dari dalam rumah Ve.

Rezza hanya berdiri di depan pintu menunggu seseorang membukakan pintu.

“Eh?! hai…,” sapa Ve setelah membukakan pintu.

“Hai…,” jawab Rezza tersenyum.

“Ayo masuk dulu,” ajak Ve menarik Rezza masuk ke dalam rumahnya.

Rezza hanya tersenyum dan pasrah dirinya ditarik Ve masuk ke dalam rumah.

“Kamu tunggu disini bentar ya,” suruh Ve berhenti diruang keluarga.

“Iya,” jawab Rezza tersenyum.

Kemudian Ve pergi ke kamarnya dan meninggalkan Rezza diruang keluarganya sendirian.

“Eh ada nak Rezza,” ucap Mamanya Ve keluar dari dapur.

“Iya tante,” ucap Rezza tersenyum.

“Udah lama?” tanya Mamanya Ve berjalan ke arah Rezza.

“Baru aja kok tante,” jawab Rezza tersenyum.

“Duduk dulu sini,” ucap Mamanya Ve sambil duduk di sofa.

“Iya tante,” ucap Rezza lalu duduk disebelah Mamanya Ve.

“Mau jalan-jalan kemana?”

“Mau makan malem doang kok tante.”

“Yaudah hati-hati ya, sama pulangnya jangan malem-malem, kan besok sekolah.”

“Iya tante.”

“….”

“Oiya, om kemana tante? Kok nggak keliatan.”

“Gatau, mungkin masih dijalan.”

“Ohh….”

“Ngomong-ngomong kalian pacaran udah berapa bulan?”

“Satu tahun malem ini tante.”

“Wahh… udah lama ya ternyata.”

“Iya tante, hehe….”

“Ini remot TV kemana sih?!” tanya Mamanya Ve kesal sambil melihat-lihat sekitar.

“Mungkin nyelip dipantat tante,” jawab Rezza tersenyum.

“Masa sih?” tanya Mamanya Ve tidak percaya.

Kemudian Mamanya Ve berdiri didepan dan membungkuk, perlahan Mamanya Ve memelorotkan celananya. Sedikit demi sedikit celana itu mulai turun ke bawah, Rezza yang melihat itu hanya bisa memasang wajah begonya. Dan….

Dan itu semua hanya mimpi, itu cuma khayalan yang ngaco :v

“Kamu mikirin apa? Kok bengong?” tanya Mamanya Ve.

“Eh? Enggak tante, nggak mikirin apa-apa,” jawab Rezza kaget.

“Yaudah tante tinggal dulu ya,” ucap Mamanya Ve pergi meninggalkan Rezza.

“Iya tante,” ucap Rezza tersenyum.

Beberapa menit kemudian Rezza dan Ve sudah duduk berdua di dalam sebuah café. Alunan musik di café itu membuat suasana menjadi semakin romantis. Lingsir wengi, itu lagu yang dinyanyikan oleh band café itu.

“Gimana? Enak makanannya?” tanya Rezza setelah mereka selesai menyantap makanan mereka berdua.

“Enak kok, apalagi kecoanya, aku suka banget,” jawab Ve tersenyum.

“Bagus deh kalo kamu suka,” ucap Rezza lalu meminum minumannya, air comberan.

“Punya kamu gimana? Enak steak jenglotnya?” tanya Ve.

“Enak kok, hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

Mereka pun diam dan saling menatap.

Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, enam detik, mereka masih saja saling menatap tanpa berkedip sampai akhirnya cicak jatuh dimata Rezza dan membuat suasana menjadi semakin romantis.

“Yang,” ucap Rezza memecah keheningan diantara mereka berdua.

“Apa?” tanya Ve mendekatkan wajahnya.

“Aku mau kasih sesuatu sama kamu.”

“Apaan?”

“Tutup mata dulu dong.”

Kemudian Ve pun menutup matanya dengan kedua tangan. Sudah beberapa menit Ve muntup matanya namun tidak ada suara yang keluar dari mulut Rezza.

“Udah?” tanya Ve masih menutup tangannya.

Tidak terdengar jawaban dari Rezza.

“Sayang?” tanya Ve sekali lagi namun hasilnya tetap sama, tidak terdengar jawaban

“Za,” ucap Ve membuka kedua tangannya.

“Kamu dimana?” tanya Ve karena tidak melihat Rezza duduk didepannya.

“Pasti lagi nyiapin kejutannya,” pikir Ve.

Sudah lebih dari satu jam Ve menunggu Rezza di café itu, namun Rezza belum juga muncul.

“Rezza kemana sih kok nggak muncul-muncul,” ucap Ve terlihat sedih.

“Apa jangan-jangan dia ninggalin aku?” tanya Ve dalam hati.

Karena sudah larut malam dan café itu juga sudah mau tutup, Ve pun memanggil pelayan untuk membayar dan pulang ke rumahnya. Dia pulang ke rumahnya dengan menggunakan taksi sendirian.

Beberapa menit kemudian Ve sudah sampai di rumahnya, setelah membayar taksi ia berjalan masuk ke rumahnya dengan perasaan kecewa.

“Kok baru pulang? Rezza mana?” tanya Mamanya Ve saat melihat Ve berjalan ke kamarnya.

“Gatau,” jawab Ve singkat lalu masuk ke kamarnya.

Setelah menutup pintu kamarnya, Ve berjalan ke tempat tidur dan berbaring disana.

Ve menghembuskan nafas panjang setelah mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Ve merubah posisi tidurnya menjadi duduk disamping kasur. Ia melepaskan jam tangannya dan meletakkannya dimeja yang berada disebelah tempat tidur. Saat Ve hendak meletakkan jam tangannya ke atas meja, ia melihat sebuah kotak kecil berada disebelah lampu tidurnya.

“Kotak siapa ya?” tanya Ve lalu mengambil kotak kecil itu.

Ve pun melihat-lihat dulu kotak itu sebelum membukanya.

“Ini punya siapa?” tanya Ve heran setelah melihat isi kotak itu.

“Itu buat kamu,” ucap seseorang.

“Siapa itu?!” tanya Ve kaget.

“Ini aku,” jawab orang itu berjalan keluar dari kamar mandi yang berada didalam kamar Ve.

“Rezza,” ucap Ve.

“Hehe…,” Rezza hanya cengengesan lalu duduk disebelah Ve.

“Kamu jahat banget sih ninggalin aku sendirian,” ucap Ve memukul pundak Rezza dengan manja.

“Maaf hehe…,” ucap Rezza lalu nyengir kuda.

Ve mangambil satu cincin yang ada didalam kotak tadi dan melihatnya.

“Gimana? Suka?” tanya Rezza.

“Suka kok,” jawab Ve menoleh dan tersenyum ke arah Rezza.

“Sini aku pakein,” ucap Rezza lalu mengambil cincin yang dipegang Ve tadi lalu memakaikannya.

“Pas kan?” tanya Rezza setelah memakaikan cincin itu dijari Ve.

“Kegedean sih, tapi gapapa kok,” jawab Ve tersenyum.

“Hah kegedean?”

“Iya.”

“Berarti itu yang punya aku, punya kamu yang satunya lagi.”

“Kenapa pake salah segala sih? Kan jadi nggak romantis hihihi…,” ucap Ve tertawa kecil.

“Kan kamu yang ngambil,” ucap Rezza mencubit pipi Ve.

“Sini aku pakein lagi,” ucap Rezza lalu mengambil cincin yang masih didalam kotak tadi.

“Aku juga pakein punya kamu,” ucap Ve lalu melepas cicin yang ada dijarinya.

Kemudian mereka berdua saling memakaikan cincin itu.

“Sekarang pas kan?” tanya Rezza.

“Iya,” jawab Ve tersenyum.

Keheningan terjadi diantara mereka berdua, mereka hanya saling menatap satu sama lain. Rezza menggeser duduknya agar kebih dekat dengan Ve, kemudian mereka mendekatkan wajah mereka berdua. Perlahan namun pasti, wajah mereka semakin dekat.

Kini wajah mereka sudah sangat dekat, hanya sekitar beberapa cm. Ve menutup kedua matanya, sedangkan Rezza malah memundurkan wajahnya :v

Ve masih saja mendekatkan wajahnya dengan mata tertutup, dan Rezza juga semakin memundurkan wajahnya.

“Ve,” ucap Rezza perlahan.

“Iya?” tanya Ve membuka matanya perlahan.

CUPPS!!

Ve mencium sepatu Rezza yang tiba-tiba sudah berada di depan mukanya.

“AAAHHHH!!” teriak Ve kaget lalu mengusap bibirnya.

“Muehehehe…,” Rezza hanya tertawa jahat melihat Ve seperti itu.

“Kamu jahil banget sih!” ucap Ve kesal sambil memukul pundak Rezza.

“Hehehe… maaf,” ucap Rezza cengengesan.

“Tau ah!” ucap Ve kesal lalu memalingkan wajahnya.

“Abisnya kamu lucu kalo lagi kaya gitu, hehehe…,” ucap Rezza cengengesan.

“Bodo!” ucap Ve mengembungkan pipinya.

“Maaf deh maaf, janji nggak bakalan diulangin lagi.”

“Nggak mau!”

“Yahh kok gitu sih?”

“Terserah aku dong mau gimana!”

“Aku tinggal nih,” ucap Rezza berdiri dari kasur Ve.

“Yaudah pergi aja sana!” ucap Ve tanpa menoleh ke arah Rezza.

Tanpa berkata apa-apa lagi Rezza berjalan keluar ke arah pintu kamar Ve.

“Lohh kok beneran pergi,” ucap Ve kecewa.

“Kan kamu sendiri yang nyuruh pergi, gimana sih?” tanya Rezza dengan tololnya.

“Dasar cowok nggak peka!” ucap Ve memalingkan wajahnya.

“Gitu aja ngambek,” ucap Rezza kembali berjalan mendekati Ve.

“Bodo!” ucap Ve kesal.

“Ehh?!” Ve terlihat kaget karena Rezza tiba-tiba memeluknya dari belakang.

“Aku pulang dulu ya,” bisik Rezza.

“Mau ngapain pulang?” tanya Ve.

“Udah malem sayang, besok kan sekolah.”

“Tapi aku masih pengen sama kamu.”

“Besok di sekolah kan ketemu.”

“Hmm… iya deh,” ucap Ve terlihat sedih.

“Kamu langsung tidur ya,” ucap Rezza lalu mencium pipi Ve dan melepaskan pelukannya.

Ve hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Rezza.

 

Flashback off

 

“Dek?” suara Melody membuyarkan Rezza dari lamunannya.

“Eh, apa?” tanya Rezza kaget.

“Kamu kangen ya sama Ve?” tanya Melody mendekatkan wajahnya.

Rezza hanya mengangguk dengan raut wajah sedihnya.

“Yaudah kakak ke kamar lagi ya,” ucap Melody mencium pipi Rezza sebelum kembali ke kamarnya.

Setelah melody keluar dan menutup kembali pintu kamar rezza, ia mulai membaca isi surat dalam kotak tadi lalu tidur.

~oOo~

Seminggu telah berlalu, hari ini adalah hari sabtu kedua Sinka sejak kepindahannya ke SMAN 48 minggu lalu. Tim futsal sekolah gagal meraih juara satu pada perlombaan yang diadakan hari senin minggu ini, mereka hanya meraih juara dua. Namun, ketiga pemain mereka mendapatkan penghargaan dari penyelenggara turnamen, seperti Rezza yang mendapatkan penghargaan sebagai kiper terbaik karena hanya kebobolah dua gol selama turnamen, Najong yang menjadi top scorer selama turnamen, dan Luthfi a.k.a Behel yang mendapat penghargaan Most Valuable Player.

“Kantin yok,” ajak Najong berdiri dari bangkunya.

“Yuukk,” Yupi juga berdiri dari bangkunya.

Kemudian Rezza, Najong, Sinka dan Yupi pergi ke kantin bersama-sama.

Sesampainya di kantin mereka langsung memesan makanan dan duduk bersama.

“Kamu kenapa za?” tanya Yupi menatap heran ke arah Rezza.

“Hah?” Rezza berhenti makan dan menoleh ke arah Yupi yang duduk disebelahnya.

“Kamu kenapa? Kok keliatannya galau gitu,” tanya Yupi.

“Enggak, siapa juga yang galau,” jawab Rezza lalu lanjut memakan nasi gorengnya.

“Kamu sakit?” tanya Sinka mendekatkan wajahnya.

“Enggak,” jawab Rezza tanpa menoleh ke arah Sinka yang duduk di depannya.

“Badan kamu panas za,” ucap Sinka saat memegang jidat Rezza.

“Nggak, gue gapapa,” Rezza menyingkirkan tangan Sinka.

“Beneran lu gapapa?” tanya Najong.

“Bener, kaga percayaan banget sih lu pada,” jawab Rezza.

“Bukan nggak percaya za, kita cuma khawatir sama keadaan kamu,” Yupi memegang pundak Rezza.

“Iya, bener kata Yupi za,” ucap Sinka terlihat khawatir.

“Gue gapapa yup, beneran, kalo gue sakit gue nggak bakalan masuk kali,” Rezza melepaskan tangan Yupi dari pundaknya.

“Gapapa gimana? Kata Sinka aja badan lu panas gitu,” ucap Najong.

“Gue gapapa kampret!” Rezza terlihat kesal.

“Aku anterin ke UKS ya abis ini,” ucap Sinka.

“Nggak! Lu aja sono yang ke UKS!” bentak Rezza lalu pergi dari kantin.

Sinka yang dibentak Rezza langsung menundukkan kepalanya, sedangkan Yupi dan Najong memperhatikan Rezza yang berjalan pergi.

“Kamu gapapa kan sin?” tanya Najong memegang pundak Sinka.

“Aku gapapa kok,” Sinka mengangkat kepalanya kembali.

“Kamu nangis sin?” tanya Yupi mengernyitkan dahinya.

“Enggak kok, aku nggak nangis,” ucap Sinka mengusap air matanya yang sedikit keluar.

“Aku ke kelas duluan ya,” Sinka mengeluarkan selembar uang 10 ribuan dan meletakkannya di atas meja lalu pergi.

Sesampainya di kelas, Sinka langsung duduk di bangkunya dan meletakkan kepalanya ke atas meja. Dia nangis.

Beberapa menit kemudian bel tanda masuk berbunyi, semua siswa kembali ke kelasnya, begitu juga dengan Rezza, Yupi dan Najong.

Selama pelajaran, Sinka lebih sering memperhatikan Rezza yang sedang tidur dimejanya ketimbang memperhatikan guru yang sedang mengajar.

Tak terasa sekolah hari ini berakhir juga, semua siswa berhamburan keluar sekolah untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, mungkin. Rezza, Sinka, Yupi dan anjong berjalan bersama-sama ke parkiran.

Sesampainya di parkiran, Najong dan Yupi pulang terlebih dahulu meninggalkan Rezza dan Sinka yang motornya terjebak di parkiran.

“Lu ngapain masih disini?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka yang berdiri di sebelahnya.

“Aku nungguin kak Melody, aku mau ngembaliin baju yang kemaren aku pinjem,” jawab Sinka menoleh ke arah Rezza.

Kemudian mereka berdiri menunggu Melody di parkiran itu berduaan. Cukup lama mereka menunggu Melody di parkiran, sampai motor yang berada di parkiran tinggal sedikit.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

6 tanggapan untuk “Vepanda parrt 14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s